Sastra Timur Tengah
DOMINASI PATRIARKHI PADA NOVEL LAILA MAJNUN KARYA SYAIKH NIZAMI
Disusun Oleh:
ABDULLAH SYAROFI 121111132
Sinopsis Novel
Judul
: Maha Cinta
Laila Majnun
Pengarang
: Syaikh Nizami Ganjavi
Penerbit
: OASEbuku
Penerjemah
: Dede Aditya Kaswar
Kota
terbit : Bandung
Tahun
terbit : 2013
Cetakan
: Cetakan pertama, Juli
2013
Nizami Ganjavi adalah seorang sufi yang berasal dari Persia. Menurut sufi
penyair ini, cinta Majnun terhadap Laila adalah sebuah metafora dari cinta
Majnun terhadap tuhan. Artinya, dengan mencintai Laila, Majnun sebenarnya
sedang mencintai tuhan. Melalui cinta terhadap Laila, Majnun benar-benar
menghilangkan egonya sampai ketingkatan peniadaan. Sehingga ia tidak memandang
dirinya dan diri kekasihnya sebagai kesatuan yang terpisah melainkan sebagai
suatu kesatuan yang utuh. Dengan kata lain, kisah ini adalah sebuah alegori
dari perjalanan sufi untuk sampai kepada tuhan.
Sebagai akhir cerita ada seorang sufi bermimpi melihat Majnun berada
disamping tuhan, dan tuhan membelai-belai kepala Majnun dengan penuh kecintaan
dan kasih sayang. Majnun disuruh duduk disamping tuhan, kemudian tuhan berkata
kepada Majnun,
“Tidakkah engkau malu memanggil aku dengan Laila setelah kau teguk anggur
cintaku?” sufi itu terbangun dalam keadaan cemas. Ia sudah melihat posisi
Majnun. Lalu di manakah posisi Laila? Tuhan kemudian mengilhamkan ke dalam
hatinya, bahwa posisi Laila lebih tinggi lagi, karena Laila menyembunyikan
kisah cintahnya dalam hatinya. Kaum sufi menganggap Majnun dan Laila adalah
kisah kecintaan seorang pencinta dengan tuhannya, kekasihnya. Majnun adalah
pencinta sementara. Sementara Laila adalah tuhan yang kecintaanya tersembunyi.
Diceritakan seorang kepala suku Bani Amir di Jazirah Arab memiliki segala
macam yang diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tak punya seorang anak.
Tabib-tabib di desa itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi
tidak berhasil. Ketika semua usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan
agar mereka berdua bersujud di hadapan Allah dan dengan tulus memohon kepada
Allah memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang
kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali
lagi, tak ada ruginya.” Mereka pun bersujud kepada Allah, sambil berurai air
mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan
biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak
dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan
seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu
bangga akan anak kami.”
Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan Allah menganugerahi mereka
seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia,
sebab Qais dicintai oleh semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut
hitam, yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Sejak awal, Qais telah
memperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewanya. Ia punya bakat luar
biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan musik, menggubah syair dan
melukis. Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan
membangun sebuah sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang
mengajar di sana, dan hanya beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak
lelaki dan perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di
sekolah baru ini.
Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga
(Kabila Laila). Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar
biasa. Rambut dan matanya sehitam malam, karena alasan inilah mereka
menyebutnya Laila ”Sang Malam”. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah
banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab sebagaimana lazimnya kebiasaan di
zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni
sembilan tahun.
Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah,
mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu,
percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi
mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat
mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan.
Ketika tiba waktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di
atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia
kini hanyalah milik Qais dan Laila. Mereka buta dan tuli pada yang lainnya.
Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan
gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang
gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan
menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis
mereka, mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi
menahan beban malu pada masyarakat sekitar. Ketika Laila tidak ada di ruang
kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan
menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil
namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan.
Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan
orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa
dan berkata, ” Lihatlah Qais , ia sekarang telah menjadi seorang majnun,
gila!.” Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat
orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia
hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila
telah dipingit oleh orang tuanya di rumah, yang dengan bijaksana menyadari
bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun. Majnun
menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun sebuah
gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnun
duduk-duduk di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke
bawah menuju desa itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga
liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya
kepada Laila. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada
Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat. Ia menghirup angin dari barat yang
melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal
dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya
seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya
anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari
tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.
Waktu telah berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya
kepada Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun
tanpa melihatnya kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang
mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang
betapa ia sangat kehilangan dirinya. Suatu hari, tiga anak laki-laki,
sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu oleh penderitaan dan
kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad membantunya untuk berjumpa kembali
dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan Majnun
mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka
melewati wanita-wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu
kamarnya. Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar
berjaga-jaga. Sejak ia berhenti masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun
kecuali memikirkan Qais. Yang cukup mengherankan, setiap kali ia mendengar
burung-burung berkicau dari jendela atau angin berhembus semilir, ia
memejamkan.matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar suara Qais
didalamnya. Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin atau
sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah
berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat terbaiknya,
tentang cintanya. Pada hari ketika Majnun masuk ke rumah Laila, ia merasakan
kehadiran dan kedatangannya. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan
indah. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar
bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana kebiasaan wanita Arab, dengan
bedak hitam. Bibirnya diberi yang seperti lipstick merah, dan pipinya yang
kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan kegembiraannya. Ia duduk di
depan pintu dan menunggu. Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun
sudah diberitahu bahwa Majnun akan datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu
benar-benar terjadi.
Majnun berdiri di pintu selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya
wajah Laila. Akhirnya, mereka bersama lagi! Tak terdengar sepatah kata pun,
kecuali detak jantung kedua orang yang dimabuk cinta ini. Mereka saling
berpandangan dan lupa waktu. Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat
sahabat-sahabat Majnun di luar kamar tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi
isyarat kepada salah seorang pengawal. Namun, ketika ibu Laila datang
menyelidiki, Majnun dan kawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah orang-tuanya
bertanya kepada Laila, maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang telah
terjadi. Kebisuan dan kebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala
sesuatunya. Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal
di setiap pintu di rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri
rumah Laila, bahkan dari kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya
berpikiran bahwa, dengan bertindak hati-hati ini ia bisa mengubah perasaan
Laila dan Majnun, satu sama lain, sungguh ia salah besar.
Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan
untuk mengakhiri drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan
sebuah kafilah penuh dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu
pun disambut dengan sangat baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincang
tentang kebahagiaan anak-anak mereka. Ayah Majnun lebih dulu berkata, “Engkau
tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan,
yaitu “Cinta dan Kekayaan”. Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku
bisa memastikan bahwa aku sanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk
mengarungi kehidupan yang bahagia dan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah
Laila pun menjawab, “Bukannya aku menolak Qais. Aku percaya kepadamu, sebab
engkau pastilah seorang mulia dan terhormat,” jawab ayah Laila. “Akan tetapi,
engkau tidak bisa menyalahkanku kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua
orang tahu perilaku abnormalnya. Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia
pasti sudah lama tidak mandi dan iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi
orang banyak. “Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan
engkau berada dalam posisiku, akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada
anakku?” Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal,
dulu anaknya adalah teladan utama bagi awan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah
anak yang paling cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada
yang dapat dikatakannya. Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk
mempercayainya. Sudah lama orang tidak mendengar ucapan bermakna dari Majnun.
“Aku tidak akan diam berpangku tangan dan melihat anakku menghancurkan dirinya
sendiri,” pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.”
Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan
pesta makan malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam
itu, gadis-gadis tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisa
mengalihkan perhatian Majnun dari Laila, pikir ayahnya. Di pesta itu, Majnun
diam dan tidak mempedulikan tamu-tamu lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangan
sambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk mencari pada diri mereka berbagai
kesamaan dengan yang dimiliki Laila. Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama
dengan milik Laila; yang lainnya punya rambut panjang seperti Laila, dan yang
lainnya lagi punya senyum mirip Laila. Namun, tak ada seorang gadis pun yang
benar-benar mirip dengannya, Malahan, tak ada seorang pun yang memiliki separuh
kecantikan Laila. Pesta itu hanya menambah kepedihan perasaan Majnun saja
kepada kekasihnya. Ia pun berang dan marah serta menyalahkan setiap orang di
pesta itu lantaran berusaha mengelabuinya.
Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-tuanya dan
sahabat-sahabatnya sebagai berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis
sedemikian hebat hingga akhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah
terjadi petaka ini, ayahnya memutuskan agar Qais dikirim untuk menunaikan
ibadah haji ke Mekah dengan harapan bahwa Allah akan merahmatinya dan
membebaskannya dari cinta yang menghancurkan ini. Di Makkah, untuk menyenangkan
ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah, tetapi apa yang ia mohonkan?
“Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pecinta, Engkau yang
menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja,”Tinggikanlah
cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku
tetap hidup.” Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi yang bisa ia lakukan
untuk anaknya. Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul
dengan orang banyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana
ia berada. Ia tidak kembali ke gubuknya. Alih-alih tinggal dirumah, ia memilih
tinggal direruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing dari masyarakat dan
tinggal didalamnya.
Sesudah itu, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentang Majnun.
Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan keluarganya untuk mencarinya. Namun,
tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak orang berkesimpulan bahwa Majnun
dibunuh oleh binatang-binatang gurun sahara. Ia bagai hilang ditelan bumi. Suatu
hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat ada sesosok
aneh yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar dengan rambut
panjang hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunya
compang-camping dan kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidak
beroleh jawaban, ia mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur di
kakinya. “Hus” katanya, ‘Jangan bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkan
pandangan ke arah kejauhan. Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia
menunggu dan ingin tahu apa yang akan terjadi. Akhimya, orang liar itu
berbicara. Segera saja ia pun tahu bahwa ini adalah Majnun yang terkenal itu,
yang berbagai macam perilaku anehnya dibicarakan orang di seluruh jazirah Arab.
Tampaknya, Majnun tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan dengan
binatang-binatang buas dan liar. Dalam kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri
dengan sangat baik sehingga lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian
dari kehidupan liar dan buas itu. Berbagai macam binatang tertarik kepadanya,
karena secara naluri mengetahui bahwa Majnun tidak akan mencelakakan mereka.
Bahkan, binatang-binatang buas seperti serigala sekalipun percaya pada kebaikan
dan kasih sayang Majnun. Sang musafir itu mendengarkan Majnun melantunkan
berbagai kidung pujiannya pada Laila. Mereka berbagi sepotong roti yang
diberikan olehnya. Kemudian, sang musafir itu pergi dan melanjutkan perjalanannya.
Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya,
sang kepala suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafir
ke rumahnya dan meminta keteransran rinci darinya. Merasa sangat gembira dan
bahagia bahwa Majnun masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untuk
menjemputnya.
Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu,
ayah Majnun dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak!
Anaknya terjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti ini. “Ya Tuhanku, aku
mohon agar Engkau menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami,”
jerit sang ayah menyayat hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar
dari tempat persembunyiannya. Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun
menangis, “Wahai ayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan
pada dirimu. Tolong lupakan bahwa engkau pernah mempunyai seorang anak, sebab
ini akan meringankan beban kesedihan ayah. Ini sudah nasibku mencinta, dan
hidup hanya untuk mencinta.” Ayah dan anak pun saling berpelukan dan menangis.
Inilah pertemuan terakhir mereka. Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila
lantaran salah dan gagal menangani situasi putrinya. Mereka yakin bahwa
peristiwa itu telah mempermalukan seluruh keluarga. Karenanya, orangtua Laila
memingitnya dalam kamamya. Beberapa sahabat Laila diizinkan untuk
mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Ia berpaling kedalam hatinya,
memelihara api cinta yang membakar dalam kalbunya.
Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang terdalam, ia menulis dan
menggubah syair kepada kekasihnya pada potongan-potongan kertas kecil.
Kemudian, ketika ia diperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan
potongan-potongan kertas kecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang yang
menemukan syair-syair dalam potongan-potongan kertas kecil itu membawanya
kepada Majnun. Dengan cara demikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin
hubungan. Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datang
mengunjunginya. Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka
tahu bahwa Majnun tidak kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka
mendengarkannya melantunkan syair-syair indah dan memainkan serulingnya dengan
sangat memukau. Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian lagi hanya
sekadar ingin tahu tentang kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan
kedalaman cinta dan kasih sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari
pengunjung itu adalah seorang ksatria gagah berani bernama Naufal, yang
berjumpa dengan Majnun dalam perjalanannya menuju Mekah. Meskipun ia sudah
mendengar kisah cinta yang sangat terkenal itu di kotanya, ia ingin sekali
mendengarnya dari mulut Majnun sendiri. Drama kisah tragis itu membuatnya
sedemikian pilu dan sedih sehingga ia bersumpah dan bertekad melakukan apa saja
yang mungkin untuk mempersatukan dua kekasih itu, meskipun ini berarti
menghancurkan orang-orang yang menghalanginya! Ketika Naufal kembali ke kota
kelahirannya, Ia pun menghimpun pasukannya. Pasukan ini berangkat menuju desa
Laila dan menggempur suku di sana tanpa ampun. Banyak orang yang terbunuh atau
terluka. Ketika pasukan ‘Naufa hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila
mengirimkan pesan kepada Naual, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu
menginginkan putriku, aku akan menyerahkannya tanpa melawan. Bahkan, jika
engkau ingin membunuhnya, aku tidak keberatan. Namun, ada satu hal yang tidak
akan pernah bisa kuterima, jangan minta aku untuk memberikan putriku pada orang
gila itu”.
Majnun mendengar pertempuran itu hingga ia bergegas kesana. Di medan
pertempuran, Majnun pergi ke sana kemari dengan bebas di antara para prajurit
dan menghampiri orang-orang yang terluka dari suku Laila. Ia merawat mereka dengan
penuh perhatian dan melakukan apa saja untuk meringankan luka mereka. Naufal
pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia meminta penjelasan ihwal mengapa ia
membantu pasukan musuh, Majnun menjawab, “Orang-orang ini berasal dari desa
kekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi musuh mereka?” Karena sedemikian
bersimpati kepada Majnun, Naufal sama sekali tidak bisa memahami hal ini. Apa
yang dikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Ia
pun memerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera meninggalkan desa itu
tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.
Laila semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang
bisa ia nikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam
perjalanannya menuju taman, Ibnu Salim, seorang bangsawan kaya dan berkuasa,
melihat Laila dan serta-merta jatuh cinta kepadanya. Tanpa menunda-nunda lagi,
ia segera mencari ayah Laila. Merasa lelah dan sedih hati karena pertempuran
yang baru saja menimbulkan banyak orang terluka di pihaknya, ayah Laila pun
menyetujui perkawinan itu. Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan
kepada ayahnya, “Aku lebih senang mati ketimbang kawin dengan orang itu.” Akan
tetapi, tangisan dan permohonannya tidak digubris. Lantas ia mendatangi ibunya,
tetapi sama saja keadaannya. Perkawinan pun berlangsung dalam waktu singkat.
Orangtua Laila merasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya berakhir juga. Akan
tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya bahwa ia tidak pernah bisa
mencintainya. “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri,” katanya. “Karena
itu, jangan membuang-buang waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin,
masih ada banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia.” Sekalipun mendengar
kata-kata dingin ini, Ibnu Salim percaya bahwa, sesudah hidup bersamanya
beberapa waktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan menerimanya. Ia tidak
mau memaksa Laila, melainkan menunggunya untuk datang kepadanya.
Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar oleh Majnun, ia menangis
dan meratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-Iagu yang demikian
menyayat hati dan mengharu biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya
pun ikut menangis. Derita dan kepedihannya begitu berat sehingga
binatang-binatang yang berkumpul di sekelilinginya pun turut bersedih. Namun,
kesedihannya ini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun merasakan
kedamaian dan ketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apa-apa, ia
pun terus tinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Laila tidak berubah dan
malah menjadi semakin lebih dalam lagi. Dengan penuh ketulusan, Majnun
menyampaikan ucapan selamat kepada Laila atas perkawinannya: “Semoga kalian
berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanya meminta satu hal sebagai tanda
cintamu, janganlah engkau lupakan namaku, sekalipun engkau telah memilih orang
lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernah lupa bahwa ada seseorang yang,
meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya akan memanggil-manggil namamu,
Laila”. Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah anting-anting sebagai
tanda pengabdian tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan,
“Dalam hidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku
demikian lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan
cintamu ke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkau
membakar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu”. “Kini, aku harus
menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milik
orang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di antara kita yang lebih dimabuk
cinta, engkau ataukah aku?.
Tahun demi tahun telah berlalu, dan orang-tua Majnun pun meninggal dunia.
Ia tetap tinggal di reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian ketimbang
sebelumnya. Di siang hari, ia mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabat
binatangnya. Di malam hari, ia memainkan serulingnya dan melantunkan
syair-syairnya kepada berbagai binatang buas yang kini menjadi satu-satunya
pendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila dengan ranting di atas tanah. Selang
beberapa lama, karena terbiasa dengan cara hidup aneh ini, ia mencapai
kedamaian dan ketenangan sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu pun yang
sanggup mengusik dan mengganggunya.
Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibnu Salim tidak pernah
berhasil mendekatinya. Kendatipun ia hidup bersama Laila, ia tetap jauh
darinya. Berlian dan hadiah-hadiah mahal tak mampu membuat Laila berbakti
kepadanya. Ibnu Salim sudah tidak sanggup lagi merebut kepercayaan dari
istrinya. Hidupnya serasa pahit dan sia-sia. Ia tidak menemukan ketenangan dan
kedamaian di rumahnya. Laila dan Ibnu Salim adalah dua orang asing dan mereka
tak pernah merasakan hubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa berbagi kabar
tentang dunia luar dengan Laila. Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari
bibir Laila, kecuali bila ia ditanya. Pertanyaan ini pun dijawabnya dengan
sekadarnya saja dan sangat singkat. Ketika akhirnya Ibnu Salim jatuh sakit, ia
tidak kuasa bertahan, sebab hidupnya tidak menjanjikan harapan lagi. Akibatnya,
pada suatu pagi di musim panas, ia pun meninggal dunia.
Kematian suaminya tampaknya makin mengaduk-ngaduk perasaan Laila.
Orang-orang mengira bahwa ia berkabung atas kematian Ibnu Salim, padahal
sesungguhnya ia menangisi kekasihnya, Majnun yang hilang dan sudah lama
dirindukannya. Selama bertahun-tahun, ia
menampakkan wajah tenang, acuh tak acuh, dan hanya sekali saja ia menangis. Kini,
ia menangis keras dan lama atas perpisahannya dengan kekasih satu-satunya.
Ketika masa berkabung usai, Laila kembali ke rumah ayahnya. Meskipun masih
berusia muda, Laila tampak tua, dewasa, dan bijaksana, yang jarang dijumpai
pada diri wanita seusianya.
Sementara api cintanya makin membara, kesehatan Laila justru memudar
karena ia tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga
tidak tidur dengan baik selama bermalam-malam. Bagaimana ia bisa memperhatikan
kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannya hanyalah Majnun semata? Laila
sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggup bertahan lama. Akhirnya,
penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapa bulan pun menggerogoti
kesehatannya. Ketika Laila meregang nyawa dan sekarat, ia masih memikirkan
Majnun. Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagi untuk terakhir
kalinya! Ia hanya membuka matanya untuk memandangi pintu kalau-kalau kekasihnya
datang. Namun, ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan ia akan pergi tanpa
berhasil mengucapkan salam perpisahan kepada Majnun.
Pada suatu malam di musim dingin, dengan matanya tetap menatap pintu, ia
pun meninggal dunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun…Majnun…Majnun. Kabar
tentang kematian Laila menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lama
kemudian, berita kematian Lailapun terdengar oleh Majnun. Mendengar kabar itu,
ia pun jatuh pingsan di tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diri
selama beberapa hari. Ketika kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menuju
desa Laila. Nyaris tidak sanggup berjalan lagi, ia menyeret tubuhnya di atas
tanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga tiba di kuburan Laila di luar
kota . Ia berkabung dikuburannya selama beberapa hari. Ketika tidak ditemukan
cara lain untuk meringankan beban penderitaannya, per1ahan-lahan ia meletakkan
kepalanya di kuburan Laila kekasihnya dan meninggal dunia dengan tenang. Jasad
Majnun tetap berada di atas kuburan Laila selama setahun. Belum sampai setahun
peringatan kematiannya ketika segenap sahabat dan kerabat menziarahi
kuburannya, mereka menemukan sesosok jasad terbujur di atas kuburan Laila. Beberapa
teman sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa itu adalah jasad Majnun yang
masih segar seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur di samping Laila. Tubuh
dua kekasih itu, yang kini bersatu dalam keabadian, kini bersatu kembali.
Analisis Dalam Dominasi Patriarkhi
Istilah patriarkhi sendiri
sebenarnya berasal dari
bahasa Yunani. Dalam Kamus Internasional
kata ini disebut patriarches,
dari asal kata patri (bangsa atau
turunan) dan archos (pemimpin).
Menurut kamus ini, patriarkhi selain berhubungan dengan kekuasaan atau
pemimpin dalam suatu keturunan bangsa atau suku bangsa, juga dipakai untuk
menyebut orang yang dianggap sebagai bapak dari suatu hasil usaha. Istilah
patriarkhi menjadi semakin
luas pemakaiannya setelah dihubungkan tidak
hanya dengan konteks
sosial, budaya dan
politik, tetapi juga dengan
penggambaran struktur masyarakat
laki - laki dan perempuan yang
tidak seimbang dan tidak berkeadilan. Istilah tersebut juga digunakan
untuk menunjuk suatu
kondisi ketika patriarkhi bertindak sebagai standar atas
yang lain yakni perempuan. Jadi, secara lebih umum patriarkhi digunakan untuk
menyebut kekuasaan laki-laki, cara laki-laki menguasai perempuan dan untuk
menyebut sistem yang membuat perempuan tetap dikuasai. Dalam hal ini,
patriarkhi dapat didefinisikan suatu sistem yang bercirikan laki-laki. Sistem ini, laki-laki
yang berkuasa untuk menentukan. Sistem ini dianggap wajar sebab disejajarkan dengan kerja berdasarkan seks.
Patriarkhi sebagai the magic system,
karena kemampuan dalam berkuasa yang tidak lagi dalam ranah keluarga tetapi
dalam semua bidang yang mempertontonkan dunia kognitif yang luar biasa
cenderung memiliki ideologi.
Menurut Kamla Bhasin, bahwa yang dihadapi oleh masyarakat sekarang adalah
sebuah sistem, yaitu sistem dominasi dan superioritas laki-laki, sistem kontrol
terhadap perempuan, dimana perempuan dikuasai. Melekat dalam sistem ini
adalah ideologi yang menyatakan
bahwa laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan, bahwa
perempuan harus dikontrol oleh laki-laki dan bahwa perempuan adalah bagian
dari milik laki-laki. Ideologi ini
dianggap merupakan salah satu dari basis penindasan perempuan karena menciptakan watak
feminim dan maskulin
yang melestarikan patriarki, menciptakan
dan memperkuat pembatas antara privat dan publik, membatasi gerak dan
perkembangan perempuan serta memproduksi
dominasi kaum laki-laki.
Dalam novel Maha Cinta Laila Majnun ini bisa diambil beberapa sikap-sikap
patriarkhi yang terdapat dalam cerita Laila Majnun dapat digambarkan sebagai
berikut:
- Ayah
Laila kepada Laila yang ditunjukkan pada sikap melarang Laila untuk
bertemu dengan Majnun.
“Bagi keluarga Laila, keadaan ini
tidak dapat dibiarkan lagi. Tidak hanya kehormatan Laila, tapi juga kehormatan
seluruh kabilah sedang dipertaruhkan. Apa mereka akan membiarkan nama baik
kabilah mereka tercoreng oleh tingkah laku seorang laki-laki gila dari Bani
Amir ini? Apakah mereka akan tinggal diam sementara nama baik Laila ternodai?
Mereka harus segera bertindak. Hal pertama yang mereka lakukan adalah melarang
Laila meninggalkan tendanya. Seorang penjaga ditempatkan di pintu tenda Laila
untuk mencegah Qais menemuinya. Demikianlah, mereka menyembunyikan purnama dari
pungguk yang merindukannya.”
“Dan tidak ada yang dapat dilakukan
Laila untuk menghalanginya. Ia terpaksa menyembunyikan kesedihannya – kesedihan
yang mengoyak hatinya. Hanya bila sedang sendirilah, ia dapat melepas topengnya
dan membiarkan air mata kesepiannya mengalir.”
Pada saat itu ayah Laila mengetahui bahwa Majnun
memiliki rasa cinta yang besar terhadap Laila. Namun ayah Laila tidak
menyetujui hal tersebut karena di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis
dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan
menanggapinya sehingga ayah Laila memutuskan untuk memingit Laila di dalam
kamarnya dan tidak akan mengizinkan Laila untuk bertemu dengan Majnun. Alasan
lain ayah Laila melarang Laila berhubungan dengan Majnun karena ayah Laila
tidak pantas disandingkan dengan Majnun. Hal ini disebabkan dari perilaku
abnormal Majnun yang hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak serta
pakaiannya yang seperti seorang pengemis. Ayah Laila tidak ingin jika putri
satu-satunya itu menikah dengan orang yang tidak layak seperti Majnun meskipun
ia adalah anak Raja. Sikap ayah Laila yang melarang Laila untuk bertemu Majnun
tersebut menunjukkan watak maskulin yang kemudian dapat melestarikan patriarkhi
yaitu kekuasaan seorang ayah yang merasa berhak untuk melarang anaknya dalam
hal apapun seperti melarang anaknya untuk tidak bertemu dengan laki-laki yang
dicintainya. Sikap ayah Laila tersebut memperlihatkan bahwa perempuan pada
zaman itu memiliki hak dan kebebasan yang terbatas. Selain itu, sikap ayah
Laila ini dapat membatasi gerak dan perkembangan perempuan yaitu Laila karena
kekuasaan yang mutlak terdapat dari laki-laki yaitu ayahnya sendiri.
- Sikap
Ibnu Salam terhadap ayah Laila yang memaksa meminta dinikahkan dengan
Laila.
“Pada hari yang sama pula, ketika
Laila pulang dari taman dengan mata yang membengkak akibat menangis, secara
kebetulan ia berpapasan dengan Ibnu Salam, seorang pemuda yang bersal dari Bani
Asad. Ibnu Salam adalah pemuda yang terpandang dan memiliki kekayaan yang
melimpah. Semua orang mengenalnya sangat menghormatinya. Ia adalah lelaki yang
gagah serta dermawan. Nasib baik selalu tersenyum padanya, bahkan teman-teman
dekatnya memanggilnya “Bakht” (keberuntungan). Akankah keberuntungan
menyertainya juga dalam usahanya mendapatkan Laila.”
“Keluarga Laila mempertimbangkan
lamaran Ibnu Salam dengan sangat hati-hati. Mereka menyadari bahwa merupakan
suatu kebodohan jika menolak tawaran seperti ini. Namun demikian, tetap saja
hal ini dirahasiakan terlalu mendadak, begitu tiba-tiba. Tidak ada alasan,
mereka berbisik-bisik secara rahasia, untuk harus menjawab lamaran itu hari ini
jika besok juga masih bisa. Oleh karena itu,
mereka tidak menerima atau menolak lamaran Ibnu Salam. Mereka memilih
untuk membiarkan Ibnu Salam menunggu beberapa lama.”
Ibnu Salim, seorang bangsawan kaya dan berkuasa,
ketika melihat Laila di taman serta-merta jatuh cinta kepadanya. Namun ia juga
tahu kisah percintaan dari Laila dan Majnun. Ia merasa lebih normal, kaya, dan
berkuasa dari Majnun sehingga ia lebih berhak untuk mendapatkan Laila dan
akhirnya ia segera mencari ayah Laila untuk melamar Laila. Ayah Laila pun
menyetujui lamaran Ibnu Salim agar Laila segera dapat melupakan Majnun. Di
pernikahan itu Ibnu Salim dengan segala kekayaannya memberikan berlian dan
hadiah-hadiah mahal dengan harapan agar Laila mampu mencintainya. Namun segala
hal yang dilakukan Ibnu Salim hanyalah berbuah sia-sia karena Laila tidak
pernah dapat berbakti dan dekat kepadanya. Sikap Ibnu Salim yang memaksa ayah
Laila untuk meminta dinikahkan dengan Laila ini juga menunjukkan sikap maskulin
yang dapat melestarikan patriarkhi. Sikap Ibnu Salim itu menunjukkan kekuasaan
seorang laki-laki yang dalam cerita ini digambarkan sebagai seorang bangsawan
yang kaya raya sehingga ia memiliki kekuasaan yang tinggi dan berhak untuk
mendapatkan wanita yang ia kehendaki. Selain itu, sikap dari Ibnu Salim ini
sangat menunjukkan sikap maskulin dari seorang laki-laki dimana ketika ia
memiliki kekayaan maka ia berhak mendapatkan segala sesuatu yang kemudian dapat
menciptakan dan memperkuat pembatas antara privat dan publik.
- Sikap
Naufal yang ingin membantu Majnun untuk mendapatkan Laila dengan berperang
melawan kabilah ayah Laila.
“Naufal mendengarkan dengan penuh
perhatian, simpatinya pada Majnun mulai tumbuh. Niatnya untuk berburu telah
lenyap sama sekali. Jiwa yang bingung dan malang ini membutuhkan pertolongan,
gumam Naufal, dan kupikir merupakan sebuah perbuatan yang baik dan mulia jika
aku menolongnya mendapatkan apa yang dihasratkan oleh hatinya. Maka Naufal
memerintahkan bujang-bujanganya untuk menggendong Majnun ke bawah di mana
teman-temanya sedang menunggu. Di sana ia memerintahkan bujang-bujanganya untuk
mendirikan sebuah tenda dan mengambil makanan dari oase terdekat. Sekarang
sudah tiba waktunya untuk makan malam, dan Majnun akan menjadi tamunya.”
Naufal seorang ksatria gagah berani yang mendengar
tentang cerita Majnun, mengunjungi Majnun di reruntuhan bangunan itu. Ia
merasakan kesedihan yang mendalam dari Majnun. Drama kisah tragis itu
membuatnya sedemikian pilu dan sedih sehingga ia bersumpah dan bertekad
melakukan apa saja yang mungkin untuk mempersatukan dua kekasih itu, meskipun
ini berarti menghancurkan orang-orang yang menghalanginya. Dengan kekuasaan
yang dimilikinya sebagai seorang ksatria, Naufal kemudian mengirimkan
pasukannya untuk menyerbu dan membunuh suku di desa Laila. Karena kekuasaan dan
banyaknya pasukan yang dikirimkan Naufal untuk menyerbu desa Laila, pasukan
Naufal pun hampir memenangkan peperangan itu. Namun ketika Majnun mendengar
bahwa telah terjadi pertempuran di desa Laila, Majnun segera menolong dan
merawat dengan penuh perhatian para penduduk yang terluka hingga sembuh. Naufal
pun merasa heran dengan apa yang telah dilakukan oleh Majnun. Apa yang
dikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Dengan
kekuasaan yang dimilikinya, ia pun memerintahkan pasukannya untuk mundur dan
segera meninggalkan desa itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.
Sikap dari Naufal yang dalam cerita ini digambarkan sebagai seorang ksatria
juga sangat menunjukkan watak maskulin yang juga dapat melestarikan patriarkhi.
Hal ini dapat ditunjukkan bahwa ksatria merupakan gambaran seseorang yang kuat
dan gagah berani sehingga memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk melawan musuh.
Dengan kekuasaan yang dimilikinya, dalam cerita ini ia kemudian dapat
mengirimkan pasukan untuk melawan penduduk dari desa Laila. Kemudian dengan
kekuasaannya juga ia dapat menghentikan pasukannya yang bertempur di desa
Laila. Hal ini kemudian dapat disimpulkan bahwa pada zaman itu, laki-laki
khususnya seorang ksatria yang memiliki pasukan memiliki kekuasaan yang tinggi
untuk mengatur segala sesuatu seperti melaksanakan peperangan dan menghentikan
peperangan.
Kesimpulan
Dari hasil analisa yang dilakukan, kami menemukan representasi patriarkhi dalam novel
Maha Cinta Laila Majnun ini, yaitu, representasi perempuan
sebagai
1. obyektifikasi yang merupakan bentuk
kekerasan
2. representasi perempuan
sebagai korban kekerasan
yang merupakan bentuk
kekerasan fisik dan psikis
3. representasi perempuan sebagai subyek yang mampu bertahan dari superioritas laki-laki.
DAFTAR PUSTAKA
http://tausyah.wordpress.com/laila-majnun
Ambarsiwi, Inne Wahyu. 2012. Representasi Ideologi Patriarkhi Dalam Lirik
Lagu Mulan Jamela. SKRIPSI. Yogyakarta: Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga.
Nizami, Syaikh. 2013. Maha Cinta Laila Majnun. Bandung: OASEbuku.
Komentar
Posting Komentar