Pengantar Ilmu Budaya
SUKU TENGGER DALAM
KACAMATA KEBUDAYAAN DAN BAHASA : DALAM KAJIAN ANTROPOLOGI
Disusun Oleh:
ABDULLAH SYAROFI 121111132
PROGAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Kebudayaan
adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam
kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar
(Koentjaraningrat, 2009:144). Hal tersebut berarti bahwa hampir seluruh
tindakan manusia adalah “kebudayaan”. Di samping istilah “kebudayaan” ada pula
istilah “peradaban. Peradaban adalah suatu kebudayaan yang mempunyai sistem
teknologi, ilmu pengetahuan, seni bangunan, seni rupa, dan sistem kenegaraan
dari masyarakat kota yang maju dan kompleks (Koentjaraningrat, 2009:146).
Benih-benih
kebudayaan sudah lahir sejak awal peradaban ini dimulai. Telah ada bahasa
sebagai alat komunikasi untuk perkembangan sistem pembagian kerja dan interaksi
antara warga kelompok.kebudayaan selalu mengalami evolusi, karena kebudayaan
bersifat dinamis. Selain berevolusi kebudayaan juga memiliki wujud dari
kebudayaan iu sendiri. Wujud kebudayaan
dibagi menjadi tiga, yaitu: ideas, activities, dan artifacts.
Budaya
indonesia hingga dewasa ini secara keseluruhan dapat menggambarkan sebagai
tumpukan pengalaman budaya dan pembangunan budaya yang terdiri dari
lapisan-lapisan budaya yang terbentuk sepanjang sejarah. Kawasan daratan tinggi
Tengger bukan hanya kaya dengan pusaka alam seperti kawah Bromo, Laut Pasir,
Gunung penanjakan, serta pusaka budaya seperti upacara Kasada, Karo, Unan-unan,
Entas-Entas, dan berbagai tradisi yang lainnya. Melainkan juga sebuah kawasan
yang penduduknya memegang teguh tradisi yang diwarisi oleh leluhurnya. Salah
satu bentuk pusaka budaya yang diduga memberi kontribusi signifikan terhadap
perilaku budaya orang tengger adalah kearifan lokal warisan leluhur mereka yang
selama ini dijadikan rujukan dalam kehidupan bermasyarakat, baik antarorang
Tengger maupun antar orang Tengger dengan bukan orang Tengger.
Orang
Tengger bertempat tinggal di desa-desa dalam wilayah daratan tinggi Tengger,
yang secara administratif berada di bawah naungan empat kabupaten, yakni
Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, dan Kabupaten
Lumajang dalam buku Ayu Sutarto (2008:117). Orang Tengger terkenal sebagai
petani tradisional yang tangguh, bertempat tinggal secara kelompok di
bukut-bukit yang tidak jauh dari lahan pertanian mereka. Suhu udara yang dingin
membuat mereka betah bekerja di ladang sejak pagi hingga sore hari.
1.2 Rumusan Masalah
Makalah
ini mencoba menguak data kebudayaan Tengger berdasarkan beberapa aspek.
Aspek-aspek yang akan disajikan antara lain sejarah, keadaan fisik, demografis,
sosial, sistem pemerintahan, budaya dan bahasa Kebudayaan Tengger. Dari beberapa aspek tersebut kami menyusun
makalah ini dalam kecenderungan dalam aspek bahasa, dikarenakan untuk
menyesuaikan dengan kajian linguistik pada program studi Sastra Indonesia di
Unair.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Keadaan Fisik, Demografi
Suku Tengger adalah
masyarakat yang bermukim di antara lereng Gunung Bromo dan Gunung Semeru.
Masyarakat tersebut terletak dalam empat wilayah administratif Probolinggo,
Pasuruan, Malang, dan Lumajang dengan menjadikan Gunung Bromo sebagai pusatnya
(Bea Anggraini, 2010:27). Newiger dalam Lincahayati (2013) menjelaskan bahwa
tengger merupakan hasil cerita dari kejayaan Majapahit yang menolak adanya
pengaruh Islam dengan meninggalkan tempat mereka. Rakyat biasa melarikan diri
ke sebuah pegunungan yang sekarang masyarakatnya berada pada lereng-lereng
pegunungan Tengger dan Semeru sedangkan sisinya dari Abdi dalem keraton
Trowulan yang melarikan diri ke pulau Bali.
Kawasan Tengger di Desa Ngadisari
menempati daerah tertinggi lereng gunung Bromo-Semeru dan berhawa dingin
sekitar 4° C pada malam hari dan sekitar 18° C pada siang hari. Sebagai daerah
pegunungan, iklim yang berlaku di daerah Tengger adalah iklim tropis. Suhu
dingin yang selalu menyelimuti Tengger berpengaruh pada cara berpakaian warga
yang tidak lepas dari sarung atau jaket sebagai penghangat tubuh. Pada umumnya
laki-lakinya digunakan menyelempangkan sarung, dan kaum perempuannya memakai
semacam celemek. Kondisi tanah di daerah Tengger rata-rata berbukit-bukit, dan
tanahnya sangat subur. Tidaklah mengherankan bila masyarakat bercocoktanam dan
memiliki semboyan bahwa mereka tidak perlu mencari pekerjaan di luar, karena
pekerjaan sudah menantinya.
Suku tengger mempunyai sistem
kalender sendiri yang mereka namakan Tahun Suka atau Saka Warsa. Sistem
penanggalan kalender orang Tengger dalam sebulan selalu berjumlah 30 hari
dengan penyebutan antara tanggal 1 sampai dengan 15 disebut ‘ tanggal hari’,
dan 15 sampai 30 disebut ‘panglong hari’ (penyebutan panglong siji, panglong
loro dan seterusnya). Cara menghitungnya dengan rumus : tiap bulan berlangsung 30 hari, sehingga
dalam 12 bulan terdapat 360 hari.
2.2 Sejarah
Data tertua diperoleh
dari prasasti Walandit yang berangka
tahun 851 saka atau 929 masehi. Isi prasasti menyebutkan bahwa daerah ini
dibebaskan dari pembayaran pajak karena dianggap sebagai tanah suci yang
penghuninya dianggap sebagai abdi spiritual yang patuh dalam sebuah gagasan Edy
burhan Arifin dalam buku Harry Waluyo (1997:11).
Berdasarkan informasi diatas
diketahui bahwa sekitar abad IX dan X, daerah pegunungan tengger merupakan
daerah yang disucikan oleh Kerajaan Kediri yang berpusat di kali brantas.
Periode berikutnya, daerah ini dikuasai oleh Majapahit yang dianggap sebagai
cikal bapal masyarakat Tengger yang sekarang. Pada abad selanjutnya, bersamaan
dengan masuknya islam di Jawa abad XV.
Menurut Hefner dalam buku Harry
Waluyo, masyarakat Tengger pada zaman islam pernah ditaklukan oleh Sultan
Agung, Raja Mataram. Selama periode abad XVII-XVIII, pengaruh budaya mataram
merebak sampai ke wilayah pegunungan Tengger dan sekitarnya. Nilai-nilai yang
terpengaruh oleh budaya Mataram yakni terlihat dari etiket dan kebiasaan,
bahasa dan strata sosial (1997:11).
Berdasarkan legenda yang diketahui
luas di kalangan masyarakat orang Tengger percaya bahwa mereka adalah keturunan
Majapahit. Dahulu kala, raja Majapahit yang bernama prabu Brawijaya melarikan
diri bersama para pengikutnya ke daerah pegunungan Tengger karena terdesak oleh
pasukan Raden Patah, putra Sang prabu sendiri yang telah masuk islam. Karena
Raja Brawijaya tidak mau memeluk Islam, Raja Brawijaya melarikan diri ke
peleran, tempat peristirahatan yang berada di sekitar pegunungan Tengger.
Di daerah Tengger tersebut Raja
Brawijaya belum merasa aman. Raja Brawijaya khawatir Raden Patah akan
menyusulnya. Raja Brawijaya bersama para pengukutnya yang masih setia
meneruskan perjalanan ke tempat yang aman di daerah Banyuwangi kemudian
menyeberang ke Pulau Bali dab akhirnya menetap di Bali diikuti oleh keluarga
raja, para pujangga, dan para pendeta. Sedangkan pengikutnya yang lain tetap
tinggal di pegunungan Tengger adalah rakyat kebanyakan hidup bercocok tanam
(Harry Waluyo, 1997:12).
2.3 Agama, Adat, dan
Kepercayaan
Sebelum
tahun 1973, warga masyarakat Tengger menyebut agamanya adalah agama Budo
(Waluyo:1997:18). Agama budo disini berbeda dengan agama Budha (Sidharta
Gautama) yang diakui oleh undang-undang pasal 29 mengenai 5 agama besar di indonesia., tetapi agama Budo yang
dianut orang Tengger adalah agama yang dianut oleh nenek moyang mereka yang
berasal dari Majapahit. Nama lain dari agama budo tersebut adalah Hindu
Tengger. Masyarakat Tengger umumnya sangat patuh melaksanakan upacara Kasada, Upacara Karo, Entas-Entas, dan
Unan-unan.
Tempat ibadah orang Tengger disebut
Sanggar Pamujan atau melakukan persembahyangan di rumah masing-masing. Namun,
setelah ada pembinaan dari Parisada Hindu Dharma, didirikanlah Pura (Poten),
tempat pemujaan yang sangat mirip dengan pura-pura di Bali. Poten ini dibangun
di lautan pasir di sebelah Gunung Bromo. Pemimpin persembahyangan umat Hindu di
Tengger disebut Pinandita. Kedudukan Pinandita berada di atas kedudukan dukun.
Terkait dengan kepercayaan masyarakat Tengger, terdapat beberapa
upacara-upacara suku Tengger antara lain :
1.
Upacara
Kasada
Upacara ini merupakan upacara korban dan
diselenggarakan setahun sekali pada bulan Kasodo dan dilakukan di Poten yang
berada di lautan pasir sebelah barat Gunung Bromo, tempat bersembahyangnya dewa
Bromo, tempat bersemayamnya Dewa Bromo yang menjadi perlindung orang Tengger.
Upacara Kasodo ini merupakan upacara terbesar yang dilakukan oleh masyarakat
Tengger. Upacara Kasodo ini memiliki keterkaitan dengan asal usul nama Tengger,
kata Tengger diambil dari nama Roro Anteng dan Joko Seger yang menjalin tali
perkawinan.
Sejarahnya perkawinan tersebut telah
berlangsung lama tetapi belum menghasilkan keturunan seorangpun. Di dalam
usahanya mendapatkan keturunan , Joko Seger dan Roro Anteng bertama memohon
kepada dewa yang menghuni gunung Bromo tersebut, pasangan suami istri mendengan
Wisik akan diberikan keturunan dengan syarat kelak jika anaknya berjumlah 25
orang dan semuanya hidup, maka anak yang paling kecil atau bungsu akan
dikorbankan ke kawah Bromo sebagai tanda ucapan terima kasih dan pada akhirnya
anak bungsu mereka yang bernama Raden Kusumo. Untuk mengingat pengorbanan Raden
Kusumo dan memperoleh keselamatan dan berhasil di bidang pertanian. Ketika
Upacara Kasada berlangsung penduduk Tengger harus mengorbankan hasil buminya
kepada Dewa penunggu Gunung Bromo. sejak saat itu, setiap Tanggal 15 bulan
Kasodo, saat bulan Purnama Sidi orang Tengger melakukan upacara korban ke kawah
gunug Bromo berupa hasil bumi dan hewan tertentu.
2.
Upacara
Karo
Pesta ‘Karo’ dengan upacara tari ‘Sodoran’
setiap tahun akan dilaksanakan bergantian. Upacara tersebut dilaksanakan setiap
tahunnya disetiap bulan Karo dan merupakan upacara terbesar setelah Upacara
Kasada, upacara ini bertujuan untuk menghormati arwah orang Tengger.
Penyelenggaraan Upacara Karo berlangsung selama dua minggu dan dipusatkan di
daerah pedesaan. Permainan disajikan sebagai pelengkap upacara Karo, yaitu seni
permainan Sodoran yang bersifat seni tradisional yang dilakukan oleh empat
orang yang membentuk formasi saling berhadapan.
Inti dari Upacara Karo ini pada
dasarnya adalah dikeluarkannya jimat Klontongan Ontokusuma. Pada saat ini juga
dipertunjukkan seni Tradisional Ujungan yang dilakukan sebagai penutup Upacara
Karo.
3.
Upacara
Unan-Unan
Upacara
yang dilakukan lima bulan sekali dipusatkan di perdesaan suku tengger. Upacara
ini bertujuan untuk menghormati leluhur dan dewa-dewa upacara.
4.
Barikan
Upacara
yang bertujuan untuk menghibur dan mendapatkan hari baik para jin setan dan
menjauhkan diri dari segala penyakit.
5.
Upacara
Pujan
Upacara
ini bertujuan untuk memuliakan asal-usul manusia. Upacara Pujan ini
dilaksanakan setiap 4 tahun sekali.
6.
Upacara
Tugil Kuncung
Upacara
Tugil Kuncung ini berbeda dengan upacara-upacara yang lain, karena upacara
tersebut lebih bersifat khusus. Dimana, upacara Tugil Kuncung adalah upacara yang
bertujuan untuk membudhakan anak yang berusia 7 sampai dengan 10 tahun.
7.
Upacara
Entas-Entas
Upacara
Entas-entas atau Upacara adat Nglukat bertujuan untuk mengentaskan atau
mengeluarkan arwah dari tempat yang belum sempurna. Jadi upacara entas-entas
ini ada hubungannya dengan kematian. Upacara ini merupakan rangkayan terakhir
dari upacara kematian. Entas-entas biasanya dilakukan secara gotong royong oleh
beberapa keluarga untuk menghemat biaya.
2.4 Sistem Pemerintahan
Masyarakat tengger
mengenal struktur pemerintahan adat berdasarkan legenda tentang Roro Anteng dan
Joko Seger yang diyakini oleh masyarakat rengger bahwa dua orang tersebut yang
menjadi awal cikal bakal suku tengger. Disamping itu, masyarakat tengger
percaya bahwa adat dan upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat tengger sampai
saat ini merupakan warisan nenek moyang yang harus dipegang teguh. Kalau adat
dan upacara tersebut tidak dipatuhi, orang tengger akan menanggung akibat
kemarahan dewa yang menghuni gunung Bromo.
Inti dari setiap adat dan upacara
yang dilakukan oleh orang tengger sampai saat ini ialah untuk mencari
keselamatan baik di dunia maupun di alam
baqa. Orang tengger percaya bahwa perilakunya di dunia akan dibalas nanti di
alam bawa. Oleh karena itu, orang tengger lebih baik mencegah berbuat di luar
dari ketentuan adat yang berlaku dari pada menanggung akibat yang
ditimbulkannya.
Dalam struktur adat, kepala dukun
menempati kedudukan yang paling tinggi karena kepala dukun diyakini
kemampuannya melebihi kemampuan orang biasa karena mampu melaksanakan laku
prihatin sebelum menjadi dukun. Sebelum keluar peraturan tahun 1973 tentang
penyebutan agama atau kepercayaan yang dianut orang Tengger, orang Tengger
menyebut agama mereka adama Budo Tengger yang berbeda dengan agama Budha
biasanya. Agama Budo ini merupakan nama lain dari penyebutan agama Jawa Kuna
yang diwarisi sejak masa Kerajaan Majapahit.
Kedudukan kepala dukun merupakan
keduduka tertinggi secara adat. Kedudukan lain secara adat tidak ada, kecuali
pembantu-pembantu dukun, seperti tiyang sepuh, dandan, dan legen. Tetapi,
penghormatan masyarakat terhadap kepala dukun hampir tidak mungkin dihindari
karena seluruh kehidupan masyarakat sejak dilahirkan, menikah, sampai mati
tidak dapat melepaskan kehidupan spiritualnya dari peranan kepala dukun. Dengan
kata lain, sebagai tokoh masyarakat yang dianggap mempunyai kewibawaan karena
pandai berpidato dan memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan cita-cita dan
keyakinan sebagian besar warga masyarakat.
Karena kedudukan dan peranan kepala
dukun sangat domain si sebagian sektor kehidupan, apalagi ditambah bahwa kepala
dukun yang sekarang sudah menjadi anggota DPRD mewakili suara golongan karya
selama tiga periode, adalah jabatan yang terhormat yang pernah dijalani kepala
dukun secara rangkap. Sebelum kepala dukun diangkat menjadi anggota DPRD dari
II Probolinggo, ia pernah menjadi sebagai Kepala Urusan Kesra semasa periode
pak petinggi. Dengan demikian, pengaruh kepala dukun semakin kuat di
pemerintahan Suku Tengger.
2.5 Bahasa
Bahasa yang berkembang di
masyarakat Tengger adalah bahasa Jawa Tengger yaitu bahasa Jawa Kuno yang
diyakini sebagai dialek asli orang-orang Majapahit. Bahasa yang digunakan
dikitab-kitab mantra pun menggunakan bahasa Jawa Kuno. Masyarakat Tengger
merupakan salah satu sub kelompok orang Jawa yang mengembangkan variasi budaya
yang khas. Kekhasan ini bisa dilihat dari bahasanya yang menggunakan bahasa
jawa dialek Tengger. Tanpa tingkatan bahasa sebagaimana yang ada pada tingkatan
bahasa dalam bahasa Jawa pada umumnya.
Bahasa orang Tengger hampir tidak
ada bedanya dengan bahasa Jawa. Orang Jawa pada umumnya akan dengan mudah
mengerti dengan tuturan orang Tengger. Kekhasan tuturan orang Tengger merupakan
implikasi dari ke khasan wilayah yang umum terjadi pada setiap wilayah lain
yang lazim disebut sebagai dialek. Kekhasan bahasa Tengger di antaranya
ditandai dari istilah-istilah tertentu dan logat bicara tertentu yang
digunakan.
Dialek bahasa Tengger biasanya
ditandai dengan penebutan kata ganti persona yang berbeda dengan bahasa Jawa
pada umumnya, seperti kata ‘dika’ menunjukkan, orang Tengger masih memelihara
tradisi ‘ungguh-ungguh’ bahasa jawa kuna, karena bahasa Jawa modern, kata ganti
persona kedua yang paling halus adalah ‘panjenengan’ dalam penelitian Bea
Anggraini (2010:51-52).
Kesamaan Bahasa Jawa dan
Bahasa Jawa Dialek Tengger
|
No. |
Glos |
Bahasa Jawa |
Bahasa Tengger |
|
1. |
Hidup |
Urip |
Urip |
|
2. |
Apabila |
Menowo |
Menowo |
|
3. |
Menjadi |
Dadi |
Dadi |
|
4. |
Janji |
Nadar |
Nadar |
|
5. |
Semuanya |
Kabeh |
Kabeh |
|
6. |
Meminta |
Jaluk |
Jaluk |
Perbedaan Kata Ganti
Persona Antara Bahasa Jawa dan Bahasa Tengger
|
Glos |
Bahasa Tengger |
Bahasa Tengger |
||
|
Ngoko |
Krama |
Ngoko |
Krama |
|
|
Aku |
Eyang, reyang, dan ingsun |
Kula |
Aku |
Kula Ingsun |
|
Kamu |
Sira |
1. Rika 2. Panjenengan 3. dika |
Kowe |
1. dika 2. sampeyan 3. Panjenengan |
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Budaya merupakan hasil karya manusia berupa daya dari budi yang
berupa cipta,karsa dan rasa. Sedang kebudayaan itu segala hasil dari cipta,
karsa dan rasa itu. Setiap masyarakat mempunyai kebudayaan yang berbeda antara
yang satu dengan yang lainnya. Dari dari berbagai keanekaragaman itu memiliki
prinsip dan tujuan yang sama yaitu mengakui adanya ciptaan manusia.
Suku
Tengger adalah masyarakat yang bermukim di antara lereng Gunung Bromo dan
Gunung Semeru. Masyarakat tersebut terletak dalam empat wilayah administratif
Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang dengan menjadikan Gunung Bromo
sebagai pusatnya yang memiliki beraneka kebudayaan yang masih ada sampai saat
ini diantaranya yaitu ada upacara kasodo, karo, unan-unan, barikan, pujan,
tugil uncung, dan entas-entas. Disamping
itu suku tengger memiliki bahasa yang khas yaitu bahasa jawa tengger. Bahasa
orang Tengger hampir tidak ada bedanya dengan bahasa Jawa. Orang Jawa pada
umumnya akan dengan mudah mengerti dengan tuturan orang Tengger. Kekhasan
tuturan orang Tengger merupakan implikasi dari ke khasan wilayah yang umum
terjadi pada setiap wilayah lain yang lazim disebut sebagai dialek. Kekhasan
bahasa Tengger di antaranya ditandai dari istilah-istilah tertentu dan logat
bicara tertentu yang digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, Bea. 2010. Revitalitas Budaya Lokal: Studi Kasus
Terhadap Daya Hidup Bahasa Dialek Tengger. Surabaya: Universitas Airlangga.
Koentjaraningrat.
2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:
RINEKA CIPTA
Lincahayati. 2013. Mantra Kasada Tengger : Suntingan Teks
Disertai Analisis Semiotika. Surabaya: Universitas Airlangga.
Sutarto,
Ayu dan Sudikan, Setya Yuwana. 2008. Pemetaan
Kebudayaan Di Provinsi Jawa Timur : Sebuah Upaya Pencarian Nilai Positif.
Jember: BIRO MENTAL SPIRITUAL PEMERINTAH JAWA TIMUR .
Waluyo,
Harry. 1997. Sistem Pemerintahan
Tradisional Di Tengger Jawa Timur. Jakarta: PUTRA SEJATI RAYA.
Komentar
Posting Komentar