Kesusastraan

 

 

LAPORAN BACA NOVEL


KOOONG


Iwan Simatupang


ABDULLAH SYAROFI

121111132

 

SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2011

 


 

 

 

 

 

                                        

Ø    Judul Buku                  : KOOONG

Ø    Penerbit                       : Pustaka Jaya

Ø    Jumlah Halaman         : 93 Hal

Ø    Terbitan                       : Cetakan Pertama 1975

Ø    Pengarang                   : Iwan Simatupang

 

 

 

 

SINOPSIS      :

Desanya geger. Pak sastro telah pulang dari Jakarta. Bersama seeokor perkutut.

Segera mereka mengerumuninnya.

“Perdengarkan kooongnya, pak!” teriak mereka.

“Sabar ! Sabaar !”

Setelah dia buka jendela-jendela dan pintu-pintu rumahnya, dia minta seorang laki-laki mencari sebatang bambu panjang untuk dijadikan gantungan sangkar perkutut itu. Kemudian bambu itu dipacakkan dihalaman. Setelah disuruhnya membeli tali dan kerekan, kemudian dia suruh pula membeli makanan perkutut. Jemawut, ketan hitam dan pil-pil jamu khusus untuk perkutut. Setelah semua makanan berikut kaleng minumannya ditaruh dalam sangkar, perkutut itupun dikerekkan oleh Pak Sastro tinggi-tinggi ke puncak tiang bambu itu. Semua penduduk desa menyaksikannya.

“Dengar sendiri nanti kooongnya!” katanya dengan nada-nada pasti.”Tidak kalah dari kooong perkutut-perkutut lainnya disini!”

Mereka pun bubar, sambil sesekali memandangi sangkar perkutut  paling baru di desa itu.

Setelah seminggu, bulatlah kesimpulan orang desa mengenai perkutut Pak Sastro itu. Dia perkutut yang tidak punya kooong ! Perkutut jelek ! Sejak dia datang, dia belum pernah kooong sekalipun.

“Ah ! Pak Sastro tertipu beli perkutut gule !”

Pak Sastro sangat sedih. Alangkah kecewanya dia. Sangkanya, perkutut itu akan mampu sedikit mengisi kekosongan hatinya yang baru saja ditinggalkan Si Amat. Kini, kecewanya tambah besar. Kooong penganti Si Amat dan Bu Sastro itu, tak kunjung datang. Dia telah mengeluarkan terlalu banyak uang untuk hanya seekor perkutut gule ……

Sebenarnya, malam berikutnya ia ingin  diam-diam melepaskan perkutut itu dari sangkarnya. Tapi, tiap kali dia mau menurunkan sangkar itu, ada saja orang lewat dihadapan rumahnya. Maksudnya diurungkannya. Tapi, setelah mengurungkan maksudnya tiga kali berturut-turut, ia pun memutuskan tidak lagi melepaskannya.

Ah! Barangkali dewa-dewa telah mentakdirkan dia memelihara perkutut gule ini. Bukankah dia makhluk tuhan juga, sekalipun dia tak mau lagi kooong ? siapa tahu, dia juga pumya jumlah soal yang membuatnya bermuram durja seperti Pak Sastro, dan yang lumpuh oleh kesedihannya itu.

Penuh iba, Pak Satro melihat kepada perkututnya yang sedang menekurkan kepala. Sudahlah ! Biarkan dia. Apapun cemooh orang-orang desa, akan deterimanya saja.

Ternyata, perkutut gule yang tak pernah kooong itu akhirnya dapat juga mengisi kekosongan dalam diri Pak Sastro.Malah, justru karena tiada kooongnya itulah perkutut itu lebih dapat mengisi sebagian besar kekosongan dalam dirinya.

Pagi-pagi, begitu dia bangun, dia mengkleteki perkutut itu. Setelah selesai membersihkan sangkarnya, menambah makanannya, dengan bangga perkutut itu dikereknya kepuncak gantungannya.

Baru setelah perkutut itu bersemayam tingi-tinggi dalam sangkarnya di udara, Pak Sastro menganggap hari itu resmi mulai. Gerak-geriknya pasti. Jalannya lebih mantap. Pemikiranya seperti sudah terkendalikan. Dunia, di mana dia bergerak sehari penuh itu, seperti punya kiblat. Yaitu sangkar perkututnya, tinggi-tinggi di gantungannya, walupun tak pernah terdengar kooong sekalipun.

Dan hidupnya yang punya kiblat ini ternyata memeberi sukses demi bagi Pak Sastro. Sawah-sawahnya, kebun-kebunnya, memberi hasil lebih dari yang sudah-sudah. Teman-temannya sedesa makin suka dan kagum padanya.

Tapi, ketika seorang kawan baik menawarkan gadisnya untuk dijadikan isteri oleh Pak Sastro, dia sedih dan menggelengkan kepala.

“Kenapa ?” Tanya kawan baik itu.

“Aku ingin tetap jadi kawan baikmu.”

“Begitu banyak orang yang kemudian jadi menantu kawan baiknya.”

“Betul. Tapi, aku tidak mau. Lagi, aku sudah tua begini.Sedang gadismu lagi mekar-mekarnya dalam belasan umurnya.”

“Sastro, ! kau mengada-ada terlalu jauh. Perkawinan bukan soal usia, tetapi kebahagiaan. Dan yang terpenting soal turunan.”

“Aha ! Jadi, hartaku yang kau incar, ya ?”

“Apa salahnya aku mengincarnya, Sastro ? aku salah satu kawanmu yang terbaik. Aku telah jadi saksi, bagaimana caramu mengumpulkan harta kekayaan. Semua dengan cara jujur. Tapi, aku pulalah yang jadi saksi, bagaimana kau kemudian kehilangan istrimu, kemudian anakmu, Si Amat. Memang betul, Sastro : Aku sangat merisaukan nasib hartamu yang sangat banyak itu bila kau nanti sudah tidak ada lagi. Siapa yang akan mewarisinya ?”

Pak Satro tunduk. Kepingan-kepingan persoalan yang tiap malam menjadi pemikirannya diranjang sebelum tidur, seperti dipajangkan oleh kawan baiknya itu. Apakah tidak ada pemecahan lain lagi bagi dia dan hartanya, selain dari kawin lagi ? Bila perkawinan itu nanti tidak menghasilakan turunan, apakah dia Cuma membuat seorang janda muda menjadi sangat kaya.

Tidak ! Setidaknya seorang janda muda menjadi sangat kaya ! Soal-soal seperti itu. Untuk semua kemungkinan pemecahan soal itu, dia buat sementara telah berhasil menentukan jawabannya. Yaitu : perkututnya.

Persetan ! Bila dia ternyata perkutut gule saja. Peduli amat, bila dia tidak pernah kooong. Masa bodoh!

Buat sementara, perkutut itu telah melebur semua soal perkepingan tadi. Dia dengan megahnya bersemayam tinggi-tinggi di udara desa kampung halaman yang nyaman ditanah airnya yang subur makmur ini.

Kawan baik yang gagal menawarkan diri menjadi mertuanya itu sangat kecewa. ‘Alangkah bodohnya Si Sastro !’ pikiranya. ‘Alangkah sayangnya semua harta yang banyak itu, bial tidak ada yang mewarisinya.’

Pelbagai orang diutusnya menemui Pak Sastro, menasehatinya supaya mau kawin lagi. Bila dia tetap berkeberatan kawin dengan seorang gadis remaja, mereka akan mencarikan seorang janda yang usianya yang tak banyak beda dari Pak Sastro.

Tapi, Pak Sastro tetap menolak. Katanya, supaya mereka jangan terlalu memikirkan masa datang hartanya, bila dia sudah tak ada lagi nanti. “Ajal adalah wewenang tuhan. Jangan kawatir, juga hartaku ini nanti pasti akan dirawat Tuhan. Untuk tiap soal, Tuhan telah menyediakan jawabannya ,”katanya.

Dan utusan-utusan itu kecewa. Mereka pulang hampa tangan. Kawan Pak Sastro yang sangat baik itu, lebih-lebih amat kecewa. Dia remas-remas jarinya. Dia menegadah kelangit malam mampu memberi petunjuk padanya bagaimana tetap menyelamatkan harta kawan baiknya itu…….


LAPORAN BACA    :

            Novel yang berjudul KOOONG ini sangat mudah untuk difahami oleh pembaca, dalam hal kata-kata, kalimat, maupun yang lainnya. Di dalam novel ini pelaku sudah dijelaskan secara terperinci oleh pengarang baik pelaku itu sebagai pelaku antagonis, protagonis maupun yang lainnya dan alur yang diterapkan didalam  novel ini alurnya sangat berurutan mulai dari Pak Sastro tertimpah musibah, miskin sampai dia sebagai orang yang kaya raya karena berkat seekor perkututnya itu.

Kooong ini adalah novel karya dari sastrawan terkenal di Indonesia yaitu Iwan Simatupang. Kooong ini mengisahkan tentang Seekor Perkutut yang tidak bisa berkicau tetapi perkutut ini membawa manfaat atau keberkahan buat sang pemelihara.

            Kisah novel ini berawal ketika pak Sastro kehilangan burung perkutut peliharaanya. Pak Sastro adalah seorang duda yang juga telah kehilangan istri dan anaknya. Istrinya meninggal karena terhanyut dalam tragedi banjir besar di desanya. Hampir semua warga desa meninggal pada peristiwa itu. Tetapi pak Sastro dan anaknya yang bernama Amat berhasil lolos dari bencana itu karena saat terjadi bencana mereka sedang pergi ke luar kota. Bencana banjir itu benar-benar telah menghancurkan semua isi desa itu. Orang-orang desa yang masih selamat memilih mengungsi dan mencari tempat baru untuk menata kembali kehidupannya karena menurut mereka desa itu sudah tidak bisa diharapkan lagi. Begitupun dengan anak pak Sastro yang memilih merantau ke luar kota. Namun pak Sastro tetap berkeyakinan bahwa desa itu bisa bangkit kembali, dengan usahanya, pak Sastro mulai menata kembali desa itu. Tanpa terasa desa itu mulai bangkit kembali, satu persatu penduduk mulai membangun tempat tinggal dan beraktifitas di desa itu hingga tanpa terasa desa itu telah ramai seperti dahulu. Tetapi pak Sastro masih merasa kesepian walaupun desanya telah kembali seperti dahulu. Beliau rindu dengan anaknya yang telah sekian lama merantau dan tidak di ketahui dimana keberadaanya. Suatu hari pak Sastro menerima surat dari pak carik (Sekertaris Desa) yang isinya memberitakan bahwa anak pak Sastro telah meninggal di Jakarta karena tertabrak kereta api. Seketika itu pula Pak Sastro langsung pergi ke Jakarta untuk melihat anaknya dan mengurus semua pemakaman anaknya, hari demi hari beliau lalui di Jakarta sambil diselimuti duka yang mendalam, pak Sastro mencoba mencari tahu tentang kematian anaknya, akhirnya pak Sastro pergi ke stasiun Senin tempat di mana anaknya tertabrak kereta. Di sanalah pak Sastro mendapatkan informasi, bahwa anaknya, ingin mengakhiri kisah perjalanan hidupnya dengan cara yang teragis yaitu bunuh diri karena dia berdiri di hadapan kereta yang akan berjalan. Tanpa tak diketahui pak Sastro ternyata yang memberi informasi itu adalah masinis yang melindas anaknya tadi.

Pak Sastro seaakan tidak percaya sehingga dia memutuskan untuk pulang ke desanya. Didalam perjalanan pulang, pak Sastro membeli burung perkutut yang kata penjualnya memiliki kooong yang bagus, tetapi pak Sastro belum tahu kooongnya, apa bisa koong, burung perkutut yang dibelinya ini. Setelah sampai di desanya, warga desapun kaget ketika melihat pak Sastro pulang membawa perkutut. Pak Sastropun mulai merawatnya, salah satu wargapun disuruh untuk membeli ketan dan wadahnya dan mencari bambu untuk dikereknya keatas. Perkutut itu kemudian di taruh di sebuah sangkar dan di gantung tinggi didepan rumah pak Sastro. Namun warga baru sadar ternyata perkutut pak Sastro itu tidak bisa kooong sama sekalipun, sehingga warga desa mencemooh pak Sastro. Bahkan pak Sastropun mau putus asa ingin mengeluarkan perkutut yang ada disangkarnya, tetapi pak Sastro tidak berhasil untuk mengeluarkannya, ketika mau mengeluarkanya pasti didepan rumahnya ada orang yang lewat, akhirnya pak Sastropun berfikiran apapun yang terjadi pak Sastro tetap mau merawatnya walaupun perkutut itu tidak bisa kooong sama sekali. Pak Sastro semakin menyayangi perkututnya, dia menganggap kehadiran perkututnya bisa menggantikan kekosongan hatinya yang telah ditinggal mati oleh istri dan anaknya.

Pagi itu pak Sastro sangat kaget ketika menjumpai perkututnya sudah tidak ada di sangkarnya lagi. Dengan dibantu warga desa setempat, pak Sastro mulai mencari perkututnya. Namun upayanya sia-sia. Pak Sastro sangat merasa kehilangan karena perkutut itu telah berhasil mengisi hari-harinya walaupun tidak bisa koong. Melihat kondisi pak Sastro yang seperti itu warga menjadi geger, mereka takut kalau pak Sastro berubah sikapnya. Tanpa diketahui sama pak Sastro, pak lurah mempunyai inisiatif mengumpulkan warga desa untuk membahas masalah yang menimpah pak Sastro. Dari musyawarah itu muncul banyak usulan-usulan mengenai pak Sastro. Akhirnya diambil kesimpulan bahwa warga desa meminta pak Sastro untuk meniggalkan desa itu beberapa waktu, agar pak Sastro bisa melupakan masalah yang dialaminya.

Pak lurah di temani dengan beberapa orang tua di desa itu datang kerumah pak Sastro untuk menyampaikan usulan warga tersebut, pak Sastro ternyata tidak setuju dengan usulan warga karena dia menganggap usulan itu tidak masuk akal. Pak lurah dan para orang tua pergi dari rumah pak Sastro dengan kecewa setelah mendengar jawaban dari pak Sastro. Namun setelah berpikir lama akhirnya pak Sastro mengambil keputusan untuk meninggalkan desa itu. Keesokan harinya warga kembali geger  ketika tahu bahwa pak Sastro telah tidak ada didesanya, beliau meninggalkan desa untuk mencari perkututnya yang hilang dan ketika mau meninggalkan desanya pak Sastro mengabari ke pak Lurah agar sawahnya dirawat dengan baik.

            Berita tentang pak Sastro dengan cepat menyebar, ketika mendengar berita itu, orang menganggap pak Sastro aneh karena mencari perkutut yang bahkan tidak mempunyai kooong. Pak Sastro sendiri menganggap hal itu adalah wajar karena mereka belum tahu bagaimana masalah yang dihadapinya. Pak Sastro terus melanjutkan perjalananya hingga sampai di warung di sebuah desa. Di warung itu pak sastro menginap, dan pak Sastro tahu bahwa pemilik warung itu adalah orang yang baik. Ternyata pemilik warung itu juga mempunyai perkutut yang diberi nama Gatut lemu karena perawakan burung itu memang gemuk, pemilik warung itu bercerita kepada pak Sastro bahwa perkututnya sudah dianggap seperti keluarganya sendiri karena bisa menggantikan kedudukan suaminya yang telah meninggal. Setelah mendengar cerita pemilik warung itu pak Sastro semakin tergugah hatinya untuk mencari perkututnya yang hilang.

            Sementara di desa, pak lurah dan warga desa berharap dengan perginya pak Sastro suasana desa akan menjadi tentram kembali. Pesan pak Sastro kepada pak lurah tentang pengurusan lahan dan hasilnya telah dilakukan oleh pak lurah. Lahan pak Sastro yang luas itu digarap oleh hampir semua warga desa. Waktu demi waktu mulai terjadi perubahan di desa itu, warga desa mulai berubah hidupnya menjadi mewah dan menyalahgunakan harta pak Sastro untuk kepentingan mereka sendiri. Mengetahui hal itu pak lurah merasa sangat bersalah karena dialah yang telah diberi kepercayaan oleh pak Sastro. Untuk menyelesaikan masalah itu pak lurah mengumpulkan semua warga desa di kelurahan. Pak lurah menghimbau kepada warga untuk kembali seperti semula, mereka harus meninggalkan gaya hidup mereka yang sekarang. Namun himbauan dari pak lurah sama sekali dihiraukan oleh warga, bahkan dengan seenaknya warga meninggalkan musyawarah itu. Namun pak lurah telah mengambil keputusan untuk pergi mencari pak Sastro. Sebelum pergi mencari pak Sastro, pak lurah kembali menghimbau kepada warga untuk mengembalikan harta milik pak Sastro yang telah dimanfaatkan yang tidak sesuai dengan sesmestinya. Akhirnya pak lurah dan  penduduk desa itu pergi meninggalkan desanya untuk mencari pak Sastro. Waktu demi waktu, hari demi hari, akhirnya pak Sastro dan warga desa tersebut berjumpa lagi dalam satu desa. Dari novel ini pembaca bisa mengambil suatu amanah, walaupun kita merawat suatu makhluk dan makhluk itu berbeda dengan kita, makhluk itu tidak menghasilkan apa-apa bagi kita, bahkan makhluk itu merugikan kita karena makhluk itu juga ingin bisa bertahan untuk hidup sebaiknya kita rawat saja nanti pasti ada hikmahnya.

 

SEKIAN

 

ABDULLAH SYAROFI

121111132

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi