Pengantar Kesusastraan
TELEGRAM
Judul Buku : Telegram.
Pengarang : Putu Wijaya.
Penerbit :
Pustaka Jaya
Cetakan : Ke-3 tahun 1986
Novel karya Putu Wijaya ini mengangkat kisah mengenai seorang lelaki yang
menganggap telegram adalah sesuatu hal yang buruk. Menurutnya, sebuah telegram
adalah salah satu kabar buruk, karena isinya selalu mengenai kabar buruk yang
akan dibacanya. Ceritanya berawal dari seorang laki-laki Bali yang menetap di
Begitulah laki-laki itu berkhayal. Khayalannya itu seakan-akan kejadian
yang sungguh terjadi. Mendapat telegram itu, si lelaki segera bersiap-siap
untuk pulang ke kampung halamannya. Dalam benaknya, ia membayangkan kelanjutan
nasibnya. Jika suatu saat nanti ibunya meninggal, sebagai anak laki-laki
tertua, harus kembali ke Bali untuk mengatur pemakaman tradisional ibunya
dengan adat Hindu. Jelas ia juga harus mengeluarkan biaya besar untuk pemakaman
dan pengabenan. Pikiran-pikiran inilah yang mengganggu Daku yaitu kepulangannya
ke Bali yang berarti akhir dari kehidupan dan kariernya di Jakarta dan ia harus
berperan sebagai kepala keluarga, mengurus berhektar-hektar tanah, tiga buah
rumah berikut isinya, membagi-bagi harta warisan, serta setumpuk tugas lain
yang harus dipikulnya. Benar-benar sebuah malapetaka!
Tentu saja ia merasa berkeberatan dengan semua peranan itu. Tetapi apa
lacur, sebagai anak tertua ia harus memikul semuanya. Jika tidak, ia berarti
akan menghancurkan keluarganya. Dilema itulah yang berkecamuk dalam pikirannya.
Di tengah kebingungannya itu, tiba-tiba anak angkatnya, Sinta, ingin tahu apa
isi telegram itu. Sebagai seorang ayah yang bijaksana, ia tidak sampai hati
membebani pikiran gadis kecil itu dengan persoalan berat yang harus
dihadapinya. Maka ia pun berbohong kepada Shinta dengan menyatakan bahwa
pamannya dari
Karena sudah terlanjur tahu isi telegram yang sesungguhnya, maka mereka
berdua mempersiapkan segala sesuatu untuk segera pulang ke Bali. Namun sebelum
mereka ke luar rumah, Ibu kandung Shinta datang dan ingin meminta kembali anak
kandungnya yang telah dirawat oleh lelaki itu. Lelaki itu menolak karena ia
telah membesarkan Shinta, sementara wanita itu terus memaksa. Maka mereka
bersepakat untuk menyerahkan keputusan kepada Shinta, siapa yang akan dipilih.
Belum lagi persoalan rebutan Shinta kelar, muncul masalah baru.
Tiba-tiba, lelaki itu merasa kondisi tubuhnya sangat lemah. Seluruh tubuhnya
tiba-tiba gemetar dan terserang demam. Ia merasa takut jika semua itu
disebabkan oleh penyakit kotor yang ditularkan Nurma, wanita penghibur yang
pernah digaulinya. Ia sangat khawatir dengan penyakit itu sebab temannya yang
mengalami hal yang sama akhirnya melahirkan anak yang cacat.
Bayangan-bayangan itu menyebabkan laki-laki itu sangat bingung dengan apa
yang dialaminya. Ia mengalami krisis kejiwaan. Ia tidak dapat membedakan mana
yang nyata dan mana yang khayalan semata. Kebingungannya itu pernah ia tanyakan
pada tukang rokok di depan rumahnya. Dia pernah bertanya, apakah tukang rokok
itu melihat dirinya gila atau waras. Seringkali lelaki itu sadar bahwa yang
berkecamuk di dalam pikirannya itu hanyalah khayalan, tidak benar-benar
terjadi, hanya manifestasi dari rasa khawatirnya. Namun kesadaran itu kembali
hilang. Ia masuk kembali ke dunia khayalnya. Ia pernah berkhayal bahwa ia
berpisah dengan kekasihnya,
Karena kebingungannya, si lelaki itu berteriak-teriak di jalan,”aku tidak
gila”, ”aku waras!”. Meski ia sudah berteriak-teriak di jalanan, kesadarannya
tidak pulih karena beberapa detik kemudian ia masuk lagi ke dalam dunia
khayalnya. Dalam khayalannya, ia bersama Shinta bersiap-siap berangkat ke
Tiba-tiba di tengah khayalannya, terdengar pintu di ketuk. Ia bangkit
untuk membuka pintu. Ternyata yang datang adalah bibinya, pemilik rumah yang
dikontraknya. Ia memberikan sepucuk telegram kepadanya. Secepat kilat, ia
membuka telegram itu dan isinya jelas: ibunya telah meninggal dunia.
Telegram yang diterima laki-laki itu dari bibinya adalah benar adanya. Isi
telegram itu juga sesuatu yang benar dan nyata. Ibunya meninggal dunia adalah
fakta, bukan khayalan si lelaki. Itulah kenyataan yang sebenarnya, sedangkan
seluruh cerita sebelumnya hanyalah dunia khayal lelaki itu saja.
Alhasil, "Telegram" Putu
memang memiliki arti khusus, karena pengertiannya tidak hanya sekadar benda
pos. Telegram adalah kabar tentang kesulitan keluarganya, kematian ibunya
sekaligus kekecewaan mereka atas perkembangan Bali yang kini cenderung menjauhi
dasar budayanya. Kritik ini yang menggedor nurani pembaca, walau idiomnya
berupa telegram yang menjadi ketakutan yang mencengkeram hidup seorang pemuda
Bali.
Komentar
Posting Komentar