Filsafat Ilmu

 

FILSAFAT  ILMU

P A U L  R I C O E U R

 

Paul Ricoeur dianggap sebagai salah seorang filosof terpenting abad keduapuluh. Dia menguasai berbagai aliran filsafat serta mampu menawarkan penilaian-penilaian yang terkendali dan berimbang ikhwal berbagai perdebatan paling penting di masa kini sudah tidak diragukan lagi. Salah satu diantaranya kekuatan ricouer sebagai seorang filosof adalah “hasratnya yang akan mediasi” sebuah kemampuan untuk mendamaiakan filsafat-filsafat  yang nampaknya bertentangan seperti fenomenologi, teori narasi dan hermeneutika, etika deontologist dan kebajika, liberalism dan komunitarianisme, serta hermeneutika ddan kritik ideology.

Paul Ricouer cenderung berpikir dalam terma-terma pertentangan, perpasangan, dan kontras-kontras yang dijajarkan dengan cara sedemikian rupa sehingga mampu menyoroti dan tetap menjaga berbagai perbedaan, sementara melawan godaan-godaan untuk membuat sintesis akan kesatuan baru. Hal-hal yang bertentangan tersebut dapat berjalan bersama dengan mengaitkan mereka dengan cara menandai tempat dari salah satu pandangan dalam konteks pandangan yang lain.

Telos sesungguhnya daru refleksi filosofis rasional adalah sebuah filsafat kritis, baik dalam arti Kantian sebagai upaya mengidentifikasi batas-batas pemahaman dan juga dalam arti Marxian sebagai upaya membongkar kesadaran palsu, yang secara sistematik mendistorsi komunikasi, dan memunculkan dominasi social, eksploitasi, serta penindasan.

 Secara politik dia selalu dianggap sebagai seorang kiri. Sementara dia secara hati-hati menjaga jarak dirinya dari Leninisme-Stalinisme dan versi-versi lain dari totalitarianism politik, dia meneguhkan bahwa kritik atas masyarakat seharusnya tidak hanya dialamatkan pada lembaga-lembaga politik tapi juga lembaga-lembaga ekonomi.

Filsafat politik seharusnya mengalamatkan dirinya secara sama untuk kebebasan politik, kesejahteraan ekonomi, dan keragaman dari kebijakan-kebijakan sosial. Sumbangan Ricouer terhadap filsafat politik yaitu yang pertama sebuah kerangka untuk melakukan interprestasi, analisis, dan kritik, yang kedua mampu mengidentifikasi formasi idiologis dan komunikasi, dan yang ketiga menyoroti karakter moral dan politis. Ada dua persoalan yang jelas-jelas membedakan hermeneutika dan kritik ideologi. Pertama adalah fungsi sejarah dan tradisi dalam pemahaman. Kedua dalam perdebatan Habermas dan Gadamer adalah klaim hermeneutic atas universalitas.

            Bagi Ricouer, hermeneutika adalah sebuah versi dari terminology. Ia tidak lebih dari sebuah sempalan dari fenomenologi daripada sebuah perluasan atau transformasi dari fenomenologi. Dia mengatakan bahwa fenomenologi dan hermeneutika terkait secara dealektis, hermeneutika didasarkan atas prasangka-prasangka fenomenologis, sementara fenomenologi didasarkan atas prasangka-prasangka hermeneutic. Dari pernyataan inilah betapa mirip dan saling melengkapinya dua hal ini tampaknya menentang mazhab-mazhab filsafat tertentu, tetapi banyak kalangan yang mengatakan bahwa fenomenologi beruibah menjadi hermeneutika.

Dari Husserl, Ricouer mempertahankan wawasan terpenting tentang intensionalitas kesadaran dan teknik metodologis pengelompokan. Apa yang kita kelompokkan adalah godaan baik untuk membuat penilaian-penilaian tentang status  ontologism sebuah obyek pengalaman maupun melakukan teoretisasi dan menjelaskan alih-alih menggambarkan pengalaman. Tjuan dari deskripsi fenomenologis adalan untuk  menegaskan pengalaman berkaitan  dengan hubungan intensionala dengan dunia.

Ricouer sangat kritis terhadap tranformasi dari fenomenologi Husserl awal yang bersifat bdeskriptif menuju fenomenologinya yang kemudian bersifat transcendental. Ricour mengatakan, prasangka logisis dalam fenomenologi transcendental merupakan sebentuk idealism yang member hak istimewa bagi konsepsi reflektif dan reprentasional tentang kesadaran di atas segala bentuk lainnya.

Hermeneutika  merupakan sebauh istilah yang dipertentangkan, tidak ada hermeneutika yang umum, tetapi ada beragam hermeneutika, dengan aturan-aturan interprestasi yang berbeda, yang sering kali bersaing atau bahkan bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Disatu kutub bidang hermeneutika ada hermeneutika kepercayaan yang bertujuan memulihkan makna yang hilang, yang dihidupi oleh iman dan kesudian untuk mendengarkan, dikutub yang lainnya terdapat hermeneutika kecurigaan yang bertujuan melakukan demistifikasi, yang dihidupi oleh ketidakpercayaan dan skeptisisme. Hermeneutika yang memulihkan makna adalah hermeneutika yang melenyapkan berbagai ilusi.

Ricouer berargumen bahwa untuk mengenali hubungan saling prasangka ini kita pertama-tama harus menantang interprestasi idealis dari fenemenologi, dia melakukan hal ini dengan mengusulkan empat tesis dari idialisme Husserlian yang ditentang, poin demi poin, oleh hermeneutika pasca heideggrerian :

·         Fenemenologi harus diputushubungkan dengan naturalism dan historirisme yang melambangkan ilmu-ilmu fisika dan social denga tujuan untuk berfungsi sebagai landasan dan justifikasi mutlak ilmu-ilmu tersebut.

·         Intuisi adalah fondasi sains

·         Kedudukan intuisi adalah subyek, bagi subyek tersebut hanya yang imanenlah yang sudah pasti

·         Subyektifitas transcendental bukanlah subyektif empiric yang merupakan obyek psikologi

·         Reduksi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi