LIKA-LIKU KEHIDUPAN
TAK TERBAYANGKAN
2011, Adalah tahun
yang menyenangkan dan menyedihkan bagiku, tepat bulan juni aku sudah
meninggalkan masa-masa yang menyenangkan bagiku yaitu ketika masa di SMA, berat
rasanya untuk meninggakan walaupun masa di SMA sangat membosankan, tapi ini
sudah menjadi tuntutan bagiku, tidak selamanya aku di SMA meluluh tetapi aku
akan menentukan masa depan aku, “jadi apakah aku sepuluh tahun kedepan”,
dari itulah aku mulai memikirkan masa
depanku, aku tidak mau orang tuaku menangis karena kegagalanku, tetapi aku
ingin orang tua menangis karena keberhasilanku, dari prinsip itulah aku mulai
memikirkan masa depanku agar menjadi orang yang berhasil dan sukses di dunia
dan akhirat.
Satu
bulan sudah, aku meninggalkan masa SMA, aku ingin melanjutkan tuntutan yang
ALLAH berikan pada hambanya yaitu mencari ilmu. Dari tuntutan itulah aku mulai
memikirkan akan melanjutkan kemanakah aku mencari ilmu. Dari beberapa
universitas yang terkemuka diindonesia ini aku datangi (mendaftar) mulai dari
UNAIR,UNESA,UNM, dan TRUNOJOYO.
Lewat
jalur apapun akan aku lalui, biarpun itu memakan banyak uang karena aku ingin
bisa melanjutkan kuliah saya di universitas negeri dan dari tekad itupun orang
tuakupun memotivasiku juga agar aku bisa masuk di PTN. “Ikuti aja Fi, tes yang
ada di PTN yang kamu minati, masalah biaya bapak yang mencari biarpun tidak ada
biaya bapak akan mengutangkan” Ujar Bapakku tersayang. Dari motivasi tersebut
aku juga sangat bangga dan semangat untuk mengikuti tes masuk perguruan.
Jalur
pertamapun aku ikuti yaitu jalur PMDK prestasi tepatnya di UNIJOYO, di jalur
ini aku mendaftar di jurusan PGSD dan Bahasa Inggris, dari jalur ini aku yakin
akan bisa memasuki universitas trunojoyo ini karena persyaratan saya sangat
memenuhi karena banyak sertifikat prestasi yang sudah saya kirimkan untuk
memenuhi persyaratan PMDK Prestasi, tapi kenyataanya ALLAH berkata lain, aku
gagal bisa memasuki universitas ini, gak kusangka nama saya belum terdaftar di
daftar para mahasiswa baru padahal persyaratan semua sudah lengkap dari
persyaratan akademik, keuangan, prestasi, maupun yang lainnya sudah aku penuhi.
Dari pemikiran saya insya ALLAH saya belum didaftarkan oleh guru pembimbingku,
tapi hati mengatakan lain mungkin sudah didaftarkan tapi salah mendaftranya
kemanakah aku didaftarkan aku tidak tahu, pokoknya aku terima beres saja. Dari
kejadian itupun aku menangis dipangkuan orang tuaku karena jalur pertama aku
gagal memasukinya dan tidak akan putus asa pokoknya saya harus bisa belajar di
perguruan tinggi negeri.
Dari
kejadian itupun aku tidak merasa putus asa, aku ambil manfaat dan hikmahnya
saja. Hari berganti hari, waktu berganti waktu, tepat pendaftaran SNMPTN
undangan dibuka, sekolahku merekomendasikan 50 % dari banyaknya siswa perkelas,
pada semester itu rangkingku merosot tepat di tengah-tengah yaitu peringkat 15
dari 27 siswa perkelas. Dari itulah nasib menguji kesabaranku lagi, pertama,
pihak dari Guru BK merekomendasikan aku masuk di 50% walaupun rangkingku di
bawah satu level dari ketentuan, persyaratanpun aku penuhi semua. Tetapi pada
kenyataanya dengan pertimbangan-pertimbangan guru BK lainnya, saya tereleminasi
masuk SNMPTN undangan karena rangking saya dibawah 50%, hati ini merasa terasa
terombang-ambing oleh kehidupan. seketika itupun air mata ini tidak bisa ditahan
lagi, dan air mata ini menetes dipangkuan guru favoritku tercinta di sekolah.
******
Jalur
keduapun aku ikuti, yaitu jalur SNMPTN tulis, dijalur ini aku diberi kesempatan
untuk memilih dua universitas dan jurusan, dari pilihan itupun aku memilih
UNESA dan UNM jurusannya yaitu pendidikan bahasa Indonesia, aku ingin selesai
kuliah aku bisa langsung mengajar (guru), tapi ALLAH berkata lain, aku gagal
bisa memasukinya. Mungkin ini kesalahan saya sendiri karena aku kurang
persiapan dalam mengikuti ujian SNMPTN, akibatnyapun aku tanggung sendiri tapi
aku tak patah semangat sebelum aku bisa diterima di PTN aku tidak akan
menghentikan perjuanganku ini.
Jalur
ketigapun aku ikuti yaitu melalui jalur PMB, dijalur inipun aku ikut di
universitas negeri tepatnya di kota Surabaya semua, yaitu IAIN,UNAIR dan UNESA.
Untuk IAIN aku memilih jurusan PGMI, PAI dan Ilmu Komunikasi, di UNAIR saya
memilih jurusan SASTRA INDONESIA dan ILMU SEJARAH, dan untuk UNESA aku memilih
jurusan Pendidikan Mandarin dan Sastra Indonesia.
Dari
jalur inilah ALLAH memberi jalan terbaikku, dari semua universitas yang aku
ikuti melalui jalur PMB aku diterima semua, di UNESA saya masuk di jurusan
pendidikan mandarin, di UNAIRpun aku bisa masuk dijurusan SASTRA INDONESIA,
tapi untuk yang IAIN aku kurang tahu karena aku melihat infonya tidak sebegitu
detail.
Dari
ketiga pilihan itulah aku memilih UNAIR karena kualitasnya sudah begitu unggul
di jawa timur bahkan di Indonesia.
Itulah
lika-liku secuil hidupku ketika mau masuk di Perguruan Tinggi Negeri.
Komentar
Posting Komentar