Foklor
SEJARAH DAN
PERKEMBANGAN JARANAN JOR : ASET BERHARGA BAGI MASYARAKAT KOTA BLITAR
(Disusun untuk memenuhi tugas UAS Folklor)
SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU
BUDAYA
UNIVERSITAS
AIRLANGGA
2013
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan
semesta alam yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Shalawat serta salam semoga
tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, yang telah
membimbing kita dari zaman yang terang benderang seperti pada saat ini yaitu
keislaman.
Makalah
yang berjudul “Sejarah
dan Perkembangan Jaranan Jor : Aset Berharga Bagi Masyarakat Kota Blitar”. ini merupakan tugas kelompok penelitian mata kuliah Folklor.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak akan berhasil tanpa
pengarahan, bimbingan, motivasi serta bantuan moril maupun materiil dari
berbagai pihak.
Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik
dan saran konstruktif sangat kami harapkan sebagai penyusun makalah ini.
Surabaya, 28 November 2013
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Indonesia
adalah negara
yang wilayahnya terbentang luas dari ujung timur (Sabang) sampai ujung barat
(Merauke). Indonesia adalah Negara dengan julukan gemah ripah lohjinawi, yang
berarti Negara yang sangat kaya raya. Baik dari sumber daya alam maupun sumber
daya manusia.
Salah
satu aset dari kekayaan Indonesia tentu adalah kebudayaan. Keberagaman
masyarakat Indonesia sangat berpengaruh terhadap budaya yang ada dan berkembang
pada masyarkat tersebut.
Kebudayaan tidak akan pernah dapat dilepaskan dari globalisasi. Barker
(2004) mengatakan bahwa globalisasi merupakan koneksi global ekonomi social,
politik dan budaya. Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa globalisasi
dapat mendukung berkembangnya suatu kebudayaan, globalisasi sendiri adalah
suatu fenomena dalam mayarakat. Kemunculannya memilki dampak yang positif dan
negative terhadap kebudayaan. Dampak positifnya adalah tentu kebudayaan dalam
masyrakat akan semakin berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
tekhnologi, sedangkan dampak negatifnya adalah nilai – nilai asli atau nilai
luhur kebudayaan mungkin akan hilang karena tercampur dengan berbagai macam
kebudayaan luar yang masuk ke Indonesia.
Dari
fenomena di atas ada satu kebudayaan yang kami anggap penting untuk dibahas
dalam makalah ini yaitu Jaranan Jor
merupakan salah satu bentuk kesenian yang sudah akrab ditelinga masyarakat Jawa
khususnya Jawa timur. Kesenian Jaranan masih dapat kita lihat di daerah
Tulungagung, Blitar, dan Kediri. Dari berbagai macam jenis Jaranan di Jawa
timur, ada benang merah yang menghubungkan semuanya, yaitu Jaranan adalah salah
satu bentuk kesenian tradisi yang diadaptasi dari cerita kejadian atau
peristiwa yang terjadi pada masa kerajaan-kerajaan. Yang membedakan adalah
bagaimana kesenian tersebut kemudian dikemas di daerah awal Jaranan tersebut
terbentuk. Tetapi persoalan
yang kemudian muncul adalah dalam perkembangannya, masyarakat yang melihat
kesenian Jaranan Jor ini seolah-olah kurang mengapreasiasi dan hanya tertarik saat
pemain Jaranan Jor kesurupan. Ini seolah-olah menjadi persoalan tersendiri, bagaimana bisa kesenian
Jaranan Jor ini dilestarikan jika generasi penerus tidak memahami latar
belakang kesenian Jaranan Jor tersebut.
Maka
dari itulah, kami sebagai generasi penerus bangsa dan kami ahli dalam penelitian
ini, maka kami mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga mencoba untuk
mendekati sedekat mungkin dengan kebudayaan Jaranan Jor ini dan sebagai pemuda
kami berusaha untuk bisa membesarkan nama Jaranan Jor ini melalui pelestarian
dan pengembangan di era sekarang.
Makalah
yang kami buat ini adalah uraian singkat dari hasil penelitian kami di dalam
Praktek Kerja Lapangan Mata Kuliah Folklor, makalah ini kami beri judul
“Sejarah dan Perkembangan Jaranan Jor : Aset Berharga Bagi Masyarakat Kota
Blitar”. Makalah ini membicarakan tentang sejarah munculnya Jaranan Jor, perkembangan
Jaranan Jor mulai berdiri sampai saat ini dan makna yang terkandung di dalam
Jaranan Jor ini.
1.2 Rumusan
Masalah
Dari
uraian yang terdapat di latar belakang di atas maka rumusan masalah yang mucul
pada makalah ini adalah :
1.
Bagaimana
sejarah kesenian Jaranan Jor ?
2.
Bagaimana
perkembangan kesenian Jaranan Jor Ngasinan di Masyatakat ?
1.3 Tujuan
Penelitian
Mengingat
kajian penelitian ini lebih bersifat analisis deskriptif, maka tujuan yang
hendak dicapai adalah :
1.
Membongkar
sejarah
kesenian Jaranan Jor Ngasinan.
2.
Mengetahui
perkembangan kesenian Jaranan Jor Ngasinan di Masyatakat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Hakekat
Foklor
Folklor adalah kata majemuk yang
berasal dari kata folk dan lore. Folk adalah sekelompok orang yang memiliki
ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari
kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu berupa warna kulit yang sama,
bentuk rambut yang sama, mata pencaharian yang sama, bahasa yang sama, taraf
pendidikan yang sama, dan agama yang sama. Jadi folk sinonim dengan kolektif
yang juga memiliki ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta
mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat. Sedangkan lore
adalah tradisi folk, yaitu sebagian kebudayaanya, yang diwariskan secara
turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak
isyarat atau alat pembantu pengingat.
Definisi folklor secara keseluruhan
adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan
turun-temurun diantara kolektif macam apa saja secara tradisional dalam versi
yang berbeda baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak
isyarat atau alat pembatu pengingat. Pengertian folklor zaman sekarang dengan
zaman Belanda sangat berbeda sekali, para sarjana antropologi Belanda sebelum
PD II membatasi folklor hanya sebagai kebudayaan petani desa Eropa, sedangkan
kebudayaan orang luar Eropa adalah kebudayaan primitif. Hal itu disebabkan
zaman kolonial bahwa walaupun folklor kebudayaan petani desa lebih rendah dari
kebudayaan kota Eropa, namun lebih luhur
dibandingkan dengan kebudayaan primitif Indonesia.
Obyek penelitian folklor di
Indonesia sangat luas sekali. Misalnya dari perbedaan ciri-ciri pengenal
kebudayaan mata pencaharian hidup yaitu pada petani desa, nelayan, pedagang dan
sebagainya. Pada perbedaan ciri-ciri pengenal kebudayaan bahasa bukan hanya
orang jawa, tetapi juga sunda, bugis dan sebagainya. Pada perbedaan ciri-ciri
pengenal agama yang sama beragama islam melainkan agama, hindu, budha, dan sebagainya. Agar
dapat membedakan folklor dari kebudayaan lainnya, kita harus mengetahui dahulu
ciri-ciri pengenal utama folklor pada umumnya yang dapat dirumuskan sebagai
berikut :
- Penyebaran
dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui
tutur kata dari mulut ke mulut atau dengan suatu contoh yang disertai dengan
gerak isyarat dan alat pembantu pengingat dari satu generasi ke generasi
berikutnya.
- Folklor
bersifat tradisional yakni disebarkan dalam bentuk relative tetap atau
dalam bentuk standart. Disebabkan diantara kolektif tertuntu dalam waktu
yang cukup lama paling sedikit dua generasi.
- Folklor
ada exist dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini
diakibatkan oleh cara penyebaranya dari mulut ke mulut, biasnya bukan
melalui cetakan atau rekaman, sehingga oleh proses lupa diri manusia atau proses
interpolasi. Foklor dengan mudah dapat mengalami perubahan. Walaupun
demikian perbedaanya hanya terlertak pada bagian luarnya saja, sedangkan
dasrnya dapat tetap bertahan.
- Folklor
bersifat anonym, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi.
- Folklor
biasanya mempunyai bentuk berumus dan berpola. Cerita rakyat misalnya,
selalu mempergunakan kata-kata klise seperti “bulan empat belas hari”
untuk menggambarkan kecantikan seorang gadis.
- Folklor
mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama suatu kolektif. Ceruat rakyat
misalnya mempunyai kegunaan sebagai alat pendidik, peliput lara, protes
social dsb.
- Folklor
bersifat pralogis yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan
logika umum. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan
sebagian lisan.
- Folklor
menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Hal ini sudah tentu
diakibatkan karena penciptanya yang pertama sudah tidak diketahui lagi,
sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
- Folklor
pada umumnya bersifat polos dan lugu, sehingga seringkali kelihatanya
kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat dimengerti apabila mengigat bahwa
banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur
manifestasinya.
2.2
Seni
Kebudayaan Jaranan Jor
Jaranan adalah suatu seni tari yang
dimainkan dengan menaiki kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang).
Dalam memainkan seni ini biasanya juga diiringi dengan musik khusus yang
sederhana yaitu dengan gong, kenong, kendang dan slompret (alat musik tradisional).
Tidak diketahui secara pasti mengenai asal-usul permainan ini, karena telah
disebut oleh banyak daerah sebagai kekayaan budayanya. Hal ini terjadi karena
si pencetusnya tidak mematenkan permainan ini sehingga bisa dimainkan oleh
siapapun. Di Jawa Timur saja seni akrab dengan masyarakat dibeberapa daerah,
sebut saja Blitar, Malang, Nganjuk, dan Tulungagung. Disamping daerah-daerah
lainnya, jika dilihat dari model permainan ini, yang menggunakan kekuatan dan
kedigdayaan, besar kemungkinan berasal dari daerah-daerah kerajaan di Jawa.
Panggung rakyat dan perlawanan terhadap penguasa pada masa kekuasaan
pemerintahan Jawa dijalankan dibawah kerajaan, aspirasi dan ruang bergumul
rakyat begitu dibatasi, karena perbedaan kelas dan alasan kestabilan kerajaan.
Dan dalam kondisi tertekan, rakyat tidaklah mungkin melakukan perlawanan secara
langsung terhadap penguasa. Rakyat sadar bahwa untuk melakukan perlawanan,
tidak cukup hanya dengan bermodalkan cangkul dan perang, namun dibutuhkan
kekuatan dan kedigdayaan serta logistik yang cukup. Menyadari hal itu, akhirnya
luapan perlawanan yang berupa sindiran diwujudkan dalam bentuk kesenian, yaitu
kuda lumping. Sebagai tontonan dengan mengusung nilai-nilai perlawanan,
sebenernya kuda lumping juga dimaksudkan untuk menyajikan tontonan yang murah
untuk rakyat. Disebut sebagai tontonan yang murah meriah karena untuk
memainkannya tidak perlu menghadirkan peralatan musik yang banyak sebagaimana
karawitan. Dipilih kuda, karena kuda adalah simbol kekuatan dan kekuasaan para
elit bangsawan dan prajurit kerajaan ketika itu yang tidak dimiliki oleh rakyat
jelata. Permainan kuda lumping dimainkan dengan tanpa mengikuti pakem seni tari
yang sudah mapan sebelumnya menunjukkan bahwa seni ini hadir untuk memberikan
perlawanan terhadap kemapaman kerajaan.
Selain sebagai media perlawanan,
seni kuda lumping juga dipakai oleh para ulama sebagai media dakwah, karena
kesenian kuda lumping merupakan suatu kesenian yang murah dan cukup digemari
oleh semua kalangan masyarakat, seperti halnya Sunan Kalijogo yang menyebarkan
islam atau dakwahnya lewat kesenian wayang kulit dan tembang dandang gulo,
beliau dan para ulama jawa juga menyebarkan dakwahnya melalui kesenian-kesenian
yang salah satunya adalah seni kuda lumping.kesenian kuda lumping digunakan sebagai
hiburang masyarakat disela dakwa, bukan sebagai media penyebaran melainkan
hanya sebagai hiburan masyarakat. Karena dakwa pada jaman dahulu tidak
semata-mata hanya menampilkan ceramah agama tetapi juga sebagai hiburan
masyarakat yang cukup naik daun pada masanya.
Bukti bahwa kesenian ini adalah
kesenian yang mempunyai sifat dakwah, adalah dapat dilihat dari isi cerita yang
ditunjukan oleh karakter para tokoh yang ada dalam tarian kuda lumping,
tokoh-tokoh itu antara lain para prajurit berkuda, barongan dan celengan. Dalam
kisahnya para tokoh tersebut masing-masing mempunyai sifat dan karakter yang
berbeda, simbul kuda menggambarkan suatu sifat keperkasaan yang penuh semangat,
pantang menyerah, berani dan selalu siap dalam kondisi serta keadaan apapun,
simbol kuda disini dibuat dari anyaman bambu, anyaman bambu ini memiliki makna,
dalam kehidupan manusia ada kalanya sedih, susah dan senang, seperti halnya
dengan anyaman bambu kadang diselipkan ke atas kadang diselipkan ke bawah,
kadang ke kanan juga ke kiri, semua sudah ditakdirkan oleh yang kuasa, tinggal
manusia mampu atau tidak menjalani takdir kehidupan yang telah digariskan-Nya,
barongan dengan raut muka yang menyeramkan, matanya membelalak bengis dan buas,
hidungnya besar, gigi besar bertaring serta gaya gerakan tari yang seolah-olah
menggambarkan bahwa dia adalah sosok yang sangat berkuasa dan mempunyai sifat
adigang, adigung, adiguno yaitu sifat semaunya sendiri, tidak kenal sopan
santun angkuh, simbol celengan atau babi hutan dengan gayanya yang
sludar-sludur lari kesana kemari dan memakan dengan rakus apa saja yang ada
dihadapannya tanpa peduli bahwa makanan itu milik atau hak siapa, yang penting
ia kenyang dan merasa puas, seniman kuda lumping mengisyaratkan bahwa orang
yang rakus diibaratkan seperti celeng atau babi hutan.
Sifat dari para tokoh yang
diperankan dalam seni tari kuda lumping merupakan panggilan atau gambaran dari
berbagai macam sifat yang ada dalam diri manusia. Para seniman kuda lumping
memberikan isyarat kepada manusia bahwa didunia ini ada sisi buruk dan sisi
baik, tergantung manusianya tinggal ia memilih sisi yang mana, kalau dia
bertindak baik berarti dia memilih semangat kuda atau prajurit untuk dijadikan
motifasi dalam hidup, bila sebaliknya berarti ia memilih semangat dua tokoh
berikutnya yaitu barongan dan celengan atau babi hutan.
2.3
Sejarah Jaranan Jor
Jaranan jor adalah salah satu seni
kebudayaan asli Indonesia tepatnya dari kota Blitar, salah satu desa yang
sampai saat ini masih mempertahankan tarian ini adalah satu kelompok kesenian yang bernama Jaranan
Sidomulyo yang berasal dari masyarakat desa Sukorejo kecamatan Sutojayan
Kabupaten Blitar. Tarian Jaranan Jor ini
sebenarnya berasal dari desa Ngasinan
dan berkembang di masyarakat diperkirakan tahun 1911, Menurut cerita yang beredar dahulu di desa
Ngasinan terdapat sumur yang konon mata
air dari sumur tersebut airnya asin tidak pernah tawar . Jaranan Jor ini
sejarahnya tidak sama dengan jaranan-jaranan yang lain, jaranan Jor ini
sebenarnya dari Tulungagung, tetapi masyarakat Tulungagung tidak ada yang
berminat dalam kesenian ini, yang hanya berkembang dan satu-satunya di desa
Sukorejo ini. Tari Jaranan Jor paling sedikit dimainkan oleh 17 orang yang dibagi menjadi pemain alat
musik dan penari. Di dalam kesenian Jaranan
Jor ini dibagi menjadi empat bagian atau sesi. Agar lebih jelasnya akan kami
ilustrasikan dalam cerita di bawah ini, akan tetapi waktu yang singkat membuat
kami sedikit kurang puas, karena Jaranan Jor ini biasanya tampil dalam jangka
waktu kurang lebih 7-8an jam, tetapi hanya ditampilkan dihadapan kami kurang lebih hanya 3 jam, keterangan dari
informan bahwa Jaranan Jor yang ditampilkan disingkat-singkat.
1. Tari
Tayungan
Pada
sesi pertama, yaitu tari tayungan. Makna yang terkandung dari gerakan tarian
ini menceritakan Prajurit dari Jenggolo Kediri diutus oleh seorang raja bernama
Prabu Adi Luhur untuk mencari putrinya yang bernama Dewi Sekar Taji yang
melarikan diri ke dalam hutan. Para prajurit tersebut digambarkan dengan sosok
kuda, para prajurit pergi ke dalam hutan. Di dalam perjalanannya, para prajurit
Raja Kediri bertemu dengan prajurit dari kerajaan lain, sehingga mereka
berperang satu sama lain. Beruntung, karena para prajurit berhasil mengalihkan
peperangan dengan melarikan diri lebih jauh.
2. Tari
Barongan
Setelah
berjalan cukup jauh, pada bagian kedua atau sesi tari kedua yaitu tari
barongan, tari barongan ini menceritakan munculnya sosok singa berkepala naga,
sosok tersebut biasa disebut dengan singo barong. Singo barong adalah sosok
perampok yang keluar dari sarangnya. Ia bangun dari tidur nyenyaknya dan keluar
dari kandangnya karena musim kemaraunya yang tak kunjung berganti, musim
kemarau yang berkepanjangan membuatnya mengangakan mulutnya untuk mencari
mangsa dengan cara memasuki desa dan mengganggu warga dan merampok hasil panen
para petani yang bertempat tinggal di desa tersebut. Ditengah perjalanan singo
barong tersebut bertemu dengan 6 prajurit kerajaan Jenggala. Terjadilah
pertempuran sengit antara singo barong dan 6 prajurit jenggala. Akhirnya
ditengah pertempuran para prajurit tersebut tewas satu persatu-satu dan
menyisakan satu prajurit yang tetap bertahan dan akhirnya satu prajurit
tersebut berhasil melarikan diri dari serangan singo barong.
3. Tari
Dedet Melet
Sesi
ketiga dalam Jarana Jor ini yaitu Tarian Dedet Melet, tarian ini yaitu puncak
dari pertunjukkan seni Jaranan Jor, tarian ini menceritakan ada seekor anjing
dan babi yang selalu bertengkar untuk mencari makan. Seekor anjing ini memiliki
seorang pawang dan anjing ini selalu menurut ketika disuruh oleh pawang. Di
akhir pertunjukan seekor babi ini benar-benar puncak amarahnya, karena ketika
anjing diberi makanan babi ini tidak diberi, akhirnya seekor babi ini mencari
makan ada dan memakan semuanya tanpa tersisa apapun.
2.4
Alat-alat
Musik yang digunakan dalam Tarian Jaranan Jor
Dalam kesenian Jaranan Jor, aransemen
musik yang mengiringi dalam tarian tersebut tidak luput dari gabungan beberapa
alat-alat musik. Alat-alat musik yang mengiringi tarian Jaranan Jor adalah :
1. Gong
2. Gendang
3. Angklung
4. Kempul
5. Kenong
6. Angkrik
7. Slompret
8. Penembang
Lagu
Setelah alunan musik
pertama usai, para penari memasuki arena pertunjukkan dengan dipandu irama
kendang. Ritme pertunjukan pun secara keseluruhan dipandu secara berirama oleh
pengendang. Suara kendang yang membahana. Deng dong dong dong dong deng tak
adalah tanda bagi penari Jaranan Jor untuk merubah bentuk gerak kaki. Music
terus bergulir dengan nada datar tung tak tung dor ken tung tak tung ken tung
dor tang tang dor dang tak dang dor. Sementara itu suara angklung mengalun
mengiringi irama kendang.
Para prajurit yang berjumlah enam orang, dengan
kompak mengikuti alunan musik selamat datang. Mereka mengenakan atribut khas
jaranan joor, yang berupa udeng yang diikatkan di kepala, sapu tangan merah
terkalungkan di leher, rompi dan baju berwarna putih. Mereka juga mengenakan stagen warna hitam, lantas dibalut dengan
ikat pinggang berkomposisi tiga warna; putih, merah, dan hitam. Di bagian
bawah, penari mengenakan celana panjang sebawah lutut, lalu dibalut sarung
plekat, dan dengan menggunakan kacamata hitam yang digunakan para prajurit.
Setelah tarian pembuka usai, pawang memasuki arena pertunjukan dengan
membawa perapian yang berisi arang yang ditaburi kemenyan. Perapian ini ingin
menggambarkan anasir warna putih, merah, dan hitam sebagaimana yang tertuang
dalam warna jaranan kepang dor. Warna tersebut memiliki arti tersendiri. warna
putih (seto) menggambarkan manusia lahir itu suci, tidak
memiliki dosa apapun. Warna merah (wreto)
menggambarkan bahwa bayi yang akan menjalani kehidupan di dunia itu akan
mengalami banyak permasalahan dan tantangan.
2.5
Sesajen
yang dipersiapkan untuk pertunjukkan Jaranan Jorr
Dalam
pelaksanaannya Tarian Jaranan Jor juga memerlukan beberapa sesajen yang
dibutuhkan untuk keperluan ritual, ini semata-mata dilakukan agar pertunjukkan
bisa berjalan dengan lancar dan sesuai harapan. Sesajen yang disajikan dalam
pertunjukkan tersebut diantaranya yaitu :
1. Ayam
2. Nasi
Putih
3. Bunga
4. Buah
5. Kelapa
6. Bunga
kenanga
7. Air
Sira Badeg (Air Vermentasi yang berfungsi untuk Menambah kekuatan)
8. Beras
kencur
9. Kacang
hijau
2.6
Data Informan
1.
Nama :
Budi Santoso
Jabatan : Perangkat Desa &
Ketua Jaranan Jor
Alamat : Desa Ngasinan
Nomor Hp : 081232457678
Pekerjaan : Perangkat Desa
2.
Nama :
Firdaus Budi Nyata
Jabatan : Ketua PKL Mata Kuliah Folklor
Alamat : Jl. Jojoran No. 63 K Surabaya
Nomor Hp : 085645932988
Pekerjaan : Mahasiswa
2.7 Waktu
Penampilan
Jaranon Jor rutin ditampilkan pada
waktu penjamasan gong Mbah Prada yaitu pada tanggal 1 Syawal (pada hari raya
idul fitri) dan tanggal 12 Rabiul Awal (tanggal kelahiran nabi akhiruz zaman
nabi agung Muhammad SAW)
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Jaranan
Jor adalah merupakan salah satu peninggalan sejarah, termasuk juga salah satu
bukti dari Folklor. Folklor yaitu sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang
tersebar dan diwariskan turun-temurun diantara kolektif macam apa saja secara
tradisional dalam versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang
disertai dengan gerak isyarat atau alat pembatu pengingat. Jaranan Jor ini
merupakan ciri dari folklor karena Jaranan Jor ini dianggap sebagai sejarah
yaitu cerita yang pelakunya memiliki perjalanan yang sangat bagus atau mendapat
penghargaan dan legenda yaitu cerita rakyat yang seolah-olah terjadi
sebenarnya, pelakunya adalah manusia.
Jaranan
jor adalah salah satu seni kebudayaan asli Indonesia tepatnya dari kota Blitar,
salah satu desa yang sampai saat ini masih mempertahankan tarian ini
adalah satu kelompok kesenian yang
bernama Jaranan Sidomulyo yang berasal dari masyarakat desa Sukorejo kecamatan
Sutojayan Kabupaten Blitar. Tarian
Jaranan Jor ini sebenarnya berasal dari
desa Ngasinan dan berkembang di masyarakat diperkirakan tahun 1911, Menurut cerita yang beredar dahulu di desa
Ngasinan terdapat sumur yang konon mata
air dari sumur tersebut airnya asin tidak pernah tawar . Jaranan Jor ini
sejarahnya tidak sama dengan jaranan-jaranan yang lain, jaranan Jor ini
sebenarnya dari Tulungagung, tetapi masyarakat Tulungagung tidak ada yang
berminat dalam kesenian ini, yang hanya berkembang dan satu-satunya di desa
Sukorejo ini. Tari Jaranan Jor paling sedikit dimainkan oleh 17 orang yang dibagi menjadi pemain alat
musik dan penari. Di dalam kesenian
Jaranan Jor ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu tari tayungan, baraongan
(singo barong), dan dedet melet.
DOKUMENTASI PENELITIAN
1. Pawang
Tarian Jarana Jor
2.
3. Barong
(Singa berkepala Naga) / Tarian Barongan
4.
5. Bertanya
Kepada Informan
6.
7. Kelompok
Peneliti Jaranan Jor
8. Dedet
Melet
Komentar
Posting Komentar