Filsafat Ilmu

 Masa Pra Socrates

            Masa Pra Socrates dimulai sejak abad ke-6 SM yang dipelopori oleh Thales, Sebelum Thales, Pemikiran Yunani dikuasai cara befikir mitologis dalam menjelaskan segala sesuatu. Pemikiran Thales dianggap sebagai kegiatan berfilsafat pertama karena mencoba menjelaskan dunia dan gejala-gejala didalamnya tanpa bersandar pada mitos melainkan rasio manusia. Thales tidak meninggalkan bukti-bukti tertulis mengenai filsafatnya. Setelah Thales melampaui zamannya, beliau menelurkan generasi penerus yaitu Anaximandros beliau adalah murid dari Thales, Anaximandros inilah filsuf pertama yang meninggalkan bukti tulisan yang berbentuk prosa. Akan tetapi, dari tulisannya hanya satu fragmen yang masih tersimpan hingga kini.

            Anaximenes adalah teman, murid, dan pengganti dari Anaximandros, ia berbicara tentang filsafat alam, yakni apa yang menjadi prinsip dasar (arche) segala sesuatu.

Masa Socrates

            Pada masa Socrates ini, Socrates meninggalkan suatu pemikiran yang sangat penting yaitu pada cara dia berfilsafat dengan mengejar satu definisi absolute atas satu permasalahan melalui satu dealetika. Pengejaran pengetahuan hakiki melalui penalaran dialektis menjadi pembuka jalan bagi para filsuf selanjutnya. Perubahan focus filsafat dari memikirkan alam menjadi manusia juga dikatakan sebagai jasa dari Socrates.. Manusia menjadi objek filsafat yang penting setelah sebelumnya dilupakan oleh para pemikir hakikat alam semesta. Pemikiran tentang manusia ini menjadi landasan begi perkembangan filsafat etika dan epistemologis dikemudian hari.

Masa Abad Pertengahan

          Pada masa abad pertengahan ini memiliki karakteristik yang khas dibanding fase-fase lainnya. Karena, pada fase inilah tradisi berfikir (Filsafat) bersentuhan langsung dengan tradisi beragama (teologi). Hiruk pikuk para filosof berpilin erat dengan semangat para pemuka agama. Hasilnya, dibeberapa tempat dan masa, filsafat dapat berpadu harmonis dengan nilai-nilai agama. Saling berkontribusi positif dalam memperkaya wawasan intelektual manusia dan peradaban.

            Latar belakang dimulainya filsafat abad pertengahan ini adalah sikap ekstrem para pemuka agama Nasrani didunia Barat (Eropa) pada 476-1492 M. Pada masa ini, para pemuka agama nasrani (pihak Gereja) membatasi aktivitas berfikir para filosof. Berdalih keimanan, segala potensi akal yang bertentangan dengan keyakinan para gerejawan, dibabat habis. Para filosof dianggap murtad, dihukm berat (dikucilkan) hingga hukuman mati.

Masa Modern

            Para filsuf modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio : kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme, sebaliknya, menyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin maupun yang inderawi. Lalu muncullah aliran kritisme, yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu.

            Aliran rasionalis dipelopori oleh Rene Descartes

            Aliran empirisme dipelopori oleh kaum rasionalis.

            Aliran kritisme dipelopori oleh Imanuel Kant

Masa Post Modern

            Bagi para penganut ajaran postmodern, perbedaan merupakan inti dari segala kebenaran. Karena itu, mereka tidak mempercayai kepada hal-hal yang universal, harmonis, konsisten dan transcendental. Tidak ada musyawarah-musyawarahan dalam mencari kebenaran dan menghadapi realitas. Yanga ada hanyalah perbedaan-perbedaan dan perbedaan tersebut harus selalu dihormati.

            Filsafat modern yang dibawah oleh Descartes dianggap melahirkan berbagai dampak buruk untuk dunia dikemudian hari. Filsafat modern, bagaimanapun telah membawa dunia kepada perubahan yang sangat besar. Namun, disisi lain ia juga mendapat kecaman dari berbagai pihak, khususnya aliran Posmodernisme. Pandangan dualistiknya yang membagi seluruh kenyataan menjadi subyek dan obyek, spiritual-material, manusia-dunia, dan sebagainya, telah mengakibatkan obyektisasi alam dan eksploitasi dalam secara besar-besaran dan semena-mena. Akibatnya banyak pihak yang mengecam tindakan ini. Zaman modern selalu dasumsikan denagn kemajuan ilmu pengetahuan dan sebagainya, ternyata tidak dapat diterima begitu saja oleh sebagian yang lain.

 

Abdullah Syarofi

121111132

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi