Pengantar Kesusastraan

 GODLOB

 

Judul                           : Godlob         

Pengarang                   : Danarto

Penerbit                       : Matahari

Tahun terbit                : 2004

 

SINOPSIS

    Danarto mengambil penggambaran seorang pemuda sebagai pejuang yang maju tangguh dengan teman-temanya yang lain, yang berjuang demi negara dan kemudian mereka mendapatkan gelar pahlawan. Pada medan pertempuran, mayat-mayat para pahlawan itu menjadi sangat terbengkalai. Mereka dipatuk oleh burung-burung gagak dan dihinggapi banyak lalat. Suasana menjadi sunyi dan mencekam. Senjata berserakan dimana-mana. Beberapa senapan dengan sangkur terhunus menancap di sisi mayat-mayat dengan topi-topi bajanya yang terpasang di atas.

Beberapa ekor burung gagak bermain dengan granat dan beberapa ekor yang lain menyeret-nyeret tali pinggang para pahlawan yang penuh peluru. Bau busuk dan anyir darah menusuk indra penciuman. Jika angin bertiup dengan keras, maka bau itu akan menyebar kemana-mana. Seolah-olah membawa kabar buruk kepada setiap orang yang dilewatinya. Membawa kabar bahwa perang itu busuk.

Dari-sudut ke sudut dimedan pertempuran itu diceritakan begitu banyak mayat yang terkapar seolah-olah mayat itu seperti bangkai ikan asin yang sedang dijemur. Mayat-mayat mereka para pahlawan yang gugur dimedan juang telah dipatuk dan menjadi santapan hangat burung-burung gagak, ulat dan lalat yang selalu menghiasi tubuh para pahlawan yang dilumuri oleh luka dan darah demi merebut kemerdekaan. Burung-burung itu terlihat begitu senang menemukan begitu banyak bangkai yang berserakan didepan matanya. Kemudian tanpa basa basi mereka menyantap makanan yang sudah tersedia didepan mereka yaitu bangkai-bangkai para pahlawwan yang gugur dimedan juang, dan seketika itu suasana terlihat begitu sepi dan sunyi.

Seorang anak muda terbaring dengan luka yang sangat parah di atas jerami dan yang seorang lagi sudah sangat tua. Kemudian seekor burung gagak hinggap di kepala anak muda itu. Orang tua itu mencoba memukul burung gagak yang hinggap di kepala anak muda yang sedang berdarah. Sebelum anak muda itu ditemukan oleh ayahnya, anak muda itu tak ubahnya sama seperti bangkai-bangkai teman-temannya. Hidungnya terasa kebal untuk bau busuk bangkai kawan-kawan dan musuh-musuhnya.

Malampun datang, tetapi para gagak-gagak itu masih belum kenyang juga. Dalam keadaan yang telah gelap gulita, sekali-kali jauh disana-sini melayang-layang pistol cahaya. Mencari-cari nyawa yang masih hinggap di badan. Dan tiap hari banyak orang-orang berbondong-bondong di atas kota dari pagi hingga petang atau dari petang hingga pagi untuk menjemput. Kalau-kalau suami, saudara anak, kawannya, pulang dari pertempuran. Beberapa ekor gagak menubruk-nubruk dinding gerobak. Sedangkan udara dingin menusuk-nusuk malam yang lenggang itu.

Jenazah yang panjang itu menuju makam pahlawan dengan kemegaha Upacara militer yang diselenggarakan. Banyak pengiring yang menangis pada siang hari suasana terasa sepi, pintu-pintu rumah tertutup rapat. Anak-anak tidak bermain-main di halaman seperti biasanya.

Sehabis penguburan matahari mencambuk-cambuk kulit, ketika tiba-tiba di jalan di depan  balai kota digempaskan oleh seorang perempuan membopong mayat. Ia pulang membawa tipuan-tipuan buat kita. Mayat ini sama sekali bukanlah pahlawan kalau seandainya orang ia sanggup bangun, ia akan berkata kalau ia tidak mau jadi pahlawan. Orang laki-laki ini yang telah menjadikannya pahlawan. Seorang laki-laki itu membela diri bahwa semuanya ini bukanlah salah. Orang tua itu. Tapi semua itu adalah salah pembesar dan rekayasa para pembesar belaka. Mereka para pembesar adalah penghianat mereka telah mengorbankan nyawa-nyawa anak bangsa yang tidak bersalah itu. Semua ini hanyalah permainan orang pembesar. Di dalam cerita ini dapat kita petik kalau dimana-mana seorang pembesar atau atasan akan selalu menang dan seenaknya sendiri. Sedangkan kita kaum rakyat kecil hanya seperti boneka yang bila disuruh maju kita maju. Intinya rakyat kecil selalu kalah dan kecil derajatnya dimata para pembesar-pembesarnya.

Pengarang novel ini banyak sekali menggunakan bahasa-bahasa kiasan dalam menciptakan hasil karyanya. Kata-kata yang digunakan sungguh merupakan kata-kata yang bisa dikatakan luar biasa. Kita sebagai pembaca dapat benar-benar merasakan bahawa seolah-olah kita memang sedang berada dalam peristiwa itu dan penggambarannya begitu jelas ketika kita membaca novel ini.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi