Pengantar Kesusastraan

 

LAPORAN KAJIAN SASTRA

Judul                           : Cala Ibi

Pengarang                   : Nukila Amal

Penerbit                       : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Penerbitan        : 2004

Tebal Buku                 : 273 halaman

SINOPSIS

Novel ini merupakan sebuah novel karya Nukila Amal yang memperkarakan hakikat nama, peristiwa, dan cerita, maya dan nyata, diri dan ilusi, tapi juga memperkarakan kodrat kata dan bahasa itu sendiri. Bahasa, setelah dieksplorasi dan dirayakan. Novel ini berkisah tentang satu tokoh dalam dua dunia yang berbeda. Saat pagi telah datang, maka ia bernama Maya. Ia memulai kesibukannya layaknya wanita karir di Jakarta. Namun bila malam telah datang, namanya bukan lagi Maya melainkan Maia.

Maya, dara yang sudah mapan merasa agak terganggu dengan desakan kedua orang tuanya untuk segera mencari pendamping hidup. Ayah dan ibunya memang tidak memaksa Maya untuk segera menikah, tetapi melalui percakapan mereka sehari-hari dan pernyataan keinginan kedua orang tuanya untuk segera memiliki momongan membuat Maya tak enak hati. Apalagi sebulan yang lalu ia baru saja memutuskan pertunangan dengan kekasihnya. Maka semakin banyaklah sindiran-sindiran dan ungkapan kekecewaan orang tua Maya terhadap putrinya itu. Terlebih lagi ketika kakak Maya melahirkan. Banyak keluarga dan kerabat berkumpul di rumah sakit untuk menjenguk kakaknya. Membuat Maya sungkan untuk menghadiri acara keluarga. Sudah dibayangkan ayah dan ibunya akan membicarakan tentang problem status singlenya.

Suatu hari Maia bermimpi, ia sedang bercemin di dalam rumah dan mendengar suara  memanggil namanya terus-menerus. Suara yang terakhir sangat begitu keras hingga memecahkan cermin. Mimpi tersebut sangat menggelisahkan Maia, hingga ia ingat kepada seseorang yang bisa menafsirkan mimpi. Ia adalah Bibi Tanna yang hanya memberikan nasehat agar lebih memperhatikan pada dunia tak nyata saat menanyakan apa arti mimpi itu. Bibi Tanna juga mengatakan bahwa Maia akan semakin mengerti apa yang dibawah tampakan itu.

Di kemudian hari Maia membeli buku bersampul warna hitam dan meletakkannya di bawah bantal serta mengisi lembaran-lembaran tersebut dengan tulisan cakar ayam dan saat itu pula Maia mulai berani bermimpi yang aneh-aneh. Maia bermimpi ia bertemu dengan sosok mahluk yang selama ini menjadi lambang kekuatan dan kehormatan. Mahluk itu adalah naga bernama Cala Ibi. Sama seperti nama burung di pulau Maluku.

Dalam malam–malam itulah Maia dibawa sang naga (Cala Ibi) menembus batas ruang dan waktu, mengarungi lautan mimpi yang tak bertepi.
Di suatu tempat entah abad berapa di tanah leluhurnya, Maluku, Maia melihat terang yang paling menyalang sang dukun perempuan di perbukitan Tobana. Namanya Bai Guna Tobana. Seperti yang tertera pada halaman 55 yang berbunyi ”Ubun-ubunnya melepas melempar keluar sebuah tafsir, yang belum pernah ada sebelumnya.
Moloku perempuan-genggam. Sebuah keadaan, tindakan, pikiran, kenangan, harapan, perubahan, kesaksian, keabadian: pemakanaan. Moloku, genggaman perempuan, genggaman atas tanah. Kuasa atas tuah tanah. Ia berhenti dimakna ini, tak ingin menguraikan lagi.”
Demikianlah Maia mengarungi dunianya bersama Cala Ibi. Dalam petualangan yang tak berakhir bahkan dengan berakhirnya novel ini sekalipun, Maia kemudian bertemu dengan sosok-sosok misterius lainnya seperti Ujung dan kekasihnya Tepi yang kemudian melahirkan tangisan seorang bayi dari sebuah persetubuhan yang singkat, dalam kabut pekat.

Betapapun anehnya mimpi-mimpi yang dialami Maya, hingga pada akhirnya Maya merasa bahwa Maia adalah sisi dirinya yang lain. Ia bisa menikmati mimpi-mimpinya, seperti ia menikmati kehidupannya. Malahan Maya mendapatkan pengalaman yang luar biasa dari mimpinya itu. Ia mulai bisa mengerti siratan-siratan dalam mimpi. Mimpi mengajarinya untuk bisa menerima kenyataan. Seorang wanita memang butuh seorang lelaki. Ketika Maya menyadari hal itu, maka seorang lelaki yang tak pernah diduga-duga datang mengetuk pintu hatinya. Lalu datang mengetuk  pintu rumahnya, dan meminta Maya untuk menjadi istrinya.

Yang menarik sebenarnya adalah cara penceritaan Nukila yang simbolik, kompleks, dan syarat dengan permainan kata. Diramu dengan bahas-bahasa liris, padat dan metaforis membuat novel ini demikian rumit dan menguras pikiran.
Namun begitu, Nukila memang berhasil melukiskan ”tumpah rauh” makna dari pengalaman manusia yang memang tak sederhana, berhasil menunjukkan bahwa pengalaman manusia itu sesungguhnya tak logis, tapi metaforis seperti mimpi. Pada bagian pertama Bapak menamaiku, Ibu memimpikanku, novel ini diawali dengan cerita biografis tentang asal asul Maya. Dari keseluruhan cerita tentang kehidupan Maya di Jakarta, Nukila mengunakan kata ganti orang pertama ”aku” untuk subyek Maya.
Namun pada bagian lain ketika Maya telah berubah nama menjadi Maia, maka Nukila secara mengejutkan menggunakan kata ganti orang kedua ”kamu atau kau” untuk subyek Maia.

Sekedar contoh Nukila menulis seperti demikian: ” Kau tersentak dari tidur. Mendengar bunyi nafasmu sendiri, detak jantungmu, tak teratur. Matamu membuka menatap kamar, masih gelap. Maia…” . Demikian seterusnya novel ini mengalir, bolak balik antara Maya di siang hari dan Maia di malam hari, Maya yang bermimpi menjadi Maia, dan Maia yang resah, menunggu terbitnya pagi sempurna: ”Jika semua adalah metafora, lalu bagaimana dengan kenyataan?” Pertanyaan inilah yang selalu mengusik pikiran Maia. Melelahkan, demikianlah kesan yang muncul ketika membaca novel ini karena rumitnya mencerna karya ini.

 

 

 

 



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi