Kesusastraan

 

 

LAPORAN BACA NOVEL

PENGANTAR KESUSASTRAAN

OLENKA

Budi Darma


ABDULLAH SYAROFI

121111132

 

SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2011



v      Judul Buku                  : OLENKA

v      Penerbit                       : Balai Pustaka

v      Jumlah Halaman         : 232 Hal

v      Terbitan                       : Cetakan 1990

v      Pengarang                   : Budi Darma

 


 

SINOPSIS :

          Keesokan harinya saya melesat ke perpustakaan. Saya mengudal-udal katalog. Akhirnya saya menemukan antologi yang dimaksud Wayne.

            Cerpen Wayne berjudul ”Olenka”. Dugaan saya terhadap Wayne ternyata betul. Dalam cerpen ini dia berbicara kepada dirinya sendiri. Baginya dunia pembaca tidak ada. Kalaupun ada, pembacanya adalah dirinya sendiri.

            Saya tidak tahu apakah cerpen ini ditulis sekali jadi, ataukah diulang sekalian kali. Meskipun tidak semua kata-katanya tepat dan meskipun jalur ceritanya tidak begitu terang, sebagai kebulatan sebuah cerpen Wayne mencerminkan otak bermutu tinggi. Pandangannya tajam dan analisannya kuat, meskipun detail-detailnya sering berantakan. Saya kagum.

            Dalam cerpen ini Olenka adalah seorang anak perempuan berumur lebih kurang dua belas tahun. Dia anak keluarga Albright, tinggal didaerah pedalaman negara bagian Illinois. Entah sudah berapa keturunan mereka tinggal di sana, Albright sendiri tidak tahu. Mereka hidup dari sumber penghasilan turun-temurun, yaitu sebuah dam untuk menangkap ikan. Menurut mereka, dam tersebut peninggalan orang-orang indian. Sudah berkali-kali mereka mendapat peringatan dari polisi desa untuk menghancurkan dam tersebut. Karena letak kantor polisi lebih kurang lima belas mil dari rumah mereka, polisi tidak dapat berbuat banyak. Lagi pula polisi di sana selalu berganti-ganti, dan semuanya berhati lunak. Mereka tidak bertindak apa-apa selain mengulangi peringatan mereka.

            Tibalah giliran John Albirkin menjadi polisi desa. Yang dikerjakannya pertama kali adalah memeriksa arsip lama. Tidak seperti polisi-polisi sebelumnya Albirkin galak dan tegas dia meluruk Albright akan tetapi Albirght bersembunyi. Istrinya pura-pura tidak tahu apa-apa.

            Yang diberi kekuaasaan untuk melawan polisi adalah Olenka. Karena potongannya menarik, solah-tingkahnya aleman, tapi tindakannya tegas, Olenka sanggup membuat polisi Albirkin kewalahan. Albirkin terpaksa mundur.

            Beberapa hari kemudian Albirkin kembali, sambil menghamburkan kata-kata ancaman yang sangat keras. Proses ini terjadi sampai beberapa kali. Albright tetap sembunyi , istrinya tetap berpurah-purah bodoh, dan Olenka tetap gagah dan tidak sudi mundur mengahadapi polisi Albirkin. Akhirnya Albirkin tidak sanggup lagi menangani rasa murkanya. Dia membawa dinamit, dan setelah bertengkar sebentar dengan Olenka, dia menghancurkan dam tersebut . Dam menjadi porak poranda. Olenka bergidik, menggerut-gerutkan giginya, akan tetapi tahan menghadapi kemarahannya sendiri.

            Ayah Olenka kehilangan akal ditempat persembunyiannya. Dia mendengar ledakan-ledakan dinamit, dan mersa jantungnyalah yang meledak-ledak. Mula-mulanya ibunya berlagak bodoh, sekarang benar-benar menjadi bodoh. Dia meraung-raung, lari kesan dan kesini, akan tetapi tidak berbuat apa-apa lagi.

            Sementara itu dengan tenang Olenka mengambil senapan. Dia lari kebelakang batu karang, mengintip kekurang ajaran Albirkin. Dengan tenang pula Olenka membidik kepada kepala Albirkin. Sementara itu Albirkin masih duduk tenang-tenang diatas pelana kudanya. Kudanya sendiri tetap tegak berdiri, tidak bergidik dan tidak bergeming.

            Olenka membidik lagi, kemudian menembak lagi. Keadaan sebelumnya berulang. Demikian juga pada tembakan ketiga. Lalu denagn tenang Albirkin turun. Setelah menyulut rokoknya, dia berjalan kearah Olenka. Dengan tenang pula Olenka menunggu kedatangan Albirikin.

            Maka mengardiklah Albirkin, ”Perempuan buduk, kamu mau membunuh saya, ya?” Setelah meluda, Olenka menjawab, ”Membunuh sampeyan, polisi gendeng? Tentu saja tidak. Bukannya saya takut masuk penjara, akan tetapi saya merasa sayang untuk membuang peluru kalau tidak menimbulkan kepuasaan. Saya hanya ingin menakut-nakuti kuda sampean. Kalau saya ingin membunuh sampean, lebih baik saya memasang jebakan di antara dua batu karang besar di sana itu. Itu lihat, di sebelah sana. Setelah sampean terjebak, barulah saya melubangi gundul sampean. Bukanlah setiap perbuatan harus mendatangkan kepuasan? Sampean sendiri mengajari saya untuk mencari kepuasan dalam menghancurkan dam milik kami. Dam ini milik indian yang diserahkan kepada nenek moyang saya.”

            Demikianlah cerpen Wayne. Pada waktu membaca cerpen ini pikiran saya melayak ke istri Wayne, yang kemudian saya ketahui juga bernama Olenka. Saya merasa Olenka kecil adalah penjelmaan Olenka tua istri Wayne. Matanya dan hidungnya seolah bisa dicopot mengingatkan saya pada istri Wayne. Demikian juga potongan tubuhnya, caranya berjalan, berbaring diatas rumput, berbicara, duduk , dan bertindak seenaknya.

            Karena Wayne lebih banyak berbicara melalui bawah-sadarnya, yang saya tangkap mengenai Olenka dalam cerpen hanyalah yang tersirat dari keseluruhan cerita. Inilah keistimewaan Wayne, dia lebih banyak memberi sugesti daripada fakta. Dia memberi kebebasan imajinasi pada pembacannya. Cerpenya lebih mirip puisi daripada prosa. Maka Olenka dalam cerpennya dapat hidup dalam angan-angan, dan bagaikan bayang-bayang tidak dapat dipegang. Kemana pun saya lari dia mengejar, kemana pun saya mengejar dia menjauh.

            Hubungan Olenka dalam cerita mirip benar dengan hubungan saya dengan Olenka istri Wayne. Saya tidak pernah dekat dengan dia, dan memandang dia sebagai sesuatu yang jauh, akan tetapi dia tidak mau lenyap dari pikiran saya. Kadang-kadang saya merasa  dia berjongkok dibawah saya, menawarkan diri untuk mencopot sepatu saya. Saya juga sering merasa dia lari jauh di depan saya, dan mengundang saya untuk menangkapnya. Diam-diam dia dihinggapi nafsu untuk merampok harta-karun Wayne, Olenka dalam cerpennya, dan Olenka istrinya.


 

Laporan Baca

          Saya menulis Olenka di Bloomington pada akhir tahun 1979. Apakah pada  waktu itu saya masih dalam keadaan menulis Orang-Orang Bloomington atau tidak, saya tidak begitu ingat. Kalau tidak salah, mungkin waktu itu saya sudah menyelesaikan sebagian Orang-Orang Bloomington.

            Seperti halnya pada waktu menulis yang lain-lain, saya menulis Olenka juga melalui sebuah kebetulan. Pada waktu itu saya habis bepergian. Sewaktu mendekati gedung Tulip Tree, tempat saya tinggal, sekonyong-konyong salju turun. Sementera itu udara dingin makin kurang ajar. Saya cepat lari masuk gedung. Kebetuan lift sudah hampir menutup. Rupanya, setelah melihat saya bergegas, seorang wanita di dalam lift segera membuka pintu kembali, mempersilahkan saya masuk. Saya pun masuk. Kecuali wanita ini, di dalam lift ada tiga anak laki-laki berpakaian kotor. Karena rupa mereka mirip dengan rupa wanita ini, saya meyangka mereka ibu beserta anak-anaknya. Ternyata ketiga anak itu turun di tingkat lain, sementara wanita ini terus naik ketingkat yang lebih atas. Dengan ringkas, dia bercerita siapa ketiga anak tadi sebenarnya. Mereka ditinggal ibu mereka, sementara ayyah mereka bekerja mulai pagi sampai sore. Terpaksa mereka hidup agak berkeliaran.           

            Entah mengapa, begitu berpisah dengan wanita ini saya terus lari, masuk ke apartemen saya, langsung menggeblas ke kamar saya. Saya membuka mesin tulis, kemudian menulis. Setelah menyelesaikan  beberapa halaman saya berpikir, mungkin saya akan segera menyelesaikan sebuah cerpen. Ternyata saya tidak bisa berhenti. Otak saya diserbu oleh desakan-desakan  hebat untuk terus menulis, sampai-sampai waktu say untuk keperluan-keperluan lain banyak terampas. Maka selesailah novel Olenka, kalau tidak salah dalam waktu kurang dari tiga minggu.

            Tanpa mengalami peristiwa didalam lift tersebut, mungkin saya tidak berbuat apa-apa. Tanpa peristiwa tersebut mungkin otak saya tersedot untuk urusan-urusan lain, demikian pula tangan saya. Bahwa kemudian saya tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menulis, menunjukkan dalam menulis status saya lebih  banyak sebagai objek, dan bukannya subjek yang menentukan kapan saya harus memulai menulis. Dan semuannya mulai dari sebuah kebetulan.

            Sebuah kebetulan  ternyata tidak mempunyai arti apap-apa tanpa kaitan dengan kebetulan-kebetulan lain. Salah satu kebetula lain dapat saya telusur ketika saya masih sekolah SMP kelas III Salatiga. Pada waktu itu saya sekolah di SMP Negeri, kalau tidak salah dijalan Kartini. Saya menjadi pengunjung setia sebuah perpustakaan pemerintah tidak jauh dari kantor pos  tempat almarhum saya bekerja. Akhirnya saya menemukan sebuah buku kumpulan cerpen Rusia dalam terjemahan bahasa inggris. Dengan kemampuan bahasa inggris saya yang sangat terbatas, saya dapat menghabiskan buku tersebut. Bahkan sebuah cerpen di antarannya tetap terpaku dalam ingatan saya.

            Saya lupa siapa pengarang cerpen ini. Akan tetapi saya ingat benar, bahwa pelaku utamanya seorang wanita bernama Olga Semyonovna. Saya ingat betul bahwa Olga selalu mencintai seseorang, dan menirukan pendapat orang yang dicintainnya dengan fanatik. Baginya, pendapat orang yang dicintainnya adalah kebenaran yang paling tinggi. Sayang, setiap orang yang dicintainnya pasti meninggal. Karena dia tidak dapat hidup tanpa mencintai, dan memang orang tidak pernah membirkannnya tanpa mencintainnya, maka hidupnya adalah serangkaian kekaguman terhadap orang-orang tertentu yang pendapatnya masing-masing selalu merupakan kebenaran yang tidak dapat dibantah. Pernah dia menjadi istri pengusaha opera, dan denag keyakinan dia menganggap bahwa hidup tanpa opera adalah barbar. Setelah pengusaha opera ini meninggal dan dia kawin lagi denagn pengusaha kayu, dia bersitegang bahwa dunia tanpa balok-balok kayu bukanlah dunia lagi.

            Saya sering teringat kembali cerpen ini. Bahkan saya sering merasa terharu mengingat kembali nasib Olga Semyonovna. Saya menyeasal sekali mengapa saya tidak memiliki bukunya. Terjemahan cerpen ini ke dalam bahasa Indonesia  yang dulu say kerjakan dengan tekun diatas kertas buram sudah lama, hilang. Maka putuslah harapan saya untuk bertemu kembali denagn Olga.

            Namun perjalanan waktu menentukan lain. Beberapa minggu sebelum saya menulis Olenka, secara kebetulan saya menemukan buku yang selalu saya idam-idamkan ini di toko buku loak Caveat Emptor di Bloomington. Anak yang hialang telah datang kembali.

            Cerpen yang selalu mengganggu pikiran saya ternyata tulisan Anton P. Chekhov berjudul ”The Darling”. Nama pelaku utamanya memang Olga Senyonovna, akan tetapi ini hanya nama panggilan. Tanpa memperhatikan kembali siapa namanya sebenarnya, dalam waktu singkat saya membaca habis semua cerpen dalam kumpulan tersebut.

            Beberapa minggu setelah menyelesaikan Olenka, barulah saya bertanya-tanya , mengapa saya mempergunakan nama itu. Saya benar-benar tidak tahu. Selang beberapa lama lagi saya mengetahui, bahwa wanita di lift dulu itu bernama Anka. Sayasedikit bergemmbira, karena nama Anka agak mirip denag Olenka. Akan tetapi saya masih tetap tidak tahu mengapa saya memprgunakan nama Olenka.

            Barulah setelah saya pulang kembali ke Indonesia, dan secara kebetulan membuka-buka kumpulan cerpen Rusia itu, saya mengetahui bahwa namaa sesungguhnya Olga Semyonovna adalah Olenka. Pantas saya tidak pernah mendengar nama Rusia ini di Amerika. Dengan tidak sadar saya telah mengambil nama itu bukan karena nama itu sendiri, akan tetapi karena nasib pemiliknya.

            Barulah saya sadar, bahwa tanpa membaca kembali cerpen mengenai Olga tidak mungkin saya menulis Olenka. Atau paling tidak tidak mungkun saya menulis novel ini denagn nama Olenka. Akan tetapi andaikata saya tidak mempergunakan nama ini, mungkin yang saya tulis juga berbeda.

            Setelah berusaha memikir-mikirkannya kembali, saya merasakan adanya beberapa benang yang putus. Ternyata, pada waktu menulis novel ini pikiran saya tidak pernah melayap ke Olga. Olenka yang saya tulis juga berbeda dengan Olenka yang di tulis oleh Chekhov. Watak-watak mereka juga bebrbeda. Bahkan sampai selesai menulis pun pikiran saya tidak kembali ke Olga. Barulah setelah saya mengetahui bahwa nama Olga sesungguhnya Olenka, saya betul-betul sadar bahwa tanpa pernah memikirkan nasib Olga, tidak mungkin saya menulis Olenka.

                        Sekarang saya sadar, bahwa kreatifitas justru terletak di bagian-baagian yang putus. Kreativitas adalah mengadakan apa yang tidak ada. Dan memang Olenka yang saya tulis tidak ada dimanapun sebelumnya. Hubungannya denga Olga, baik sebelum novel ini selesai maupun setelah novel ini selesai, tidak pernah ada. Yang ada hanyalah kesadaran saya sendiri bahwa tanpa pernah membaca cerpen mengenai Olga, tidak mungkin saya menulis novel ini. Kareana itu, status hubungan Olenka yang ditulis oleh Chekhov dengan Olenka yang saya tulis tidak jelas, dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Justru di dinilah letak kreativitas. Andaikata Olenka yang saya tulis adalah sambungan harfiah atau penjelmaan harafiah Olenka yang di tulis Chekhov, justru saya patut mencurigai ketidakberesan kreativitas saya. Pengarang memang bertanggung  jawab untuk menciptakan pribadi yang mandiri, yang berbeda denag pribadi-pribadi lain.

                                                ******************

” Cerpen Wayne berjudul ”Olenka”. Dugaan saya terhadap Wayne ternyata betul. Dalam cerpen ini dia berbicara kepada dirinya sendiri. Baginya dunia pembaca tidak ada. Kalaupun ada, pembacanya adalah dirinya sendiri.”

”Saya tidak tahu apakah cerpen ini ditulis sekali jadi, ataukah diulang sekalian kali. Meskipun tidak semua kata-katanya tepat dan meskipun jalur ceritanya tidak begitu terang, sebagai kebulatan sebuah cerpen Wayne mencerminkan otak bermutu tinggi. Pandangannya tajam dan analisannya kuat, meskipun detail-detailnya sering berantakan. Saya kagum.”

Dalam novel ini Budi Darma menyajikan sebuah pertunjukan kejadian manusia dengan karakter-karakter yang aneh, yang hidupnya senantiasa terbentur-bentur dan tidak malu mengakui sisi buruk dirinya. Sebab bagi Budi Darma, manusia adalah makhluk yang penuh luka, hina dina, dan sekaligus agung dan anggun. Manusia bukanlah makhluk yang enak. Tokoh-tokoh dalam Olenka bukanlah para pahlawan. Mereka hanya manusia biasa yang jujur dan berani berterus terang akan diri mereka yang sebenarnya. Novel yang berjudul Olenka yang ditulis oleh sastrawan terkenal pada zamannya yaitu budi darma ini menceritakan tentang seseorang yang bernama Fanton Drummond, tokoh utama sekaligus narator dalam kisah yang bersetting di kota Bloomington, Amerika Serikat.

Dia bekerja sebagai sutradara pembuat film iklan dan ia juga memiliki masa lalu yang kelam. Ia menyandang status yatim piatu sejak kecil lalu ia diangkat anak oleh sepasang suami istri Drummond. Tetapi itu tidak lama, sebab kedua orang tua angkatnya itu tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas dan ia harus kembali dipelihara oleh negara. Setelah tamat dari bangku SMA, Fanton bekerja serabutan sebelum akhirnya memperoleh beasiswa untuk melanjutkan ke universitas. Ia tumbuh menjadi pribadi yang kesepian sehingga kerap bertingkah aneh, seperti menulis surat untuk dirinya sendiri dengan berpura-pura surat tersebut ditulis oleh seorang gadis yang ditaksirnya. Kemudian secara kebetulan, Fanton bertemu dengan seorang wanita, yang bernama Olenka, yang sempat mencuri perhatiannya. Pertemuan pertama tersebut menjadi inspirasi bagi Fanton untuk mengusahakan kembali bisa bertemu Olenka, tetapi ternyata diusahakan dengan sengaja untuk bertemu, Fanton malah kehilangan jejak Olenka. Memang dia sudah memastikan bahwa Olenka juga tinggal di apartemen tersebut bersama sang suami bernama Wayne dan anaknya bernama Steven, namun ia tetap memutuskan untuk melakukan pertemuan yang dirancang. Dan Fanton gagal. Tetapi secara kebetulan pula, ia malah bisa bertemu dengan Olenka setelah Olenka juga dengan sengaja mengusahakannya. Singkatnya mereka saling kenal dan bahkan sampai bisa tidur berdua. Sebetulnya Wayne pun tahu tentang hubungan terlarang yang dijalin oleh Fanton dan Olenka tapi Wayne merasa cuek saja. Fanton pun saling kenal dengan Wayne. Dan ada perang terselubung di batin mereka masing-masing. Sementara hubungan Fanton dengan Olenka pun banyak diwarnai percakapan-percakapan, namun dibuat santai bahkan seperti asal saja. Memang hidup Fanton dipenuhi pula oleh pikirannya yang selalu mencoba menelusup ke jalan pikiran orang lain.

Pada suatu ketika Olenka ini menghilang. Wayne pun bersikap santai saja dan Fanton bersikap kalang kabut. Namun dalam situasi itu Fanton malah jadi sering berhubungan dengan Wayne, bahkan Fanton sempat membantu Wayne dalam memberi saran pekerjaan, dan Wayne menikmati pula pekerjaan hasil saran Fanton. Tetapi di dalam pikirannya, Fanton teramat sangat memusuhi Wayne begitupun sebaliknya ia membaca pikiran Wayne terhadap dirinya. Dan ditengah keanehan sikap antar keduanya ini, ia sempat meninju muka Wayne yang ternyata juga malah tersenyum saja seperti sudah memperkirakan dan memaklumi tindakan itu yang membuat Fanton Dummond semakin membenci Wayne dalam pikirannya.  Olenka tidak juga ada kabar, Fanton mulai melakukan pencarian, dari suatu tempat ke tempat lain dan entah kenapa, tanpa alasan yang jelas, ia hampir berhasil. Ia mendapat informasi bahwa Olenka berada di Chicago dan berdasarkan pengetahuannya akan pengalaman Olenka yang memungkinkan ia sedang bergaul dengan seniman-seniman jalanan di kota tersebut.

 

Fanton akhirnyapun mencari ke sana. Tetapi di Chicago ia juga tak betul-betul serius merencanakan mekanisme kerja dalam investigasi akan keberadaan Olenka. Fanton malah sibuk berwisata ria dengan dua perempuan, M.C. dan M.B., yang secara kebetulan pula dikenalnya. Meski masih dalam bayang-bayang akan pencarian terhadap Olenka, M.C. mulai mencuri perhatian Fanton. Terus dalam bayang-bayang Olenka dan tanpa pertimbangan yang kuat, Fanton melamar M.C. Tapi sayangnya M.C. menolak dan ternyata ia harus segera kembali ke rumahnya di Pensylvania. Fanton balik mencari ke Tulip Tree dan di sana telah menunggu surat dari Olenka.

 

Olenka bercerita banyak namun tak ada jalan untuk sebuah pertemuan. Fanton juga terkenang terus pada M.C. dan membuatnya terinspirasi untuk membuat lima surat masturbasi. Ditulis untuk seseorang namun dibalas sendiri. Ditengah pikiran tentang M.C. itu, Fanton sempat dua kali menerima surat dari Olenka dan dalam membaca surat tersebut ia seperti sedang bercakap-cakap seperti biasanya dengan Olenka karena Olenka juga seperti tahu tentang kehidupan Fanton selama ia tinggalkan. Kemudian, secara kebetulan juga, Fanton mengetahui tentang kecelakaan pesawat yang menimpa M.C. Tanpa alasan yang jelas ia pergi mengunjungi M.C. Lalu ia pun tinggal disana. Mengulangi pinangannya, tapi kemudian Fanton malah pergi, tanpa alasan yang pasti, sebelum perkawinan itu terjadi. Setelah pergi dari tempat nona M.C. yang telah cacat itu, Fanton berencana kembali ke Tulip Tree, mana tahu ada surat lagi dari Olenka selama sekian waktu Tulip Tree ditinggalkan, pikirnya. Namun, secara kebetulan, di sebuah bandara, sebelum sempat pulang kembali, Fanton membaca sebuah surat kabar yang memberinya informasi tentang keberadaan Olenka di Washington D.C. Fanton pun akhirnya memutuskan mencari ke sana. Setiba di Washington, Fanton pun tak menyegerakan diri mencari Olenka, sempat dulu ia bermain-main ke suatu tempat. Dalam keinginan yang tak begitu kuat untuk menemui Olenka, yang ia ketahui kemungkinan sedang dirawat di rumah sakit, ia mendapat informasi dari perawat rumah sakit bahwa Olenka baru saja keluar dari sana. Fanton tak segera pula mencari Olenka. Fanton merasa telah menderita. Ia ingin remuk dan hilang bentuk, seperti burung phoenix yang lebur dulu di udara untuk kemudian kembali menjelma menjadi  sesuatu yang baru.

SEKIAN

 

ABDULLAH SYAROFI

121111132

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi