Pengantar Kesusastraan

 LARUNG

Judul                           : Larung

Pengarang                   : Ayu Utami

Penerbit                       : Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan, Th                 : Pertama, November 2001

 

SINOPSIS

 

            Novel Larung merupakan novel kedua dari Ayu Utami setelah novel Saman. Sebenarnya Larung adalah kelanjutan dari Saman. Pada awalnya sebuah novel ini akan di rencanakan menjadi sebuah buku berjudul Laila tak Mampir di New York. Dalam pengerjaannya, beberapa plot berkembang melampaui rencana. Kini kedua merupakan dwilogi yang masing-masing berdiri sendiri.

            Novel Larung menceritakan seorang lelaki yang mempunyai nenek yang mempunyai kekuatan magis yang sangat luar biasa. Lelaki tersebut bertujuan ingin membunuh neneknya tersebut karena merasa sudah menyusahkan dia dan juga terutama ibunya yang selalu merawatnya. Dengan menggunakan kereta api, dia pulang ke rumah menemui neneknya. Setibanya di stasiun, Larung menaiki becak. Dalam perjalanannya, Larung mengobrol dengan abang becak tersebut. Dalam obrolannya, Larung tak sengaja cerita bahwa tujuan dia pulang adalah ingin menghabisi neneknya sendiri. Abang becak merasa takut dengan Larung. Dia mengira Larung bukanlah seorang manusia. Melainkan seorang setan atau hantu. Larung pun ketawa. Dia memperlihatkan uang, dompet. Nggak mungkin Pak, saya ini hantu. Larung jadi penasaran kenapa Abang becak tersebut menjadi takut. Ternyata di daerah tersebut banyak orang mati kecelakaan tertabrak

Kereta api. Ada juga yang bunuh diri di rel tersebut. Jadi Abang becak mengira bahwa Larung adalah manusia jelmaan dari hantu.

 

            Setibanya di rumah, Ibunya sudah menyiapkan makanan untuk Larung. Larung tak mau makan. Dia menuju kamar neneknya. Ia sudah begitu tua. Seperti sudah bukan manusia bukan perempuan bukan laki-laki, seperti bekas manusia. Zombi atau mumi, barangkali. Tubuhnya telah koma sehingga hanya otot-otot tak sadar saja yang bekerja, bernafas, membuang keringat, kencing, dan tai.  Begitulah Larung mendeskripsikan neneknya tersebut yang sudah lebih dari seratus tahun usianya.

            Setia pagi dia merawatnya. Mendudukkan tubuh ringannya ke kursi roda dan membawanya ke kamar mandi. Lalu dia membasuh dengan air hangat serta sabun non deterjen. Dua atau tiga seminggu Larung menyandarkan ia di kloset dan  kubersihkan kotorannya yang tak lancar sebab metabolisme yang tak lancar. Bau yang di simpan lama dalam lembab. Tai yang tak liat. Hanya coklat tidak hitam. Melainkan bau.

            Tubuh dari nenek Larung menyimpan sebuah rahasia. Kekuatan yang jauh lebih berat dari timbangannya. Seseorang yang bias melihat aura akan bias menyaksikan prana hitam di sekelilingnya. Bukan jingga, putih, atai nila, melainkan sinar hitam. Seperti lubang gelap pada galaksi, itu adalah energi sesuatu yang mati.

            Larung sudah tak sabar ingin melihat neneknya mati. Namun ibunya melarang Larung untuk membunuhnya. Ibunya menganggap Larung gila jika dia membunuh neneknya sendiri. Akhirnya Larung menuju ke rumah seorang wanita yang fotonya berada di album neneknya. Rumahnya terletak di kaki Gunung Watuangkara. Soeprihatin, teman karib Andjani, nenek Larung.

            Di tempat Soeprihatin, Larung mendengarkan cerita dari teman karib Andjani tentang kehidupan masa lalu neneknya tersebut. Hingga akhirnya Larung bertemu dengan Sembodo, Bambang Sembodo. Sembodo adalah cucu tertua Soeprihatin sebab seluruh ankanya telah mendahului dia.

            Larung di ajak ke sebuah gua kelelawar. Bersama Soeprihatin dan juga Muluk, asistennya. Gua itu terletak di sebuah lembah dari sebuah bukit. Agak menjorok ke dalam. Di dalam gua tersebut, Larung di ajak untuk mengingat masa lalu neneknya lewat dunia ghaib. Dia juga bertemu dengan beberapa sosok makhluk ghaib yang membuat dia menjadi merinding. Akhirnya dari tempat Soeprihatin, Larung mendapatkan sebuah benda yang dapat membunuh neneknya secara perlahan tanpa menyakitinya. Benda tersebut berupa enam cupu. Berbentuk bulir-bulir kasar yang dikira batu namun dalam sorot kecil senter. Seukuran kancing dan berwarna timah buram tetapi dari permukaannya yang bertonjolan ada ukiran, kutuk, di sana.

            Larung kembali pulang ke rumah. Ibunya sangat cemas karena Larung tak pamit dengan ibunya. Ibunya menanyai Larung kemana dia pergi. Larung segera masuk ke kamar neneknya. Dia mengobrol kembali dengan neneknya. Simbah melihat sebuah kalung hitam melingkar di leher Larung. Simbah bertanya. Larung mengelak. Dia menjawab bahwa benda itu hanyalah dompet saku tempat menyimpan uang dan dokumen. Tapi Simbah tak percaya begitu saja.

Karena Larung sering menyimpan dokomuen dan uang di dompet yang biasanya di letakkan di bokong. Tapi benda itu di letakkan di leher. Simbah memuji Larung anak pintar.

            Satu persatu cupu tersebut di letakkan di dada Simbah. Ketika akan meletakkan cupunya, tiba-tiba hilang. Entah berapa lama Larung mencari. Setengah hari barangkali satu setengah hari. Terlalu dini bila cupu yang hilang itu pada sepotong ubin yang retak. Patahan yang menghentikan gerak. Pada cupu keenam pada sesal penghabisan Larung, tiba-tiba mata Simbah terbuka. Simbah berkata bahwa Larung bukan cucunya. Dia adalah anak pungut dari keturunan orang gila. Simbah terus berkata tak jelas. Larung bukan cucu aslinya.

            Kini Simbah telah meninggal. Larung memakamkan di kebun belakang rumah, dekat sumur pompa. Larung meminta maaf karena tak bisa memenuhi tungku kremasi di Cilincing.

 

            Yasmin, seorang wanita yang sempurna. Cantik. Cerdas, kaya, beragama, berpendidikan moral, setia pada suami. Dia juga berselingkuh dengan Saman. Yasmin mempunyai teman akrab. Teman Yasmin tersebut tak begitu percaya bahwa Yasmin sesuci itu. Yasmin sering mengejek temannya tersebut dengan julukan si perek. Perempuan Eksperimen. Karena temannya tersebut sering gonta-ganti pasangan hanya untuk memuaskan nafsu sex nya. Dan ternyata Yasmin juga pernah bercinta dan melakukan sex dengan Saman.

            Yasmin masih saja tega menasehati temannya tersebut. Padahal yang dalam pikiran Yasmin, dia sedang merencanakan perselingkuhannya dengan

Saman. Suatu saat teman Yasmin bertemu dengan Larung. Ketika bertemu dengan Larung, dia merasa berbeda. Ada yang lain dengan Larung. Dia good looking. Pendiam. Bahkan Yasmin berprasangka bahwa Larung homo. Temannya tertawa. Sikap Larung yang agak misterius dan tahu-tahu mengerjakan semuanya dengan baik, membuat Yasmin kembali berprasangka jika Larung adalah intel. Temann Yasmin menggerutu. Tadi Yasmin bilang kalo dia homo. Sekarang Yasmin bilang kalo Larung intel.

            Cerita ini terus mengungkap tentang hubungan cinta antara Saman dan Yasmin, Sihar dan Laila juga Shakantula serta Larung yang masih menjadi misterius bagi teman Yasmin. Kehidupan mereka penuh dnegan seks. Fantasi seks hingga bersetubuh dengan rasa bersalah yang menggairahkan.

 

           

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi