Etnolinguistik
ETNOLINGUISTIK
ANALISIS TEORI ETNOGRAFI PADA ETNOGRAFI TOGEL DI KOTA
BANGKALAN: TINJAUAN ETNOGRAFI
(Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Etnolinguistik)
Disusun
Oleh:
ABDULLAH
SYAROFI
121111132
DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Bahasa dan budaya tidak akan bisa
dipisahkan antara satu dengan yang lain. Bahasa dapat dikatakan cerminan dari
masyarakat budaya di daerah tertentu. Beberapa tahun terakhir banyak jenis
penelitan yang berusaha mengkaji lebih jauh tentang masyarakat dan
kebudayaannya. Salah satu penelitian yang cukup representatif untuk mengkaji
lebih jauh tentang masyarakat dan kebudayaanya adalah penelitian etnografi.
Penelitian etnografi adalah termasuk salah
satu pendekatan dari penelitian kualitatif. Penelitian etnografi di bidang
pendidikan (akademis) diilhami oleh penelitian sejenis yang dikembangakan dalam
bidang sosiologi dan antropologi. Dengan perkembangannya maka penelitian
etnografi juga sudah banyak digunakan untuk meneliti hakikat suatu bahasa yang
dikaji dari sudut pandang budayanya. Dengan meneliti unsur-unsur kebudayaan
yang ada dapat diperoleh informasi tentang asal muasal seseorang dan kelompok
masyarakatnya. Salah satu kebudayaan yang menarik untuk diteliti lebih jauh
adalah tentang suku Bangsa Dani di Papua. Sebagai suku yang jarang bersentuhan
dengan dunia luar tentunya akan membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup untuk
meneliti suku ini.
1.2
Rumusan
Masalah
Dari uraian latar belakang di atas dapat
ditarik sebuah rumusan masalah yaitu
1. Bagaimanakah
sejarah dan perkembangan kajian disiplin ilmu etnografi?
2. Bagaimanakah
teknik penelitian etnografi?
3. Bagaimanakah
penerapan atau pengaplikasian dan analisis ilmu etnografi terhadap masyarakat togel di kota Bangkalan?
1.3
Tujuan
1. Untuk
mengetahui tentang sejarah dan perkembangan kajian disiplin ilmu etnografi.
2. Untuk
mengetahui tentang teknik penelitian etnografi.
3. Untuk
mengetahui penerapan atau pengaplikasian dan analisi ilmu etnografi terhadap
masyarakat togel di kota Bangkalan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Makna Etnografi
Charles Winick dalam Dictionary of Antrophology (New Jersey: Roman & Allanheld,
Edisi 1984) antara lain menyatakan
sebagai berikut: Barangkali kata ini bersala dari ungkapan Aristoteles, seorang
pakar ilmu filsafat Yunani kuno, yang menggambarkan seseorang yang mempunyai
gagasan-gagasan tinggi, tetapi yang buka gosip atau sesuatu bual tentang dirinya
sendiri. dalam bahasa inggris, kata “Anthropology”, pertama-tama dtemukan dalam
satu buku yang tidak diketahui nama pengrangnya, yang menguraikan hakikat
manusi. Buku ini menguraikan dua ilmu yaitutentang psikologi dan anatomi. Dalam
arti modern kata antropologi ditemukan
dalam buku Antropologion, oleh Hundt, yang diterbitkan pada tahun 1501,
yang membahasa natomi. Juga dalam buku
Capella, yang berjudul L’Anthtropologia, yang diterbitkan pada tahun 1933, yang
membahasa tentang keunikan pribadi. Sebagai disiplin ilmu pengetahuan
kontemporer, antropologi terdiri atas empat bagian yaitu arkeologi, antropologi
budaya, antropolgi bahasa, dan antropolgi ragawi.
Koentjaraningrat, dalam berbagai bukunya
anatar lain dalam bukuny aberjudul Pengantar Antropologi Sosial dan Budaya
(Jakarta: UT, 1986) telah merumuskan secara singkat bahwa ilmu ini adalah ilmu
yang memmpelajari manusia dari sudut keanekawarnaan tingkah laku dan cara
berpikirnya. Lebih jauh beliau berpendirian bahwa wujud kebudayaan ada tiga
yaitu sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma,
peraturan, dan sebagainya, sebagai suatu kompleks kegiatan serta tindakan
berpola dari manusia dalam masyarakat, sebagai benda-beda hasil karya manusia.
Sebagai suatu disiplin ilmu dalam jajaran ilmu-ilmu sosial, antropologi budaya
menggunakan etnografi, sebagai bahan untuk menganalisisnya secara holistik,
mikro, dan komaratif yang berbentuk suatu deskripsi tentang berbagai kebudayaan
suku bangsa.
Disamping merumuskan etnografi sebagai
suatu pelukisan mengenai suku bangsa tertentu, Koentjaraningrat juga
menyarankan agar etnografi sebaiknya disusun dengan kerangka tertentu.
Etnografi ini didapat dari suatu kasus angsung di lapangan secra holistik
menyeluruh, mikro dan komparatif, terbatas dalam ruang dan waktu tertentu, yang
biasanya dilakukan selama beberapa bulan bahkan sampai satu atau dua tahun.
Secara ringkas etnografi adalah suatu
studi tentang kebudayaan-kebudayaan tertentu yang bersifat deskriptif (Charles
Winick, 1984). Kata etnografi berasal dari bahasa Yunani, etnos yang berarti
bangsa, dan grafi yang berarti suatu deskripsi atau suatu uraian untuk
melukiskan sesuatu. Dengan kata lain etnografi adalah suatu uraian tentang suku
bangsa atau bangsa tertentu sebagai suatu kesatuan masyarakat (J.A Clifton) di
suatu tempat dan dalam kurun waktu tertentu. Adapun pengertian kesatuan
masyarakat mengandung unsur-unsur sebagai berikut dibatasi oleh satu desa atau
lebih sebagai wilayah administrasi pemerintahan, terdiri dari penduduk yang
menguccapkan satu bahasa atau satu logat bahasa, ditentukan oleh rasa identitas
penduduknya sendiri, merupakan kesatuan wilayah secara fisik dan ekologi,
mengalami satu pengalaman sejarah yang sama, mengalami frekuensi interaksi yang
cukup tinggi diantara penduduknya, dan mempunyai struktur sosial yang seragam.
Etnografi disusun secara konvensional
menurut suatu tata urutan tertentu, yang mengandung tujuh unsur kebudayaan yang
bersifat universal yaitu bahasa, sistem teknologi, sistem ekonomi, organisasi
sosial, sistem pengetahuan, sistem religi, dan kesenian.
2.2
Sejarah dan perkembangan Etnografi
Dalam bukunya, Spradley menjelaskan
bahwa secara harafiah, etnografi berarti tulisan atau laporan tentang suatu
suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan
(field work) selama sekian bulan atau sekian tahun. Etnografi, baik sebagai
laporan penelitian maupun sebagai metode penelitian, dianggap sebagai
asal-ususl ilmu antropologi.
2.2.1 Etnografi mula-mula (akhir abad ke-19)
Etnografi mula-mula dilakukan untuk
membangun tingkat-tingkat perkembangan evolusi budaya manusia dari masa manusia
mulai muncul di permukaan bumi sampai ke masa terkini. Tak ubahnya analisis
wacana, mereka – ilmuwan antropologi pada waktu itu – melakukan kajian
etnografi melalui tulisan-tulisan dan referensi dari perpustakaan yang telah
ada tanpa terjun ke lapangan. Namun, pada akhir abad ke-19, legalitas
penelitian semacam ini mulai dipertanyakan karena tidak ada fakta yang
mendukung interpretasi para peneliti. Akhirnya, muncul pemikiran baru bahwa
seorang antropolog harus melihat sendiri alias berada dalam kelompok masyarakat
yang menjadi obyek kajiannya.
2.2.2 Etnografi Modern (1915-1925)
Dipelopori oleh antropolog sosial
Inggris, Radclifffe-Brown dan B. Malinowski, etnografi modern dibedakan dengan
etnografi mula-mula berdasarkan ciri penting, yakni mereka tidak terlalu
mamandang hal-ikhwal yang berhubungan dengan sejarah kebudayaan suatu kelompok
masyarakat (Spradley, 1997). Perhatian utama mereka adalah pada kehidupan masa
kini, yaitu tentang the way of life masayarakat tersebut. Menurut
pandangan dua antropolog ini tujuan etnografi adalah untuk mendeskripsikan dan
membangun struktur sosial dan budaya suatu masyarakat. Untuk itu peneliti tidak
cukup hanya melakukan wawancara, namun hendaknya berada bersama informan sambil
melakukan observasi.
2.2.3 Etnografi Baru Generasi Pertama (1960-an)
Berakar dari ranah antropologi
kognitif, “etnografi baru” memusatkan usahanya untuk menemukan bagaimana
masyarakat mengorganisasikan budaya mereka dalam pikiran mereka dan kemudian
menggunakan budaya tersebut dalam kehidupan. Analisis dalam penelitian ini
tidak didasarkan semata-mata pada interpretasi peneliti tetapi merupakan
susunan pikiran dari anggota masyarakat yang dikorek keluar oleh peneliti.
Karena tujuannya adalah untuk menemukan dan menggambarkan organisasi pikiran
dari suatu masyarakat, maka pemahaman peneliti akan studi bahasa menjadi sangat
penting dalam metode penelitian ini. “Pengumpulan riwayat hidup atau suatu
strategi campuran, bahasa akan muncul dalam setiap fase dalam proses penelitian
ini.
Etnografi ada karena ada misi untuk
membangun masyarakat, bangsa dan negara dalam alam kemerdekaan yang bukan hanya
megah secara nasional akan tetapi sekaligus bermartabat predagogis secara
lokal. Secara ringkas, etnografi adalah suatu studi tentang kebudayaan-kebudayaan
tertentu yang sangat bersifat deskriptif (Charles Winick, 1984). Kata etnografi
berasal dari bahasa Yunani yaitu etnos yang berarti bangsa, dan grafi yang
berarti suatu deskripsi atau suatu uraian untuk melukiskan sesuatu. Sementara
itu menurut J.A. Clifton, etnografi adalah suatu uraian tentang suku bangsa
atau bangsa tertentu sebagai suatu kesatuan masyarakat di suatu tempat dan
dalam kurun waktu tertentu.
Adapun pengertian kesatuan masyarakat
menurut J.A. Clifton mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
1. Dibatasi
oleh satu desa atau lebih sebagai wilayah administrasai pemerintah.
2. Terdiri
dari penduduk yang mengucapkan satu bahasa atau satu logat bahasa.
3. Ditentukan
oelh rasa identitas penduduknya sendiri.
4. Merupakan
kesatuan wilayah secara fisik dan ekologi.
5. Mengalami
satu pengalaman sejarah yang sama.
6. Mengalami
freuensi unteraksi yan cukup tinggi di antara penduduknya, dan
7. Mempunyai
struktur sosial yang seragam.
Etnografi konvensional disusun menurut
suatu tata aturan tertentu, yang mengandung tujuh unsur kebudayaan yang
bersifat universal, yaitu :
1.
Bahasa
Bahasa atau sistem
perlambangan manusia yang lisan maupun yang tertulis untuk berkomunikasi satu
dengan yang lain, dalam sebuah karangan etnografi, memberi deskripsi tentang
ciri-ciri terpenting dari bahasa yang diucapkan oleh suku bangsa yang
bersangkutan, beserta variasi-variasi dari bahasa itu. Ciri-ciri menonjol dari
bahasa suku bangsanya dapat diuraikan pengarang etnografi itu dengan cara
menempatkannya setepat-tepatnya dalam rangka klasifikasi bahasa-bahasa sedunia
pada rumpun sub-rumpun, keluarga, dan sub-keluarga bahasanya yang wajar, dengan
beberapa contoh fonetik, fonologi, sintaks, dan semantik, yang diambil dari
bahan ucapan bahasa sehari-hari.
Menentukan luas
batas penyebaran suatu bahasa memang tidak mudah, dan hal ini disebabkan karena
di daerah perbatasan antara daerah tempat tinggal dua suku bangsa hubungan
antara individu warga masing-masing suku bangsa tadi seringkali sangat intensif
sehingga ada proses saling pengaruh-mempengaruhi antara unsur-unsur bahasa dari
kedua belah pihak. Tetapi bahasa dari suatu suku bangsa, terutama suatu suku
bangsa yang besar, yang terdiri dari berjuta-juta penduduk, selalu menunjukan
suatu variasi yang ditentukan oleh perbedaan daerah secara geografi maupun oleh
lapisan serta lingkungan sosial dalam masyarakat suku bangsa tadi
2.
Sistem
teknologi
Teknologi
tradisional mengenai paling sedikit delapan macam sistem peralatan dan unsur
kebudayaan fisik yang dipakai oleh manusia yang hidup dalam masyarakat kecil
yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian, yaitu
1) alat-alat produktif
Dipandang
dari sudut pemakaian alat-alat produktif dalam kebudayaan tradisionai, dapat
kita bedakan antara pemakaian menurut fungsinya, dan pemakaian menurut lapangan
pekerjaannya. Dan sudut fungsinya, alat-alat produktif itu dapat dibagi ke
dalam alat potong, alat tusuk dan pembuat lubang, slat pukul, alat penggiling,
alat peraga, alat untuk menyalakan api, alat meniup api, tangga dan sebagainya;
sedangkan dari sudut lapangan pekerjaannya ada alat-alat rumah tangga, alat
pengikal dan tenun. alat-alat pertanian, alat-alat penangkap ikan, jerat
perangkap dan sebagainya.
2) senjata
Senjata
juga dapat dikelaskan : pertama menurut bahan mentahnya, kemudian menurut
teknik pembuatannya. Akhirnya aneka-warna macam senjata tradisional yang
mungkin ada dalam kebudayaan manusia dapat pula dikelaskan menurut fungsi dan
lapangan pemakaiannva. Menurut fungsinya, ada senjata potong, senjata tusuk,
senjata lempar, dan senjata penolak: sedangkan menurut lapangan pemakaiannya
ada senjata untuk berburu serta menangkap ikan, dan senjata untuk berkelahi dan
berperang.
3) wadah
Wadah
atau alat dan tempat untuk menimbun, memuat, dan menyimpan barang, dalam bahasa
Inggris disebut container. Berbagai macam wadah juga dapat diklaskan menurut
bahan mentahnya, yaitu kayu, bambu, kulit kayu, tempurung, serat-seratan, atau
tanah liat.
4)
alat-alat menyalakan api
5)
makanan, minuman, bahan pembangkit gairah, dan jamu-jamuan
Hasil
yang sangat menarik dari sudut teknologi adalah cara-cara mengolah, memasak,
dan menyajikan makanan dan minuman. Dalam berbagai kebudayaan di dunia ada dua
macam cara memasak, yaitu dengan api yang tentu bukan hal yang aneh bagi kita,
dan dengan cara memakai batu-batu panas
6)
pakaian dan perhiasan
Pakaian
dalam arti seluas-luasnya juga merupakan suatu benda kebudayaan yang sangat
penting untuk hampir semua suku bangsa di dunia. Dipandang dari sudut bahan
mentahnya pakaian dapat diklaskan ke dalam : pakaian dari bahan tenun, pakaian
dari kulit pohon, dan pakaian dari kulit binatang, dan lain-lain.
7) tempat berlindung dan perumahan
Dipandang
dari sudut pemakaiannya, tempat berlindung dapat dibagi ke dalam tiga golongan,
yaitu (i) tadah angin, (ii) tenda atau gubuk yang segera dapat dilepas, dibawa
pindah, dan didirikan lagi; dan (iii) rumah untuk menetap.
Maka
dengan membatasi bab mengenai teknologi tradisional pada hanya delapan unsur
kebudayaan fisik tersebut di atas, kita harus ingat bahwa teknologi muncul
dalam cara-cara manusia melaksanakan mata pencaharian hidupnya dalam cara-cara
ia mengorganisasi masyarakat, dalam cara-cara ia mengekspresikan rasa keindahan
dalam memproduksi hasil-hasil keseniannya.
3.
Sistem
ekonomi
sistem mata
pencarian atau sistem ekonomi hanya terbatas kepada sistem-sistem yang,
bersifat tradisional saja, terutama dalam rangka perhatian mereka terhadap
kebudayaan sesuatu suku bangsa secara holistik. Berbagai sistem tersebut adalah
: (i) berburu dan meramu: (ii) beternak; (iii) bercocok tanam di ladang; (iv)
menangkap ikan; dan (v) bercocok tanam menetap dengan irigasi.
Dari kelima sistem
tersebut seorang peneliti juga hanya memperhatikan sistem produksi lokalnya,
termasuk sumber alam, cara mengumpulkan modal, cara pengerahan dan pengaturan
tenaga kerja, serta teknologi produksi, sistem distribusi di pasar-pasar yang
dekat saja, dan proses konsumsinya. Adapun proses dan sistem distribusi dan
pemasaran yang lebih jauh daripada pasar-pasar sekitar komunitas yang menjadi
lokasi dari penelitian, biasanya tidak mendapat perhatian lagi dari seorang
peneliti. Penelitian serta analisa terhadap proses-proses itu diserahkan kepada
para ahli ekonomi.
4.
Organisasi
sosial
Dalam tiap
masyarakat kehidupan masyarakat diorganisasi atau diatur oleh adat-istiadat dan
aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan mana ia
hidup dan bergaul dari hari ke hari. Kesatuan sosial yang paling dekat dan
mesra adalah kesatuan kekerabatannya, yaitu keluarga inti yang dekat, dan kaum
kerabat yang lain. Kemudian ada kesatuan-kesatuan di luar kaum kerabat, tetapi
masih dalam lingkungan komunitas. Karena tiap masyarakat manusia, dan juga
masyarakat desa, terbagi-bagi ke dalam lapisan-lapisan, maka tiap orang di luar
kaum kerabatnya menghadapi lingkungan orang-orang yang lebih tinggi dari
padanya, tetapi juga orang-orang yang sama tingkatnya. Di antara golongan
terakhir ini ada orang-orang yang dekat padanya dan ada pula orang-orang yang
jauh padanya.
5.
Sistem
pengetahuan
Dalam
suatu etnografi biasanya ada berbagai bahan keterangan mengenai sistem
pengetahuan dalam kebudayaan suku bangsa yang bersangkutan. Bahan itu biasanya
yang meliputi pengetahuan mengenai teknologi, Uraian mengenai pokok-pokok
khusus yang merupakan isi dari sistem pengetahuan dalam suatu kebudayaan, akan
merupakan suatu uraian tenting cabang-cabang pengetahuan. Cabang-cabang itu
sebaiknya dibagi berdasarkan pokok perhatiannya. Dengan demikian tiap suku
bangsa di dunia biasanya mempunyai pengetahuan tentang:
1.
alam sekitarnya
2.
alam flora di daerah tempat tinggalnya
3.
alam fauna di daerah tempat tinggalnya
4.
zat-zat, bahan mentah, dan benda-benda dalam lingkungannya
5.
tubuh manusia
6.
sifat-sifat dan tingkah-laku sesama manusia
7.
ruang dan waktu
6.
Sistem
religi
Sejak lama, ketika
ilmu antropologi belum ada dan hanya merupakan suatu himpunan tulisan mengenai
adat-istiadat yang aneh-aneh dari suku-suku bangsa di luar Eropa, religi telah
menjadi suatu pokok penting dalam buku-buku para pengarang tulisan-tulisan etnografi
mengenai suku-suku bangsa itu. Kemudian, waktu bahan etnografi tersebut
digunakan secara bias oleh dunia ilmiah, perhatian terhadap bahan mengenai
upacara keagamaan itu sangat besar. Sebenarnya ada dua hal yang menyebabkan
perhatian yang besar itu, yaitu:
1.
upacara keagamaan dalam kebudayaan suatu suku bangsa biasanya merupakan unsur
kebudayaan yang tampak paling lahir;
2. bahan etnografi
mengenai upacara keagamaan diperlukan untuk menyusun teori-teori tentang
asal-mula religi.
7.
Kesenian
Kerangka etnografi
lain, seperti yang telah dirumuskan oleh Prof. Koentjaraningrat adalah sebagai
berikut :
1. Lokasi,
lingkungan alam, dan demografi yang di dalamnya adalah iklim, sifat daerah,
suhu dan curah hujan, penyebaran penduduk, ciri flora dan fauna, demografi.
2. Asal
mula dan sejarah suku bangsa berbicara tentang prasejarah dan lokasi, mitologi
dan cerita rakyat setempat, dan naskah kuno (kalau ada).
3. Bahasa
terbagi menjadi bahasa lisan termasuk logat, bahasa tertulis(kalau ada), dan
contoh perbendaharaan kata.
4. Sistem
teknologi pedesaan meliputi pembicaraan tentang hal-hal seperti cara
memproduksi, memakai, dan memelihara peralatan yang digunakan
5. Sistem
ekonomi,
6. Organisasi
sosial,
7. Sestem
pengetahuan,
8. Sistem
religi,
9. Kesenian,
dan
10. Perubahan
kebudayaan.
2.3
Teknik Penelitian Etnografi
Yang dimaksud teknik di sini adalah cara
yang dipakai dalam penelitian kualitatif dalam ilmu antropologi sosial budaya,
untuk mengumpulkan dat primer. Dat primer ini sangat penting bagi setiap
disiplin ilmu untuk kemudian dianalisis dan ditarik kesimpulan.
Menurut H. Russel Bernard dkk, ada empat
teknik pengumpulan data yang biasanya dipakai dalam etnografi yaitu wawancara
terbuka, tanpa struktur dengan informan kunci, wawancara terstruktur dengan
responden, observasi langsung terhadap tingkah laku dan lingkungan, menyerap
data dari dokumen dan keterangan tertulis yang didapat.
Ada lima hal yang diharapkan oleh para peneliti
itu dalam hali ini yaitu pentingnya pengendalian kualitas data, termasuk yang
datang dari ilmu, perlu peningkatan penelitian yang khusus mengenai metodologi
secara murni yang memusatkan perhatian pada isu-isu validitas, reliabilitas,
ketelitian, ketepatan, dari berbagai metode konstruksi data, terutama yang
menyangkut lintas kebudayaan, kesepakatan profesional di anatara para ahli yang
bersangkutan, skala prioritas tentang pengendalian kualitas data, dan perlunya
kesadaran pemberi dana untuk penelitian
pengendalian kualitas data dalam antropologi sosial budaya.
Bronislaw Molinowski dalam bukunya yang
terkenal berjudul Argonouts of the Western Pasific yang duterbitkan oleh E.P
Detta & Co, Inc, 1950, ada halaman 24, antara lain menulis bahwa tujuan penelitian
etnografi harus didekati melalui tiga jalur yaitu organisasi masyarakat sasaran
dan anatomi kebudayaan harus dicatat dengan tepat dan dalam kerangka yang jelas
metode dokumentasi yang bersifat statistik dan knkret adalah alat untuk
mendapatkan hal sebaik-baiknya, dalam kerangka ini gambaran dari kehidupan yang
nyata dan tipe tingkah laku mereka perlu dicatat hal ini perlu dikumpulkan tiap
saat yang tepat observasi yang cermat dalam bentuk seperti buku harian
etnografi ini dimungkinkan dengan jalan mengadakan hubungan erat dengan
kehidupan masyarakat sasaran, sebuah kumpulan-kumpulan pernyataan-pernyataan
etnografi ucapan-ucapan yang khas keterangan-keterangan cerita-cerita rakyat
dan mantra perlu dicatat sebagai dokumen-dokumen mentalistas masyarakat sasran.
Memang banyak diskusi mengenai teknik ini,
mengingat pengalaman para etnografer itu berbeda-beda. Akan tetapi tampaknya
pengaruh Molinowski cukup besar, mengingat pada umumnya para etnografer dapat
menyetujui beberapa hal seperti ini, misalnya bahwa melakukan studi kasus
etnografi adalah sulit. Ini berarti perlu persiapan baik secara akademik maupun
praktiss dengan matang, bahwa secara teknis etnografer perlu mampu mencatat
pandangan-pandangan orang dalam dari masyarakat sasaran, bahwa secara teknis
untuk itu perlu mencatat pernyataan-pernyataan konkret dari orang dalam
masyarakat sasaran, bahwa etnografer perlu mengumpulkan data yang luas selama
di lapangan dan menggunakan berbagai metode yang tepat sesuai dengan kebutuhan
akademik.
Metode yang dipakai para etnografer
umumnya sama yaitu melakukan fieldwork sendiri dalam waktu yang cukup lama,
menggunakan participant observation walaupun tekanan masing-masing ahli
etnografi holistik berbeda, wawancara informasi dan atau formal.
Sama halnya dengan penelitian-penelitian
lain, penelitian etnografi memiliki banyak persiapan baik itu persiapan pra
maupun pasca penelitian, baik itu nonteknis maupun teknis, jadi sebelum kita
mengadakan penelitian etnografi kita harus benar-benar menyiapkan sebaik dan semaksimal
mungkin untuk memberikan penelitian yang bagus dan maksimal.
Operasionalisasi teknik penelitian
etnografi yaitu teknik menyusun etnografi, teknik mengumpulkan data dan
informasi etnografi, pedekatan holistik mikro dan komparatif, saran teknis bagi
petugas, waktu, bagaimana cara mengumpulkan dokumen, mencatat pengamatan atau
observasi, berbagai kartu catatan, hasil yang diharapkan.`
2.4
Etnografi Masyarakat Togel di Kota Bangkalan
Merumuskan nomor-nomor togel,
mencari nomor melalui proses mistik, melihat gejala akan alam kemudian
dikodekan dengan nomor0nomor, menafsirkan mimpi menjadi angka-angka, lalu
membeli kupon togel, kemudian bertaruh untuk angka-angka yang dipredisikan
sesuai dengan nomor yang hendak dikeluarkan oleh Bandar, merupakan suatu bentuk
permainan yaitu permainan togel (toto gelap).
Manusia pada dasarnya adalah
makhluk yang suka bermain. Disadari atau tidak, bermain-main merupakan sifat
dasar manusia, bermain bola, bermain dengan anak-anak, bermain politik, bermain
music, bermain drama dsb. Bahkan hewan pun seperti anak-anak kucing, anjing,
atau anak ayam dll, suka bermain-main diantara mereka, bermmain kejar-kejaran,
pura-pura berkelahi dsb.
Huizinga mengatakan bahw ciri
khas utama permainan ada tiga. Yaitu pertama, ia bebas, ia kebebasan. Kedua,
permainan bukanlah kehidupan yang biasa atau yang sesungguhnya. Ketiga,
tertutup atau terbatas. Permaian memisahkan diri dari kehidupan biasa dalam hal
tempat atau waktu. Ia dimainkan dalam batas-batas waktu dan tempat tertentu. Ia
berlangsung dan bermakna bagi dirinya sendiri (Huizinga, 1990: 10-14).
Dalam permainan togel,
permaianan diliputi oleh kerahasiaan, tertutup, dan terbatas. Tertutup secara
system kerja permainanya, structural permaiana-permainanya, juga tertutup
secara pemaknaan. Dengan kata lain, di dalam permainan togel masyarakat umum
yang tidak mengenali prinsip-prinsip bermain togel tidak bisa masuk, meniali
dan ikut ambi bagian dalam permainan ini. Pada permainan togel, bahasa-bahasa
yang digunakan oleh pemain togel merupakan bahasa yang khas daripemain togel,
kode-kode yang dipakai oleh pemain togel juga merupakan kode-kode yang khas dan
memilikimakna khusus bagi pemain togel meskipun kode-kode atau bahasa yang
digunakan oleh pemain togel merupakan bahasa yang dicerabut dari konvensi
bahasa miliki masyarakat umum. Contoh sederhana tampak pada istilah-istilah
seperti ekor, be-te, atau grandong dll. Istilah-istilah tersebut memiliki
makna-mkna ksusus bagi pemain togrl.
Permainan judi (togel) menurut
analisa psikologi merupakan gangguan kejiwaan. Rusdi Muslim, dalm buku
Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III (Bagian Kedokteran FK-Unika
Atmajaya:2001) menjelaskan bahwa berjudi merupakan gangguan kejiwaan yang
esensial yang dilakuakan secara berulang dan menetap, yang berlanjut dan sering
kali meningkat meskipun ada konsekuensi social yang merugikan seperti menjadi
miskin, hubugan dalam keluarga terganggu dan ekacauan kehidupan pribadi (Malim,
2001:109).
Berjudi (togel) dengan
dilandasi alas an rasional, serta tidak menganggu orang lain, rupa-rupanya
secara psikologi bukan merupakan sebuah gangguan mental, namun prilaku berjudi
ini dinilai merupakan perilaku yang hanya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip
di dalam masyrakat, seperti larangan oleh agama dan hokum. Dengan kata lain,
bermain togel bukan merupakan suatu penyakit mental.
Pemain togel yang menggunakan
rumus-rumus untuk mendapatkan angka jitu, pada dasarnya dilandasi oleh
pemikiran yang rasioanl. Pemain togel mencitakan rumusan-rumusan sendiri
berlandaskan pada pengalaman-pengalaman mereka memainkan angka-angka empirirs..
pemain togel menciptakan rumus-rumus sendiri juga berlandaskan pada upaya
mencari kemungkian peluang dari nomor togel yang akan dikelaurkan oleh badar di
Singapura. Dengn demikian, pemain togel yang menggunakan rumus-rumus untuk
mencari nnomor merupakan aktivitas yang sadar dan penuh perhitungan. Sadar
terhadap resiko-resiko dari perbuatanya. Sadar pula bahwa nomor0nomor yang
ditombokinya memiliki sedikit peluang untuk dapat, tapi pemain togel terus
bermain karena permainan togel ini memiliki keindhannya sendiri.
Menafsirkan mimpi merupakan
langkah-langkah penting dalam rangka pencarian nomor yang dilakukan oleh pemai
togel. Tidak hanya pemai togel, mimpi merupakan bagian penting dalam kehidupan
manusia. Setiap manusia pasti pernah mengalami mimpi. Bisa berupa mimpi buruk
dan si pemimpi iku merasakan keburukan dalam mimpi tersebut, mimpi yang
meyenangkan, mempi menyedihkan sehingga pemimpi bisa mengucurkan airmata, mimpi
kelelahan semacam dikejar anjing, mimpi sakit misalkan ada again tubuh yang juga sakit, atau mimpi yang berhubungan dengan aktivitas
seksual sehingga seakan-akan merasakan kenikmatan seksual.
Mimpi bagi pemain togel
memiliki posisi dan cara tafsirnya sendiri. Menafsirkan mimpi untuk permainan
togel berbeda dengan menafsirkan mimpi menurut kitab primbon betal jemur adam
makna, berbeda pula dengan tafsir mimpi menurut al-qur;an dan assunah karya
ibnu sirrin, berbeda pula dengan cara Freud, atau cara yang terdapat dalam
software Android.
Satu hal penting dalam kajian
etnografi adalah menemukan makna-makna budaya. Salah satu kapasitas umat manusi
yang paling mendasar adalah kemampuan untuk menemukan makna. Menemukan dan
berkomunikasi dalam makna inilah yang dapat membedakan antara manusia dan
binatang. Sehingga Cassirer menyebutnya sebagai animale symbolicum, seorang
makhluk yang enangani symbol-simbol.
Kebudayaan sebagai grand
narasi dari kajian tentang permainan togel ini, kiranya sedikit banyak perlu
didefinisikan. Kebudayaan menurut Peursen merupkan endapan dari kegiatan
mausia. Kebudayaan meliputi perbuatan manusia, seperti misalnya cara ia
menghayati kematian, dan membuat upacara-upacara untuk menyambut peristiwa
itu., demikian juga dengan kelahiran, seksualitas, caracara mengolah makanan,
sopan santun waktu makan, pertanian, perburuan, cara-cara membuat alat,
pakaian, cara-cara untuk menghiasi rumah dan badan. Itu semua termasuk
kebudayaan.
Makna-makna budaya dapat ditemui dan didapati dari symbol-simbol.
Sejumlah pemikir membedakan antara tanda, symbol, dan lambing. Van Peursen
menjelaskan bahwa tanda mempunyai pertalian tertentu dan tetap dengan yang
ditandai: dimana ada asap, disana ada api, asap merupakan tanda adanya api.
Seekor binatang bisa menghafal dan berkomunikasi melalui tanda-tanda (Peursen,
1976:145).
Sementara lambang menurut Peursen merupakan penunjuk jalan
ditengah-tengah kesimpang siuran perbuatan manusiawi, dan sekaligus tanda-tanda
mengenai tanggung jawabmanusiawi. Contoh sederhana adalah kata pohon merupakan
suatu lambing umum yang meliputi aneka macam tumbuhan. Namun lambing pohon bisa
berubah konstruksi maknanya jika ditempatkan pada konteks yang berbeda.
(Peursen, 1976: 148).
Setelah sedikit menjelaskan
tentang segi-segi yang mendasari konsep tentang makna yaitu tanda, symbol, dan
lambing. Maka untuk menemukan makna-makna budaya dalam permainan togel ini
diperlukan metode untuk menemukan makna-makna budaya. Upaya enemukan
makna-makna budaya dalam permainan togel dilakukan dengan cara memkai metode
etnografi.
Etnografi merupakan sebuah
metodelogi eksplisit yang didesain untuk menemukan baik pengetahuan yang
eksplisit maupun yang tersembunyi yang dikenal oleh sebagian besar anggota yang
berpengalaman dalam sebuah kebudayaan (Spradley, 2007: 202).
Etnografi adalah untuk
menemukan dan mendeskripsikan system makna budaya yang digunakan masyarakat
dalam mengorganisir tingkah laku mereka serta menginterpretasi pengalaman
mereka. Makna selalu melibatkan penggunaan symbol-simbol. Walau pun
symbol-simbol dapat diciptaka dari apa saja dalam pengalaman manusia.
Symbol-simbol yang tercipta dari suara vokall atau gerak fisik seperti bahasa
isyarat untuk orang tuli.
Makna simbolik muncul dari
sesuatu yang membuat symbol-simbol itu berhubungan satu sama lain. Etnografi
merupakan studi system makna kebudayaan etnografi merupakan pencarian semua
hubungan diantara berbagai symbol, yang dalam kasus in adalah berbagai istilah
asli yang digunakan oleh informan (pemain togel). Jika dapat melacak semua
hubungan yang dipunyai symbol apa pun dalam system ini, maka kita akan dapat
mendefinisikan symbol-simbol itu sepenuhnya.
Permainan togel sebagai tema
budaya, juga memiliki serangkaian system makna. Cara menangkap pola makna dalam
perminan togrl yakni melalui cara menganalisa symbol-simbol budaya yang
terdapat dalam permainan togel. Selain itu, gagasan yang dipakai oleh pemain
togel serta pandangan dunia pemain togel.
Tema-tema budaya digunakan
untuk memberiksn perspektif holidtik mengenai suatu kebudayaan atau suasana
budaya. Konsep tentang tema budaya mempuyai akar dalam ide umum bahwa
kebudayaan merupakan suatu pola yang kompleks. Setiap kebudayaan merupakan
suasana budaya, lebih dari suatu kumpulan berbagai bagian. Kebudayaan berisi
suatu system makna yang terintregasikan ke dalam bebrapa jenis pola yang lebih
besar.
Tema budaya muncul secara
tersirat taupun tersurat. Tapikebanyakan tema budaya masih berda pada level
pengetahuan yang tersirat. Tema-tema budaya diterima selaku benar, tema ini
masuk kedalam wilayah pengetahua di man orang tidak menyadari atau jarang
merasa perlu untuk mengekspresikan apa yang mereka ketahui, dalam hal ini
etnografer harus membuat simpulan bahwa mengenai berbagai prisnsip yang ada.
Tema yang muncul secara
tersirat ataupun tersurat dalam penelitian tentang togel ini, dapat terlihat
ketika petogel memposisikan buku tafsir mimpi sebagai benda yang istimewa.
Salah satu kasus dari informan, menganggap bahwa buku tafsir mimpi togel
diandaikan lebih bermakna dan penting daripada surat Yasin. Informan
mengistilahkan buku tafsir mimpi togel sebagai kitab togel.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penelitian
etnografi merupakan peneltian yang cukup representatif digunakan sebagai
penelitian kualitatif. Salah satu pengaplikasian penelitian etnografi yaitu
dilakukan kepada etnografi masyarakat togel di
kota Bangkalan.
Setelah sedikit menjelaskan
tentang segi-segi yang mendasari konsep tentang makna yaitu tanda, symbol, dan
lambang. Maka untuk menemukan makna-makna budaya dalam permainan togel ini
diperlukan metode untuk menemukan makna-makna budaya. Upaya enemukan
makna-makna budaya dalam permainan togel dilakukan dengan cara memkai metode
etnografi.
Etnografi merupakan sebuah
metodelogi eksplisit yang didesain untuk menemukan baik pengetahuan yang
eksplisit maupun yang tersembunyi yang dikenal oleh sebagian besar anggota yang
berpengalaman dalam sebuah kebudayaan.
Permainan togel merupakan
arena teks budaya yang sarat dengan tafsir, jalinan structural pemain togel
penuh rahasia dan rumit, aparat hokum dan media massa terlibat dalam permainan
togel, permainan togel sulit untuk dihapuskan karena memiliki konteks sejarah
budaya yang kuat mengakar di masyarakat, pemain togel menciptakan identitas budayanya sendiri
melalui penggunaan bahasa-bahasa simbolik, cara kerja pikiran pemain togel
memiliki sudut pandang sendiri terhadap kehidupan dan dunia, dan cara kerja
pemain togel mengandung unsur seni dan estetika (keindahan).
DAFTAR PUSTAKA
Ihromi, I. O. 2000. Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta:
Yayasan Obor
Indonesia.
Kaplan, David. 1999. Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Kontjaraningrat, 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT.
Rineka Cipta
Spradley, James P. 1997. Metode
Etnografi. Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya.
Tarwotjo. 1994. Etnografi
Suatu Tantangan Penelitian Kualitatif. Jakarta: Balai
Pustaka.
Faishal, Ahmad. 2012. TESIS Etnografi Togel. Surabaya:
Fakultas Ilmu Budaya Press.
Komentar
Posting Komentar