Sintaksis


KLAUSA VERBAL, NOMINAL DAN BILANGAN


 

KATA PENGANTAR

 

Bismillahirahmanirrahim.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan berkah dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Semoga sholawat serta salam semoga masih tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari zaman gelap gulita menuju zaman yang penuh dengan maunah dan ketentraman yakni addinul islam.

Makalah ini dapat terselesaikan dengan bantuan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh Karena itu, penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung penyelesaian makalah ini.      

  1. Kedua orang tua kami di rumah yang selalu membimbing dan menasehati kami.
  2. Dosen Tubiyono, S.S. M.Hum selaku dosen pengampuh mata kuliah Sintaksis yang tak henti-hentinya mengajarkan ilmunya kepada kami.

Makalah ini kami buat dengan tujuan agar bisa menambah wawasan atau ilmu bagi pembaca dan penulis, dan makalah ini kami buat sebagai syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sintaksis, semoga makalah yang kami buat ini bermanfaat bagi pembaca.

 

 

Penulis

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1       Latar Belakang Masalah

Linguistik (Ilmu Bahasa) memilki dua tataran, yaitu tataran fonologi dan tataran gramatika atau tata bahasa. Dalam tata bahasa terdapat bahasa morfologi dan sintaksis. Sintaksis adalah cabang dari ilmu liguistik yang  membicarakan tentang hubungan antarkata dalam sebuah tuturan.

Unsur bahasa yang termasuk di dalam lingkup sintaksis adalah frasa, klausa dan kalimat. Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif atau juga membicarakan hubungan antara sebuah kata dengan kata yang lain.

Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relative berdiri sendiri, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah subjek dan predikat, mempunyai intonasi final (kalimat lisan), dan secara actual maupun potensial terdiri atas klausa, kalimat juga dapat dikatakan membicarakan hubungan antara sebuah klausa dan klausa yang lain.

Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah predikat, dan berpotensi menjadi kalimat. Dengan kata lain, klausa membicarakan hubungan sebuah gabungan kata dan gabungan kata yang lain.

1.2       Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan hal-hal sebagai berikut:

  1. Pengertian klausa verbal, nominal dan bilangan ?
  2. Jenis kalimat berdasarkan predikat yang membentuknya ?

 

 

 

 

 


BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1       Pengertian klausa verbal, nominal dan bilangan

            Kalimat verbal adalah kalimat yang predikatnya kata kerja. Arti Kalimat Verbal adalah kalimat yang berpredikat kata kerja (sesuai dengan arti dari verb yaitu kata kerja). Susunan dari kalimat ini yaitu terdiri dari S + P (Subyek dan Prediakat) dengan syarat :

 

Subyek            : Berisi kata benda      (orang, hewan , tumbuhan dll)

Predikat           : Berisi kata kerja        (misalnya membaca, berlari, makan dll)

Serta bisa ditambahkan

Obyek                         : Buku, jam, pensil dll

Keterangan waktu       : 3 jam yang lalu, minggu kemarin, besok dll

Keterangan tempat      : di sekolah, mushola , lapangan dll

 

            Kalimat nominal adalah kalimat yang predikatnya dibentuk dengan selain kata kerja. Kalimat Nominal yaitu kalimat yang berpredikat bukan kata kerja, melainkan berjenis kata benda, kata sifat, kata bilangan, kata ganti, atau kata keterangan. Susunan dari kalimat ini yaitu terdiri dari sama dengan kalimat verbal S + P (Subyek dan Prediakat), namun kalimat ini harus terdapat syarat :

Subyek            :  Berisi kata benda ( orang, hewan , tumbuhan dll )

Predikat           : Berisi bukan kata kerja melainkan berjenis kata benda, kata sifat, kata bilangan, kata ganti, atau kata keterangan.

Serta bisa ditambahkan

Obyek                         : Buku, jam, pensil dll

Keterangan waktu       : 3 jam yang lalu, minggu kemarin, besok dll

Keterangan tempat      : di sekolah, mushola , lapangan dll

 

            Kalimat bilangan adalah kalimat yang predikatnya berupa numerial (kata bilangan), yang akan memberikan keterangan mengenai banyaknya suatu kumpulan benda. Lambang bilangan biasa dinotasikan dalam bentuk tulisan sebagai angka.


2.2       Jenis kalimat berdasarkan predikat yang membentuknya

            Berdasarkan predikat yang membentuknya, kalimat dapat dibedakan atas dua bagian besar, yaitu kalimat verbal dan kalimat nominal. Sedangkan kalimat nominal di bagi lagi menjadi empat bagian yaitu kalimat berpredikat benda, kalimat yang berpredikat ajektiva, kalimat yang berpredikat numeral dan kalimat yang berpredkat preposisi.

2.2.1        Kalimat Verbal

Kalimat verbal adalah kalimat yang predikatnya kata kerja, kalimat yang berpredikat kerja di bedakan atas, kalimat berpredikat kata kerja taktransitif, kalimat berpredikat kata kerja semitransitif dan kalimat berpredikat kata kerja transitif. Kalimat berpredikat kata kerja transitif di bagi atas kalimat berpredikat kata kerja ekatransitif dan dwitransitif.

2.2.1.1  Kalimat berpredikat verba taktransitif

Kalimat taktransitif adalah kalimat yang tak berobjek dn tak berpelengkap, hanya memiliki dua unsure fungsi wajib, yaitu subjek dan predikat (Alwi, 1998; Putrayasa, 2007). Pada umunya, urutan katanya adalah subjek predikat. Kategori kata yang dapat mengisi fungsi predikat terbatas pada verba taktransitif.

Contoh :

1. Ibu guru sedang berbelanja

2. Pelatihnya belum datang

Dari contoh ini terlihat bahwa verba berfungsi sebagai predikat dalam tipe kalimat itu ada yang berprefiks ber- dan ada pula ang berprefiks meng- dari segi semantisnya. Karena predikat dalam kalimat tak berobjek dan tak berpelengkap itu adalah verba taktransitif.

2.2.1.2  Kalimat berpredikat verba semitransitif

Kalimat verba semitransitif adalah kalimat yang predikatnya bias diikuti objek, bsa juga tanpa diikuti objek. Kehadiran objek pada kalimat semitransitif akan menambah kejelasan makna kalimat tersebut, sebaliknya tanpa kehadiran objek pun kalimat tersebut sudah bias dipahami dengan baik. Namun, perlu diingat bahwa kehadiran objek pada kalimat semitransitif akan mengubah bentuk kalimat tersebut menjadi kalimat ekatransitif. Sebaliknya, tanpa kehadiran objek dalam kalimat semitransitif itu akan mengubah pula bentuk kalimatnya menjadi kalimat taktransitif.

Contoh :

1. a. Andi sedang membaca

    b. Andi sedang membaca harian jawa pos kemarin

Verba membaca termasuk verbal semitransitif, kalimat (a) tergolog kalimat taktransitif, sedangkan kalimat (b) tergolong kalimat ekatransitif karena bentuk harian jawa pos kemarin merupakan objek kalimat. Jadi kalimat (b) bias di pasifkan.

2.2.1.3  Kalimat berpredikat verba transitif

Kalimat verba transitif adalah kalimat yang predikatnya membutuhkan objek. Kalimat verba transitif ini dibedakan menjadi 2 yaitu kalimar verba ekatransitif dan dwitransitif.

2.2.1.3.1        Verba Ekatransitif

Kalimat yang berobjek dan tidak berpelengkap mempunyai tiga unsur wajib, yakni subjek, predikat, dan objek. Predikat dalam kalimat ekatransitif adalah verba yang digolongkan dalam kelompok verba ekatransitif. Dari segi makna, semua verba ekatransitif meiliki inheren perbuatan.

Contoh :

1.      Pemerintah akan memasok semua kebutuhan rakyat.

2.2.1.3.2        Verba Dwitransitif

Verba transitif dalam bahasa Indonesia yang secara semantic mengungkap hubungan tiga wujud. Dalam bentuk aktif, wujud itu merupakan subjek, objek, dan pelengkap, verba itu yang di namakan verba dwitransitif.

Contoh :

1. Ratna sedang mencarikan adiknya pekerjaan.

Dari contoh di atas dapat di pahami bahwa verba dwitransitif yaitu kalimat yang mempunyai objek dan pelengkap, makna “untuk orag lain” pada kalimat dwitransitif seperti yang di atas itu umumnya dinamakan makna peuntung dan benefaktif.

 

2.2.2        Kalimat Nominal

Kalimat nominal adalah kalimat yang predikatnya dibentuk dengan selain kata kerja. Selain kata kerja tersebut meliputi :

1. Nomina atau benda

2. Ajektiva atau sifat

3. Preposisi atau kata depan

 

2.2.2.1  Kalimat Berpredikat Nomina

Dalam bahasa Indonesia ada dua macam kalimat yang predikatnya terdiri atas nomina (termasuk pronomina) atau frasa nominal. Dengan demikian, keadaan nomina atau frasa nomina yang disandingkan dapat membentuk kalimat asalkan syarat untuk subjek dan predikatnya terpenuhi. Syarat untuk kedua unsure itu penting Karen a jika tidak terpenuhi, maka jejeran nomina tadi tidak akan membentuk kalimat.

                        Contoh :

1.      Buku itu cetakan Bandung.

Contoh diatas membentuk kalimat karena penanda batas frasa itu  memisahkan kalimat menjadi dua frasa nominal dengan cetakan Bandung sebagai predikat, kalimat yang predikatnya nominal sering pula dinamakan kalimat persamaan atau kalimat ekuatif (Alwi, 1998).

2.2.2.2  Kalimat Berpredikat Ajektiva

Predikat kalimat dalam bahasa Indonesia dapat ula berupa ajektiva atau frasa ajektiva. Contoh :

1. Pemain sepak bola itu kaya.

Pada contoh di atas, subjek kalimat itu adalah pemain sepak bola sedangkan predikatnya kaya. Kalimat yang predikatya ajektiva sering juga dinamakan kalimat statif.

2.2.2.3  Kalimat Berpredikat Frasa Preposisional

Predikat dalam kalimat bahasa Indonesia dapat pula berupa preposisi. Contoh :

1.      Ibu sedang ke pasar.

Tidak semua preposisi dapat menjadi predikat kalimat.

 

2.2.3        Kalimat Numeral (Bilangan)

Kalimat bilangan adalah kalimat yang predikatnya berupa numerial (kata bilangan), yang akan memberikan keterangan mengenai banyaknya suatu kumpulan benda. Lambang bilangan biasa dinotasikan dalam bentuk tulisan sebagai angka.

Numerial sering disebut juga kata bilangan. Kata iu digunakan untuk menghitung jumlah orang, binatang, barang, dan juga sebuah konsep. Dalam bahasa Indonesia numerial dibedakan menjadi dua macam numerial yakni numerial pokok dan numerial tingkat. Numerial pokok (cardinal) digunakan untuk menjawab pertanyaan ‘berapa’ sedangkan numeril tingkat (ordinal) digunakan untuk menjawab pertanyaan ‘yang keberapa’

Selain macam-macam kalimat yang predikatnya berupa frasa verbal, ajektiva, dan nominal. Ada pula kalimat dalam bahasa Indonesia yang predikatnya berupa frasa numeral. Contoh :

1.      Tabungannya hanya sedikit

2.      Lebar sungai itu lebih dari dua ratus meter.


BAB III

PENUTUP

3.1       Kesimpulan

            Berdasarkan predikat yang membentuknya, kalimat dapat dibedakan atas dua bagian besar, yaitu kalimat verbal dan kalimat nominal. Selanjutnya, kalimat nominal ini dibagi menjadi : kalimat berpredikat nomina (benda), kalimat berpredikat ajektiva (sifat/keadaan), kalimat berpredikat numeralia (bilangan), dan kalimat preposisi (kata depan).

            Kalimat verbal adalah kalimat yang predikat kata kerja. Sementara itu, kalimat nominal adalah kalimat yang predikatnya selain kata kerja, yakni : kata benda, kata sifat, kata bilangan, dan kata depan.

            Kalimat yang berpredikat kata kerja dibedakan atas : kalimat berpredikat kata kerja taktransitif, kalimat berpredikat kata kerja semitransitif, dan kalimat berpredikat kata kerjatransitif ini dibagi atas kalimat berpredikat kata kerja ekatransitif dan dan kata kerja dwitransitif.  

           

 

 

 

               


DAFTAR PUSTAKA

Bagus, Ida Putrayasa, “Jenis Kalimat Dalam Bahasa Indonesia”,PT Refika

Aditama, Bandung, 2009.

Rahardi, Kunjana, “Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi ”, Penerbit

Erlangga, Jakarta, 2009.

Arifin, Zaenal dkk, “SINTAKSIS”, PT Grasindo, Jakarta, 2008.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi