Ilmu Alamiah Dasar
SPESIES
TIDAK DAPAT BERUBAH
(Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir
Ilmu Alamiah Dasar)
KATA
PENGANTAR
Dengan
mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan
berkat dan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Spesies Tidak Dapat Berubah”.
Makalah
ini disusun dan disajikan sebagai salah satu tugas mata kuliah Ilmu
Alamiah Dasar. Penulis menyadarai bahwa penyusunan makalah ini masih
banyak kekurangan, namun penulis telah berusaha seoptimal mungkin dalam
mengerjakan makalah ini, untuk itu saran dan kritiknya dari semua pihak yang
bersifat membangun untuk memperbaiki dan melengkapi segala kekurangan sangat
kami harapkan. Harapan terakhir semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi
penulis dan pembaca pada umumnya.
Surabaya, 20 Maret 2012
Penulis
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Teori
evolusi adalah teori yang menjelaskan tentang proses perubahan isi alam ini
yang berlangsung sedikit demi sedikit atau bertahap dalam kurun waktu lama. Isi
alam meliputi makhluk hidup dan benda mati. Proses perubahan yang terjadi pada
makhluk hidup dinamakan evolusi evolusi biotik/organik, dan perubahan yang
terjadi pada benda mati dinamakan evolusi abiotik/anorganik. Perubahan pada
makhluk hidup ada yang menuju ke kemungkinan dapat bertahan hidup/survive atau
mati/punah.
Teori
Abiogenesis muncul sejak jaman Yunani, dikemukakan oleh Aristoteles. Teori
Abiogenesis menyatakan bahwa kehidupan dapat timbul dri benda mati. Pernyataan
tersebut dikemukakan berdasarkan pada data hasil pengamatan sehari-hari. Data
yang diperoleh antara lain adalah ditemukannya tikus pada tumpukan kain usang,
munculnya belatung dari daging busuk di tempat yang terbuka. Pernyataan itu
sempat menimbulkan masalah tentang bagaimana proses terjadinya. Masalah itu
oleh Aristoteles dijawab dengan satu pernyataan “Kehidupan tejadi secara
spontan”. Pernyataan itu pada akhirnya dikenal sebagai teori Generatio Spotanea. Teori Abiogenesis
bertahan dan dianut orang sampai dengan abad pertengahan.
Rumusan
Masalah
·
Apakah spesies tidak dapat berubah?
·
Mengapa spesies dikatakan tidak dapat
berubah?
·
Bagaimana mekanisme suatu spesies hingga
menjadi punah?
Tujuan
·
Mahasiswa memahami spesies tidak dapat
berubah
·
Mahasiswa memahami alasan spesies tidak
dapat berubah
·
Mahasiswa memahami mekanisme suatu spesies
hingga menjadi punah
PEMBAHASAN
Ketika buku The Origin of Species
Darwin terbit pada tahun 1859, dipercayai bahwa ia telah mengajukan sebuah
teori yang dapat menjelaskan keanekaragaman luar biasa pada makhluk hidup. ia
telah mengamati bahwa terdapat berbagai keragaman dalam satu spesies. Sebagai
contoh, ketika berkeliling pasar ternak di Inggris, ia memperhatikan bahwa
terdapat banyak ras sapi yang berbeda-beda, dan bahwa para peternak sapi
tersebut memilih dan mengawinkan mereka sehingga menghasilkan ras baru.
Mengambil contoh ini sebagai dasar, ia meneruskannya dengan penalaran bahwa
"makhluk hidup secara alamiah dapat bervariasi dengan sendirinya,"
yang berarti bahwa dalam jangka waktu yang lama semua makhluk hidup bisa jadi
berasal dari satu nenek moyang yang sama.
Namun, anggapan Darwin tentang
"asal usul spesies" ini pada kenyataanya tidak mampu menjelaskan asal
usul mereka sama sekali. Berkat perkembangan ilmu genetika, sekarang telah
dipahami bahwa peningkatan keanekaragaman dalam satu spesies tidak akan pernah
menuntun kepada kemunculan spesies baru. Apa yang diyakini Darwin sebagai
"evolusi", sebenarnya adalah "variasi (keragaman)".
Masalah terbesar teori seleksi alam
terletak pada perpaduannya dengan teori use and disuse, artinya untuk dapat
berevolusi pertama-tama sebuah spesies harus menghadapi kompetisi, dan
prasyarat terjadinya kompetisi haruslah terdapat spesies-spesies yang
berkompetisi.
Sebagai contoh, Darwin berpendapat
bahwa leher jerapah telah menjadi begitu panjang karena pada suatu waktu
terdapat beberapa jenis jerapah yang lehernya tidak begitu panjang. Kemudian
terjadi kekeringan besar, rumput di tanah mati semua, hanya menyisakan
daun-daun di atas pohon yang masih menghijau karena akar pohon masuk dalam ke
bumi sehingga masih dapat menghisap air, sebab itu tidak segera layu. Jenis
jerapah itu terpaksa hanya memakan daun pepohonan untuk hidup, maka leher
jerapah yang agak pendek karena kehabisan daun di tempat yang lebih rendah,
tidak mampu bersaing dengan jerapah yang berleher panjang, akhirnya mati
kelaparan, sebab itu sekarang hanya tersisa jerapah leher panjang.
Penalaran ini tampak logis, tapi
bagaimana munculnya jerapah berleher panjang dan jerapah berleher pendek?
Pertama-tama, haruslah karena rumput
di bumi sudah tidak cukup untuk dimakan, dan jerapah sangat ingin makan
daun-daun di pepohonan. Dalam proses ingin memakan daun di pepohonan,
leher jerapah dari generasi ke generasi semakin memanjang, akhirnya melalui
seleksi alam, melalui hasil penyingkiran alami, hasilnya jerapah berleher
panjang menang, jerapah berleher pendek tersingkirkan.
Namun apakah dalam sejarah terdapat
jerapah berleher pendek? Bukankah hal ini telah ditolak oleh teori use
and disuse? Tanpa munculnya spesies baru, bagaimana dapat dikatakan
kompetisi? Pada era Darwin teori use and disuse masih merupakan mazhab
yang mencolok, belum ada bukti yang disodorkan para ilmuwan untuk keraguan yang
ada, namun sekarang dalam lingkungan yang didominasi teori gen, justru
beranggapan bahwa gen-lah yang merupakan faktor penentu, dengan demikian
teori use and disuse telah kalah berantakan.
Seperti yang telah kita lihat, ilmu
genetika telah menemukan bahwa variasi, yang pikir Darwin bisa menjelaskan
"asal usul spesies", sebenarnya tidak seperti itu. Untuk alasan ini,
ahli biologi evolusi dipaksa untuk memisahkan antara variasi dalam spesies dan
pembentukan spesies baru, dan untuk mengajukan dua gagasan berbeda untuk hal
yang berbeda ini. Keanekaragaman dalam satu spesies—yaitu, variasi—mereka sebut
"evolusi mikro" dan hipotesis untuk perkembangan spesies baru disebut
"evolusi makro."
Dua gagasan ini telah ada dalam buku
biologi sejak lama. Tetapi, sebenarnya terdapat pengelabuan di sini, karena
contoh variasi yang disebut sebagai "evolusi mikro" oleh ahli biologi
evolusi sebenarnya tidak ada hubungannya dengan teori evolusi. Teori evolusi
mengutarakan bahwa makhluk hidup bisa berkembang dan memperoleh data genetik
baru melalui mekanisme mutasi dan seleksi alam. Namun, seperti yang baru saja
kita lihat, variasi tidak pernah menciptkan informasi genetik baru, dan jadinya
tidak bisa menyebabkan terjadinya "evolusi". Memberi nama variasi
sebagai "evolusi mikro" sebenarnya hanyalah kecenderungan ideologis
dari sebagian penganut biologi evolusi.
Kesan yang diberikan kaum biologi
evolusi dengan menggunakan istilah "evolusi mikro" adalah penalaran
salah: bahwa sejalan dengan waktu variasi dapat membentuk kelompok makhluk
hidup baru. Dan banyak orang yang belum tercerahkan tentang hal tersebut
berpikir dangkal bahwa "sejalan dengan perkembangannya, evolusi mikro bisa
berubah menjadi evolusi makro." Kita seringkali melihat contoh pemikiran
seperti itu. Beberapa evolusionis "amatir" mengajukan contoh
penalaran semacam itu sebagai berikut: karena tinggi rata-rata manusia
bertambah sekitar 2 sentimeter hanya dalam satu abad, ini berarti bahwa selama
jutaan tahun bentuk evolusi apa saja bisa terjadi. Akan tetapi, seperti yang
telah ditunjukkan di atas, semua variasi semacam perubahan tinggi rata-rata
terjadi pada batasan genetik tertentu, dan merupakan kecenderungan yang tak
berhubungan sama sekali dengan evolusi.
Kenyataannya, saat ini bahkan para
pakar evolusionis pun menerima bahwa variasi yang mereka sebut "evolusi
mikro" tidak bisa membawa kepada terbentuknya kelompok baru makhluk
hidup—dengan kata lain, kepada "evolusi makro". Pada artikel tahun
1996 dalam Jurnal terkemuka Developmental Biology, ahli biologi evolusi
S.F. Gilbert, J.M. Optiz, dan R.A. Raff menjelaskan permasalahan ini sebagai
berikut:
|
|
[Teori] Sintesa Modern adalah
pencapaian yang mengagumkan. Akan tetapi, dimulai sejak tahun 1970-an, banyak
ahli biologi mulai mempertanyakan kelengkapan informasi ini dalam menjelaskan
evolusi. Genetika mungkin memadai untuk menjelaskan evolusi mikro, tetapi
perubahan melalui evolusi mikro pada frekuensi gen tidak terlihat mampu merubah
reptilia menjadi mamalia atau untuk merubah ikan menjadi amfibia. Evolusi mikro
melihat pada penyesuaian diri yang berhubungan dengan kelangsungan hidup
[spesies] yang paling cocok, bukan kemunculan yang paling cocok. Seperti yang
dikatakan Goodwin, "asal usul
spesies—permasalahan Darwin—tetap tidak terpecahkan.
Kenyataan
bahwa "evolusi mikro" tidak bisa menghantarkan kita ke "evolusi
makro", atau dengan kata lain bahwa variasi tidak memberikan penjelasan
bagi asal usul spesies, telah diterima juga oleh ahli biologi evolusi lainnya.
Seorang penulis terkenal sekaligus pakar ilmu pengetahuan, Roger Lewin,
menggambarkan hasil dari simposium empat hari di Chicago Museum of Natural
History pada November 1980, yang dihadiri oleh 150 evolusionis:
Pertanyaan
utama dalam konferensi di Chicago itu adalah apakah mekanisme yang menyebabkan
evolusi mikro dapat dipakai untuk menjelaskan fenomena evolusi makro..
Jawabannya dapat diberikan dengan sangat jelas, Tidak.
Kita dapat meringkas permasalahan
ini sebagai berikut: Variasi, yang dilihat Darwin sebagai "bukti
evolusi" selama beberapa ratus tahun, sebenarnya tidak memiliki hubungan
sama sekali dengan "asal usul spesies." Sapi bisa dikawinkan satu
sama lain selama jutaan tahun, dan ras sapi yang berbeda mungkin muncul. Tetapi
sapi tidak akan pernah berubah menjadi spesies yang berbeda—misalnya jerapah
atau gajah. Dengan cara yang sama, perbedaan yang terdapat pada burung pipit yang
dilihat Darwin di kepulauan Galapagos adalah contoh lain dari variasi yang
bukan merupakan bukti bagi "evolusi."
Penelitian terbaru telah
mengungkapkan bahwa burung pipit ini tidak mengalami variasi tanpa batas
seperti yang diajukan teori Darwin. Lebih jauh lagi, kebanyakan dari berbagai
burung finch yang menurut Darwin mewakili 14 spesies yang berbeda sebenarnya
[mampu] kawin satu sama lain, yang berarti bahwa mereka hanyalah variasi dari
satu spesies yang sama. Pengamatan ilmiah menunjukkan bahwa paruh burung pipit,
yang telah melegenda dalam hampir semua sumber evolusionis, pada kenyataannya
adalah satu contoh dari "variasi"; karenanya hal ini bukanlah
merupakan bukti bagi teori evolusi. Sebagai contoh, Peter dan Rosemary Grant,
yang menghabiskan waktu bertahun-tahun mengamati keanekaragaman burung pipit di
kepulauan Galapagos untuk mencari bukti bagi evolusi Darwin, terpaksa
menyimpulkan bahwa "populasi ini, dihadapkan pada seleksi alam, berayun
maju mundur," sebuah kenyataan yang secara tidak langsung menunjukkan
tidak ada "evolusi" yang membawa pada kemunculan sifat-sifat baru
yang pernah terjadi.
Jadi
untuk alasan ini, evolusionis masih belum bisa memecahkan permasalahan Darwin
tentang "asal usul spesies".
PENUTUP
Kesimpulan
Variasi tidak memberikan penjelasan
bagi asal usul spesies, telah diterima juga oleh ahli biologi evolusi lainnya.
Terdapat beberapa spesies yang dapat berubah dan adapula spesies yang tidak
dapat berubah. Spesies yang tidak dapat berubah adalah sebagian kecil dari
spesies yang dapat berubah, karena oleh beberapa pakar dan beberapa teori
mengatakan bahwa spesies dapat berubah.
Berkat perkembangan ilmu genetika,
sekarang telah dipahami bahwa peningkatan keanekaragaman dalam satu spesies
tidak akan pernah menuntun kepada kemunculan spesies baru. Apa yang diyakini
Darwin sebagai "evolusi", sebenarnya adalah "variasi
(keragaman)".
Masalah terbesar teori seleksi alam
terletak pada perpaduannya dengan teori use and disuse, artinya untuk dapat
berevolusi pertama-tama sebuah spesies harus menghadapi kompetisi, dan
prasyarat terjadinya kompetisi haruslah terdapat spesies-spesies yang
berkompetisi. Gejala tersebutlah yang membuat punah beberapa hewan saat ini.
Contohnya saja jerapa berleher panjang dan berleher pendek, jerapa berleher
pendek saat ini bisa dikatakan telah punah karena jerapa berleher pendek tidak
mampu berkompetisi dalam mencari makanan dengan jerapa yang berleher lebih
panjang.
DAFTAR PUSTAKA

Komentar
Posting Komentar