Etika dan Estetika
NILAI ETIKA DALAM KARYA SASTRA “BILA MALAM BERTAMBAH MALAM”
KARYA PUTU WIJAYA
(KAJIAN DISIPLIN ILMU ETIKA DAN ESTETIKA)
Oleh:
Abdullah Syarofi
121111132
SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA
2013
ABSTRAK
Etika merupakan suatu sikap yang menghargai dan
menghormati semua tata tertib yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari, kita
akan melihat suatu keindahan saat kita dan lingkungan sekitar kita melakukan
dan menjalankan suatu etika. Setiap individu di alam semesta ini dapat
melakukan sesuatu yang selalu menjaga etika. Karya
sastra terlahir atau tercipta bukan dari pemikiran yang kosong, tetapi karya
sastra terlahir dengan berbagai pemikiran-pemikiran, karya sastra juga tidak
hanya mempunyai cerita atau isi yang menarik untuk di baca, karya sastra juga
memiliki etika atau moral yang patut kita teladani, baik itu memiliki etika
yang baik atau yang jelek, karya sastra memiliki kualitas tersendiri, dan hal
itu harus dihargai dengan cara meneruskan perjuangan mereka dalam berkarya
dengan menggunakan bahasa, seni yang bermoral dan beretika. Salah satu karya
sastra yang terlahir bukan dari pemikiran yang kosong dan memiliki sebuah nilai
etika yaitu karya sastra yang berbentuk novel yang merupakan karya dari salah
satu seorang sastrawan terkenal di Indonesia yaitu Putu Wijaya yang berjudul
Bila Malam Bertambah Malam, novel ini mengisahkan atau
menceritakan tentang kesetiaan untuk memelihara
cinta yang berbenturan dengan keangkuhan tatanan sosial yang
membeda-bedakan manusia atau tentang cinta atau keangkuhan manusia dengan latar
sosial Bali, pada seruas masa tatkala terjadi pada generasi-generasi. Karya ini
memiliki dan mengandung beberapa etika moral di antaranya
adalah etika hedonisme yaitu nilai di mana seseorang mencari dan mencari
kesenangan belaka, mereka tidak tau akibatnya dari nilai kesenangan itu, etika eudemonisme yaitu dimana seseorang mencapai tujuan terakhir
dengan menjalankan fungsinya dengan baik melalui keutamaan-keutamaan, etika
Deontologis yaitu di mana seseorang sering merasa terikat dengan kewajiban.
Ethics is an attitude that values
and respects all
the rules that apply in everyday life, we
will see the
beauty of our time
and our surroundings and run an ethical conduct. Every
individual in this
universe can do something that always keep
ethics. Literary works are born or created
instead of thinking
that is empty, but
the literature was born with a variety of ideas,
works of literature are also not only have a story or interesting
content to read, literary works
also have an ethical or moral that we should
emulate, be it have
good ethics or bad,
literature has its
own qualities, and it should be rewarded with a way to continue their
struggle in working with language, art that
are moral and ethical. One of the
literary works that were born not of thought
that is empty and has an ethical value
of literature in the form of the novel is the work
of one of the famous
poet Putu Wijaya
Indonesia is entitled
(Bila Malam Bertambah Malam) When Night Goes Up Night,
the novel tells the story or tell about loyalty to nurture love
that clashed with snobbery social order discriminating
man or about love
or human pride with
the social background of Bali, in the period
when seruas occurred
in generations. This work has a moral and ethical contain some of
which are ethical hedonism that is the
value at which a person is
looking for and the search for fun, they
do not know the
consequences of pleasure from
it, that is where
one's ethical eudemonisme
reach final destination
to perform its functions properly
through the virtues , Deontological ethics
is where a person
often feels bound
by duty.
Key words :
Ethics, intellection,
and literature,
PENDAHULUAN
Setiap masyarakat mengenal nilai-nilai dan norma-norma
etis. Dalam masyarakat yang homogeny dan agak tertutup masyarakat tradisional,
katakanlah nilai-nilai dan norma-norma itu praktis tidak pernah dipersoalkan.
Dalam keadaan seperti itu secara otomatis orang menerima nilai dan norma yang
berlaku. Individu-individu dalam masyarakat itu tidak berpikir lebih jauh. Tapi
nilai-nilai dan norma etis yang dalam masyaakat tradisional umumnya tinggal
implisit saja, setiap saat bisa menjadi eksplisit. Terutama bila nilai-nilai
itu di tantang atau norma-norma itundi langgar karena perkembangan baru, kita
melihat bahwa nilai atau norma yang tadinya terpendam dalam hidup rutin, dengan
agak mendadak tampil kepermukaan. (K. Bertens : Hal 31)
Etika sebagai refleksi manusia tentang apa yang di
lakukannya dan dikerjakannya mempunyai suatu tradisi yang panjang. Sejarah
etika sudah sering digambarkan. Namun
banyak gejala menunjukkan bahwa di zaman kita minat untuk etika tidak berkurang
tapi justruh bertambah. Sebabnya tentu karena kita lebih dari generasi-generasi
sebelumnya menghadapi berbagai masalah moral yang baru dan berat.
Masalah-masalah itu ditimbulkan karena perkembangan pesat di bidang ilmu dan
teknologi, tapi juga karena perubahan social dan budaya yang mendalam yang pada
waktu bersamaan berlangsung di mana-mana dalam masyarakat modern. (K. Bertens :
Kata Pengantar)
Etika merupakan suatu sikap yang menghargai dan
menghormati semua tata tertib yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari, kita
akan melihat suatu keindahan saat kita dan lingkungan sekitar kita melakukan
dan menjalankan suatu etika. Setiap individu di alam semesta ini dapat
melakukan sesuatu yang selalu menjaga etika. Itulah yang disebut dengan
estetika kehidupan. Estetika adalah keindahan berdasarkan panca indra. Sehingga
saat estetika di alam semesta ini akan terlihat.
Sastra Indonesia, yang merupakan
karya hasil ungkapan perasaan, pikiran, emosi, yang dituangkan dengan bahasa
baik lisan maupun tulisan juga mengalami banyak perkembangan, kita harus bangga
karena hasil karya sastra bangsa Indonesia memiliki kualitas yang baik. Karya
sastra menjadi tempat curahan hati, dimana bahasa yang ditumpahkan merupakan
hasil penerjemahan dari ekspresi hati dan jiwa, pemikiran, kehendak dan
lain-lain. Karena hal tersebut berhubungan erat dengan seni, budaya, dan
keindahan, maka karya sastra memiliki nilai dan arti tersendiri. Sastra
Indonesia harus dipertahankan kualitasnya sampai akhir hayat, karena dalam
suatu karya sastra terdapat nilai-nilai emosi yang positif yang dapat
memberikan makna petuah, nasehat, contoh, amanat, yang dapat memberikan
pengaruh yang bermakna.
Untuk itu, Bahasa dan Sastra
Indonesia harus tetap digunakan pada rel yang benar, agar perilaku generasi
bangsa tidak semakin memburuk di masa depan. Hal ini penting, sebab bahasa
merupakan sesuatu yang digunakan sehari-hari, apabila bahasa yang digunakan
buruk, maka dapat dikatakan bahwa hal itu merupakan perilaku buruk yang akan
mempengaruhi kepada psikologi pribadi dan tata nilai di masyarakat. Jangan
menganggap remeh bahasa yang digunakan sehari-hari, apakah itu Bahasa Indonesia
atau Bahasa Daerah, yang jelas norma-norma dan kaidah-kaidah berbahasa sangat
kuat pengaruhnya bagi diri pribadi dan bagi orang lain. Sudah pasti Bahasa
Indonesia yang berlaku saat ini merupakan bahasa yang baik, di dalamnya
terdapat amanat agar bangsa kita menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan
bijaksana, dengan sopan dan beretika, hanya orangnya saja yang menggunakan
Bahasa Indonesia terkadang tidak beretika, misalnya dengan berkata kasar,
mencaci-maki, mencela, berbicara jorok, dan lain-lain.
Kenyataan yang terjadi sekarang,
bahasa dan sastra kita digunakan secara tidak benar oleh orang-orang tertentu.
Orang yang berbicara kasar akan memberi pengaruh negatif kepada dirinya sendiri
dan kepada orang lain yang melihat dan mendengarnya. Akibatnya bisa fatal,
apakah itu akan terjadi perkelahian, kerusuhan, pertikaian, bahkan pembunuhan.
Inilah hebatnya bahasa, memiliki pengaruh yang sangat kuat. Dalam kehidupan
sehari-hari, bahasa berkaitan erat dengan moral dan etika, untuk itu wajib bagi
semua orang menggunakan bahasa yang baik di lingkungan masyarakat. Dengan
menggunakan bahasa yang baik dan beretika, orang lain akan melihat kita baik
juga, akan berpikir dan menganggap bahwa diri kita merupakan orang yang baik
dan patut dihormati. Sebaliknya apabila kita menggunakan bahasa dengan salah,
bahkan dengan kasar, orang lain pasti akan menganggap kita orang yang tidak
baik dan sebagai balasannya kita tidak layak dihormati, bahkan ekstrimnya bisa
dikira kita orang gila yang tidak beradab. Di kalangan remaja sering terjadi
kesalahan dalam berbahasa, yaitu dengan menggunakan kata-kata baru yang menurut
mereka sedang musimnya berbicara atau menulis dengan kata-kata baru tersebut,
dulu sekitar 20 tahun yang lalu remaja sering membolak-balik kata saat
berbicara atau menulis, kemudian berganti lagi dengan yang baru, yang dirintis
oleh artis Debby Sahertian dengan kata "gaul” nya, saat ini muncul lagi
gaya bahasa yang sangat aneh, apalagi dalam cara penulisannya. Walaupun gaya
bahasa dari tiap generasi berbeda-beda datang dan pergi silih berganti, namun
Bahasa dan Sastra Indonesia yang baku tetap ada, tidak hilang.
Manusia merupakan makhluk sosial
yang selalu berhubungan dengan sesamanya. Bahasa menjadi alat utama dalam
menjaga dan membina hubungan dengan sesama, bahasa merupakan alat komunikasi
yang paling penting. Membina hubungan dengan relasi bisnis dibutuhkan
keterampilan berbahasa yang baik, makna dasarnya adalah harus selalu
menggunakan bahasa yang baik dan benar, tidak berkonotasi negatif. Dengan itu
saja dapat diyakini rekan bisnis akan semakin mempererat hubungan bisnis dengan
kita, tentu saja hal tersebut akan menguntungkan kedua belah pihak. Berbeda
kalau misalnya kita tidak pandai menggunakan Bahasa Indonesia yang baik ketika
melakukan komunikasi bisnis dengan relasi, hal tersebut akan membuat bisnis
kita terganggu, yang akhirnya bisa merugikan perusahaan. Intinya adalah
gunakanlah bahasa dengan baik, dengan beretika, karena bahasa merupakan cermin
moral dan etika.
Dalam karya sastra, Bahasa Indonesia
memiliki peran sebagai ujung tombak. Karya sastra yang tidak beretika
dipastikan akan dikritik negatif oleh rakyat dan dilarang oleh pemerintah.
Sastra Indonesia memiliki nilai sejarah yang tinggi, sejak Angkatan Pujangga
Baru sampai sekarang, karya sastra kita memiliki kualitas tersendiri, dan hal
itu harus dihargai dengan cara meneruskan perjuangan mereka dalam berkarya
dengan menggunakan bahasa, seni yang bermoral dan beretika. (Eyang Ageng
Sastranegara)[1]
Tidak bisa dipungkiri juga dalam
karya sastra yang berupa novel karya Putu Wijaya yang berjudul Bila Malam
Bertambah Malam merupakan karya yang berisikan tentang cerita kehidupan
seseorang keturunan Bali ingin menikah dengan seseorang yang keturunan Jawa
tetapi tidak dapat restu dari orang tuanya, dari inilah karya sastra ini
mengandung etika dan estetika yang bisa di kupas untuk sebagai penilaian kita
terhadap karya sastra dan di jadikannya sebagai pengalaman pembaca, dan jika
etika itu baik untuk kita alangkah indahnya kita tiru dan jika etika itu jelek
kita harus menjauhinya.
HASIL PEMBAHASAN
Novel yang berjudul “Bila Malam Bertambah Malam” ini
bagus untuk dibaca dan mudah untuk dipahamai tetapi satu yang disayangkan
bahasanya banyak bahasa Bali jadi sulit untuk dipahami oleh orang Jawa karena
bahasa Bali dan bahasa Jawa sangat berbeda tetapi jangan kawatir dibagian
belakang buku sudah dijelaskan sama penulis agar kita semua tahu, dan banyak kata-kata atau kalimat –kalimat
yang terlalu membingungkan dan terlalu bertele-tele dalam hal menjelaskan
sesuatu.
Novel ini mengisahkan atau menceritakan tentang
kesetiaan untuk memelihara cinta yang
berbenturan dengan keangkuhan tatanan sosial yang membeda-bedakan manusia atau
tentang cinta atau keangkuhan manusia dengan latar sosial Bali, pada seruas
masa tatkala terjadi pada generasi-generasi. Kisah ini berlangsung di Tabanan,
Bali, disekitar kehidupan Gusti Biang, bangsawan tua sisa-sisa feodalisme Bali.
Gusti Biang masih ingin mempertahankan tatanan lama yang menjerat manusia
berdasarkan perbedaan kasta. Tapi sang putranya, Ratu Ngurah, jatuh cinta
kepada Nyoman Niti, bedine Gusti Biang yang menyadari kemerdekaannya sebagai
pribadi.
Guncangan pun tak
terhindarkan akibat perbenturan antara nilai-nilai lama yang telah melapuk dan
nilai-nilai baru yang hendak mekar. Dan kuncinya ada ditangan Wayan. Veteran
perang kemerdekaan dan kawan seperjuangan I Gusti Ngurah Rai yang gugur dalam
Perang Puputan, yang selama bertahun-tahun setia mengabdi pada keluarga Gusti
Biang.
Senja telah tua, di sore hari dirumah tua (rumah bangsawan),
seperangkat kursi dan meja tua penuh dengan ukiran, disanalah duduklah sang
Janda yang menghirup udara sore. Dia adalah Janda almarhum seorang bangsawan
yang dulu sangat dihormati karena dianggap pahlawan kemerdekaan. Yang telah
menghabiskan masa hidupnya untuk memelihara ayam kurungan dan mengumpulkan
perempuan-perempuan sebagai selir. Tapi beliau masih menyisahkan 200 hektar
tanah dari kekalahan-kekalahannya di Wantilan, untuk membiayai-membiayai
janda-janda yang ditinggalkannya, sesudah dia meninggal tertembak.
Sore itu ia sedang berusaha menyulam sebuah sarung
bantal yang sejak kemarin dubutnya dengan susah payah. Seminggu yang lalu sang
Janda ini menerima surat dari putera tunggalnya yang menempuh pendidikan di
unversitas yang berada di Jawa. Sang janda ini senang kalau anaknya ingin
pulang. Sebenarnya janda ini menginginkan anaknya untuk tidak meneruskan
sekolahnya, Janda ini mengiginkan anaknya pulang dengan membawa gadis Jawa yang
akan dinikahinya dan ingin segera mempunyai cucu untuk mengetahui kelanjutan
darahnya. Janda dan Wayan pun bergembira atas surat yang dikirimkan kepadanya,
bahwa putera sang janda akan pulang ke asalnya.
Hari demi hari, waktu demi waktu mereka (Janda tua,
Wayan, dan Nyoman) lalui bersama dengan kesenangan dan kesedihan yang mereka
alami bersama.
Nyoman ini sangat membangkang sama Janda tua tersebut,
bahkan dia ingin menghilangkan dari muka bumi ini, suatu malam Nyoman ini
menyuruh Janda tua itu menelan obat sebanyak-banyaknya agar cepat hilang dari
muka bumi ini padahal lima tahun yang lalu sang Putera Janda tersebut berpesan
untuk menjaga ibunya dengan baik-baik, tetapi sang Janda pun tidak tergoda oleh
tipu muslihat Nyoman. Tetapi sebaliknya Wayan ini sangat menurut sama Janda tua
tersebut bahkan dia membela Janda tua ketika Gusti Biang bertengkar sama
Nyoman.
Suatu malam ada keributan yang sangat meresahkan yaitu
Nyoman ingin pergi kekampung halamannya, karena dia sudah muak dengan kehidupan
bersama dengan Janda dan orang-orang kampung halamannya tersebut, tetapi ketika
diperjalanan Nyoman kepergok oleh Wayan, akhirnya Nyoman dilaporkan ke Janda
tua tersebut. Tapi, tekad Nyoman sudah bulat ingin meninggalkan kampung halaman
tersebut dan dia membawa sebungkus kertas yang berisi baju-bajunya, tetapi sang
Janda melarangnya untuk membawa sebungkus pakaian tersebut karena ketika
pertama Nyoman ke sini hanya membawa satu pakaian dan di diramutnya bahkan
sampai disekolahkan oleh sang Janda tersebut.
“Tidak tahukah Gusti? Nyoman adalah kekasih Ngurah,
putera Gusti sendiri. Piiih! Berani
sumpah, Gusti! Nyoman adalah tunangan Ngurah! Ya! Ratu Ngurah sendiri yang
mengatakan kepada titiyang. ‘aku akan mengawini Nyoman, Bapa’, begitu katanya,
‘walaupun dia hanya seorang desa. Walaupun pendidikannya rendah. Aku
nmemerlukan dia untuk membahagiakan hidupku.’ Piiih! Tidak tahukah Gusti
Biang?”
Kejadian itupun terjadi bahwa Nyoman pergi meninggalkan
rumah Janda tersebut, Janda tersebut tidak mengetahui bahwa orang yang
diusirnya (Nyoman) adalah tunangan anaknya sendiri yaitu Ngurah. Gusti Biang
seketika itu terdiam membisu. Tetapi dengan keteguhan hatinya dia bilang ke
Wayan anakku tak kan kuperkenankan kawin dengan bekas pelayannya. Tetapi Nyoman
sama puteranya saling mencintai.
Ketika kejadian itu Wayan membeberkan surat yang
dikirimkan ke ibunya yaitu yang berisi tentang bahwa dia akan menikahi si
Nyoman. Tetapi sang ibu masih tetap dengan pendiriannya yaitu si Janda ini
sudah lama mempersiapkan bahkan puteranya masih kecil, bahwa puteranya akan
dinikahkan dengan Sagung Rai. Bahkan si Janda sudah merundingkannaya
dengan Rai. Si Janda ingin dia harus
terus menghargai martabat yang diturunkan oleh leluhur-leluhur di puri ini.
Tidak sembarang orang dapat dilahirkan sebagai bangsawan. Dia ingin menjaga martabat
ini.
*
Malam turun diatas kota Tabanan kota yang mempunyai
udara sejuk pada malam hari, penduduknya yang riang dan gadisnya cantik-cantik,
tapi mereka senang tinggal dirumah saja dari pada keluar rumah pada malam hari,
mereka keluar rumah jika ada pertunjukkan legong.
Malam itu Ngurah anak sang Janda datang (pulang
kampung), Gusti Biang begerak perlahan-lahan, Ia mulai sadar dan merasakan ada
orang didekatnya.
“Siapa itu?” tanyannya lemah.
Matanya masih terkatup, tetapi tangannya bergerak
menggapai anak muda itu.
“Tiang Ngurah, anak ibu. Tiyang telah datang Ibu” bisik
lelaki itu sambil mendekatkan muka.
“Ngurah, anakku?” Tanya Gusti Biang ragu-ragu.
“Ya!” Tiyang Ngurah. Bangunlah , Ibu”.
Janda itu membuka matanya pelan-pelan seperti tak
percaya. Diusapnya matanya tak percaya. Kemudian ia membelalak, tersenyum dan
memeluk Ngurah.
*
‘Sekarang cincin itu kau hilangkan,” katanya dengan
sedih, “ besok kehormatanmu akan kau hilangkan pula! Itulah sebabnya aku tidak
rela melepasmu ke Jawa dulu. Disana kau tidak bertambah baik, tapi bertambah
buruk. Apa yang bisa kau pelajari disana, selain memboroskan uang belanja dan
bermalas-malas. Rumah ini tambah bobrok karena tidak ada yang mengurus. Untung
kau tidak membawa perempuan dari sana. Kalau kaubawa juga seperti Ngurah
Purnama di Puri Anom, barangkali aku akan cepat mati. Kalau Cuma perawan,
perawan macam apa pun ada disini. Kau tinggal pilih saja, ibu akan meminangnya
untukmu. Tetapi kukira tak ada yang lebih cantik, lebih halus, lebih rajin
daripada Sagung Rai diseluruh Puri Tabanan ini. Sejak kau tinggalkan, di
bertambah besar dan cantik. Datanglah ke sana besok, beliakan oleh-oleh.”
Percakapanpun terjadi antara Ngurah dan Biang, mereka
telah membahas perempuan siapakah yang akan dinikahi oleh Ngurah. Sang janda
itupun mengecap durhaka jika Ngurah mengawini perempuan penyerohan itu, dia
menginginkan anaknya mengawini perempuan yang sudah lama dikenalkannya, tetapi
hati sang Ngurah tetap memilih perempuan penyeroan tersebut.
*
Akhirnya Sang Janda merestui perkawinan antara Ngurah
dan Nyoman. [2]
Analisis Etika
- Hedonisme
Dalam hedonisme terkandung kebenaran yang mendalam:
manusia menurut kodratnya mencari kesenangan dan berupaya menghindari
ketidaksenangan. Sering kali manusia mencari kesenangan tanpa diketahuinya.
Tidak bias disangkal, keinginan akan kesenangan merupakan suatu dorongan yang
sangat mendasar dalam manusia. Para hedonis mempunyai konsepsi yang salah
tentang kesenangan. Mereka berfikir bahwa sesuatu adalah baik, karena
disenangi. Akan tetapi, kesenangan tidak merupakan suatu perasaan yang subjektif
belaka tanpa acuan objektif apa pun. Sebenarnya kesenangan adalah pantulan
subjektif dari sesuatu yang objektif. Sesuatu tidak menjadi baik karena
disenangi, tapi sebaliknya kita merasa senang karena memperoleh atau memiliki
sesuatu yang baik. Kita menilai sesuatu sebagai baik karena kebaikannya yang
instristik, bukan karena kita secara subjektif belaka menganggap hal itu baik.
Jadi, kebaikan dari apa yang menjadi objek kesenangan mendahului dan diandaikan
oleh kesenangan itu. (K. Bertens : Hal 252)
Pada novel Bila Malam Bertambah Malam mengandung nilai
etika yang sangat mendalam, nilai yang terkandung dalam novel ini yaitu nilai
etika hedonisme yaitu nilai di mana seseorang mencari dan mencari kesenangan
belaka, mereka tidak tau akibatnya dari nilai kesenangan itu. Di dalam novel
ini mengandung nilai etika hedonisme terlihat dari cintanya Ngurah kepada
Nyoman yang sangat setia, Ngurah benar-benar cinta kepada Nyoman hal ini
terlihat kesenangan dan kesenangan cinta Ngurah kepada Nyoman, Ngurah tidak menghiraukan
adat dan ucapan orang tuanya bahwa dia benar-benar dilarang mengawininya karena
Nyoman merupakan keturunan orang Bali yang memiliki kasta rendah atau di
bawahnya, kita ketahui bahwa orang Bali memiliki tiga kasta, ada kasta yang
tertinggi, kasta sedang dan kasta rendah, adat seorang Bali ketika dia termasuk
bangsa kasta tertinggi, maka tidak boleh kawin dengan kasta di bawahnya, dia
harus kawin dengan kasta yang setara. Dari inilah sangat terlihat bahwa
kesenangan seorang Ngurah tidak memikirkan adat yang berlaku.
Kita sebagai orang yang beradat kita tidak boleh
melanggar adat tersebut yang mengaturnya, kita hidup bermasyarakat dan di dalam
masyarakat itu ada suatu tatanan social yang mengatur kehidupan masyarakat
kita. Kita boleh meniru kesenangan cinta yang setia kepada lawan jenis tetapi
kita lihat dulu apakah orang tua mau menerimanya, ataukah sesuaikah dengan adat
yang berlaku, kalau semua sudah sesuai dengan tatanan social yang berlaku, kita
boleh untuk mengawininya.
- Eudemonisme
Dalam buku “Ethika Nikomakheia” karya Aristoteles,
menegaskan bahwa dalam setiap kegiatannya manusia mengejar suatu tujuan. Bias
dikatakan juga dalam setiap perbuatan kita ingin mencapai sesuatu yang baik
bagi kita. Seringkali kta mencari suautu tujuan untuk mencapai suatu tujuan
lain lagi. Menurut Aristoteles, semua orang akan menyetujui bahwa tujuan
tertinggi ini dalam terminology modern
kita bias mengatakan bahwa makna terakhir hidup manusia adalah kebahagiaan.
Tapi jika semua orang mudah menyepakati kebahagiaan sebagai tujuan terakhir
hidup manusia, itu belum memecahkan semua kesulitan, karena dengan kebahagiaan
mereka mengerti banyak hal yang
berbeda-beda. Menurut Aristoteles, seseorang mencapai tujuan terakhir dengan
menjalankan fungsinya dengan baik. Jika manusia menalankan fungsiya sebagai
manusia dengan baik, ia juga mencapai tujuan terakhirnya atau kebahagiaan. Akal
budi atau rasio. Karena itu manusia mencapai kebahagiaan dengan menjalankan
secara paling baik kegiatan-kegiatan rasionalnya. Dan tidak cukup ia melakukan
demikian beberapakali saja, tapi harus sebagai suatu sikap tetap. Hal itu
berarti bahwa kegiatan-kegiatan rasional itu harus dijalankan dengan disertai
keutamaan. Bagi Aristoteles keutamaan dibagi menjadi dua macam yaitu keutamaan
intelektual dan keutamaan moral. Keutamaan intelektual (Sophia; Inggris: wisdom)
menyempurnakan rasio itu sendiri. Dengan keutamaan-keutamaan moral rasio
menjalankan pilihan-pilihan yang perlu diadakan dalam hidup sehari-hari.
Khususnya keutamaan-keutamaan moral ini dibahas Aristoteles dengan panjang
lebar. Keutamaan seperti keberanian dan kemurahan hati merupakan pilihan yang
dilaksanakan oleh rasio. (K. Bertens : Hal 258)
Pemikiran Aristoteles tentang etika tentu lebih kompleks
dan berisi daripada yang sempat diuraikan di atas. Kami terutama menguraikan
pemikirannya tentang keutamaa dan itu pun hanya secara singkat. Memang benar,
pemikiranya tentang keutamaan adalah bagian paling menarik dalam etikanya. (K.
Bertens : Hal 259)
Pada novel Bila Malam Bertambah Malam mengandung nilai
etika Eudemonisme yaitu dimana seseorang mencapai tujuan terakhir dengan
menjalankan fungsinya dengan baik melalui keutamaan-keutamaan. Ini terlihat ketika
Ngurah mengutamakan cintanya kepada Nyoman, dia tidak tahu bahwa keutamaan itu
tidak sesuai dengan adat yang berlaku. Keutamaan seorang diri Ngurah merupakan
keutamaan kemurahan hati untuk seorang diri Nyoman, meskipun diri seorang
Nyoman golongan bangsa yang memiliki kasta di bahwahnya, Ngurah sangat
mencintainya. Kita tahu bahwa cinta muncul dari hati dan perasaan diri seorang,
kita pasti tidak memandang agama, kasta, ataupun yang lainnya.
Pada novel Bila Malam Bertambah Malam ini juga
mengandung nilai etika keutamaan keberanian, ini terlihat ketika Ngurah
melanggar adat yang berlaku dikehidupan masyarakatnya, adat memberlakukan bahwa
seorang bangsa kasta tinggi harus kawin dengan kasta tinggi, kasta rendah kawin
dengan kasta rendah. Dengan rasa cinta matinya kepada Nyoman dia memberanikan
diri untuk melanggar adat.
- Deontologi
Pemikiran moral Kant yang tentu jauh lebih kaya daripada
yang bisa dilukiskan di sini merupakan sistem etika yang sangat menarik. Inti deontologi
ini cocok dengan pengalaman moral kita, terutama sebagaimana tampak dalam hati
nurani. Kita memang sering merasa terikat dengan kewajiban dalam perilaku moral
kita, sehingga tidak bisa disangkal bahwa kewajiban merupakan aspek penting
dalam hidup moral kita. Tapi ada juga kritik serius terhadap teorinya. Kritik
itu tidak ditujukan pada peranan kewajiban itu sendiri, melainkan pada peranan ekslusif kewajiban di bidang moral.
Memang benar, perbuatan belum tentu baik, jika tujuannya atau konsekuensinya
baik. “Tujuan tidak menghalalkan cara” adalah prinsip deontologis yang mudah
dapat disetujui. Namun, sulit juga untuk diterima bahwa tujuan dan
konsekuensinya bisa diabaikan begitu saja untuk diterima bahwa tujuan dan
konsekuensi bisa diabaikan begitu saja dalam menilai moralitas perbuatan kita.
Tidak bisa disangkal, kadang-kadang tujuan dan konsekuensi dengan jelas
berdampak atas kualitas moral perbuatan. (K. Bertens : Hal 274)
Pada novel Bila Malam Bertambah Malam ini juga mengandug
etika Deontologis yaitu di mana seseorang sering merasa terikat dengan
kewajiban. Ini terlihat ketika Ngurah merasa terikat dengan adat yang berlaku
dimasyarakatnya. Dia berkeinginan kawin dengan orang yang memiliki keturunan
bangsa kasta rendah, tetapi adat tidak membolehkannya. Dia berkewajiban
menikahi dengan orang yang memiliki keturunan kasta yang sama. Hasrat diri
seorang Ngurah ingin menikah dengan wanita yang dicintai dan disayangi Ngurah,
tetapi pada cerita ini Ngurah terkesan menghalalkan cara, di mana dia akan
menikahi wanita itu, walaupun itu orang berkebangsaan kasta rendah, tidak
diizinkan oleh orang tuannya, walaupun itu melanggar sebuah adat yang berlaku
di masyarakatnya, tekad bulat seorang Ngurah masih tetap utuk menikahinya.
Karena ini merupakan cinta yang keluar dari hati seorang diri Ngurah.
PENUTUP
Etika merupakan suatu sikap yang menghargai dan
menghormati semua tata tertib yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari, kita
akan melihat suatu keindahan saat kita dan lingkungan sekitar kita melakukan
dan menjalankan suatu etika. Setiap individu di alam semesta ini dapat
melakukan sesuatu yang selalu menjaga etika. Dalam
karya sastra, Bahasa Indonesia memiliki peran sebagai ujung tombak. Karya
sastra yang tidak beretika dipastikan akan dikritik negatif oleh rakyat dan
dilarang oleh pemerintah. Sastra Indonesia memiliki nilai sejarah yang tinggi,
sejak Angkatan Pujangga Baru sampai sekarang, karya sastra kita memiliki
kualitas tersendiri, dan hal itu harus dihargai dengan cara meneruskan
perjuangan mereka dalam berkarya dengan menggunakan bahasa, seni yang bermoral
dan beretika.
Novel ini mengisahkan atau menceritakan tentang
kesetiaan untuk memelihara cinta yang
berbenturan dengan keangkuhan tatanan sosial yang membeda-bedakan manusia atau
tentang cinta atau keangkuhan manusia dengan latar sosial Bali, pada seruas
masa tatkala terjadi pada generasi-generasi. Kisah ini berlangsung di Tabanan,
Bali, disekitar kehidupan Gusti Biang, bangsawan tua sisa-sisa feodalisme Bali.
Gusti Biang masih ingin mempertahankan tatanan lama yang menjerat manusia
berdasarkan perbedaan kasta. Tapi sang putranya, Ratu Ngurah, jatuh cinta
kepada Nyoman Niti, bedine Gusti Biang yang menyadari kemerdekaannya sebagai
pribadi. Dari permasalahan di atas inilah novel
Bila Malam Bertambah Malam karya sastrawan terkenal Indonesia Putu Wijaya
memiliki dan mengandung beberapa etika moral di antaranya adalah etika hedonisme
yaitu nilai di mana seseorang mencari dan mencari kesenangan belaka, mereka
tidak tau akibatnya dari nilai kesenangan itu, etika
eudemonisme yaitu dimana seseorang mencapai tujuan terakhir dengan menjalankan
fungsinya dengan baik melalui keutamaan-keutamaan, etika Deontologis yaitu di
mana seseorang sering merasa terikat dengan kewajiban.
DAFTAR
PUSTAKA
http://operabiru.wordpress.com
Karya Adhie Prasojo
Bertens K, “ETIKA”, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1993.
Wijaya, Putu, “Bila Malam Bertambah Malam”, Pustaka Jaya, 1971.
[1] http://operabiru.wordpress.com
ETIKA, K. Bertens
[2] Novel Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya
Komentar
Posting Komentar