Poblematika Bahasa Indonesia

 

Problematika Bahasa Indonesia

Kesalahan Penggunaan Huruf

Oleh:

Abdullah Syarofi (121111132)

  1. Adzan →   Azan

Pada contoh kasus di atas, kata Azan merupakan kata serapan dari kata bahasa arab Adzan. Meskipun demikian, kata serapan tersebut telah mengalami pembakuan dari kata asli Bahasa Arab yaitu Adzan menjadi Azan (Sesuai dengan KBBI).  Namun dalam kenyataannya, kata tersebut tidak banyak digunakan dengan benar. Kebanyakan fakta bahasa menyatakan kata adzan ditulis dengan adzan bukan azan sesuai ketentuan EYD. Sebagai contoh, dapat kita temukan di dalam penulisan buku tuntunan shalat dan buku-buku lain yang berkenaan dengan amalan agama. Penulisannya pun tetap ditulis dengan huruf [dz] mewakili huruf asli dari bahasa Arab yang diserap, padahal itu salah karena didalam sistem penyerapan bahasa Indonesia terhadap bahasa Arab, beberapa kata atau fonem yang ada di dalam bahasa Arab dapat upayakan tergantikan dengan fonem yang berlaku di Indonesia, yaitu fonem-fonem terdekat pengucapannya.

Sesungguhnya yang menjadi masalah adalah hal tersebut. Sebanyak 8 buah fonem bahasa Arab itu yang selalu dipakai dalam bahasa Indonesia harus disesuaikan dengan salah satu fonem  Indonesia yang terdekat ucapannya dengan fonem bahasa Indonesia itu ( Lubis,71:1993). 

Selain pada permasalahan system, penyerapan bahasa arab terhadap bahasa Indonesia juga dipengaruhi dalam segi budaya, meliputi realitas beragama masyarakat umum, yang menyatakan untuk dekat dengan pengucapan asli atau biasa disebut dengan istilah sesuai dengan Qira'a atau kesesuaian pengucapan dengan pengucapan  sesuai aslinya, sehingga fenomena-fenomena yang berkaitan dengan hal tersebut selalu tidak sesuai dengan EYD namun sesuai dengan bahasa Arab atau bahasa aslinya (Alqur'an). Termasuk didalamnya adalah memasukkan aspek ibadah didalamnya. Maka tidak menutup kemungkinan kesalahan-kesalahan yang dibuat didalam penyebutan istilah-istilah hasil serapan dari bahasa Arab dilakukan dengan kesengajaan atau dapat dikatakan sebagai ragam pengistilahan.

  1. Dzuhur      Zuhur

Seperti halnya dengan contoh kasus sebelumnya, kata diatas merupakan bentuk kata serapan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia dan bentuk kata serapannya sudah disesuaikan dengan EYD. Hal yang sangat mencolok dalam istilah diatas adalah hampir semua pengistilahan yang menyatakan hal tersebut adalah Dzuhur, dan ada pula yang menyatakan Duhur. Kembali kepada permasalahan penyerapan kata, lagi-lagi fonem [dz] didekatkan dengan fonem yang paling dekat pengucapannya yaitu fonem [z], sehingga dalam kamus besar bahasa Indonesia ditulis menjadi Zuhur yang memiliki arti 1 waktu tengah hari; 2 waktu salat wajib setelah matahari tergelincir sampai menjelang petang; 3 Isl (huruf awal ditulis dng kapital) salat wajib sebanyak empat rakaat pd waktu tengah hari sampai menjelang petang.

Menilik pengartian tersebut maka kata Zuhur memang merupakan kata hasil serapan dari bahasa Arab yang sudah disempurnakan. Namun lagi-lagi fakta kebahasaan menyatakan hal yang berkebalikan, yaitu penggunaan istilah sejenis Zuhur  menggunakan istilah Dhuhur. Kasus-kasus semacam ini memang sering ditemukan dalam khazanah bahasa Indonesia. Secara kesejarahan bahasa, bahasa Indonesia memiliki pengaruh bahasa yang tidak sedikit, meliputi bahasa Belanda, Sansekerta, Pali, Latin, Yahudi, dan Arab. Namun dari sekian banyak itu, pengaruh yang hingga saat ini sangat terlihat jelas dan sering tumpang tindih adalah pengaruh berasal dari bahasa Arab. Hal tersebut dapat kita curigai sebagai produk budaya masyarakat yang secara mayoritas beragama Islam, sehingga dapat dikatakan kedekatan dan kebiasaan mengucapkan kata-kata atau istilah-istilah dalam bahasa arab dalam kehidupan sehari-hari mengakibatkan  beberapa kesalahan ejaan atau kesalahan aturan bahasa sesuai khazanah bahasa Indonesia.

Hal tersebut juga berlaku pada kata-kata berikut:

Adzab = Azab

Syah = Sah

Dzarurat = Darurat

Izin = Ijin

Syarikat = Sarikat

Dziarah = Ziarah

Khusus = Kusus

Dzalim = Zalim

  1. Jerawat    Jrawat

Jerawat berasal dari bahasa Indonesia yang memiliki arti bisul kecil-kecil berisi lemak, terutama pada muka. Pada kata jerawat ini memiliki kasus yang sering diremehkan dan diabaikan oleh setiap penutur bahasa. Dalam hal ini seharusnya kita berorientasi kepada ucapan dan bukan kepada tulisan, bahasa adalah ucapan dan bukan tulisan. Dalam pengucapan sebenarnya kata "Jerawat" memiliki huruf vokal "e" sebelum vokal "r", akan tetapi ketika kita mengucapkan kata ini huruf vokal "e" seolah-olah sudah terhapuskan dan sudah tidak digunakana lagi atau tidak dilafalkan. Kata tulisan "Jerawat" sudah berubah menjadi "Jrawat" ketika diucapkan. Lebih jelas lagi dikuatkan dengan pernyataan yang kita dapati pada ejaan Suwandi yang menetapkan bahwa dalam pemakaian e pepet dalam kata-kata yang bersuku tiga boleh dihilangkan. Seperti kata :

Perahu menjadi prahu                                     Menteri menjadi mentri

Putera menjadi putra                                       belakang menjadi blakang

  1. Bandung    Mbandung

Penutur Jawa akan berbahasa Indonesia dengan membawa unsur-unsur bahasa Jawanya itu ke dalam bahasa Indonesia sehingga terjadilah interferensi itu. Setiap bunyi letup bersuara diwarnai dengan bunyi aspirat, dan apabila bunyi-bunyi itu tersebut terdapat di awal kata yang menunjukkan tempat maka kata itu didahului nasal.  Apabila penutur bahasa Jawa mengucapkan /b/ yang berada di awal maka alkan diiringi bunyi /m/. seperti kasus pada kata Bandung menjadi Mbandung. Dalam bahasa tulis kata Bandung ditulis tanpa awalan huruf /m/, akan tetapi dalam pengucapannya kata bandung akan mendapat awalan huruf /m/ dengan pelafalan Mbandung. Contoh lain:

Bogor menjadi Mbogor                      Balun menjadi Mbalun

Banten menjadi Mbanten                    Blitar menjadi Mblitar

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi