Analisis Wacana

 

ANALISIS KOSAKATA DAN TATA BAHASA PADA BERITA PENCABULAN JANDA DI HARIAN JAWA POS: SEBUAH MODEL ANALISIS TEORI ROGER FOWLER

 

 

 

Disusun Oleh:


Abdullah Syarofi       121111132

 

 

DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2013

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

 

Wacana merupakan unit bahasa yang lebih besar dari kalimat. Ada yang mengartikan juga sebagai salah satu kata yang banyak disebut saat ini selain demokrasi , hak asasi manusia, masyarakat sipil dan lingkungan hidup. Analisis wacana memfokuskan pada struktur yang secara alamiah terdapat pada bahasa lisan, sebagaimana banyak terdapat dalam wacana seperti percakapan, wawancara, komentar, dan ucapan-ucapan (Crystal 1987). Analisis wacana juga berhubungan dengan studi mengenai bahasa atau pemakaian bahasa. Oleh karena itu, analisis wacana dimaksudkan sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu.

Sebagai contohnya, sebuah analisis wacana selalu ada studi kasus-kasus berita yang dibahas untuk mengetahui suatu peristiwa tersebut merupakan sebuah analisis wacana yang seperti apa. Dalam analisis wacana ada beberapa tokoh-tokoh pemikirnya, dan pendekatan yang dipakai. Tokoh pemikir yang akan kami gunakan disini adalah Roger Fowler. Roger Fowler adalah sekelompok pengajar di Universitas East Anglia. Kehadiran beliau dan teman-temannya seperti Robert Hodge, Gunther Kress, dan Tony Trew ditandai dengan diterbitkannya buku Language and Control pada tahun 1979.

Dalam membangun model analisisnya, Roger Fowler dkk. Mendasarkan pada penjelasan Halliday mengenai struktur dan fungsi bahasanya. Yang kemudian meletakkan tata bahasa dan praktik pemakaiannya tersebut untuk mengetahui praktik ideologi yang diterapkan pada khalayak atau masyarakat luas. Misalnya pada kosakata suatu kalimat atau wacana tertentu yang dalam pembacaannya dapat menimbulkan ideologi-ideologi baru atau asumsi yang berbeda-beda di setiap pandangan masing-masing khalayak luas, serta sebagai sistem klasifikasi. Bahasa menggambarkan bagaimana realitas dunia dilihat, karena bahasa yang berbeda itu akan menghasilkan realitas yang berbeda pula ketika diterima oleh khalayak.

 

1.2  Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas, dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut :

1.      Analisis teori yang dikemukakan dan pengaplikasian analisis teori Roger Fowler pada berita pencabulan janda di harian Jawa Pos edisi sabtu, 7 Desember 2013 ?


 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Analisis Teori dan Pengaplikasiannya

Bagaimana kita memakai model analisis Roger Fowler dkk.ini dalam menganalisis wacana pemberitaan suatu teks berita? Yang perlu diperhatikan pertama kali, bagi Roger Fowler dkk., bahasa yang dipakai oleh media bukanlah sesuatu yang netral, tetapi mempunyai aspek atau nilai ideologis tertentu. Permasalahan pentingnya di sini adalah bagaimana realitas itu dibahasakanoleh media. Realitas itu bias berarti bagaiman peristiwa dan actor-aktor yang terlibat dalam peristiwa itu direpresentasikan dalam pemberitaan melalui bahasa yang dipakai. Bahasa sebagai representasi dari realitas tersebut bias jadi berubah dan berbeda sama sekali dibandingkan dengan realitas yang sesungguhnya.

Teks berita,  kalau hendak dianalisis dengan memakai kerangka yang dibuat oleh Roger Fowler dkk., maka menjadi titik perhatian adalah pada praktik pemakaian bahasa yang dipakai. Ada dua hal yang bias diperhatikan. Pertama, pada level kata. Bagaimana peristiwa dan actor-aktor yang terlibat dalam peristiwa tersebut hendak dibahasakan. Kata-kata di sini bukan hanya penanda atau identitas tetapi dihubugkan dengan ideology tertentu, makna apa yang ingin dikomunikasikan kepada khlayak. Pihak atau kelompok mana yang diuntungkan dengan pemakaian kata-kata tersebut dan pihak atau kelompok mana yang dirugikan dan posisinya termajinalkan. Kedua, pada level susunan kata, atau kalimat. Bagaiman kata-kata disusun ke dalam bentuk kalimat tertentu dimengerti dan dipahami bukan semata sebagai persoalan teknik kebahasaan, tetapi praktik bahasa. Yang ditekankan di sini adalah bagaiman pola pengaturan, penggabungan, penyusunan tersebut menimbulkan efek tertentu: membuat posisi satu pihak lebih menguntungkan atau mempunyai citra posistif dibandingkan dengan pihak lain, atau peristiwa tertentu dipahami dalam kategori pemahaman lain.

Roger Fowler dkk.,ingin menggambarkan teks berita dalam rangkaian bagaimana ia ditampilkan dalam bahasa. Dan bagaiman bahasa yang dipakai itu membawa konsekuensi tertentu ketika diterima oleh khalayak. Roger Fowler dkk., memperhatikan konteks sejarah teks. Bahasa dipahami sebagai perangkat system abstrak menuju interaksi antara bahasa dan konteks. Dari perspektif kesejarahan tersebut, setiap bahasa tertentu dipahami dan dikritisi kehadirannya yang disesuaikan dengan konteks di mana teks hadir.

Model analisis  Roger Fowler dkk., ini dapat dilihat dalam contoh berita konkret mengenai perkosaan dan pembunuhan yang menimpa Daisy Mustiko (Teks berita Rakyat Merdeka, 12 Mei 2000). Orban ditemukan meninggal mengenaskan di kamar kosnya. Ketika menyebut actor yang terlibat, berita itu banyak memakai kosakata yang berhubungan dengan sifat atau karakteristik dari si gadis. Kenapa yang banyak dipakai adalah kosakata seperti cantik atau manis? Kenapa bukan identifikasi lainnya yang dipakai oleh wartawan? Dengan membentuk asosiasi antara bnetuk fisik gadis dengan tindakan perkosaan, seakan peristiwa perkosaan itu memperoleh dasar pembenar.

Artikel berita yang ada pada harian surat kabar Jawa Pos 7 Desember 2013 pada halaman 17 kolom ke 3. Judul artikel tersebut yaitu “Cabuli Janda di Masjid, Takmir Dipolisikan”. Wacananya sebagai berikut :

 

Cabuli Janda di Masjid, Takmir Dipolisiskan

PENGURUS takmir masjid di salah satu di Kecamatan Kalianget harus berurusan dengan polisi. Sebab, oknum berinisial SD,55,tersebut dilaporkan memerkosa KA (inisial),48,warga Kecamatan Kalianget. Ironisnya, SD yang disebut-sebut menjabat ketua takmir itu melakukan aksi tak terpuji tersebut di dalam masjid.

Informasi itu terkuak saat KA bersama kerabatnya datang ke Mapolres Sumenep Kemarin (6/12). KA yang berstatus janda tersebut melaporkan tindakan bejat SD dengan ditemani anaknya, Sugi Hartoyo. Sementara itu, kerabat dan warga lain menunggu di sekitar mapolres.

Menurut keterangan korban, dirinya melaporkan SD ke polisi karena jalan damai tak tercapai. Korban menyatakan, bahwa SD tidak menunjukkan  iktikad baik. Sebab, SD tidak hadir dalam pertemuan yang dimediasi kepala desa setempat.

Kepada Jawa Pos Radar Madura anak korban, Sugi Hartoyo, mengatakan, pemerkosaan yang menimpa ibunya tersebut terjadi Senin (2/12). Saat itu SD melancarkan aksi pukul 23.00. modus pemerkosaan adalah iming-iming akan mendapat azimat. Maklum, selama ini korban bekerja sebagai penjual pentol dan makanan anak.

Namun, sesampai di masjid tersebut, bukannya azimat yang didapat. Korban justru mendapat perlakuan tak senonoh. Itu dilakukan pelaku dengan mudah. Sebab, setelah korban masuk ke masjid, pelaku langsung mengunci pintu masjid.

 

Teori (pendekatan) yang dikemukakan oleh Roger Fowler dkk yaitu pendekatan yang terkenal dengan critical linguistics, mereka memandang bahwa bahasa sebagai praktik sosial, melalui mana suatu kelompok memantabkan dan menyebarkan ideologinya. Mereka melakukan sebuah penelitian yaitu melihat bagaimana tata bahasa (grammar) tertentu dan pilihan kosakata tertentu membawa implikasi dan ideologi tertentu. Dalam membangun model analisisnya, Roger Fowler dkk. Terutama mendasarkan pada penjelasan Halliday mengenai struktur dan fungsi bahasa. Fungsi dan struktur bahasa ini menjadi dasar struktur tata bahasa, di mana tat bahasa itu menyediakan alat untuk dikomunikasikan kepada khalayak. Apa yang dilalkukan Roger Fowler dkk adalah meletakkan tata bahasa dan praktik pemakaiannya tersebut untuk mengetahui praktik ideologi.

2.1.1 Kosakata

Bahasa, dilihat oleh Roger Fowler dkk, sebagai sistem klasifikasi. Bahasa menggambarkan bagaiman realitas dunia dilihat, member kemungkinan seseorang untuk mengontrol dan mengatur pengalaman pada realitas sosial. Akan tetapi, sistem klasifikasi ini berbeda-beda antara seseorang atau satu kelompok dengan kelompok lain, karena kelompok yang berbeda mempunyai pengalaman budaya, sosial, dan politik yang berbeda. Bahkan Roger Fowler dkk melihat bagaimana pengalaman dan politik yang berbeda itu dapat dilihat dari bahasa yang dipakai, yang menggambarkan bagaiman pertarungan sosial terjadi. Arti penting klasifikasi ini dapat dilihat dari bagaimana sebuah peristiwa yang sama dapat dibahasakan dengan bahasa yang berbeda.

2.1.1.1 Kosakata: membuat klasifikasi                                                                      

Bahasa pada dasarnya selalu menyediakan klasifikasi. Realitas tertentu dikategorikan sebagai ini, dan akhirnya dibedakan dengan realitas yang lain. Klasifikasi terjadi karena realitas begitu kompleksnya, sehingga orang membuat penyerdehanaan dan abstraksi dari realitas tersebut. Realitas tersebut bukan hanya dikenali, pada akhirnya berusaha dbedakan dengan yang lain. Klasifikasi menyediakan arena untuk mengontrol informasi dan pengalaman. Klafikasi itu bermakna peristiwa harusnya dilihat dalam sisi yang satu bukan yang lain. Kata kemudian memaksa kita untuk melihat bagaimana realitas seharusnya dipahami.

Klasifikasi (Anti-Takmir)

Klasifikasi (Pro-Takmir)

masalah agama

masalah keluarga

pelecehan seksualitas

pelecehan manusia

 

Dalam pemberitaan media, kosakata yang banyak dipakai adalah pencabulan. Dengan memberi kosakata semacam itu. Kosakata ini memberi arahan kepada khalayak bagaimana realitas seharusnya dipahami. Pertama, pemakaian kata “pencabulan” membatasi pikiran kita dan persepsi khalayak bahwa pencabulan adalah masalah agama bukan masalah keluarga. Dengan pemakaian kata itu, realitas masalah pencabulan dibatasi dan didefinisikan semata sebagai masalah agama. Kedua, kata “pencabulan” itu juga membatasi khalayak pembaca untuk melihat pelecehan seksualitas sebagai pelecehan manusia. Di sana tidak dipersoalkan dan dihilangkan fakta tentang pelecehan. Kata-kata bukan hanya merupakan pembatasan, tetapi juga bias berupa penilaian. Hal ini karena kata bukan terjemahan langsung dari realitas yang diwujudkan dalam bahasa. Ketika membahasakan sesuatu realitas, pemakai bahasa mempergunakan pengalaman budaya, social, dan tujuan mereka ke dalam bahasa. Oleh karena itu, kosakata tertentu bukan hanya tidak netral dan tidak menggambarkan realitas, tetapi juga mengandung penilaian. Tugas dari critical linguistics di sini adalah membedah dan membongkar kemungkinan pemakaian bahasa tersebut untuk melegitimasi seseorang atau suatu gagasan atau marjinalisasi seseorang atau suatu gagasan tersebut.

2.1.1.2 Kosakata: membatasi pandangan

Menurut Fowler dkk., bahasa pada dasarnya  bersifat membatasi kita diajak berfikir untuk memahami seperti itu, bukan yang lain. Klasifikasi menyediakan arena untuk mengontrol informasi dan pengalaman. Kosakata berpengaruh terhadap bagaiman kita memahami dan memaknai suatu peristiwa. Hal ini khalayak tidak mengalami atau mengikuti suatu peristiwa secara langsung. Oleh karena itu, ketika membaca suatu kosakata tertentu, akan dihubungkan dengan realitas tertentu. Untuk melihat bagaiman kosakata mempengaruhi pandangan kita tersebut, dapat dilihat kasus konkret pemberitaan media atas kasus pencabulan. Kasus ini sendiri bermula pemerkosaan yang menimpa ibunya tersebut terjadi Senin (2/12). Saat itu SD melancarkan aksi pukul 23.00. modus pemerkosaan adalah iming-iming akan mendapat azimat. Maklum, selama ini korban bekerja sebagai penjual pentol dan makanan anak. Namun, sesampai di masjid tersebut, bukannya azimat yang didapat. Korban justru mendapat perlakuan tak senonoh. Itu dilakukan pelaku dengan mudah. Sebab, setelah korban masuk ke masjid, pelaku langsung mengunci pintu masjid.

 

 

 

Kosakata Pencabulan

Kosakata Penghalusan

Pencabulan, pelecehan seks, hubungan di luar nikah, diperawani, disetubuhi, digagahi, dinodai

Pemerkosaan

 

Yang menarik di sini adalah bagaimana media memaknai dan menyebut pencabulan. Pilhan kata-kata yang dipakai menunjukkan sikap media tertentu ketika melihat dan memaknai suatu peristiwa. Peristiwa dapat digambarkan dengan pilihan kata yang berbeda-beda. Di sini ternyata ada perbedaan yang menarik antara Jawa Pos disatu sisi dengan Kompas disisi lain. Jawa Pos banyak menyebut peristiwa ini sebagai “Pencabulan (Cabuli)”. Sebaliknya, Kompas banyak menyebut peristiwa Pencabulan ini sebagai ”pemerkosaan”. Peaknaan kata-kata yang berbeda ini, hendaklah kita pahami bukan semata sebagai soal istilah belaka, karena kata-kata itu menimbulkan arti dan pemaknaan tertentu ketika diterima oleh khalayak.

            2.1.1.3 Kosakata: pertarungan wacana

Kosakata haruslah dipahami dalam konteks pertarungan wacana. Dalam suatu pemberitaan, setiap pihak mempunyai versi atau pendapat sendiri-sendiri atas suatu masalah. Mereka mempunyai klaim kebenaran, dasar pembenar dan penjelas mengenai suatu masalah. Mereka bukan hanya mempunyai versi yang berbeda, tetapi juga berusaha agar versinya yang dianggap paling benar dan lebih menetukan dalam mempengaruhi opini public. Dalam upaya memenangkan penerimaan public tersebut, masing-masing pihak mengguanakan kosakata sendiri dan berusaha memaksakan agar kosakata itulah yang lebih diterima oleh public. Kita bias menjelaskan bagaimana pertarungan wacana terjadi dalam kosakata itu dalam contoh pemberitaan media mengenai pencabulan.

            2.1.1.4 Kosakata: marjinalisasi

Argumentasi dasar dari Roger Fowler dkk. Adalah pilihan linguistic tertentu kata, kalimat, preposisi membawa nilai ideologis tertentu.  Kata yang dipandang bukan sebagai suatu yang netral, tetapi membawa implikasi ideologis tertentu. Di sini pemakaian kata, kalimat, susunan, dan bentuk kalimat tertentu, preposisi tidak dipandang semata sebagai persoalan teknis tata bahasa atau linguistic , tetapi ekspresi dari ideology: upaya untuk membentuk pendapat umum, meneguhkan, dan membenarkan pihak sendiri dan mengucilkan pihak lain. Pemakaian bahasa dipandang tidak netral karena membawa implikasi ideologis tertentu. Teks memproduksi “posisi pembacaan” untuk khalayak, dalam arti menyediakan perspektif bagaiman suatu teks harus dibaca dan dipahami meskipun pemaknaan suatu teks melibatkan juga hubungan transaksional dengan pembaca.

Pada level pilihan kata dipertanyakan bagaiman peristiwa dan actor yang terlibat dalam peristiwa tersebut dibahasakan. Penamaan itu berhubungan dengan paling tidak tiga aspek: actor-aktor yang terlibat maupun peristiwanya. Pilihan kosakata yang dipakai ini, ridak dipahami semata-mata sebagai sekedar aspek teknis atau melulu berurusan dengan persoalan tata ejaan tetapi ada aspek ideologis di dalamnya. Bagaimana dengan kata-kata tertentu actor-aktor dibahasakan dan bagaimana peristiwa digambarkan yang berpengaruh terhadap pemaknaan ketika diterima oleh khalayak. Berita mengenai pencabulan bias digambarkan dengan pilihan kosakata berikut:

Aktor

Peristiwa

Aktor

Seorang janda

dicabuli

Oleh pengurus takmir masjid

 

Aktor (Korban)

Keterangan Aktor (Korban)

Peristiwa

Aktor (Pelaku)

Keterangan Aktor (Pelaku)

Janda

cantik

dicabuli

takmir masjid

Pengurus takmir masjid

 

            2.1.2 Tata Bahasa

Roger Fowler dkk., memandang bahasa sebagai satu set kategori dan proses. Kategori yang penting disebut sebagai “model” yang menggambarkan hubungan antara obyek dengan peristiwa. Secara umum ada tiga model yang diperkenalkan oleh Roger Fowler dkk. Pertama, model transitif. Model ini berhubungan dengan proses, yakni melihat bagian mana yang dianggap sebagai penyebab suatu tindakan. Model transitif dipakai untuk menunjukkan tindakan yang dilihat sebagai dilakukan oleh actor melalui suatu proses yang ditunjukkan dengan kata kerja (verba) melakukan sesuatu seperti yang ditnjukkan lewat pemakaian kata kerja. Model kedua, intransitive. Dalam model ini seorang actor dihubungkan dengan suatu proses tetapi tanpa menjelaskan atau menggambarkan akibat atau obyek yang yang dikenai. Ketiga, model relasional. Kalau model yang pertama dan kedua berhubungan dengan suatu tindakan, di mana satu pihak melakukan tindakan dan pihak/bagian lain sebagai akibat dari tindakan tersebu, maka modek relasional menggambarkan hubungan diantara dua entitas/bagian tersebut. Hubungan tersebut bias berupa ekuatif yakni hubungan antara sam-sama kata benda.

Peristiwa pencabulan dapat dibahasakan dengan pilihan kosakata yang beraneka, baik dari korban (wanita), pelaku (laki-laki) maupun dari peristiwa pencabulan (event) itu sendiri. Pilihan kosakata mana yang dipakai bukan hanya persoalan teknis kenahasaan semata, tetapi sangat berkaitan dengan ideology, dalam arti bagaimana laki-laki dan wanita direpresentasikan dalam teks.

Salah satu aspek penting dan khas dari pemikiran Roger Fowler dkk adalah transformasi tata kalimat tersebut bukan sesuatu yang baku, tetapi dapat diubah susunannya, dipertukarkan, dihilangkan, ditambah, dan dikombinasikan dengan kalimat lain dan disusun ulang. Perubahan-perubahan itu bukan hanya mengubah struktur kalimat tetapi juga bias mengubah makna dari bahasa yang digunakan secara keseluruhan. Salah satu tipe transformasi itu adalah pasivasi, yakni mengubah tata susunan kalimat dari bentuk aktif menjadi pasif. Dalam kalimat aktif, actor sebagai pelaku diletakkan di muka digambarkan melakukan suatu tindakan yang mengenai objek yang dikenai. Di sini, atau proses atau tindakan ditujukan kepada subyek. Ketika kalimat aktif tersebut diubah ke dalam bentuk pasif, pola semacam itu mengalami perubahan. Proses bukan ditujukan kepada subjek tetapi kepada objek, yang menjadi titik perhatian adalah objek atau pihak yang dikenai suatu tindakan. Hal ini dapat digambarkan dalam kalimat berikut:

Aktif

Pengurus takmir mencabuli seorang janda yang berumur 48 tahun

Pasif

Seorang janda yang berumur 48 tahun dicabuli oleh pengurus takmir

 

Dalam contoh di atas, seorang takmir yang mencabuli àseorang janda yang dicabuli (di mana à transformasi atau perubahan dari aktif ke pasif). Dengan membentuk kalimat pasif, titik perhatian yang ingin dikomunikasikan kepada khalayak adalah pada diri objek, bukan subjek. Yang ingi dikomunikasikan adalah alangkah malangnya nasib janda tersebut harus menerima sifat biadab seorang takmir.ini berbeda kalau bentuk kalimatnya adalah aktif, karena yang dipentingkan adalah subjek, pelaku pencabulan. Dalam bentuk kalimat aktif, yang menjadi titik sorotan adalah alangkah kejamnya pelaku (takmir) tersebut. Dalam bentuk kalimat pasif, subjek (pelaku) ditempatkan posisinya sebagai objek. Sebaliknya, objek ditempatkan posisinya sebagai subjek (sasaran). Bentuk kalimat pasif, mengubah subjek pelaku (dalam kalimat aktif) hanya sebagai keterangan belaka. Lihat, misalnya dalam kalimat berikut:

Pengurus takmir

Mencabuli

Seorang janda

Yang berumur 48 tahun

Subjek (Pelaku)

Predikat

Objek (sasaran)

Pelengkap

 

Seorang janda

Yang berumur 48 tahun

Dicabuli

Oleh takmir masjid

Subjek (sasaran)

Pelengkap

Predikat

keterangan

 

Tipe transformasi klainnya adalah nominalisasi. Nominalisasi terjadi ketika kalimat atau bagian dari kalimat, gambaran dari suatu tindakan atau partisipan dibentuk dalam kata benda, umumnya mengubah kata kerja (verba) ke dalam kata benda (nomina). Seperti dengan pemberian “pe-an”, kata mencabuli menjadi pencabulan. Akibatnya, yang diterima oleh pembaca adalah kesan intensifier dari suatu tindakan, tetapi sekaligus menghilangkan atau menurunkan peran actor atau partisipan dari suatu peristiwa. Titik perhatian pembaca bukan siapa yang melakukan suatu tindakan, tetapi pada tindakan itu sendiri. Ketika, misalnya, disebut kata“pencabulan”yang diasosiasikan kualitas atau gejala tindakan tersebut yang menjadi fenomena yang mengkhawatirkan, tetapi di sana luput dari perhatian siapa yang melakukan pencabulan, atau siapa yang melakukan pencabulan. Nominalisasi juga mengarahkan proses ke dalam objek, bukan subjek. Ketika disebut kata mencabuli, proses di sisni ditekankan pada subjek, yang melakukan tindakan. Akan tetapi, ketika diubah atau ditransformasikan dalam kata pencabulan, proses di sini diarahkan pada korban, siapa yang dicabuli, bukan siapa yang mencabuli. Hal ini, misalnya, dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut:

 

Verba

Pengurus takmir masjid mencabuli janda yang berumur 48 tahun

Nominalisasi

Pencabulan menimpa janda yang berumur 48 tahun

 

Dalam contoh di atas, spengurus takmir mencabulià pencabulan (di mana à bermakna transformasi atau perubahan). Dengan mengubah menjadi nominal, kalimat, dan pemaaian bahasa bias dihemat dan diringkas, tetapi artiya menjadi tereduksi. Dengan bentuk kalimat kedua, perhatian pembaca atau khalayak ada dua. Pertama pada tindakan yakni pencabulan itu sendiri.kata benda menyebabkan seolah tindakan itu menjadi lebih besar, menjadi gejala umum atau fenomena. Dalam hal ini pencabulan dipandang sebagai gejala yang terjadi di mana-mana dan perlu diwaspadai. Titik perhatian berikutnya ditujukan kepada objek, tindakan, dalam hal ini korban janda yang berumur 48 tahun. Pembaca akan dengan cepat simpati dan iba dengan penderitiaan janda tersebut. Hal yang tidak terjadi pada pelaku pencabulan, karena dalam kalimat yang memkai nominalisasi, subjek bukan hanya tidak penting kehadirannya, tetapi juga dapat dihilangkan. Dalam bentuk nominalisasi, subjek dapat ditransformasikan dari pelaku ke peristiwa (kejadian). Lihat misalnya dalam kalimat berikut:

Takmir masjid

Mencabuli

Seorang janda

Yang berumur 48 tahun

Subjek (pelaku)

Predikat

Objek

(Sasaran)

Pelengkap

 

Pencabulan

Menimpa

Seorang janda

Yang berumur 48 tahun

Subjek

Predikat (sasaran)

Objek

Pelengkap

 

            2.1.2.1 Efek bantuan kalimat pasif: penghilangan pelaku

Tata bahasa bukan hanya berhubungan dengan persoalan teknis kebahasaan, ia bukan hanya melulu persoalan cara menulis, karena bentuk kalimat menentukan makna yang dihasilkan oleh susunan kalimat tersebut. Ada dua bentuk kalimat: kalimat aktif dan pasif. Dalam kalimat aktif, yang ditekankan adalah subjek pelaku dari suatu kegiatan, sedangkan dalam kalimat pasif yang ditekankan adalah sasran dari suatu pelaku atau tindakan. Misalnya  dalam peristiwa pencabulan seorang janda oleh takmir masjid. Peristiwa tersebut bias dibahasakan dalam susunan kalimat aktif berikut:

Pengurus takmir

Mencabuli

Seorang janda

Yang berumur 48 tahun

Subjek (pelaku)

predikat

Objek (sasaran)

Keterangan

 

Kalimat tersebut mempunyai susunan aktif (di mana subjek melakukan sesuatu), dan diubah dalam bentuk apapun tidak mengurangi arti yang ditimbulkannya. Akan tetapi, agak berbeda kalau kalimat tersebut diubah dalam bentuk pasif.

Yang berumur 48 tahun

Seorang janda

Dicabuli

(oleh) pengurus takmir

Keterangan

Subjek (sasran)

predikat

Keterangan

 

Kalimat di atas mengalami perubahan dari kalimat yang aktif. Pertama, dalam susunan kalimat aktif, pengurus takmir diletakkan sebagai subjek pelaku. Artinya, kesalahan pengurus takmir dalam mencabuli deletakkan untuk ditonjolkan pertama kali dalam pembertitaan. Hal ini agak berbeda ketika kalimatnya diubah dalam bentuk pasif, di mana posisi pengurus takmir lebih netral, karena yang ditonjolkan bukan subjek pelaku tetapi korban, dalam hal ini pengurus takmir. Kedua, bentuk kalimat pasif bukan hanya membuat halus atau netral posisi pelaku, bahkan dapat diilangkan dalam struktur kalimat itu sendiri. Kalimat aktif selalu membutuhkan kehadiran subjek pelaku kalimat tersebut bukan hanya tidak ada artinya.tetapi juga tidak berbunyi. Dalam pemberitaan mengenai pencabulan janda tersebut, kalau dibahasakan dalam bentuk kalimat aktif, aka subjek pengurus takmir  wajib hadir dalam kalimat. Sebaliknya, dalam kalimat pasif kehadiran pelaku tidak penting kehadirannya, bias hadir bias dihilangkan. Hal ini karena dalam kalimat yang berstruktur pasif, pelaku hanya sebgai tambahan keterangan, yang menjadi sentral dalam kalimat tersebut adalah sasaran (yag dikenai). Hal ini dapat digambarkan dalam contoh berikut ini:

 

Yang berumur 48 tahun

Seorang janda

Dicabuli

….

Keterangan (sasran)

Subjek

Predikat

Pelaku

 

Yang berumur 48 tahun

Seorang janda

Dicabuli

….

Keterangan

Subjek (sasaran)

predikat

Pelaku

 

Dalam kalimat pertama dan kedua yang berstrutur pasif, kalimat masih bias dibaca ketika pelaku dihilangkan dalam kalimat. Artinya ada atau tidak ada pelaku, tidak mempengaruhi pembacaan kalimat, karena yang dipentingkan dalam kalimat yang berstruktur pasif ini adalah sasran atau korban. Posisi pelaku dalam kalimat pasif hanyalah sebagai keterangan, sehingga posisi itu tidak menentukan dan tidak berpengaruh secara gramatikal kalau dihilangkan. Sebagai keterangan, dalam kalimat pasif tidak harus diisi dengan pelaku tetapi bias dengen keterangan lain. Lihat misalnya dalam kalimat di bawah ini.

Yang berumur 48 tahun

Seorang janda

Dicabuli

pengurus takmir

Keterangan

Subjek (sasaran)

predikat

keterangan

 

Pengertian semaca ini membawa pada pembacaan yang lain seperti yang dilakukan oleh Roger Fowler dkk. Menurut mereka, dengan mengubah susunan kalimat ke dalam bentuk pasif, bukan hanya persoalan enak dibaca atau dipahami, tetapi merupakan manipulasi sintaksis, karena dengan mengubah kalimat menjadi pasif, seseorang (agen/pelaku) bukan hanya disembunyikan tetapi juga dapat dihilangkan dalam pemberitaan.

2.1.2.2 Efek nominalisasi: penghilangan pelaku

Penghilangan pelaku tindakan, selain lewat bentuk kalimat pasif, dapat juga dilakukan lewat nominalisasi (membuat verba menjadi nomina). Nominalisasi bias menghilangkan subjek karena dalam bentuk nominal bukan lagi kegiatan/tindakan yang  ditekankan tetapi suatu peristiwa. Dalam kalimat yang menunjukan kegiatan, mebutuhkan subjek (siapa yang melakukan kegiatan), tidak demikian halnya dengan peristiwa. Peristiwa pada hakikatnya tidak mebutuhkan subjek. Kata seperti pencabulan hanya menunjuk pada adana suatu peristiwa, yang tidak harus menunujk pada realitas acuan yang konkrit baik pelaku, korban, tempat, dan waktu. Seperti dalam contoh di bwawah ini, ketika kalimat diubah dalam bentuk kata benda, tidak dibutuhkan kehadiran pengurus takmir sebagai pelaku. Kalimat itu hanya ingin menunjukkan bahwa da peristiwa penembakan pencabulan.

Yang berumur 48 tahun

Pengurus takmir

mencabuli

Seorang janda

Keterangan (pelaku)

subjek (sasaran)

Predikat

Objek

 

Yang berumur 48 tahun

Seorang janda

Mengalami

Pencabulan

…..

Keterangan (sasran)

subjek

predikat

keterangan

pelaku

 

Nominalisasi bukan hanya dapat menghilangkan subjek/pelaku, tetapi juga bias menghilangkan objek. Seperti dalam contoh di bawah ini, dengan menghilangkan subjek (pengurus takmir) dan objek (seorang janda), kalimat tetap bias bunyi karena dengan membentuk nominalisasi, tata kalimat sudah berubah menunjuk pada peristiwa yang didalamnya tidak dibutuhkan informasi konkret seketika itu juga.

Yang berumur 48 tahun

….

terjadi

pencabulan

….

Keterangan

sasaran

predikat

Subjek

Pelaku

 

Pencabulan

….

Terjadi

Yang berumur 48 tahun

…..

Subjek

Sasaran

predikat

Subjek

Pelaku

 

Titik perhatian utama Roger Fowler dkk adalah pada representasi, bagaiman kelompok, seseorang, kegiatan, atau peristiwa tertentu ditampilkan dalam wacana public. Proses representasi selalau melalui medium (umumnya bahasa) yang terutama digunakan untuk melakukan representasi. Yang menjadi focus utama di sini bukan bias atau distorsi dari pemakaian bahasa, tetapi bagaiman pemakaian bahasa tertentu tidak objekif dan membawa nilai ideologis tertentu. Oleh karena itu, model Roger Fowler dkk dipusatkan pada salah representasi dan deskriminasi seseorang atau kelompok dalam wacana public. Topiknya meliputi berbagai ketidakadilan dan deskriminasi seperti seksisme, rasisme, dan sebagainya. Selain berupa orang juga berupa gagasan yang selalu terpinggirkan seperti antiperang, homoseksualitas, pemuja kepercayaan, dan sebagainya. Di sini, bagaiman pemakaian bahasa tertentu dapat secara sengaja  atau tidak memarjinalkan dan mendeskriminasikan seseorang untuk kelompok dari pembicaraan public.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

            Dalam membangun model analisisnya, Roger Fowler dkk. Mendasarkan pada penjelasan Halliday mengenai struktur dan fungsi bahasanya. Yang kemudian meletakkan tata bahasa dan praktik pemakaiannya tersebut untuk mengetahui praktik ideologi yang diterapkan pada khalayak atau masyarakat luas. Misalnya pada kosakata suatu kalimat atau wacana tertentu yang dalam pembacaannya dapat menimbulkan ideologi-ideologi baru atau asumsi yang berbeda-beda di setiap pandangan masing-masing khalayak luas, serta sebagai sistem klasifikasi.

Elemen yang dikemukan oleh Roger Fowler dkk., yaitu diantaranya yaitu kosakata dan tata bahasa, kosakata dibagi menjadi beberapa sub yaitu sub kosakata membuat klasifikasi, kosakata membatasi pandangan, kosakata pertarungan wacana, kosakata marjinalisasi. Sedangkan tata bahasa dibagi menjadi dua sub yaitu efek bentuk kalimat pasif penghilangan pelaku dan efek nominalisasi penghilangan pelaku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisi Teks Media. Yogyakarta: LKiS.

Koran Jawa Pos Edisi Sabtu, 7 Desember 2013.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi