Kesusastraan

 

TUGAS PENGANTAR KAJIAN SASTRA

 

1.      Hubungan sastra dan sejarah

 

Hubungan antara sejarah dan satra sangat erat sekali, sastra tidak akan bisa muncul tanpa adanya sejarah begitupun sebaliknya sejarah tidak akan muncul tanpa  adanya sastra, jadi sastra dan sejarah ini mempunyai keterkaitan yang relevan. Karya sastra sebagai simbol verbal mempunyai beberapa peranan di antaranya sebagai :

ü  cara pemahaman (mode of comprehension),

ü  cara perhubungan (mode of communication),

ü  dan cara penciptaan (mode of creation).

Objek karya sastra adalah realitas apapun juga yang dimaksud dengan realitas pengarang. Karya sastra dapat merupakan penciptaan kembali sebuah peristiwa sejarah sesuai dengan pengetahuan dan daya imaginasi pengarang.Dalam karya sastra yang menjadikan peristiwa sejarah sebagai bahan, ketiga peranan simbol itu dapat menjadi satu. Perbedaan masing-masing hanya dalam kadar campur tangan dan motivasi pengarangnya. Karya sastra yang menjadikan peristiwa sejarah sebagai bahan, dapat berupa puiisi atau prosa. Perbedaan antara tulisan sejarah (Historigrafi) dan karya sastra dapat dilihat dari kedudukan kedua jenis symbol verbal itu masing-masing, demikian pula kedudukan peristiwa sejarah dalam keduanya. Perbedaan antara sejarah dan sastra nampak dalam skala yang dibuat Koestler dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk penemuan manusia. Sejarah mempunyai tugas kembar pertama, sejarah bermaksud menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Sejarah mengemukakan gambaran tentang hal-hal yang sebenarnya terjadi. Sejarah mengemukakan gambaran tentang hal-hal sebagai adanya dan kejadian-kejadian sebagai sesungguhnya terjadi. Kedua, sejarah harus mengikuti prosedur tertentu harus tertib dalam penempatan ruang dan waktu, harus konsisten dengan unsur-unsur lain seperti topografi dan kronologi, harus berdasarkan bukti-bukti.Bagi pengarang sastra satu-satunya kaidah ialah kejujuran ; seorang novelis harus belajar untuk bertanggung jawab sehingga dirinya berharga didalam kebebasan itu. Demikian pula dalam penggunaan bahasa, tulisan sejarah dan karya sastra, berbeda. Sejarah lebih cenderung menggunakan referential symbolism dengan menunjuk secara lugas kepada objek, pikiran, kejadian dan hubungan-hubungan, sedangkan sastra lebih banyak pesan-pesan subyektif pengarang.

2.      Pokok-pokok pikiran Kuntowijoyo

Pokok pikiran Kuntowijoyo yang tertara dalam makalah yang pertama yaitu mengupas tentang relasi antara sastra dan sejarah sastra, yang membahas tentang peranan sastra terhahap peristiwa suatu sejarah. Dan apa saja yang membedakan antara sastra dan sejarah.

Pokok-pokok pikiran Kuntowijoyo yang dibahas dalam makalah yang kedua yaitu membahas tentang penokohan dan perwatakan dalam sastra Indonesia. Sastra Indonesia tidak mempunyai tradisi psikologisme yang kuat, dalam arti bahwa penokohan dan perwatakan dalam karya sastra tidak banyak mempersoalkan perkembangan personalitas dari pelaku-pelakunya. Tokoh-tokoh dalam sastra tidak mempunyai perwatakan yang merdeka, tetapi merupakan tokoh yang sudah ditertibkan. Sastar Indonesia juga tidak dibangun di atas dasar perkembangan logis dari kejiwaan pelakunya, tetapi atas dasr perkembangan kejadian menerut penuturnya.

Pokok pikiran yang dikupas dalam makalah ketiga dari makalah Kuntowijoyo yaitu tentang Sastra yang sebagai bidang kajian sejarah intelektual tetapi masih belum banyak mendapat perhatian, baik dari penulis sejarah maupun kritikus sastra Indonesia, padahal satra Indonesia menawarkan begitu banyak kemungkinan.

3.      Masalah-masalah sastra apa sajakah yang dijadikan topik pemikiran

Masalah yang dibahas didalam makalah Kuntowijoyo yaitu terdapat beberapa masalah yang bisa dibuat untuk topik pemikiran diantaranya masalah yang pertama yaitu tentang relasi antara sastra dan sejarah sastra. Masalah yang kedua yaitu masalah tentang penokohan dan perwatakan dalam sastra Indonesia. Sastra Indonesia tidak mempunyai tradisi psikologisme yang kuat, dalam arti bahwa penokohan dan perwatakan dalam karya sastra tidak banyak mempersoalkan perkembangan personalitas dari pelaku-pelakunya. Tokoh-tokoh dalam sastra tidak mempunyai perwatakan yang merdeka, tetapi merupakan tokoh yang sudah ditertibkan. Masalah yang ketiga yaitu tentang sastra Indonesia mencari arah, Sastra sebagai bidang kajian sejarah intelektual tetapi masih belum banyak mendapat perhatian, baik dari penulis sejarah maupun kritikus sastra Indonesia, padahal satra Indonesia menawarkan begitu banyak kemungkinan.

4.      Rangkaiakan tiga makalah tersebut

Dari ketiga makalah yang dikemukakan oleh Kuntowijoyo tersebut penulis bisa menyimpulkan bahwa ketiga makalah ini saling mengisi antara relasi sastra dan sejarah sastra. Penokohan dan perwatakan dalam sastra. Sastra yang sebagai bidang kajian sejarah intelektual tetapi masih belum banyak mendapat perhatian, baik dari penulis sejarah maupun kritikus sastra Indonesia, padahal satra Indonesia menawarkan begitu banyak kemungkinan.

5.      Kemukakan studi kasus konsep Kuntowijoyo dengan buku sastra yang telah anda baca

Karya-karya sastra sekarang lebih cenderung cerita sang penulis, dari cerita itulah penulis menuangkan kedalam tulisan-tulisan agar cerita itu bisa menjadi sejarah bagi sang penulis. Karya sastra yang sudah saya baca sebagian besar membahas tentang peristiwa sejarah sang penulis yang dituangkan menjadi sebuah karya yang terlihat menarik atau memikat hati  bagi sang pembaca dan bisa sebagai cambuk atau pedoman bagi para pembaca jika sudah membacanya. Contoh novel yang berjudul Telegram karya Puthu Wijaya, pelaku dalam novel tersebut adalah sang penulis novel itu sendiri dan penulis menceritakan apa yang sudah dia lakukan dan dituangkan melalui tulisan. Dari itulah cerita sang penulis dituangkan dalam tulisan dan dianggap sebuah sejarah bagi sang penulis novel.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi