Etnolinguistik
ETNOLINGUISTIK
ANALISIS ETNOGRAFI PADA SUKU BANGSA DANI: TINJAUAN
ETNOGRAFI
Abdullah Syarofi 121111132
DEPARTEMEN
SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS
AIRLANGGA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Bahasa dan budaya tidak akan bisa
dipisahkan antara satu dengan yang lain. Bahasa dapat dikatakan cerminan dari
masyarakat budaya di daerah tertentu. Beberapa tahun terakhir banyak jenis
penelitan yang berusaha mengkaji lebih jauh tentang masyarakat dan
kebudayaannya. Salah satu penelitian yang cukup representatif untuk mengkaji
lebih jauh tentang masyarakat dan kebudayaanya adalah penelitian etnografi.
Penelitian etnografi adalah termasuk salah
satu pendekatan dari penelitian kualitatif. Penelitian etnografi di bidang
pendidikan (akademis) diilhami oleh penelitian sejenis yang dikembangakan dalam
bidang sosiologi dan antropologi. Dengan perkembangannya maka penelitian
etnografi juga sudah banyak digunakan untuk meneliti hakikat suatu bahasa yang
dikaji dari sudut pandang budayanya. Dengan meneliti unsur-unsur kebudayaan
yang ada dapat diperoleh informasi tentang asal muasal seseorang dan kelompok
masyarakatnya. Salah satu kebudayaan yang menarik untuk diteliti lebih jauh
adalah tentang suku Bangsa Dani di Papua. Sebagai suku yang jarang bersentuhan
dengan dunia luar tentunya akan membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup untuk
meneliti suku ini.
1.2
Rumusan
Masalah
Dari uraian latar belakang di atas dapat
ditarik sebuah rumusan masalah yaitu
1. Bagaimanakah
sejarah dan perkembangan kajian disiplin ilmu etnografi?
2. Bagaimanakah
teknik penelitian etnografi?
3. Bagaimanakah
penerapan atau pengaplikasian dan analisis ilmu etnografi terhadap masyarakat?
1.3
Tujuan
1. Untuk
mengetahui tentang sejarah dan perkembangan kajian disiplin ilmu etnografi.
2. Untuk
mengetahui tentang teknik penelitian etnografi.
3. Untuk
mengetahui penerapan atau pengaplikasian dan analisi ilmu etnografi terhadap
masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Makna Etnografi
Charles Winick dalam Dictionary of Antrophology (New Jersey: Roman & Allanheld,
Edisi 1984) antara lain menyatakan
sebagai berikut: Barangkali kata ini bersala dari ungkapan Aristoteles, seorang
pakar ilmu filsafat Yunani kuno, yang menggambarkan seseorang yang mempunyai
gagasan-gagasan tinggi, tetapi yang buka gosip atau sesuatu bual tentang dirinya
sendiri. dalam bahasa inggris, kata “Anthropology”, pertama-tama dtemukan dalam
satu buku yang tidak diketahui nama pengrangnya, yang menguraikan hakikat
manusi. Buku ini menguraikan dua ilmu yaitutentang psikologi dan anatomi. Dalam
arti modern kata antropologi ditemukan
dalam buku Antropologion, oleh Hundt, yang diterbitkan pada tahun 1501,
yang membahasa natomi. Juga dalam buku
Capella, yang berjudul L’Anthtropologia, yang diterbitkan pada tahun 1933, yang
membahasa tentang keunikan pribadi. Sebagai disiplin ilmu pengetahuan
kontemporer, antropologi terdiri atas empat bagian yaitu arkeologi, antropologi
budaya, antropolgi bahasa, dan antropolgi ragawi.
Koentjaraningrat, dalam berbagai bukunya
anatar lain dalam bukuny aberjudul Pengantar Antropologi Sosial dan Budaya
(Jakarta: UT, 1986) telah merumuskan secara singkat bahwa ilmu ini adalah ilmu
yang memmpelajari manusia dari sudut keanekawarnaan tingkah laku dan cara
berpikirnya. Lebih jauh beliau berpendirian bahwa wujud kebudayaan ada tiga
yaitu sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma,
peraturan, dan sebagainya, sebagai suatu kompleks kegiatan serta tindakan
berpola dari manusia dalam masyarakat, sebagai benda-beda hasil karya manusia.
Sebagai suatu disiplin ilmu dalam jajaran ilmu-ilmu sosial, antropologi budaya
menggunakan etnografi, sebagai bahan untuk menganalisisnya secara holistik,
mikro, dan komaratif yang berbentuk suatu deskripsi tentang berbagai kebudayaan
suku bangsa.
Disamping merumuskan etnografi sebagai
suatu pelukisan mengenai suku bangsa tertentu, Koentjaraningrat juga
menyarankan agar etnografi sebaiknya disusun dengan kerangka tertentu.
Etnografi ini didapat dari suatu kasus angsung di lapangan secra holistik
menyeluruh, mikro dan komparatif, terbatas dalam ruang dan waktu tertentu, yang
biasanya dilakukan selama beberapa bulan bahkan sampai satu atau dua tahun.
Secara ringkas etnografi adalah suatu
studi tentang kebudayaan-kebudayaan tertentu yang bersifat deskriptif (Charles
Winick, 1984). Kata etnografi berasal dari bahasa Yunani, etnos yang berarti
bangsa, dan grafi yang berarti suatu deskripsi atau suatu uraian untuk
melukiskan sesuatu. Dengan kata lain etnografi adalah suatu uraian tentang suku
bangsa atau bangsa tertentu sebagai suatu kesatuan masyarakat (J.A Clifton) di
suatu tempat dan dalam kurun waktu tertentu. Adapun pengertian kesatuan
masyarakat mengandung unsur-unsur sebagai berikut dibatasi oleh satu desa atau
lebih sebagai wilayah administrasi pemerintahan, terdiri dari penduduk yang
menguccapkan satu bahasa atau satu logat bahasa, ditentukan oleh rasa identitas
penduduknya sendiri, merupakan kesatuan wilayah secara fisik dan ekologi,
mengalami satu pengalaman sejarah yang sama, mengalami frekuensi interaksi yang
cukup tinggi diantara penduduknya, dan mempunyai struktur sosial yang seragam.
Etnografi disusun secara konvensional
menurut suatu tata urutan tertentu, yang mengandung tujuh unsur kebudayaan yang
bersifat universal yaitu bahasa, sistem teknologi, sistem ekonomi, organisasi
sosial, sistem pengetahuan, sistem religi, dan kesenian.
2.2
Sejarah dan perkembangan Etnografi
Dalam bukunya, Spradley menjelaskan
bahwa secara harafiah, etnografi berarti tulisan atau laporan tentang suatu
suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan
(field work) selama sekian bulan atau sekian tahun. Etnografi, baik sebagai
laporan penelitian maupun sebagai metode penelitian, dianggap sebagai
asal-ususl ilmu antropologi.
2.2.1 Etnografi mula-mula (akhir abad ke-19)
Etnografi mula-mula dilakukan untuk
membangun tingkat-tingkat perkembangan evolusi budaya manusia dari masa manusia
mulai muncul di permukaan bumi sampai ke masa terkini. Tak ubahnya analisis
wacana, mereka – ilmuwan antropologi pada waktu itu – melakukan kajian
etnografi melalui tulisan-tulisan dan referensi dari perpustakaan yang telah
ada tanpa terjun ke lapangan. Namun, pada akhir abad ke-19, legalitas
penelitian semacam ini mulai dipertanyakan karena tidak ada fakta yang
mendukung interpretasi para peneliti. Akhirnya, muncul pemikiran baru bahwa
seorang antropolog harus melihat sendiri alias berada dalam kelompok masyarakat
yang menjadi obyek kajiannya.
2.2.2 Etnografi Modern (1915-1925)
Dipelopori oleh antropolog sosial
Inggris, Radclifffe-Brown dan B. Malinowski, etnografi modern dibedakan dengan
etnografi mula-mula berdasarkan ciri penting, yakni mereka tidak terlalu
mamandang hal-ikhwal yang berhubungan dengan sejarah kebudayaan suatu kelompok
masyarakat (Spradley, 1997). Perhatian utama mereka adalah pada kehidupan masa
kini, yaitu tentang the way of life masayarakat tersebut. Menurut
pandangan dua antropolog ini tujuan etnografi adalah untuk mendeskripsikan dan
membangun struktur sosial dan budaya suatu masyarakat. Untuk itu peneliti tidak
cukup hanya melakukan wawancara, namun hendaknya berada bersama informan sambil
melakukan observasi.
2.2.3 Etnografi Baru Generasi Pertama (1960-an)
Berakar dari ranah antropologi
kognitif, “etnografi baru” memusatkan usahanya untuk menemukan bagaimana
masyarakat mengorganisasikan budaya mereka dalam pikiran mereka dan kemudian
menggunakan budaya tersebut dalam kehidupan. Analisis dalam penelitian ini
tidak didasarkan semata-mata pada interpretasi peneliti tetapi merupakan
susunan pikiran dari anggota masyarakat yang dikorek keluar oleh peneliti.
Karena tujuannya adalah untuk menemukan dan menggambarkan organisasi pikiran
dari suatu masyarakat, maka pemahaman peneliti akan studi bahasa menjadi sangat
penting dalam metode penelitian ini. “Pengumpulan riwayat hidup atau suatu
strategi campuran, bahasa akan muncul dalam setiap fase dalam proses penelitian
ini.
Etnografi ada karena ada misi untuk
membangun masyarakat, bangsa dan negara dalam alam kemerdekaan yang bukan hanya
megah secara nasional akan tetapi sekaligus bermartabat predagogis secara
lokal. Secara ringkas, etnografi adalah suatu studi tentang
kebudayaan-kebudayaan tertentu yang sangat bersifat deskriptif (Charles Winick,
1984). Kata etnografi berasal dari bahasa Yunani yaitu etnos yang berarti
bangsa, dan grafi yang berarti suatu deskripsi atau suatu uraian untuk
melukiskan sesuatu. Sementara itu menurut J.A. Clifton, etnografi adalah suatu
uraian tentang suku bangsa atau bangsa tertentu sebagai suatu kesatuan
masyarakat di suatu tempat dan dalam kurun waktu tertentu.
Adapun pengertian kesatuan masyarakat
menurut J.A. Clifton mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
1. Dibatasi
oleh satu desa atau lebih sebagai wilayah administrasai pemerintah.
2. Terdiri
dari penduduk yang mengucapkan satu bahasa atau satu logat bahasa.
3. Ditentukan
oelh rasa identitas penduduknya sendiri.
4. Merupakan
kesatuan wilayah secara fisik dan ekologi.
5. Mengalami
satu pengalaman sejarah yang sama.
6. Mengalami
freuensi unteraksi yan cukup tinggi di antara penduduknya, dan
7. Mempunyai
struktur sosial yang seragam.
Etnografi konvensional disusun menurut
suatu tata aturan tertentu, yang mengandung tujuh unsur kebudayaan yang
bersifat universal, yaitu :
1.
Bahasa
Bahasa atau sistem
perlambangan manusia yang lisan maupun yang tertulis untuk berkomunikasi satu
dengan yang lain, dalam sebuah karangan etnografi, memberi deskripsi tentang
ciri-ciri terpenting dari bahasa yang diucapkan oleh suku bangsa yang
bersangkutan, beserta variasi-variasi dari bahasa itu. Ciri-ciri menonjol dari
bahasa suku bangsanya dapat diuraikan pengarang etnografi itu dengan cara
menempatkannya setepat-tepatnya dalam rangka klasifikasi bahasa-bahasa sedunia
pada rumpun sub-rumpun, keluarga, dan sub-keluarga bahasanya yang wajar, dengan
beberapa contoh fonetik, fonologi, sintaks, dan semantik, yang diambil dari
bahan ucapan bahasa sehari-hari.
Menentukan luas
batas penyebaran suatu bahasa memang tidak mudah, dan hal ini disebabkan karena
di daerah perbatasan antara daerah tempat tinggal dua suku bangsa hubungan
antara individu warga masing-masing suku bangsa tadi seringkali sangat intensif
sehingga ada proses saling pengaruh-mempengaruhi antara unsur-unsur bahasa dari
kedua belah pihak. Tetapi bahasa dari suatu suku bangsa, terutama suatu suku
bangsa yang besar, yang terdiri dari berjuta-juta penduduk, selalu menunjukan
suatu variasi yang ditentukan oleh perbedaan daerah secara geografi maupun oleh
lapisan serta lingkungan sosial dalam masyarakat suku bangsa tadi
2.
Sistem
teknologi
Teknologi
tradisional mengenai paling sedikit delapan macam sistem peralatan dan unsur
kebudayaan fisik yang dipakai oleh manusia yang hidup dalam masyarakat kecil yang
berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian, yaitu
1) alat-alat produktif
Dipandang
dari sudut pemakaian alat-alat produktif dalam kebudayaan tradisionai, dapat
kita bedakan antara pemakaian menurut fungsinya, dan pemakaian menurut lapangan
pekerjaannya. Dan sudut fungsinya, alat-alat produktif itu dapat dibagi ke
dalam alat potong, alat tusuk dan pembuat lubang, slat pukul, alat penggiling,
alat peraga, alat untuk menyalakan api, alat meniup api, tangga dan sebagainya;
sedangkan dari sudut lapangan pekerjaannya ada alat-alat rumah tangga, alat
pengikal dan tenun. alat-alat pertanian, alat-alat penangkap ikan, jerat
perangkap dan sebagainya.
2) senjata
Senjata
juga dapat dikelaskan : pertama menurut bahan mentahnya, kemudian menurut teknik
pembuatannya. Akhirnya aneka-warna macam senjata tradisional yang mungkin ada
dalam kebudayaan manusia dapat pula dikelaskan menurut fungsi dan lapangan
pemakaiannva. Menurut fungsinya, ada senjata potong, senjata tusuk, senjata
lempar, dan senjata penolak: sedangkan menurut lapangan pemakaiannya ada
senjata untuk berburu serta menangkap ikan, dan senjata untuk berkelahi dan
berperang.
3) wadah
Wadah
atau alat dan tempat untuk menimbun, memuat, dan menyimpan barang, dalam bahasa
Inggris disebut container. Berbagai macam wadah juga dapat diklaskan menurut
bahan mentahnya, yaitu kayu, bambu, kulit kayu, tempurung, serat-seratan, atau
tanah liat.
4)
alat-alat menyalakan api
5)
makanan, minuman, bahan pembangkit gairah, dan jamu-jamuan
Hasil
yang sangat menarik dari sudut teknologi adalah cara-cara mengolah, memasak,
dan menyajikan makanan dan minuman. Dalam berbagai kebudayaan di dunia ada dua
macam cara memasak, yaitu dengan api yang tentu bukan hal yang aneh bagi kita,
dan dengan cara memakai batu-batu panas
6)
pakaian dan perhiasan
Pakaian
dalam arti seluas-luasnya juga merupakan suatu benda kebudayaan yang sangat
penting untuk hampir semua suku bangsa di dunia. Dipandang dari sudut bahan
mentahnya pakaian dapat diklaskan ke dalam : pakaian dari bahan tenun, pakaian
dari kulit pohon, dan pakaian dari kulit binatang, dan lain-lain.
7) tempat berlindung dan perumahan
Dipandang
dari sudut pemakaiannya, tempat berlindung dapat dibagi ke dalam tiga golongan,
yaitu (i) tadah angin, (ii) tenda atau gubuk yang segera dapat dilepas, dibawa
pindah, dan didirikan lagi; dan (iii) rumah untuk menetap.
Maka
dengan membatasi bab mengenai teknologi tradisional pada hanya delapan unsur
kebudayaan fisik tersebut di atas, kita harus ingat bahwa teknologi muncul
dalam cara-cara manusia melaksanakan mata pencaharian hidupnya dalam cara-cara
ia mengorganisasi masyarakat, dalam cara-cara ia mengekspresikan rasa keindahan
dalam memproduksi hasil-hasil keseniannya.
3.
Sistem
ekonomi
sistem mata
pencarian atau sistem ekonomi hanya terbatas kepada sistem-sistem yang,
bersifat tradisional saja, terutama dalam rangka perhatian mereka terhadap
kebudayaan sesuatu suku bangsa secara holistik. Berbagai sistem tersebut adalah
: (i) berburu dan meramu: (ii) beternak; (iii) bercocok tanam di ladang; (iv)
menangkap ikan; dan (v) bercocok tanam menetap dengan irigasi.
Dari kelima sistem
tersebut seorang peneliti juga hanya memperhatikan sistem produksi lokalnya,
termasuk sumber alam, cara mengumpulkan modal, cara pengerahan dan pengaturan
tenaga kerja, serta teknologi produksi, sistem distribusi di pasar-pasar yang
dekat saja, dan proses konsumsinya. Adapun proses dan sistem distribusi dan
pemasaran yang lebih jauh daripada pasar-pasar sekitar komunitas yang menjadi
lokasi dari penelitian, biasanya tidak mendapat perhatian lagi dari seorang
peneliti. Penelitian serta analisa terhadap proses-proses itu diserahkan kepada
para ahli ekonomi.
4.
Organisasi
sosial
Dalam tiap
masyarakat kehidupan masyarakat diorganisasi atau diatur oleh adat-istiadat dan
aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan mana ia
hidup dan bergaul dari hari ke hari. Kesatuan sosial yang paling dekat dan
mesra adalah kesatuan kekerabatannya, yaitu keluarga inti yang dekat, dan kaum
kerabat yang lain. Kemudian ada kesatuan-kesatuan di luar kaum kerabat, tetapi
masih dalam lingkungan komunitas. Karena tiap masyarakat manusia, dan juga
masyarakat desa, terbagi-bagi ke dalam lapisan-lapisan, maka tiap orang di luar
kaum kerabatnya menghadapi lingkungan orang-orang yang lebih tinggi dari
padanya, tetapi juga orang-orang yang sama tingkatnya. Di antara golongan
terakhir ini ada orang-orang yang dekat padanya dan ada pula orang-orang yang
jauh padanya.
5.
Sistem
pengetahuan
Dalam
suatu etnografi biasanya ada berbagai bahan keterangan mengenai sistem
pengetahuan dalam kebudayaan suku bangsa yang bersangkutan. Bahan itu biasanya
yang meliputi pengetahuan mengenai teknologi, Uraian mengenai pokok-pokok
khusus yang merupakan isi dari sistem pengetahuan dalam suatu kebudayaan, akan
merupakan suatu uraian tenting cabang-cabang pengetahuan. Cabang-cabang itu
sebaiknya dibagi berdasarkan pokok perhatiannya. Dengan demikian tiap suku
bangsa di dunia biasanya mempunyai pengetahuan tentang:
1.
alam sekitarnya
2.
alam flora di daerah tempat tinggalnya
3.
alam fauna di daerah tempat tinggalnya
4.
zat-zat, bahan mentah, dan benda-benda dalam lingkungannya
5.
tubuh manusia
6.
sifat-sifat dan tingkah-laku sesama manusia
7.
ruang dan waktu
6.
Sistem
religi
Sejak lama, ketika
ilmu antropologi belum ada dan hanya merupakan suatu himpunan tulisan mengenai
adat-istiadat yang aneh-aneh dari suku-suku bangsa di luar Eropa, religi telah
menjadi suatu pokok penting dalam buku-buku para pengarang tulisan-tulisan
etnografi mengenai suku-suku bangsa itu. Kemudian, waktu bahan etnografi
tersebut digunakan secara bias oleh dunia ilmiah, perhatian terhadap bahan
mengenai upacara keagamaan itu sangat besar. Sebenarnya ada dua hal yang
menyebabkan perhatian yang besar itu, yaitu:
1.
upacara keagamaan dalam kebudayaan suatu suku bangsa biasanya merupakan unsur
kebudayaan yang tampak paling lahir;
2. bahan etnografi
mengenai upacara keagamaan diperlukan untuk menyusun teori-teori tentang
asal-mula religi.
7.
Kesenian
Kerangka etnografi
lain, seperti yang telah dirumuskan oleh Prof. Koentjaraningrat adalah sebagai
berikut :
1. Lokasi,
lingkungan alam, dan demografi yang di dalamnya adalah iklim, sifat daerah,
suhu dan curah hujan, penyebaran penduduk, ciri flora dan fauna, demografi.
2. Asal
mula dan sejarah suku bangsa berbicara tentang prasejarah dan lokasi, mitologi
dan cerita rakyat setempat, dan naskah kuno (kalau ada).
3. Bahasa
terbagi menjadi bahasa lisan termasuk logat, bahasa tertulis(kalau ada), dan
contoh perbendaharaan kata.
4. Sistem
teknologi pedesaan meliputi pembicaraan tentang hal-hal seperti cara
memproduksi, memakai, dan memelihara peralatan yang digunakan
5. Sistem
ekonomi,
6. Organisasi
sosial,
7. Sestem
pengetahuan,
8. Sistem
religi,
9. Kesenian,
dan
10. Perubahan
kebudayaan.
2.3
Teknik Penelitian Etnografi
Yang dimaksud teknik di sini adalah cara
yang dipakai dalam penelitian kualitatif dalam ilmu antropologi sosial budaya,
untuk mengumpulkan dat primer. Dat primer ini sangat penting bagi setiap
disiplin ilmu untuk kemudian dianalisis dan ditarik kesimpulan.
Menurut H. Russel Bernard dkk, ada empat
teknik pengumpulan data yang biasanya dipakai dalam etnografi yaitu wawancara
terbuka, tanpa struktur dengan informan kunci, wawancara terstruktur dengan
responden, observasi langsung terhadap tingkah laku dan lingkungan, menyerap
data dari dokumen dan keterangan tertulis yang didapat.
Ada lima hal yang diharapkan oleh para
peneliti itu dalam hali ini yaitu pentingnya pengendalian kualitas data,
termasuk yang datang dari ilmu, perlu peningkatan penelitian yang khusus mengenai
metodologi secara murni yang memusatkan perhatian pada isu-isu validitas,
reliabilitas, ketelitian, ketepatan, dari berbagai metode konstruksi data,
terutama yang menyangkut lintas kebudayaan, kesepakatan profesional di anatara
para ahli yang bersangkutan, skala prioritas tentang pengendalian kualitas
data, dan perlunya kesadaran pemberi
dana untuk penelitian pengendalian kualitas data dalam antropologi sosial
budaya.
Bronislaw Molinowski dalam bukunya yang
terkenal berjudul Argonouts of the Western Pasific yang duterbitkan oleh E.P
Detta & Co, Inc, 1950, ada halaman 24, antara lain menulis bahwa tujuan
penelitian etnografi harus didekati melalui tiga jalur yaitu organisasi
masyarakat sasaran dan anatomi kebudayaan harus dicatat dengan tepat dan dalam kerangka
yang jelas metode dokumentasi yang bersifat statistik dan knkret adalah alat
untuk mendapatkan hal sebaik-baiknya, dalam kerangka ini gambaran dari
kehidupan yang nyata dan tipe tingkah laku mereka perlu dicatat hal ini perlu
dikumpulkan tiap saat yang tepat observasi yang cermat dalam bentuk seperti
buku harian etnografi ini dimungkinkan dengan jalan mengadakan hubungan erat
dengan kehidupan masyarakat sasaran, sebuah kumpulan-kumpulan
pernyataan-pernyataan etnografi ucapan-ucapan yang khas keterangan-keterangan
cerita-cerita rakyat dan mantra perlu dicatat sebagai dokumen-dokumen
mentalistas masyarakat sasran.
Memang banyak diskusi mengenai teknik ini,
mengingat pengalaman para etnografer itu berbeda-beda. Akan tetapi tampaknya
pengaruh Molinowski cukup besar, mengingat pada umumnya para etnografer dapat
menyetujui beberapa hal seperti ini, misalnya bahwa melakukan studi kasus
etnografi adalah sulit. Ini berarti perlu persiapan baik secara akademik maupun
praktiss dengan matang, bahwa secara teknis etnografer perlu mampu mencatat
pandangan-pandangan orang dalam dari masyarakat sasaran, bahwa secara teknis
untuk itu perlu mencatat pernyataan-pernyataan konkret dari orang dalam
masyarakat sasaran, bahwa etnografer perlu mengumpulkan data yang luas selama
di lapangan dan menggunakan berbagai metode yang tepat sesuai dengan kebutuhan
akademik.
Metode yang dipakai para etnografer
umumnya sama yaitu melakukan fieldwork sendiri dalam waktu yang cukup lama,
menggunakan participant observation walaupun tekanan masing-masing ahli
etnografi holistik berbeda, wawancara informasi dan atau formal.
Sama halnya dengan penelitian-penelitian
lain, penelitian etnografi memiliki banyak persiapan baik itu persiapan pra
maupun pasca penelitian, baik itu nonteknis maupun teknis, jadi sebelum kita
mengadakan penelitian etnografi kita harus benar-benar menyiapkan sebaik dan
semaksimal mungkin untuk memberikan penelitian yang bagus dan maksimal.
Operasionalisasi teknik penelitian
etnografi yaitu teknik menyusun etnografi, teknik mengumpulkan data dan
informasi etnografi, pedekatan holistik mikro dan komparatif, saran teknis bagi
petugas, waktu, bagaimana cara mengumpulkan dokumen, mencatat pengamatan atau
observasi, berbagai kartu catatan, hasil yang diharapkan.`
2.4
Etnografi Suku Bangsa Dani
Letak Geografis
Suku bangsa Dani bermukim di lembah Baliem (138030’–
139030’ BT dan 3400’ – 4200’LS)., Irian Jaya.
Lembah ini berada di tengah-tengah pegunungan Jaya Wijaya pada ketinggian 1600
meter di atas permukaan laut. Lembah Baliem memiliki luas sekitar 1200 km2.
Suku Dani lebih senang disebut bangsa Parim
atau orang Baliem. Suku ini sangat menghormati
nenek moyangnya, biasanya dilakukan melalui upacara pesta babi.
Setidaknya ada 5.000 Dani tinggal di lembah dan lain lima puluh ribu lainnya atau lebih menghuni permukiman curam-sisi
sepanjang lembah . Suhunya ringan, curah hujan sedang, dan terdapat satwa liar
berbahaya dan penyakit-penyakit langka.
Sejarah / Identitas
Suku yang lebih senand disebut bangsa parim ini memiliki sejarang yang
panjang. Peradapan Manusia Papua,
Khususnya Suku Dani yang mendiami daerah lembah baliem merupakan peradapan Suku
yang bisa dikatakan masih sangat baru.
Suku Dani yang mendiami
daerah Lembah Baliem merupakan salah satu Suku Terbesar yang mendiami Wilayah
Pegunungan Tengah Papua Selain Suku Dani Wilayah Pegunungan Tengah Papua
didiami oleh suku, Ekari, Moni, Damal, Amugme dan beberapa sub suku lainnya.
Suku Dani yang mendiami
wilayah lembah baliem dan sekitarnya diperkirakan merupakan suku yang berasal
dari wilayah Timur Lembah Baliem atau di kenal dengan nama daerah yali
(pada saat ini masuk dalam kabupaten Yalimo dan Kabupaten Yahokimo). Sehingga
berdasarkan cerita rakyat yang sering dibicakan oleh orang tua- tua bahwa nenek
moyang suku dani berasal dari orang Yali. Mitos menceritakan bahwa orang pertama/
manusia pertama suku Dani bernama Pumpa (Pria) dan Nali
nali (Wanita) yang masuk ke Lembah Baliem
dari arah timur melalui sebuah Goa. Ada beberapa sumber yang mengatakan Goa
pertama tempat keluarnya manusia pertama ini berasal dari Goa Kali Huam
(Daerah Siepkosy), ada pula yang mengatakan dari Goa di Daerah Pugima dan
sebagian mengatakan bahwa keluarnya Manusia pertama suku dani ini berasal dari
dari Pintu masuk angin di daerah Kurima.
Sampai dengan saat ini
diperkirakan Suku Dani yang mendiami wilayah lembah baliem merupakan Generasi
ke 5 Suku Dani, bila ditarik dari cerita-cerita peradapan Nenek Moyang Suku
Dani. Dengan Perkembangan Teknologi
yang sangat pesat, dimana peradapan Suku Dani yang kala itu masih berada pada
Zaman Batu dihadapkan pada peradapan Kehidupan modern
Bahasa
Bahasa Daerah Suku Dani yang mendiami Daerah Lembah
Baliem menggunakan Bahasa-bahasa yang masuk dalam bahasa Papua dari filum
Trans-New Guinea. Bahasa Daerah yang digunakanpun mempunyai perbedaan dialog
dan pengucapan antar satu wilayah dengan wilayah Daerah lainnya walaupun masih
berada dalam jangkauan jarak tempuh yang boleh dikatakan masih dekat.
Secara garis basar Bahasa dani dikenal dalam tiga
bagian besar bahasa yaitu, bahasa dani lembah (Daerah sekitar kota
Wamena/Kab.Jayawijaya), Bahasa Dani Barat (Daerah Bag Barat kota Wamena
(Kab.Lany Jaya, Kab.Puncak Jaya, dan Kab Tolikara) serta Bahasa Dani Timur
/Bahasa Yali (Kab Yahokimo dan Kab Yalimo). Masyarakat Lokal di Daerah Lembah
Baliem sendiri sebagian besar sudah dapat menggunakan bahasa Indonesia dgn
dialek Wamena/Papua.
Sistem Teknologi
Orang Dani
juga memiliki berbagai peralatan yang terbuat dari bata, peralatan
tersebut antara lain : Moliage, Valuk,Sege, Wim, Kurok, dan Panah sege
Sistem Ekonomi
Mata pencaharian pokok suku Dani adalah bercocok tanam
ubi kayu dan ubi jalar. Ubi jalar adalah tanaman utama di kebun-kebun mereka.
Tanaman-tanaman mereka yang lain adalah pisang, tebu, dan tembakau. Kebun-kebun
milik suku Dani ada tiga jenis, yaitu: (1) kebun-kebun di daerah rendah dan
datar yang diusahakan secara menetap, (2) kebun-kebun di lereng gunung, (3)
kebun-kebun yang berada di antara dua uma.
Kebun-kebun tersebut biasanya dikuasai oleh sekelompok
atau beberapa kelompok kerabat. Batas-batas hak ulayat dari tiap-tiap kerabat
ini adalah sungai, gunung, atau jurang. Dalam mengerjakan kebun, masyarakat
suku Dani masih mengguanakan peralatan sederhana seperti tongkat kayu berbentuk
linggis dan kapak batu. Selain berkebun, mata pencaharian suku Dani adalah
beternak babi. Babi dipelihara dalam kandang yang bernama wamai (wam = babi; ai
= rumah). Kandang babi berupa bangunan berbentuk empat persegi panjang yang
bentuknya hampir sama dengan hunu. Bagian dalam kandang ini terdiri dari
petak-petak yang memiliki ketinggian sekitar 1,25 m dan ditutupi bilah-bilah
papan. Bagian atas kandang berfungsi sebagai tempat penyimpanan kayu bakar dan
alat-alat berkebun. Bagi suku Dani babi berguna untuk: (1) di makan dagingnya,
(2) darahnya dipakai dalam upacara magis, (3) tulang-tulang dan ekornya untuk
hiasan, (4) tulang rusuknya digunakan untuk pisau pengupas ubi, (5) sebagai
alat pertukaran / barter, (6) menciptakan perdamaian dan perselisihan. Suku
Dani melakukan kontak dagang dengan kelompok masyarakat terdekat di sekitarnya.
Barang-barang yang diperdagangkan adalah batu untuk membuat kapak, dan hasil
hutan seperti kayu, serat, kulit binatang, dan bulu burung.
Sistem
Organisasi Masyarakat
Sistem Kekerabatan Sistem kekerabatan masyarakat Dani
ada tiga yaitu kelompok kekerabatan, paroh masyarakat, dan kelompok
teritorial.a. Kelompok kekerabatan yang terkecil dalam masyarakat suku Dani
adalah keluargaluas. Keluarga luas ini terdiri atas tiga atau dua keluarga inti
bersama – sama menghunisuatu kompleks perumahan yang ditutup pagar
(lima).Pernikahan orang Dani bersifat poligami diantaranya poligini. Keluarga
batih ini tinggaldi satu – satuan tempat tinggal yang disebut siimo. Sebuah
desa Dani terdiri dari 3 – 4 slimo yang dihuni 8 & ndash; 10
keluarga. Menurut mitologi suku Dani berasaldari keuturunan sepasang suami
istri yang menghuni suatu danau di sekitar kampungMaina di Lembah Baliem
Selatan. Mereka mempunyai anak bernama Woita dan Waro.
Orang Dani dilarang menikah dengan kerabat suku Moety
sehingga perkawinannya berprinsip eksogami Moety (perkawinan Moety /
dengan orang di luar Moety). b. Paroh masyarakat. Struktur masyarakat Dani
merupakan gabungan beberapa ukul (klenkecil) yang disebut ukul oak (klen
besar)c. Kelompok teritorial. Kesatuan teritorial yang terkecil dalam
masyarakat suku bangsaDani adalah kompleks perumahan (uma) yang dihuni untuk
kelompok keluarga luas yang patrilineal (diturunkan kepada anak laki-laki)
Sistem Pengetahuan
Salah satu pengetahuan terbesar suku dani adalah
bagaimana mereka bisa tetap bisa bertahan hidup. Salah satunya adalah sistem
pengetahuan membuat tempat tinggal yang disebut dengan honai. Honai berbentuk bundar, atapnya jerami, dan pintunya mungil sekali. Inilah
Honai, rumah adat suku Dani yang tinggal di Lembah Baliem, Kabupaten
Jayawijaya, Papua. Selain jadi tempat tinggal, Honai juga multifungsi!
Ukurannya tergolong mungil, bentuknya bundar,
berdinding kayu dan beratap jerami. Namun, ada pula rumah yang bentuknya
persegi panjang. Rumah jenis ini namanya Ebe'ai. Perbedaan terletak pada jenis
kelamin penghuninya. Honai dihuni oleh laki-laki, sedangkan Ebe'ai dihuni oleh
perempuan. Komplek Honai ini tersebar hampir di seluruh pelosok Lembah Baliem.
Baik itu dekat jalan besar (dan satu-satunya yang membelah lembah itu), hingga
di puncak-puncak bukit, di kedalaman lembah, juga di bawah naungan tebing
raksasa.
Rumah bundar itu begitu kecil hingga kita tidak
berdiri di dalamnya. Jarak dari permukaan rumah sampai langit-langit hanya
sekitar 1 meter. Di dalamnya hanya ada satu perapian yang terletak persis di
tengah. Tidak ada perabotan seperti kasur, lemari, apalagi cermin. Rupanya atap
jerami dan dinding kayu membawa hawa sejuk ke dalam Honai. Kalau udara dirasa
terlalu dingin, seisi rumah siap diramaikan oleh tarian api dari perapian. Bagi
mereka, asap dari kayu sudah tak aneh lagi dihisap dalam waktu lama. Selama
pintu masih terbuka (dan memang tak ada tutupnya), oksigen masih mengalir
kencang.
Selain jadi tempat
tinggal, Honai juga multifungsi. Ada Honai khusus untuk menyimpan umbi-umbian
dan hasil ladang, ada pula yang khusus untuk pengasapan mumi. Fungsi yang
disebut terakhir itu bisa ditemukan di Desa Kerulu dan Desa Aikima, tempat 2
mumi paling terkenal di Lembah Baliem.
Religi
Kepercayaan Suku Dani
menganut konsep yang dinamakan Atou, artinya adalah segala kesaktian
yang dimiliki oleh para leluhur suku Dani diberikan secara turun temurun kepada
kaum lelaki.
Menurut budaya suku Dani,
jenis kesaktian tersebut antara lain adalah kesaktian agar bisa punya kekuatan
untuk menjaga kebun, kesaktian agar mampu mengobati penyakit sekaligus
menghindarinya dan kesaktian untuk menyuburkan tanah yang digunakan untuk
bercocok tanam.
Untuk memberi penghormatan
kepada leluhur, suku Dani menciptakan lambang untuk mereka sendiri yang
dinamakan dengan kaneka. Fungsi kaneka ini adalah dipakai atau
dimunculkan ketika sedang diselenggarakannya upacara tradisi bersifat keagamaan
untuk membuat semua anggota masyarakt bisa sejahtera serta sebagai simbol
ketika akan memulai perang dan mengakhirinya.
Salah satu praktek extrime yang di percayai masyarakat dani adalah cara
mengekspresikan rasa sedih dengan cara memotong jari. Bagi Suku
Dani, jari bisa diartikan sebagai symbol kerukunan, kebersatuan dan kekuatan
dalam diri manusia maupun sebuah keluarga. Walaupun dalam penamaan jari yang
ada ditangan manusia hanya menyebutkan satu perwakilan keluarga yaitu Ibu jari.
Akan tetapi jika dicermati perbedaan setiap bentuk dan panjang jari memiliki
sebuah kesatuan dan kekuatan kebersamaan untuk meringankan semua beban
pekerjaan manusia. Jari saling bekerjasama membangun sebuah kekuatan sehingga
tangan kita bisa berfungsi dengan sempurna. Kehilangan salah satu ruasnya saja,
bisa mengakibatkan tidak maksimalnya tangan kita bekerja. Jadi jika salah satu
bagiannya menghilang, maka hilanglah komponen kebersamaan dan berkuranglah
kekuatan.
Alasan lainya adalah “Wene opakima dapulik welaikarek
mekehasik” atau pedoman dasar hidup bersama dalam satu keluarga, satu marga,
satu honai (rumah), satu suku, satu leluhur, satu bahasa, satu
sejarah/asal-muasal, dan sebagainya. Kebersamaan sangatlah penting bagi
masyarakat pegunungan tengah Papua. Kesedihan mendalam dan luka hati orang yang
ditinggal mati anggota keluarga, baru akan sembuh jika luka di jari sudah
sembuh dan tidak terasa sakit lagi. Mungkin karena itulah masyarakat pegunungan
papua memotong jari saat ada keluarga yang meninggal dunia.
Tradisi Potong Jari di Papua sendiri dilakukan dengan
berbagai banyak cara, mulai dari menggunakan benda tajam seperti pisau, kapak
atau parang. Ada juga yang melakukannya dengan menggigit ruas jarinya hingga
putus, mengikatnya dengan seutas tali sehingga aliran darahnya terhenti dan
ruas jari menjadi mati kemudian baru dilakukan pemotongan jari.
Selain tradisi pemotongan jari, di Papua juga ada
tradisi yang dilakukan dalam upacara berkabung. Tradisi tersebut adalah tradisi
mandi lumpur. Mandi lumpur dilakukan oleh anggota atau kelompok dalam jangka
waktu tertentu. Mandi lumpur mempunyai arti bahwa setiap orang yang meninggal
dunia telah kembali ke alam. Manusia berawal dari tanah dan kembali ke tanah.
Beberapa sumber ada yang mengatakan Tradisi potong
jari pada saat ini sudah hampir ditinggalkan. Jarang orang yang melakukannya
belakangan ini karena adanya pengaruh agama yang mulai berkembang di sekitar
daerah pegunungan tengah Papua. Namun kita masih bisa menemukan banyak sisa lelaki dan wanita tua dengan jari yang
telah terpotong karena tradisi ini.
Sistem Kesenian
Kesenian masyarakat suku Dani dapat dilihat dari cara
membangun tempat kediaman,seperti disebutkan di atas dalam satu silimo ada
beberapa bangunan, seperti : Honai, Ebeai, dan
Wamai. Selain membangun tempat tinggal,
masyarakat Dani mempunyai seni kerajinan khas, anyaman kantong jaring penutup
kepala dan pegikat kapak. Orang Dani juga memiliki berbagai peralatan yang
terbuat dari bata, peralatan tersebut antara lain : Moliage, Valuk,Sege, Wim,
Kurok, dan Panah sege
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penelitian
etnografi merupakan peneltian yang cukup representatif digunakan sebagai
penelitian kualitatif. Salah satu pengaplikasian penelitian etnografi yaitu
dilakukan kepada suku Dani di Papua.
Penelitian etnografi dapat diarahkan melalui analisis
terhadap unsur-usur kebudayaan yaitu : bahasa, sistem tekhnologi, sistem
ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, sistem religi, sistem kesenian.
Suku
Dani yang berada di daerah pulau Papua merupakan suku yang memiliki berbagai
kebudayaan, mulai dari adat istiadat sehari-hari, kesenian, acara ritual, dan
lain-lain. Semua itu membuktikan bahwa suku Dani merupakan suku yang kaya akan
budaya lokal yang tetap dipegang teguh. Dan dari kekayaan budaya yang di miliki
suku Dani itulah yang menbuatnya berberda dengan suku-suku serta
kebudayaan-kebudayaan lain yang ada di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Ihromi, I. O. 2000. Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta:
Yayasan Obor
Indonesia.
Kaplan, David. 1999. Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Kontjaraningrat, 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT.
Rineka Cipta
Spradley, James P. 1997. Metode
Etnografi. Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya.
Tarwotjo. 1994. Etnografi
Suatu Tantangan Penelitian Kualitatif. Jakarta: Balai
Pustaka.
Ahira, Ane. Mengenal Suku Bangsa Dani. http://www.anneahira.com/budaya-suku-dani.htm (diakses pada tanggal 05 Juni 2014)
Komentar
Posting Komentar