Kesusastraan

 

RESUME

TUGAS PENGANTAR KAJIAN SASTRA

Oleh : Abdullah Syarofi (121111132)

 

            Hubungan antara sejarah dan satra sangat erat sekali, sastra tidak akan bisa muncul tanpa adanya sejarah begitupun sebaliknya sejarah tidak akan muncul tanpa  adanya sastra, jadi sastra dan sejarah ini mempunyai keterkaitan yang relevan. Karya sastra sebagai simbol verbal mempunyai beberapa peranan di antaranya sebagai :

ü  cara pemahaman (mode of comprehension),

ü  cara perhubungan (mode of communication),

ü  dan cara penciptaan (mode of creation).

Objek karya sastra adalah realitas apapun juga yang dimaksud dengan realitas pengarang. Karya sastra dapat merupakan penciptaan kembali sebuah peristiwa sejarah sesuai dengan pengetahuan dan daya imaginasi pengarang.Dalam karya sastra yang menjadikan peristiwa sejarah sebagai bahan, ketiga peranan simbol itu dapat menjadi satu. Perbedaan masing-masing hanya dalam kadar campur tangan dan motivasi pengarangnya. Karya sastra yang menjadikan peristiwa sejarah sebagai bahan, dapat berupa puiisi atau prosa. Perbedaan antara tulisan sejarah (Historigrafi) dan karya sastra dapat dilihat dari kedudukan kedua jenis symbol verbal itu masing-masing, demikian pula kedudukan peristiwa sejarah dalam keduanya. Perbedaan antara sejarah dan sastra nampak dalam skala yang dibuat Koestler dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk penemuan manusia. Sejarah mempunyai tugas kembar pertama, sejarah bermaksud menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Sejarah mengemukakan gambaran tentang hal-hal yang sebenarnya terjadi. Sejarah mengemukakan gambaran tentang hal-hal sebagai adanya dan kejadian-kejadian sebagai sesungguhnya terjadi. Kedua, sejarah harus mengikuti prosedur tertentu harus tertib dalam penempatan ruang dan waktu, harus konsisten dengan unsur-unsur lain seperti topografi dan kronologi, harus berdasarkan bukti-bukti.Bagi pengarang sastra satu-satunya kaidah ialah kejujuran ; seorang novelis harus belajar untuk bertanggung jawab sehingga dirinya berharga didalam kebebasan itu. Demikian pula dalam penggunaan bahasa, tulisan sejarah dan karya sastra, berbeda. Sejarah lebih cenderung menggunakan referential symbolism dengan menunjuk secara lugas kepada objek, pikiran, kejadian dan hubungan-hubungan, sedangkan sastra lebih banyak pesan-pesan subyektif pengarang.

            Dalam peristilahan Ilmu Sejarah, peristiwa sejaran sering dicakup dalam istilah fakta sejarah. Dalam hal ini fakta sejarah mempunyai arti kembar yang pertama yaitu “a thing done, an action, deed, event”. Kedua fakta sejarah dapat berupa “a particular truth”. Peristiwa sejarah kan hilang begitu saja jika tidak ditemukan oleh sejarawan.Peristiwa sejarah sebagai bahan baku diolah secara berbeda oleh tulisan sejarah dan oleh karya sastra. Dalam tulisan sejarah, bahan baku peristiwa sejarah itu telah diproses melalui prosedur tertentu. Dari sumber-sumber sejarah sejarahwan harus melakukan kritik, interprestasi, dan sintesa sampai ia sanggup menyuguhkan rekontruksi sejarah. Karya sastra mempunyai pendekatan lain. Peristiwa sejarah dapat menjadi pangkal tolak bagi sebuah karya sastra, menjadi bahan baku, tetapi tidak perlu dipertanggung jawabkan terlebih dahulu.

            Apakah yang diperlukan bagi novel sejarah yang patut menyandang predikat “sejarah”? Novel sejarah tidak perlu menjadikan tokoh sejarah tokoh utamanya atau tokoh-tokoh sejarah sebagai tokoh-tokohnya. Realitas sejarah muncul dalam novel sejarah, menurut Georg Lukacs, dapat dilihat melalui historical authenticity (Keaslian sejarah), historical faitfulness (Kesetiaan Sejarah), dan authenticity of local colour (Deskripsi yang setia tentang keadaan-keadaan fisik) yang terdapat didalamnya.

            Akhirnya perlu dicatat bahwa kita masih miskin dengan novel sejarah yang menjadikan masa lampau untuk menanggapi problematic masa kini. Meskipun ada pendapat, seperti pada J. Huizinga, “No literary effect in the world can compare the pure, sober taste of history”, bahwa novel tidak dapat menggantikan tulisan sejarah, kiranya usaha penulisan novel sejarah patut mendapat perhatian sepenuhnya.

            Sstra Indonesia tidak mempunyai tradisi psikologisme yang kuat, dalam arti bahwa penokohan dan perwatakan dalam karya sastra tidak banyak mempersoalkan perkembangan personalitas dari pelku-pelakunya. Tokoh-tokoh dalam sastra tidak mempunyai perwatakan yang merdeka, tetapi merupakan tokoh yang sudah ditertibkan. Dalam sastra tipologis  para pelaku sudah mempunyai personalitas yang mapan, terbentuk sejak ia muncul. Hampir tidak ada konflik psikis, sebab semuanya sudah dapat didudukkan dalam kerangka personalitas para pelaku. Logika perkembangan pelaku tidak menuruti pertumbuhan kejiwaan yang penuh dengan krisis yang membentuknay, tetapi menurut kemauan pembentukan sebuah kerangka keseluruhan kejadia. Disini kejadian sebagai akibat dari hubungan antarmanusia menjadi lebih penting daripada perkembangan kejiwaan pelaku-pelaku tunggalnya.

            Demikianlah sastra Indonesia tidak dibangun di atas dasar perkembangan logis dari kejiwaan pelakunya, tetapi atas dasar perkembangan  kejadian menerut penuturannya. Mengapa kita cenderung mempunyai satra tipologis dan bukan sastra psikologis? Untuk jawabannya perlu sedikit uraian tentang latar belakang sosiokultural Indonesia dulu dan masa kini, yang juga menjadi latar belakang sosiokultural para pengarang. Pertanyaan selanjutnya ialah, apa wujud dari sastra tipologis masa kini dan bagaimana penokohan dan perwatakan didalamnya? Jawabannya juga terletak dalam kerangka sosiokultural tempat pengarang itu hidup. Kerangka sosiokultural pada gilirannya menentukan sistem pengetahuan bagi masyarakat dan pengarang.

            Pikiran-pikiran kolektif lebih penting daripada pikiran individual dan kesadaran kolektif lebih diutamakan ketimbang kesadaran perorangan. Ini berarti bahwa hubungan-hubungan formal dan material ditentukan oleh stratum sosial yang dominan atas dasar percaturan hubungan kekuasaan dan hubungan produksi. Hubungan kekuasaan dan hubungan produksi juga menguasai masyarakat  kita sekarang, seperti nampak pada arus inisiatif dari atas kebawah. Budaya politik kita masih merupakan kelanjutan dari patrimonialisme dengan pemusatan kekuaasaan ditingkat atas. Demikian juga hubungan produksi kekuasaan berada didalam sejumlah tangan yang bergerak di atas.

            Kedudukan pengarang dlam masyarakat modern berbeda dengan kedudukan  pujangga dalam masyarakat patrimonial. Pengarang modern tidak masuk dalam biokrasi, sekalipun ia menjadi bagian dari elite serta tumbuh dalam kerangka sosiokultural yang sama. Tetapi sebagai pewaris budaya kolektif ia tidak bisa melepaskan diri dari simbolisme bersama. Yang membuatanya berbeda dengan pujangga di masa lampau ialah lepasnya dari biokrasi, dan usahanya yang keras untuk menegakkan sendiri norma elitesme baru, sementara itu ia terjerat ke dalam etika otoritarian, dan melihat dirinya sendiri sebagai kelompok atas yang mempunyai misi untuk menangani pikiran kolektif, memaksakannya dari atas.

            Pengarang ialah dalang dalam banyak hal. Dalam usahanya untuk mengajar, ia juga mewakili oikiran kolektif. Seorang pengarang yang menciptakan karya sastra, sama seperti dalang yang membuat lakon carangan, tidak lepas dari simbolisme  kolektif. Dalam karya sastra yang mementingkan ide, penokohan ialah personifikasi dari ide dan bukan kesatuan yang mandiri. Itulah hakekat penciptaan mitologi dalam wayang. Dalang tidak pernah memikirkan psikoanalisa tokoh wayangnya, yang dipikirkan ialah analisa moralitas dari tokohnya, dan tidak dibiarkannya tokoh itu mempunyai psike.

            Jika dalam sastra Indonesia tidak ada pengertian tentang satra psikologis, sebaliknya tradisi sastra tipologis melahirkan sebuah sastra total. Maksud sastra total ialah sastra yang menjadikan masyarakat sebagai permasalahan. Jalinan cerita tidak timbul dari hubungan antarmanusia yang terlepas dari masyarakat, tetapi hubungan antarmanuasia didalam masyarakat. Dengan perkataan lain, hanya masyarakat sebagai totalitas, dan bukan sebagai orang per-orang, menjadi pusat perhatian.

            Mengapa sastra eksistensial juga sastra total? Masyarakat dalam tangkapan para penulis eksistensial ialah sebuah totalitas yang penuh kuasa dan perkasa, yang tidak terelakan. Dalam hal ini masyarakat dianggap sebagai kesatuan yang abstrak. Sstra sosial juga mengahadapkan persoalan individu dan masyarakat, tetapi berbeda dengan sastra ekstensial yang simtomatis, sastra sosial bersifat dialektis. Sastra dealektis selalu merupakan sastra public, artinya ia commited pada suatu cita-cita sosial.Dalam sastra sosial semacam ini terdapat dua pendekatan dialektis, konstruktif dan destruktif. Dalam karya sastra dealektis yang konstruktif, masyarakat berada dipihak yang benar dan pribadi mengabung kembali dalam masyarakat. Dalam sastra dialektis yang desktruktif, individu memberintak kepada masyarakat dan menjadi kurban dari kekejaman masyarakat.

            Kiranya sudah jelas bahwa tradisi sastra kita ialah sastra tipologis Pertanyaan yang menggoda, kapan kita akan punya sastra psikologis, barangkali dapat dijawab denagn amat sederhana : jika etika otoritarian telah menghilang dari masyarakat dan kesadaran kolektif tidak lagi menjadi satu-satunya kerangka refrensi yang sah dalam masyarakat. Dengan kata lain, jika masyarakat kita menjadi masyarakat yang terbuka. Secara sosiologis kita dapat menduga bahwa jika kelas menengah yang benar-benar bebas terbentuk dalam masyarakat, tradisi psikologisme atau personalisme akan mendapatkan pengesahan sosialnya. Tetapi tentu saja ini menyangkut persoalan cita-cita sosial, yang kita dapat berbeda pendapat.

            Sastra sebagai bidang kajian sejarah intelektual masih belum banyak mendapat perhatian, baik dari para penulis sejarah maupun kritikus sastra Indonesia, padahal sastra Indonesia menawarkan begitu banyak kemungkinan. Sejarah intelektual dapat mempelajari perkembangan sastra internal dialetic-nya, denagn membahas  perkembangan, kontinitas, dan perubahan konsep-konsep kunci dari tema, proposisi, dan posisi pikiran pengarangnya. Dalam hal ini metode genetic atau evolusi akan dapat menyajikan sastra sebagai bagian dari kesadaran intelektual masyarakatnya. Sastra dapat merupakan potret yang melukiskan masyarakat, analisa sosial yang menyisiasati perubaha-perubahan masyarakat, dan kadang-kadang menyuguhkan filsafat yang memebri landasan penilaian tentang apa yang sedang terjadi. Demikianlah, sastra Indonesia modern mencerminkan masyarakat Indonesia modern dan kesadaran pengarangnya.

            Sastra dapat merupakan konfirmasi terhadap kenyataan-kenyataan sosial, apabila ia semata-mata melukiskan tanpa menyatakan sikap pada sistem sosial. Sastra yang demikian disebut dengan sastra simtomatik, karena sekadar menyajikan gejala-gejala sosial. Sastra yang menganalisa masyarakatnya dan menyatakan pendapatnya secara sadar  dapat disebut sebagai sastra diagnostic, karena ia mencoba merekayasa masyarakatnya. Selanjutnya sastra juga dapat menjadi kritik sosial, sebagaimana ilmu-ilmu sosial, yang mencoba melakuakan analisa dengan penuh perlawanan terhadap masyarakatnya. Inilah yang disebut sastra dialektik, Karena sistem symbol dan sistem sosial dipertentangkan. Sastra perlawanan ini dilanjutkan dengan sastra sebagai alternatif , yang mencoba untuk membebaskan satra sebagai sistem symbol dari masyarakatnya, sastra yang mencari otonomi penuh dan berdiri sendiri sebagai sistem tandingan.

             Akhirnya, jika nakhir-akhir ini dalam sastra Indonesia munncul keinginan akan sebuah karya sastra konstektual, tentulah keinginan tu disebabkan oleh kurangnya apresiasi terhadap antiintelektualisme sastar mutakhir ini. Perdebatan tersebut masih belum mampu merumuskan keinginan-keinginan itu sendiri secara jelas, mendefisinisikan permasalahan , dan merumuskan jawaban. Kita masih menanti lebih banyak lagi pengarang yang berbicara tentang duniaanya, sementara kita harus waspada terhadap pemanfaatan dan penyalahgunaan sastra untuk kepentingan nonliterer. Sastra sebagai sistem symbol dapat melakukan perlawanan terhadap sistem sosial, dengan caranya sendiri.

                                                                        SEKIAN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi