PKBU

 

MODE POPULER PERKOTAAN



BAB I

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang Masalah

Perkotaan menurut UU Nomor 24 Tahun 1992 didefinisikan sebagai kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Dalam kamus tata ruang (1997:57) disebutkan bahwa kota adalah kawasan permukiman yang jumlah dan kepadatan penduduk yang relative tinggi, memiliki luas areal terbatas, pada umumnya bersifat non agraris, tempat sekelompok orang-orang dalam jumlah tertentu dan bertempat tinggal bersama dalam suatu wilayah geografis tertentu, cenderung berpola hubungan rasional, ekonomis dan individualistis. Haeruman (2004:1) menyatakan bahwa suatu daerah disebut sebagai kota atau perkotaan karena pertimbangan aspek-aspek tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, kegiatan utama masyarakat di sektor non pertanian, status sosial masyarakat penghuninya heterogen, baik dari segi adat, budaya dan agama. Menurut Budiharjo (1997:11), kota merupakan hasil cipta, karsa dan karya manusia yang paling rumit dan muskil sepanjang sejarah. Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa komplesitas permasalahan di daerah perkotaan terjadi akibat pertarungan kepentingan berbagai pihak dengan latar belakang, visi, misi dan motivasinya yang berbeda antara satu sama lain. Struktur, bentuk dan wajah serta penampilan kota, merupakan hasil dari penyelesaian konflik perkotaan yang selalu terjadi, dan mencerminkan perkembangan peradaban warga kota maupun pengelolaanya.

Perkembangan kota (urban development) dapat di artikan sebagai suatu perubahan menyeluruh, yaitu yang menyangkut segala perubahan di dalam masyarakat kota secara menyeluruh, baik perubahan sosial ekonomi, sosial budaya, maupun perubahan fisik (Hendarto, 1997:27). Pada umumnya terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi perkembangan kota, yaitu :

  1. Faktor penduduk, yaitu adanya pertambahan penduduk baik di sebabkan karena pertambahan alami maupun karena migrasi.
  2. Faktor ekonomi, yaitu perkembangan kegiatan usaha masyarakat.
  3. Faktor sosial budaya, yaitu perubahan pola kehidupan dan tata cara masyarakat akibat pengaruh luar, komunikasi dan sistem informasi.

Tiga faktor ini yang akan merubah mode perkotaan yang pada mulanya tradisional menjadi modern dan pada akhirnya dari modern itu bisa menjadi popular, tiga faktor ini yang akan menjadikan suatu perkotaan akan menjadi popular di kalangan masyarakat.

Surabaya adalah kota yang tergolong dalam popular perkotaan, di tinjau dari tiga faktor di atas Surabaya sangat memenuhi tiga faktor tersebut, mulai dari segi penduduk Surabaya memiliki banyak penduduk bahkan Surabaya tergolong kota terbesar kedua di Indonesia, segi ekonomi masyarakat perkotaan tergolong masyarakat industri maksudnya yaitu kebanyakan dari penduduk di kota yaitu bekerja di industri-industri setempat, segi sosial budaya Surabaya memiliki banyak kebudayaan. Surabaya bisa terkenal (popular) di kalangan masyarakat dari simbol-simbol, kebudayaan dan sebagainya. Dari simbol-simbol dan kebudayaan inilah yang akan kami bahas lebih lanjut dalam makalah ini.

 

Rumusan Masalah

            Dari latar belakang di atas, bisa di tarik sebuah rumusan masalah yaitu :

1.      Simbol-simbol apa yang bisa menjadikan Surabaya bisa popular di kalangan masyarakat ?

2.      Kebudayaan apa yang bisa menjadikan Surabaya bisa popular di kalangan masyarakat ?


BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian

          Dalam kamus besar Bahasa Indonesia mode adalah ragam (cara, bentuk) yang terpadu pada suatu waktu tertentu. Populer yaitu dikenal dan disukai orang banyak (umum). Sedangkan perkotaan dalam kamus tata ruang (1997:57) disebutkan bahwa kota adalah kawasan permukiman yang jumlah dan kepadatan penduduk yang relative tinggi, memiliki luas areal terbatas, pada umumnya bersifat non agraris, tempat sekelompok orang-orang dalam jumlah tertentu dan bertempat tinggal bersama dalam suatu wilayah geografis tertentu, cenderung berpola hubungan rasional, ekonomis dan individualistis.

          Simbol yaitu sesuatu yang melambangkan, sedangkan kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia anatara keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk social yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamanya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.

Klasifikasi Simbol Sejarah Surabaya

          Surabaya memiliki banyak simbol, dari simbol-simbol inilah Surabaya bisa di kenal di kalangan masyarakat, diantaranya yaitu :

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCPo3BVpSMzZDClRsgZZiu48XOyWZm7bl8BMGby6Zl-CAa5kYXWIYOO4zD05zAAQtgQ6zRlKfEi3Vcg21XXX88WfOqKNgTSWwwUScSouqrOLXempAf3FixGFTnfdeQtL-LRPgy9QFtcUU/s400/hero+menument+surabaya.JPG
 





 

 

 

Pasti sebagian besar dari kita banyak yang belum mengetahui, dari mana nama kota “Surabaya” berasal. Setidaknya, ada tiga keterangan yang menjelaskan tentang asal-usul nama kota Surabaya. Keterangan pertama menyebutkan, bahwa nama Surabaya awalnya ialah Churabaya, yaitu desa tempat menyeberang di tepian Sungai Brantas. Hal ini tercantum dalam prasasti Trowulan I tahun 1358 Masehi. Nama Surabaya juga tercantum di dalam Pujasastra Negara Kertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Dalam tulisan itu disebutkan Surabaya (Surabhaya) dalam pujasastra mengenai tentang perjalanan pesiar pada tahun 1365 yang dilakukan Hayam Wuruk, Raja Majapahit. Namun, Surabaya sendiri diyakini oleh sebagian besar para ahli telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti-prasasti tersebut dibuat. Seorang peneliti Belanda, GH Von Faber, dalam karyanya En Werd Een Stad Geboren (Telah Lahir Sebuah Kota) membuat hipotesis, Surabaya didirikan Raja Kertanegara tahun 1275, sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M.

Versi berikutnya mengatakan, nama Surabaya berkaitan erat dengan cerita tentang perkelahian hidup dan mati antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon, setelah mengalahkan tentara Tartar (Mongol), Raden Wijaya yang merupakan raja pertama Majapahit, mendirikan kraton di Ujung Galuh, sekarang kawasan pelabuhan Tanjung Perak, dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu. Lama kelamaan Jayengrono semakin kuat dan mandiri, karena menguasai ilmu Buaya, sehingga mengancam kedaulatan Majapahit. Untuk menaklukkan Jayengrono, diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Adu kesaktian pun dilakukan di pinggir Sungai Kalimas dekat Paneleh. Perkelahian adu kesaktian itu berlangsung tujuh hari tujuh malam dan berakhir tragis, keduanya meninggal akibat kehabisan tenaga.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMfK_J44MNpKmixhH-4i-68tAd2x7QHRwsh2hnhXabCNQSJGHyVEFVwMwyBRgjR5QUHnzzhqwHWsqgZXNOlwYPcVpJ71QnIUa-weW9k71uT1vACgLzV8LQQDGf6hEpVBnqL5P4mglG6AM/s1600/surabaya.jpgDalam versi lainnya lagi disebutkan pula, kata Surabaya muncul dari mitos pertempuran antara ikan Suro (Sura) dan Boyo (Baya atau Buaya), perlambang perjuangan antara darat dan laut. Penggambaran pertarungan itu terdapat dalam monumen suro dan boyo yang ada dekat kebun binatang di Jalan Setail Surabaya.

 

 

 

 


logo_surabayaVersi yang terakhir dikeluarkan pada tahun 1975, ketika Walikota Surabaya, Soeparno, menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Kota Surabaya. Ini artinya, pada tahun 2005 Surabaya sudah berusia 712 tahun. Penetapan itu berdasarkan atas kesepakatan sekelompok sejarawan yang dibentuk pemerintah kota, bahwa nama Surabaya berasal dari kata “sura ing bhaya” yang berarti keberanian dalam menghadapi bahaya.

 


 

 

1. Lambang berbentuk perisai segi enam yang distilir (gesty leerd), yang maksudnya melindungi Kota Besar Surabaya.

2. Lukisan Tugu Pahlawan melambangkan kepahlawanan putera-puteri Surabaya dalam mempertahankan Kemerdekaan melawan kaum penjajah.

3. Lukisan ikan Sura dan Baya yang berarti Sura Ing Baya melambangkan sifat keberanian putera-puteri Surabaya yang tidak gentar menghadapi sesuatu bahaya.

4. Warna-warna biru, hitam, perak (putih) dan emas (kuning) dibuat sejernih dan secermelang mungkin, agar dengan demikian dihasilkan suatu lambang yang memuaskan.

http://www.transsurabaya.com/wp-content/uploads/2011/02/2011-02-09-077-Monumen-Bambu-Runcing.jpg
 

 

 

 

 

 


Sebuah monumen berdiri tegak diatas jalan Jendral Panglima Sudirman yang merupakan jalan utama lalu lintas yang padat di Kota Pahlawan ini. Monumen Bambu Runcing namanya, dengan berbentuk sekumpulan bambu runcing yang merupakan lambang semangat arek-arek Suroboyo saat melawan penjajah dengan menggunakan senjata seadanya walaupun dengan sebilah bambu yang ujungnya diruncingkan.

Bambu runcing merupakan ikon kota Surabaya selain Tugu Pahlawan. Wisatawan dengan kendaraan besar dan kecil dapat memarkir di sekitar taman sebelah timur jalan. Di ujung Jalan Embong Ploso yang menjadi pertemuan tersebut terdapat taman yang cukup teduh sehingga banyak dimanfaatkan para pengendara motor untuk santai sejenak melepas lelah. Monumen ini terdiri dari 5 buah pilar beton yang tingginya tidak seragam dibentuk menyerupai bambu yang runcing. Ketinggian bambu runcing yang tertinggi diperkirakan sekitar belasan meter. Pada saat tertentu, pompa air dijalankan sehingga air akan keluar dari masing-masing lubang bambu. Monumen ini dikelilingi berbagai tanaman hias warna-warni sehingga tampak asri dan segar sesaat melintasi perjalanan disekitar Surabaya Pusat yang lumayan penat akan kemacetan saat menjelang pagi dan sore.

http://www.surabaya.go.id/data/profilkota/pfk1_pict1.jpg

 

 

 

            Cerita Sejarah Kota Surabaya kental dengan nilai kepahlawanan. Sejak awal berdirinya, kota ini memiliki sejarah panjang yang terkait dengan nilai-nilai heroisme. Istilah Surabaya terdiri dari kata sura (berani) dan baya (bahaya), yang kemudian secara harfiah diartikan sebagai berani menghadapi bahaya yang datang. Nilai kepahlawanan tersebut salah satunya mewujud dalam peristiwa pertempuran antara Raden Wijaya dan Pasukan Mongol pimpinan Kubilai Khan di tahun 1293. Begitu bersejarahnya pertempuran tersebut hingga tanggalnya diabadikan menjadi tanggal berdirinya Kota Surabaya hingga saat ini, yaitu 31 Mei.

 

 

 

http://www.surabaya.go.id/data/profilkota/pfk1_pict3.jpg

 

 

 

 

 

            Heroisme masyarakat Surabaya paling tergambar dalam pertempuran 10 Nopember 1945. Arek-arek Suroboyo, sebutan untuk orang Surabaya, dengan berbekal bambu runcing berani melawan pasukan sekutu yang memiliki persenjataan canggih. Puluhan ribu warga meninggal membela tanah air. Peristiwa heroik ini kemudian diabadikan sebagai peringatan Hari Pahlawan. Sehingga membuat Surabaya dilabeli sebagai Kota Pahlawan.
Sejarah Surabaya juga berkaitan dengan aktivitas perdagangan. Secara geografis Surabaya memang diciptakan sebagai kota dagang dan pelabuhan. Surabaya merupakan pelabuhan gerbang utama Kerajaan Majapahit. Letaknya yang dipesisir utara Pulau Jawa membuatnya berkembang menjadi sebuah pelabuhan penting di zaman Majapahit pada abad ke - 14. Berlanjut pada masa kolonial, letak geografisnya yang sangat strategis membuat pemerintah Kolonial Belanda pada abad ke - 19, memposisikannya sebagai pelabuhan utama yang berperan sebagai collecting centers dari rangkaian terakhir kegiatan pengumpulan hasil produksi perkebunan di ujung Timur Pulau Jawa, yang ada di daerah pedalaman untuk diekspor ke Eropa.

Monumen - monumen Bersejarah di Surabaya Kota Surabaya memiliki bukti Sejarah yang sangat beragam. Monumen di Surabaya menggambarkan betapa beraninya para Pejuang kita dalam melawan penjajah demi Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

 

Monumen Kapal Selam, atau disingkat Monkasel, adalah sebuah museum kapal selam yang terdapat di Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya. Terletak di pusat kota, monumen ini sebenarnya merupakan kapal selam KRI Pasopati 410, salah satu armada Angkatan Laut Republik Indonesia buatan Uni Soviet tahun 1952. Kapal selam ini pernah dilibatkan dalam Pertempuran Laut Aru untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan Belanda. Kapal Selam ini kemudian dibawa ke darat dan dijadikan monumen untuk memperingati keberanian pahlawan Indonesia. Monumen ini berada di Jalan Pemuda, tepat di sebelah Plasa Surabaya. Selain itu di tempat ini juga terdapat sebuah pemutaran film, dimana di tampilkan proses peperangan yang terjadi di Laut Aru. Jika anda ingin mengunjungi tempat wisata ini anda juga akan ditemani oleh seorang pemandu lokal yang terdapat di sana

Kota Surabaya juga dikenal sebagai basis TNI Angkatan Laut Republik Indonesia. Komando Pendidikan Angkatan Laut dan Komando Armada Timur TNI AL berlokasi di Surabaya. Tidak heran bila beberapa monumen sebagai penghargaan atas jasa-jasa para perajurit yang gugur dalam membela kemerdekaan Negara Indonesia, juga berdiri megah di kota ini. Monumen Bahari salah satunya, terletak tepat di depan gedung yang dahulu Museum Mpu Tantular, di sudut antara Jalan Raya Diponegoro dan Raya Darmo, di wilayah Surabaya Selatan.

Monumen Gubernur Suryo adalah monumen penghormatan yang ditujukan untuk Gubernur pertama Jawa Timur yang telah terbunuh selama pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. Monumen ini terletak di Kompleks Taman Apsari di Jalan Gubernur Suryo di depan Gedung Negara Grahadi. Di bawah patung terdapat prasasti yang ditulis pada 9 November 1945, pukul 23.00 WIB di Nirom Broadcast, Jalan Embong Malang Surabaya (saat ini Hotel JW Marriot). Prasasti tersebut berbunyi: "Berulang kali kami telah diberitahu bahwa lebih baik jatuh berkeping-keping daripada dijajah lagi. Dan sekarang dalam menghadapi ultimatum Inggris, kita akan berpegang teguh untuk menolak ultimatum "Selain sebagai simbol kebesaran Gubernur Suryo, di sekitar monumen tersebut juga selalu di jadikan tempat berkumpul pemuda pemudi Surabaya saat malam minggu atau saat malam di hari-hari biasa.

Monumen Mayangkara terletak di wilayah Surabaya Selatan dekat dengan Jembatan Wonokromo.  Monumen ini berbentuk patung Kuda Mayangkara dengan penunggangnya yaitu Letkol. R. Djarot Soebiyantoro mantan Komandan Kompi Djarot Batalyon 503 Mayangkara. Batalion ini berhasil menerobos pertahanan Belanda pada tanggal 12 Juli 1949 dan masuk Surabaya. Mayangkara sendiri merupakan nama dari kuda putih yang dinaiki Let. Kol. R. Djarot Soebijantoro.  Monumen Mayangkara ini dibangun oleh keluarga besar Batalyon Infanteri 503/Mayangkara Kodam VIII Brawijaya, diresmikan oleh Mayjend TNI SOELARSO Pangdam V Brawijaya pada 4 April 1985.

Monumen Pesawat B – 26 Intruder yang terletak di Taman Prestasi Surabaya ini, diresmikan oleh Walikota Surabaya pada saat itu, Bambang Dwi Hartono pada tanggal 19 Juli 2006. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, Pesawat B – 26 Intruder sangat berjasa dalam memerangi separatis didalam negeri.

Klasifikasi Kebudayaan Surabaya

Tari Remo


            Tari Remo adalah tarian menyambut khusus dari Jawa Timur yang menggambarkan karakteristik dinamis dari Surabaya / Jawa Timur Masyarakat sebagai gambaran keberanian Pangeran. Ini didukung oleh musik gamelan dan Gending ini ada Bonang, Saron, Gambang, Gender, Slentem, sitar, Flute, Ketuk, Kempul, dan Gong dengan ritme Slendro. Biasanya, itu adalah menggunakan Gending Jula Juli ritme Surabaya, dan kadang-kadang Walang Kekek dilanjutkan dengan, Gedong Rancak, Krucilan atau penciptaan baru lainnya.
            Remo tari dapat menari dengan gaya wanita atau gaya pria secara bersama-sama atau alternatif. Biasanya tarian ini dilakukan sebagai pembukaan Ludruk seni atau Wayang Kulit di Jawa Timur. Untuk penari, mereka mengenakan kostum yang disebut Sawonggaling atau gaya Surabaya terdiri dari di atas kain hitam menunjukkan dari 18 abad, beludru celana sepenuhnya dengan Batik dan ornamen emas. Di pinggang ada belt dan Kris. Di paha kanan, mereka memakai selendang yang digantung sampai tumit mereka. Penari perempuan memakai bun mendengarnya. Remo disebutkan bahwa telah dipromosikan pada tahun 1900, maka itu berguna untuk berkomunikasi dengan banyak orang.

 

Jongkong Surabaya

            Dilihat dari bentuk Jongkong Surabaya menyerupai kue Lapis, namun Jongkong Surabaya berwarna hijau karena menggunakan daun pandan dalam mewarnai dan menambah aroma Jongkong. Jongkong Terbuat dari campuran tepung beras, tepung, gula pasir, garam, dan santan. Dan disajikan dengan parutan kelapa.

Lontong Balap

            Surabaya asli khas makanan yang dimasak dari kue beras, kecambah, tahu goreng, Lento (terbuat dari kacang kedelai), kecap, bawang goreng dan sambal. Lento terbuat dari beras kacang / Tholo dengan tepung, setelah itu ditambah dengan kencur, bawang musim semi, kasar berkulit buah jeruk dan garam secukupnya. Hal ini dibentuk bulat menyerupai kroket tersebut. Lontong Balap penuh kecambah. Lontong Balap tidak dilayani dengan baik tanpa Kerang sate. Kerang sate, ismade dari kerang yang direbus dan kemudian disajikan seperti sate, namun tanpa dipanggang. Lontong Balap akan lebih lezat untuk makan jika ditambahkan dengan kecap panas dan sambal.

Lontong Kupang

            Kupang Lontong adalah makanan khas pantai yang terdiri dari kue beras dan dicampur dengan kaldu kupang (sejenis tiram / ​​kerang kecil), dan disajikan dengan olahan cabai sesuai dengan selera pelanggan. Makanan ini dijajakan oleh ditanggung ke seluruh kota Surabaya dan juga dapat ditemukan di Pujasera.

Rujak Cingur

            Rujak cingur adalah makanan ringan yang menjadi makanan khas Surabaya, yang terdiri dari beberapa jenis buah irisan seperti mentimun, bengkoang, mangga muda, nanas, dan kedondong, itu akan ditambahkan dengan kue beras, tahu, tempe, bendoyo atau krai (sejenis mentimun rebus) dan cingur serta sayuran (kecambah, sayuran berdaun & kacang panjang) dan dicampur dengan saus atau bumbu yang terbuat dari udang yang difermentasi, cabai, kacang tanah goreng, bawang goreng & garam. Ini telah disebut sebagai rujak cingur karena bumbu olahan yang digunakan adalah udang fermentasi dan sepotong cingur, sedangkan rujak umumnya tanpa menggunakan bahan-bahan. Hal ini dapat disajikan dengan pincuk daun pisang dari (daun pisang) atau piring yang biasanya disertai dengan chip.

Semanggi Surabaya

            Makanan khas Surabaya yang disajikan pada piring yang terbuat dari daun pisang (pincuk), terdiri dari berbagai sayuran beberapa seperti daun Semanggi, kecambah, sayuran berdaun dan dituangkan dengan rempah-rempah yang dibuat dari ubi jalar dan sesuai saus cabai dengan rasa kegiatan konsumen ini . Ini biasanya bisa dimakan dengan Uli chip (terbuat dari beras). Penjual umumnya seorang wanita tua, dibawa ke belakang mereka dan dijajakan ke seluruh Surabaya. Ini makanan khas dapat ditemukan di Pujasera saat ini.

Wayang Orang

            Wayang Orang adalah cerita tradisional epik dimainkan oleh sekelompok orang sebagai pemain di panggung dengan Mahabarata dan Ramayana epik. acara ini didukung oleh Gamelan Pelog musik dan Slendro, dengan Sinden. Hal ini biasanya dilakukan di hari saat ini di Taman Hiburan Rakyat (THR) pada Kusuma Bangsa 116 jalan dan Taman Bungkul Surabaya pada Genteng Kali jalanan.

Musik Patrol

            Musik Patrol adalah seni tradisional dengan menggunakan alat sederhana seperti gendang bambu atau kayu yang dimainkan dengan irama yang harmonis dalam menciptakan suara lembut. Musik Patrol telah digunakan untuk patroli malam Ronda), untuk membangunkan masyarakat dalam rangka untuk memeriksa situasi rumah mereka dari pencuri atau perampok. Setelah itu, diperluas untuk membangunkan masyarakat muslim untuk berpuasa. Selanjutnya meningkatkan musik Patrol, instrumen telah ditambahkan dengan Jidor, Guitor, Ketipung, Angklung, dan banyak lagi. Hal ini dapat dinikmati di setiap malam Ramadhan di beberapa kabupaten di tengah malam.

Penganten Pegon Surabaya

            Surabaya sebagai Kota memperkaya Indamardi Garpar dengan Budaya tradisional yang tercermin dalam setiap tradisi daerah meskipun dalam seni budaya. Sebagai warga Surabaya yang heterogen (keturunan Jawa, Madura, Bugis, Palembang serta Arab, India, Pakistan, Cina dll), yang pasti budaya tradisi daerah adalah budaya gabungan dari beberapa tradisi, namun elemen asli masih terlihat. Dalam upacara dilestarikan budaya misi pameran seni di Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah telah melayani "Prosesi Pengantin Pegon Surabaya" budaya. Pengantin Surabaya Lasim bernama Pengantin Pegon adalah tradisi sampai saat ini yang masih hidup di beberapa desa di Surabaya. Ini adalah kegiatan di mana keluarga pengantin pria calon kunjungan ke calon putri yang akan berkenalan satu sama lain dan pada saat yang sama menanyakan apakah putri sudah punya seseorang dalam hidupnya atau belum. Biasanya kedatangan keluarga laki-laki dengan membawa souvenir seperti makanan, kue tradisional, dll. Ini adalah diskusi kegiatan antara keluarga, dengan melibatkan calon pengantin di mana maksud kedatangan untuk meminta putri keluarga mengusulkan untuk anak mereka. Setelah keluarga perempuan menerima mengusulkan, kemudian diikuti dengan agenda Memberikan Peningset (biasanya berupa: Kain, Kebaya, Sandal, peralatan pakaian, satu set pakaian, tas, kosmetik, perhiasan, kue dan buah), Selanjutnya, hal ini berlanjut dengan diskusi mengenai hari dan tanggal pernikahan tersebut. Adalah kegiatan di mana pada hari ini adalah hari terakhir untuk pengantin peri dan diyakini dalam periode akhir 1001 (seribu satu) peri yang turun ke bumi disertai pengantin pria. Pada kegiatan Midodareni, keluarga pengantin dilakukan:

• Siraman: yaitu upacara yang menggambarkan saat akhirnya mempelai menjadi tanggung jawab orang tua bahwa dalam ditandai dengan memandikannya dengan Bunga Setaman oleh orang tua mempelai pria dan seorang penatua.

• Jual ("dodol" di Jawa) dawet oleh orang tua calon mempelai pria. Apakah tahap penunjukan sebagai suami dan istri sah baik menurut agama dan pemerintah (sesuai dengan tradisi pernikahan kalinya Surabaya upacara kedua mempelai laki-laki tidak dibawa bersama-sama).
Upacara ini membawa bersama-sama dengan didahului dua mempelai pria dengan prosesi kedatangan pengantin pria disertai dengan Cucuk Lampah pembawa Tombak, pembawa ayam, (loro pangkon) kembar mayang, pengantin pria, yang terjepit di oleh sesepuh Putri Domas, dua kerabat dan orang tua dan benar-benar dengan musik "Jidor". Sedangkan pengantin wanita yang diawali dengan Cucuk Lampah yang membawa nasi kuning di Bokor Kencana, Kembar Mayang pembawa, pengantin yang terjepit oleh dua orang tua, serta pembawa ancak, bubakan, Bubak Kawah jika pengantin adalah putri pertama anak, sebelum mempelai laki-laki bertemu pembawa loro pangkon dan beras kuning saling berdebat tentang pengetahuan Kejawen dan Tasawuf Islam dan dilanjutkan dengan pertempuran Pencak Silat dan berakhir dengan kekalahan dari sisi pengantin pria. Setelah itu kedua mempelai pria akan dibawa bersama-sama dengan cara tangan gemetar dan pengantin pria memberikan sapu tangan (biasanya terkandung uang atau kenang-kenangan lainnya) sebagai bekusut dan dilanjutkan dengan yang dilakukan sungkeman serta bubakan. Setelah Temu penganten prosesi selesai, dilanjutkan dengan hiburan.

 

Tari Hadrah Jidor

            Menari Hadrah, adalah pengembangan dari seni islam dicampur Hadrah musik. Tarian ini adalah kombinasi dari budaya Islam terutama Timur Tengah dan Jawa. Gerakan tarian ini adalah dinamika gerakan Rebana Terbang pengocok bebas di awal, namun, pada tahun 1990 beberapa Surabaya, Gresik, Sidoarjo koreografer gerakan dinamis digabungkan. (Tari Hadrah, merupakan suatu pengembangan Kesenian musik Hadrah Yang kental Artikel Baru Nuansa islami. Humanitarian inisial merupakan paduan consumption sector Islam kususnya Timur Tengah Dan Jawa, pada awalnya Humanitarian inisial merupakan Gerak Gerakan Dinamis para pemukul rebana Bagus terbang secara Bebas, Sesuai penabuh Bagus terbang. namun pada tahun 1990 Penata beberapa koreografer surabaya, gresik, sidoarjo menyelaraskan Gerakan Dinamis.) Pengocok menciptakan tari dalam gerakan diatur dengan baik dan menyertai dengan musik Terbang dan Jidor, secara umum, lengkap dengan lagu Pujilah Tuhan dan saran untuk kehidupan sehari-hari manusia. Musik Hadrah juga digunakan sebagai upacara pernikahan dan lain ritual / upacara prosesi dalam manifestasi syukuran dari tuan rumah, karena dinamis dan riang, sehingga musik dan tarian ini adalah masyarakat formany sangat menarik.

Undukan Doro

            Undukan Doro atau Pigeon Undukan, adalah perlombaan merpati dengan bersaing dua atau lebih merpati yang tidak ada di negara lain. Pria merpati telah diterbangkan 1000-1300 meter dan untuk perempuan telah dipegang oleh joki. Merpati tercepat akan menjadi pemenang dalam kompetisi ini. Di masa lalu, ini seni tradisional sering dilakukan ketika panen sudah berakhir. Ini seni tradisional bisa dinikmati di Suka Manunggal Jaya jalan di Water Park Halaman Ria Kenjeran pantai dan utara Taman Hiburan Pantai

Tari Lenggang Surabaya

            Lenggang tari dilakukan dalam pengembangan budaya masyarakat saat ini, untuk memulihkan kesan negatif bagi citra baik dan Tandaan ledek kemudian Jaranan Sandur Madura, teknik gerakan sehingga baru muncul disebut Lenggang Surabaya. Mendukung dengan Gamelan, Make up, Dress, pengaturan konfigurasi, dan cara kesopanan baru membuat Tari Lenggang lebih santun dan lebih tepat untuk melakukan.

Ludruk

            Ludruk adalah drama tradisional dimodelkan oleh sebuah kelompok seni yang diadakan di panggung A dengan kisah kehidupan warga sehari-hari, kisah pertempuran dan banyak lagi dan disertai dengan lelucon dan gamelan sebagai musik. Di Surabaya pada waktu tertentu, Ludruk pementasan bisa ditonton di Mall Ammusement Surabaya Park (THR) pada Kusuma Bangsa 110 jalan atau Taman Budaya Cak Durasim di jalan Genteng Kali pada 20,00-24,00 WIB.

 

Cak Dan Ning Surabaya

            Seorang pemuda Surabaya yang berkualitas yang mewakili Surabaya di wilayah budaya dalam melestarikan dan mampu sebagai wakil Pariwisata Surabaya. Pakaian yang mereka kenakan adalah kain khusus Surabaya di masa lalu seperti Black dengan tiga anak tangga Udeng Batik Pinggir Modang Putih dengan Pancot miring, mantel Tutup dengan aksesoris, menonton rantai dengan hiasan banyak, jarik Parikesit sarung, Rawon atau Terompah Gringsing Wiron dan memakai untuk Cak Surabaya. Sedangkan, untuk Ning Surabaya mengenakan kumparan umum mendengar bun, Kebaya dan kerudung renda, Batik Pesisir sarung dan sandal dekat dan anting-anting yang panjang, gelang dan gelang emas, pin, eyeliner (Celak mata) dan Pacar.

http://sos.sebelas.net/files/2012/09/nella.jpgSurabaya sebagai kota metropolitan ternyata juga masih mempunyai berbagai macam unsur kebudayaan yang bersifat tradisional. Salah satu kekayaan kebudayaan yang dimiliki oleh Surabaya adalah dengan banyaknya makanan-makanan tradisonal yang masih menjadi  kegemaran masyarakat Surabaya untuk dinikmati oleh semua kalangan masyarakat.

 

 

 

 

 

 Berbicara tentang makanan khas kota surabaya memang tak ada habisnya , salah satunya yaitu “semanggi” masih ingat dengan makanan khas yang satu ini ? semanggi ini adalah salah satu diantara banyaknya makanan khas surabaya , mungkin banyak juga orang yang tidak mengetahui makanan ini .

Semanggi ini banyak diproduksi di surabaya khususnya daerah sekitar benowo dan manukan, tetapi semanggi juga dapat kita temui di restoran , warung , hotel di sekitar surabaya. Namun yang membuat semanggi ini terlihat khas yaitu saat semanggi ini dijual keliling oleh wanita separuh baya dengan membawa bakul yang digendong di punggung serta berjalan kaki , Makanan khas kota Surabaya disajikan di atas wadah yang terbuat dari daun pisang (pincuk), terdiri dari beberapa jenis sayuran seperti daun semanggi, kecambah, kale dan ditaburi dengan bumbu yang terbuat dari ubi jalar dan saus kacang serta sambal yang terbuat dari singkong, gula jawa, terasi, petis udang, dan cabai. bakul yang digunakan pun sangat khas yaitu terbuat dari besek yang berisi sayur dan bumbu di bawahnya . Tetapi seiring dengan adanya budaya modernisasi sedikit demi sedikit makanan khas kota surabaya ini makin sulit ditemui dan diperoleh, entah karena masyarakat yang sudah tidak mau mengkonsumsi semanggi atau penjual semanggi yang sudah tidak ingin berjualan lagi . malah yang sering kita lihat adalah orang asing yang berkunjung datang ke indonesia khususnya surabaya dan menyempatkan diri untuk mencicipi makanan semanggi khas surabaya ini di hotel atau tempat-tempat mereka menginap meskipun harga yang ditawarkan lebih relatif http://www.surabaya.go.id/data/profilkota/pfk24_pict3.jpgmahal ketimbang semanggi yang sering kita temui dijual oleh penjual keliling .

 

 

 

 

 

            Surabaya merupakan kota multi etnis yang kaya akan budaya. Beragam etnis bermigrasi ke Surabaya. Sebut saja etnis Melayu, China, India, Arab dan Eropa sementara etnis Nusantara sendiri antara Lain Madura, Sunda, Batak, Kalimantan, Bali, Sulawesi datang dan menetap, hidup bersama serta membaur dengan penduduk asli membentuk pluralisme budaya yang kemudian menjadi ciri khas kota Surabaya. Inilah yang membedakan kota Surabaya dengan kota-kota di Indonesia. Bahkan ciri khas ini sangat kental mewarnai kehidupan pergaulan sehari-hari. Sikap pergaulan yang sangat egaliter, terbuka, berterus terang, kritik dan mengkritik merupakan sikap hidup yang dapat ditemui sehari-hari. Bahkan kesenian tradisonal dan makanan khasnya mencerminkan pluralisme budaya Surabaya. Budaya daerah, tradisi dan gaya hidup yang berbeda di setiap daerah merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung. Budaya daerah ini antara lain, kesenian, pakaian adat, upacara adat, gaya hidup, dan kepercayaan. Budaya Surabaya yang terkenal antara lain Undukan Doro, Musik Patrol dan Manten Pegon. Salah satu upaya Pemerintah Kota Surabaya untuk melestarikan budaya kota Surabaya adalah dengan pemilihan Cak dan Ning Surabaya, yaitu duta budaya kota Surabaya.

            Kehidupan berkesenian Kota Surabaya tumbuh dengan baik. Kesenian tradisional dan modern saling melengkapi membentuk keragaman kesenian Surabaya. Kesenian tradisional tumbuh karena perjalanan sejarah melawan penjajahan zaman dahulu sampai saat ini tetap dilestarikan. Bentuk kesenian tradisional banyak ragamnya. Ada seni tari, seni musik dan seni panggung.

            Sudah sangat dikenal kalau Ludruk adalah kesenian rakyat asli Jawa Timur. Kesenian rakyat yang berasal dari Jombang ini, menjadi maskot budaya khas Surabaya, terutama tarian
Ngremo – nya. Ludruk sudah ada sejak jaman Jepang sekitar tahun 1942. Dan menjadi sangat populer di Surabaya sejak zaman revolusi. Gending Jula-Juli Suroboyo, Tari Remo, Kentrung, Okol, Seni Ujung, Besutan, upacara Loro Pangkon, Tari Lenggang Suroboyo dan Tari Hadrah Jidor. Sementara kesenian modern juga tumbuh pesat. Sejumlah sanggar tari berkonsentrasi mengembangkan perpaduan seni tradisional dan modern. Namun demikian banyak group tari mengembangkan kreasi modern, misalnya Marlupi Dance, Gito Maran.

http://www.surabaya.go.id/data/profilkota/pfk24_pict4.jpghttp://www.surabaya.go.id/data/profilkota/pfk24_pict1.jpg 

 

 

 

 

            Upaya untuk mewujudkan kehidupan berkesenian di Surabaya dikembangkan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) maupun perkumpulan-perkumpulan seni teater, seni lukis dan musik. Pameran seni lukis maupun seni teater seringkali diselenggarakan di Gedung Balai Pemuda. Sementara pagelaran seni tari tradisional selalu digelar di Taman Hiburan Rakyat (THR) dan Taman Budaya. Surabaya Symphony Orchestra (SSO) juga mengambil peran penting dalam menumbuhkan seni musik di Surabaya.

 

 

 

 

 


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

            Asal usul nama Surabaya berasal dari cerita mitos masyarakat yaitu pertempuran antara sura (ikan hiu) dan baya dan akhirnya menjadi kota Surabaya. Surabaya merupkan kota terbesar kedua di Indonesia yang memiliki banyak simbol dan kebudayaan diantaranya yaitu :

  1. Simbol ikan sura dan buaya
  2. Simbol tugu pahlawan
  3. Simbol bamboo runcing
  4. Simbol kota tua
  5. Simbol kapal selam
  6. Simbol Gubernur Suryo
  7. Simbol Mayangkara
  8. Simbol pesawat B-26
  9. Semanggi
  10. Ludruk            

 

Dari simbol dan kebudayaan inilah Surabaya bisa popular di kalangan masyarakat sekitar bahkan seluruh penduduk di Indonesia tahu bahwa Surabaya adalah kota yang sangat popular di daerah timur jawa.


DAFTAR PUSTAKA

Handinoto, Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya 1870-1940, Andi, Yogyakarta, 1996

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka.

Sumber: brosur Dinas Kebudayaan & Pariwisata

Sumber : www..eastjava.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi