Pengantar Kesusastraan
LAPORAN BACA NOVEL
ZIARAH
Iwan Simatupang
ABDULLAH SYAROFI
121111132
SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2011
v Judul
Buku : ZIARAH
v Penerbit : Djambatan
v Jumlah
Halaman : 152 Hal
v Terbitan : Cetakan 1976
v Pengarang : Iwan Simatupang
Sinopsis :
Sudah
tiga hari berturut-turut dia mengapur tembok luar pekuburan kotapraja itu. Tiga
hari pula lamanya sang opseter terus-menerus mengintipnya dari celah-celah
pintu dan jendela rumah dinasnya di kompleks pekuburan itu.
Dia,
sang opseter makin gelisah. Sebab sedikit pun tak ada dilihatnya yang ganjil
yang patut mendapat perhatian khas pada tingkah laku pengapur itu. Dia biasa
saja, datang tiap hari lepas sedikit tengah hari, lalu terus mengapur, tanpa
henti-hentinya.
Menjelang
benamnya matahari, dia berhenti bekerja, membenahkan alat-alatnya, menagih
upahnya, pergi tenang sambil bersiul-siul ke kedai arak. Dan menurut berita
orang-orang disitu, sedikitpun tingkah lakunya tak menunjukkan keanehan apa-apa
yang sendiri sebenarnya sudah merupakan keanehan tersendiri ! Sebelum dia
memborong pekerjaan mengapur tembok-tembok luar pekuburan itu, orang-orang
dikedai sudah biasa dengan tingkah anehnya. Kini dia jadi perhatian umum,
perbincangan seluruh kota. Dengan was-was mereka mengamati tingkahnya yang
sudah tak aneh lagi itu. Seolah-oleh ketak-anehan adalah sendiri keanehan!
Perobahan
tingkah pengapur ini memepengaruhi tingkah seluruh warga kota. Mereka tak dapat
memahami perubahan itu. Mereka melihat pada perubahan itu hanya pertanda bakal
datangnya satu perubahan tak baik dan tak menyamankan bagi mereka semuanya.
Tiap mereka itu begitu dipengaruhi kejadian dan pemikiran-pemikiran yang
diakibatkannya, hingga lambat laun tiap mereka merasa datangnya perubahan pada
diri mereka masing-masing. Mereka merasa mereka yang kini adalah lain daripada
mereka sebelumnya. Juga orang-orang lain, orang-orang diluar diri mereka,
menurut mereka sudah bukan lagi orang-orang seperti yang mereka kenal sebelumnya.
Sinar mata mereka, warna wajah mereka, nada-nada suara mereka, arti tiap kata
yang mereka ucapkan, telah berubah semuanya.
Mereka
bingung. Perasaan yang menghancurkan seluruh keyakinan dan kepercayaan mereka
akan diri mereka sendiri selama ini, merebut diri mereka.
Demikianlah
tiba saatnya, dimana pada satu hari tiap warga kota sekaligus merasa takut,
curiga dan bingung kepada sesama warga kota lainnya, dan tak kurangnya kepada
diri mereka sendiri! Tak seorang mereka berani berdiri lama-lama dimuka cermin.
Takut, kalau-kalau yang mereka lihat di cermin itu adalah bukan mereka sendiri.
Tak
lagi janji tak dapat diikat di kota itu. Percakapan-percakapan mulai kurang
dilakukan. Sebab, kata-kata yang mereka akan jalin dalam kalimat-kalimat,
menurut pendapat mereka sudah kehilangan artinya yang semula.
Hubungan
antar sesama mereka makin lengang. Usaha untuk menggunakan bahasa
isyarat-isyarat tangan segera mereka hentikan, karena tiba-tiba sekali menyusup
kesadaran putih dalam daging mereka : mereka sesungguhnya hidup di abad ke-20
dengan kebudayaanya yang sedang menerobos ruang angkasa.
Pada
hari ketiga tokoh kita mengapur tembok-tembok pekuburan itu, walikota dari kota kecil itu rupanya masih belum begitu
rusak kepercayaannya pada dirinya sendiri. Jalan fikirannya belum begitu kacau
seperti halnya dengan warga-warga kotanya yang lain. Dia putuskan mengadakan sidang
darurat badan pekerja harian kotapraja. Acara tunggal : apakah sikap resmi
kotapraja terhadap bekas pelukis yang memborong mengapur tembok-tembok
pekuburan kotapraja yang dibiayai pribadi oleh opseter yang masih tetap punya
status pegawai tetap kotapraja itu!
Itu
adalah sidang paling aneh pernah dilakukan di kota itu.
Anggota-anggota
badan pekerja harian sama sekali tak ada yang menyatakan pendapatnya ! Tak
seorang mereka selama sidang itu membuka mulutnya, Mengagangakan tenggorokannya
untuk mengeluarkan bunyi barang sepotongpun. Mereka melongo saja, sama
tercengang menonton sang walikota yang bicara sendirian.
Walikota
menganggap tingkah mereka ini sebagai tanda setuju aklamasi dengan usulnya,
agar sang opseter segera diperintahkan tokoh kita menghentikan pekerjaannnaya
mengapur tembok-tembok pekuburan itu, dan agar mulai hari itu opseter itu
dinonaktifkan dari jabatannya menunggu keputusan resmi lanjut “sampai keadaan dan suasana aneh
yang meliputi kota kita tercinta ini lewat”.
Ketika
walikota selesai membacakan usul resolusi bernafas panjang itu, kemudian
memukulkan palunya tanda sidang selesai, masing-masing anggota badan pekerja harian
kotapraja itu cepat berdiri dan berburu-buru pulang kerumahnya. Seolah badai
dahsyat segera bakal tiba. Termangu-mangu walikota duduk dikursinya. Ketika dia
memanggil salah seorang petugas untuk mengantarkan solusi itu kepada sang
opseter, tak seorang petugas yang menyahut, datang. Mereka tadi mencuri mendengar
sidang dari balik pintu-pintu dan jendela-jendela ruang sidang. Begitu walikota
selesai membacakan usul resolusinya, mereka pantang banting berlarian,
masing-masing sembunyi kerumahnya. Tidak ! Biar mereka dipecat, dituduh sengaja
membangkang atasannya sewaktu dinas, tapi mereka sekali-sekali tak mau disuruh
mengantar solusi aneh itu kepada opseter pekuburan yang dalam pandangan mereka
lebih-lebih lagi anehnya itu. Tidak ! Diseruh menemui jin paling angker sekali
pun mereka sedia, tapi sama sekali tidak ! tidak ! tidak menemui opseter
pekuburan itu.
Terpaksalah
walikota mengantarnya sendiri. Apa boleh buat. Dalam hati kecilnya, ia sendiri
sebenarnya bukan tak turut mengutuk tugasnya itu. Rumah tangganya sendiri telah
mengalami seluruh akibat peristiwa aneh yang diciptakan opseter pekuburan itu.
Rumahtangganya berantakan. Isterinya telah membawa beberapa anaknya lari
ketakutan ke orang tuanya yang diam dikota lain. Sedang anak-anaknya yang lain,
yang tidak sempat atau mau ikut lari bersama ibunya, kini berkeliaran dikota
seperti orang dungu membisu, tak mau ataupun barangkali tak dapat lagi
seterusnya berkata-kata. Apabila mereka berpapasan dengan orang lain dengan
suara gagah mereka berjingkrak-jingkrak sambil mengunjuk-unjuk kearah
pekuburan. Dan orang-orang dengan siapa mereka berpapasan itu makin tambah
kacau pikirannnya disebabkan ini. Mereka lalu lari terbirit-birit dari situ,
dengan atau tanpa diiringi teriak-teriak yang sangat mengerikan.
Akhirnya
sampai juga walikota ke pekuburan. Dari jauh dia telah lihat bekas-pelukis itu
sedang mengapur. Melihat dia ini, tubuh walikota serasa lembab. Dengan perasaan
haru biru, ia berlalu dari sana. Sambil memicingkan matanya, dia berharap tak
akan sempat terlihat oleh pengapur itu.
Laporan Baca :
Novel karya Iwan Simatupang yang berjudul Ziarah ini menurut saya ceritanya
sangat bagus, kalimat-kalimatnya
mudah untuk dimengerti tetapi ada beberapa kata yang masih belum saya ketahui
sama sekali tentang maksud atau arti.
Novel ini mengisahkan
tentang sepasang suami istri, dimana laki-laki itu (Dia) tidak mengetahui bahwa
istrinya itu sejak lama sudah meninggal. Tetapi dia tidak tahu sudah berapa lama istrinya telah pergi dari persampingan hidupnya.
Kehidupannyapun malang melintang
tanpa adanya istri, suatu hari dia bertemu dengan masalah yang sangat sulit ia lewati tanpa si istrinya. Pada suatu malam, Dia minum minuman sampai dia mabuk, akhirnyapun ia memanggil nama Tuhan dengan keras-keras, tertawa dan setelah itu ia memanggil nama
istrinya. Karena kegilaannya orang-orang kotapun membawanya ke suatu rumah kecil dengan tujuan agar orang ini sadar.
Di kota yang kecil itu, dia ditempatkan di atas kasur.
Setelah istrinya meninggal si Dia ini terasa hidup di dunia bagaikan sudah tidak
mempunyai arti dan tujuan lagi,
akan tetapi dia
masih ingin bekerja, kerjanya sudah mulai bangkit lagi
asal itu dapat diselesaikan sebelum matahari terbenam (siang). Sejak kematian
istrinya dia tidak mau menerima pekerjaan tetap yang meminta ketekunan dari dia atau lebih dari lima jam
berturut-turut. Dia hanya menerima pekerjaan yang ringan-ringan saja seperti mencuci piring di
kedai-kedai, menjaga orok/bayi yang orang tuanya mau bepergian, membersihkan
pekarangan rumah, menjadi kacung bola tenis, apabila dia ditanya orang
pekerjaan apa yang paling ia sukai jawabnya adalah mengecet rumah dan mengapur
rumah. Padahal pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang ia lakukan selama ini. Usul punya usul, menurut orang-orang
kota, cat atau kapurnya ini mempunyai
wangian yang khas dan mempunyai seni tersendiri. Pada suatu hari kemudian, dia
ingin jalan-jalan sembari cari kerjaan, dia berpapasan
dengan seseorang yang separuh baya yang menurut orang kota dia adalah opseter
pekuburan kotapraja. Dengan ragu-ragu opseter mendekati si Dia untuk mengapur tembok-tembok
luar perkebunan kotapraja yang saya awasi, dengan begitu senangnya dia mau menerima tawaran
kerjanya. Keesokan harinya dia sudah memulai bekerja mengecet pagar kuburan kotapraja setelah
ia selesai mengecet dia meminta gajian, dengan hati yang gembira ia langsung menuju ke kedai arak dan semua
orang yang berada di sana diteraktirnya minum arak sebanyak-banyaknya. Sudah
tiga hari dia mengapur tembok luar pekuburan kotapraja dan di situlah opseter mengintip
pekerjaannya. Dengan terkejut dia menemui kekosongan besar dalam rongga-rongga.
Perasannya sangat jengkel terhadap opseter yang telah mencakar anak tangga dan
dia juga tahu sang pelukis mempunyai kehendak agar sang opseter mati
secepatnya. Dia sangat ketakutan oleh pengetahuan ini. Tapi, sebisa mungkin dia
berusaha untuk tidak memperlihatkannya kepada siapapun. Ia adalah petuah sang
opseter pekuburan yang lebih dulu dari dia, yang digantikannya hampir tiga
puluh tahun yang lalu. Petuah ini ditulis dengan tangan pada secarik kertas
yang diikatkan pada kaki kiri opseter tua yang telah menggantung dirinya itu.
Sebab mengapa dia menggantung dirinya di rumah dinasnya aku tidak tau.
Terlepas dari peristiwa dan persoalan yang pelik ini segera
dihadirkan seorang walikota dan badan bekerja harian kota praja guna
mengedarkan. Lowongan jabatan opseter harian kota praja yaitu lowongan opseter
perkuburan namun pada kenyataan sudah sebulan terus menerus memasang iklan
disurat kabar tidak ada seorangpun yang datang untuk melamar pekerjaan itu. Hal
ini sungguh mengherankan kenapa tidak ada seorangpun yang datang untuk melamar
pekerjaan padahal jumlah pengangguran di sini masih banyak. Sesuai dengan
paham demokrasi yang telah dianut resmi oleh negara, persoalan itu segera
disampaikan oleh kabinet kepada parlemen. Akan tetapi hal ini justru dimata
parlemen merupakan persoalan yang benar-benar bertaraf nasional. Persoalan ini
disampaikan dalam berkas yang tebal sekali kepada yang mulia kepada negara. Dan
setelah dilakukan pembicaraan yang sangat mendalam akhirnya pada penasehat dan
statt ahlinya. Akhirnya padaku mulia mengeluarkan dekrit. Dengan dikeluarkannya
dekrit itu membuat seluruh negeri ketakutan. Dan semua pemimpin fraksi yang
semua saling bertentangan menjadi pucat pasi, tidak bisa tidak, dan mimpi
mereka pun jelek sekali. Dengan tiba-tiba para orang-orang terkena penyakit.
Ketika seperti
inilah dia
sangat merasa nyaman. Kemudian ia tertawa lebar, dia girang sekali ketika melihat kedua
orang tua yang berusaha keras mengusir rasa kantuknya. Dan dia berkata kalau
istrinya telah dimakamkan di sini dan dia ingin selalu berada dekat dengan
istri dan temannya yang telah meninggal. Ia ingin menebus kesalahannya dulu
yang sangat egois dan tidak bertanggung jawab kepada istrinya.
SEKIAN
ABDULLAH SYAROFI
121111132
Komentar
Posting Komentar