Etnolinguistik

 

ETNOLINGUISTIK

Etnolinguistik merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari struktur bahasa berdasarkan cara pandang dan budaya yang dimiliki masyarakat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Humboldt bahwa perbedaan persepsi kognitif dan perbedaan pandangan dunia dari suatu masyarakat dapat dilihat dari bahasanya. Dikatakan bahwa “each language...contains a characteristics worldview” (Wierzbicka, 1992: 3). Dalam pandangan etnolinguistik, terdapat keterkaitan antara bahasa dengan pandangan dunia penuturnya. Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etnolinguistik merupakan cabang linguistik yang menyelidiki hubungan antara bahasa dan masyarakat pedesaan atau masyarakat yang belum mempunyai tulisan. Etnolinguistik berkaitan dengan hipotesis Sapir-Whorf , yang disebut pula sebagai relativitas bahasa (language relativism) dari pikiran Boas (lihat Samson, 1980: 81). Hipotesis tersebut menyatakan bahwa bahasa manusia membentuk atau mempengaruhi persepsi manusia akan realitas lingkungannya atau bahasa manusia mempengaruhi lingkungan dalam memproses dan membuat kategori-kategori realitas di sekitarnya (lihat Samson, 1980: 81-82).

Etnolinguistik adalah ilmu yang mengkaji sistem bahasa dalam perspektif kebudayaan. Etnolinguistik disebut juga Linguistik Antropologi atau Antropological Linguistics yang merupakan kajian bahasa dan budaya sebagai sub bidang utama dari Antropologi (Duranti, 1997). Sejalan dengan itu, Richards, Platt, Weber (1990:13) mengemukakan bahwa linguistik antropologi adalah cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan kebudayaan dalam suatu masyarakat. Fenomena bahasa itu akan tampak dalam tataran fonologi, sintaksis, morfologi maupun semantiknya. Contohnya dalam masyarakat Jawa, dimensi morfologi dan sintaksis seperti gede ‘besar’, gedi ‘sangat besar’; larang ‘mahal’, laring ‘sangat mahal’; ijo ‘hijau’, iju‘hijau sekali’; mung njolak-njaluk wae ‘kenapa minta berkali-kali melulu’, Bagaimana aspek-aspek budaya, nilai budaya sutau kelompok etnik dicerminkan dalam bahasa. Misalnya masyarakat Jawa sangat mengutamakan dimensi rasa dan nilai rasa ini sangat penting bagi mereka dalam interaksi dan komunikasi sosial sehari-hari. Nilai rasa tersebut lalu dimanifestasikan ke dalam leksikon Jawa (leksikon ngoko,krama, dan krama inggil).rt

Analisis data penelitian, Pandangan Spolsky (1998:57) yang menyatakan bahwa kelompok etnis menggunakan bahasa sebagai salah satu ciri yang paling maknawi, memperlihatkan pentingnya bahasa (bahasa etnis) bagi kebudayaan penutur. Persoalan tidak akan muncul apabila suatu bahasa digunakan dalam suatu kelompok etnis. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan situasi kebahasaan di daerah tempat tinggal orang Kui yang memperlihatkan situasi multietnik dan mutibahasa. Di sini telah terjadi pertemuan antarberbagai kelompok etnis dan bahasa. Hal itu menyebabkan terjadinya kontak bahasa dan bahasa kontak. Dengan demikian, yang terjadi di Alor adalah heterogenitas bahasa akibat heterogenitas kelompok etnis. masyarakatnya. Berdasarkan rumusan itu diketahui bahwa peribahasa memang mempunyai pengaruh, peran, dan kedudukan penting dalam kajian etnolinguistik terhadap sifat, tabiat, karakter, dan perilaku masyarakat. Berdasarkan deskripsi dan sejumlah alasan yang telah dipaparkan di atas, kajian ini akan memaparkan mengenai peribahasa dalam Bahasa Indonesia baik dari segi daya pragmatic (pragmatic force) yang terkait dengan kajian Etnolinguistik, segi bentuk dan struktur bahasanya, maupun semantiknya (arti dan maknanya) serta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini akan mengkaji ihwal peribahasa dalam Bahasa Indonesia dengan pendekatan Etnolinguistik.

Etnolinguistik antara lain  juga mengkaji:

Ø  Ciri penting bahasa yang dipakai  suku bangsa

Ø  Variasi geografis,  berkait perbedaan khusus antar wilayah: dialek/logat

Ø  Variasi lapisan sosial, berkait konsep stratifikasi sosial yang berpengaruh pada penggunaan bahasa

Ø  Luas dan batasan penyebaran

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi