Filsafat Kebudayaan
Analisis Teori Bourdieu Dalam X
Faktor Indonesia
dan Analisis Filsafat Sastra dan
Bahasa
Abdullah Syarofi (121111132)
Berbicara
tentang penjelasan, prediksi, dan kritik dalam bahasa dan sastra adalah hal
yang sangat qodariyah (qodarnya), karena semua ilmu yang ada di dunia ini pasti
memiliki filsafat atau muncul karena ilmu filsafat. Filsafat adalah pengetahuan yang berminat
mencapai pengetahuan kebenaran yang asli (Plato), filsafat adalah ilmu
pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu
metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika
(Aristoteles), jadi pada intinya bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa filsafat
adalah suatu ilmu yang mencari tentang pengetahuan kebenaran. Bahasa adalah berarti alat komunikasi bagi makhluk
yang ada di dunia ini, tanpa bahasa saya yakin semua makhluk yang ada di dunia
ini tidak bisa memenuhi unsur hidup. Filsafat menjalankan fungsi sebagai kritik
terhadap budaya di dalam budaya ada salah satun unsur yang sangat vital yaitu
bahasa.
Filsafat dapat dikaji melalui tiga teori atau
aspek yaitu, teori epistemologi, teori antologi dan teori aksiologi. Epsitemologi
/ asal mula adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan, ia merupakan
cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber
pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode atau cara memperoleh
pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan, epistemologi juga membahas
bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu epistemologi beserta tolok
ukurnya bagi pengetahuan, seperti teori koherensi, korespondesi, pragmatis, dan
teori intersubjektif. Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar
dan dipercaya. Metode ilmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif
sehingga menjadi jembatan penghubung antara penjelasan teoritis dengan
pembuktian yang dilakukan secara empiris. Secara rasional, ilmu menyusun
pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu
memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. Jika seseorang
ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara, sikap, dan sarana yang
digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. Apa yang diyakini
atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar
kita yang salah. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum
tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. Itulah
sebabnya ilmu pengetahan selalu berubah-ubah dan berkembang. Secara umum dapat
difenisikan sebagai lambang. Pengertian lain dari bahasa adalah alat komunikasi
yang berupa sistem lambang yang dihasilkan oleh alat ucap pada manusia. Perlu
kita ketahui bahwa bahasa terdiri dari kata-kata atau kumpulan kata.
Masing-masing mempunyai makna, yaitu, hubungan abstrak antara kata sebagai
lambang dengan objek atau konsep yang diwakili Kumpulan kata atau kosa kata itu
oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut urutan abjad, disertai
dengan penjelasan artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah kamus atau
leksikon. Pada waktu kita berbicara atau menulis, kata-kata yang kita ucapkan
atau kita tulis tidak tersusun begitu saja, melainkan mengikuti aturan yang
ada. Untuk mengungkapkan gagasan, pikiran atau perasaan, kita harus
memilihkata-kata yang tepat dan menyusun kata-kata itu sesuai dengan aturan
bahasa. Seperangkat aturan yang mendasari pemakaian bahasa, atau yang kita
gunakan sebagai pedoman berbahasa inilah yang disebut Tata bahasa. Di dalam
bahasa ada struktur tersendiri yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, dan
semantik. Pengertian dari Fonologi ialah bagian tata bahasa yang membahas atau
mempelajari bunyi bahasa. Morfologi mempelajari proses pembentukan kata secara
gramatikal beserta unsur-unsur dan bentuk-bentuk kata. Sintaksis membicarakan
komponen-komponen kalimat dan proses pembentukannya. Semantic yaitu bidang ilmu
bahasa yang secara khusus menganalisis arti atau makna kata.
Ontologi / Objek atau sasaran yaitu membahas
keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. Pemahaman ontologi meningkatkan
pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhirya akan
menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana yang ada
sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya. Rizal Mustansyir menyebutkan
bahwa objek material filsafat bahasa adalah kefilsafatan atau bahasa yang
dipergunakan dalam filsafat, sedangkan objek formal filsafat bahasa menurutnya
ialah pandangan filsafat atau tinjauan secara filsafat.
Aksiologi / nilai dan fungsi yaitu meliputi
nilai nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap
kebenaran atau kenyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan.
Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan, baik dalam
melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. Salah satu aspek penting
dari bahasa ialah aspek fungsi bahasa. Secara umum fungsi bahasa adalah sebagai
alat komunikasi, bahkan dapat dipandang sebagai fungsi utama bahasa.
Refrensi
Muhsyanur, Filsafat Bahasa : Hubungan Filsafat Dengan
Bahasa
Soepomo
Poedjosodarmo, Filsafat Bahasa.
X
Factor Indonesia adalah suatu ajang pencarian bakat yang
diadopsi dari The X Factor (Inggris)
dengan sponsor dari FremantleMedia yang bekerjasama dengan RCTI. Ajang ini merupakan
pencarian bakat menyanyi. Berisi acara yang berhubungan dengan musik dan
mengudara selama 200 menit. Acara pencarian bakat ini digelar 2 tahun sekali. Setelah
sukses di 40 negara dan merebut perhatian ratusan juta pemirsa televisi di
dunia, kini program x factor hadir di
indonesia lewat layar RCTI. X factor
indonesia merupakan ajang kompetisi bernyanyi dengan batasan yang luas. Semua
penyanyi dengan usia minimal 15 tahun sampai dengan usia maksimal yang tidak
terbatas, dengan kategori baik solo maupun grup vocal mempunyai kesempatan yang
sama untuk mewujudkan mimpi menjadi bintang dunia. Audisi x factor indonesia berlangsung di 10 kota di Indonesia; Medan,
Bandung, Padang, Balikpapan, Manado, Makassar, Surabaya, Jogjakarta, dan
Jakarta. Berbeda dengan kompetisi bernyanyi lainnya, di x factor Indonesia, peserta tidak hanya bernyanyi di depan 4 orang
juri utama tetapi juga disaksikan oleh ribuan penonton secara langsung.
Penonton di sini akan berperan sebagai juri ke-5 yang bisa mempengaruhi keputusan
juri utama. Ajang ini tidak hanya mencari penyanyi yang mempunyai suara yang
bagus, penampilan yang bagus atau yang lainnya, tetapi ajang X factor Indonesia
ini mencari penyanyi yang mempunyai factor x yang bagus atau karakter dan ciri
khas dari masing-masing peserta kontestan dalam bidang suara atau yang lainnya.
Kontestan
yang lolos dari tahap audisi berhak lanjut ke tahap boot camp. Di tahap ini kontestan akan dibagi menjadi 4 kategori -
solo pria usia 15-24 tahun, solo wanita usia 15-24 tahun, solo pria/wanita usia
25 tahun ke atas dan grup. Tiap kategori akan dimentori oleh satu orang juri
utama. Kompetisi yang berlangsung bukan hanya diantara para kontestan, tapi
para juri pun otomatis ikut berkompetisi, saling berusaha menjadikan kontestan
mereka yang terdepan hingga lolos ke babak final. Sistem Penjurian dalam ajang
ini melalui voting SMS maupun voting melalui telepon, dan setiap minggunya akan
ada Bottom Two yang di
dapatkan dari voting pemirsa dirumah. Lalu, peserta yang masuk ke dalam Bottom Two akan menyanyikan Save Me
Song setelah peserta menyanyikan Save Me Song, Juri akan memberikan
penilaian untuk menyelamatkan kontestan, dan yang mendapatkan hasil tertinggi ( 3-1 ) akan lolos ke babak berikutnya dan yang terendah akan
pulang, bila hasil seri ( 2-2 )
maka akan bertemu sesi Dead Lock
dimana hasil akan mengacu kepada hasil voting pemirsa, dan dari hasil tersebut
di dapatkan hasil voting pemirsa yang terendah, maka yang terendah akan keluar
dari kompetisi.
Ajang x factor
Indonesia di bagi menjadi 6 Tahap, yaitu : Tahap pertama yaitu audition: Tahap ini
merupakan audisi para peserta langsung di hadapan juri dan di saksikan ribuan
penonton. Tahap kedua yaitu boot camp: Pada tahap ini peserta di bagi kedalam
beberapa grup dan dilatih Bernyanyi dan Aksi Panggung, lalu di tampilkan di
depan para juri, dan para juri berhak meloloskan peserta ke babak berikutnya
atau tidak. Disini pula peserta yang lolos di kategorikan. Tahap
ketiga yaitu JHV (Judge Home Visit): Pada
tahap ini peserta bertemu dengan para Mentor mereka di tempat yang
menggambarkan gaya hidup Mentor yang merupakan salah satu dari keempat juri,
dan para peserta juga akan di adu kembali sebelum masuk ke babak berikutnya. Yang
keempat Showcase: Pada tahap
ini kedua belas peserta yg dipilih menampilkan penampilan mereka untuk pertama
kalinya secara live di panggung Gala. Di tahap ini juga dipilih satu peserta yg
sudah tereliminasi dari tahap Judge home
visit (jhv) untuk menjadi peserta ketiga belas (wild card). Tahap yang kelima yaitu gala show: Di tahap ini peserta akan
saling adu kekuatan bernyanyi mereka secara langsung di tonton oleh jutaan
penonton, dan tiap minggunya akan ada yang tereleminasi, peserta lolos ke babak
grand final berikutnya. Tahap keenam yaitu grand final: Di tahap ini 2 peserta ke
kuatan bernyanyi jadi calon juara, juara ke tiga akan yg tereliminasi, para
juri oleh jutaan penonton , 2 peserta lolos ke Result Show berikutnya. Tahap
ketujuh yaitu Result Show: seminggu
babak Grand Final, di tahap peserta atau sehari battle Goes VS on hasil voting
peserta dg voting anda tertinggi, sejarah sang pelaksanaan X Factor Indonesia.
Taruhan (legitimasi) yang diperebutkan dalam ajang
X factor ini adalah legitimasi dari kaum dominan (masyarakat yang suka ajang
ini / pendukung), kaum dominan di sini ada juri dan voting sms seperti yang
dijelaskan di atas. Pada intinya legitimasi yang diperebutkan dalam ajang X
factor ini adalah legitimasi popular karena legitimasi ini yang menentukan
bukan hanya juri saja tetapi yang ikut andil di dalamnya bukan hanya individu
atau kelompok akan tetapi secara keseluruhan.
Ilustrasi Arena Budaya X Factor

Setiap
agen terlahir memiliki struktur subjektif maupun objektif, di dalam sebuah
arena agen memiliki modal tersendiri yang digunakan untuk bertaruh dalam arena
tersebut dan setiap agen pasti memiliki modal yang berbeda-beda. Begitupun
kontes X factor yaitu memiliki penyanyi-penyanyi yang bermodal berbeda-beda
dalam hal tarik suaranya (vokalnya) ada yang memiliki modal jazz, modal rock,
modal keroncong, modal pop, dan modal lain sebagainya. Dari inilah bisa
ditelusuri bahwa mereka memiliki ciri khas suara masing-masing penyanyi
(peserta) seperti itu pasti memiliki beberapa alasan baik itu dilihat dari
struktur subjektif maupun objektif dalam diri penyanyi (peserta).
Arena
adalah suatu ruang atau tempat yang terdapat banyak perbedaan di suatu tempat
itu, namun mempunyai satu tujuan yang sama untuk memperebutkan kekuasaan dalam
suatu hal. Arena mempunyai dua fraksi yaitu fraksi dominasi yaitu fraksi yang
mempunyai relasi kuasa atas daerah
otonomnya, sedangkan fraksi terdominasi adalah para agen yang sedang bertarung
memperebutkan legitimasi dari kaum yang mendominasi. X factor adalah salah satu
contoh arena budaya X factor di sebut dengan arena budaya karena X factor
merupakan suatu ruang atau tempat yang terdapat banyak perbedaan di suatu
tempat itu, namun mempunyai satu tujuan yang sama untuk memperebutkan kekuasaan
dalam suatu hal. Dapat diketahui bahwa X factor Indonesia merupakan suatu ajang
pencarian bakat menyanyi yang memiliki beberapa genre yang berbeda diantaranya
pop, rock, jazz, dangdut dsb, namun semua itulah penyanyi ingin mendapatkan
kekuasaan atau juara dalam ajang tersebut.
X factor Indonesia ini memiliki fraksi terdominasi adalah para penyanyi
yang sedang bertarung memperebutkan legitimasi dari kaum yang mendominasi atau
ingin merebutkan juara yang diberikan oleh kaum yang mendominasi. Di dalam
suatu arena terdapat sebuah kuasa simbolik diantaranya pertama doksa yaitu
(anggapan umum) semesta yang tidak terdiskusikan, semua orang menganggap bahwa
X factor adalah kontes ajang pemilihan bakat menyanyi, benar anggapan itu
anggapan yang sangat umum dan benar-benar ada kontes itu, kedua heterodoksa
yaitu suatu anggapan atau pandangan yang menentang secara umum di arena itu,kaum
heterodoksa meenganggap bahwa ajang X factor bukan konteks pemilihan bakat
menyanyi tetapi ajang untuk menjadi artis, dari kuasa simbolik heterodoksa
inilah kuasa simbolik yang ketiga ortodoksa muncul yaitu proses melakukan dan
merasionalisasi apa yang dikemukakan oleh kaum heterodoksa bahwa ajang X factor
terbukti sebagai ajang pemunculan artis baru.
Refrensi :
Komentar
Posting Komentar