Filsafat Ilmu

 

FENOMENOLOGI

 

Ø Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari manusia seringkali hidup dalam kebiasaan penafsiran, ilmu pengetahuan dan filsafat. Penafsiran-penafsiran itu sering kali diwarnai untuk kepentingan-kepentingan tertentu, kebiasaan dan situasi kehidupan sehingga melupakan atau mengabaikan dunia apa adanya atau fenomena yang murni.

Dominasi paradigma positivisme yang bertahun-tahun menguasai dunia keilmuwan telah mengakibatkan krisis ilmu pengetahuan. persoalannya bukan penerapan pola pikir positivitis terhadap ilmu-ilmu alam melainkan positivisme dalam ilmu-ilmu sosial, dimana masyarakat dan manusia sebagai makhluk historis.

Ø  Pembahasan

Fenomenologi adalah kata yang berasal dari yunani phainomenon dan logos. Dimana phainomenon berarti tampak dan phainen berarti memperlihatkan, sedangkan logos berarti kata, ucapan, rasio atau pertimbangan. Dengan demikian fenomenologi dalam arti luas adalah ilmu tentang gejala-gejala yang tampak, sedangkan dalam arti sempit fenomenologi adalah ilmu tentang gejala-gejala yang menamoakkan diri pada kesadaran kita. Fenomenologi diresmikan oleh Edmund Husserl pada tahun 1859-1938, untuk mematok suatu dasar yang tak dapat dibantah dengan menggunakan apa yang disebut metode fenomenologi.Edmund Husserl kemudian dikenal sebagai tokoh besar dalam pengembangan fenomenologi. Namun istilah fenomenologi sudah ada sebelum hasserl. Istilah fenomenologi secara filosofis pertama kali dipakai oleh J.H. Lambert pada tahun 1764, dia memasukkan dalam kebenaran,ajaran mengenai gejala. Secara garis besar asumsi dasar dari fenomenologi itu menyatakan bahwa kenyataan itu ganda yaitu fenomena dan nomena. Fenomena adalah segala sesuatu yang tampak di depan kita dan nomena itu sendiri adalah sesuatu yang ada di balik fenomena. Filsafat fenomenologi adalah salah satu filsafat yang paling dekat dengan filsafat idealisme.

Fenomenologi merupakan metode dan filsafat. Sebagai metode, fenomenologi membentangkan langkah-langkah yang harus diambil sehingga kita sampai pada fenomena yang murni. Fenomenologi mempelajari dan melukiskan ciri-ciri intrinsik fenomen-fenomen sebagaimana fenomen-fenomen itu sendiri menyingkapkan diri kepada kesadaran. Dimana segala sesuatnya bertolak dari subjek (manusia) yang berupa kesadarannya yang berupaya untuk kembali kepada kesadaran murni. Untuk mencapai kesadaran murni subjek harus membebaskan diri dari pengalaman serta gambaran kehidupan sehari-hari.Sebagai filsafat, fenomenologi menurut Husserl memberi pengetahuan yang perlu dan esensial mengenai apa yang ada. Dengan demikian fenomenologi dapat dijelaskan sebagai metode kembali ke benda itu sendiri (Zu den Sachen Selbt), dan ini disebabkan benda itu sendiri merupkan objek kesadaran langsung dalam bentuk yang murni.

·         Fenomenologi Sebagai Metode Ilmu

Fenomenologi berkembang sebagai metode untuk mendekati fenomena-fenomena dalam kemurniannya. Fenomena disini dipahami sebagai segala sesuatu yang dengan suatu cara tertentu tampil dalam kesadaran kita. Baik berupa sesuatu sebagai hasil rekaan maupun berupa sesuatu yang nyata, yang berupa gagasan maupun kenyataan. Yang penting ialah pengembangan suatu metode yang tidak memalsukan fenomena, melainkan dapat mendeskripsikannya seperti penampilannya tanpa prasangka sama sekali. , Husserl mengajukan dua langkah yang harus ditempuh untuk mencapai esensi fenomena, yaitu metode epoche dan eidetich vision. Kata epoche berasal dari bahasa Yunani, yang berarti menunda keputusan atau mengosongkan diri dari keyakinan tertentu. Fenomena yang tampil dalam kesadaran adalah benar-benar natural tanpa dicampuri oleh presupposisi pengamat. Untuk itu, Husserl menekankan satu hal penting: Penundaan keputusan. Keputusan harus ditunda (epoche) atau dikurung dulu dalam kaitan dengan status atau referensi ontologis atau eksistensial objek kesadaran.

epoche memiliki empat macam, yaitu :
1. Method of historical bracketing; metode yang mengesampingkan aneka macam teori dan pandangan yang pernah kita terima dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adapt, agama maupun ilmu pengetahuan.

2. Method of existensional bracketing; meninggalkan atau abstain terhadap semua sikap keputusan atau sikap diam dan menunda.

3. Method of transcendental reduction; mengolah data yang kita sadari menjadi gejala yang transcendental dalam kesadaran murni.

4. Method of eidetic reduction; mencari esensi fakta, semacam menjadikan fakta-fakta tentang realitas menjadi esensi atau intisari realitas itu.

Dengan menerapkan empat metode epoche tersebut seseorang akan sampai pada hakikat fenomena dari realitas yang dia amati.

 

·         Tujuan

Tujuan utama fenomenologi adalah mempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran dan dalam tindakan, seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai atau diterima secara estetis. Fenomologi mencoba mencari pemahaman bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan konsep-konsep penting, dalam kerangka intersubjektivitas.

·         Contoh Kongkrit Fenomenologi

Fenomenologi memiliki beberapa ilmu pengetahuan terapan. Dimana salah satu cirri-cirinya adalah tampak fenomenanya atau memiliki tanda-tanda fisik, salah satunya adalah ilmu antropologi. Ilmu antropologi adalah salah satu cabang ilmu yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang eropa yang melihat cirri-ciri fisik, adat istiadat budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di eropa.

·         Model Fenomenologi

Dalam pengertian fenomenologi diatas dikatakan bahwa Untuk mencapai kesadaran murni subjek harus membebaskan diri dari pengalaman serta gambaran kehidupan sehari-hari.Sebagai filsafat, fenomenologi menurut Husserl memberi pengetahuan yang perlu dan esensial mengenai apa yang ada.

Contoh atau perumpamaan dari fenomenologi adalah uang. Jika kita melihat uang, uang itu memilik dua sisi yang berbeda, ketika kita melihat uang tampak dari depan itu ada satu gambar padahal di baliknya ada gambar lagi yang berbeda. 

·         Kesimpulan

fenomenologi merupakan suatu metode analisa juga sebagai aliran filsafat, yang berusaha memahami realitas sebagaimana adanya dalam kemurniannya. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, fenomenologi telah memberikan kontribusi yang berharga bagi dunia ilmu pengetahuan. Ia telah mengatasi krisis metodologi ilmu pengetahuan, dengan mengembalikan peran subjek yang selama ini dikesampingkan oleh paradigma positivistik – saintistik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ø    Edmund Husserl,  Logische U ntersuchungen, erster Band, Prolegomena zur reinen Logik, text der 1. und der 2. Auflage, hrsg. E.Holenstein, Husserliana XVIII (The Hague: Nijhoff, 1975), and Logische Untersuchungen, zweiter Band, Untersuchungen zur Phänomenologie und Theorie der Erkenntnis, in zwei Bänden, hrsg. Ursula Panzer, Husserliana XIX (Dordrecht: Kluwer, 1984), p. 6, trans. J.N.Findlay,  Logical Investigations, 2 vols (New York: Humanities Press, 1970), Vol. 1, p. 249. Hereafter LI followed by section number, page number of English translation, followed by German pagination of Husserliana edition. Henceforth Husserliana will be abbreviated to Hua and volume number. Thus the reference would read LI, Intro. § 1, p. 249; Hua XIX/1 6.

Ø    E.Husserl, Cartesianische Meditationen und Pariser Vorträge, hrsg. Stephan Strasser,Hua I (Dordrecht: Kluwer, 1991), § 10, 63, trans. D.Cairns, Cartesian Meditations (The Hague: Nijhoff, 1967), p. 24. Hereafter CM and section number, English page number, and page number of German original, for example CM § 10, 24; Hua I 63. 3 P.Ricoeur, A l’école de la phénoménologie (Paris: Vrin, 1987), p. 9: “Si bien que laphénoménologie au sens large est la somme de 1’oeuvre husserlienne et des heresies issues de Husserl”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi