KBI

 

MODEL 2: CERITA PENDEK II

 

MUALLAF

Abdullah Syarofi[1]

 

Aku masih merasa canggung dengan diriku. Meskipun dulu pernah satu kali mengenakan peci dan baju koko yang kekecilan di badanku, tapi tetap saja saat ini rasanya bagai baru pertama kali aku menggunakan dua benda ini.

‘Kalau baju kokonya memang ukuranmu mungkin kamu bisa terlihat kayak muallaff…’

Apa benar aku tampak bagai muallaf? Senyum menyeruak di wajahku saat mengingatnya.

Kuperhatikan lagi keadaan diriku sebelum turun dari taksi yang mengantarku dari Hotel Mahkota di kawasan Lamongan menuju kemari. Baju koko-ku warna hitam, aku baru membelinya beberapa jam lalu, begitu masih dalam toko pakaian muslim yang ada di Pasar Lamongan Lamongan Plaza, aku langsung tertarik dengan baju ini. Bukan karena coraknya yang bagus berbordir sulam emas di dada hingga ke leher, dan juga di ujung lengannya, tapi lebih karena warnanya yang hitam pekat.

Aku menyentuh kepalaku, peci rajut ini juga berwarna hitam. Masih kuingat Bapak yang punya toko berkata ketika aku bertanya apakah ada warna hitam yang sama untuk tutup kepalaku, ‘Saya tidak akan menawarkan peci warna lain jika Anak memilih koko yang itu…’ begitu jawabnya, dan aku tidak menawar ketika mengeluarkan dompet untuk menjadikan dua benda ini milikku.

“Cacak mau ke pelabuhan dulu baru nanti pulangnya mampir kemari? Saya bersedia menunggu barang setengah jam jika cacak ingin melihat-lihat pelabuhan…” Sopir taksi, pria lingkungan 40-an yang terlihat simpatik membuyarkan lamunanku, dia memanggilku ‘Cak’ mungkin dia mengira aku Orang Sumatera. Bahasa Indonesianya lancar tanpa logat, tapi aku yakin dia adalah pribumi, wajahnya menunjukkan demikian. “Lagi pula, di sini terlalu sepi, biasanya agak sore nanti ramai pengunjung…” lanjutnya.

Aku tersenyum, menyadari bahwa aku sudah membuang-buang jam kerjanya dengan tidak segera turun sejak lebih lima menit lalu taksinya berhenti. Meski tampaknya dia sama sekali tak keberatan aku berlama-lama, bahkan bersedia menunggu jika aku ingin melihat-lihat pelabuhan lalu mengantarku kembali kemari, tapi tetap saja aku tak boleh memanfaatkan sifat baiknya, pasti di hotel sana ada orang yang ingin menggunakan jasanya.

Aku mengambil toples kaca bawaanku yang kutaruh di jok di sampingku “Tadi Bapak sudah membawa saya keliling Lamongan, sudah lebih dari cukup kok. Tak mengapa, Pak… saya turun sekarang saja. Saya memang berencana berlama-lama di sini…”

Bapak itu mengangguk ramah.

Aku membuka pintu.

“Baik-baik, Cak…” serunya setelah aku menutup pintu taksi.

Aku membalas dengan mengangkat tangan kananku sambil mengangguk.

“Apa harus saya jemput lagi nanti?” kepalanya melongok dari pintu.

Aku diam sejenak lalu menggeleng, “Saya tidak yakin akan selesai di sini tepat jam berapa…”

Dia mengangguk-angguk mengerti. Setelah melambai padaku dan mebunyikan horn satu kali, taksinya bergerak maju.

Aku menghela napas, memegang toples kaca di tanganku kuat-kuat seakan takut benda itu akan meluncur jatuh dan pecah menghamburkan isinya. Setelah delapan tahun, setelah mengumpulkan kekuatan dan memantapkan hati, baru kini aku mampu kemari. Aku harus melangkah sebelum pijakanku goyah.

Kupandangi pintu gerbang hijau sangat besar berjarak satu meter di depanku, tingginya membuatku mendongak. Gerbang besar ini dibangun dengan lima pintu besi dalam satu rangkaian, ada tulisan di tiap pintu yang sepertinya bersambung antara satu dan lainnya. Pintu yang cantik. Kembali aku mengisi paru-paru dengan udara beraroma garam hingga dadaku mengembang. Aku mengayunkan kaki kananku, mengambil langkah pertama untuk kedalamnya.

Hamparan rumput menghijau menyambutku begitu melewati gerbang besar, tak ada jengkal tanah yang tak hijau di dalam sini, semuanya tertupi rumput yang menghampar rapi hingga ke sudut-sudut. Begitu luas, aku sampai harus memicingkan mata saat memandang tembok yang memagari sekelilingnya.

Kehijauan ini, sama persis seperti yang kulihat berkali-kali dalam lenaku. Aku sudah berada di tempat yang benar. Kutarik napas dalam lagi…

Bagaimana caranya aku bisa tahu? Sudut mana yang harus kupilih sebagai dirimu? Sisi hijau mana yang harus kudatangi untuk melepaskan isi toples-ku?

Lalu aku berjalan ke satu sudut hijau terpilih…



[1] Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya m.k KBI II, NIM 121111132

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi