Leksikografi
BAHASA ALAY
Mata
Kuliah : Leksikografi
Pada zaman yang modern seperti
sekarang ini, para remaja sangat menyukai sebuah ragam tulisan Bahasa Indonesia
yang sangat unik. Ragam tulisan ini umumnya dikenal dengan sebutan ragam
tulisan “alay.” Tidak diketahui dengan pasti siapa yang pertama kali menyebut
semua ragam tulisan yang tidak lazim dan bahkan cenderung merusak tatanan baku
Bahasa Indonesia ini dengan sebutan “bahasa alay.” Sepertinya ragam tulisan
jenis baru ini paling digandrungi oleh remaja. ragam bahasa tidak
baku ini sudah mulai digemari oleh anak muda khususnya seusia SD, SLTP, SMU,
bahkan yang sudah mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Mereka merasa lebih
gaul diterima oleh rekan sebayanya jika menggunakan ragam bahasa jenis ini.
Apakah
ada dampaknya bagi Bahasa Indonesia? Tentu. Bahasa Indonesia yang baik, baku,
dan benar dirubah sedemikian rupa oleh generasi gaul ini sebagai alat
komunikasi antar mereka satu sama lain. Sangat wajar jika secara tidak sadar,
ragam bahasa jenis ini akan muncul dalam percakapan formal mereka ketika berada
di dalam kelas atau ruang kuliah. Bisa terjadi ragam bahasa ini akan muncul
juga di dalam bahasa tulisan mereka baik di kertas ujian maupun di dalam
tugas-tugas kuliah. Disini perlu ketegasan guru atau dosen untuk lebih teliti mengoreksi
bahasa yang digunakan murid atau mahasiswanya agar mereka bisa menempatkan diri
dalam penggunaan Bahasa Indonesia yang resmi dan baku.
Apakah
hal ini hanya merupakan fenomena sesaat saja yang kemudian akan hilang
perlahan-lahan dengan berlalalunya waktu dangan munculnya gaya bahasa yang
baru? Sepertinya tidak. Ragam ini masih akan bertahan lama karena masih ada
layanan SMS dan fasilitas chatting yang tersedia di berbagai media sosial. SMS
dan chatting memang menjadi salah satu pemicu “kreatifitas” perusakkan Bahasa
Indonesia baku dan resmi.
Keberadaan
bahasa anak lebay (alay) seperti kata ciyus dan miapa,
serta tulisan dengan huruf besar kecil yang "menyilaukan" mata,
terasa akrab dan merupakan hal biasa di masyarakat. Apalagi jejaring sosial
hingga iklan komersil di media massa pun seakan menyebarluaskan bahasa alay
sehingga membuat masyarakat semakin akrab dengan bahasa tersebut. Dari uraian
diatas, maka berikut adalah beberapa contoh bahasa alay yang sering digunakan.
Beberapa Contoh Bahasa Alay:
1. Penulisan Huruf:
A: @, 4
E: 3
F: pH
G: 9, 6
I: 1
M: | /|
N: ||
O: 0
Q: kyuu
S: z, sHh
U: iuu
V: /
W: //
X: ekss
Y: iie
2. Penggunaan Kata Tanpa Kominasi Huruf
dan Angka
- Assalamualaikum = Chamleeqummbh, camLeQumPh
- Sibuk = cHybuQh, ciiBugH,sbugg
- Lagi apa ni = gie Apz nUe, gii Pa
NicH, gypaaanich
- Sayang & kangen = SaiiaNk, SayaNQ, saiYongg,
kaNgeDh, KangeuNnd
- Kok = kogH,kugg,k0k
- Sms = Cmz, zmz, xmx, cemez * WTF *
- Makan = MumpH , ma’em , mammz
- Ia = iagH , iiAp
- Kan = kanDh..qaNh
- Thank you = teNgs , thennkiuu
- Siapa = cyapa, cappa , sappaa
- Sory = cowy/ie
- Maaf = muupH, mups, Muuv , muubhs
- Kamu = Kammooh, qaMue , qm, U
3. Penggunaan dengan Kombinasi Huruf
dan Angka
- Habis = h4b15
- Sibuk = 51buk
- Emang = 3m4ng
- Tempat = T4
Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi
Indonesia, yang ingin diakui statusnya di antara teman-temannya. Gejala ini
akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan
kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya. Diharapkan sifat ini
segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar. Adapula yang mengatakan bahwa alay adalah perilaku
remaja Indonesia, yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat di antara
yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia yang sopan,
santun, dan ramah. Faktor yang menyebabkan bisa melalui media TV (sinetron),
dan musisi dengan dandanan seperti itu.
Orang-orang yang menulis atau
menggubah cara eja alay berpikir mereka kreatif karena dengan fariasi yang gak
masuk akal. Dan gaya eja itu, menurut saya, menunjukkan kompetensi penuh atas
ortografi Bahasa Indonesia. Ortografi adalah gambaran bunyi bahasa yg berupa
tulisan atau lambang, yaitu sistem ejaan suatu bahasa. Gaya eja alay bekerja
pada tataran linguistik bahasa. Perhatikan saja, bukankah gaya eja itu
menggunakan anasir-anasir serupa homofon, atau bahkan semiotika? Gaya eja alay
memperlakukan abjad, tanda baca, dan bilangan sebagai simbol yang
memanifestasikan bunyi atau huruf tertentu. Saya sendiri menikmati kekreatifan
linguistik semacam ini. Gaya eja alay justru menyemangati saya untuk menafsirkan
tulisan alay tersebut. Saya menganggap tulisan alay sebagai hiburan yang membutuhkan
sedikit kesabaran dan waktu untuk terbiasa dengannya dan untuk mampu membaca
bahkan memahami maksudnya.
Semua perlakuan alay baik dalam
penulisan maupun pengucapan, pengguna gaya eja alay telah mempraktikkan gaya
ejanya di tempat yang semestinya. Mereka berbahasa alay dalam ruang-ruang
bahasa yang sifatnya lebih santai seperti di situs jejaring sosial, obrolan
pribadi, dan pesan singkat, bukan dalam laporan ilmiah atau pidato resmi.
Terimakasih …
Komentar
Posting Komentar