Naskah Islam Nusantara
HIBRIDISASI MODIFIKASI AKSARA ARAB
KE AKSARA ARAB PEGON
Oleh : Abdullah Syarofi
Aksara adalah bahasa tulis
suatu daerah yang mana bahasa tulisan itu mempunyai tanda yang bermakna, aksara
merupakan sebuah warisan nenek moyang zaman dahulu, dan di setiap daerah pasti
memiliki aksara tersendiri yang mempunyai ciri khas penulisan tersendiri dan
mempunyai arti tersendiri. Aksara merupakan bahasa tulisan yang bisa
mengkomunikasikan antara orang satu dengan yang lainnya. Sejak zaman yunani
manusia sudah bisa mengenal yang namanya aksara.
Indonesia adalah Negara yang kaya akan aksara, setiap
daerah yang ada di Negara Indonesia pasti mempunyai aksara tersendiri dan
berbeda dengan aksara laiinya. Setiap daerah pasti memiliki aksara tersendiri
di antaranya yang sudah kita kenal yaitu ada aksara jawa, bali, melayu, pegon,
bugis dan masih banyak yang lainnya. Semua aksara di atas memiliki ciri gaya
yang khas tersendiri dan memiliki makna tersendiri dan yang lebih penting yaitu
cara pelafalannya juga berbeda.
Aksara pegon adalah
aksara yang di modifikasi dengan ejaan jawa ada juga sebagian yang berejaan
bahasa Indonesia. Kata Pegon konon berasal dari bahasa Jawa pego yang berarti
menyimpang. Sebab bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu
yang tidak lazim. Kata Pegon konon berasal dari bahasa Jawa pégo yang berarti
menyimpang. Sebab bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu
yang tidak lazim. Guru Besar Fakultas
Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Syamsul Hadi menjelaskan,
kata pegon berasal dari bahasa Jawa pego yang artinya tidak lazim dalam
mengucapkan bahasa Jawa. Hal ini, menurutnya, disebabkan banyaknya kata Jawa
yang ditulis dengan tulisan Arab dan menjadi aneh ketika diucapkan. Penje lasan
itu diperkuat oleh Titik Pudji astuti dalam tulisan Aksara pegon: Sarana Dakwah
dan Sastra dalam Budaya Jawa. Menurutnya, teks Jawa yang ditulis dengan aksara
Arab disebut teks pegon yang artinya sesuatu yang berkesan menyimpang. Aksara pegon muncul sekitar tahun 1200 M / 1300 M bersamaan
dengan masuknya ajaran islam di Indonesia. Dan menurut catatan lain, huruf
pegon muncul sekitar tahun 1400 M yang digagas oleh RM. Rahmat atau Sunan Ampel
di Pesantren Ampel Dentha Surabaya. Sedangkan menurut pendapat lain, penggagas
huruf pegon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Jadi
pada intinya keberadaan aksara pegon masih misteri karena berbagai pendapat
yang berbeda entah yang mana yang benar, sebagai umat manusia kita harus
menerima warisan itu semua, kita sebagai umat manusia juga tidak tahu kapan
aksara itu muncul dan siapakah yang memunculkan, hanya Allah lah yang tahu
dengan segalanya.
Huruf pegon terbentuk seiring pergantian
masa kejayaan kepercayaan animisme, dinamisme, hindu dan budha. Dan juga
terbentuk karena dikalangan pesantren membutuhkan formula bahasa yang dapat
digunakan untuk mempermudah mempelajari kandungan Al Quran Hadis yang berbahasa
arab. Maka dari sinilah huruf pegon terbentuk.
Aksara pegon
memiliki banyak nama atau banyak pengertian di antaranya yaitu di daerah
Malaysia (mayoritas penduduk bangsa melayu) dinamakan aksara Jawi karena pegon
di Malaysia kebanyakan gundul atau tidak mempunyai vokal. Sedangkan dikalangan
pesantren dinamakan aksara arab pegon karena bahasa yang di gunakan di pesantren
khususnya pesantren jawa timuran adalah bahasa jawa ngoko. Aksara Arab Pegon di Jawa terutama dipergunakan oleh kalangan umat
Muslim, terutama di pesantren-pesantren. Biasanya ini hanya dipergunakan untuk
menulis komentar pada Al-Qur'an, tetapi banyak pula naskah-naskah manuskrip
cerita yang secara keseluruhan ditulis dalam pegon. Misalkan naskah-naskah
Serat Yusup.
Namun di kalangan yang lebih luas, huruf
Arab pegon dikenal dengan istilah huruf Arab Melayu karena ternyata huruf Arab
berbahasa Indonesia ini telah digunakan secara luas di kawasan Melayu mulai
dari Terengganu (Malaysia), Aceh, Riau, Sumatera, Jawa (Indonesia), Brunei,
hingga Thailand bagian selatan. Tak heran, jika kita membeli produk-produk
makanan di kawasan dunia Melayu (Malaysia, Thailand Selatan, Brunei, dan
beberapa wilayah di Indonesia) dapat dipastikan terdapat tulisan Arab pegon
dalam kemasannya walaupun dengan bahsa yang berbeda.
Secara tertulis, pakem asli dari huruf pegon
belum pernah ditemukan. Namun, melihat dari bebarapa kitab klasik yang ditulis
dengan menggunakan bahasa daerah, terdapat beberapa huruf yang semuanya hampir
mirip dan perbedaannya hanya tertuju pada pembubuhan huruf vocal saja. Pakem
dari huruf pegon adalah modifikasi huruf arab yang ditranslit masuk dalam
huruf-huruf carakan (aksara jawa), dan bermetafora menyesuaikan diri dengan
huruf abjad (hal ini diistilahkan dengan abajadun) dalam hal inilah (modifikasi dengan huruf abjad) yang banyak
dipelajari hingga saat ini.
- Huruf
Hijaiyyah (Arab)
ا ب ت ث
ج ح خ ........الخ
- Aksara Arab
yang diambil untuk aksara Pegon
اب ت ج د
ر س ط ع ف ك ل م ن و ه ي
- Transkripsi
huruf Pegon kedalam huruf Jawa dan Latin (abjad)
|
No |
Aksara Jawa |
Aksara Latin |
Aksara Pegon |
|
01 |
Ha |
H/A |
ه/أ |
|
02 |
Na |
N |
ن |
|
03 |
Ca |
C |
چ |
|
04 |
Ra |
R |
ر |
|
05 |
Ka |
K |
ك |
|
06 |
Da |
D |
ڎ |
|
07 |
Ta |
T |
ت |
|
08 |
Sa |
S |
س |
|
09 |
Wa |
W |
و |
|
10 |
La |
L |
ل |
|
11 |
Pa |
P |
ڤ |
|
12 |
Dha |
Dh |
ڎ |
|
13 |
Ja |
J |
ج |
|
14 |
Ya |
Y |
ي |
|
15 |
Nya |
Ny |
ۑ |
|
16 |
Ma |
M |
م |
|
17 |
Ga |
G |
ڮ |
|
18 |
Bha |
B |
ب |
|
19 |
Tha |
Th |
ط |
|
20 |
Nga |
Ng |
ڠ |
Aksara Pegon adalah
merupakan aksara konsonan yang belum bisa di baca karena tidak ada aksara
vokalnya. Aksara pegon bias di baca ketika diberi imbuhan huruf alif yang
berarti menyatakan bunyi A, huruf ya yang berarti menyatakan bunyi I, dan huruf
wawu yang berarti menyatakan bunyi U.
Aksara
pegon merupakan aksara arab yang di campur bahasanya dan di diberi tambahan pada kerangka hurufnya
yang berubah bunyi menjadi bukan bahasa arab lagi tetapi bahasa arab pegon di
antaranya yaitu huruf JIM (ج) ditambah 2 titik menjadi/dibaca CA/C, huruf FA (ف) ditambah 2 titik menjadi/dibaca PA/P, huruf DAL (د) diberi 3 titik di atas menjadi/dibaca
DHA/DH, huruf YA (ي) ditambah 2 titik menjadi/dibaca
NYA/NY, huruf KAF (ك) ditambah 3 titik dibawah menjadi/dibaca
GA/G, huruf AIN (ع) ditambah 3 titik diatas
menjadi/dibaca NGA/NG. Dari perubahan
itulah maka kita bias melihat bahwa hibridisasi dan modifikasi aksara arab
menjadi aksara arab pegon di karenakan penyesuaian antara bahasa arab ke bahasa
jawa, ketika bahasa itu berbeda maka hurufpun juga berbeda.
Refrensi
:
Written By BenerPOST on Selasa, 08 Januari 2013 | 23.35
http://misykat.lirboyo.net/mengenal-warisan-walisongo-huruf-pegon/.
Tugas Esai
Mata Kuliah Naskah Islam Nusantara
Nama : Abdullah Syarofi
NIM : 121111132
Dosen : Mohammad Ali, M.A
Komentar
Posting Komentar