Filsafat Ilmu
SEPUCUK KISAH DAN SEPUCUK KASIH : DI SAAT MENGIKUTI MATA KULIAH FILSAFAT
Oleh : Abdullah Syarofi
(121111132)
Apa yang dimaksud ilmu itu ?
Apa
yang dimaksud filsafat itu ?
Itulah pertanyaan pertama kali bagi orang yang belum
pernah sama sekali mepelajari ilmu filsafat. Maklumlah namanya orang belum
mempelajarinya pasti mereka bertanya begitu. Mereka belum mengetahui siapa
bapaknya ilmu pengetahuan itu, seberapa pentingkah kita mepelajari ilmu
filsafat itu. Mustahil kalau ada ilmu pengetahuan tetapi tidak ada filsafat,
filsafatlah sebagai pioner suatu ilmu pengetahuan. Dari itulah fungsi filsafat sangat
fital sekali bagi ilmu-ilmu pengetahuan yang lainnya. Semenjak kita dilahirkan
oleh Ibu kita tercinta, kita sudah dibekali suatu ilmu pengetahuan, yang mana
kita sudah bisa membedakan mana air susu ibu yang asli sama yang tidak (dot).
Setelah kita beranjak menjadi besar kita mulai disekolahkan oleh orang tua kita
untuk mencari ilmu dilembaga-lembaga tertentu dengan tujuan agar kita mendapat
suatu ilmu pengetahuan. Dari itulah apa sejatinya ilmu itu, apa sejatinya
pengetahuan, dan apa sejatinya filsafat itu. Ilmu adalah suatu pengetahuan yang
telah diuji kebenaranya secara empiris melalui metode-metode tertentu.
Pengetahuan yaitu segala sesuatu yang diketahui oleh manusia yang masih hidup.
Filsafat adalah keberanian seseorang untuk berterus terang, seberapa jauh
sebenarnya, kebenaran yang dicari telah kita jangkau. Maka dari itulah mustahil
kalau kita belajar untuk mencari ilmu pengetahuan tanpa adanya filsafat.
Filsafat tidak bisa luput atau hilang dari suatu ilmu pengetahuan. Marilah
hidup kita, kita hiasi dengan
berfilsafat agar kita selalu menuju jalan yang lurus.
Ketahuilah apa yang engkau tahu dan ketahuilah apa yang
engkau tidak tahu !!!
********
Sejak awalpun saya tidak tahu apa itu filsafat, mata kuliah macam apa
pula itu, maklum sejak seumur hidup saya masih belum tahu mata kuliah filsafat
itu, tapi kalau sarjana filsafat sih sudah tahu sejak dulu SMP kala, tetapi
salah besar presepsiku tentang sarjana
filsafat pada kala itu dan pembuktiannya pada masa kuliah sekarang, kala itu
presepsi saya tentang filsafat yaitu saya kira sarjana tentang keislaman,
seperti tarih, ushuluddin, tarbiyah dan sebagainya pokoknya UIN banget, benar
sih ada filsafat islam, tapi dengan pembuktian sekarang BLAAANNNKK, salah besar
presepsiku tentang filsafat. Kenyataanya pengertian yang aku dapatkan semenjak
tahu filsafat yaitu keberanian
seseorang untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya, kebenaran yang
dicari telah kita jangkau dan filsafat inilah pion (pilar) dari semua ilmu,
maka dari itulah mustahil kalau kita belajar untuk mencari ilmu pengetahuan
tanpa adanya filsafat. Filsafat tidak bisa luput atau hilang dari suatu ilmu
pengetahuan. Maka dari itulah marilah hidup kita ini, kita hiasi dengan berfilsafat agar kita selalu menuju jalan
yang lurus. Hahhahahahahahahahahh (sok
tahu tentang filsafat). Jujur sihhhhh, pikiran ini sulit bener untuk memahami tentang
filsafat karena di sana banyak bahasa-bahasa yang menyulitkan dan
kisah-kisahnya banyak sekali, jadi mudah lupa padahal saya ingin sekali bisa
memahami mata kuliah filsafat karena semenjak aku terbang di bangku pendidikan
saya masih belum pernah sama sekali mencerna pelajaran filsafat. Ada sih dibuku
penunjang-penunjang itu, tetapi tidak diterangkan bahwa itu dari filsafat,
seperti tokohnya yaitu plato, aristoteles, seingatku nama tokoh-tokoh itu ada
di bidang studi excac kalau tidak salah. Mungkin dari factor-faktor tersebutlah, saya kurang
tertarik dengan mata kuliah pengantar filsafat dan dealektika, tetapi untuk
filsafat ilmu, dan kabar-kabarnya akan dibahas nanti disemester kedua, saya
sangat penasaran sekali dengan filsafat ilmu, bagaimana sih gambarannya dan
penerapannya nanti, semoga aku bisa memahaminya dan mengamalkannya nanti dan so
pasti mudah-mudahan dosennya enak sekali kayak pak kukuh, dan semoga mudah
untuk difahami ketika menerangkannya dan yang terakhir mudah-mudahan saja
tugasnya tidak begitu sulit dan banyak. Kalau boleh tanya kira-kira siapa nanti
pengampuhnya.
Jujur saya Salutttt banget sama Bapak Kukuh
Karnanta,,,,,? Masih seumur jagung sudah menjadi dosen, bahkan tidak di Unair
saja di universitas terkemuka disurabaya lainnya. Sudah begitu, udah mau jadi
sarjana S2. Semoga jejak-jejak anda tersalurkan padaku Bapak…..Kalau boleh
Tanya ? bagaimana sih pak, habis keluar S1
langsung bisa jadi dosen, dosen filsafat pula. Apa resepnya pak, karena
cita-citaku juga ingin jadi dosen dan guru. Saya ingin sekali meniru
jejak-jejak bapak. (mohon untuk jawabanya pak, langsung kirim saja di email
saya).
Jejak anda
menjadi penilaian bagiku
Semoga saya bisa
menjadi seperti anda
Keberhasilan
anda semoga tertular pada diriku
Sejak awal Bapak masuk untuk menggantikan Bapak
Lestiyono, “saya sangat terkagum sekali apa benar dosen penggantinya ini”.
Dalam benakku. Mengapa saya tidak percaya..? karena saya heran masak masih muda
seperti ini sudah menjadi dosen. Tetapi kenyataanya dosen beneran. Subhanallah.
Semoga bapak bisa amanah terhadap apa yang sudah diberikan sama yang maha
kuasa. Dan semoga Lulus dalam menempuh kuliah S2 di UGM, dan so pasti mudah-mudahan
cepat mempunyai pendamping hidup yang sakinah mawaddah warrahmah fiddunya wal
akhirat, doaku menyertai anda, dan semoga kami semua menjadi orang yang
berhasil fiddunya wal akhirat. Aaaammmmiiiiinnnnnn
*Sedikit pesan dari saya semoga bapak sabar dalam
menghadapi mahasiswanya, semoga keaktifan bapak mudah-mudahan berlanjut hingga
pensiun nanti, mudah-mudahan tambah sukses dalam karya-karyanya dan kuliah S2
nya, semoga bapak bisa melanjutkan terus hingga S3.
Sebagai kata-kata terakhir, sedikit
saya persembahkan kata-kata yang tak bermakna untuk Bapak,,,,,,,,,,,,,,
Maafkanlah diriku
Telah kecewakanmu
Mungkin ini terakhir bagiku
Kumohon bukakanlah pintu hatimu
Tuk maafkan diriku
Yang slama ini menyakiti hatimu
Ku
bulatkan tekad tuk menuju
K
E B E R H A S I L A N K U
Demi
menggapai masa depanku
*Sepenggal kata,
sepenggal kalimat yang saya tuliskan dalam pesan dan kesan saat-saat pak kukuh
mau meninggalkan semester satu
*****************
Kurus, cengkring, muda, dan piawai itulah seorang dosen yang
sangat saya segani, umurnya baru seumur jagung tetapi sudah bisa jadi dosen,
“kapan aku jadi seperti itu”, tanya pikiran dan hatiku. Cita-citaku ingin jadi
dosen dan guru, dari itulah saya sangat ingin meniru jejak beliau. Siapakah
beliau, Kukuh Yudha Kaarnanta itulah namanya. Beliaulah selalu menggantikan
dosen asli dari pengampuh mata kuliah filsafat saya yaitu Bapak Listiyono,
mulai semester satu hingga semester dua, yang sangat amat saya anehkan pasti Bapak
Listiyono mengajar di kelas saya pasti cuma pertemuan awal saja yaitu ketika
kontrak kuliah. Di semester satu saya pernah di ampuh oleh Bapak Listiyono
tetapi cuma kontrak kuliah, di semester jugapun saya bisa melihat Bapak
Listiyono ketika awal-awal kuliah saja yaitu masa-masa kontrak kuliah. Entah
kenapa apa yang melatar belakangi kejadian ini terjadi di dua semester awal
saya, mungkin ini sudah direncanakan oleh yang maha tahu.
Jujur ketika awal-awal saya sangat tidak tertarik sekali
dengan mata kuliah filsafat, karena menurut saya terlalu tinggi apa yang
dipelajarinya. Karena sejak SD sampai SMA saya tidak tahu sekalipun tentang
pelajaran ini, bahkan ketika sang dosen (Kukuh) melontarkan pertanyaan hati ini
pasti gemetaran, dan anehnya setiap kali waktu filsafat saya pasti duduk di
bangku paling belakang, karena saya merasa takut jikalau nanti pertanyaanya
tertuju kepada saya, dari alasan itulah saya pasti duduk paling belakang jika
waktu filsafat dimulai. Hari demi hari minggu demi minggu kulalui menjadi
seorang mahasiswa, saya sudah terbiasa dengan kehidupan jadi seorang mahasiswa,
dan sedikit demi sedikit saya mulai bisa mengikuti alur mata kuliah filsafat. Tepat ketika sang dosen membahas
tentang ketuhanan, mulai dari itulah saya mulai tertarik, karena mata kuliah
ini mengajarkan ilmu yang tidak pernah aku pikirkan ketika mulai saya kecil
hingga sekarang.
Ketika saya masih mondok saya pernah mendengar cerita
kyai saya, beliau bercerita tentang kebandelan (kengeyelan) nabi Isa AS, beliau
bercerita bahwa nabi Isa ini bertanya kepada Allah SWT, “ Ya Tuhanku mengapa
kau jadikan manusia di muka bumi ini, pada akhirnya nanti kau masukkan manusia
kedalam surga jikalau taat kepadamu, neraka jikalau tidak taat kepadamu,
percuma sajakan”. (cerita yang diimplementasikan pada masa sekarang) Allah SWT
menjawab atas pertanyaan nabi Isa “ Hai Isa coba sekarang kamu tanam padi yang
saya sediakan ini, coba kamu tanam kalau sudah tua kamu ambil berasnya untuk
kamu makan,,,,,” dari jawaban tersebut akhirnya nabi Isa ini menanam padi
ketika sudah tua padinya, nabi Isa ini mengambil berasnya saja, dan batang
padinya di biarkan disawah pada akhirnya batang padi yang sudah kering ini di
bakar oleh nabi Isa. Dari kejadian inilah nabi Isa ini sadar bahwa seperti
inilah Allah menciptakan manusia dimuka bumi ini. Dari kisah cerita tersebut
itulah akhirnya saya hubung-hubungkan dengan filsafat, akhirnya saya sadar
bahwa mata kuliah inilah yang mempelajari tentang itu yaitu keanehan-keanehan
yang ada di pikiran saya, mulai dari inilah akhirnya saya sangat tertarik
sekali untuk mempelajarinya.
Telah tiba saatnya ujian tengah semester di mulai saya
sangat takut sekali jika nilai mata kuliah filsafat saya jelek, karena
awal-awal saya belum tertarik untuk mempelajarinya, tetapi hasilnya
Alhamdulillah nilai uts saya tidak terlalu jelek amat dan juga tidak terlalu
bagus amat, 65 itulah nilai uts saya, tetapi saya selalu mengerjakan apa yang
ditugaskan oleh dosen filsafat saya, saya berkeinginan nilai uas saya nanti
bagus paling minim B lah, walaupun nilai uts saya kurang menggembirakan.
Alhamdulilllah Allah mengabulkan apa yang saya inginkan untuk mata kuliah
filsafat akhirnya nilai uas saya, saya mendapatkan nilai A, dari inilah saya
sangat amat tertarik lagi untuk mempelajari filsafat dan ketika mau masuk
semester dua sang dosen juga memberikan suatu semangat (iming-iming) bahwa
nanti di semester dua akan mempelajari lebih lanjut tentang ilmu-ilmu filsafat.
Dengan bekal nilai A di semester satu, saya sangat
antusias dan sangat bangga sekali dengan mata kuliah ilmu filsafat, di semester
dua inilah saya mulai bisa mengungkapkan argumen-argumen saya ketika saya
dimintai pendapat oleh sang dosen tercinta. Dari inilah saya sangat tertarik
sekali dengan mata kuliah ini dan dari kuliah inilah menjawab pikiran saya yang
sebelumnya masih samar-samar.
Tepat minggu keempat sebelum uas semester dua, saya
sangat gembira lagi bahwa nilai uts saya dinyatakan nilai paling tinggi di
kelas C yaitu 80, dan dari itulah saya disuruh sang dosen untuk mengawalai
kegiatan stand up filosofi di depan kelas karena nilai saya paling tinggi. Saya
sangat kaget ketika sang dosen mengabari saya seperti itu, akhirnya saya jalani
saja apa yang diperintahkan oleh dosen saya. Dengan kesiapan yang sangat tidak
ada akhirnya saya mengawali kegiatan stand up filosofi, Alhamdulillah stand up
filosofi dapat apresiasi juga dari teman-teman dan dosen saya. Tanpa adanya
kesiapan yang matang saya masih bisa berucap didepan teman-teman dan dosen.
SEKIAN
Komentar
Posting Komentar