Kesusastraan
LAPORAN BACA PUISI
PENGANTAR KESUSASTRAAN
SAJAK-SAJAK SEPATU TUA
ABDULLAH SYAROFI
121111132
SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2011
v Judul
Buku : SAJAK-SAJAK SEPATU
TUA
v Penerbit : Pustaka Jaya
v Jumlah
Halaman : 93 Hal
v Terbitan : Cetakan Pertama 1995
v Pengarang : W.S Rendra
Kerinduan
Pengarang
menuangkan isi hatinya melalui puisi yang bertemakan kerinduan, puisi ini mengungkapkan
tentang kerinduan pengarang kepada keluarga yang jauh disana memikirkannya
tepatnya dinegeri kelahirannya, ketika itu pengarang bersinggah di ujung barat
sana tepatnya di Mancuria, walaupun rindu menghiasinya, dia tetap tegar menjalankan tugasnya disana. Ketika dia
merindukan keluarganya yaitu ibunya, adiknya dia tidak mau mengerjakan apapun,
baca, makan, minum dan sebagainya dia tidak mau mengerjakan bahkan sampai sakit
melanda. Seiring dengan berjalannya waktu pengarang mulai hidup dengan tentram dan
sabar walaupun rasa rindu masih menghantui dirinya.
Tidak
hanya pengarang saja yang mempunyai rasa rindu, ibu pun merasakan rindunya
kepada anaknya, sudah lama dia tidak bertemu, mengapa dia tidak pulang-pulang,
beliau menginginkan anaknya cepat pulang.
Kesepian
Pengarang
mengungkapkan tentang kesepiannya ketika pengarang bertempat di negeri orang,
pagi, siang, sore, malam tiada sesosokpun makhluk yang mau menemani hanya
pohon, angin yang bisa menemaninya di kehidupan seharinya. Walaupun kesepian
selalu melandan, beliau berusaha untuk tegar dalam menghadapi kesepiannya.
Suatu ketika pengarang mengisi rasa kesepiaanya dengan pergi kerestoran, disana
beliau menghilangkan rasa kesepiaannya dengan berbuat dosa.
Penyesalan
Pengarang
menyesal dengan perlakuan-perlakuan yang sudah beliau perbuat.
Kehidupan
Pengarang
mengungkapkan kehidupannya di negeri orang, kehidupan pengarang di
sana pernah dikucilkan oleh masyarakat setempat. Masyarakat agaknya menganggap
dirinya sebagai orang lain yang tidak berhak menikmati seperti apa yang boleh
dinikmati masyarakat setempat.
Religi (Keagamaan)
Pengarang
mengungkapkan tentang sebuah gereja yang tinggi, yang tidak ada umatnya,
pintunya yang masih tertutup rapat. Dari pengungkapan puisi ini pengarang
menggambarkan tentang umat-umat pada masa sekarang, banyak tempat-tempat ibadah
dibangun tetapi tak banyak yang memanfaatkannnya untuk beribadah.
Suatu
malam pengarang memanjatkan doa kepada tuhannya, beliau ingin impiannya di
dunia dikabulkannya.
Pengarang menggambarkan
sebuah bencana yang datangnya dari tuhannya apabila mereka tidak menjalankan
apa yang diperintahkannya, puisi selanjutnya yaitu permintaan izin seorang
panglima perang untuk terjun ke medan melawan musuhnya, dia memohon izin kepada
Tuhan agar diberikan izin dengan harapan apapun hasil yang di dapat dari perang
tersebut tidak berdampak baik baginya.
Komentar
Posting Komentar