Kesusastraan
LAPORAN BACA NOVEL
PENGANTAR KESUSASTRAAN
LARUNG
Ayu Utami
ABDULLAH SYAROFI
121111132
SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2011
v Judul
Buku : LARUNG
v Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
v Jumlah
Halaman : 265 Hal
v Terbitan : Cetakan 2001
v Pengarang : Ayu Utami
Laporan
Baca :
Novel Larung ini adalah novel kedua
dari pengarang terkenal di Indonesia pada tahun 2000an yaitu Ayu Utami setelah
novel pertamanya yang tenar karena mengupas tentang mengupas keperawanan wanita
dengan sebuah sendok yaitu Saman, novel ini sangat terkenal di zamannya,
kata-katanya sangat enak untuk dibaca dan mudah untuk difahami oleh pembaca.
Pada mulanya kedua novel ini direncanakan oleh sang pengarang untuk dijadikan
sebuah buku (novel) yang berjudul Laila tak Mampir di New York. Namun pada
akhirnya, kedua novel ini mempunyai cerita masing-masing (tersendiri).
Novel Larung ini mengisahkan seorang lelaki yang mempunyai nenek yang
mempunyai kekuatan magis yang sangat luar biasa. Lelaki tersebut ingin membunuh
neneknya karena ia merasa sudah
menyusahkan dia dan juga ibunya yang selalu merawatnya dikehidupan
sehari-harinya.
Dengan menggunakan kereta api, dia pulang ke rumah menemui neneknya.
Setibanya di stasiun, Larung menaiki becak untuk pulang kerumahnya. Dalam
perjalanannya, Larung mengobrol dengan abang becak tersebut. Dalam obrolannya,
Larung tidak sengaja ia bercerita bahwa
tujuan dia pulang yaitu ingin menghabisi neneknya sendiri karena terlalu
menjengkelkan bagi si Larung. Abang becakpun merasa ketakukan dengan Larung.
Dia mengira bahwa Larung bukanlah seorang manusia tetapi seorang hantu.
Larung pun ketawa. Dia memperlihatkan uangnya yang ada didompet. “Nggak mungkin
Pak, saya ini hantu”. Balas si Larung untuk memepertegaskan abang becak, Larungpun
jadi penasaran mengapa Abang becak menjadi takut. Ternyata di daerah tersebut sering
terjadi orang mati karena tertabrak Kereta api, ada juga yang bunuh diri di rel
kereta api tersebut. Dari itulah Abang becak ini mengira bahwa Larung adalah
manusia jelmaan dari hantu, karena tidak sengajanya si Larung menceritakan
tujuan dia pulang. Setibanya di rumah, Ibunya sudah menyiapkan makanan buat si
Larung. Larung tidak mau makan. Dia langsung menuju kamar neneknya.
Ia sudah begitu tua. Tubuhnya telah koma sehingga hanya otot-otot tak
sadar saja yang bekerja, bernafas, membuang keringat, kencing, dan kotoran di
tempat tidurnya. Setiap pagi dia merawatnya, mendudukkan tubuh ringannya ke
kursi roda dan membawanya ke kamar mandi. Di kamar mandi, dia membasuh dengan
air hangat serta dioleskannya sabun. Dua sampai tiga minggu Larung menyandarkan
ia di kloset dan dibersihkannya tubuhnya
yang penuh dengan kotoran. Bau yang di simpan lama dalam lembab, kotoran yang
tak kelihatan, melainkan bau. Ddalam tubuh nenek Larung tersebut menyimpan
sebuah rahasia yaitu kekuatan yang jauh lebih berat dari timbangannya.
Seseorang yang bisa melihat aura prana hitam di sekelilingnya.
Si Larungpun sudah tidak sabar lagi
ingin melihat neneknya segera mati. Namun ibunya melarang Larung untuk membunuhnya,
Ibunya menganggap Larung gila apabila Larung membunuh neneknya sendiri.
************************
Akhirnya Larung menuju ke rumah seorang wanita yang fotonya berada di
album neneknya. Rumahnya terletak di kaki Gunung Watuangkara. Yaitu Soeprihatin,
teman karib Andjani, nenek Larung. Di tempat Soeprihatin, Larung mendengarkan
cerita dari teman karib Andjani tentang kehidupan masa lalu neneknya tersebut.
Akhirnya Larung bertemu dengan Bambang Sembodo. Sembodo adalah cucu tertua dari
Soeprihatin sebab seluruh anaknya telah mendahului beliau (meninggal). Larung di
ajak ke sebuah gua kelelawar, bersama Soeprihatin dan juga Muluk, asistennya.
Gua itu terletak di sebuah lembah dari sebuah bukit agak menjorok ke dalam.
Di dalam gua tersebut, Larung di ajak untuk mengingat masa lalu neneknya
lewat dunia ghaib. Dia juga bertemu dengan beberapa sosok makhluk ghaib yang
membuat dia menjadi merinding.
Akhirnya dari tempat Soeprihatin, Larung mendapatkan sebuah benda yang
dapat membunuh neneknya secara perlahan tanpa menyakitinya. Benda tersebut
berupa enam cupu. Berbentuk bulir-bulir kasar yang dikira batu namun dalam
sorot kecil senter. Seukuran kancing dan berwarna timah buram tetapi dari
permukaannya yang bertonjolan ada ukiran, kutuk, di sana. Larung kembali pulang
ke rumahnya. Ibunya sangat cemas karena Larung tidak pamit dengan ibunya ketika
ia mau kerumah teman neneknya tersebut. Ibunyapun menanyai Larung kemana dia
pergi.
Larung segera masuk ke kamar neneknya. Dia mengobrol dengan neneknya, simbah
melihat sebuah kalung hitam melingkar di leher Larung. Simbahpun bertanya
kepada Larung. Dia menjawab bahwa benda itu hanyalah dompet saku tempat
menyimpan uang dannya. Tetapi Simbah tak percaya begitu saja, karena Larung
sering menyimpan uang di dompet yang
biasanya di letakkan di pantatnya. Satu persatu cupu tersebut di letakkan di
dada Simbah, ketika akan meletakkan cupunya, tiba-tiba hilang. Entah kemana
cupu tersebut, Larungpun mencarinya, cupu yang hilang itu pada sepotong ubin
yang retak. Patahan yang menghentikan gerak.
Pada cupu keenam, tiba-tiba mata Simbah terbuka. Simbah berkata bahwa
Larung bukan cucunya. Dia adalah anak pungut dari keturunan orang gila. Simbah
terus berkata tak jelas.
Kini Simbah telah meninggal. Larung memakamkan di kebun belakang rumah,
dekat sumur pompa. Larungpun meminta maaf karena tidak bisa memenuhi tungku
kremasi di Cilincing. Yasmin, seorang wanita yang cantik, cerdas, kaya,
beragama, berpendidikan moral, dan setia pada suami, dia juga berselingkuh
dengan Saman. Yasminpun juga mempunyai teman akrab. Teman Yasmin tersebut tak
begitu percaya bahwa Yasmin sesuci itu, Yasmin sering mengejek temannya
tersebut dengan julukan si perek,
perempuan Eksperimen karena temannya tersebut sering gonta-ganti pasangan hanya
untuk memuaskan nafsu sexnya, dan ternyata Yasmin juga pernah bercinta dan
melakukan sex dengan Saman. Yasmin masih saja tega menasehati temannya
tersebut. Padahal dalam pikiran Yasmin, dia sedang merencanakan
perselingkuhannya dengan Saman.
Pada suatu ketika, teman Yasmin bertemu dengan Larung, ketika ia bertemu
dengan Larung, dia merasa berbeda.
Akhir dari cerita novel larung ini
yaitu menceritakan tentang hubungan cinta antara Saman dan Yasmin, Sihar dan
Laila dan Shakantula serta Larung yang masih menjadi aneh bagi teman Yasmin. Dikehidupan
mereka penuh dengan seks sehingga mereka bersetubuh dengan rasa bersalah yang
menggairahkan.
SEKIAN
ABDULLAH SYAROFI
121111132
Komentar
Posting Komentar