Pengantar Kesusastraan

 

 

LAPORAN BACA NOVEL

KERING

Iwan Simatupang

 


v   Judul Buku                  : KERING

v   Penerbit                       : PT GUNUNG AGUNG

v   Jumlah Halaman         : 168 Hal

v   Terbitan                       : Pertama 1972

v   Pengarang                   : Iwan Simatupang

 


LAPORAN BACA :

 

Kering adalah novel sastra yang terkenal pada zamannya. Bahasanya mudah untuk dipahami, dan dimengerti oleh sang Pembaca. Didalam novel ini Iwan Simatupang menceritakan tentang seorang yang dipanggil dengan julukan si Tokoh. Ia Tinggal di sebuah perkampungan transmigrasi. Si Tokoh ini memiliki dua orang sahabat. Mereka yaitu si Gemuk Pendek dan si Kacamata. Musim kemarau tengah melanda perkampungan transmigrasi tersebut. Lama hujan tidak turun yang mengakibatkan kekeringan. Tanaman-tanamanpun tidak ada yang tumbuh subur. Buah pepaya dan buah bengkoangpun dipanen dalam keadaan tanpa air. Hal ini membuat kebingungan warga perkampungan transmigrasi tersebut.

Pada suatu hari si Kacamata berkata di tengah-tengah masyarakat,  mereka harus pindah dari perkampungan tersebut. Terjadi perdebatan diantara mereka. Ada yang setuju dengan perkataan si Kacamata. Tetapi, ada juga yang tidak menyetujui dengan apa yang dikatakan oleh si Kacamata. Akhirnya Si Kacamata pergi dengan sendirinya dari perkampungan tersebut. Lalu setiap hari satu-persatu warga yang lain memutuskan pindah juga dari perkampungan tersebut karena perkampungan tersebut lama tidak turun hujan. Namun, si Tokoh memutuskan untuk tetap menetap. Ia tidak ingin meninggalkan perkampungan tersebut. Kini para warga telah pergi termasuk si Kacamata. Yang tersisa kini hanyalah si Tokoh dan si Gemuk Pendek. Namun, si Gemuk pendek akhirnya ikut juga untuk pergi meninggalkan sang desa. Si Tokoh mengantarkan kepergian si Gemuk Pendek hingga ke galangan. Si Tokoh memandangi kepergian si Gemuk hingga ia hilang di kejauhan sana. Semua penduduk perkampungan transmigrasi tersebut telah pergi kecuali si Tokoh. Dia kini tinggal sendirian dikampung tersebut. Untuk menjauhii rasa kesepiannya, diapun memikirkan suatu kesibukan yang akan dilakukannya. Diapun memutuskan untuk menggali sebuah sumur. Setiap hari yang dikerjakan hanyalah bangun di waktu subuh lalu jalan-jalan menanti matahari terbit langsung memasak makanan dan sarapan, menggali sumur, makan siang. Menggali sumur lagi hingga sore. Membersihkan badan. Jalan-jalan menanti matahari terbenam. Kemudian Tidur. Itulah kegiatan si Tokoh diperkampungan tersebut. Sunyi sepi tiada yang menemani.

Suatu saat si Tokoh ini persediaan makanannya menipis. Ia juga memutuskan hanya makan sehari satu kali. Tetapi, ketika makanannya habis ia sama sekali tidak makan. Meskipun ia tidak makan sama sekali ia masih sehat bugar tidak menderita sakit apapun. Ia kini memiliki kebiasaan baru yakni berbicara kepada semua yang ada di perkampungan tersebut. Kepada gubuk-gubuk. Kepada ototnya. Kepada angin dan lain sebagainya.

Suatu malam ia teringat akan perjalanan hidupnya. Ia termenung mengenang malam-malamnya dahulu. Ia teringat akan masa-masa ketika ia tengah kuliah. Teman-temannya banyak yang telah menyelesaikan pendidikannya dan menjadi pejabat-pejabat penting. Namun, dia sendiri tak kunjung menyelesaikan kuliahnya. Bukan karena ia tidak bisa. Namun, karena mendapatkan gelar bukanlah tujuan kuliahnya. Dia terus menjalani aktivitasnya sebagai seorang mahasiswa. Namun satu hari dia mulai enggan untuk kuliah. Ia kini beralih dari sebuah kelas ke sebuah kamar. Ia keluar kamar hanya untuk pergi ke perpustakaan dan meminjam banyak buku. Semua kegiatannya ia lakukan di dalam kamarnya. Suatu saat, semua buku yang ia kumpulkan lalu ia kembalikan ke perpustakaan. Dia memutuskan pergi dan meninggalkan kamarya. Ia menaiki sebuah becak dan turun di depan kantor transmigrasi. Dia akhirnya memutuskan untuk mengikuti program transmigrasi tersebut. Persediaan makanannya kini telah habis. Dia kini tidak lagi makan dalam kesehariannya. Untuk melupakan rasa laparnya ia kembali menggali sumur. Menggali, menggali dan menggali. Itulah yang terus ia lakukan agar rasa lapar bisa terobati.

Pada suatu, tiba-tiba penglihatannya menjadi serba kuning. Kemudian muncul warna hijau, biru dan lain sebagainya. Dia pergi ke sebuah guci tempat penyimpanan air minum itu. Namun, karena gelapnya, ia tak sengaja menendang guci tersebut. Akhirnya guci tersebut pecah dan persediaan airnya tumpah ke tanah. Ia putus asa, Sembari tertawa ia mengambil sebuah korek api dan membakar gubuk-gubuk tersebut. Ia berlari ke galangan dengan tertawa dan akhirnya ia terjatuh tak sadarkan diri. Ia terbangun di sebuah kamar rumah sakit. Ia ditemukan oleh salah satu petugas transmigrasi tergeletak tak sadarkan diri di galangan. Di tepi perkampungan transmigrasi yang telah hangus dilalap api. Namun ia memutuskan pergi dari rumah sakit tersebut. Ia menaiki sebuah mobil yang dikendarai oleh petugas trasmigrasi. Tetapi, di tengah perjalanan ia meminta petugas trasmigrsi berhenti dan turun dari mobil tersebut. Tibalah ia ke sebuah persimpanga jalan. Dia bernafas dalam-dalam kemudian melangkah. Suara klakson mobil di telinganya. Sebuah mobil sedan berhenti tepat di depannya. Si pengendara berteriak memaki si Tokoh karena menyeberang tanpa menoleh. Tiba-tiba si pengendara tersebut keluar dari mobilnya lalu ia memeluk si Tokoh. Si pengendara tersebut ternyata si Gemuk Pendek temannya dulu ketika di perkampungan transmigrasi. Si gemuk pendek menyuruh si Tokoh masuk ke dalam mobilnya dan membawanya ke sebuah rumah mewah. Si Tokoh yang heran temannya kini telah menjadi orang kaya akhirnya bertanya perihal kekayaan yang didapat oleh si Gemuk Pendek. Dengan bangga si Gemuk Pendek bercerita ia menjadi seorang penyelundup dan pengedar uang palsu. Dia dulu bertemu dengan si Kacamata, ia diangkat menjadi wakil. Namun, karena si Kacamata telah tewas ditembak pasukan patroli. Si Gemuk Pendek menekan tombol yang ada di dinding. Kemudian muncullah seorang wanita. Menurut cerita si Gemuk Pendek dia adalah warisan si Kacamata. Hanya diperuntukkan untuk para pemimpin. Dia dipanggil dengan sebutan VIP. Si Tokoh kemudian berdiri dan pamit kepada si Gemuk Pendek. Si Gemuk Pendek memberikan sejumlah uang kepada si Tokoh sebagai bekal di jalan. Si Tokoh tiba di persimpangan jalan kembali. Dia lebih memilih untuk pergi ke kota kecil kecamatan daripada ke kota besar lainyya. Langkahnya perlahan melewati jalan yang tak beraspal tersebut. Dia terus berjalan meskipun malam telah tiba. Tiba-tiba dia mendengar suara. Dari suaranya, si Tokoh mengetahui jika itu suara orang tua. Setelah berbincang perbincangan yang tidak sewajarnya, si Tokoh pergi. Dia kembali berjalan menuju ke kota kecil kecamatan. Tepat jam dua belas siang si Tokoh tiba di sekelompok rumah. Namun, dia sama sekali tak melihat manusia. Si Tokoh mengelilingi rumah-rumah tersebut. Bau dari makanan tertentu tiba-tiba menusuk hidungnya. Si Tokoh mencari asal bau itu. Ternyata bau itu berasal dari sebuah rumah. Si Tokoh masuk ke salah satu rumah. Namun, kembali tak ada seorangpun di sana. Si Tokoh berniat keluar dari rumah tersebut. Tetapi, dia melihat seorang laki-laki berjanggut tebal hendak masuk ke rumah itu. Si Tokoh terkejut begitupun dengan si Janggut. Si Tokoh mengira si Janggut akan marah dan mengajaknya berkelahi. Namun, tanpa disangka sebelumnya ternyata si Janggut mengajaknya kembali ke dalam rumah dan menjamunya layaknya seorang tamu. Si Janggut mempersilahkan jika si Tokoh ingin tinggal di perkampungan tersebut. Si Janggut menceritakan perjalanan hidupnya pada si Tokoh. Si Janggut merupakan ketua gerombolan pengacau. Dia dan gerombolannya merampok, membunuh, dan memperkosa.

Namun satu hari dia dan gerombolannya merasakan kejemuhan atau kebosanan. Mereka tak lagi memiliki hasrat untuk melakukan perbuatan-perbuatan seperti yang mereka lakukan dahulu. Satu-persatu anggota gerombolannya berguguran tertembak pasukan-pasukan pemerintah (POLISI). Sementara sebagian anggotanya yang lain tewas di tangan si Janggut. Mereka ingin tewas di tangan pemimpinnya itu. Mereka berpura-pura ingin menembak si Janggut. Si Janggut yang tidak mengetahui rencana anggotanya membalas tembakan itu sehingga tewaslah anggota gerombolan yang ia pimpin. Suatu hari si Tokoh mengajak si Janggut ke kota. Mereka pergi ke rumah si Gemuk Pendek teman si Tokoh di perkampungan transmigrasi dahulu. Si Tokoh mengajak si Janggut kesana karena ingin menguji si Janggut perihal masalah kebutuhan biologis manusia. Ia ingin mengetahui apakah si Janggut masih memiliki nafsu atau hasrat kepada wanita setelah lama hanya berkumpul dengan anggota gerombolannya yang semuanya laki-laki. Mereka disambut oleh VIP. Wanita milik si Gemuk Pendek. Namun, mereka tidak bertemu dengan si Gemuk Pendek karena ia sedang bepergian. VIP menyiapkan dua kamar untuk mereka. Satu untuk si Janggut dan yang satu untuk si Tokoh. Petangnya mereka jalan-jalan menikmati suasana perkotaan. Mereka mampir ke sebuah warung. Disan ia bergadang. setelah bercakap-cakap di warung tersebut mereka berdua kembali ke rumah si Gemuk Pendek. Setibanya disana mereka melihat seorang wanita lain yang masih muda dan cantik. Mereka bersalaman sembari saling diperkenalkan oleh VIP. Si Tokoh masuk ke kamarnya bersama VIP, sementara si Janggut bersama wanita yang baru dikenalnya.

Tetapi, ketika larut malam kedua wanita itu keluar bersamaan dari kamar mereka masing-masing sembari menangis. Tak lama kemudian si Janggut dan si Tokoh juga keluar dai kamar mereka. Mereka berdua berjalan menuju pekarangan dan kemudian duduk di atas sebuah bangku. Ketika pagi datang, si Tokoh dan si Janggut kembali masuk ke dalam rumah. Mereka mandi. Memakai pakaian serta sarapan. Setelah itu mereka berdua pamit untuk kembali ke tempat tinggal si Janggut. Kedua wanita itu melihat kepergian si Tokoh dan si Janggut. Setelah mereka berdua tak lagi terlihat kedua wanita itu saling menceritakan apa yang mereka alami semalam. Ternyata apa yang mereka alami sama. Si Tokoh dan si Janggut sama sekali tidak menyentuh mereka. Itulah yang menjadikan mereka berdua menangis. Mereka merasa malu kepada si Tokoh dan si Janggut. Di suatu hari si Janggut terbaring lemah. Ia seakan tidak memiliki kekuatan untuk bangun. Badannya panas serta dari hidung dan mulutnya mengeluarkan lendir. Dia tersenyum pucat kemudian memejamkan mata untuk selamnya. Si Tokoh merasa sedih. Ia kini hanya sendirian di tempat itu. Untuk menemaninya si Tokoh memutuskan untuk tidak mengubur si Janggut. Di tengah hari yang cerah. Si Tokoh mengalami peristiwa yang sama dengan apa yang dialami oleh si Janggut. Ia tak dapat bangun. Ia hanya bisa terbaring lemah. Namun, ia masih senang karena tidak ada lendir dari hidung atau mulutnya ketika ia merabanya. Ia mengira kematian hanya akan datang ketika manusia sudah tidak dapat bangun dan mengeluarkan lendir seperti yang dialami oleh si Janggut dulu. Tiba-tiba ia mendengar suara mobil berjalan didekatnya. Ia hanya menganggap itu ilusi semata. Dia merasakan sesuatu di lidahnya. Ia mengira jika itu adalah ludah basi kental. Ia mencoba bangun untuk membuang ludah basi tersebut dari mulutnya. Namun, ia tidak berhasil. Ia tiba-tiba tak dapat melihat disekitarnya, setelah itu ia jatuh pingsan. Ia baru sadar ketika berada di rumah sakit. Ia melihat seseorang berkepala botak dan berkacamata  yang merupakan seorang dokter dalam anggapanya serta si Gemuk Pendek. Ia bertanya kepada laki-laki botak berkaca mata itu perihal si Janggut. Laki-laki botak berkaca mata itu menjawab jika si Janggut sudah dikuburkan. Si Tokoh menganggap jika ia tidak menderita sakit apa-apa sehingga ia segera keluar dari rumah sakit tersebut.

Si Gemuk Pendek datang menjemputnya. Si Gemuk Pendek bermaksud mengajak si Tokoh ke rumahnya. Namun, di belokan terakhir sebelum rumah si Gemuk Pendek, si Tokoh meminta diturunkan. Meskipun si Gemuk Pendek sudah membujuk tetapi si Tokoh bersikeras. Si Gemuk Pendek akhirnya membiarkan si Tokoh pergi. Si Gemuk Pendek memberikan sesuatu kepada si Tokoh untuk bekal diperjalannya. Terdengar kabar yang sangat menggemparkan. Kabar itu adalah akan datangnya hujan. Hujan yang telah lama ditunggu dan dinantikan. Semua orang bergembira. Namun, lama mereka menanti hujan tak kunjung turun. Mereka kembali menjalani hari-hari seperti sebelum ada berita tersebut. Mereka kembali mudah marah karena frustasi akan kemarau yang sangat panjang itu. Suatu hari petir menggelegar berkali-kali. Semua orang terkejut. Mereka berlari kesana kemari. Setelah awan hitam datang dari arah utara barulah mereka semua tenang. Mereka bersorak bahagia. Seluruh kota mendung. Ketika gerimis datang mereka berpesta. Ada yang melompat tinggi sekali lalu jatuh dan mati. Ada yang berteriak hingga suaranya hilang dan menjadi bisu. Ada yang mecakar mukanya hingga buta. Setelah hujan berhenti mereka baru menyadari apa yang terjadi pada diri mereka. Mereka berlari masuk ke dalam rumah masing-masing karena ketakutan. Kini di kota itu yang tersisa hanya si Tokoh. Ia berjalan-jalan melihat mayat-mayat bergelimpangan. Di ujung jalan ia melihat seseorang. Ternyata yang dilihatnya adalah pastor. Pastor itu menguburkan semua mayat itu menurut agama yang dianutnya. Dua minggu kemudian seorang wanita keluar dari rumahnya. Mukanya pucat karena sudah dua pekan ia tidak terkena sinar matahari. Wanita itu ternyata VIP. Ketika ia bertemu dengan si Tokoh ia sangat bahagia.

Mereka berdua berpelukan hingga melakukan hubungan intim di tengah jalan. Tiba-tiba datang pastor dan melihat semua yang dilakukan oleh mereka berdua. Pastor mencoba membuang muka seolah-olah tak melihat apapun. Melihat pastor datang mereka berdua menghentikan kegiatan yang tengah mereka lakukan. Dengan malu VIP pergi menjauhi tempat tersebut. Si Tokoh memanggil pastor kemudian mereka berdua berdebat. Ketika warga kota tersebut belum ada yang keluar dari tempat persembunyiannya, si Tokoh memutuskan untuk menjadi walikota dan semua jabatan yang ada di kota tersebut. Dia beralasan demi administrasi kota sehari-hari. Kini dia memiliki kesibukan untuk mengusir kesepiannya. Namun, satu bulan setelah kejadian mengerikan yang menimpa kota tersebut keadaan kembali normal. Walikota, aparat, serta penduduknya kembali mendiami kota tersebut sebagaimana biasanya. Ketika penaikan bendera di  Balai kota sebagai tanda jika kota tersebut telah normal kembali, si Tokoh menangis karena kini ia bukan lagi walikota atau aparat pemerintahan kota tersebut. VIP dan Pastor mencoba menghiburnya. Tetapi, si Tokoh tetap menangis. Karena kesal akan tingkah laku si Tokoh, VIP berkata jika ia telah hamil. Ia tengah mengandung anak dari si Tokoh tersebut. Si Pastor yang mendengar pengakuan dari VIP menyuruh mereka untuk menikah. Namun, si Tokoh dan VIP  menolak perintah dari Pastor tersebut. Si Tokoh mengusir VIP dengan kata-kata kasar. VIP yang mendengar kata-kata si Tokoh pergi sembari menangis. Si Tokoh memutuskan kembali ke bekas tempat gerombolan si Janggut. Di sana ia bertemu dengan lelaki tua yang dahulu pernah ditemuinya ketika petama kali ia akan pergi ke tempat dimana si Janggut berada. Ia bercakap-cakap dengan lelaki tua tersebut. Ia bertanya jawab dengan lelaki tua tersebut perihal si Janggut dan kejadian yang pernah terjadi di tempat tersebut. Suatu hari si Tokoh memutuskan untuk menjadikan tempat bekas sarang gerombolan si Janggut dan teman-temannya sebagai kota baru. Ia pergi ke tempat para pembesar transmigrasi. Ia menjelaskan rencananya yang ingin menjadikan tempat bekas sarang gerombolan si Janggut dan teman-temannya sebagai kota baru.

Namun, para pembesar transmigrasi tersebut menolak rencana yang telah diterangkan oleh si Tokoh. Para pembesar transmigrasi justru menawarkan kepada si Tokoh sebuah pekerjaan. Tetapi, si Tokoh menolaknya dan segera pergi dari tempat tersebut. Si Tokoh kemudian pergi ke rumah si Gemuk Pendek. Ketika sampai di rumah si Gemuk Pendek ia disambut oleh VIP lain. VIP II menerangkan bahwa si Gemuk Pendek telah tewas. Ia ditembak mati oleh aparat pemerintahan. Mayatnya di tenggelamkan ke dasar lautan. Sementara VIP I pula kembali ke rumah orang tuanya karena ia tengah hamil. Si Tokoh memutuskan segera pergi dari tempat tersebut. Tetapi, ia dipanggil kembali oleh VIP II. Si Tokoh berhenti sementara VIP II berlari ke dalam rumah dan mengambil sebuah kertas. Kertas itu kemudian ia berikan kepada si Tokoh. Si Tokohpun menangis karena si Gemuk Pendek satu-satunya teman yang ia miliki kini telah tewas. Sembari mengusap air matanya, si Tokoh membaca tulisan yang terdapat pada kertas pemberian dari VIP tadi. Ternyata kertas tersebut berisi tentang keinginan si Gemuk Pendek yang mau mewariskan semua kekayaannya pada si Tokoh. Si Tokoh pergi menemui notaris yang ada di kota tersebut dan menanyakan perihal isi surat tersebut. Notaris membenarkan jika kini ia telah menjadi pemilik segala sesuatu yang dulu menjadi milik si Gemuk Pendek. Si Tokoh meminta notaris untuk membelikan seluruh perlengkapan yang dibutuhkan untuk membangun sebuah kota.

Meski dengan sedikit perasaan kaget serta tidak mengerti, notaris melaksanakan apa yang diminta oleh si Tokoh. Sementara si Tokoh sendiri pergi menemui para arsitek dan pemborong yang ada di kota tersebut. Pengerjaan proyek si Tokoh pun dimulai. Tempat bekas sarang gerombolan si Janggut dan teman-temannya kini sibuk luar biasa. Hal ini menarik perhatian masyarakat umum dan juga para pembesar transmigrasi. Para pembesar transmigrasi mengirimkan beberapa orang tim ahli untuk menyurvei proyek si Tokoh. Si Tokoh sendiri menyambut kedatangan tim ahli tersebut dengan hangat. Dalam waktu singkat tim ahli tersebut telah menyelesaikan laporan mereka kepada para pembesar transmigrasi. Setelah membaca laporan dari tim ahli tersebut, para pembesar segera mendaftarkan kota yang akan dibangun oleh si Tokoh kepada pemerintah pusat. Mereka meminta transmigran-transmigran baru yang akan tinggal di sana. Di tengah kesibukan membangun kota baru tersebut, si Tokoh dikejutkan oleh datangnya awan-awan hitam beserta halilintar yang menggelegar. Hal ini menandakan jika hujan akan segera turun dan jika hujan turun maka proses pembangunan akan terganggu. Ia pergi ke kota dengan menggunakan mobil jipnya. Ia pergi ke sana-sini untuk meminta bantuan untuk menunda datangnya musim hujan. Namun, tak ada satu pun yang bisa membantunya. Ia kembali ke tempat pembangunan kota baru tersebut. Di tengah jalan ada truk yang tiba-tiba datang di tikungan tajam. Tabrakan pun tak dapat dihindari. Beruntunglah si Tokoh. Ia sama sekali tidak mengalami cedera. Orang-orang yang ada di atas truk memaki-maki. Tetapi, setelah mereka terdiam setelah mengetahui jika itu adalah si Tokoh yang merupakan bos mereka. Mereka semua akhirnya meminta maaf kepada si Tokoh. Si Tokoh memaafkan mereka dan menyuruh mereka segera berangkat kembali. Karena mobilnya rusak si Tokoh akhirnya berjalan kaki menuju kota baru tersebut. Hujan tiba-tiba turun. Si Tokoh berlari menuju kota baru tersebut. Dia berlari dengan cepat. Di depannya ada truk-truk yang sedang berjalan menjauhi kota baru tersebut. Dia menghadangnya. Ternyata mereka adalah para pekerja pembangunan kota baru tersebut. Si Tokoh bertanya mengapa mereka berhenti mengerjakan pembangunan tersebut. Salah-satu menjawab jika kota baru yang hampir selesai itu telah roboh karena angin rebut. Si Tokoh menyuruh mereka kembali ke tempat tersebut dan bekerja kembali. Mereka semua akhirnya berbalik menuju kota baru tersebut. Ketika si Tokoh sampai ke tempat pembangunan tersebut, ia melihat jika semua bangunan telah roboh. Si Tokoh mengambil sebuah kayu yang jatuh karena dihempaskan oleh angin dan melemparkannya kembali sekuat tenaga. Dia tegakkan leher bajunya. Lengan bajunya dia gulung. Tangannya ia ulurkan kepada pekerjanya yang masih diam terpaku di atas truk dan mengajak mereka kembali bekerja membangun kota baru. Akhirnya kota tersebut berdiri.

SEKIAN

ABDULLAH SYAROFI

121111132

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi