PKBU
MODE POPULER PERKOTAAN
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Perkotaan
menurut UU Nomor 24 Tahun 1992 didefinisikan sebagai kawasan yang mempunyai
kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan,
pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Dalam kamus tata ruang (1997:57)
disebutkan bahwa kota adalah kawasan permukiman yang jumlah dan kepadatan
penduduk yang relative tinggi, memiliki luas areal terbatas, pada umumnya
bersifat non agraris, tempat sekelompok orang-orang dalam jumlah tertentu dan
bertempat tinggal bersama dalam suatu wilayah geografis tertentu, cenderung
berpola hubungan rasional, ekonomis dan individualistis. Haeruman (2004:1)
menyatakan bahwa suatu daerah disebut sebagai kota atau perkotaan karena
pertimbangan aspek-aspek tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, kegiatan utama
masyarakat di sektor non pertanian, status sosial masyarakat penghuninya
heterogen, baik dari segi adat, budaya dan agama. Menurut Budiharjo (1997:11),
kota merupakan hasil cipta, karsa dan karya manusia yang paling rumit dan
muskil sepanjang sejarah. Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa
komplesitas permasalahan di daerah perkotaan terjadi akibat pertarungan kepentingan
berbagai pihak dengan latar belakang, visi, misi dan motivasinya yang berbeda
antara satu sama lain. Struktur, bentuk dan wajah serta penampilan kota,
merupakan hasil dari penyelesaian konflik perkotaan yang selalu terjadi, dan
mencerminkan perkembangan peradaban warga kota maupun pengelolaanya.
Perkembangan
kota (urban development) dapat di artikan sebagai suatu perubahan menyeluruh,
yaitu yang menyangkut segala perubahan di dalam masyarakat kota secara
menyeluruh, baik perubahan sosial ekonomi, sosial budaya, maupun perubahan
fisik (Hendarto, 1997:27). Pada umumnya terdapat tiga faktor utama yang
mempengaruhi perkembangan kota, yaitu :
- Faktor penduduk, yaitu
adanya pertambahan penduduk baik di sebabkan karena pertambahan alami
maupun karena migrasi.
- Faktor ekonomi, yaitu
perkembangan kegiatan usaha masyarakat.
- Faktor sosial budaya,
yaitu perubahan pola kehidupan dan tata cara masyarakat akibat pengaruh
luar, komunikasi dan sistem informasi.
Tiga faktor ini yang akan merubah mode perkotaan yang
pada mulanya tradisional menjadi modern dan pada akhirnya dari modern itu bisa menjadi
popular, tiga faktor ini yang akan menjadikan suatu perkotaan akan menjadi
popular di kalangan masyarakat.
Surabaya adalah kota yang tergolong dalam popular
perkotaan, di tinjau dari tiga faktor di atas Surabaya sangat memenuhi tiga
faktor tersebut, mulai dari segi penduduk Surabaya memiliki banyak penduduk
bahkan Surabaya tergolong kota terbesar kedua di Indonesia, segi ekonomi
masyarakat perkotaan tergolong masyarakat industri maksudnya yaitu kebanyakan
dari penduduk di kota yaitu bekerja di industri-industri setempat, segi sosial
budaya Surabaya memiliki banyak kebudayaan. Surabaya bisa terkenal (popular) di
kalangan masyarakat dari simbol-simbol, kebudayaan dan sebagainya. Dari
simbol-simbol dan kebudayaan inilah yang akan kami bahas lebih lanjut dalam
makalah ini.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas,
bisa di tarik sebuah rumusan masalah yaitu :
1.
Simbol-simbol apa yang
bisa menjadikan Surabaya bisa popular di kalangan masyarakat ?
2.
Kebudayaan apa yang
bisa menjadikan Surabaya bisa popular di kalangan masyarakat ?
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia mode adalah ragam (cara,
bentuk) yang terpadu pada suatu waktu tertentu. Populer yaitu dikenal dan
disukai orang banyak (umum). Sedangkan perkotaan dalam kamus tata ruang
(1997:57) disebutkan bahwa kota adalah kawasan permukiman yang jumlah dan
kepadatan penduduk yang relative tinggi, memiliki luas areal terbatas, pada
umumnya bersifat non agraris, tempat sekelompok orang-orang dalam jumlah
tertentu dan bertempat tinggal bersama dalam suatu wilayah geografis tertentu,
cenderung berpola hubungan rasional, ekonomis dan individualistis.
Simbol yaitu sesuatu yang melambangkan, sedangkan
kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia
anatara keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk social yang digunakan
untuk memahami lingkungan serta pengalamanya dan yang menjadi pedoman tingkah
lakunya.
Klasifikasi Simbol
Sejarah Surabaya
Surabaya memiliki banyak simbol, dari simbol-simbol inilah
Surabaya bisa di kenal di kalangan masyarakat, diantaranya yaitu :

Pasti
sebagian besar dari kita banyak yang belum mengetahui, dari mana nama kota
“Surabaya” berasal. Setidaknya, ada tiga keterangan yang menjelaskan tentang
asal-usul nama kota Surabaya. Keterangan pertama menyebutkan,
bahwa nama Surabaya awalnya ialah Churabaya, yaitu desa tempat menyeberang di
tepian Sungai Brantas. Hal ini tercantum dalam prasasti Trowulan I tahun 1358
Masehi. Nama Surabaya juga tercantum di dalam Pujasastra Negara Kertagama yang
ditulis oleh Mpu Prapanca. Dalam tulisan itu disebutkan Surabaya (Surabhaya)
dalam pujasastra mengenai tentang perjalanan pesiar pada tahun 1365 yang
dilakukan Hayam Wuruk, Raja Majapahit. Namun, Surabaya sendiri diyakini oleh
sebagian besar para ahli telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti-prasasti
tersebut dibuat. Seorang peneliti Belanda, GH Von Faber, dalam karyanya En Werd
Een Stad Geboren (Telah Lahir Sebuah Kota) membuat hipotesis, Surabaya
didirikan Raja Kertanegara tahun 1275, sebagai pemukiman baru bagi para
prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M.
Versi
berikutnya mengatakan, nama Surabaya berkaitan erat dengan cerita tentang
perkelahian hidup dan mati antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon,
setelah mengalahkan tentara Tartar (Mongol), Raden Wijaya yang merupakan raja
pertama Majapahit, mendirikan kraton di Ujung Galuh, sekarang kawasan pelabuhan
Tanjung Perak, dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu. Lama
kelamaan Jayengrono semakin kuat dan mandiri, karena menguasai ilmu Buaya,
sehingga mengancam kedaulatan Majapahit. Untuk menaklukkan Jayengrono,
diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Adu kesaktian pun dilakukan di
pinggir Sungai Kalimas dekat Paneleh. Perkelahian adu kesaktian itu berlangsung
tujuh hari tujuh malam dan berakhir tragis, keduanya meninggal akibat kehabisan
tenaga.
Dalam versi lainnya
lagi disebutkan pula, kata Surabaya muncul dari mitos pertempuran antara ikan
Suro (Sura) dan Boyo (Baya atau Buaya), perlambang perjuangan antara darat dan
laut. Penggambaran pertarungan itu terdapat dalam monumen suro dan boyo yang
ada dekat kebun binatang di Jalan Setail Surabaya.
Versi
yang terakhir dikeluarkan pada tahun 1975, ketika Walikota Surabaya, Soeparno,
menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Kota Surabaya. Ini artinya,
pada tahun 2005 Surabaya sudah berusia 712 tahun. Penetapan itu berdasarkan
atas kesepakatan sekelompok sejarawan yang dibentuk pemerintah kota, bahwa nama
Surabaya berasal dari kata “sura ing bhaya” yang berarti keberanian dalam
menghadapi bahaya.
1. Lambang berbentuk
perisai segi enam yang distilir (gesty leerd), yang maksudnya melindungi Kota
Besar Surabaya.
2. Lukisan Tugu Pahlawan
melambangkan kepahlawanan putera-puteri Surabaya dalam mempertahankan
Kemerdekaan melawan kaum penjajah.
3. Lukisan ikan Sura dan
Baya yang berarti Sura Ing Baya melambangkan sifat keberanian putera-puteri
Surabaya yang tidak gentar menghadapi sesuatu bahaya.
4. Warna-warna biru,
hitam, perak (putih) dan emas (kuning) dibuat sejernih dan secermelang mungkin,
agar dengan demikian dihasilkan suatu lambang yang memuaskan.
Sebuah monumen berdiri tegak diatas jalan Jendral Panglima Sudirman
yang merupakan jalan utama lalu lintas yang padat di Kota Pahlawan ini. Monumen
Bambu Runcing namanya, dengan berbentuk sekumpulan bambu runcing yang merupakan
lambang semangat arek-arek Suroboyo saat melawan penjajah dengan menggunakan
senjata seadanya walaupun dengan sebilah bambu yang ujungnya diruncingkan.
Bambu runcing merupakan ikon kota Surabaya selain Tugu Pahlawan.
Wisatawan dengan kendaraan besar dan kecil dapat memarkir di sekitar taman
sebelah timur jalan. Di ujung Jalan Embong Ploso yang menjadi pertemuan
tersebut terdapat taman yang cukup teduh sehingga banyak dimanfaatkan para
pengendara motor untuk santai sejenak melepas lelah. Monumen ini terdiri dari 5
buah pilar beton yang tingginya tidak seragam dibentuk menyerupai bambu yang
runcing. Ketinggian bambu runcing yang tertinggi diperkirakan sekitar belasan
meter. Pada saat tertentu, pompa air dijalankan sehingga air akan keluar dari
masing-masing lubang bambu. Monumen ini dikelilingi berbagai tanaman hias
warna-warni sehingga tampak asri dan segar sesaat melintasi perjalanan
disekitar Surabaya Pusat yang lumayan penat akan kemacetan saat menjelang pagi
dan sore.
|
|
|
Cerita Sejarah
Kota Surabaya kental dengan nilai kepahlawanan. Sejak awal berdirinya, kota
ini memiliki sejarah panjang yang terkait dengan nilai-nilai heroisme.
Istilah Surabaya terdiri dari kata sura (berani) dan baya (bahaya), yang
kemudian secara harfiah diartikan sebagai berani menghadapi bahaya yang
datang. Nilai kepahlawanan tersebut salah satunya mewujud dalam peristiwa
pertempuran antara Raden Wijaya dan Pasukan Mongol pimpinan Kubilai Khan di
tahun 1293. Begitu bersejarahnya pertempuran tersebut hingga tanggalnya
diabadikan menjadi tanggal berdirinya Kota Surabaya hingga saat ini, yaitu 31
Mei.
|
|
|
|
|
Heroisme
masyarakat Surabaya paling tergambar dalam pertempuran 10 Nopember 1945.
Arek-arek Suroboyo, sebutan untuk orang Surabaya, dengan berbekal bambu
runcing berani melawan pasukan sekutu yang memiliki persenjataan canggih.
Puluhan ribu warga meninggal membela tanah air. Peristiwa heroik ini kemudian
diabadikan sebagai peringatan Hari Pahlawan. Sehingga membuat Surabaya dilabeli
sebagai Kota Pahlawan.
|
|||||||||||||||||||||||
Klasifikasi Kebudayaan
Surabaya
Tari Remo
Tari Remo adalah tarian menyambut khusus dari
Jawa Timur yang menggambarkan karakteristik dinamis dari Surabaya / Jawa Timur
Masyarakat sebagai gambaran keberanian Pangeran. Ini didukung oleh musik
gamelan dan Gending ini ada Bonang, Saron, Gambang, Gender, Slentem, sitar,
Flute, Ketuk, Kempul, dan Gong dengan ritme Slendro.
Biasanya, itu
adalah menggunakan Gending Jula Juli ritme Surabaya, dan kadang-kadang Walang
Kekek dilanjutkan dengan, Gedong Rancak, Krucilan atau penciptaan baru lainnya.
Remo tari dapat menari dengan gaya
wanita atau gaya pria secara bersama-sama atau alternatif. Biasanya tarian ini
dilakukan sebagai pembukaan Ludruk seni atau Wayang Kulit di Jawa Timur. Untuk
penari, mereka mengenakan kostum yang disebut Sawonggaling atau gaya Surabaya
terdiri dari di atas kain hitam menunjukkan dari 18 abad, beludru celana
sepenuhnya dengan Batik dan ornamen emas. Di pinggang ada belt dan Kris. Di
paha kanan, mereka memakai selendang yang digantung sampai tumit mereka. Penari
perempuan memakai bun mendengarnya. Remo disebutkan bahwa telah dipromosikan
pada tahun 1900, maka itu berguna untuk berkomunikasi dengan banyak orang.
Jongkong Surabaya
Dilihat dari bentuk Jongkong
Surabaya menyerupai kue Lapis, namun
Jongkong Surabaya berwarna hijau karena menggunakan
daun pandan dalam
mewarnai dan menambah aroma Jongkong. Jongkong
Terbuat dari campuran
tepung beras, tepung, gula pasir, garam, dan
santan. Dan disajikan dengan
parutan kelapa.
Lontong Balap
Surabaya asli khas makanan yang dimasak dari kue beras,
kecambah, tahu goreng, Lento (terbuat dari kacang kedelai), kecap, bawang
goreng dan sambal. Lento terbuat dari beras kacang / Tholo
dengan tepung, setelah itu ditambah dengan kencur, bawang musim semi, kasar
berkulit buah jeruk dan garam secukupnya. Hal ini dibentuk bulat menyerupai
kroket tersebut. Lontong Balap penuh kecambah. Lontong
Balap tidak dilayani dengan baik tanpa Kerang sate.
Kerang sate,
ismade dari kerang yang direbus dan kemudian disajikan seperti sate, namun
tanpa dipanggang. Lontong Balap akan lebih lezat untuk makan jika ditambahkan
dengan kecap panas dan sambal.
Lontong Kupang
Kupang Lontong adalah
makanan khas pantai
yang terdiri dari kue beras dan dicampur dengan
kaldu kupang (sejenis
tiram / kerang
kecil), dan disajikan dengan olahan cabai
sesuai dengan selera
pelanggan. Makanan ini dijajakan oleh ditanggung ke seluruh kota
Surabaya dan juga dapat ditemukan
di Pujasera.
Rujak Cingur
Rujak cingur adalah makanan
ringan yang menjadi makanan khas
Surabaya, yang terdiri dari beberapa jenis buah
irisan seperti mentimun, bengkoang, mangga muda,
nanas, dan kedondong, itu akan ditambahkan dengan kue beras, tahu, tempe,
bendoyo atau krai
(sejenis mentimun rebus) dan cingur
serta sayuran (kecambah,
sayuran berdaun &
kacang panjang) dan
dicampur dengan saus atau bumbu yang terbuat
dari udang yang
difermentasi, cabai, kacang tanah
goreng, bawang goreng &
garam. Ini telah disebut
sebagai rujak cingur karena bumbu olahan yang
digunakan adalah udang fermentasi dan sepotong
cingur, sedangkan rujak umumnya tanpa menggunakan
bahan-bahan. Hal ini dapat disajikan dengan pincuk daun pisang dari
(daun pisang) atau
piring yang biasanya disertai
dengan chip.
Semanggi Surabaya
Makanan khas Surabaya yang
disajikan pada piring yang
terbuat dari daun pisang (pincuk), terdiri
dari berbagai sayuran beberapa
seperti daun Semanggi, kecambah, sayuran berdaun
dan dituangkan dengan rempah-rempah yang dibuat
dari ubi jalar dan sesuai saus cabai dengan
rasa kegiatan konsumen ini . Ini biasanya
bisa dimakan dengan Uli chip (terbuat
dari beras). Penjual umumnya seorang wanita tua, dibawa ke belakang mereka
dan dijajakan ke seluruh Surabaya. Ini
makanan khas dapat ditemukan di Pujasera saat ini.
Wayang Orang
Wayang Orang adalah cerita
tradisional epik dimainkan oleh
sekelompok orang sebagai pemain di panggung dengan Mahabarata
dan Ramayana epik. acara ini didukung oleh Gamelan Pelog musik dan
Slendro, dengan Sinden.
Hal ini biasanya dilakukan di hari saat ini di Taman
Hiburan Rakyat (THR)
pada Kusuma Bangsa
116 jalan dan Taman
Bungkul Surabaya pada Genteng Kali jalanan.
Musik Patrol
Musik Patrol adalah seni tradisional dengan menggunakan alat sederhana seperti
gendang bambu atau
kayu yang dimainkan dengan irama
yang harmonis dalam menciptakan suara lembut. Musik
Patrol telah digunakan untuk patroli malam
Ronda), untuk membangunkan masyarakat dalam rangka untuk memeriksa situasi rumah mereka dari pencuri atau perampok. Setelah itu, diperluas untuk
membangunkan masyarakat muslim untuk
berpuasa. Selanjutnya meningkatkan musik Patrol, instrumen
telah ditambahkan dengan Jidor, Guitor, Ketipung,
Angklung, dan banyak lagi. Hal ini dapat dinikmati di setiap malam Ramadhan
di beberapa kabupaten di tengah malam.
Penganten Pegon Surabaya
Surabaya sebagai Kota memperkaya Indamardi Garpar dengan Budaya tradisional
yang tercermin dalam setiap tradisi daerah meskipun dalam seni budaya. Sebagai
warga Surabaya yang heterogen (keturunan Jawa, Madura, Bugis, Palembang serta
Arab, India, Pakistan, Cina dll), yang pasti budaya tradisi daerah adalah
budaya gabungan dari beberapa tradisi, namun elemen asli masih terlihat. Dalam upacara dilestarikan budaya misi pameran seni di Jawa Timur Taman
Mini Indonesia Indah telah melayani "Prosesi Pengantin Pegon Surabaya"
budaya. Pengantin Surabaya Lasim bernama Pengantin Pegon adalah
tradisi sampai saat ini yang masih hidup di beberapa desa di Surabaya. Ini adalah kegiatan di mana keluarga pengantin pria calon kunjungan ke
calon putri yang akan berkenalan satu sama lain dan pada saat yang sama
menanyakan apakah putri sudah punya seseorang dalam hidupnya atau belum.
Biasanya kedatangan keluarga laki-laki dengan membawa souvenir seperti makanan,
kue tradisional, dll. Ini adalah diskusi kegiatan antara keluarga, dengan melibatkan
calon pengantin di mana maksud kedatangan untuk meminta putri keluarga
mengusulkan untuk anak mereka. Setelah keluarga perempuan menerima mengusulkan,
kemudian diikuti dengan agenda Memberikan Peningset (biasanya berupa: Kain,
Kebaya, Sandal, peralatan pakaian, satu set pakaian, tas, kosmetik, perhiasan,
kue dan buah), Selanjutnya, hal ini berlanjut dengan diskusi mengenai hari dan
tanggal pernikahan tersebut. Adalah kegiatan di mana pada hari ini
adalah hari terakhir untuk pengantin peri dan diyakini dalam periode akhir 1001
(seribu satu) peri yang turun ke bumi disertai pengantin pria. Pada kegiatan
Midodareni, keluarga pengantin dilakukan:
• Siraman: yaitu upacara yang menggambarkan saat akhirnya mempelai menjadi
tanggung jawab orang tua bahwa dalam ditandai dengan memandikannya dengan Bunga
Setaman oleh orang tua mempelai pria dan seorang penatua.
• Jual ("dodol" di Jawa) dawet oleh orang tua calon mempelai
pria. Apakah tahap penunjukan sebagai suami dan istri sah baik
menurut agama dan pemerintah (sesuai dengan tradisi pernikahan kalinya Surabaya
upacara kedua mempelai laki-laki tidak dibawa bersama-sama).
Upacara ini membawa bersama-sama dengan didahului dua mempelai pria dengan
prosesi kedatangan pengantin pria disertai dengan Cucuk Lampah pembawa Tombak,
pembawa ayam, (loro pangkon) kembar mayang, pengantin pria, yang terjepit di
oleh sesepuh Putri Domas, dua kerabat dan orang tua dan benar-benar dengan
musik "Jidor". Sedangkan pengantin wanita yang diawali dengan Cucuk
Lampah yang membawa nasi kuning di Bokor Kencana, Kembar Mayang pembawa,
pengantin yang terjepit oleh dua orang tua, serta pembawa ancak, bubakan, Bubak
Kawah jika pengantin adalah putri pertama anak, sebelum mempelai laki-laki
bertemu pembawa loro pangkon dan beras kuning saling berdebat tentang
pengetahuan Kejawen dan Tasawuf Islam dan dilanjutkan dengan pertempuran Pencak
Silat dan berakhir dengan kekalahan dari sisi pengantin pria. Setelah itu kedua
mempelai pria akan dibawa bersama-sama dengan cara tangan gemetar dan pengantin
pria memberikan sapu tangan (biasanya terkandung uang atau kenang-kenangan
lainnya) sebagai bekusut dan dilanjutkan dengan yang dilakukan sungkeman serta
bubakan. Setelah Temu penganten prosesi selesai, dilanjutkan dengan hiburan.
Tari Hadrah Jidor
Menari Hadrah, adalah
pengembangan dari seni islam dicampur Hadrah
musik. Tarian ini
adalah kombinasi dari budaya Islam
terutama Timur Tengah
dan Jawa. Gerakan tarian ini adalah dinamika
gerakan Rebana Terbang
pengocok bebas di
awal, namun, pada tahun 1990 beberapa
Surabaya, Gresik, Sidoarjo koreografer gerakan
dinamis digabungkan. (Tari Hadrah, merupakan
suatu pengembangan Kesenian musik Hadrah
Yang kental Artikel
Baru Nuansa islami. Humanitarian inisial merupakan
paduan consumption sector Islam kususnya Timur
Tengah Dan Jawa,
pada awalnya Humanitarian
inisial merupakan Gerak Gerakan Dinamis
para pemukul rebana
Bagus terbang secara Bebas, Sesuai penabuh
Bagus terbang. namun pada tahun 1990 Penata beberapa koreografer surabaya,
gresik, sidoarjo menyelaraskan
Gerakan Dinamis.) Pengocok menciptakan tari dalam gerakan diatur
dengan baik dan menyertai dengan
musik Terbang dan Jidor, secara umum, lengkap
dengan lagu Pujilah Tuhan dan saran untuk kehidupan
sehari-hari manusia. Musik Hadrah juga digunakan sebagai upacara
pernikahan dan lain ritual / upacara
prosesi dalam manifestasi syukuran dari tuan rumah, karena dinamis dan riang,
sehingga musik dan tarian ini adalah masyarakat
formany sangat menarik.
Undukan Doro
Undukan Doro atau
Pigeon Undukan, adalah
perlombaan merpati dengan
bersaing dua atau lebih merpati
yang tidak ada di negara lain. Pria merpati
telah diterbangkan 1000-1300 meter dan
untuk perempuan telah dipegang oleh joki. Merpati
tercepat akan menjadi pemenang dalam kompetisi ini. Di masa lalu, ini seni tradisional
sering dilakukan ketika panen sudah berakhir. Ini
seni tradisional bisa dinikmati di Suka Manunggal
Jaya jalan di Water
Park Halaman Ria Kenjeran pantai dan utara Taman Hiburan Pantai
Tari Lenggang Surabaya
Lenggang tari dilakukan
dalam pengembangan budaya masyarakat
saat ini, untuk memulihkan kesan negatif bagi citra
baik dan Tandaan
ledek kemudian Jaranan
Sandur Madura, teknik
gerakan sehingga baru muncul disebut Lenggang
Surabaya. Mendukung dengan Gamelan, Make up,
Dress, pengaturan konfigurasi, dan cara kesopanan
baru membuat Tari Lenggang lebih santun dan
lebih tepat untuk melakukan.
Ludruk
Ludruk adalah drama tradisional
dimodelkan oleh sebuah kelompok seni yang diadakan di panggung A dengan kisah
kehidupan warga sehari-hari, kisah pertempuran dan banyak lagi dan disertai
dengan lelucon dan gamelan sebagai musik. Di Surabaya pada waktu tertentu,
Ludruk pementasan bisa ditonton di Mall Ammusement Surabaya Park (THR) pada
Kusuma Bangsa 110 jalan atau Taman Budaya Cak Durasim di jalan Genteng Kali
pada 20,00-24,00 WIB.
Cak Dan Ning Surabaya
Seorang pemuda Surabaya yang berkualitas yang mewakili Surabaya di wilayah
budaya dalam melestarikan dan mampu sebagai wakil Pariwisata Surabaya. Pakaian
yang mereka kenakan adalah kain khusus Surabaya di masa lalu seperti Black
dengan tiga anak tangga Udeng Batik Pinggir Modang Putih dengan Pancot miring,
mantel Tutup dengan aksesoris, menonton rantai dengan hiasan banyak, jarik
Parikesit sarung, Rawon atau Terompah Gringsing Wiron dan memakai untuk Cak Surabaya.
Sedangkan, untuk Ning Surabaya mengenakan kumparan umum mendengar bun, Kebaya
dan kerudung renda, Batik Pesisir sarung dan sandal dekat dan anting-anting
yang panjang, gelang dan gelang emas, pin, eyeliner (Celak mata) dan Pacar.
Surabaya sebagai kota metropolitan ternyata juga masih mempunyai
berbagai macam unsur kebudayaan yang bersifat tradisional. Salah satu kekayaan
kebudayaan yang dimiliki oleh Surabaya adalah dengan banyaknya makanan-makanan
tradisonal yang masih menjadi kegemaran masyarakat Surabaya untuk
dinikmati oleh semua kalangan masyarakat.
Berbicara tentang makanan
khas kota surabaya memang tak ada habisnya , salah satunya yaitu
“semanggi” masih ingat dengan makanan khas yang satu ini ? semanggi ini adalah
salah satu diantara banyaknya makanan khas surabaya , mungkin banyak juga orang
yang tidak mengetahui makanan ini .
Semanggi ini banyak diproduksi di surabaya khususnya daerah sekitar
benowo dan manukan, tetapi semanggi juga dapat kita temui di restoran , warung
, hotel di sekitar surabaya. Namun yang membuat semanggi ini terlihat khas
yaitu saat semanggi ini dijual keliling oleh wanita separuh baya dengan membawa
bakul yang digendong di punggung serta berjalan kaki , Makanan khas kota
Surabaya disajikan di atas wadah yang terbuat dari daun pisang
(pincuk), terdiri dari beberapa jenis sayuran seperti daun semanggi, kecambah,
kale dan ditaburi dengan bumbu yang terbuat dari ubi jalar dan saus kacang
serta sambal yang terbuat dari singkong, gula jawa, terasi, petis udang, dan
cabai. bakul yang digunakan pun sangat khas yaitu terbuat dari besek yang
berisi sayur dan bumbu di bawahnya . Tetapi seiring dengan adanya budaya
modernisasi sedikit demi sedikit makanan khas kota surabaya ini
makin sulit ditemui dan diperoleh, entah karena masyarakat yang sudah tidak mau
mengkonsumsi semanggi atau penjual semanggi yang sudah tidak ingin berjualan
lagi . malah yang sering kita lihat adalah orang asing yang berkunjung datang
ke indonesia khususnya surabaya dan menyempatkan diri untuk mencicipi makanan
semanggi khas surabaya ini di hotel atau tempat-tempat mereka menginap meskipun
harga yang ditawarkan lebih relatif
mahal ketimbang semanggi yang sering kita temui dijual oleh penjual
keliling .
|
Surabaya
merupakan kota multi etnis yang kaya akan budaya. Beragam etnis bermigrasi ke
Surabaya. Sebut saja etnis Melayu, China, India, Arab dan Eropa sementara
etnis Nusantara sendiri antara Lain Madura, Sunda, Batak, Kalimantan, Bali,
Sulawesi datang dan menetap, hidup bersama serta membaur dengan penduduk asli
membentuk pluralisme budaya yang kemudian menjadi ciri khas kota Surabaya. Inilah
yang membedakan kota Surabaya dengan kota-kota di Indonesia. Bahkan ciri khas
ini sangat kental mewarnai kehidupan pergaulan sehari-hari. Sikap pergaulan
yang sangat egaliter, terbuka, berterus terang, kritik dan mengkritik
merupakan sikap hidup yang dapat ditemui sehari-hari. Bahkan kesenian
tradisonal dan makanan khasnya mencerminkan pluralisme budaya Surabaya. Budaya
daerah, tradisi dan gaya hidup yang berbeda di setiap daerah merupakan daya
tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung. Budaya daerah ini antara
lain, kesenian, pakaian adat, upacara adat, gaya hidup, dan kepercayaan. Budaya
Surabaya yang terkenal antara lain Undukan Doro, Musik Patrol dan Manten Pegon. Salah satu upaya
Pemerintah Kota Surabaya untuk melestarikan budaya kota Surabaya adalah
dengan pemilihan Cak dan Ning Surabaya, yaitu
duta budaya kota Surabaya. |
|
|
Kehidupan berkesenian Kota
Surabaya tumbuh dengan baik. Kesenian tradisional dan modern saling
melengkapi membentuk keragaman kesenian Surabaya. Kesenian tradisional tumbuh
karena perjalanan sejarah melawan penjajahan zaman dahulu sampai saat ini
tetap dilestarikan. Bentuk kesenian tradisional banyak ragamnya. Ada seni
tari, seni musik dan seni panggung. |
|
|
|
|
|
|
|
|
Upaya
untuk mewujudkan kehidupan berkesenian di Surabaya dikembangkan Dewan Kesenian
Surabaya (DKS) maupun perkumpulan-perkumpulan seni teater, seni lukis dan
musik. Pameran seni lukis maupun seni teater seringkali diselenggarakan di
Gedung Balai Pemuda. Sementara pagelaran seni tari tradisional selalu digelar
di Taman Hiburan Rakyat (THR) dan Taman Budaya. Surabaya Symphony Orchestra
(SSO) juga mengambil peran penting dalam menumbuhkan seni musik di Surabaya. |
|
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Asal
usul nama Surabaya berasal dari cerita
mitos masyarakat yaitu pertempuran antara sura (ikan hiu) dan baya dan akhirnya
menjadi kota Surabaya. Surabaya merupkan kota terbesar kedua di Indonesia yang
memiliki banyak simbol dan kebudayaan diantaranya yaitu :
- Simbol ikan sura dan buaya
- Simbol tugu pahlawan
- Simbol bamboo
runcing
- Simbol kota tua
- Simbol kapal
selam
- Simbol Gubernur
Suryo
- Simbol Mayangkara
- Simbol pesawat
B-26
- Semanggi
- Ludruk
Dari simbol dan
kebudayaan inilah Surabaya bisa popular di kalangan masyarakat sekitar bahkan
seluruh penduduk di Indonesia tahu bahwa Surabaya adalah kota yang sangat popular
di daerah timur jawa.
DAFTAR PUSTAKA
Handinoto,
Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya 1870-1940, Andi,
Yogyakarta, 1996
Kamus Besar
Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka.
Sumber: brosur Dinas Kebudayaan & Pariwisata
Sumber : www..eastjava.com





Komentar
Posting Komentar