Pengantar Penelitian

 

BERTAHANNYA ADAT PERNIKAHAN BETAWI DI TENGAH MODERNITAS : SEBUAH TANTANGAN KEBUDAYAAN INDONESIA DI ERA GLOBALISASI

 (Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Pengantar Penelitian dan Teori Kebudayaan)


 

Abdullah Syarofi            (121111132)

 


 

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2012


KATA PENGANTAR

 

 

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan berkat dan rahmatnya sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan proposal yang berjudul “Bertahannya Adat Pernikahan Betawi di Tengah Modernitas : Sebuah Tantangan Kebudayaan Indonesia di Era Globalisasi”.

Proposal ini diusulkan dan disajikan sebagai  salah satu tugas akhir mata kuliah Pengantar Penelitian dan Teori Kebudayaan. Penulis menyadarai bahwa pengusulan proposal  ini masih banyak kekurangan, namun penulis telah berusaha seoptimal mungkin dalam mengerjakan proposal ini, untuk itu saran dan kritiknya dari semua pihak yang bersifat membangun untuk memperbaiki dan melengkapi segala kekurangan sangat kami harapkan. Harapan terakhir semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

 

Penulis

 


 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Jakarta merupakan ibukota dari Republik Indonesia yang memiliki berbagai macam ragam kebudayaan. Letak geografis Jakarta sangat strategis dan menjadi tombak dari perkembangan pulau-pulau di Indonesia, yaitu pulau jawa. Bertempat di ujung pulau Jawa, Jakarta sendiri pun memiliki suku yang sangat beraneka macam budaya yang menjadi tradisi.

Secara berkembangnya sejarah penduduk Betawi, membuat berbagai macam jenis kebudayaan. Pernikahan adat Betawi merupakan salah satu kebudayaan yang masih bertahan dan mencoba bertahan pada arus perkembangan yang semakin maju di era globalisasi ini. Suku Betawi masih memiliki kebudayaan yang tetap menjadi tradisi dan tidak ingin terkalahkan dengan kebudayaan modern, tata cara pernikahan adat betawi yang di dalamnya terdapat sebuah simbol unik sebagai sebuah pemaknaan khusus.

Pernikahan merupakan salah satu peristiwa besar yang sangat penting dan sakral di dalam sejarah kehidupan manusia. Oleh karena itu, peristiwa sakral tersebut tidak akan dilewatkan begitu saja seperti mereka melewati kehidupan sehari-hari. Peristiwa pernikahan dilaksanakan dengan berbagai serangkaian upacara yang di dalamnya mengandung nilai budaya yang luhur dan suci. Setiap orang yang menyelenggarakan upacara pernikahan tidak akan merasa ragu-ragu untuk mengorbankan tenaga, pikiran, waktu, serta biaya yang besar untuk kelancaran terselenggaranya upacara pernikahan tersebut.

Adat pernikahan tersebut merupakan peninggalan nenek moyang adat betawi, yang ingin tetap bertahan dengan berbagai macam cara pernikahan barat yang sekarang berkembang dan mulai mengikis adat-adat dari kebudayaan di penjuru Indonesia. Dalam adat perkawinan betawi terdapat sebuah tradisi yang memiliki sebuah tata cara unik.

Pernikahan tersebut merupakan sebuah warisan luhur dan menjadi turun temurun bagi penduduk asli betawi. Pernikahan merupakan salah satu ritual dalam lingkungan kehidupan yang dianggap penting. Dalam tradisi yang mencakup adat-istiadat pernikahan suatu daerah, selain memuat aturan-aturan dengan siapa seseorang boleh melakukan pernikahan, terdapat pula tata cara dan tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh pasangan calon pengantin dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya sehingga pernikahan ini mendapat pengabsahan di masyarakat. Seluruh tata cara dan rangkaian adat-istiadat pernikahan tersebut terangkai dalam suatu rentetan kegiatan upacara pernikahan. Upacara itu sendiri diartikan sebagai tingkah laku resmi yang dibakukan untuk menandai peristiwa-peristiwa yang tidak ditujukan pada kegiatan teknis sehari-hari, tetapi mempunyai kaitan dengan kepercayaan di luar kekuasaan manusia.

Perwujudan tata cara pernikahan yang di dalamnya terdapat simbol dari makna tidak lepas dari serangkaian pesan yang hendak disampaikan kepada masyarakat umum melalui simbol-simbol yang dikenal dan tradisi budaya masyarakat tersebut. Berdasarkan hal-hal tersebut maka dalam penelitian ini akan mengkaji tata cara pernikahan adat Betawi dan simbol yang menjadi ciri khas penduduk Betawi.

 

 

 

B.     Fokus Penelitian

Fokus masalah dalam penelitian ini yang pertama adalah tata cara pernikahan dalam budaya adat betawi yang didalamnya terdapat makna dari simbol yang ada dalam upacara adat perkawinan penduduk betawi..

C.    Rumusan Masalah

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah tata cara dalam rangkaian upacara pernikahan adat Betawi yang di dalamnya terdapat simbol yang bermakna maka dapat dirumuskan sebagai berikut, yaitu:

1.      Bagaimana rangkaian proses pernikahan adat Betawi diperkenalkan kepada masyarakat umum sebagai nilai luhur budaya?

2.      Bagaimana respon masyarakat terhadap makna dari simbol-simbol dalam rangkaian upacara pernikahan adat Betawi?

D.    Tujuan Penelitian

Tujuan dengan diadakannya penelitian ini, adalah:

1.      Mengetahui rangkaian proses pernikahan adat Betawi untuk diperkenalkan pada masyarakat luas terutama generasi muda.

2.      Mengetahui respon masyarakat luas terhadap keunikan simbol yang memiliki makna pada pernikahan adat Betawi .

E.     Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah penggalian nilai-nilai tradisional suatu kebudayaan yang menjadi tradisi dari nenek moyang secara turun temurun, yang menjadi ciri khas dari proses adat perkawinan penduduk Betawi di Jakarta. Hasil penelitian ini, dapat bermanfaat bagi:

1.      Peneliti sendiri, sebagai sarana untuk meningkatkan apresiasi terhadap suatu kebudayaan adat betawi yang masih bertahan dalam arus modernitas di ibukota Jakarta, mengenai proses atau tata cara dari rangkaian upacara pernikahan adat Betawi yang di dalamnya terdapat simbol yang berkmakna.

2.      Masyarakat luas terutama generasi muda Indonesia dengan adanya penelitan ini dapat menambah wawasan akan sebuah kebudayaan yang ada di ibukota Jakarta, yaitu proses atau tata cara dari rangkaian upacara pernikahan adat Betawi yang di dalamnya terdapat simbol yang bermakna yang kini mulai terkikis oleh pernikahan adat barat .

 

 

 

 

 

 


 

BAB II

KAJIAN TEORI

A.    Makna Simbolik

Istilah makna simbolik dalam penelitian ditinjau dari struktur kata, terbentuk dari dua kata yaitu makna dan simbolik.

1.      Makna

Makna menurut kamus besar bahasa Indonesia (2002: 703) makna adalah arti, maksud pembicaraan atau penulis, pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan. Lebih lanjut, penggunaan istilah makna dalam penelitian ini berfungsi sebagai makna khusus. Makna khusus yaitu makna kata atau istilah yang pemakaiannya terbatas pada bidang tertentu (KBBI, 2002: 703). Dari pengertian tentang makna tersebut, dapat diketahui bahwa istilah makna dapat dipakai dalam berbagai keperluan tetapi sesuai dengan konteks kalimatnya. Di samping itu, pemakaiannya juga disesuaikan pula dengan bidang-bidang yang berkaitan dengan pemakaian istilah makna. Berkaitan dengan penelitian ini, makna yang dipakai adalah makna khusus yaitu istilah yang pemakaian dan maknanya terbatas pada bidang tertentu.

2.      Simbolik,

Simbolik berasal dari bahasa Yunani yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang. Simbol ialah sesuatu hal atau keadaan yang merupakan media pemahaman terhadap objek (Budiono, 1983: 10). Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa yang dimaksud dengan simbol adalah sebagai lambang, menjadi lambang, dan mengenai lambang. Jadi dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan simbol adalah suatu hal atau keadaan mengenai lambang atau ciri yang merupakan media pemahaman terhadap suatu objek yang hendak disampaikan kepada seseorang. Manusia adalah makhluk yang berbudaya. Kebudayaan itu sendiri menurut Koentjaraningrat yaitu menyebutkan bahwa kebudayaan adalah seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya, dan yang karena itu hanya bisa dicetuskan oleh manusia sesudah suatu proses belajar. Budaya manusia tersebut penuh dengan simbol-simbol. Sebagai mahkluk yang berbudaya, segala tindakan-tindakan manusia baik tingkah laku, bahasa, ilmu pengetahuan maupun religinya selalu diwarnai dengan simbolisme yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola yang mendasarkan diri kepada simbol-simbol. Simbolisme selain menonjol perananya dalam hal religi juga menonjol peranannya dalam hal tradisi atau adat istiadat. Dalam hal ini simbolisme dapat dilihat dalam upacara-upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat yang merupakan warisan turun temurun dari generasi yang tua ke generasi berikutnya yang lebih muda (Budiono, 1983: 29-30).

B.     Rangkaian Prosesi Upacara Pernikahan Adat Betawi

Pernikahan merupakan suatu hal yang sakral, bagi kebudayaan orang. Upacara yang terdapat dalam masyarakat yang memiliki banyak tradisi yang berbeda-beda dengan daerah lain. Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi yang unik untuk upacara pernikahan. Salah satunya tradisi pernikahan adat betawi. Pernikahan bagi banyak masyarakat dianggap sangat penting. Pernikahan dipandang sebagai peristiwa sosial dan agama. Pernikahan bukan saja bermakna sebagai peralihan dari masa lajang ke kehidupan berumah tangga tetapi juga dipandang sebagai pemenuhan kewajiban agama. Di samping itu, pernikahan juga dipandang sebagai suatu wadah untuk menunjukkan gengsi kemasyarakatan.

Tujuan perkawinan tersebut menurut masyarakat dan budaya Betawi adalah memenuhi kewajiban mulia yang diwajibkan kepada setiap warga masyarakat yang sudah dewasa dan memenuhi syarat untuk itu. Orang Betawi yang mayoritas beragama Islam yakin bahwa perkawinan adalah salah satu sunnah bagi umat, sehingga dipandang sebagai suatu perintah agama untuk melengkapi norma-norma kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dan ciptan Tuhan yang mulia.

Ada beberapa fungsi dari tradisi upacara pernikahan adat betawi antara lain:

1.    Fungsi religius, yaitu meredam kekhawatiran akan adanya malapetaka yang akan menimpa suatu masyarakat tertentu apabila tidak melaksanakan upacara daur hidup.

2.    Fungsi sosial, yaitu sebagai aktivitas untuk menumbuhkan kembali semangat kehidupan sosial antara warga masyarakat dan juga sebagai kontrol sosial.

3.    Fungsi kepariwisataan, yaitu strategi untuk menarik wisatawan yang dapat menghasilkan modal wisata.

Pernikahan merupakan sesuatu yang sakral, agung, dan monumental bagi setiap pasangan hidup. Oleh karena itu, pengantin bukan hanya mengikuti agama dan meneruskan naluri pada leluhur untuk membentuk sebuah keluarga dalam ikatan hubungan yang sah antara pria dan wanita, tetapi juga memiliki arti atau makna yang sangat mendalam dan luas bagi kehidupan manusia di dalam kehidupan (Artati Agoes, 2001: 10). Di dalam kehidupan manusia, pernikahan merupakan tahapan yang sangat penting. Orang yang telah menikah secara otomatis akan mengalami perubahan status berkeluarga yang selanjutnya akan mendapat pengakuan sebagai keluarga baru dengan segala konsekuensi dan tanggung jawabnya di dalam masyarakat. Agar keluarga baru yang dibentuk dalam pengantin mencapai kebahagiaan lahir dan batin dalam kehidupan berumah tangga dilakukanlah berbagai macam upacara-upacara ritual di dalam sebuah acara pengantin.

Dalam adat betawi ada beberapa rangkaian proses dalam pernikahan adat betawi yang menjadi tradisi. Macam-macam tahapan pernikahan adat betawi, yaitu :

1.        Ngedelengin

2.        Ngalamar

3.        Bawa tande putus

4.        Tradisi meriah

5.        Akad nikah

6.        Buka palang pintu

7.        Acare negor

8.        Pulang tige ari

 

1.    Ngedelengin

Sebelum jenjang pernikahan, sepasang kekasih biasanya melalui tingkat pacaran yang disebut berukan. Masa ini bisa diketahui oleh kedua pihak, bisa juga orangtua kedua belah pihak tidak mengetahui. Istilah ngedelengin adalah masa perkenalan sebelum perkawinan pada adat betawi. Di suatu daerah, tertentu di Jakarta dibutuhkan seorang mak comblang, fungsi mak comblang sendiri adalah memperkenalkan pihak laki-laki ke pada pihak perempuan dengan kebiasaan menggantungkan ikan bandeng di depan rumah seorang gadis. Pekerjaan tersebut mak comblang lakukan atas permintaan pihak laki-laki. Biasanya mak comblang adalah encang  atau encing (paman  atau bibi).

Ngedelengin biasanya ada malem mangkat, disinalah ajang pertemuan dan perkenalan kedua mempelai laki-laki dan perempuan. Tetapi bisa diwakilkan orangtua tetapi hanya permulaan saja. Setelah menemukan calon yang disukai, kemudian Mak Comblang mengunjungi rumah si gadis. Setelah melalui obrolan dengan orangtua si gadis, kemudian Mak Comblang memberikan uang sembe (angpaw) kepada si gadis. Kemudian setelah ada kecocokan, sampailah pada penentuan ngelamar. Pada saat itu Mak Comblang menjadi juru bicara perihal kapan dan apa saja yang akan menjadi bawaan ngelamar.

2.    Ngelamar

Ngelamar adalah pernyataan dan permintaan resmi dari pihak keluarga laki-laki untuk melamar mempelai wanita kepada pihak keluarga. Ketika itu juga keluarga pihak laki-laki mendapat jawaban persetujuan atau penolakan atas maksud tersebut. Pada saat melamar itu, ditentukan pula persyaratan untuk menikah, di antaranya mempelai wanita harus sudah tamat membaca Al Quran. Yang harus dipersiapkan dalam ngelamar ini adalah:

1.      Sirih Lamaran

2.      Pisang Raja

3.      Roti Tawar

4.      Hadiah Pelengkap

5.      Para utusan

Para utusan ini terdiri atas “Mak Comblang” dan dua pasang wakil orang tua dari calon tuan mantu terdiri dari  sepasang wakil  keluarga ibu dan bapak.

3.    Bawa Tande Putus

Tanda putus pelamar memberikan bentuk cincin dari rotan sebagai tanda putus. Tanda putus memiliki arti bahwa pihak wanita telah terikat dengan keluarga laki-laki dan tidak bisa diganggu oleh pihak lain. Masyarakat Betawi biasanya melaksanakan acara ngelamar pada hari Rabu dan acara bawa tande putus dilakukan hari yang sama seminggu sesudahnya. Pada acara ini utusan yang datang menemui keluarga calon non mantu adalah orang-orang dari keluarga yang sudah ditunjuk dan diberi kepercayaan. Pada acara ini dibicarakan:

1.      Apa cingkrem atau mahar yang diminta

2.      Nilai yang diperlukan untuk resepsi pernikahan

3.      Apa kekudang yang diminta

4.      Palangke atau melangkahi kakak yang belum menikah

5.      Berapa lama pesta dilaksanakan

6.      Berapa perangkat busana pernikahan yang digunakan calon wanita pada acara resepsi

7.      Siapa dan berapa yang diundang

4.    Tradisi Meriah

Meriah dan penuh warna-warni, demikian gambaran dari tradisi pernikahan adat Betawi. Diiringi suara petasan, rombongan keluarga mempelai pria berjalan memasuki depan rumah kediaman mempelai wanita sambil diiringi oleh ondel-ondel, tanjidor serta marawis (rombongan pemain rebana menggunakan bahasa Arab). Mempelai pria berjalan sambil menuntun kambing yang merupakan ciri khas keluarga betawi dari Tanah Abang. Sesampainya di depan rumah terlebih dulu diadakan prosesi ‘Buka Palang Pintu’, berupa berbalas pantun dan adu silat antara wakil dari keluarga pria dan wakil dari keluarga wanita. Prosesi tersebut dimaksudkan sebagai ujian bagi mempelai pria sebelum diterima sebagai calon suami yang akan menjadi pelindung bagi mempelai wanita sang pujaan hati. Uniknya, dalam setiap petarungan silat, pihak mempelai wanita pasti dikalahkan oleh jagoan calon pengantin pria.

 

5.    Akad Nikah

Sebelum diadakan akad nikah, terlebih dahulu harus dilakukan rangkaian pra-akad nikah yang terdiri dari:

1.    Masa dipiara, yaitu masa calon non mantu dipelihara oleh tukang piara atau tukang rias. Masa piara ini dimaksudkan untuk mengontrol kegiatan, kesehatan, dan memelihara kecantikan calon non mantu untuk menghadapi hari akad nikah nanti.

2.    Acara memandikan calon pengatin wanita yang dilakukan sehari sebelum akad nikah. Biasanya, sebelum acara siraman dimulai, mempelai wanita dipingit dulu selama sebulan oleh dukun manten atau tukang kembang. Pada masa pingitan itu, mempelai wanita akan dilulur dan berpuasa selama seminggu agar  pernikahannya kelak berjalan lancar.

3.    Acara tangas atau acara kum. Acara ini identik dengan mandi uap yang tujuanya untuk membersihkan bekas-bekas atau sisa-sisa lulur yang  masih tertinggal. Pada prosesi itu, mempelai wanita duduk di atas bangku yang di bawahnya terdapat air godokan rempah-rempah atau akar pohon Betawi. Hal tersebut dilakukan selama 30 menit sampai mempelai wanita mengeluarkan keringat yang memiliki wangi rempah, dan wajahnya pun menjadi lebih cantik dari biasanya.

4.    Acara ngerik atau malem pacar. Dilakukan prosesi potong cantung atau ngerik bulu kalong dengan menggunakan uang logam yang diapit lalu digunting. Selanjutnya melakukan malam pacar, di mana mempelai memerahkan kuku kaki dan kuku tangannya dengan pacar.

 

Setelah rangkaian tersebut dilaksanakan, masuklah pada pelaksanaan akad nikah. Pada saat ini, calon tuan mantu berangkat menunju rumah calon noe mantu dengan membawa rombongannya yang disebut rudat. Pada prosesi akad nikah, mempelai pria dan keluarganya mendatangi kediaman mempelai wanita dengan menggunakan andong atau delman hias. Kedatangan mempelai pria dan keluarganya tersebut ditandai dengan petasan sebagai sambutan atas kedatangan mereka. Barang yang dibawa pada akad nikah tersebut antara lain:

1.    sirih nanas lamaran

2.    sirih nanas hiasan

3.    mas kawin

4.    miniatur masjid yang berisi uang belanja

5.    sepasang roti buaya

6.    sie atau kotak berornamen Cina untuk tempat sayur dan telor asin

7.    jung atau perahu cina yang menggambarkan arungan bahtera rumah tangga

8.    hadiah pelengkap

9.    kue penganten

10.          kekudang artinya suatu barang atau makanan atau apa saja yang sangat disenangi oleh none calon mantu sejak kecil sampai dewasa.

Pada saat akad nikah, mempelai wanita memakai baju kurung dengan teratai dan selendang sarung songket. Kepala mempelai wanita dihias sanggul sawi asing serta kembang goyang sebanyak 5 buah, serta hiasan sepasang burung Hong. Kemudian pada dahi mempelai wanita diberi tanda merah berupa bulan sabit yang menandakan bahwa ia masih gadis saat menikah. Sementara itu, mempelai pria memakai jas Rebet, kain sarung plakat, hem, jas, serta kopiah, ditambah baju gamis berupa jubah Arab yang dipakai saat resepsi dimulai. Jubah, baju gamis, dan selendang yang memanjang dari kiri ke kanan serta topi model Alpie menjadi tanda haraan agar rumah tangga selalu rukun dan damai. Setelah upacara pemberian seserahan dan akad nikah, mempelai pria membuka cadar yang menutupi wajah pengantin wanita untuk memastikan apakah benar pengantin tersebut adalah dambaan hatinya atau wanita pilihannya. Kemudian mempelai wanita mencium tangan mempelai pria. Selanjutnya, keduanya diperbolehkan duduk bersanding di pelaminan (puade). Pada saat inilah dimulai rangkaian acara yang dkenal dengan acara kebesaran.

Adapun upacara tersebut ditandai dengan tarian kembang Jakarta untuk menghibur kedua mempelai, lalu disusul dengan pembacaan doa yang berisi wejangan untuk kedua mempelai dan keluarga kedua belah pihak yang tengah berbahagia.

6.    Buka Palang Pintu

Pada prosesi ini mempelai pria tidak boleh sembarangan memasuki kediaman mempelai wanita. Maka, kedua belah pihak memiliki jagoan-jagoan untuk bertanding, yang dalam upacara adat. Pada prosesi tersebut, terjadi dialog antara jagoan pria dan jagoan wanita, kemudian ditandai pertandingan silat serta dilantunkan tembang Zike atau lantunan ayat-ayat Al Quran. Semua itu merupakan syarat di mana akhirnya mempelai pria diperbolehkan masuk untuk menemui orang tua mempelai wanita.

7.    Acara Negor

Sehari setelah akad nikah, pengantin laki-laki boleh tinggal di rumah pengantin wanita. Tapi tidak boleh kumpul selayaknya suami istri, pengantin wanita harus mempertahankan kesuciannya. Bahkan untuk melayaninya pun penganten wanita harus jaga gengsi atau sok jual mahal. Tetapi istri tetap melayani suami, hanya sekedar mempersiapkan peralatan mandi, minum dan makan. Untuk menyiasati hal itu, penganten laki-laki memberi kata-kata indah dan uang tegor. Uang tegor ditaruh dibawah telapak meja, tidak boleh diselipkan secara langsung.

8.    Pulang Tige Ari

Acara ini berlangsung setelah pengantin laki-laki bermalam beberapa hari di rumah pengantin wanita. Di antara mereka telah terjalin komunikasi yang harmonis. Sebagai tanda kegembiraan dari orang tua penganten laki-laki, bahwa anaknya memperoleh seorang gadis yang terpelihara kesuciannya, maka keluarga penganten laki-laki akan mengirimkan bahan-bahan pembuat laksa penganten kepada keluarga penganten wanita.

 

 

 


 

BAB III

METODE PENELITIAN

A.  Jenis Penelitian

Metode yang digunakan dalam metode penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif yang bertujuan mendeskripsikan rangkaian proses pernikahan adat betawi dan memahami simbol yang memiliki makna. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata dalam bentuk tertulis maupun lisan. Seluruh data kemudian dianalisis secara induktif sehingga menghasilkan data yang deskriptif. Untuk memperoleh data dilakukan atau dibutuhkan teknik pengumpulan data. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi atau pengamatan, wawancara, dan dokumentasi yang berupa sumber bacaan atau tertulis.

B.  Subjek dan Objek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini meliputi perancang busana adat yang bertempat tinggal di daerah Karet Tengsin, Jakarta Pusat dan seorang  nenek yang merupakan penduduk asli betawi dari zaman belanda. Perancang busana dan nenek yang merupakan penduduk asli betawi dijadikan subjek penelitian, karena mereka yang tau menganai simbol-simbol yang ada dalam rangkaian proses pernikahan adat betawi. Sedangkan objek penelitiannya rangkaian proses pernikahan adat betawi.

C.  Setting Penelitian

Penelitian ini dilakukan di wilayah DKI Jakarta. Penelitian akan dilakukan secara acak dalam beberapa kecamatan yang ada di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan tersebut dan diambil beberapa perancang busana adat sebagai responden yang diwawancarai tentang topik penelitian. Selain itu, penelitian juga dilakukan di dalam rumah seorang nenek yang merupakan penduduk asli betawi didaerah Karet Setiabudi Jakarta Selatan sebagai responden lain yang diwawancara tentang topik tersebut.

D.  Data Penelitian

Data dari penelitian ini diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun bentuk data dalam penelitian ini adalah:

·         Proses rangkaian pernikahan adat betawi

·         Fungsi simbol-simbol dari proses rangkaian yang bermakna

E.  Sumber Data

Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah dari observasi dan wawancara secara tertulis dan non tertulis di tempat perancang busana adat betawi dan nenek penduduk asli betawi. Setelah melakukan kegiatan observasi dan wawancara, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan dokumentasi mengenai keterangan-keterangan tertulis, yaitu berupa buku-buku yang menyangkut tentang proses rangkaian pernikahan adat betawi.

F.   Instrumen Penelitian

Untuk memperoleh data yang sesuai dengan permasalahan penelitian, maka dalam hal ini peniliti berperan aktif dalam teknik pengumpulan data yang merupakan instrumen penelitian, dikarenakan peneliti bertindak sebagai perencana sekaligus pelaksana dari rancangan penelitian yang sudah disusun. Harapan peneliti, proses pengambilan data sesuai dengan perencanaan yang dibuat dan mendapatkan hasil sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Adanya instrumen pembantu berupa alat tulis untuk mencatat hal-hal penting yang ditemukan dalam proses pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara serta alat komunikasi pembantu yang didalamnya terdapat aplikasi, seperti: recorder, kamera, dan video.

 

G.  Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan sebuah cara untuk memperoleh data yang sesuai dengan pengumpulan data. Teknik pengumpulan data yang digunakan sebagai penunjang penelitian ini, adalah:

·         Observasi

Penelitian ini, peneliti melakukan observasi dengan terjun langsung ke lapagan untuk memperoleh atau mengumpulkan data. Proses kegiatan ini menekankan pada ketelitian dan kejelian peneliti sendiri. Dalam observasi ini, peneliti melakukan pengamatan secara langsung pada suatu tempat khusus yang digunakan dalam proses penelitian.

·         Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong: 2002: 135). Pada tahap ini, pengumpulan data dengan mewawancarai koresponden secara langsung dan mendalam. Wawancara dilakukan untuk memperoleh kebenaran suatu data yang diperoleh dari hasil observasi. Pada tahap ini, peneliti mendengarkan secara seksama penuturan yang dituturkan oleh koresponden.

·         Dokumentasi

Tahap dokumentasi memperkuat hasil wawancara, dari hasil rekaman suara, video dan gambar-gambar pendukung.

H.  Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan analisis data yang bersifat kualitatif. Analisis ini mendeskripsikan mengenai makna simbolik yang ada dalam proses rangkaian pernikahan adat betawi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis induktif. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: inventarisasi atau pengumpulan data yang diperoleh melalui observasi berpartisipasi dan wawancara secara mendalam. Langkah yang kedua adalah identifikasi dari sejumlah data yang ada diambil data yang sesuai dengan topik penelitian. Proses berikutnya ialah klasifikasi yaitu pengelompokkan data, data dari hasil wawancara yang telah dilakukan kemudian diperoleh jawaban umum, yaitu diperoleh jawaban responden yang menguasai dan ada responden yang tidak atau kurang menguasai topik penelitian. Responden yang bisa memberikan jawaban yang sesuai dengan topik penelitian dikelompokkan sendiri, sedangkan responden yang jawabannya kurang sesuai dengan topik penelitian dikelompokkan sendiri. Langkah selanjutnya ialah interpretasi, hasil dari wawancara diinterpretasikan tentang makna simbolik dalam proses rangkaian pernikahan adat betawi. Selain itu juga dilakukan kajian tentang fungsi simbol-simbol tersebut dalam proses rangkaian pernikahan adat betawi. Sesuai dengan topik penelitian. Langkah yang terakhir berupa inferensi atau membuat kesimpulan hasil akhir dari interpretasi yang sudah dilakukan.

I.     Tringulasi

Keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi dilakukan agar hasil penelitian ini valid. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2002:178). Agar mendapatkan data yang lebih valid dan ada kecocokan satu sama lain, dilakukan triangulasi dari data wawancara dan data observasi, serta dokumentasi yang berupa rekaman dan foto atau gambar. Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber. Pengambilan data dilakukan pada sejumlah sumber data yang berbeda-beda. Data dianggap valid bila jawaban sumber data yang satu sesuai atau sama dengan jawaban sumber yang lainnya.

J. Jadwal Kegiatan

         Jadwal Pelaksanaan Penelitian     

No

Kegiatan

Bulan ke-1

Bulan ke-2

Bulan ke-3

Bulan ke-4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1.

Observasi

X

X

X

X

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.

Pra-tinjau

 

 

 

 

X

X

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.

Tinjau Lapangan

 

 

 

 

 

 

X

X

 

 

 

 

 

 

 

 

4.

Pelaporan

 

 

 

 

 

 

 

 

X

X

 

 

 

 

 

 

5.

Draf Proposal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

X

X

 

 

 

 

6.

Presentasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

X

X

X

X

7.

Penulisan Laporan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

X

X

X

X

 

Keterangan Pelaksanaan Penelitian:

  1. Observasi:

a.       Survei ke daerah Karet Tengsin, Jakarta.

  1. Pra-tinjau:

a.       Pengenalan dan sosialisasi program pembelajaran nilai yang terkandung dalam prosesi pernikahan adat betawi.

b.      Pendiskusian pentingnya program pembelajaran ini antara masyarakat generasi muda.

c.       Pengenalan program pembelajaran nilai yang terkandung dalam prosesi pernikahan adat betawi.

  1. Tinjau Lapangan:

a. Menyaksikan prosesi pernikahan adat betawi dan memaknai prosesi pernikahan tersebut.

4.      Pelaporan:      

    a. Tahap pelaporan ini dilakukan setelah studi di Jakarta dengan  pembenahan program atau relevansi program setelah pelaksanaan penelitian.

  1. Draf Proposal:

a.            Pengumpulan observasi dan hasil penelitian.

b.           Penyusunan dan pembuatan laporan pertanggungjawaban ( LPJ ).

  1. Presentasi
  2. Laporan Akhir

 

K. Rancangan Biaya

           1. Bahan Penelitian

Penggandaan berkas informasi dan data penelitian

100 lembar x Rp 5.000  =  Rp    500.000

Buku-buku literature

10 x Rp 100.000            =  Rp 1.000.000

 

 

 

 

2. Bahan Baku Habis Pakai

Kertas A4 70 gr

                                Rp 150.000

Tinta

                                Rp 200.000

Alat tulis

                                Rp 100.000

Flash Disk

6 x Rp 40.000           =   Rp 240.000

 

 

1.      Alat Penunjang

Printer

                                Rp 850.000

 

2.      Dokumentasi dan Kesekretariatan

Cetak Foto

                                       Rp 300.000

Perizinan

                                Rp 200.000

Penyusunan laporan akhir

                                Rp 250.000

 

3.      Transportasi

Transportasi Surabaya-Jakarta pulang pergi 

6 orang x Rp 600.000   = Rp 3.600.000

Konsumsi selama di Jakarta

6 orang x Rp 100.000    = Rp  600.000

Penginapan

6 orang                         = Rp 1.000.000

 

4.      Lain-lain                                                                        = Rp 1.000.000

Total biaya yang diusulkan                                                         = Rp 9.990.000

 

L. Lampiran

 

1.    Biodata Dosen pembimbing

     Nama Lengkap                                     : Gayung Kesuma,S.S.,M.Hum.

     NIP                                                     :

     Alamat                                                :                                                            

Email                                                   :

 

Tanda tangan                                      : (                                            )

 

2.       Biodata Ketua Kelompok

Nama lengkap                                     : Abdullah Syarofi

Jurusan                                                : Sastra Indonesia

NIM                                                    : 121111132

Alamat                                                : Sukomulyo Soko Glagah Lamongan

HP                                                       : 08563338053

Email                                                   : syarofi.syafi@yahoo.com

Pengalaman Riset                               : Growt Ria (Green Room With Sansivieria) – (PKM-GT)

 

Tanda tangan                                      : (                                             )

                               

3.         Biodata Anggota Kelompok

Nama lengkap                                     : Deliyana Martha P

Fakultas                                               : Sastra Indonesia

NIM                                                    : 121111097

Alamat                                                : Griya Wage Asri Blok F 22 Sidoarjo

HP                                                       : 08563241206

Email                                                   : deliyanamartha@yahoo.com

 

 

Pengalaman Riset                               :

Tanda tangan                                      : (                                             )

4.        Biodata Anggota kelompok

Nama lengkap                                      : Debrina Yohandita

Jurusan                                                 : Sastra Indonesia

NIM                                                     : 121111101

Alamat                                                  : Sawahan DKA 4/15 Surabaya

HP                                                        : 085733884222

Email                                                    : debrinayohandita@yahoo.co.id

Pengalaman Riset                                 :

Tanda tangan                                        : (                                             )

 

5.      Biodata Anggota kelompok

Nama lengkap                                      : Anna Anggraeni

Jurusan                                                 : Sastra Indonesia

NIM                                                     : 121111108

Alamat                                                  : Jln.Gubeng Kertajaya 7A dalam Surabaya

HP                                                        : 085655336201

Email                                                    : annaanggraeni52@yahoo.com

Pengalaman Riset                                 :

 

Tanda tangan                                        : (                                             )

 

6.      Biodata Anggota kelompok

Nama lengkap                                      : Widya Ratna Sari

Jurusan                                                 : Sastra Indonesia

NIM                                                     : 121111110

Alamat                                                  : Jln.Raya Kali Rungkut 19 Surabaya

HP                                                        : 081310830611

Email                                                    : widya.widyars@gmail.com

Pengalaman Riset                                 :

 

Tanda tangan                                        : (                                             )

 

7.      Biodata Anggota kelompok

Nama lengkap                                      : Falda Danita

Jurusan                                                 : Sastra Indonesia

NIM                                                     : 121111113

Alamat                                                  : Jln.Lakarsantri Gg 1/27 Surabaya

HP                                                        : 085731056677

Email                                                    : phaldadanita@ymail.com

Pengalaman Riset                                 :

 

Tanda tangan                                        : (                                             )

 

M. Daftar Pustaka

Koentjaraningrat. 1992. Kebudayaan dan Mentalitas Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka      Utama. 

Meleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya .

Probonegoro, Ninuk Kleden, 1996. Teater lenong Betawi: studi perbandingan diakronik. Jakarta: Yayasan Obor dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan.

Saidi, Ridwan, 2000. Siklus Betawi upacara dan adat istiadat. Jakarta: Lembaga kebudayaan Betawi.

Tim Penyusun Kamus. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Yunus, Ahmad, et al., 1993. Arti dan fungsi upacara tradisional daur hidup pada masyarakat Betawi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

http://anakbetawi.blogdrive.com/achive/3.html http://www.pernikahan.com/rubrik.html?news_id=305

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi