Pengantar Kesusastraan

 

BELENGGU

Judul                           : Belenggu

Pengarang                   : Armijn Pane

Penerbit                       : Dian Rakyat

Tahun Penerbitan        : 1938

Tebal Buku                 : 150 halaman

SINOPSIS

Dalam Novel karya Armijn Pane ini terdapat tiga tokoh utama yang yang menjadi pusat cerita ini. Yang pertama adalah dokter Sukartono atau biasa dipanggil Tono, seorang dokter yang sangat mencintai pekerjaannya dan mempunyai rasa kepedulian amat tinggi sebagai sesama manusia sehingga ia dikenal sebagai dokter yang baik hati dan sangat dermawan. Tokoh kedua adalah istri Tono yang bernama Sumartini atau biasa disebut dengan Tini, Ia adalah wanita berparas ayu, pintar dan lincah. Ia juga wanita modern yang tak ingin terkungkung dalam belenggu kehidupan domestic keluarga dan mempunyai segudang aktivitas sosial di luar rumah. Sang istri Tini merasa kurang di perhatikan oleh sang suami karena sang suami sangat sibuk mengurusi pasien-pasiennya. Dokter Sukartono menikahi Sumartini karena ketertarik akan kecantikan dan kecerdasan yang Tini miliki. Sedangkan Sumartini menikahi Dokter Sukartono karena hendak melupakan masa silamnya. Menurutnya dengan menikahi seorang dokter, maka besar kemungkinan bagi dirinya untuk melupakan masa lalunya yang kelam. Jadi keduanya tidaklah saling mencintai. Karena keduanya tidak saling mencintai, mereka tidak pernah akur. Tokoh ketiga bernama Nyonya Eni alias Siti Rohayah (Yah) alias Siti Hayati. Ia adalah teman Tono sewaktu masih kecil dan ternyata diam-diam ia pernah menyimpan rasa sayang kepada Tono. Dulu ia sempat dipaksa menikah oleh orang tuanya. Tapi karena ia merasa frustasi akhirnya ia bercerai dengan suaminya dan memilih untuk hidup sendiri.

Ketiga tokoh utama ini berinteraksi dengan mengalami suatu konflik perselingkuhan rumah tangga yang di gambarkan di awal bab pembukaan novel ini. Cerita dalam novel ini berawal dari keretakan hubungan rumah tangga yang terjadi antara Tono dan Tini. Tini merasa ia kurang diperhatikan oleh sang suami karena sang suami terlalu sibuk mengurusi pekerjaannya sebagai dokter yang setiap hari harus mandatangi satu per satu rumah pasiennya. Hal ini membuat Tini kesal pada sang suami, Tono. Sehingga Tini juga memperlakukan hal yang sama kepada Tono. Ia juga tidak menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Contohnya pada saat Tono pusing mencari blocknotnya yang hilang, Tini malah tak menggubris apa yang sedang dilakukan oleh Tono. Tini juga berusaha menyibukkan diri dengan cara mengikuti kegiatan sosial di sebuah panti asuhan. Itu semua Tini lakukan atas dasar ingin memberi pelajaran pada sang suami betapa tidak enak rasanya jika tidak diberi perhatian lebih oleh pasangan kita.  

Kemudian, cerita berlanjut pada adanya tanda-tanda perselingkuhan diantara Rohayah (Yah) dan dokter Sukartono (Tono). Berawal dari Rohayah yang menyamar sebagai salah seorang pasien Tono, lalu ia berpura-pura sakit sehingga butuh pertolongan. Rohayah pun memanggil Tono agar bersedia mengobatinya. Saat pertama kali bertemu, Tono tak ingat bahwa wanita yang memperkenalkan diri sebagai Nyonya Eni ini adalah teman lama yang mendabakannya sedari dulu. 

Pada pertemuan pertama dokter Sukartono berhasil melalui jebakan yang telah disediakan oleh nyonya Eni, ketika nyonya Eni sempat menggoda Sukartono dengan rayuan mautnya. Untungnya, Tono pun tak tergoda. Akan tetapi situasi kritis yang tengah dihadapi ikatan pernikahan Tono dan Tini memungkinkan perselingkuhan ini berjalan dengan mulus. Tono yang mengharapkan seorang istri yang dapat melayani dan mendukung profesinya sebagai seorang dokter, Sayangnya, ia tak menemukan sosok istri idaman itu pada diri Tini. Namun sebaliknya. Sosok istri idaman Tono ada pada sosok wanita seperti Rohayah. Tono menemukan atas penemuan-penemuan atas harapannya akan seorang isti yang bersedia untuk berlutut, membukakan tali sepatu atau menunggu sang suami pulang kerja di rumah dengan senyum manis yang menggoda.

Alur novel ini sangat mudah untuk ditebak. Hingga pada akhirnya dokter Sukartono dan sang istri, Tini, tidak dapat memperthankan bahtera rumah tangga mereka berdua yang ia bangun bertahun-tahun lamanya Keduannya pun bercerai. Lalu Tini berangkat ke Surabaya serta mengabdikan diri di sebuah panti asuhan yatim piatu. Akan tetapi Tono jaga tidak bias mendapatkan Rohayah sebagai istri barunya karena Rohayah memutuskan untuk meninggalkan Tono seorang diri pergi ke Caledonia  tanpa pamit.

Dengan bertolak dari semangat realisme kejiwaan, Armijn Pane berusaha bersikap objektif . Tak ada penilaian moral atas perselingkuhan yang telah dilakukan oleh Tono dan Yah. Tak ada isyarat atau penjelasan mana yang telah dianggap benar dan mana yang tidak benar. Tokoh-tokoh dalam novel ini, terutama dua tokoh perempuan yakni Tini yang bersih keras untuk bercerai dari Tono dan Rohayah yang memutuskan untuk melanjutkan petualangnnya untuk hidup sendiri tanpa menjalin hubungan berkeluarga dengan Tono. Armijn Pane menegaskan bahwa kedua tokoh perempuan tersebut memiliki karakteritas sosok kuat, yang mandiri, dan berani menanggung resiko. Sedangkan mengenai tokoh Tono, Armijn Pane menceritakan di akhir kisah bagaimana ia menatap masa depannya serta kesadarannya agar terlepas dari belenggu kehidupann

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi