Semantik

 

 

 ANALISIS KAJIAN MAKNA DALAM DISIPLIN ILMU MAKNA (SEMANTIK)


Nama :

Abdullah Syarofi       (121111132)

 

SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2013

 


KATA PENGANTAR

 

Bismillahirahmanirrahim.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan berkah dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Semoga sholawat serta salam semoga masih tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari zaman gelap gulita menuju zaman yang penuh dengan maunah dan ketentraman yakni addinul islam.

Makalah ini dapat terselesaikan dengan bantuan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh Karena itu, penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung penyelesaian makalah ini.      

  1. Kedua orang tua saya di rumah yang selalu membimbing dan menasehati saya.
  2. Dr. Ni Wayan Sartini, M.Hum selaku dosen pengampuh mata kuliah Semantik yang tak henti-hentinya mengajarkan ilmunya kepada saya.

Makalah ini saya buat dengan tujuan agar bisa menambah wawasan atau ilmu bagi pembaca dan penulis, dan makalah ini saya buat sebagai syarat untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Semantik, semoga makalah yang saya buat ini bermanfaat bagi pembaca.

 

Penulis

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1       Latar Belakang Masalah

Masyarakat yang sedang berkembang pada segala bidang kehidupannya seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya, biasanya akan diikuti pula oleh perkembangan bahasanya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga mengakibatkan perkembangan bahasa. Hal tersebut menunjukkan, makin maju suatu bangsa serta makin modern kehidupannya, makin berkembang pula bahasanya. Perkembangan bahasa harus sejalan dan seiring dengan kemajuan kebudayaan serta peradaban bangsa sebagai pemilik dan pemakai bahasa tersebut (Badudu, 1993).

Sejalan dengan berkembangnya zaman, perkembangan bahasa pun juga ikut berkembang dan mengalami pergeseran-pergeseran makna. Pergeseran makna bahasa memang tidak dapat dihindari. Atas dasar itu, tidak mengherankan dalam beberapa tahun terakhir ini di Negara Indonesia muncul berbagai kata yang memiliki banyak makna baru. Meski demikian makna yang melekat terlebih dahulu tidak serta merta hilang begitu saja. Perubahan makna suatu kata yang terjadi, terkadang hampir tidak disadari oleh pengguna bahasa itu sendiri. Untuk itu perlu bagi kita mengetahui dan memahami ilmu kebahasaan khususnya pada ilmu makna (semantik).

Semantik atau ilmu makna cenderung berkembang sejak tahun 1970-an, meskipun sejak tahun 1825 dan kemudian muncul M. Breal (1897). Di Indonesia semantik mulai berkembang sejak 1980-an. Kemampuan mengolah dan memahami kebahasaan ada pada aspek makna di dalam linguistik. Dalam ilmu makna (semantik) kita akan mempelajari banyak hal di antaranya adalah aspek makna, jenis makna, tipe makna dan ada banyak yang lainnya. Pada makalah ini penulis fokus pada analisis jenis makna dalam ilmu semantik.

 

 

 

1.2       Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan hal-hal sebagai berikut:

1.      Analisis kajian makna pada ilmu makna (semantik) ?

2.      Analisis jenis makna pada ilmu makna (semantik) ?

1.3       Manfaat

            1. Mahasiswa dapat mengetahui tentang kajian makna dalam ilmu semantik

            2. Mahasiswa dapat mengetahui tentang jenis makna dalam ilmu semantik

 

 

 

 

 

 


BAB II

PEMBAHASAN

                              

2.1       Analisis Kajian Makna

            2.1.1 Pendekatan Makna

            Pendekatan makna yang dikemukakan oleh Wittgenstein adalah tokoh pendekatan makna secara operasional (pendekatan yang dapat menentukan tepatnya makna sebuah kata, di dalam kalimat) dalam bahasa Indonesia. Pendekatan makna menurut Wittgenstein dapat ditinjau melalui beberapa teori yang pertama dengan pendekatan operasioal, penyulihan atau saling menyulih (sinonim mutlak) ini terdapat seperti pada kata lekas dan cepat, karena dan sebab dsb. Makna dapat pula ditinjau dari pendekatan analitik atau refrensial, yakni pendekatan yang mencari esensi makna dengan cara menguraikannya atas unsur-unsur utama. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan operasional, yang mempelajari kata dalam penggunannya, contoh pada kata gadis yang bermakna manusia, dewasa , belum kawin, perempuan dsb. Selanjutnya yaitu pendekatan ekstensional dan intensional. Pendekatan ekstensional adalah pendekatan yang memusatkan perhatian pada penggunaan kata di dalam konteks. Pendekatan intensional adalah pendekatan yang memusatkan pada struktur-struktur konseptual yang berhubugan dengan satuan-satuan utama (Nida, 1975 : 22).

            2.1.2 Aspek Makna

            Aspek makna menurut Palmer (1976) dapat dipertimbangkan dari fungsi, dan dapat dibedakan atas :

1. Sense (pengertian)

Aspek makna pengertian ini dapat dicapai jika antara pembicara/penulis dan kawan bicara/pembaca berbahasa sama. Makna pengertian disebut juga tema, yang melibatkan idea tau pesan yang dimaksud. Di dalam berbicara dalam kehidupan sehari-hari kita mendengar kawan bicara menggunakan kata-kata ynag mengandung idea tau pesan yang dimaksud. Misalnya pada kalimat, hari ini hujan dan hari ini mendung. Jadi pada kalimat ii lawan bicara faham bahwa hari ini mendung dan hari ini juga hujan.

2. Feeling (perasaan)

Aspek makna perasaan berhubungan dengan sikap pembicara dengan situasi pembicaraan. Di dalam sehari-hari kita juga selalu berhubungan dengan perasaan misalnya perasaan sedih, panas, dingin dsb. Pernyataan situasi yang berhubungan dengan aspek makna perasaan tersebut digunakan kata-kata yang sesuai dengan situasinya. Missal pada kalimat turut berduka cita, ikut bersedih. Kata-kata ini muncul ketika pembicara merasakan keadaan yang sedih.

3. Tone (nada)

Aspek makna nada ini melibatkan pembicara untuk memilih kata-kata yang sesuai dengan  keadaan kawan bicara dan pembicara sendiri. Aspek makna nada ini berhubungan pula dengan aspek makna perasaan, bila kita jengkel maka sikap kita akan berlainan dengan perasaan bergembira terhadap kawan bicara. Bila kita jengkel akan memilih aspek makna nada dengan meninggi, belainan dengan aspek makna yang digunakan bila kita memerlukan sesuatu, maka akan beriba-iba dengan nada merata atau merendah.

4. Intension (tujuan)

Aspek makna tujuan ini adalah tujuan atau maksud, baik disadari maupun tidak, akibat usaha dari peningkatan. Apa yang kita ungkapkan di dalam makna aspek tujuan memiliki tujuan tertentu. Aspek makna tujuan ini melibatkan klasifikasi pernyataan yang bersifat : deklaratif, persuasive, imperative, naratif, politis dan paedagogis.

2.2 Analisis Jenis Makna

            2.2.1 Makna Sempit

Makna sempit adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran. Makna yang asalnya lebih luas dapat menyempit, karena dibatasi. Bloomfield mengemukakan adanya makna sempit dan makna luas di dalam perubahan makna ujaran. Perubahan makna suatu bentuk ujaran secara semantic berhubungan, tetapi ada juga yang menduga bahwa perubahan terjadi dan seolah-olah bentuk ujaran hanya menjadi objek yang relative permanen, dan makna hanya menempel seperti satelit yang berubah-ubah. Sesuatu yang menjadi harapan mereka adalah menemukan alas an mengapa terjadi perubahan, melalui studi makna dengan segala perubahannya yang terjadi terus-menerus. Contoh :

Ø  Saudara dengan saudara kandung

   saudara tiri

   saudara sepupu

            2.2.2 Makna Luas

Makna luas adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan. Kata-kata yang berkonsep memiliki makna luas dapat muncul dari makna yang sempit. Kata-kata yang memiliki makna luas digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum, sedangkan makna sempit adalah kata-kata yang bermakna khusus atau kata-kata yang bermakna luas dengan unsure pembtas. Kata-kata bermakna sempit digunakan untuk menyatakan seluk-beluk atau rincian gagasan yang bersifat umum. Contoh :

Ø  Kursi roda dengan kursi

Ø  Warisan dengan harta

2.2.3 Makna Kognitif

Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotative adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia keyataan. Makna kognitif adalah adalah makna lugas, makna apa adanya. Makna kognitif tidak hanya dimiliki kata-kata yag menunjuk benda-benda nyata, tetapi mengacu pula pada bentuk-bentuk yang makna kognitifnya khusus, antara lain itu, ini, ke sana, ke sini, satu, dua, tiga. Makna kognitif sering digunakan di dalam istilah teknik. Makna kognitif dengan sebutan bermacam-macam, antara lain deskriptif, denotative, dan kognitif konsepsional. Makna ini tidak pernah dihubungkan dengan hal-hal lain secara asosiatif, makna tanpa tafsiran hubungan dengan benda lain atau peristiwa lain. Makna kognitif adalah makna sebenarnya, bukan makna kiasan atau perumpamaan. Contoh :

Ø  Orang itu mata duitan

2.2.4 Makna Konotatif dan Emotif

Makna konotatif yang dibedakan dari makna emotif karena yang disebut pertama bersifat negatif dan yang disebut kemudian bersifat positif. Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau apa yang didengar. Makna konotatif adalah makna yang muncu dari makna kognitif, ke dalam makna kognitif tersebut ditambahkan komponen makna lain. Contoh :

Ø  Perempuan itu ibu saya

Ø  Ah, dasar perempuan

Pada contoh pertama adalah makna kognitif, sedangkan pada contoh kedua adalah makna ekpresi.

Makna konotatif dan makna emotif dapat dibedakan berdasarkan masyarakat yang menciptakannya atau menurut individu yang menciptakannya atau menghasilkannya, dan dapat dibedakan berdasarkan media yang digunakan (lisan atau tulisan), serta menurut bidang yang menjadi isinya.

Makna emotif adalah makna yang melibatkan perasaan (pembicara dan pendengar; penulis dan pembaca) kea rah yang positif. Makna ini berbeda dengan makna kognitif yang menunjukkan adanya hubungan antara dunia knsep dengan kenyataan, makna emotif menunjuk sesuatu yang lain yang tidak sepenuhnya sama dengan yang terdapt dalam dunia kenyataan.

2.2.5 Makna Referensial

Makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referent (acuan), makna referensial disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan. Makna ini memiliki hubungan dengan konsep, seperti halnya dengan makna kognitif. Contoh :

Ø  Orang itu menampar orang

Ø  Orang itu menampar dirinya

Pada contoh pertama  orang dibedakan maknanya dengan orang kedua karena orang pertama sebagai pelaku dan orang kedua sebagai pengalam (yang mengalami), hal tersebut menunjukkan makna kategori yang berbeda, tetapi makna referensial mengacu pada konsep yang sama orang sama dengan manusia.

2.2.6 Makna Konstruksi

Makna konstruksi adalah makna yang terdapat di dalam konstruksi, misalnya makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia. Disamping itu, makna milik dapat diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukkan kepunyaan. Contoh :

Ø  Itu buku saya

2.2.7 Makna Leksikal dan Makna Gramatikal

Makna leksikal adalah makna unsure-unsur bahasa sebagai lambing benda, peristiwa, dan lain-lain. Makna leksikal ini dimilika unsure-unsur bahasa secara tersendiri. Lepas dari konteks. Ada pula yang mengatakan bahwa makna leksikal adalah makna kata-kata pada waktu berdiri sendiri, baik dalam bentuk turunan maupun dalam bentuk dasar.

Makna gramatikal adalah makna yang menyangkut hubungan intra bahasa, atau makna yag muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah kata di dalam kalimat. Di dalam semantic makna gramatikal dibedakan dari makan leksikal. Makna merupakan pertautan yang ada antara satuan bahasa, dapat dihubungkan dengan makna gramatikal, sedangkan arti adalah pengertian satuan kata sebagai unsure yang dihubungkan. Makna leksikal dapat berubah ke dalam makna gramatikal secara operasional. Contok kata belenggu, yang pertama bermakna alat pengikat kaki dan tangan yang kedua sesuatu yang mengikat.

Ø  Polisi memasang belenggu pada kaki dan tangan pencuri yang baru tertangkap

Ø  Mereka terlepas dari belenggu penjajahan.

2.2.8 Makna Idesional

Makna idesional adalah makna yang muncul sebagai akibat penggunaan kata yang berkonsep. Kata yang dapat dicari konsepnya atau ide yang terkandung di dalam satuan kata-kata, baik bentuk dasar maupun turunan. Contoh pada kata demokrasi, makna pertama dalam kata demokrasi bermakna bentuk atau system pemerintahan, segenap rakyat turut serta memerintah dengan perantaraan wakil-wakilnya, pemerintah rakyat. Makna yang kedua bermakna gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga Negara.

2.2.9 Makna Proposisi

Makna proposisi adalah makna yang muncul bila kita membatasi pengertian tentang sesuat. Kata-kata dengan makna proposisi kita dapatkan di bidang eksakta atau matematika. Makna proposisi juga mengandung pula saran, hal, rencana, yang dapat dipahami melalui konteks. Contoh sudut siku-siku makna proposisinya alaha Sembilan puluh derajat.

2.2.10 Makna Pusat

Makna pusat adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi inti ujaran. Setiap ujaran (klausa, kalimat, wacana) memiliki makna yang menjadi pusat inti pembicaraan. Makna pusat juga disebut makna tak berciri. Makna pusat dapat hadir pada konteksnya atau tidak hadir pada konteks. Seseorang yang berdialog dapat komunikatif tentang inti suatu pembicaraan, dan pembicara dan kawan bicara akan memahami makna pusat suatu dialog karena penalaran yang kuat. Contoh :

Ø  Meja iu bundar

2.2.11 Makna pictorial

Makna pictorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca. Missal pada situasi makan kita bicara tentang sesuatu yang menjijikan dan menimbulkan perasaan jijik bagi si pendegar, sehingga ia menghentikan kegiatan makan.


2.2.12 Makna Idiomatik

Makna idiomatic adalah makna leksikal terbentuk dari beberapa kata. Kata-kata yang disusun dengan kombinasi kat lain dapat pula menghasilkan makna yang berlainan. Sebagian idiom merupakan bentuk beku (tidak berubah), artinya kombinasi kata-kata dalam bentuk tetap. Bentuk tersebut tidak dapat diubah berdasarkan kaidah sintaksis yang berlaku bagi suatu bahasa. Makna idiomatic didapatkan di dalam ungkapan dan pribahasa. Contoh :

Ø  Ia bekerja membanting tulang bertahun-tahun

 

 


BAB III

PENUTUP

3.1       Kesimpulan

   Bahasa (linguistic) merupakan alat komunikasi manusia yang tidak terlepas dari arti atau makna pada setiap perkataan yang diucapkan. Semantik merupakan salah satu cabang ilmu yang dipelajari dalam studi linguistik. Semantic adalah ilmu yang mempelajari suatu makna pada bahasa tersebut. Dalam ilmu makna (semantik) kita akan mempelajari banyak hal di antaranya adalah aspek makna, jenis makna dsb. Dalam mempelajari aspek makna kita tahu bahwa aspek suatu makna itu di dapat melalui sense (pengertian), feeling (perasaan), tone (nada), dan intension (tujuan). Di dalam  semantic kita juga bisa mempelajari tenang jenis makna diantaranya adalah makna sempit, makna luas, makna kognitif, makna konotatif dan emotif, makna referensioanl, makna konstruksi, makna leksikal dan gramatikal, makna idesional, makna proposisi, makna pusat, maknapiktorial, dan makna idiomatic.

 

           

 

 

 

               

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Djajasudarma, Fatimah, “Sematik 2 : Pembahasan Ilmu Makna ”, Penerbit, PT

Refika Aditama,  Bandung, 1993

Aminuddin, “Semantik : Pengantar Studi Tentang Makna” Penerbit, Sinar Baru,

Bandung, 1988

Djajasudarma, Fatimah, “Sematik 1 : Makna Leksikal dan Gramatikal”, Penerbit,

PT Refika Aditama,  Bandung, 1993

            Parera, J D, “Teori Semantik”, Penerbit, Erlangga, Jakarta, 2004

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi