Kesusastraan

 

 

LAPORAN BACA NOVEL

PENGANTAR KESUSASTRAAN

BELENGGU


Armijn Pane

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ABDULLAH SYAROFI

121111132

 

SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2011

 


Ø    Judul Buku                  : BELENGGU

Ø    Penerbit                       : Dian Rakyat

Ø    Jumlah Halaman         : 150 Hal

Ø    Terbitan                       : 1938

Ø    Pengarang                   : Armijn Pane

 


LAPORAN BACA :

Belenggu adalah novel sastra yang terkenal pada zamannya. Bahasanya mudah untuk dipahami, dan dimengerti oleh sang Pembaca. Didalam novel ini Armijn Pane mencoba membuka pikiran pembaca tentang sisi lain perselingkuhan pada zaman itu padahal pada zaman itu perselingkuhan sangat sulit untuk dilakukan. Yang pada zaman itu adalah hal yang dianggap tabu dan merupakan kecaman keras pada para lelaki beristri pada zaman itu dan pada zaman itu orang kalau ingin berseligkuh itu sangat sulit.

Pada novel belenggu ini menceritakan tiga tokoh penting yaitu Tono, Tini, dan Siti Hayati atau nama samaranya Rohayah. Tono seorang dokter yang memiliki istri cantik dan pandai yang  bernama Tini. Pernikahan mereka tak semulus yang diinginkan.

Percekcokan sering mereka alami karena Tono terlalu sibuk dengan pekerjannya yaitu menjadi dokter. Sedangkan Tini sibuk dengan kegiatan organisasi sendiri serta kegiatan lain untuk menyenangkan dirinya yang kesepian ditinggal Tono untuk berdinas kepada negaranya yaitu menjadi dokter.

Keegoisan diantara keduanya sangat besar, sehingga tidak ada yang mau mengalah dan mencoba untuk membicarakan persoalan dengan kelapangan dada.

Di tengah perang dingin suami dan istri tersebut, munculah wanita cantik yang bernama Siti Hayati. Wanita ini awalnya hanya berpura-pura sakit agar si Wanita bisa untuk berkenalan dengan Tono. Karena Siti begitu cantik wajahnya, baik sikapnya, lembut tutur katanya , serta luwes dalam hal menjamu kedatangan Sang dokter yaitu Tono, akhirnya pria ini jatuh ke pelukan Siti Hayati(Rohayah). Dibandingkan dengan Tini yang tak dapat memanjakan keinginan Tono, kasar terhadap Tono, serta tak mau menerima kritik dari suaminya, Siti Hayati jauh lebih baik.

Mulai cara menjamu kedatangan Tono, cara membelai manja Tono, cara meringankan beban, serta menghapus lelah Tono dengan perkataan manis dan memikat. Itu semua menjadi senjata ampuh bagi Siti dalam menjerat hati Tono.

Tono merasa hidupnya berwarna lagi. Hidup yang selama ini menderita kini jadi ceria karena Tono sudah ada yang menemani di hari-harinya.

            Nama aslinya adalah Siti Hayati. Rohayah adalah nama samaran seorang penyanyi keroncong keliling itu. Suara merdu khas Rohayah mampu menjadikan ia juara dalam lomba keroncong. Dulu, saat Tono masih kuliah, Rohayah sudah mencintai Tono. Demikian juga Tono. Dia mencintai Rohayah.

Namun cinta yang belum sempat terjalin itu tidak ditakdirkan bersatu oleh yang maha kuasa. Akhirnya Tono terpikat pada gadis yang cantik juga pandai bernama Tini itu tadi. Ia ingin segera menaklukan Tini dan usahanya tak sia-sia. Sebenarnya Tono tak begitu menyukai sifat keras kepala Tini. Tetapi demi pengakuan, dan harga diri, maka ia melanjutkan hubungan itu ke jenjang pernikahan.

Cinta yang hanya berdasarkan harga diri akan menghancurkan orang itu sendiri. Tono mencintai Tini hanya demi pengakuan orang lain. Bukan demi ketulusan perasaan cinta dan kasih sayangnya. Maka kehancuranlah yang ia temui di akhir perjalanan cintanya, Tono akhirnya berselingkuh dengan cinta tulusnya ketika zaman dikuliahan.

            Rohayah yang diam-diam memendam cinta pada Tono, memang telah menyusun rencana untuk dapat bertemu dan menjalin cinta. Rohayah awalnya tidak ingin menjadi penyanyi keroncong. Ia tak sanggup menerima pandangan buruk dari masyarakat. Penyanyi keroncong pada zaman itu, identik dengan wanita penggoda.

Wanita yang mau melayani pria hidung belang. Demi kelancaran karir mereka. Tetapi  semua itu terpaksa ditempuhnya karena keluarga Rohayah adalah kelurga yang kelas ekonominya menegah kebawah (tidak mampu).

Ia nekad berangkat ke Jakarta. Akhirnya ia memenangkan lomba menyanyi keroncong. Saat itu juga namanya tenar di kalangan penggemar keroncong. Keadaan yang membuatnya terbiasa dengan dunia kelam.

Ia terbiasa melayani pria hidung belang dengan keluwesan yang dimiliki olehnya. Sebagai pekerja seni, Rohayah berjalan dari satu kota ke kota yang lain. Sampai suatu saat ia mendengar nama Tono, kekasihnya yang dulu.

Tono muncul kembali di hadapannya. Bahkan Tono telah jatuh hati pada irinya. Sesuai dengan impian Rohayah selama ini. Tetapi sayang , Tono sudah jadi milik wanita lain. Wanita itu bernama Tini. Karena keruwetan rumah tangga Tono dengan Tini semakin menjadi-jadi Rohayah pun enggan meninggalkan Tono dalam penderitaan. Rohayah tahu hal ini salah. Ia merasa berdosa pada istri Tono.

Tapi ia juga tak mampu membendung perasaan cintanya pada Tono. Cinta mereka tetap bersemi tanpa sepengetahuan sang istri (Tini). Tini lambat laun mendengar perselingkuhan suaminya. Ia sangat marah. Harga dirinya telah dihina oleh wanita murahan. Begitu. Ia segera datang ke rumah Rohayah.

Dirumah Rohayah, Tini marah-marah dan melontarkan kata-kata kasar pada wanita murahan tersebut. Rohayahpun pandai bersilat lidah, pandai memaksa Tini mengakui kesalahannya. Mengakui kehebatan Rohayah yang sanggup melayani Tono lebih baik dari pada Tini.

Rohayah menunjukan pada Tini bahwa keluwesan serta kata-kata lembut wanita tetaplah penting di mata pria. Sekalipun wanita itu pandai, terpandang, dan mandiri. Tini terpukul dengan kata-kata pedas yang dilontarkan Rohayah. Wanita masih membutuhkan pria. Pria akan merasa dihargai, dicintai, jikalau wanita mau memberi setitik kemanjaan pada diri sang pria.

Pria akan merasa bangga dengan canda tawa serta rayuan wanita. Apalagi jika pendapat serta nasihat pria dapat dituruti oleh kekasihnya. Hal itu membuat pria menjadi berarti. Tini lupa bahwa harga diri bagi pria adalah soal yang paling utama. Tini telah mengabaikannya, membuat pria di bawah kedudukan dirinya.

Rohayah memang tak selalu sependapat dengan Tono. Akan tetapi ia mampu mengalah dan menentramkan emosi Tono. Semestinya Tini sanggup melakukan hal itu. Mengalah adalah kemampuan seseoarang mengendalikan diri. Kemampuan merendahkan hati.

            Tini yang pulang dengan tangis serta penyesalan menjadi sadar atas kesalahanya  selama berumah tangga denga Tono. Ia berbicara dengan Tono perihal perselingkuhan suaminya dengan kepala dingin. Tak sadar akan apa yang ia lakukan. Kesibukan membuat posisi Tini hilang.

Dulu Tini ada di hati. Namun sekarang Tini hilang dari pikiran. Tak sempat bagi Tono meluangkan waktu bagi sang istri. Iapun lupa, wanita tetap butuh belaian pria. Dan Tini melampiaskan semua itu lewat semua kegiatannya. Tono malah lari dari kenyataan. Membungkam kejantanan dirinya sendiri  atas nama perselingkuhan. Memaksa Tini menjadi kambing hitam atas kericuhan rumah tangga mereka. Seharusnya Tono tak bertindak ala wanita. Mestinya Tono bisa membicarakan segala yang dikeluhkan dengan sang istri.

            Tini akhirnya memutuskan untuk bercerai dengan Tono. Tono sangat sedih dan terpukul mendengar keputusan istrinya. Jalan yang ditempuh Tini telah membaut gairah hidupnya kembali seperti semula. Ia kembali bangga serta aktif dalam segala kegiatan. Sementara Tono jatuh sakit sepeninggal Tini. Namun Rohayah selalu setia menemani Tono kapanpun dan dimanapun.

            Pada masa kini perselingkuhan menjadi jalan pintas yang nikmat bagi pasangan yang jenuh akan problem rumah tangga mereka. Ketidakmampuan dalam berkomunikasi secara terbuka lah yang memicu pertengkaran. Sakit hati yang terpendam menjadi lubang awal kehancuran rumah tangga.

Sementara itu wanita yang mengklaim dirinya sebagi penjujunjung paham feminis, telah lupa pada kodratnya. Tak sadar menginjak harga diri pria. Ini sebuah kritik bagi wanita yang berpacu dengan waktu dalam karir mereka. Kesempatan yang terbuka lebar bagi wanita untuk berkarya mewarnai dunia, jangan disalahgunakan dengan mengabaikan tugas serta tanggung jawab sebagai istri.

Begitu pula dengan pria. Jangan merasa sudah menaklukan wanita. Ini memicu timbulnya kejenuhan serta rasa kurang puas antara suami dan istri. Akan tetapi, muncul rasa untuk menaklukan wanita lain lagi ketika pria sudah merasa puas dengan apa yang telah dicapainya. Astagfirullahaladhim.......

Kesibukan pria bukan alasan untuk melupakan rumah tangga. Bukan berarti pria harus selalu dilayani. Tapi pria juga harus bisa mengerti kondisi psikologis seorang istri. Begitupun sebaliknya istri. Sehingga ia dapat membicarakan segala keluhan yang ia alami lewat cara-cara yang benar dan dengan tangan dingin. Perselingkuhan adalah tanda ketidakberdayaan seseorang akan keadaan kelam hidupnya.

 

                                                SEKIAN

                                                                                    ABDULLAH SYAROFI

                                                                                    121111132

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi