Bahasa Indonesia Jurnalistik
MEMAKNAI TAHUN BARU MASEHI 2014
Banyak orang bilang bahwa
tahun baru 2014 adalah lebih unik dari tahun baru sebelumya. Tahun baru 2014
jatuh pada hari selasa malam rabu, yang mana konon katanya ketika hari rabu berada/bertepatan
di akhir bulan maka disebut juga dengan istilah rebowekasan. Rebowekasan adalah
paham orang terdahulu yang sering terdengar sampai sekarang, istilah rebowekasan
mempunyai makna yang sangat mendalam yaitu datangnya balak (musibah/malapetaka),
dalam arti lain yaitu Allah memberikan kepada hambanya musibah, entah musibah
apa yang harus diterima pada semua manusia yang ada dimuka bumi ini. Di dalam
kalangan pondok pesantren rebowekasan ini diperingati dengan adanya acara doa
bersama dan semacam pasar malam, ini bisa diibaratkan sebagi doa tersirat yang
dipanjatkan manusia kepada tuhannya. Semoga prasangka buruk ini tidak menjadi
kenyataan. Semoga Allah masih memberi perlindungan dan masih sayang kepada
hambanya.
Semakin banyak tahun yang kita lalui semakin sedikit pula jatah kita
untuk hidup di alam yang fana ini, semakin sedikit pula jatah ibadah yang masih
kurang ini. Semakin dekat dengan ajal yang akan tiba pada diri masing-masing
manusia. Manusia zaman sekarang diberikan batas maksimal dari Allah bahwa umur
kita kurang lebih 70 tahun, jika Allah mengehendaki sebelum batas tahun sudah
meninggal dunia berarti sangat beruntung bagi yang amalnya banyak, dan celakalah
bagi orang yang masih belum punya amal yang banyak. Jika kita masih diberi kortingan sama Allah sampai umur 70 ke atas
maka kita gunakan sebaik-baiknya untuk fokus beribadah, kita menganggap bahwa
kortingan itulah jatah perbaikan diri kita selaku hamba yang banyak salah.
Dengan batasan inilah kita bisa mengetahui kurang berapakah sisa umur kita
meskipun umur kita tidak bisa di kira-kira, semua hanyalah Allah yang maha tahu
segalanya dan sudah digariskan oleh Allah. Andai kata Allah memberi tahu sampai
umur berapakah kita hidup, saya yakin semua manusia hidupnya hanya dibuat untuk
beribadah dan beribadah. Dari semua inilah mengingat keterbatasan umur mari
kita gunakan dengan sebaik mungkin dalam hal kebaikan, jangan menganggap bahwa peralihan
tahun ini sebagai seremonial yang harus kita lakukan dengan senang-senang,
foya-foya, bahkan sebagai momen pesta bagi kita. Ingat dan ingat ajal sudah
mendekat dengan kita.
Muhasabah Diri
Sungguh saya telah berjumpa dengan beberapa kaum, mereka
lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga waktu mereka daripada kesungguhan kalian
untuk mendapatkan dinar dan dirham” (Al-Hasan Basri). Waktu adalah salah satu
diantara nikmat Allah yang paling berharga dan agung bagi manusia. Cukup bagi
kita kesaksian Al-Qur’an tentang betapa agungnya tentang nikmat yang satu ini.
Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan tentang urgensi waktu, ketinggian
tingkatannya, dan juga pengaruhnya yang besar. Bahkan Allah telah bersumpah
dengan waktu dalam kitab-Nya yang mulia dan ayat-ayat-Nya yang luhur dalam
konteks yang berbeda-beda. Allah yang urusan-Nya yang begitu agung telah
bersumpah dengan waktu malam, siang, fajar, subuh, saat terbenamnya matahari,
waktu dhuha, dan dengan masa. Hanya orang-orang hebat dan mendapatkan taufik
dari Allah, yang mampu mengetahui urgensi waktu lalu memanfaatkanya seoptimal
mungkin. Dalam hadits, “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dalam keduanya,
yaitu nikmat sehat dan waktu luang (HR. Bukhari). Banyak manusia tertipu
didalam keduanya, itu artinya, orang yang mampu memanfaatkan hanya sedikit.
Kebanyakan manusia justru lalai dan tertipu dalam memanfaatkannya. Allah
memberikan kita setiap hari modal waktu kepada semua manusia di muka bumi ini
adalah sama, yaitu 24 jam satu hari, 168 jam dalam satu minggu, 672 jam
sebulan, dan seterusnya. Tauladan dari nabi Muhammad dalam waktu 23 tahun bisa
membangun peradaban Islam yang tetap ada sampai sekarang. Ikut 80 peperangan
dalam tempo waktu kurang dari 10 tahun, santun terhadap fakir miskin,
menyayangi istri dan kerabat, dan yang luar biasa adalah beliau seorang
pemimpin umat yang bisa membagi waktu untuk umat dan keluarga secara seimbang.
Dari cuplikan di atas bisa kita tarik sebuah makna dan kesimpulan berapakah
waktu yang kita sia-siakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, bagaikan air
samudera yang tak dapat dihitung dengan meteran dunia inilah gambaran kita
manusia yang selalu menyia-yiakan waktu. Sebagai seorang makhluk yang berakal
dan memiliki kesempurnaan diantara makhluk lainya sepatuhnya kita memanfaatkan
waktu sebaik mungkin, berktontribusi kepada kebaikan, dan berkarya terhadap
kebaikan. Ingat dan ingatlah kembali pesan yang disampaikan Rosulullah
“Gunakanlah lima perkara sebelum lima perkara yang lain. Gunakanlah masa mudamu sebelum masa tuamu, gunakanlah masa sehatmu sebelum masa sakitmu, gunakanlah
masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, gunakanlah masa luangmu sebelum masa
repotmu, dan gunakanlah masa hidupmu sebelum masa ajal menjemputmu”.
Sebuah Renungan
Seorang bocah laki-laki masuk ke sebuah toko. Ia
mengambil peti minuman dan mendorongnya
ke dekat pesawat telepon koin. Lalu, ia naik ke atasnya sehingga ia bisa menekan
tombol angka di telepon dengan leluasa. Ditekannya tujuh digit angka. Si
pemilik toko mengamati tingkah bocah ini dan menguping percakapan teleponnya. Bocah
“Ibu, bisakah saya mendapat pekerjaan memotong rumput di halaman Ibu?, Ibu “Saya
sudah punya orang untuk mengerjakannya” Bocah “Ibu bisa bayar saya setengah
upah dari orang itu” Ibu “Saya sudah sangat puas dengan hasil kerja orang itu”
Bocah “Saya juga akan menyapu pinggiran trotoar Ibu dan saya jamin di hari
Minggu halaman rumah Ibu akan jadi yang tercantik di antara rumah yg berada di
kompleks perumahan ibu” Ibu ”Tidak, terima kasih”. Dengan senyuman di wajahnya,
bocah itu menaruh kembali gagang telepon. Si pemilik toko, yang tadi
mendengarkan, menghampiri bocah itu. Pemilik Toko “Nak, aku suka sikapmu, semangat
positifmu, dan aku ingin menawarkanmu pekerjaan” Bocah “Tidak. Terima kasih”. Pemilik
Toko “Tapi tadi kedengarannya kamu sangat menginginkan pekerjaan” Bocah “Oh, itu,
Pak. Saya hanya ingin mengecek apa pekerjaan saya sudah bagus. Sayalah yang
bekerja untuk Ibu tadi.” Seperti anak ini, sebaiknyalah kita mengevaluasi
tentang apa yang kita kerjakan pada tahun sebelumnya untuk memastikan kualitas
yang lebih baik ditahun depan.
Beruntunglah bagi orang-orang yang bisa mengevaluasi dirinya sendiri
untuk menjadi yang terbaik. Benar-benar sangat beruntung bagi mereka yang hari
ini lebih baik dari hari kemarin, dan celakalah bagi mereka yang hari ini lebih
buruk dari hari kemarin. Tetap optimis
dan positif untuk melangkah kedepan demi masa depan yang gemilang. Raihlah
cita-citamu setinggih langit. Gapailah masa depanmu yang cerah. “Demi waktu Asar, sungguh manusia itu
benar-benar dalam kerugian; kecuali mereka yang beriman, mengerjakan amal
saleh, saling menasehati bagi menegakkan kebenaran dan saling menasehati untuk
sabar.”
Abdullah Syarofi, Mahasiswa Sastra
Indonesia, Universitas Airlangga
Komentar
Posting Komentar