Kesusastraan

 

 

LAPORAN BACA NOVEL

PENGANTAR KESUSASTRAAN

CALA IBI

Nukila Amal


 


ABDULLAH SYAROFI

121111132


v    Judul Buku                  : CALA IBI

v    Penerbit                       : Pena Gaia Klasik

v    Jumlah Halaman         : 273 Hal

v    Terbitan                       : Cetakan 2003

v    Pengarang                   : Nukila Amal

 


Sinopsis :

          Kau tersentak dari tidur. Mendengar bunyi nafasmu sendiri, jetak jantungmu tak teratur. Matamu membuka menatap kamar, masih gelap.

Maia . . .

Ada yang memanggil namamu, suara sayup-sayup, datang dari balik sesuatu, seperti terhalang. Kau menahan nafas, menajamkan telinga. Hening.

Mmmm – suara terdengar lagi, seperti sedang berusaha melepas ucapan. Sesuatu bergerak, datang dari tanganmu, dingin ... Maia? Suara itu kini jelas. Kau menoleh buru-buru, melihat tanganmu, jari-jarimu mengepal, namun kelihatan ada yang menyembul keluar, kecil, kuning, seperti kepala.

Kepala naga. Kau tersentak, tanganmu refleks mencengram keras. Kepala itu teranggunk-angguk, mengeluarkan bunyi batuk-batuk seperti tersedak. Rasa takut, muncul sekejap entah dari relung mana, tiba-tiba melebar meluas merasuki seluruh dirimu dalam beberapa detik saja seiring dengan suara batuk makhluk itu. Kau seperti kaku, dan gerak terakhirmu adalah melempar isi genggamanmu. Lemparan yang lemah, karena mainan naga itu mendarat di bantal sebelahmu, tak jauh. Kau terbujur kaku menatapnya, benda mati yang menghidup, mainan yang mesti diseriusi. Monster, benakmu berseru-seru takut, ini mimipi buruk.

Naga terlempar mendarat pada punggungnya, sejenak empat kakinya bergerak mencakari udara. Monster mimpi buruk ini, akan menelanmu hidup-hidup, benakmu selaku matamu yang menatapnya. Ia berpaling Sepasang mata manik-manik hitam menatapmu.

Tak usah takut, nyalakan saja lampu, ia bicara, segala sesuatu tampak lebih jelas dalam cahaya.

Dengan ringan ia bersuara, bicara bahasa manusia. Kau bangkit seketika, melompat jauh dari tempat tidur. Kakimu mendarat di atas serpihan kaca, terasa tusukan tajam di kaki, tapi rasa takutmu telah menghalau rasa sakit. Tanganmu gemetar mencari tombol lampu di dinding, bertemu jarimu yang menyentaknya keras. Ruangan seketika terang lampu neon putih, kau berdiri mematung disudut kamar  pucat pasi.

Matamu membelalak, terlalu terkesiap untuk sebuah kerjap. Si naga kecil tampak melompat-lompat di atas bantal, seperti tengah berakrobat di atas trampolin, memental-mental ke penjuru bantal. Ia salto bergulung beberapa kali, sambil berseru, boleh tidak kalau aku membesarkan diri ? Tanyanya kali, sambil mendarat vertikal pada ekor, menancap seperti sekop pada bantalmu.

Jika saja saat ini kau melihat kupu-kupu terbang gentayangan di sudut langit-langit dan turun melepas warna-warna dari sayapnya dihadapanmu, mungkin kau tak akan terkejut. Karena kupu-kupu ada, hidup, nyata. Tapi seekor naga? Kau menatap hewan tak nyata didepanmu, tak percaya. Sekepulan asap tiba-tiba menyelubungi wujudnya, melingkar kian tebal kian cepat. Warna terang berkilasan dengan emas, berkelebatan. Terdengar bunyi gemerincing, berdenting di antara asap putih, bunyi halus yang tak nyaring, seperti bunyi genta-genta kecil di kuil yang tertiup angin. Asap putih lalu memups, denting menghening. Pemandangan  kembali jernih, warna-warna kembali pada tempatnya, menguakan wujud seekor naga.

Naga yang membesar, dan hidup. Ia berdiri tinggi di atas lantai berkeping kaca, hampir mencapai langit-langit kamar, punggungnya panjang tegak lurus pada dua kaki belakangnya. Kau menatap dengan lutut cemas, berjuang menggerakkan tungkai kakimu untuk mundur, tapi tanganmu telah meraba siku dinding. Kau tersudut, kian mencemaskan maut. Mati, aku akan mati, dalam ketakutan, pikiranmu gelisah.

Setidaknya, kau mati dalam mimpi, mimpimu sendiri, ia berkata sambil menyeriangi, memperlihatkan taring-taring tajam. Kuku-kukunya menapak lantai, runcing berkilat-kilat, lidah merah terjulur di antara taring seringai, mendekati. Ditengah panik, kau teringat berdoa, doa apa saja, biasanya itu membangunkan dirari mimpi buruk, mengusir monster jahat. Doamu entah apa, ayat-ayat tak genap, patah-patah di lidah.

Tapi makhluk itu masih di situ, dan kau tak kunjung terbangun dari mimpi burukmu. Kaki depanya maju, dua cakar dengan kuku-kuku mekar menganga. Mati, ini saatnya, pikiranmu, hanya itu yang ada dibenakmu yang tak lagi bisa memikirkan apa-apa, saat menatap raut maut yang kian dekat menghampiri, kiatan taring seringai.

Kau tak bisa membedakan antara seringai dan senyuman, rupanya, kata naga, aku sedang tersenyum lebar, lihat, tersenyum begitu ramahnya seperti lumba-lumba.

Desir angin libasan badan naganya sampai padamu, menebarkan dingin, tengkukmu merinding. Bagaimana mungkin senyuman bisa begitu menyeramkan. Dimatamu ia tetaplah monster menakutkan.

Aku bukan monster, kata naga, namaku Cala Ibi. Kau diam, gigimu merapat begitu kuat dalam mulutmu. Moncong naganya kini berada sejengkal dari wajahmu. Kau tak bisa bicara, mengapa, apakah aku telah datang merusak malammu? Malam lara sempurna, yang berujung dengan tangisan? Ia bicara dengan kepala miring, mengamati wajahmu. Satu cakarnya mengangsur padamu. Percayalah, aku tak bermaksud jahat, aku bukan naga bejat, lagi pula bukan naga sembarang naga, kau tak perlu takut mati muda.

Kau menatap kuku-kuku panjang, berkilau lebih nyalang  dari pada sisik-sisk emas di lenganya. Berkilatan mengerikan, seperti pisau-pisau melengkung tajam bersisik emas. Kau mengeri membayangkan rasa tajam hujamnya pada daging telapak tanganmu, jarimu akan bercucuran merah darah. Mungkin itu sebuah ajakan berjabat tangan, kau tak ingin membalas, tanganmu sembunyi, tersekap di antara pungung dan dinding. Naga itu menyeriangi lagi, dengan cakar masih terulur. Kau mengumpulkan sisa beranimu, seraya menyurutkan rasa percaya bahwa ia berbahaya. Walaupun mati mudah, setidaknya kau akan dalam berani, bukan mati ketakutan.

Kau berkata tergagap, dalam bahasa tak terkata, tidak ada, di zaman ini, sudah tidak ada naga, tak benar-benar ada, tak pernah ada.

Apalah yang kalian tahu, hai manusia? Satu cakarnya menunujuk sekeliling kamar. Disini, aku ada. Seperti adamu. Aku keluar di tahun manusiamu dua ribu.

Kenapa kau ke sisni karena kau, dan kau disini karena ada aku, jawabannya. Kalimat pendek yang membingungkanmu. Kau menatapnya yang tak lagi tegak memanjang, kini ia bertumpu pada empat kaki. Ia merendah di dekat kakimu, tubuh ularnya mulai melingkar bergelung. Bingung, adalah sebuah awal yang baik, sebuah rasa, naga bicara.

Pernahkah kau rasa, wahai Maia, jika kau sebenarnaya tiba-tiba ia bergerak melingkarimu, dalam gerak yang kain cepat dan selama mengelilingimu ia berkata panjang adalah kuda-kudaan komidi putar, plester menjengkelkan yang tak mau lepas dari jari, kau badut mencari sirkus, kau titik tak ketemu garis, anak ayam yang mengira dirinya anak bebek, kopi tubruk sisa semalam, donat rasa obat, mayat pelayat, aku gelas akan pecah, ikan dalam bejana kaca, manusia Netherland, kau ... Kau tumbuhan tingkat rendah, kau jamur beracun berpesta spora, bercadar diri, tanpa mimpi tanpa tepi, mimpi seorang perempuan ...

Apa yang bisa kau lakukan ketika melihat wujud naganya melesat cepat dekat kakimu seperti selingkar kuning emas, mendengar rentetan kalimat panjang seperti itu, mendengar ia menyebut namamu suatu saat dilingkar itu, mengata-ngataimu, menyimpulkanmu. Apa yang bisa kau lakukan, selain tercengang saja menatapnya. Ia mengehentikan geraknya, tubuhnya tiba-tiba menjulur panjang hingga kepalanya sejajar dengan kepalamu. Ia menatap mulutmu yang terbuka.

Dan cobalah berhenti tercengang-cengang. Kau tak terbiasa ya, dengan yang ajaib, yang tak logis, yang diluar nalar? Tampaknya begitu. Kau menyangkal mimpi, kau manusia yang tak punya rasa hormat pada mukjizat. Akal sehatmu terlalu merajai, inderamu tertutupi ia tergelak sejenak, bahkan, maaf, tak berfungsi.

Sang naga kembali tergelak, kau menatap moncongnya yang menganga., seringai penuh taring yang sedang tertawa, dimatamu masih tampak seram, meski tak seseram lima menit yang lalu ketika ia menapak maju satu-satu mendekatimu. Tawanya mengangakan rongga, lidah merahnya menari-nari seperti liuk api. Tak lagi tampak seram, mengingatkanmu pada ujung pita dikepang dua rambutmu waktu kecil dulu. Pita merah bercabang dua dirambutmu itu lalu hilang, ketika moncongnya mengatup. Maia, manusia, malam ini kau penunggang naga!

Tiba-tiba kau mendapati dirimu melayang menuju wujud naganya, menuju sebuah pelana dipunggungnya, kain yang menanti rumah. Kakimu berpijak di atas ekornya yang seperti sekop, pengukit yang menujukanmu pada punggungnya yang panjang. Kau duduk di atas pelana, terpanah melihat warnah merah di atas emas dan dua sayap membentang, mengepak-ngepak dalam gerak cepat. Sang naga berpaling menatapmu.

Kita akan terbang lewat jendela, kata naga, menuju malam ke mana-mana. Mari pergi!

Dibawahmu, badan sang naga bergerak, sayapnya masih mengepak keras naik turun dikanan-kirimu. Dalam sebuah sentak ringan, ia melesat naik. Menuju jendela, yang daunnya terbuka tiba-tiba, menguak langit hitam di luar sana. Kaca jendela menepi, gerbang yang melepasmu keluar.

Kau dan naga melesat menuju ke langit malam. Sayapnya mengepak kuat, menerjang pasti empat puluh derajat. Badanmu gemetar, bukan karena dingin udara malam, tapi oleh rasa suka cita terbang malam, lepas dari gaya tarik bumi. Rambutmu meriap berterbangan ke belakang seakan ingin pulang. Kau merasa senang, nyaris tak ingat bernafas, tak sempat, dirimu terklalu penuh oleh rasa ringan melayaang, mencium menelan angin.

Kau menatap sekelilingmu, pucuk pepohonan menjauh, rumahmu kian mengecil, jalanan mengurus, jarakmu dengan tanah kian melebar. Di atas tampak kawanan awan, bulan yang belum genap purnama, bintang-bintang segi lima. Kau menegedahkan muka ke langit, munkin malam ini kau kan ke sana, menyematkan bulan di belakang kepala atau dua tiga bintang ke rambutmu.

Kau dan naga terbang melintasi kota. Kota yang tak mati, tampak beberapa kendaraan melaju di  bawah. Sepanjang jalan bergelimang lampu. Lampu jalan, lampu lalu lintas, lampu hias, lampu iklan. Menyala warna-warni, kelap-kelip, tak peduli ada manusia atau tidak. Kau mengamati semua mengahampar di bawah sana. Segala sesuatu tampak begitu berbeda dari atas sini.

Matamu mencari-cari salah satu bangunan tinggi. Tampak tak jauh. Beton kunig dingin, lampu sorot memancar dari sana-sini. Disekitarnya pepohonan berbelitan lampu-lampu kecil berbarisan seperti pohon natal, tanpa kelahiran agung. Melarut dalam perayaan cahaya dikawasan bisnis kota. Kantormu. Tempat tujumu enam hari dalam seminggu, atau seminggu penuh.

Betapa segala sesuatu tampak begitu berbeda jika dilihat dari atas. Jalan-jalan bersambung-sambungan, sengkarut timpang tindih, tanpak seperti ular-ular mati. Jalan-jalan bernama, yang membawa manusia-manusia ketempat yang sama, aspal kulitnya kelabu berdesisan berkelupasan gemerlapan. Kau mengingat hari-harimu berada di ataas jalan-jalan itu, menyusuri, melingkari pergi dan kembali, kadang lambat kadang laju. Malam ini, berada di atas kota yang tiap hari kau akrabi, kau teringat kecemasanmu disepanjang jalan kota, pada gedung-gedung tinggi berpenangkal petir runcing dipucuk-pucuknya, menusuk langit dan awan. Kau ingat rasa ganjil yang kadang muncul ketika berada di antara gedung-gedung itu. Seperti sedang kesasar dalam hutan, hutan rimba buatan manusia, beton besi baja kaca aspal. Kau takut tak bisa keluar dari sana, berputar-putar saja di dalam labiran buatan manusia itu, dan satu hari, hari apa saja, satu percabangan jalan atau jembatan penyeberangan atau satu kendaraan laju akan mengakhiri hidupmu. Tiba-tiba. Padahal belum begitu banyak kau lihat, yang ingin kau lihat. Belum seluruh belum penuh.

Api malam ini, satu inginmu terpenuhi.

Kau tersenyum, karena malam ini kau sedang terbang, dengan seekor naga yang bisa bicara, dan kau penumpang satu-satunya, menuju entah kemana. Adakah terbang yang lebih asyik daripada ini, yang lebih bisa membuat tercengang, pikiranmu, adakah keinginan yang lebih mustahil terpenuhi. Sejenis terbang yang tanpa halangan, tanpa sabuk pengaman, tanpa tahu tujuan, tanpa kurungan badan pesawat, tanpa sesama penumpang, ajakan bicara basa-basi, pramugari. Telah lama kau ingin tahu apa yang di rasa burung elang dan teman-temannya, para makhluk yang bersayap yang bisa terbang, tinggi, sendiri. Mereka, yang bisa melihat semua dari ketinggian, penuh seluruh.

Adakah pemandangan yang begini banyak untuk dinikmati, berada diantara langit dan bumi. Banyak benda-benda rasa, pikiran, (banyak, ketika berada di antara). Kau menetap medan luas, terbuka, mencoba memutuskan mana yang mesti kau perhatikan, semua sama manisnya. Mestikah kau memperhatikan pemandangan di bawah. Atau di atas. Atau di tengah, ataukah naga misterius itu. Ataukah dirimu. Manusia yang malam-malam menunggangi naga, berbaju piyama hitam bunga-bunga. Berkah manis, setelah semalaman menangis.

Kau tertawa. Keluar dari kerongkonganmu, semacam tawa yang keras panjang dan penuh, meledakkan rasa ingin tahu, mengenyahkan rasa takut, memberi berani. Kau sedang meninggalkan kota, menuju entah ke mana mungkin ke langit jauh tinggi. Kau merasa tak perlu lagi tercengang, apa saja bisa terjadi di luar sini, di malam ini, ke mana pun kau pergi. Rasanya kau berada di ambang berbagai kemungkinan. Dan ketakmungkinan.

Lampu-lampu gedung dan rumah mengecil, Tugu Monas sebesar kelingkingmu. Kota menjauh, mengabur, berpayung kabut smog. Kau menghirup nafas dalam-dalam, udara di atas sini bersih. Dan sebentar lagi mungkin awan di atas sana akan terlibas, kau mengadah menatap awan pertama, tampak dekat di atas kepalamu.

Kepala naga berbalik, ia menatapmu yang telah menyurutkan tawa, seringainya melebar, apa rasanya terbang?

Seprti, hmm, kau memejamkan mata, punggungmu tegak dengan dua tangan memegang lutut, merasai apa-apa yang terasa. Angin di dahimu, rambut, telinga, berdesiran di antara jari-jari kakimu yang bergerak-gerak, rasa dingin di kulitmu. Membuka mata, kau mengamati langit di atasmu, kota di bawahmu. Seperti, kau menjawab, seperti setengah terjaga, seperti bangun tidur, tapi belum bangun benar?

Kepala naga mengangguk, berada antara lelap dan jaga, diantara dua dunia.

Seperti naik komidi putar, tepat lebih cepat, kau menambahkan.

Seperti kuda-kudaan yang menerjang lepas dari komidi putar, kata sang naga.

Seperti jatuh, tapi bukan ke bawah, kau berkata sambil menengadah ke langit, suaramu agak berseru, jatuh yang ... jatuh ke atas!

Seperti ini? Naga menukas, dan tak menunggu jawabanmu, tiba-tiba badannya jumpalitan dalam sebuah gerak melingkar. Kau tersentak

Dan jatuh.

 

 



Laporan Baca :

Novel ini berkisah tentang satu tokoh dalam dua dunia yang berbeda. Saat pagi dia bernama Maya. Ia memulai kesibukannya layaknya wanita karir di Jakarta. Namun bila malam telah datang, namanya tidak lagi Maya yaitu Maia. Novel ini merupakan novel karya Nukila Amal yang terkenal di zamannya. Novel ini sangat menarik bagi pembaca, yang menarik pembaca yaitu cara beliau menceritakan yang penuh dengan simbolik, kompleks, dan permainan kata. Dengan bahasa-bahasa yang padat dan metaforis membuat novel ini demikian rumit dan menguras pikiran dalam membacanya karena bahasanya sangat bertele-tele.                  

Namun demikian, beliau memang berhasil melukiskan makna dari pengalaman manusia yang memang tak sederhana, berhasil menunjukkan bahwa pengalaman manusia itu sesungguhnya tak logis, tapi metaforis seperti mimpi. Beliau mengunakan kata ganti orang pertama ”aku” untuk   subyek Maya. Namun kalau menjadi Maia, maka beliau menggunakan kata ganti orang kedua ”kamu atau kau”.

Maya, yang sudah mapan merasa agak terganggu dengan desakan kedua orang tuanya untuk segera mencari pendamping hidupnya. Ayah dan ibunya memang tidak memaksa Maya untuk segera menikah, tetapi melalui percakapan mereka sehari-hari dan pernyataan keinginan kedua orang tuanya untuk segera memiliki momongan, membuat Maya tak enak dengan kedua orang tuannya yang menginginkan dia punya momongan.

Pada suatu malam Maia bermimpi, ia sedang bercemin di dalam rumah dan mendengar suara  memanggil namanya terus-menerus. Suara yang terakhir sangat begitu keras hingga memecahkan cermin. Ia bertemu dengan sosok mahluk yang selama ini menjadi lambang kekuatan dan kehormatan. Mahluk itu adalah naga bernama Cala Ibi. Dia bermimpi bisa bercakap-cakap hingga sampai bisa bermain bersama. Mimpi tersebut sangat menggelisahkan Maia, hingga ia ingat kepada seseorang yang bisa menafsirkan mimpi. Ia adalah Bibi Tanna yang hanya memberikan nasihat agar lebih memperhatikan pada dunia tak nyata saat menanyakan apa arti mimpi itu. Bibi Tanna juga mengatakan bahwa Maia akan semakin mengerti apa yang dibawah tampakan itu. Di hari kemudian Maia membeli buku bersampul warna hitam dan meletakkannya di bawah bantal serta mengisi lembaran-lembaran tersebut dengan tulisan cakar ayam dan saat itu pula Maia mulai berani bermimpi yang aneh-aneh. Maia bermimpi ia bertemu dengan sosok mahluk yang selama ini menjadi lambang kekuatan dan kehormatan. Mahluk itu adalah naga bernama Cala Ibi. Sama seperti nama burung di pulau Maluku. Dalam malam–malam itulah Maia dibawa sang naga (Cala Ibi) menembus batas ruang dan waktu, mengarungi lautan mimpi yang tak bertepi. Di suatu tempat entah abad berapa di tanah leluhurnya, Maluku, Maia melihat terang yang paling menyalang sang dukun perempuan di perbukitan Tobana. Namanya Bai Guna Tobana. Demikianlah Maia mengarungi dunianya bersama Cala Ibi. Dalam petualangan yang tak berakhir bahkan dengan berakhirnya novel ini sekalipun, Maia kemudian bertemu dengan sosok-sosok misterius lainnya seperti Ujung dan kekasihnya Tepi yang kemudian melahirkan tangisan seorang bayi dari sebuah persetubuhan yang singkat, dalam kabut pekat. Betapa pun anehnya mimpi-mimpi yang dialami Maya, hingga pada akhirnya Maya merasa bahwa Maia adalah sisi dirinya yang lain. Ia bisa menikmati mimpi-mimpinya, seperti ia menikmati kehidupannya.

Maya mendapatkan pengalaman yang luar biasa dari mimpinya itu. Ia mulai bisa mengerti siratan-siratan dalam mimpi. Mimpi mengajarinya untuk bisa menerima kenyataan. Seorang wanita memang butuh seorang lelaki. Ketika Maya menyadari hal itu, maka seorang lelaki yang tak pernah diduga-duga datang mengetuk pintu hatinya. Lalu datang mengetuk  pintu rumahnya, dan meminta Maya untuk menjadi istrinya.

SEKIAN

ABDULLAH SYAROFI

121111132

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi