Linguistik Bandingan Historis
REKONSTRUKSI MORFEMIS
LINGUISTIK BANDINGAN HISTORIS
OLEH
ABDULLAH SYAROFI
121111132
DEPARTEMEN SASTRA
INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2014
Rekonstruksi morfemis (antar bahasa kerabat), yang mencakup pula
rekonstruksi atas alormorf-alormorf (rekonstruksi untuk menetapkan bentuk tua
dalam satu bahasa). Dengan melakukan rekonstruksi fonemis sebagai dikemukakan
pada bagian terahulu, telah diperoleh dua hal sekaligus, yaitu:
- Rekonstruksi fonem proto
yang memantulkan atau menurunkan fonem-fonem dalam bahasa-bahasa kerabat
sekarang.
- Dengan
memulihkan semua fonem bahsa-bahasa kerabat sekarang sebagai yang
tercermin dalam pasangan kata-katanya ke suatu morfem proto, maka sudah
berhasil pula dilakukan rekonstruksi morfemis (kata dasar atau bentuk
terikat), yaitu menetapkan suatu morfem proto yang diperkirakan menurunkan
morfem-morfem dalam bahasa-bahasa kerabat sekarang. Seperti halnya dngan
fonem proto, maka morfem proto ini biasanya ditandai dengan sebuah tanda
asterisk di depanya.
Uraian pada bagian sebelumnya disajikan dengan mempergunakan contoh dari
bahasa-bahsa Barat. Bahasa-bahasa Indo-Eropa memiliki naskah-naskah tua,
sehingga prosedur itu dapat diuji kebenaranya dalam suatu tingkat perkembangan
ke tingkat perkembangan yang lain. Untuk mendapat bentuk rekonstruksi pada
bahasa-bahasa itu, maka orang harus mulai atau bertolak dari tahap bahasa yang
cukup tua, di mana masih terdapat bukti-bukti sejarahnya. Dalam uraian di atas
dipergunakan bahasa Gotik, Eslandia Kuno, Inggris Kuno, Saksen Kuno, dan Jerman
Tinggi Kuno. Jadi bukanya bahasa inggris, Eslandia, Saksen, dan Jerman.
Sekarang timbul pertanyaan pada kita, bagaiman dengan bahasa-bahasa
Nusantara? Kesulitan yang dihadapi adalah bahwa bahasa-bahasa Austronesia tidak
memiliki naskah-naskah tua, kecuali bahasa Jawa, itu pun hanya terbatas pada
beberapa ratus tahun yang lalu. Tetapi harus diingat pula bahwa metode
perbandingan itu justru metode yang dikembangkan untuk mengetahui tahap pra
sejarah bahasa. Sebab itu tidak menjadi masalah apakah bahasa-bahasa
Austronesia memiliki naskah tau atau tidak. Karena dalam menyajikan
rekonstruksi fonemis telah dipergunakan bahasa Barat, maka dalam rekonstruksi
morfemis ini akan dipergunakan bahasa-bahasa Austronesia, yaitu bahasa Melayu,
Tagalog, Jawa, dan Batak. Rekonstruksi
ini harusnya dimulai dari rekonstruksi fonemis sesuai dengan teknik yang telah
digelarkan di atas. Namun dalam bagian ini akan diambil jalan pintas, tanpa
membicarakan masalah status korespodensi fonemisnya.
Dalam perbandingan antara keempat bahasa Austronesia (Barat) tersebut
memang Nampak pula adanya korespondensi fonemis yang jelas dan teratur. Untuk
itu mari kita perhatikan pasangan kata-kata berikut, yang menghasilkan sejumlah
perangkat korespondensi fonemis. Disamping itu akan kita lihat bahwa prinsip
mayoritas distribusi tidak selalu diperlakukan, karena harus diperhatikan pula
kaidah-kaidah lain.
|
Glos |
Tagalog |
Melayu |
Jawa |
Batak |
Rekonstruksi |
|
memilih |
ꞌpi:liˀ |
pilih |
pilik |
pili |
*pilik |
|
kurang |
ꞌku:laŋ |
kuraŋ |
kuraŋ |
huraŋ |
*kuLaŋ |
|
hidung |
iꞌluŋ |
hiduŋ |
iruŋ |
iguŋ |
*iguŋ |
|
ingin |
ꞌhi:lam |
iḍam |
iḍam |
iḍam |
*hiḍam |
|
tunjuk |
ꞌtu:ruˀ |
tuñjuk |
tuduk |
tudu |
*tuduk |
|
taji |
ꞌta:riˀ |
taji |
taḓi |
taḓi |
*taḓi |
|
sagu |
ꞌsa:gu |
sagu |
sagu |
sagu |
*tagu |
|
buruk |
ꞌbuꞌguk |
buruk |
vuˀ |
buruk |
*buƔuk |
Dari data tersebut di atas dapat diturunkan beberapa
korespondensi fonemis, yaitu /1 – 1 – 1 – 1/ yang dipantulkan dari fonem proto
*/1/;/ korespondensi fonemis /1 – r – r – r/ yang diturunkan dari fonem proto
*/L/; perangkat korespondensi /1 – d – r – g/ yang dipantulkan dari fonem proto
*/g/; perangkat korespondensi fonemis /1 – ḍ - ḍ - ḍ/ yang menghasilkan fonem
rekonstruksi */d/; korespondensi fonemis /r – j - ḓ - ḓ/ yang menghasilkan
fonem proto */ḓ/; dan perangkat koresponden fonemis /r – j – d – d/ yang
menghasilkan fonem proto */d/. sementara fonem proto */g/ menurunkan perangkat
korespondensi fonemis /g – g – g – g/, dan fonem proto /Ɣ/ menurunkan
perangkat korespondensi fonemis /g – r – Ø – r/ (Bloomfield, 1962: hal. 310).
Ada satu catatan dari rekonstruksi yang diadakan antar
bahasa-bahasa tersebut di atas yaitu mengenai kata buruk dalam bahasa Jawa. Bloomfield menderetkan dalam perangkat
korespondensi fonemisnya sebagai Ø (zero).
Bila diperhatikan peristiwa-peristiwa kebahasaan dalam bahasa Austronesia pada
umumnya, khususnya dalam bahasa Jawa, maka kata /vuˀ/ sebenarnya mengandung
ko-okurensi. Sehingga di dalamnya sebenarnya secara tak langsung terdapat fonem
/r/, yaitu fonem inter-vokalik yang menghilang dalam segmen ini.
Ilmu bahasa historis komparatif menjelaskan bahwa tiap
cabang bahasa mengandung ciri-ciri atau bukti-bukti yang khas dari bentuk atau
ciri bahasa proto, serta identitas atau korespondensi fonemis antara
bahasa-bahasa kerabat akan menjelaskan tentang ciri-ciri bahasa purba atau
bahasa proto it. Asumsi ini akan memberi peluang untuk membuat kesimpulan lebih
jauh bahwa, pertama, bahasa purba
merupakan suatu masyarakat bahasa yang homogeny, dan kedua, bahasa purba ini secara berangsur-angsur menjadi dua bahasa
atau lebih yang kemudian kehilangan kontak satu sama lain.
Dari hasil rekonstruksi yang disajikan dalam
contoh-contoh di atas, tampak bahwa tidak ada satu pun dari bahasa-bahasa itu
lebih dekat dengan bentuk rekonstruksinya. Sebab itu haruslah dihindari
anggapan bahwa saah satu dari bahasa-bahasa kerabat itu yang mewakili bahasa
protonya. Bila ada kemiripan yang lebih besar antara satu bahasa kerabat dengan
bahasa protonya, maka hal itu hanya berarti bahwa telah terjadi pewarisan
lincar dari bahasa proto ke bahasa tersebut. Bentuk-bentuk rekonstruksi itu
sekedar mewakili bentuk-bentuk yang sudah tidak ada lagi. Kelompok-kelompok
yang terdiri dari bahasa-bahasa yang diturunkan dari bahasa induk (parent language) yag sama disebut sebagai satu keluarga bahasa (language family).
Bahasa induk sebagai dimaksudkan di atas dapat berupa
sebuah bahasa yang memiliki naskah tertulis, seperti bahasa Latin yang dianggap
sebagai bahasa proto dari bahasa-bahasa Roman; atau suatu bahasa yang tidak
memiliki naskah tertulis, misalnya bahasa proto Semit dan bahasa Proto
Indo-Eropa. Bagi bahasa proto yang tidak memiliki dokumen-dokumen tertulis,
maka kata-kata protonya adalah hasil dari rekonstruksi morfologis dari
bahasa-bahasa sekarang, atau dari bahasa-bahasa tua yang memiliki naskah
tertulis.
Berdasrkan metode komparatif, terdapat asumsi bahwa
akan terdapat korespondensi yang teratur, karena bahasa yang bebeda-beda itu
secara teratur pula berkembang dari bahasa protonya. Tetapi harus diingat bahw
aproses rekonstruksi itu dilakukan dengan mempergunakan prisip-prinsip
tertentu: kesederhanaan, penghematan, dan bahwa tidak ada factor yang
mengganggu evolusi itu, dan bahwa evolusi itu berada dalam situasi isolasi yang
kuat. Hal ini menunjukkan bahwa kita menyadari sepenuhnya, bahwa apa yang
dihasilkan dari rekonstruksi itu mungkin tidak parallel dengan keadaan yang
sebenarnya yang berlaku dalam perkembangan sejarah yang factual. Tetapi sejauh
kita belum memperoleh bukti-bukti tentang gangguan isolasi tersebut, kita tetap
mempergunakan bentuk-bentuk rekonstruksi dengan sikap terbuka. Bentuk-bentuk
rekonstruksi secara pasti dapat memberi implikasi tentang wujud kata-kata
proto, tetapi ia bukan kata-kata proto itu sendiri. Sebab itu bentuk proto
seperti *pilik atau *fisk dan sebagainya merupakan implikasi
tentang wujud kata-kata proto, dan agaknya ia bukan kata protonya sendiri. Kita
tidak mempunyai bukti bahwa ia harus berbentuk lain dari itu.
Komentar
Posting Komentar