Filsafat Ilmu
APRESIAISI/ANALISIS CERPEN
Sebelumnya saya terpesona sekali dengan cerpen yang berjudul “Perempuan
Itu Terlahir Dari Doa”, dari judul saja sudah menggugah pembaca untuk membacanya,
kehebatan pengarang dalam mengeksploitasi kata-kata atau permainan kata-kata
sangat bagus sekali, gaya pencitraan yang menceritakan sebuah kejadian yang sangat
bagus. Namun, cerpen ini sangat sulit sekali untuk di fahami oleh pembaca,
bahasanya yang rumit, yang selalu menggunakan kata-kata yang seeksotis mungkin
dalam menceritakan sesuatu seperti bahasanya satrawan Indonesia terkenal yaitu putu
wijaya.
Didalam cerpen ini kalau dihubungkan dengan ilmu filsafat mengandung
unsur feminisme yang dominan, karena didalam cerpen ini menceritakan kisah seorang
gadis yang ditinggal oleh sang kekasihnya, entah kenapa sang kekasih
meninggalkannya, dan memutuskan dengan sepihak.
Walaupun kekasihnya meninggalkan dia, diangan-angannya masih tetap ada
sosok yang meninggalkannya itu, terasa sulit untuk dilupakan akan kekasih itu. Gadis itu masih
saja ingin lelaki itu membenak dihatinya, perempuan itu tidak ingin dia pergi
dari hatinya. Sampai akhirnya si gadis terbaring sakit.
Kini gadis itu
merenungi nasibnya yang sudah di tinggalkan oleh lelakinya, jari-jarinya yang
sudah memberontakkan kehormatan kewanitaanya, kini ia rasakan hanya jejak
kenyataan pahitnya. ”Aku perempuan tidak diciptakan untuk laki-laki, aku
perempuan tidak diciptakan atas kehendak laki-laki” dari cuplikan kata-kata
inilah akan kefeminisan sangat terlihat, arti dari kata-kata tersebut memperlihatkan
seorang perempuan yang terbuai akan indahnya, manisnya cinta dari seorang
laki-laki. Gadis ini beranggapan bahwa tujuan hidupnya itu bukan untuk
menyenangkan laki-laki, dan juga bukan atas kehendak laki-laki.
Adakah makna
kesucian perempuan ataukah hanya batas-batas picik yang sengaja dikuduskan.
Sebagai seorang perempuan wajib dalam menjaga kesucian dari godaan-godaan para lelaki. Lelaki
sekarang beranggapan bahwa perempuan tidak ada apa-apanya dibandingkan
laki-laki, meskipun seorang perempuan jabatan didunia ini setinggipun tetapi
jabatannaya tidak akan bisa menyaingi jabatan seorang laki-laki, perempuan
sebagai alat pemuas bagi laki-laki, itulah anggapan laki-laki pada masa sekarang.
Kesucian pada perempuan pada saat ini menjadi suatu keharusan bagi wanita untuk
mejadi wanita yang sempurna walaupun
nanti pada akhirnya kesucian itu juga
terrenggut oleh kaum lelaki.
Dari cerpen inilah tertuangkan akan feminisme yang
digambarkan dengan kejadian-kejadian seorang laki-laki yang memperbudakkan
seorang perempuan sebagai pemuas (keindahan surga duniawi) di dunia ini. Sebagai seorang laki-laki selayaknya kita
perlakukan perempuan dengan sewajarnya.
Komentar
Posting Komentar