Proposal Penelitian

 

PROPOSAL PENELITIAN

 

VARIASI BAHASA DUKUN PESUGIHAN, PREWANGAN, DAN TABIB  DI KECAMATAN GLAGAH KABUPATEN LAMONGAN

TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK

 


 

OLEH

ABDULLAH SYAROFI

121111132

 

 

DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2014


LEMBAR PENGESAHAN

 

  1. Judul Proposal                        : VARIASI BAHASA DUKUN PESUGIHAN, PREWANGAN, DAN TABIB  DI KECAMATAN GLAGAH KABUPATEN LAMONGAN TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK
  2. Bidang Kajian                         : Linguistik
  3. Pengaju Proposal       

a.       Nama Lengkap                  : Abdullah Syarofi

b.      NIM                                  : 121111132

c.       Jurusan                              : Sastra Indonesia

d.      Fakultas                             : Ilmu Budaya

e.       Universitas                        : Airlangga

f.        Alamat                              : Keputih Gang III No. 47 A, Sukolilo – Surabaya

g.      E-mail                                : syarofi.syafi@yahoo.com

h.      No. Handphone                : 08563338053

  1. Dosen Pembimbing

a.       Nama Lengkap dan Gelar : Bea Anggraeni, S.S., M.Hum.

b.      NIP                                   : 196909231994042001

 

Surabaya, 15 Juli 2014

       Dosen Pembimbing                                                    Penulis

 

 

 

Bea Anggraeni, S.S., M.Hum.                                  Abdullah Syarofi

NIP. 196909231994042001                                      NIM. 121111132

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Masyarakat yang sedang berkembang pada segala bidang kehidupannya seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya, biasanya akan diikuti pula oleh perkembangan bahasanya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga mengakibatkan perkembangan bahasa. Hal tersebut menunjukkan, makin maju suatu bangsa serta makin modern kehidupannya, makin berkembang pula bahasanya. Perkembangan bahasa harus sejalan dan seiring dengan kemajuan kebudayaan serta peradaban bangsa sebagai pemilik dan pemakai bahasa tersebut (Badudu, 1993).

Bahasa begitu identik dengan dinamika sosial-masyarakat, hal ini sesuai dengan pandangan desausure (1996:361) bahwa “diantara etnis dan langue terjadi hubungan timbal balik. Hubungan sosial cenderung menciptakan adanya masyarakat bahasa dan kemungkinan mencetak ciri-ciri tertentu pada langue yang dipakai. Sebaliknya, masyarakat bahasalah yang dalam batas-batas tertentu juga bisa membentuk satuan etnis. Pada umumnya satuan etnis cukup menjelaskan tentang masyarakat bahasa”.

Bahasa adalah sebuah sistem, artinya bahasa itu di bentuk oleh komponen-kompenen yang berpola secara tetap dan dapat di kaidahkan. Namun, sebagai sebuah sistem, bahasa selain bersifat sistematis juga bersifat sistemis. Dengan sistematis maksudnya, bahasa itu tersusun menurut pola tertentu, tidak secara tersusun secara acak atau sembarangan. Sedangkan sistemis artinya sistem bahasa itu bukan meruapakan sebuah sistem tunggal, melainkan terdiri dari sejumlah subsistem morfologi, subsistem sintaksis, dan subsistem leksikon. Sistem bahasa adalah berupa lambang-lambang dalam bentuk bunyi, makna dan konsep. Lambang bunyi bahasa bersifat arbiter. Artinya, hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannnya tidak bersifat wajib, bisa berubah, dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang-lambang tersebut mengonsep makna tertentu. Namun, meskipun lambang itu bersifat arbiter, pun bersifat konvensional. Artinya setiap penutur bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan dangan yang lambangkan. Selain itu, bahasa juga bersifat produktif. Dengan sejumlah unsur yang terbatas, namun dapat di buat satuan-sautan dan ujaran-ujaran yang hampir tidak terbatas. Bahasa juga bersifat dinamis, maksudnya, selalu berubah-berubah sesuai kurun waktu dan kejadian-kejadian pada waktu itu. Selian itu,  jumlah penutur dan pengguna yang berbeda juga bersifat heterogen dan mempunyai latar belakang yang berbeda, maka pada akhirnya bahasa itu sendiri mempunyai banyak ragam; Surabaya, Jogja, Banyumas, Pekalongan, walau secara keseluruhan daerah tersebut menggunakan bahasa jawa, namun bahasa jawa yang digunakan mempunyai perbedaan. Dan bahasa bersifat manusiawai, alat komunikasi yang verbal hanya dimiliki manusia.

Bahasa sebagai alat komunikasi memungkinkan tiap orang untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosialnya. Hal ini berarti bahwa komunikasi individu yang satu dapat menyampaikan gagasan, ide atau segala sesuatu yang terpendam dalam benaknya, sedangkan individu yang lain menjadi mitra yang berusaha menangkap dan memahami maksud penutur. Ditegaskan oleh Fishman dan Suwito (dalam Wibowo, 2001: 5) berkomunikasi dengan bahasa bukan hanya ditentukan oleh faktor linguistik meliputi bentuk fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Melainkan juga ditentukan oleh faktor non linguistik meliputi faktor sosial dan situasional. Sehingga dengan keadaan tersebut dapat merespon terjadinya suatu variasi bahasa di dalam masyarakat ketika melakukan komunikasi dengan bahasa.

Variasi bahasa merupakan perpaduan atau percampuran antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lainnya dalam satu kesatuan kebahasaan yang digunakan secara bersamaan untuk berinteraksi maupun untuk berkomunikasi dan variasi bahasa merupakan sebuah pokok bahasan dalam studi sosiolinguistik yang berusaha menjelaskan ciri-ciri variasi bahasa, sebuah bahasan pokok dalam studi sosiolinguistik yang menetapkan korelasi ciri-ciri variasi bahasa tersebut dengan ciri-ciri sosial kemasyarakatan, dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pertimbangan lawan bicara , letak geografis, kelompok sosial, situasi berbahasa atau tingkat formalitas, dan karena perubahan waktu (Lintang Fitriawan Gunadarma :2009:16).

Pengertian variasi bahasa menurut Aslinda (2007: 17) adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola yang menyerupai pola umum bahasa induksinya. Kevariasian bahasa ini timbul sebagai akibat dari kebutuhan penutur yang memilih bahasa yang digunakan agar sesuai dengan situasi konteks sosialnya. Oleh karena itu, variasi bahasa timbul bukan karena kaidah-kaidah kebahasaan, melainkan disebabkan adanya kaidah-kaidah sosial yang beraneka ragam.

Variasi bahasa oleh Chaer (2004: 62) dibedakan atas dua kriteria yang penting, yaitu (1) latar belakang penutur dan (2) penggunaannya. Dilihat berdasarkan penutur , ragam bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi (1) idiolek, (2) dialek, (3) kronolek, (4) sosiolek. Adapun berdasarkan penggunaan, ragam bahasa Indonesia dibedakan atas (1) segi pemakaian, (2) segi keformalan, (3) segi sarana. Pada segi pemakaian variasi atau ragam bahasa dibedakan atas bidang-bidang persoalan, seperti bidang sastra, bidang jurnalistik, bidang militer, bidang pertanian, bidang perdagangan, bidang pendidikan, dan kegiatan keilmuan. Sedangkan pada segi keformalan variasi atau ragam bahasa dibedakan atas ragam baku, ragam resmi, ragam usaha, ragam santai, dan ragam akrab. Selanjutnya, untuk segi sarana variasi atau ragam bahasa dibedakan atas ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis.

Seperti Banyak kebudayan di dunia, ilmu gaib dan tenung juga terdapat pada kebudayaan orang Jawa. Di Indonesia, ilmu gaib sudah pasti identik dengan dukun. Menurut KBBI, dukun adalah orang yang mengobati, menolong orang sakit dan memberi jampi – jampi atau mantra. Di Indonesia dukun memiliki macam – macam julukan sesuai dengan pekerjaannya, dari mulai dukun beranak, dukun jampi, dukun japa, dukun klenik, dukun santet, dukun susuk , dukun tenung, dukun pesugihan, dukun prewangan dan dukun tabib. Dalam buku Kebudayaan Jawa yang ditulis oleh Koentjaraningrat, dukun mempunyai arti yang sangat luas dan bisa berarti seorang yang ahli. Ada yang disebut dhukun petangan atau peramal yang menghitung saat – saat serta tanggal – tanggal yang baik dengan memperhatikan lima hari pasar, biasanya pedoman dari dukun ini adalah buku primbon. Sebutan dukun dalam kebudayaan Jawa bukan hanya untuk orang yang melakukan aktivitas ilmu gaib saja.

Dukun adalah sebutan umum bagi tenaga penyembuh yang terdapat dalam masyarakat Indonesia yang bersumber dari dalam kebudayaan itu (Boedihartono 1980:2). Pengertian dukun menurut Kamus Besar bahasa Indonesia adalah “orang yang pekerjaannya menolong orang susah dan sakit, mengobati, memberi jampi-jampi dan mantra, konon, diantaranya melakukan kegiatan lewat kemampuan tenaga gaib”. Berdasarkan pengertian dukun yang dipaparkan oleh Boedihartono, disimpulkan dukun tidak hanya dalam konsep masyarakat Jawa, melainkan konsep masyarakat Indonesia umumnya. Bagi sebagian besar masyarakat, definisi “dukun” ialah seseorang yang memiliki ilmu hitam digunakan untuk mencelakai orang lain atau seseorang dengan pakaian hitam-hitam, rambut gondrong dan berbau kemenyan dengan kemampuan supranatural  melakukan hal-hal diluar nalar. Kata dukun mengalami proses peyorasi yaitu proses pergeseran makna kata dari yang baik menjadi buruk. Makna dukun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna, dsb)” . Namun, dalam perkembangannya pandangan masyarakat menyempit dan memburuk .

Saat ini dukun sudah kalah pamor dengan dokter dan bidan, sehingga praktek dukun sudah jarang ditemui di kota – kota besar dan biasanya hanya ada di desa saja. Selain itu, seiring berkembangnya zaman, muncul jenis dukun yang dianggap baru oleh kalangan masyarakat sekarang yaitu dukun pesugihan, dukun prewangan, dan dukun tabib. Pesugihan dan prewangan adalah suatu kata yang sering dijadikan kambing hitam untuk “iri” kepada orang lain yang sedang mengalami lonjakan dalam usahanya. Kata pesugihan bisa menjadi fitnah bagi orang lain, mungkin kita tidak tahu bahwa dibalik kesuksesan dan ramainya sebuah tempat usaha, ada banyak usaha yang memang tidak kita tahu. Misal cara mereka mempromosikannya, cara mereka menata warungnya, cara mereka meramu masakannya dan banyak cara lainnya yang memang sesuai dengan tuntunan agama. Hanya orang yang gelap mata yang mau melakukan ritual pesugihan dengan berharap harta instan, tetapi fenomena ini tidak jarang yang menjalankannya. Ritual pesugihan dan prewangan yang cukup populer di antaranya pelihara tuyul, babi ngepet, nyupang nyi blorong, kandang bubrah, sekte – sekte dan lain sebagainya. Sedangkan dukun tabib yaitu orang yang pekerjaannya mengobati orang sakit secara tradisional, orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi mantra, guna-guna, dsb.

Bertolak dari latar belakang di atas, kajian Sosiolinguistik sangat mungkin dilakukan terhadap variasi bahasa mantra atau guna-guna yang diberikan  para dukun di atas terhadap pasien yang mendatanginya. Penulis tertarik untuk mengkaji terhadap variasi bahasa yang terkandung dalam mantra dan guna-guna yang diberikan dukun kepada para pasien dengan pendekatan sosiolinguistik. Sosiolinguistik sebagai cabang linguistik memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakaian bahasa di dalam masyarakat karena dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu, akan tetapi sebagai makhluk sosial. Rahardi (2001: 12) menjelaskan bahwa sosiolinguistik mempertimbangkan keterkaitan dua hal, yaitu linguistik untuk segi kebahasaannya dengan sosiologi sebagai kemasyarakatannya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia dalam bertutur akan selalu dipengaruhi oleh situasi dan kondisi di sekitarnya.

Mantra atau guna-guna dukun menggunakan bahasa daerah yang dipakai sebagai bahasa pengantar tetapi secara sengaja atau tidak, sering terdapat unsur bahasa Indonesia atau bahasa asing salah satunya yaitu bahasa arab. Salah satu yang menarik dari mantra yang diberikan yaitu mengunakan bahasa daerah dan bahasa arab. Gambaran singkat mantra yang diberikan kepada pasien yang sakit:

ß`øtwUur Ü>tø%r& Ïmøs9Î) ô`ÏB È@ö7ym σÍuqø9$# ÇÊÏÈ  

dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Surat Qaaf ayat 16).

“Ingsun sawijine dzat gesang kang ngeliputi wujud lahir bathin ingsun, yo ingsun ismuhu dzat hu Allah hu Allah 21X. 7X.

Mantra di atas adalah mantra yang diberikan dukun kepada pasien yang menderita sakit. Mantra di atas dibaca setiap sehabis solat fardhu.

Pemakaian variasi bahasa dalam mantra dan guna-guna yang diberikan dukun kepada pasien sangat unik dan mempunyai kekhasan tersendiri karena mantranya mengandung kombinasi bahasa antara bahasa Jawa dan bahasa Arab. Hal ini yang membuat penulis tertarik untuk menganalisis variasi bahasa yang digunakan dalam praktek dukun yang ada di Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan.  Contoh seperti di atas sangat menarik untuk dianalisis dengan pendekatan sosiolinguistik yaitu dengan analisis variasi bahasa.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang telah dijelaskan di atas, masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini yaitu

1.      Bagaimana variasi bahasa dukun pesugihan, prewangan dan tabib di kecamatan Glagah kabupaten Lamongan ?

1.3  Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk variasi bahasa yang dipakai para dukun pesugihan, prewangan dan tabib dalam mengobati pasienya. Variasi bahasa yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu keragaman bahasa yang digunakan oleh para dukun pesugihan, perewangan, dan tabib yang membuka kerja praktek di Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan.

1.4  Manfaat Penelitian

1.4.1   Manfaat Teoritis

1.    Manfaat teoritis dalam penelitian ini adalah memberikan deskripsi variasi bahasa yang dipakai para dukun pesugihan, perewangan, dan tabib dalam mengobati pasienya. Variasi bahasa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keragaman bahasa yang digunakan oleh para dukun yang membuka kerja praktek di kota Lamongan.

2.    Penelitian ini diharapkan dapat menambah literatur penelitian agar dapat menambah data wawasan data linguistik bahasa Indonesia dan memberikan sumbangan pemikiran bagi dunia sosiolinguistik di Indonesia.

1.4.2   Manfaat Praktis

1.    Penelitian ini dapat menjadi wacana tersendiri bagi masyarakat luas agar bertambahnya pengetahuan akan wawasan pengetahuan.

2.    Penelitian ini dapat memberikan sebuah ilmu tentang dukun pesugihan, prewangan, dan tabib yang ada di kota Lamongan.

1.5  Tinjauan Pustaka

Sebuah penelitian dilakukan tidak lepas dari penelitian yang sebelumnya. Oleh karena itu dihadirkanlah sebuah tinjauan pustaka yang bertujuan untuk menunjukkan perbedaan antara penelitian yang dilakukan sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yang selanjutnya. Berdasarkan pengetahuan dan pencarian peneliti baik diinteret maupun katalog, belum ada yang meneliti tentang variasi bahasa yang mengambil objek dukun pesugihan, prewangan, dan tabib. Akan tetapi penulis menemukan beberapa judul skripsi maupun artikel yang sedikit sama pembahasanya yaitu membahas tentang dukun. Sebagai bahan rujukan, penulis mengacu pada beberapa penelitian terdahulu. Penelitian khusus tentang variasi bahasa dukun pesugihan, prewangan, dan tabib selama ini belum pernah dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Dukun prewangan pernah dikaji oleh Sutrisni (2012) dengan judul “Dukun Prewangan (Studi Deskriptif Kehidupan Dukun Prewangan di Desa Ngodean dan Desa Teken Glagahan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Kediri)”. Dalam penelitian tersebut dihasilkan simpulan bahwa kehidupan dukun prewangan dalam masyarakat Desa Ngodean dan Desa Teken Glagahan mempunyai peran dan status yang penting bagi masyarakat sekitar. Hal tersebut Nampak pada budaya masyarakat Desa Ngodean dan Desa Teken Glagahan masih menggunakan jasa dukun, meskipun perkembangan zaman sudah berkembang dengan pesat.

Skripsi Ali Nurdin Universitas Padjajaran dengan Judul “Komunikasi Magis Dukun (Studi Fenomenologi Tentang Kompetensi Komunikasi Dan Konstruksi Sosial Dukun Dalam Perspektif Dirinya Di Kabupaten Lamongan Propinsi Jawa Timur)”. Penelitian ini berangkat dari fenomena maraknya orang mempercayai dan mendatangi dukun. Dukun diyakini memiliki kemampuan dan keahlian dalam memberikan sugesti dalam proses menyembuhkan dan menolong orang. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengalaman, kemampuan dan keahlian dukun dalam melakukan pekerjaannya mengobati dan menolong klien dan bagaimana dukun mengkonstruksi diri dalam kehidupan sosialnya. Kemampuan dan keahlian yang dimiliki dukun di atas melahirkan konsep komunikasi baru yaitu komunikasi suwuk, komunikasi petungan, komunikasi penerawangan, dan komunikasi prewangan. Sedangkan konstruksi diri yang digunakan dukun untuk menyebut pekerjaannya yaitu sebagai tukang syarat, tukang suwuk, dan sebagai tabib.

1.6  Landasan Teori

Variasi bahasa adalah salah satu dimensi kebahasaan yang digolongkan dalam kajian sosiolinguistik. Fishman (dalam Chaer 2004: 3) mengemukakan bahwa sosiolinguistik adalah studi tentang ciri-ciri khusus variasi bahasa, ciri-ciri khusus pemakaiannya, dan ciri-ciri khusus tingkah laku bahasa sebagai tiga unsur yang saling berkaitan yang terwujud interaksi, perubahan, timbal balik di dalam maysrakat penutur bahasa.

1.6.1 Variasi Bahasa

Menurut Chaer dan Leonie Agustina (2204: 62) variasi bahasa mempunyai dua pandangan berdasarkan keragaman sosial dan fungsi kegiatan di dalam masyarakat. Pertama, variasi atau ragam bahasa itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi atau ragam bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Andai kata penutur itu adalah kelompok yang homogen, baik etnis, status sosial maupun lapangan pekerjaannya, maka variasi atau keragaman itu tidak akan ada artinya, bahasa itu menjadi seragam. Kedua, variasi atau ragam bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam.

Sehubungan dengan variasi tersebut, Keraf mengatakan bahwa tidak ada suatu bahasa di dunia ini yang tidak memiliki variasi. Variasi dapat berwujud perbedaan antara kelompok orang. Namun, variasi ini masih melingkupi pola atau dasar yang sama. Variasi ini antara lain disebabkan oleh pengaruh bahasa tetangga, seperti bentuk kosa kata, struktur, dan lafalnya.

1.6.2 Variasi Bahasa dari Segi Penutur

Variasi pertama adalah variasi bahasa yang disebut idiolek, yakni variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Menurut konsep idiolek, setiap orang mempunyai variasi bahasanya atau idioleknya masing-masing. Variasi idiolek ini berkenaan dengan “warna” suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dan sebagainya. Namun yang paling dominan adalah “warna” suara itu, sehingga jika pada saat terjadinya keakraban dengan seseorang, hanya dengan mendengar suara bicaranya tanpa melihat orangnya, langsung dapat mengenalina. Variasi kedua disebut dialek, yakni variasi bahasa dari sekelompok enutur ang jumlahnya relatif, yang berada di suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Variasi ketiga adalah kronolek atau dialek temporal, yakni variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu, misalnya variasi bahasa pada tahun sembilan puluhan dan variasi bahasa pada masa kini. Variasi bahasa keempat adalah sosiolek atau dialek sosial, yakni variasi bahasa yang berkenaan dengan status, goglongan, dan kelas sosial para penuturnya atau menyangkut semua masalah pribadi penutur, seperti usia, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut dalam sosiolek juga dikemukakan variasi bahasa yang disebut akrolek adalah variasi sosial yang dianggap tinggi atau lebih bergengsi daripada variasi sosial lainnya; basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau bahkan dipandang rendah; vulgar adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pemakaian bahasa oleh seseorang yang kurang terpelajar atau dari kalangan yang tidak berpendidikan, slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia, artinya variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kelompok itu; kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari; jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia; dan ken adalah variasi sosial tertentu yang bersifat “memelas”, merengek-rengek, penuh dengan kepura-puraan.

1.6.3 Variasi Bahasa dari Segi Pemakaian

Variasi bahasa dari segi pemakaian menyangkut penggunaan bahasa untuk keperluan tertentu dan pada bidang tertentu. Misalnya bidang sastra, jurnalistik, militer, pertanian, pelayaran, perekonomian, perdagangan, pendidikan, dan kegiatan keilmuan. Variasi bahasa berdasarkan bidang kegiatan ini yang paling banyak tampak cirinya adalah bidang kosakata. Setiap bidang kegiatan ini biasanya mempunyai sejumlah kosakata khusus atau tertentu yang tidak digunakan pada bidang lain. Contoh saja variasi bahasa atau ragam bahasa sastra, biasanya lebih menekankan penggunaan bahasa dari segi estetis, sehingga dipilihlah dan digunakanlah kosakata yang secara estetis memiliki daya ungkap yang paling tepat. Penggunaan variasi atau ragam bahasa itu juga digunakan pada jenis bidang yang lain.

1.6.4 Variasi Bahasa dari Segi Keformalan

Adapun pada segi keformalan, Martin Joss (dalam Chaer, 2204: 70) dalam bukunya Five Clock membagi variasi bahasa atas lima gaya atau ragam, Pertama yaitu gaya atau ragam baku (frozen), adalah variasi bahasa yang paling formal, digunakan dalam situasi-situasi khidmat, dan upacara-upacara resmi, misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah di masjid, tata pengambilan sumpah, kitab undang-undang, akta notaris dan surat-surat keputusan. Kedua yaitu ragam resmi/formal adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, surat menurat dinas, ceramah keagamaan, buku-buku pelajarang dan sebagainya. Pola dan kaidah ragam resmi sudah ditetapkan secara mantap sebagai suatu standar. Ketiga yaitu ragam usaha/konsultatif adalah variasi bahasa yang lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, dan rapat-rapat atau pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi. Jadi, dapat dikatakan ragam usaha ini adalah ragam bahasa yang paling operasional. Keempat yaitu ragam santai/casual adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu beristirahat, berolah raga, berekreasi, dan sebagainya. Ragam santai ini banyak menggunakan bentuk alegro, yakni bentuk kata atau ujaran yang dipendekkan. Kosakatanya banyak dipenuhi unsur leksikal dialek dan unsur bahasa daerah. Kelima yaitu ragam akrab/intimate adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab, seperti antar anggota keluarga, atau antar teman yang sudah karib. Ragam ini ditandai dengan penggunaan bahasa yang tidak lengkap, pendek-pendek, dan dengan artikulasi yang seringkali tidak jelas. Hal ini terjadi karena diantara partisipan sudah ada saling pengertian dan memiliki pengetahuan yang sama.

1.6.5 Variasi Bahasa dari Segi Sarana

Terdapat adanya ragam lisan dan ragam tulis, atau juga ragam dalam berbahasa dengan mengunakan sarana atau alat tertentu. Adanya ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis memiliki wujud struktur yang tidak sama. Adanya ketidaksamaan wujud struktur ini adalah karena dalam berbahasa lisan atau dalam penyampaian informasi secara lisan, dibantu oleh unsur-unsur suprasegmental atau unsur nonlinguistik yang berupa nada suara, gerak-gerik tangan, gelengan kepala, dan sejumlah gerakan fisik lainnya. Hal itu berbeda dengan berbahasa tulis yang digantikan dengan mengeksplisitkan tuturan secara verbal. Selain itu juga kesalahan atau kesalahpengertian dalam berbahasa lisan dapat segera diperbaiki atau diralat, tapi dalam berbahasa tulis kesalahan atau kesalahpengertian baru kemudian bisa diperbaiki.

 

1.7  Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara kerja yang meliputi prosedur, teknik, dan alat yang dipilih untuk melaksanakan penelitian (pengumpulan data). Metode merupakan sesuatu yang sangat diperlukan dalam penelitian agar dapat menemukan penjelasan yang diharapkan. Sebuah penelitian tidak dapat dilakukan tanpa adanya metode penelitian. Sebab metode penelitian memiliki peranan paling penting untuk sebuah penelitian agar dapat dijalankan sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Menurut Djajasudarma (1993: 15)  metode deskriptif kualitatif adalah data yang dikumpulkan bukanlah angka-angka, dapat berupa kata-kata atau gambaran ciri-ciri data seara akurat sesuai dengan sifat alamiah itu sendiri. Metode deskriptif merupakan metode penelitian yang dilakukan semata-mata penelitian mengacu pada fakta atau fenomena (Mahsun, 2005: 52).

 

1.7.1         Cara Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif. Penelitian ini mengkaji dan menganalisis data secara objektif berdasarkan fakta nyata yang ditemukan dan kemudian memaparkannya secara deskriptif. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode distribusional dalam tiga tahap, yaitu tahap pengumpulan data, tahap penganalisisan data dan tahap penyajian data (Sudaryanto, 1993: 5-7).

Adapun metode deskriptif kualitatif yang digunakan dibagi dalam tiga tahapan strategi, yaitu: metode pengumpulan data, metode penganalisisan, dan metode penyajian hasil analisis data. Karena penulis menganalisis variasi bahasa dukun pesugihan, prewangan, dan tabib ini dengan cara turun langsung kepada para dukun. Data-data yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah tuturan yang digunakan oleh para dukun dalam memberikan obat kepada pasienya.

Teknik yang digunakan dalam menjaring data bahasa penulis menggunakan teknik cakap bertemu muka karena penjaringan atau mendapatkan data lewat percakapan antara peneliti dan informan dilakukan dengan bertemu langsung, tatap muka, atau bertemu muka. Karena penjaringan data bahasa ini tidak boleh diketahui oleh khalayak umum sehingga perlu dilaksanakan dengan cara face to face antara peneliti dan informan di dalam satu ruang sehingga dapat saling melihat.

Penelitian dilakukan dengan cara mencari kurang lebih sedikitnya tiga dukun pesugihan, perewangan, dan tabib yang ada di Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan. Dari ketiga dukun inilah penulis meminta kepada beliau agar memberikan mantra atau doa yang diberikan kepada pasien. Dari doa yang diberikan inilah penulis menganalisis variasi bahasa dalam doa yang diberikan masing-masing dukun tersebut.

Kemudian akan dilakukan juga teknik rekam saat melakukan wawancara, alat yang digunakan untuk wawancara dapat menggunakan tape recorder atau menggunakan recorder pada handphone supaya lebih memudahkan saat melakukan wawancara. Kemudian dilanjutkan dengan tekni mencatat. Mencatat hasil wawancara yang telah dilakukan kepada dukun pesugihan dan perewangan. Namun, sebelumnya juga telah dipersiapkan beberapa daftar pertanyaan yang akan ditanyakan guna memenuhi data-data yang akan dipakai untuk hasil laporan penelitian.

 

 

 

1.8  Sistematika Penelitian

BAB I      Pendahuluan. Isinya meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjaun pustaka, landasan teori, metode penelitian, teknik/cara penelitian, dan sistematika penelitian.

BAB II    Menguraikan teori-teori yang akan penulis gunakan untuk menganalisis pemakaian variasi bahasa.

BAB III   Bentuk-bentuk penggunaan variasi bahasa dukun pesugihan dan perewangan. Bab ini merupakan inti dari penelitian yang penulis lakukan, karena dalam bab ini akan penulis utarakan tentang analisis terhadap deskripsi  variasi bahasa dukun pesugihan dan perewangan di Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan.

BAB IV   Merupakan penutup yang berisi penarikan kesimpulan dari hasil penelitian yang sudah dilakukan pada bab-bab terdahulu dan saran-saran yang berkaitan dengan penelitian ini.

 


DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul., Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal (Edisi Revisi). Jakarta: PT. Rineka Cipta.

. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

                                    . 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Aslinda, Leni Syafyahya. 207. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: Refika

Aditama.

Kuntjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta.

Kuntjaraningrat.1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta. Balai Pustaka.

Sedyawati, Edi. 2003. Budaya Jawa dan Masyarakat Modern. Jakarta BPPT.


RANCANGAN BIAYA

           1. Bahan Penelitian

Buku-buku literature

5 x Rp 70.000                Rp 350.000

Fotocopy buku literature tambahan

5 x Rp 30.000                Rp 150.000

 

2. Bahan Baku Habis Pakai

Kertas A4 70 gr

1 Dus                      Rp 150.000

Tinta

                               Rp 100.000

 

3.      Alat Penunjang

Printer

                                Rp 600.000

Tape Recorder

                                Rp 100.000

ATK

                                 Rp   50.000

 

4.      Dokumentasi

Penyusunan laporan akhir

                                Rp 250.000

 

5.      Jasa Informan

 Informan

2 x 500.000                   Rp 1.000.000

 

6.      Lain-lain                                                                        = Rp 300.000

 

Total biaya yang diusulkan                                             = Rp. 3.050.000

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi