Kesusastraan

 

 

LAPORAN BACA NOVEL

PENGANTAR KESUSASTRAAN

BURUNG-BURUNG MANYAR

Y.B Mangunwijaya



ABDULLAH SYAROFI

121111132

 

SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2011


v  Judul Buku                  : BURUNG-BURUNG MANYAR

v  Penerbit                       : Djambatan

v  Jumlah Halaman         : 319 Hal

v  Terbitan                       : Cetakan 1981

v  Pengarang                   : Y.B Mangunwijaya

 

 


 

Sinopsis :

Prawayang

            Nun di kala itu, di Widura Kandang negeri Ngamarta, tumbuhlah si gadis gesit bagaikan burung prenjak;  rajin dan cerdas, Rarasati atau Larasati namanya. Teremban kehangatan asuhan cinta arif sang ayah Antpoga, gembala ternak istana, dan istrinya Nyai Sugopi, gadis Rarasati memekar.

            Hatta kisah berwarta, pondok Antapoga menerima tugas mulia namun berat, dijadikan tempat berlindung putera-puteri Sri Baginda Raja Basudewa dari negeri Mandura, ialah Kakrasan dan Narayana beserta adik perempuan Rara Ireng. Ketiga raja itu diungsikan karena terancam terbunuh oleh abang tiri jahat, Kangsa.

            Kakrasan, wahana wahyu dewa Basuki, dewa naga penopang Bumi Raya, adalah makhluk seta. Artinya: serba putih darah, dging serta segala-galanya sampai ke tulang maupun sarafnya; sedangkan Narayana, wahana wahyu dewa Wishnu, justru hitam legam tulang, daging, darah, saraf dan segalanya. Namun mereka berayah satu, raja Basudewa.

            Serba indah dan berbahagialah masa kanak-kanak ketiga putera-puteri raja itu di Widura Kandang bersama Rarasati, bunga Dwarawati menjadi ahli siasat utama para pandawa. Namun kakrasana yang seta, yang bergelar raja Baladewa, memihak Kurawa. Demi kesetiaanya kepada Herawati, istrinya, dan ayah mertua, raja Salya dari Mandraka yang merasa wajib berpihak kepada para Kurawa, agar kerajaan Ngastina jangan pecah. Namun dalam lubuk hati raja Salya maupun Baladewa,  Kecintaan kepada para Pandawa tidaklah pernah berhenti berpijar.

            Tetapi apakah Baladewa benar-benar kan memihak. Kurawa dalam medan laga total Bharatayudha Jayabinangun, artinya “ Kejayaan dibangun secara sejati”? Maka terdengarlah warta “ Kresna mengilhami abangnya yang seta itu untuk bertapa di Grojogan Sewu (Seribu Air Terjun).

****************

            Ternyata, apa yang sudah diduga semula betul terjadi. Aku dipanggil ke Tokyo dan di restoran lapangan terbang akau diberi tahu oleh bos tertinggi Pacific Oil Wells Company, bahwa aku dipecat dengan tidak hormat. Sinis Boss Besarku berkata melalui hidung (dia punya hidung terlalu besar, sehingga suara selalu melalui saluran samping yang bukan kodratnya untuk bersuara itu) bahwa apa yang akau kerjakan itu sia-sia saja. Perbuatan anak puber idealis yang tidak tahu kompleksitas persoalan internasional dan sebagainya dan sebagainya. Dari segi efek terakhir semua itu hanya berakibat kecil. Sebaiknya, sebetulnya, seharusnya, semestinya, dan sebagainya, tak pantas dikerjakan orang yang berkedudukan tinggi seperti aku ini. Bahkan dengan menempatkan orang kulit berwarna pada pos begitu tinggi kan seharusnya aku mengerti bahwa itu salah suatu tanda good-will yang besar dan bahwa sebenarnya, sebetulnya, semestinya dan sebagainya aku harus menghargai kepercayaan yang sudah setulus-tulusnya dilimpahkan padaku. Tetapi ternyata aku ular kobra yang mengigit dari belakang. Dan sebagainya, dan sebagainya, dan seterusnya.

            Tetapi perusahaanya sudah siap menghadapi itu semua dan toh akhirnya hanya aku sendiri yang mencelakakan diriku sendiri. Yang mencelakakan diriku sendiri. Tanpa efek apapun. Sebab konsesi masih tetap diberikan, bahkan barangkali abadi, kepada mereka; dan lestari kokohlah kedudukan Pasific Oil Wells Company di manapun. Bahkan dengan peristiwa semacam ini kedudukan mereka justru lebih kuat lagi dan reputasi internasional mereka bahkan melonjak. Selain itu jangan mengira bahwa di dunia ini hanya ada satu rumus saja. Gugur satu tumbuh seribu, sebab para raksasa pandai dan kuat di dalam sistem seperti ini. Tidak begitu saja bisa diserang semut seperti dalam dongeng, dengan memasuki telinga sehingga mastodon gila dan masuk jurang dan sebagainya. Sebab dunia tekhnologi, industry, bisnis dan politik ditambah militer, bukanlah dongeng, tetapi perhitungan dan struktur-struktur elektronika yang tahan digigit semut. Dan bahwa selanjutnya segala kelakuan yang gegabah harus ditanggung sendiri dan sebagainya dan sebagainya. Tetapi walaupun, biarpun, kendatipun semua sudah terjadi, Pacific Oil Wells Company dengan segala kedermawaan masih member kesempatan pada Board Of Directors dan Board Of Trustees, bahwa orang yang penuh talenta yang begitu ahli dalam segi computer perlu diberi tempat yang layak demi  kemajuan seluruh planet ini. Sebab kaya atau miskin, kita di planet satu ini, saling tergantung. Kehancuran pihak yang satu akan membawa kehancuran yang lain; dan bahwa Dr. Setadewa masih diberi waktu satu bulan untuk mempertimbangkan tawaran kedudukan yang terhormat, walaupun tidak lagi dalam divisi computer, tetapi dalam suatu devivi lain: Pengembangan Teknologi dan Metodologi baru yang kan bermanfaat bagi seluruh bangsa manusia di kelak kemudian hari dan sebagainya dan sebagainya. Jika aku mau, dan selayaknya aku harus mau, mengingat kecerdasan otakku dan sebagainya dan sebagainya dan bahwa sebagai bukti, perusahaan mereka tidak menaruh perasaan dendam sedikit pun, Sang Big Boss pada musim panas yang akan datang tetap mengundang aku juga dalam suatu liburan menarik di kalangan qualified talents all over the world. Sambil menikmati samudera di Kepulauan Oceania. Dan karena itu aku akan selalu welcome di rumahnya di Hawai atau Miami; dan bahwa istrinya juga berpesan untuk menyampaikan salam hangat, bahkan mereka bersedia  menanggung biaya segala-galanya bila,… semoga Tuhan memebrkati perkawinan Tuan Seta kelak… itu seandainya”… Seketika itu aku, yang sampai sekian hanya diam mendengar ocehannya, membendung banjir kata-katanya, dan menuntut agar masalah bisnis jangan dicampur aduk dengan masalah pribadi yang intim.

            Ia lalu menepuk-nepuk bahuku dengan gaya abang tua persaudaraan lama dan berharap dalam sebulan ini menerima jawaban positif. Sebab kalau negative, akibatnya akan lebih malapetaka lagi dan sebagainya dan sebagainya.

            Tetapi percakapan kupotong: “Farewell!”

            Di Halim aku dijemput oleh Jana dan Atik. Selama perjalanan ke Bogor mereka tidak menyinggung hal-hal yang gawat, dan justru karena itulah aku sudah mencium, bahwa ada berita malapetaka yang menungguku. Baru sesudah makan sore di kebun belakang yang luas, di bawah sinar beribu bintang, Atik bercerita, bahwa suaminya, seperti yang dikhawatirkan sebelumnya, dipecat juga dari segala jabatannnya. “Atas alasan yang demi security tidak dapat dikatakan,” tambah suaminya. Dan Jana dengan tertawa kecil masih menambahkan: “Tetapi toh masih dengan hormat. Tetapi tak mengapalah. Hidup kami tidak pernah mewah. Walaupun dulu pun belum pernah mewah, tetap menjadi proletar juga tidak.  Toh sebagai orang swasta ia masih sanggup bekerja. Hanya ia mengkhawatirkan, bahwa karena suaminya, Atik kelak akan mendapat hambatan juga naik tangga karir. Senda-Gurau aku bertanya spontan tetapi main api sebenarnya.

            “Tik, aku tidak mendapat hadiah juga kau rangkul? Aku iri hati pada suamimu.”

            “Oh, bagaimana Mas Jon? Boleh?”

            “Boleh, asal jangan lama-lama.”

            “Lama atau tidak sih relatip.”

            “Ya, beginilah Mas Seta, nasibku. Selalu saja kalah kalau berdebat dengan adikmu itu.” (Adik ? Ah, main-main api bahaya lagi. Jiwa petualanganku dengan umurku yang sekian belum lagi sembuh). Atik berdiri dan berlutut di belakang kursiku. Aku didekap dari belakang dan pipinya menyaka pipiku. Bisiknya: “Mas Teto, kau harus selalu bersama kami. Aku membutuhkan Mas Teto. Dan Mas Jon juga butuh kau.”

            Kuseka pipinya yang satu dengan tangan kananku. Tanpa kata, sebab saat itu aku tidak bisa berjanji apa pun. Tiba-tiba aku takut.

            “Di mana anak-anak?”

            “Kan tadi sudah minta pamit untuk pesta ulang-tahun pada teman.

            Atik tertawa nakal: “ Mas Jon, Mas Teto takut anak-anak kita melihat ibunya merangkul oom mereka.”

            “Maka itu jangan lama-lama,” jawab suaminya tertawa.

            “Kok seperti anak kecil,” kataku hanya untuk menteramkan jiwaku yang tiba-tiba terbakar.

            “Kadang-kadang jadi anak kecil ada baiknya,” kata dik Jon.

“Dari mana kau punya slogan itu?” tanyaku dengan tertawa.

“Ya, biasa kan. Dari istriku,”

            “Oh, Mas Jon ini. Selalu saja rendah hati. Saya belajar juga dari suamiku, sungguh mas Seto.”

****************

            Aku masih menganggur. Aku telah minta berhenti, dan Pasific Oil Wells Company memeberiku surat pemberhentia. Ternyata toh masih dengan predikat terhormat. Dengan sesuatu kattebelletje dan Big Boss. “Formal kita berpisah. Tetapi saat Anda masih bisa kami terima lagi.” Mereka membutuhkan ahli, batinku. Soalnya hanya: ahli yang bagaimana. Keesokan harinya aku terbang ke Jawa Tengah. Aku merasa butuh, dengan Mamiku lagi, memohon kekuatan untuk hari depan.

            Dari magelang aku membawa pesan dari sahabat lama, dokter tua pensiunan, ayah Dik Jana, untuk anaknya. “Tetapi hati-hati menyampaikannya,” begitu pesan dokter tua yang baik dan setia itu. Aku menjanjikannya. Saatnya tidak sulit dicari.

            Pada suatu Sabtu, aku diundang keluarga Jana (yang sedapat mungkin memang kuhindari selama ini, karena aku  merasa masih tidak kebal terhadap pesona kewanitaan Atik). Bersama-sama anak kami akan pergi  ke Pegunungan Salak. Atik kenal seorang penjaga hutan di sana dan kami akan berkemah di dalam rumahnya yang sederhana dan yang punya ranjang amben yang luas. Cukup untuk kami semua. Maka berpikniklah kami menyegarkan jiwa, pergi ke lereng Gunung Salak. Atik memegang guru yang baik untuk anak-anaknya. Mereka diwarisi rahasia-rahasia alam hutan yang masih relative masih perawan itu. Dan pengetahuaanya sebagai biolog namun terutama sebagai pewaris ayahnya, sangat menggugah hatiku. Kami sanggup diam lama di tengah hutan menikmati alam asli dan bunyi-bunyian dalam suasana yang murni itu. Duduk dan diam mendengarkan.

            Kadang-kadang sang ibu membisikkan sesuatu kepada anaknya. Terutama SI Padmi, yang kedua, yang mirip sekali denagn Atik ketika masih kecil, sangat mewarisi bakat-bakat ibunya. Kicauan burung sering ramai sekali. Kadang-kadang berhenti bersama-sama. Rupa-rupanya ada burung dari langit menghampiri mereka serba mencurigakan sesudah lewat, kicauan mulai lagi. Pernah atas kami tiba-tiba meletus kicauan kacau, seolah-olah burung-burung itu saling mencaci. Atik mengintip dengan teropongnya ke atas. Diberikannya kepada Padmi dan berkata: Lucu sekali!”

            “Ada apa?” Tanya adiknya. Teto Si Abang diam melihat ke atas.

            “Mereka menemukan seekor burung celepuk barangkali,” kata ibunya.

            “Celepuk?

            “Atau uhu, atau kebluk. Ya, selalu begitu. Uhu itu lalu dimaki-maki sekenyang-kenyang mereka. (Kasihan.Kenapa?) Habis, burung itu nakal. Sering pada malam hari mencuri telur atau bahkan memakan anak-anak yang masih kecil dalam sarang.”(Apakah aku burung uhu?).

            Lalu mereka maki-maki?” Tanya Kris.

            “Ya, sebetulnya karena setengah takut juga. Seperti kalau kalian melewati kubran, takut, lalu berteriak atau nyanyia-nyanyi untuk menghilangkan ketakutan.”

            “Eh… dengar!” Kr-kr-twee! “Heh, itu lagi,” ciee wo… cice woker-kr-twee…ciee wo…cie wo…

            Anak-anak tertawa, semua, sehingga kami kaum tua ikut juga. Terdengar suara burung lain : Kopii kopiii!

            “Kopii, kopi! Mereka minta kopi,” komentar Dik Jana. Anak-anak tertawa lagi.

            “Tapi ayah juga minta kopi lho.”

            “Aaahh!” Bungkusan dan termos dibuka.”Bisanya Cuma menyindir!” kata Atik.

            Kulihat, bahwa Teto si sulung itu cocok sekali dengan ayahnya; tak banyak omong dan seolah-olah hanya menjadi orang kedua saja. (Ayah seperti aku ini kukira bahkan lebih merusak daripada menolong).

            “Ayah dulu,” perintah Atik kepada Padmi.

            “E, tidak. Oom dulu. Selalu tamunya dulu.”

            “Terima kasih, Mimi,” kataku manis. Anak itu kalau tertawa atau tersenyum dengan lesung-lesung pipi, persis sekali ibunya dulu. Dan matanya juga cerdas nakal.

         

Laporan Baca

Burung-burung manyar adalah novel sastra yang terkenal pada zamannya. Bahasanya mudah untuk dipahami, dan dimengerti oleh sang Pembaca. Ceritanya sangat menarik bahkan novel ini mendapat penghargaan tingkat internasional yaitu penghargaan tulis Asia Tenggara pada tahun 1983 (South East Asia Write Award 1983). Pada waktu zaman dahulu, Mangunwijaya sebagi pengarangnya, Burung-burung Manyar mengammbarkan sangat bagus dengan cerita berpusat pada Sutadewa (Leo alias Teto), seorang anak kolong, pemuda yang berpendidikan tinggi, seorang dokter tamatan Universitas Havard yang menjadi ahli komputer di sebuah perusahaan besar di Amerika.

Ia dibesarkan di lingkungan keluarga tentara KNIL. Ayahnya seorang kepala garnisun II pada masa KNIL Belanda berpangkat letnan. Ibunya dikenal sebagai wanita indo bernama Marice, seorang wanita yang terkenal cantik. Teto merupakan keturunan keraton dan indo-Belanda. Ayahnya, Letnan Barjabasuki menjabat kepala Garnisun Divisi I di Magelang. Dengan demikian Teto bebas bergaul dengan anak-anak Belanda maupun Indo-Belanda. Teto sangat bangga pada ayahnya hingga ia pun bercita-cita menjadi tentara KNIL Belanda seperti ayahnya. Ia percaya bahwa dengan bergabung dan mengabdi pada KNIL, kehidupannya akan menjadi lebih baik.

Ketika Jepang berhasil mengusir tentara KNIL Teto merasa sangat terpukul. Kehidupan keluarganya menjadi kacau balau. Ayahnya ditangkap dan disiksa oleh orang Jepang, dan hampir saja dibunuh kalau saja ibunya tidak menyelamatkannya.

Komandan tentara Jepang memberi pilihan kepada ibunya: menjadi wanita penghibur komandan Jepang atau nyawa suaminya melayang. Terdorong keinginan untuk menyelamatkan nyawa suaminya, terpaksalah Sang Ibu memilih menjadi wanita penghibur. Berkat pengorbanan ibunya inilah ayah Teto akhirnya dibebaskan oleh tentara Jepang.

Betapa hancur hati Teto menyaksikan penderitaan yang dialami kedua orang tuanya. Ia sangat dendam terhadap tentara Jepang yang telah menghancurkan keluarganya. Kemudian tentara Jepang pergi dari Indonesia dan Belanda kembali ke Indonesia dengan berlindung di balik tentara Sekutu, Teto sangat gembira menyambutnya. Cita-citanya menjadi tentara KNIL bakal menjadi kenyataan. Karena dedikasi dan kedisiplinannya, Letnan Dua Teto sangat disenangi komandan KNIL. Dalam waktu dua bulan Teto sudah diangkat menjadi komandan patroli. Di sisi lain, ibu Teto, Marice menderita lahir batin karena tak kuasa menghadapi kenyataan hidupnya.

Akhirnya Marice mengalami gangguan jiwa dan menjadi pasien tetap rumah sakit jiwa di Bogor. Sementara nasib ayah Teto, Barjabasuki juga tidak ketahuan rimbanya.

Menurut mayor Verbruggen, ayahnya telah bergabung dengan tentara republik dan termasuk buronan KNIL. Karena posisi tentara KNIL lama-lama makin lemah akibat perlawanan rakyat Indonesia, akhirnya Belanda meninggalkan Indonesia. Betapa malu hati Teto. Dia malu pada dirinnya sendiri mengapa tidak bergabung dengan tentara Republik. Ia malu terhadap kekasihnya, Larasati atau Atik, teman sepermainannya sejak kecil, yang berjuang demi bangsanya. Larasati adalah teman sepermainannya sejak kecil. Ia adalah seorang perempuan modern, teman sepermainan Teto sejak kecil. seorang anak kesayangan dan dimanja oleh kedua orang tuanya lebih-lebih oleh kedua orang pembantu di rumahnya. Ia anak keluarga yang cukup terpandang. Teman-teman Teto hilang sewaktu Jepang datang dan tentara KNIL kalah. Sekarang Teto bersama teman-temannya yang sekolah di SMT (Sekolah Menengah Tinggi).

Teto mulai membantu ayahnya, memata-matai dan mengetahui rahasia Mayor Kanagashe pemimpin tentara Jepang, dengan memasang radio sadapan. Hal ini dapat dilakukan Teto karena Mayor Kanagashe terbuai oleh gundiknya. Tame Paulin. Di Jakarta Ayah Teto ditangkap oleh Kempetai Jepang. Dari Ibu Antana, sahabat karib ibunya, diketahui Teto pula bahwa ayahnya pun terpaksa menjadi gundik oknum tentara Jepang, jika nyawa sang Ayah mau selamat.

Perasaan sedih dan kesal Teto tak terkirakan. Ayahnya ditangkap, disiksa dan ibunya yang cantik terpaksa melayani nafsu para tentara Jepang.

Sejak itulah luka hatihya terhadap segala yang berbau Jepang mulai berkobar. Sejak itu pula ayah dan ibu Atik menjadi orang tua angkatnya, karena hanya mereka yang mengerti penderitaan Teto. Teto ingin mengikuti jejak ayahnya menjadi tentara KNIL ditempa oleh rasa dendam dan marahnya kepada tentara Jepang, dan demi membela ayah dan ibunya.

Leo alias Teto ditangkap oleh anak buah Mayor Verbruggen, Batalyon NICA, ketika ia berjalan di Pasar Baru. Setelah dihadapkan kepada komandan, ia menyerahkan dokumen dari ibunya yang menjadi gundik Jepang. Dokumen itu dikirimkan melalui Ibu Antana. Dari Ibu Antana pula Teto mendapat kabar yang tidak pasti bahwa ibunya telah meninggal. Pada akhir pertemuan itu Mayor Verbruggen mengangkat Leo menjadi letnan karena Leo mengetahui banyak daerah di Jakarta. Ternyata ayah Leo adalah teman Verbruggen ketika Sekolah di Negeri Belanda. Bahkan ibunya, juga pernah menjadi kekasih Verbruggen yang tak dapat dilupakannya. Dalam tugas kemiliteran pada saat-saat yang tegang Leo berkunjung ke tempat Atik di Kramat seperti sebelumnya kini telah tumbuh perasaan lain antara Leo (Teto) dengan Atik. Bahkan hati Bu Antana telah mengharapkan agar Teto dapat menjadi menantunya, suami Atik. Tetapi sekarang Teto tidak menjumpai seorang pun. Keluarga itu telah mengungsi. Dari lubang kunci pintu Teto mendapatkan surat Atik. Dari catatan itu Teto mengetahui bahwa Atik telah ambil bagian dalam perjuangan pihak republik, yaitu menjadi sekretaris pemerintah RI. Kini perasaan cinta kasih dan jengkel berpadu dalam dirinya, karena Republik juga merupakan musuh NICA. Kunjungan Leo ke tempat Atik pejuang republik tercium oleh NEFIS (Netherlands expeditionary Forces Intelligence Service) sehingga ia diancam Mayor Verbruggen. Dalam dialognya dengan sang Mayor diterimanya kabar bahwa ayahnya Kapten Basuki masih hidup. Para Kempetai Jepang itu dilarikan oleh orang-orang Republik, termasuk Kapten Basuki. Pada saat yang lain ketika Leo datang ke Kramat ke rumah Ibu Antana, Atik terkejut dan pingsan setelah melihat seorang tentara NICA datang mengendap ke rumahnya. Setelah Atik siuman perasaan Leo (Teto) tak menentu oleh cinta dan kesal. Dilemparkannya pistolnya serta pulang tancap gas mobil jipnya. Tahun 1946 terjadi hal yang membingungkan Teto. Kekuasaan Republik dengan kesigapan dan kedisiplinan tentaranya mulai terlihat nyata. Belanda mengingkari perundingan. Serangan mereka mulai membabi buta. Pesawat terbang Belanda mengambil sasaran di tepi sawah. Atik menyaksikan sendiri ayahnya gugur dalam serangan itu. Yogyakarta diduduki Belanda. Banyak kejadian yang meresahkan masyarakat. Banyak orang gadungan yang mencari kesempatan berbuat tidak senonoh. Dalam pergolakan itu Jenderal Spoor mati. Aksi militer Belanda tamat riwayatnya dan hiduplah Republik. Teto terus berusaha menyusul Verbruggen. Rupanya Verbruggen memang mencari seseorang setelah mendapat berita dari intelijen Belanda. Marice ditemukan di Rumah Sakit Syaraf. Marice telah berubah ingatan karena penderitaan batin yang tak tertahankan. Ucapannya yang selalu berulang yaitu Segalanya telah kuberikan kepada mereka, tapi mereka ingkar janji. Betapa hancur perasaan Leo dan Verbruggen. Perasaan Leo hancur karena penderitaan ibunya tercinta, sedang perasaan Verbruggen hancur karena Marice tak lain adalah kekasih yang sangat dicintainya, yang menyebabkan ia sampai sekarang tidak menikah. Penyerahan kedaulatan kepada RI sebagai hasil KMB di Den Haag telah berlangsung. Atik dan ibunya berziarah ke makam ayahnya. Pikiran Atik kacau antara kemenangan Republik dan kekasihnya, Teto, tentara KNIL, yang dikenal sebagai pengkhianat bangsa. Tapi ia tetap memaklumi semua arti dan perasaan Teto terhadapnya. Mengapa Teto seorang KNIL yang justru melemparkan Stengun dan pistol tanpa mengganggunya kendati Teto tahu bahwa ia pejuang Republik. Berpuluh tahun kemudian setelah kemerdekaan RI Teto berziarah ke makam ibunya di Magelang.

Kesempatan itu digunakannya pula untuk melihat tempat-tempat kenangan ketika ia masih kanak-kanak yang menjalani kenangan rasa bahagia dengan orang tuanya. Ia tinggal di rumah KRT Prajakusuma, seorang kepala desa. Dipaksakannya untuk menyaksikan mantan kekasihnya Nyonya Yanakatamsi yang tidak lain adalah Larasati alias Atik, mempertahankan disertasi untuk mendapat gelar doktor. Larasati telah menjabat Kepala Direktorat Pelestarian Alam. Ia akan mempertahankan disertasi untuk mendapatkan gelar doktor Biologi. Kini ia telah menjadi istri seorang dekan fakultas kedokteran. Tesis yang akan dipertahankannya berjudul “Jatidiri dan Bahasa Citra dalam Struktur Komunikasi Varietas Burung Ploceus Manyar”. (Burung-burung Manyar).

Semua pertanyaan yang diajukan profesor penguji dapat dijawab Dra. Larasati Yanakatamsi dengan tepat dan benar. Jawabannya menyangkut kehidupan, kemanusiaan, kemasyarakatan, kecintaan, kasih sayang, komunikasi, dan hubungan generasi. Teto merasa betul bahwa jawaban Atik dalam sidang senat itu tepat mengenai dirinya selama ini, sekalipun Atik tidak mengetahui bahwa ia turut hadir dalam sidang pengujian itu. Ia sadar akan kekeliruannya selama ini. Ia pulang lebih dahulu sebelum sidang selesai. Kehadiran semua tamu dapat diketahui. Alamat Teto pun diketahui. Yanakatamsi bersama istri datang ke rumah KRT Prajakusuma. Mereka ingin berjumpa. dengan Teto. Pertemuan itu sangat mengharukan, karena Teto dirasakan sebagai kakak dan sekaligus kekasih oleh Nyonya Yanakatamsi. Namun Yanakatamsi penuh pengertian. Pertemuan itu benar-benar menggembirakan dan mengharukan. Suami Atik sudah lama mengenal nama Teto dari Atik sendiri. Bahkan perkenalan Yanakatamsi dengan Larasati berawal dari pertemuan mereka karena Atik sering diajak ibunya berziarah dan membersihkan makam Marice, ibu Teto.

Tetapi akhirnya diajak tinggal bersama di rumah keluarga Larasati. Teto bersaudara layaknya dengan Atik dan suaminya. Namun kenangan lama tetap sukar mereka lupakan. Antara sandiwara dan keterusterangan sulit dielakkan. Keberanian Teto menyoroti penyelewengan perusahaan tempat ia bekerja sukar pula ditahannya, menyebabkan ia diberhentikan dari Pasific Oil Wells Company. Hubungan Teto dengan keluarga Atik terlihat baik. Sesekali masih terbayang pada Ibu Antana mengapa bukan Teto menantunya. Demikian pula Atik tetap mendambakan keperkasaan Teto di samping suami dan ketiga orang anaknya. Kemesraan batinnya dengan Teto tetap mengendap dalam lubuk hatinya. Namun Teto yang telah memiliki kesadaran tetap.berupaya agar batas keduanya tetap terjaga. Dalam perjalanan menunaikan ibadah haji, musibah menimpa Yanakatamsi dan istrinya. Pesawat yang mereka tumpangi menabrak bukit di Colombo. Mereka hanya pulang dengan namanya saja. Ketiga anak mereka menjadi yatim piatu. Peristiwa ini akhirnya membuat Teto menjadi ayah ketiga anak Larasati dengan Ibu Antana sebagai nenek mereka.

 

SEKIAN

ABDULLAH SYAROFI

121111132

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi