Filsafat Kebudayaan

 

BUDAYA KONSUMERISME PADA REMAJA LAKI-LAKI

Abdullah Syarofi

121111132

Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, Jalan Dharmawangsa Dalam, Surabaya, Jawa Timur

 

Pengantar

Dewasa ini budaya remaja yang konsumtif dan memuja pola hidup konsumerisme tidak hanya berlaku pada remaja putri, namun pola prilaku ini juga menjangkit pada remaja laki-laki. Apabila umumnya shopping merupakan kebiasaan bagi remaja putri, kini gejala tersebut telah menular ke remaja laki-laki. Hal ini tentunya menjadi problem yang menjurus pada budaya remaja kita yang sangat konsumtif. Konsumerisme memang adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dicegah karena ia tumbuh dan berkembang dalam sebuah sistem ekonomi pasar bebas dan globalisasi seperti yang terjadi saat ini. Sehingga hampir mustahil untuk menghilangkan habitus tersebut pada diri anak muda zaman sekarang terutama remaja laki-laki. Apalagi di era globalisasi ini unsur-unsur budaya asing seperti pola pergaulan hedonis (memuja kemewahan), pola hidup konsumtif sudah menjadi pola pergaulan dan gaya hidup para remaja kita. Banyak juga remaja laki-laki yang sangat suka menghabiskan uang jajannya hanya untuk berburu barang-barang yang sedang booming seperti topi, t-shirt bermerk, sepatu, dan sebagainya (hight class). Namun bukan itu saja, pola hidup konsumtif remaja laki-laki juga meliputi kendaraan dan pernak-pernik (assesoris)yang melengkapinya. Dalam hal ini modifikasi dan hal-hal yang berbau otomotif juga turut mendukung pola hidup yang boros ini. Budaya konsumerisme sendiri biasanya dilakukan oleh kelompok menengah keatas, hal ini dikarenakan mereka lebih memiliki banyak waktu luang dan mereka juga memiliki cukup uang untuk berfoya-foya. Budaya ini juga memandang salah satunya dalam fashion, bahwa saat ini, tidak ada lagi fashion, yang ada hanyalah passion, tidak ada aturan, yang ada hanyalah pilihan.

Permasalahan

            Dari pengantar di atas dapat kita tarik sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh kita sebagai generasi penerus bangsa yang nampaknya sudah dipengaruhi beberapa dampak dari pola hidup orang barat adalah :

1.      Apakah yang dimaksud budaya konsumen dan politik identitas?

2.      Bagaiamana hubungan antara budaya konsumen dan politik identitas?

3.      Bagaimana fenomena budaya konsumen, dalam kaitanya dengan politik identitas di Indonesia pada saat ini?

Pembahasan

Pengertian Budaya Konsumen dan Politik Identitas

            Budaya konsumen ditinjau dari makna leksikal atau makna kamus terdiri dari dua kata yang berbeda yaitu kata budaya dan konsumen. Budaya adalah pikiran, akal budi; sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Sedangkan konsumen adalah  pemakai barang hasil produksi baik itu bahan pakaian, makanan, dsb. Budaya konsumen adalah istilah yang menyangkut tidak hanya perilaku konsumsi, tetapi adanya suatu proses reorganisasi bentuk dan isi produksi simbolik di dalamnya. Perilaku di sini bukan sebatas perilaku konsumen dalam artian pasif. Namun, merupakan bentuk konsumsi produktif, yang menjanjikan kehidupan pribadi yang indah dan memuaskan, menemukan kepribadian melalui perubahan diri dan gaya hidup. Budaya konsumen menekankan adanya suatu tempat di mana kesan memainkan peranan utama. Saat ini dapat dilihat bahwa banyak makna baru yang terkait dengan komoditi “material” melalui peragaan, pesan, iklan, industri gambar hidup serta berbagai jenis media massa. Dalam pembentukannya, kesan terus menerus diproses ulang dan makna barang serta pengalaman terus didefinisikan kembali. Tidak jarang tradisi juga “diaduk-aduk dan dikuras” untuk mencari simbol-simbol kecantikan, roman, kemewahan, dan eksotika. Budaya konsumen juga dapat diartikan sebagai budaya-budaya yang dilakukan oleh seorang konsumen. Adapun budaya konsumen menggunakan image, tanda-tanda, dan benda-benda, simbolik yang mengumpulkan mimpi-mimpi, keinginan, dan fantasi yang menegaskan keautentikan romantik dan pemenuhan emosional dalam hal menyenangkan diri sendiri bukan orang lain, secara narsistik. Dengan demikian, Lury (1998) menganggap budaya konsumen adalah suatu kondisi dimana konsumsi merupakan proses budaya, atau bagi Don Slater budaya konsumen merupakan kegiatan konsumsi komoditas yang bermakna, seperti yang dikemukakan oleh Weber,  bahwa consumption is a meaningful activity. Sehingga Featherstone kemudian berkeyakinan budaya konsumen tidak lantas membicarakan suatu penilaian tentang sifat konsumen yang pasif untuk dapat digiring dan diatur, melainkan budaya konsumen membuka kemungkinan atas tindakan konsumsi produktif, dalam arti menjanjikan kehidupan pribadi yang indah dan memuaskan atau menemukan kepribadian melalui perubahan diri dan gaya hidup. Budaya konsumen pun merupakan unsur utama dalam produksi budaya masa kini, karena meskipun ada perilaku yang mencoba melawan arus dari kelompok-kelompok baru tertentu, dinamika dalam proses pasar yang selalu mengejar yang baru tersebut menyebabkan budaya konsumen dapat merajut dan mengolah ulang tradisi dan gaya hidup mutakhir ( Evers, 1988). Karena itu budaya konsumen berpijak pada produksi tanda terus menerus, melimpahnya makna yang mengancam pemusnahan makna, dan mengingat keinginannya untuk meloloskan semua makna budaya lewat penyaringannya, maka semua perjuangan sosial sampai batas tertentu berarti perjuangan memperebutkan tanda itu. Maka dalam memahami budaya konsumen, Mary Douglass dan Baron Isherwood (Lury, 1998) berpendapat bahwa konsumsi merupakan fenomena budaya disamping sebagai fenomena ekonomi, benda-benda mempunyai makna selain dari makna ekonomi atau untuk melakukan sesuatu, dan konsumsi (perolehan, penggunaan, dan pertukaran) benda-benda digunakan untuk kehidupan sosial.

Politik identitas ditinjau dari makna leksikal terdiri dari dua kata yang berbeda, sama halnya dengan budaya konsumen yaitu kata politik dan identitas. Politik adalah pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan seperti sistem pemerintahan, dasar pemerintahan dsb. Sedangkan identitas adalah ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang, jati diri.

Politik identitas adalah tindakan politis untuk mengedepankan kepentingan-kepentingan dari anggota-anggota suatu kelompok karena memiliki kesamaan identitas atau karakteristik, baik berbasiskan pada ras, etnisitas, jender, atau keagamaan. Politik identitas merupakan rumusan lain dari politik perbedaan. Secara tegas, Cressida Heyes (dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2007) mendefinisikan politik identitas sebagai penandaan aktivitas politis dalam pengertian yang lebih luas dan teorisasi terhadap ditemukannya pengalaman-pengalaman ketidakadilan yang dialami bersama anggota- anggota dari kelompok-kelompok sosial tertentu. Ketimbang pengorganisasian secara mandiri dalam ruang lingkup ideologi atau afilisasi kepartaian, politik identitas berkepentingan dengan pembebasan dari situasi keterpinggiran yang secara spesifik mencakup konstituensi (keanggotaan) dari kelompok dalam konteks yang lebih luas. Namun, dalam perjalanan berikutnya, politik identitas justru dibajak dan direngkuh kelompok mayoritas untuk memapankan dominasi kekuasaan. Penggunaan politik identitas untuk meraih kekuasaan, yang justru semakin mengeraskan perbedaan dan mendorong pertikaian itu, bukan berarti tidak menuai kritik tajam. Politik identitas seakan-akan meneguhkan adanya keutuhan yang bersifat esensialistik tentang keberadaan kelompok sosial tertentu berdasarkan identifikasi primordialitas. Padahal, sebagaimana dikemukakan Stuart Hall (dalam The Question of Cultural Identity, 1994), identitas merupakan sesuatu yang secara aktual terbentuk melalui proses tidak sadar yang melampaui waktu, bukan kondisi yang terberi begitu saja dalam kesadaran semenjak lahir. Dalam identitas itu, terdapat sesuatu yang bersifat ’’imajiner” atau difantasikan mengenai keutuhannya. Identitas menyisakan ketidaklengkapan, selalu dalam proses, sedang dibentuk.[1]

 

Hubungan Budaya Konsumen dan Politik Identitas

Ketika kita berbicara tentang politik identitas, maka kita tidak bisa luput dari hal yang namanya budaya. Mengapa? Karena Politik identitas adalah kajian ilmu politik yang merupakan bagian dari sub kajian budaya dan partisipasi politik suatu negara dan masyarakatnya. Budaya memiliki banyak sub kajian, diantaranya yaitu budaya konsumen. Budaya konsumen juga tidak bisa luput dari hal politik identitas. Budaya konsumen adalah istilah yang menyangkut tidak hanya perilaku konsumsi, tetapi adanya suatu proses reorganisasi bentuk dan isi produksi simbolik di dalamnya. Perilaku di sini bukan sebatas perilaku konsumen dalam artian pasif. Namun, merupakan bentuk konsumsi produktif, yang menjanjikan kehidupan pribadi yang indah dan memuaskan, menemukan kepribadian melalui perubahan diri dan gaya hidup. Budaya konsumen menekankan adanya suatu tempat di mana kesan memainkan peranan utama. Politik identitas adalah tindakan politis untuk mengedepankan kepentingan-kepentingan dari anggota-anggota suatu kelompok karena memiliki kesamaan identitas atau karakteristik, baik berbasiskan pada ras, etnisitas, jender, atau keagamaan. Politik identitas merupakan rumusan lain dari politik perbedaan. Politik identitas sebagai penandaan aktivitas politis dalam pengertian yang lebih luas dan teorisasi terhadap ditemukannya pengalaman-pengalaman ketidakadilan yang dialami bersama anggota- anggota dari kelompok-kelompok sosial tertentu. Ketimbang pengorganisasian secara mandiri dalam ruang lingkup ideologi atau afilisasi kepartaian, politik identitas berkepentingan dengan pembebasan dari situasi keterpinggiran yang secara spesifik mencakup konstituensi (keanggotaan) dari kelompok dalam konteks yang lebih luas. Namun, dalam perjalanan berikutnya, politik identitas justru dibajak dan direngkuh kelompok mayoritas untuk memapankan dominasi kekuasaan. Penggunaan politik identitas untuk meraih kekuasaan, yang justru semakin mengeraskan perbedaan dan mendorong pertikaian itu, bukan berarti tidak menuai kritik tajam.

 

Fenomena Budaya Konsumen

Prilaku Konsumtif Remaja Laki-laki

            Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja. Di kalangan remaja laki-laki sendiri yang memiliki orang tua dengan kelas ekonomi yang cukup berada, terutama di kota-kota besar, mall dan tempat-tempat nongrong lain seperti café sudah menjadi rumah kedua. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja laki-laki tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Alhasil, muncullah perilaku yang konsumtif.

            Adapun sasaran dari remaja laki-laki yakni fashion dan dunia otomotif. Gaya ala anak band menjadi suatu trend bagi anak muda saat ini dan tentunya menjadi kiblat bagi para styler muda. Belum lagi masuknya budaya korea yang lebi sering kita dengar dengan istilah k-pop menambah hysteria para styler untuk terus mengikuti perkembangannya. Namun seperti yang kita tahu bahwa mode itu selalu berubah dan selalu berkembang, sehingga membuat perilaku konsumtif untuk selalu mengikuti mode yang sedang trend. Perilaku konsumtif pada remaja juga sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebaga usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang in. Dan sebenarnya ada ciri khusus ketika  remaja laki-laki apabila sedang berbelanja, yakni: mudah terpengaruh bujukan penjual, sering tertipu karena tidak sabaran dalam memilih barang, mempunyai perasaan kurang enak bila tidak membeli sesuatu setelah memasuki took, kurang menikmati kegiatran berbelanja sehingga sering terburu-buru mengambil keputusan membeli. Pada kenyataannya pola perilaku konsumtif para ramaja laki-laki ini menjadi suatu keuntungan tersendiri bagi para produsen.

Batasan tipis antara kebutuhan dan keinginan yang menjadikan pemikiran remaja sekarang ini lebih kearah keinginan dan budaya atau mode yang sedang berkembang, proses konsumsi dari remaja sekarang ini tidak tergantung pada substansi kebutuhan tetapi adanya pelekatan mode serta budaya yang sedang berkembang dalam masyarakat. Sehingga membuat pembagian antara kebutuhan dan keinginan menjadi tidak seimbang. Sudah seharusnya disadari bahwa pola perilaku demikian harus segera dibenahi apalagi bila melihat tekhnologi komunikasi yang sudah sangat berkembang terutama iklan yang menjadi pengaruh yang kurang baik bagi remaja.

Fashion Remaja Laki-laki

            Zaman sekarang banyak sekali apalagi era globalisasi ini, banyak anak-anak muda yang sangat menyukai menyalurkan hobinya melalui musik. Contohnya ngeband atau sekedar jadi penikmat musik. Tentunya hobi tersebut mempengaruhi pada fashion yang digunakan, terutama pada remaja laki-laki yang sangat menyukai fashion ala anak band. Bahkan banyak dari remaja laki-laki ini yang rela mengumpulkan uang jajannya agar tetap dapat mengikuti trend fashion yang sedang in.

            Tidak hanya itu, fashion ala korea juga sedang menjadi trend saat ini. Namun bila dibandingkan dengan fashion ala anak band, fashion anak band lebih digemari. Hal ini dikarenakan remaja laki-laki lebih menganggap fahion ala korea terlalu berlebihan dan tidak cocok dengan gaya mereka yang cenderung simple.

Tempat Nongkrong Remaja Laki-laki

            Nongkrong” merupakan menu wajib bagi para remaja saat ini khususnya remaja laki-laki. Mulai dari tempat mewah sekelas café sampai angkringan dipinggir-pinggir jalan menjadi tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu. Banyak hal yang bisa dilakukan pada saat nongkrong, mulai dari sekedar duduk-duduk saja, diskusi bersama teman, sampai nongkrong dengan pacar bisa dilakukan. Namun nongkrong apabila tidak ditemani sekedar minuman atau makanan ringan tidaklah lengkap, dari sinilah prilaku konsumtif muncul. Kebiasaan untuk nongkrong sambil ngemil ini sebenarnya tidak perlu dilakukan karena cenderung boros dan tidak perlu.

Topik obrolan para remaja ini ketika sedang nongkrong bisa “ngalor-ngidul” mulai dari rapat membicarakan kegiatan atau kepanitiaan, mendiskusikan topik-topik yang dianggap serius, “ngerumpi” tentang “cewek” sampai bertukar cerita-cerita lucu yang mengundang tawa. Dengan semakin tingginya daya beli para remaja ini, cafe dan tempat-tempat nongkrong lainnya makin kebanjiran pembeli. Juga diuntungkan lagi dengan kemacetan di kota-kota besar yang semakin parah yang membuat anak-anak muda malas untuk pergi ke lokasi-lokasi yang rawan macet di pusat kota. Lokasi yang strategis, harga murah, tempat yang nyaman, menu minuman dan makanan yang variatif, serta cara penyajian yang berbeda dari cafe biasa membuat tempat tersebut  menjadi salah satu tempat nongkrong favorit remaja laki-laki. Karena sudah menjadi kebiasaan yang menarik bagi remaja ini maka pola perilaku konsumtif kembali muncul.

Namun bagi sebagian kalangan yang memiliki banyak uang, nongkrong ditempat-tempat mewah sudah menjadi kebiasaan yang tidak dapat dilepaskan. Dan dampaknya muncullah prilaku hedonisme dan konsumerisme. Hal tersebut akan menjadi masalah ketika kecenderungan yang sebenarnya wajar pada remaja laki-laki ini dilakukan secara berlebihan. Pepatah “lebih besar pasak daripada tiang” berlaku di sini. Terkadang apa yang dituntut oleh remaja di luar kemampuan orang tuanya sebagai sumber dana. Hal ini menyebabkan banyak orang tua yang mengeluh saat anaknya mulai memasuki dunia remaja. Dalam hal ini, perilaku tadi telah menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya.

Modifikasi Otomotif  bagi Remaja Laki-laki

            Kendaraan merupakan teman yang tidak dapat dipisahkan dari aktifitas kita sehari-hari. Begitu pula bagi para remaja laki-laki, kendaraan yang mereka pakai merupakan cerminan dari diri mereka sendiri. Semakin rapih dan bagus kendaraan yang mereka pakai maka mereka manganggap bahwa diri mereka juga semakin keren. Modifikasi sendiri bukan lah sesuatu yang membutuhkan biaya kecil. Para remaja ini perlu merogoh kocek yang sangat besar untuk memuaskan keinginan mereka yang menginginkan kendaraan mereka tampil keren.

Bagi kalangan ekonomi atas tentunya modifikasi juga menjadi semacam hal yang wajib dilakukan. Bayangkan saja dana yang mereka keluarkan untuk modifikasi bisa mencapai seharga kendaraan itu sendiri. Hal ini seharusnya tidak perlu dilakukan mengingat hal tersebut bukanlah hal penting yang berpengaruh pada kehidupan, tapi lebih mengarah pada klasifikasi sosial. Sekali lagi hal ini dimanfaatkan oleh para konsumen yang memang menargetkan pasarnya pada kalangan usia remaja. Alhasil, perilaku konsumtif tersebut muncul kembali.

Kelengkapan Berkendara Remaja Laki-laki

            Bagi sebagian anak muda yang sangat memuja kerapian, dalam berkendara pun mode sangat di perhatikan. Kelengkapan berkendara seperti helm, sarung tangan, jaket kulit, dan sebagainya menjadi daya tarik tersendiri. Katakan saja helm yang gunanya sebagai pengaman kepala, kini sudah memiliki multi fungsi. Tidak hanya sebagai pelindung helm juga digunakan sebagai mode trend anak muda. Harganya pun sangat bervariasi mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Dan demi mengikuti mode remaja laki-laki rela merogoh kocek hingga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah untuk bisa memiliki helm dengan kualitas dan mode yang sedang in.

Dampak Konsumerisme

Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebaga usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja laki-laki ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang in. Remaja dalam perkembangan dan emosinya masih memandang bahwa atribut yang tidak terlalu penting itu sama penting (bahkan lebih penting) dengan kebutuhan pokok. Apa yang dikenakan oleh seorang artis yang menjadi idola para remaja laki-laki menjadi lebih penting untuk ditiru dibandingkan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan artis idolanya itu untuk sampai pada kepopulerannya.

Perilaku konsumtif ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumtif ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Masalah lebih besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak sehat. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi. Pada akhirnya perilaku konsumtif bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan etika.

Konsumerisme Sebagai cara Pencarian Jati Diri

            Seluruh bagian dari masyarakat memenuhi kebutuhannya dengan kegiatan konsumsi, begitu pula dengan remaja khususnya remaja laki-laki. Namun pada kenyataannya, mereka mengonsumsi bukan melihat dari segi gunanya melainkan dari trend yang sedang berkembang. Contoh yang paling mudah ditemui yakni Gadget yang kini trend, android dan blackberry. Mereka lebih memilih membeli gadget canggih tersebut ketimbang jenis handphone lainnya. Dan juga remaja laki-laki pun kini memiliki kebiasaan yang sama denmgan remaja perempuan yaitu lebih memilih berbelanja di Mall dari pada pasar. Padahal apabila dilihat dari segi gunanya, handphone yang lain juga memiliki kegunaan yang sama dengan gadget canggih sekelas blackberry. Demikian pula segala bentuk barang yang ada di Mall dan di pasar, semua memiliki fungsi yang sama. Hal ini sebenarnya hanyalah permasalahan merk dan gengsi. Karena itulah remaja sekarang cenderung menganut perilaku konsumerisme dan kini hal tersebut menjadi kebiasaan yang sulit untuk di hilangkan. Dari masalah tersebut bisa kita lihat bahwa yang menjadi permasalahan adalah adanya krisis identitas yang dialami oleh remaja laki-laki ini.

            Untuk itulah mengapa cara berpakaian, kebiasaan, hingga aksesoris tubuh menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh bagi seorang remaja khususnya remaja laki-laki. Ia akan sangat sensitive pada terhadap penampilan dirinya sendiri. Dan seperti yang kita tahu juga bahwa remaja adalah kelompok usia yang sangat labil dan sedang mencari identitas diri. Dan hal tersebut menjadi suatu yang sangat menguntungkan bagi para pebisnis. Jika remaja membutuhkan identitas, maka dunia bisnis bisa menawarkan dan menjual berbagai macam identitas bagi para remaja ini. Krisis identitas yang dialami oleh remaja laki-laki ini, telah membuatnya sulit untuk menahan diri dari godaan konsumtif yang ditawarkan oleh para produsen. Budaya konsumerisme yang merebak dikalangan remaja laki-laki didasarkan pada satu motivasi yakni pengakuan akan dirinya. Remaja butuh diakui, baik itu dikeluarga, lingkungan masyarakat, dan teman-teman sebayanya.

            Ketika budaya konsumerisme menjadi suatu cara hidup dalam diri remaja laki-laki ini, hal tersebut hanyalah sebuah identitas semu atau lebih tepatnya disebut identitas tong kosong yang tidak ada isinya. Remaja laki-laki ingin dianggap sebagai orang dewasa, dan budaya konsumerisme pun mengiurkan untuk dilakukan. Sebenarnya budaya konsumerisme hanyalah menawarkan citraan kedewasaan semu seperti rokok, minuman keras, handphone, mobil, dan sebagainya. Semua itu mungkin memberi identitas bagi remaja laki-laki yang ingin dianggap dewasa, tetapi kedewasaan yang mereka alami ialah kedewasaan yang premature, tanpa disertai rasa tanggung jawab.

Peran Media

Agar program untuk mengurangi konsumerisme ini sukses. Pemerintah bisa merangkul media, karena media adalah sosialisasi terbaik untuk masyarakat luas. Media mempunyai pengaruh yang besar dalam memberikan pengaruh kepada masyarakat luas terutama pada remaja laki-laki. Jika pemerintah bisa merangkul media untuk ikut membantu dalam menyukseskan, maka program masyarakat akan terpengaruh juga, karena media adalah pembentuk opini publik. Pemerintah diharapkan juga aktif dalam kegiatan tersebut agar masyarakat juga ikut bersimpati. Jika pemerintah mengadakan acara dan tidak ikut serta, masyarakat juga tidak akan mengikutinya. Mari menuju Indoneisa yang lebih baik.

 

 

Simpulan

Budaya konsumen adalah istilah yang menyangkut tidak hanya perilaku konsumsi, tetapi adanya suatu proses reorganisasi bentuk dan isi produksi simbolik di dalamnya. Perilaku di sini bukan sebatas perilaku konsumen dalam artian pasif. Namun, merupakan bentuk konsumsi produktif, yang menjanjikan kehidupan pribadi yang indah dan memuaskan, menemukan kepribadian melalui perubahan diri dan gaya hidup. Budaya konsumen menekankan adanya suatu tempat di mana kesan memainkan peranan utama.

Politik identitas adalah tindakan politis untuk mengedepankan kepentingan-kepentingan dari anggota-anggota suatu kelompok karena memiliki kesamaan identitas atau karakteristik, baik berbasiskan pada ras, etnisitas, jender, atau keagamaan. Politik identitas merupakan rumusan lain dari politik perbedaan. Politik identitas sebagai penandaan aktivitas politis dalam pengertian yang lebih luas dan teorisasi terhadap ditemukannya pengalaman-pengalaman ketidakadilan yang dialami bersama anggota- anggota dari kelompok-kelompok sosial tertentu. Ketimbang pengorganisasian secara mandiri dalam ruang lingkup ideologi atau afilisasi kepartaian, politik identitas berkepentingan dengan pembebasan dari situasi keterpinggiran yang secara spesifik mencakup konstituensi (keanggotaan) dari kelompok dalam konteks yang lebih luas. Namun, dalam perjalanan berikutnya, politik identitas justru dibajak dan direngkuh kelompok mayoritas untuk memapankan dominasi kekuasaan. Penggunaan politik identitas untuk meraih kekuasaan, yang justru semakin mengeraskan perbedaan dan mendorong pertikaian itu, bukan berarti tidak menuai kritik tajam. 

Setelah kita cari tahu ternyata remaja adalah kelompok usia yang sangat labil dan sedang mencari indentitas diri. Karena keadaannya yang labil inilah mereka cenderung mudah untuk menerima budaya konsumerisme yang lambat laun menjadi suatu cara hidup mereka. Remaja laki-laki sangat rentan akan godaan untuk hidup boros karena kebutuhan akan identitas dan pengakuan. Hal ini membuat mereka cenderung konsumtif dan sering tidak efisien dalam menggunakan uang. Hal ini juga menimbulkan identitas yang semu bagi remaja laki-laki karena budaya konsumerisme yang mereka anut sebagai cara hidup nyatanya hanyalah membuat jiwa mereka kosong dan mudah dikendalikan oleh budaya konsumerisme itu sendiri. Budaya konsumerisme yang mementingkan benda sebagai ukuran kesenangan dan kenikmatan akan menjerumuskan remaja laki-laki masa kini menjadi generasi yang hedonisme (memuja kemewahan) dengan memandang kehidupannya secara sempit (hanya sebatas trend). Maka yang dapat dilakukan agar dapat meminimalisir berkembangnya budaya konsumerisme pada remaja laki-laki ini adalah lebih efisien dan bijak dalam menggunakan uang mereka. Langkah kecil mengawali langkah yang besar, dengan hemat dan efisien maka budaya konsumerisme dapat menjadi suatu yang positif bagi kita.

Daftar Pustaka

Chaney, David. 2009. Lifestyle atau Lifestyle: Sebuah Pengantar Komprehensif. Terj.

Nuraeni. Yogyakarta: Jalasutra.

Lury, Celia. 1998. Budaya Konsumen. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

http://assignmentfilzaty.blogspot.com/2011/11/politik-identitas.html diunduh pada hari Jumat,

10 Januari 2013 pukul 20.23 WIB

 

 



[1] http://assignmentfilzaty.blogspot.com/2011/11/politik-identitas.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi