Sintaksis

 

ANALISIS SINTAKSIS BERDASARKAN KATAGORI

(Disusun untuk memenuhi tugas Sintaksis Bahasa Indonesia)

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Bahasa sebagai satu wujud yang utuh dipenggal-penggal untuk kemudian dianalisis satu persatu. Penggalan-penggalan itu disebut satuan bahasa atau unit bahasa. Satuan bahasa terkecil disebut fonem, satuan bahasa di atas fonem disebut morfem, satuan bahasa di atas morfem disebut kata, satuan bahasa di atas kata disebut frase, satuan bahasa di atas frase disebut klausa, satuan bahasa di atas klausa disebut kalimat dan satuan bahasa terbesar di atas kalimat adalah wacana.

Masing-masing satuan bahasa itu akan diidentifikasi menurut fungsi, katagori, dan peran semantik unsur-unsur kalimat (Putrayasa, 2010:63). Setiap bentuk kata atau frase yang menjadi konstituen kalimat termasuk dalam katagori kata atau frase tertentu dan masing-masing mempunyai fungsi sintaksis serta peran semantik tertentu pula.

Pada kesempatan kali ini lebih memfokuskan diri pada analisis sintaksis berdasarkan katagori. Analisis katagori bertujuan mengelompokkan unsur-unsur bahasa berdasarkan kesamaan struktur, kesamaan distribusi atau kesamaan rupa atau bentuk (Parera, 2009:6). Klasifikasi atau katagori satuan-satuan bahasa bertujuan menemukan perbedaan-perbedaan dan kesamaan-kesamaan dalam satu tataran. Misalnya, pada tataran fonologi, fonem-fonem dibedakan atau dikelompokkan ke dalam buyi-bunyi segmental dan suprasegmental, bunyi vokoid dan kontoid, serta bunyi yang muncul ada posisi awal, tengan dan akhir. Pada tataran morfologi, satuan morfem dibedakan atas morfem bebas dan morfem terikat, satuan kata dikatagorikan ke dalam kelas kata nomen, verbum, adjektif dan partikel. Satuan frase dibedakan ke dalam frase endosentris dan eksosentris, frase nomen, frase verbum, dan adjektif. Satuan kalimat dikatagorikan ke dalam kalimat ekaklausa dan poliklausa.

 


1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, terdapat beberapa permasalahan yang timbul sebagai akibatnya. Beberapa permasalah tersebut dia antaranya, yaitu:

1.2.1        Apakah yang dimaksud dengan analisis sintaksis berdasarkan katagori?

1.2.2        Apa saja yang menjadi penentu katagori atau kelas kata?

 

1.3 Tujuan

Berdasarkan beberapa rumusan masalah yang timbul tersebut, penyusun mempunyai tujuan sebagai pedoman untuk menjelaskan topik-topik terkait dengan analisis sintaksis berdasarkan katagori, di antaranya.

            1.3.1 Mahasiswa mampu memahami pengertian analisis sintaksis berdasarkan

                        katagori.

            1.3.2 Mahasiswa mampu memahami unsur-unsur penentu dalam kelas kata atau

                        katagori.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Dalam ilmu bahasa, kata dikelompokkan berdasarkan bentuk serta perilakunya. Kata yang mempunyai bentuk serta perilaku yang sama atau mirip, dimasukkan ke dalam satu kelompok. Di sisi lain, kata yang bentuk dan perilakunya sama atau mirip dengan sesamanya, tetapi berbeda dengan kelompok pertama dimasukkan ke dalam kelompok yang lain. Dengan kata lain, kata dapat dibedakan berdasarkan katagori sintaksisnya. Katagori sintaksis sering pula disebut katagori atau kelas kata (Alwi, et. Al, 1998). Oleh karena itu, analisis kalimat berdasarkan katagori merupakan penentuan kelas kata yang menjadi unsur-unsur kalimat tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Verhaar (1996) yang mengatakan, bahwa katagori sintaksis adalah apa yang sering disebut ‘kelas kata’, seperti nomina, verba, adjektiva, adverbia, adposisi (artinya, preposisi atau posposisi). Alwi membagi kelas kata ke dalam lima kelas (1998). Kelas kata tersebut di antaranya:

a. kata benda (nomina),

b. kata kerja (verba),

c. kata sifat (adjektiva),

d. kata keterangan (adverbial), dan

e. kata tugas.

 

1. Kata Benda (Nomina)

Kata benda (nomina) adalah nama seseorang, tempat , atau benda (Burton Robert, 1997). Kata benda adalah katagori yang secara sintaksis ,(1) tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan partikel tidak, (2) mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari (Kridalaksa, 1994). Kata benda mencakup pronominal dan numeralia. Kata benda dapat dilihat dari tiga segi yakni segi semantik, segi sintaksis, dan segi bentuk. Dari segi semantik dapat dikatakan bahwa kata benda adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian. Dengan demikian, kata-kata seperti guru, kucing, meja, dan kebangsaan adalah benda (nomina). Dari segi sintaksisnya, nomina mempunyai cirri-ciri tertentu.

1. Dalam kalimat yang predikatnya verba, nomina, cenderung menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap dapat diikuti oleh kata itu, dapat didahului oleh kata bilangan (Alwi, et. Al, 1998; Kridalaksa, 1994). Kata pemerintah dan perkembangan dalam kalimat Pemerintah akan memantapkan perkembangan adalah nomina. Kata pekerjaan dalam kalimat Ayah mencarikan saya pekerjaan adalah nomina.

2. Nomina tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak. Kata pengingkarnya adalah bukan. Untuk mengingkarkan kalimat Ayah saya guru harus dipakai kata bukan: Ayah saya bukan guru.

3. Umumnya, nomina dapat diikuti oleh adjektiva, baik secara langsung maupun di antarai oleh kata yang. Dengan demikian, buku dan rumah adalah nomina karena dapat bergabung menjadi buku baru dan rumah mewah atau buku yang baru dan rumah yang mewah.

Dari segi perilaku sintaksisnya, nomina dapat dilihat berdasarkan posisi atau pemakaiannya pada tataran frase. Pada frase nominal, nomina berfungsi sebagai inti atau poros frase. Sebagai inti frase, nomina menduduki bagian utama, sedangkan pewatasnya berada di depan, atau di belakangnya. Bila pewatas frase nominal itu berada di depan, pewatas ini umumnya berupa numeralia atau kata tugas (Alwi, et. Al, 1998). Misalnya:

tujuh lembar

seorang pilot

beberapa sopir

bukan jawaban

banyak masalah

Kalau pewatas berada di belakang nomina, frase nominal dapat berupa urutan dua nomina atau lebih atau nomina yang diikuti oleh adjektiva, verba, atau kelas kata yang lain. Dengan kata lain, nomina yang merupakan inti frase itu diikuti oleh pewatas yang berupa nomina, adjektiva, verba, atau kelas kata yang lain. Misalnya:

masalah penduduk                  

buku tugas

uang saku bulanan

kelas ringan

pendapat yang aneh

istilah baru

 

pola berpikir

keluarga berencana

tabungan berjangka

 

rumah kita

masa kini

perbuatan itu

Dari segi bentuknya, nomina terdiri atas dua macam, yakni (i) nomina yang berbentuk kata dasar dan (ii) nomina turunan. Penurunan nomina ini dilakukan dengan afiksasi, perulangan, atau pemajemukan (Alwi, et. Al, 1998). Contoh nomina dasar adalah gambar, meja, rumah, pisau, tongkat, hukum, dan lain-lain. Selain nomina dasar, juga terdapat nomina turunan, misalnya daratan, pendaratan, kekosongan, persatuan, meja-meja, pisau-pisau, tongkat-tongkat, rumah makan, kamar mandi, ruang tamu, dan sebagainya.

Seperti yang telah disinggung, bahwa nomina mencakup pronominal dan numeralia. Oleh karena itu, pronomina dan numeralia akan diuraikan pula pada bagian ini.

Pronomina ialah kata-kata petunjuk, pernyataan, atau penanya tentang sebuah substansi dan dengan demikian justru mengganti namanya (Ramlan, 1991). Pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu pada nomina lain (Alwi, et. al, 1998). Kridalaksa (1994) mengatakan bahwa pronomina adalah katagori yang berfungsi menggantikan nomina. Nomina perawat dapat diacu dengan pronomina dia atau ia. Bentuk –nya pada meja itu kakinya empat, mengacu pada kata meja. Jika dilihat dari segi fungsinya, dapat dikatakan bahwa pronomina menduduki posisi yang diduduki oleh nomina, seperti subjek, objek, dan –dalam macam kalimat tertentu-juga predikat. Ciri lain yang dimiliki oleh pronomina adalah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis, siapa yang menjadi pendengar/pembaca, atau siapa/apa yang dibicarakan.

Ada tiga macam pronomina dalam bahasa Indonesia. Pertama, pronomina persona. Kedua, pronomina penunjuk. Ketiga, pronomina penanya (Alwi, et al, 1998).

1. Pronomina Persona

Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu pada orang. Pronomina  persona dapat mengacu pada diri sendiri (pronomina persona pertama), mengacu pada orang yang diajak bicara (pronomina persona kedua), dan mengacu pada orang yang dibicarakan (pronominl persona ketiga). Di antara pronomina itu, ada yang mengacu pada jumlah satu atau lebih dari satu. Ada yang bersifat eksklusif, inklusif dan netral.

2. Pronomina Petunjuk

Pronomina petunjuk dalam bahasa Indonesia, terdapat tiga macam. Pertama, pronomina penunjuk umum. Kedua, pronomina penunjuk tempat. Ketiga, pronomina penunjuk ihwal (Alwi, et. Al, 1998; Kridalaksa, 1994).

            a. Pronomina Penunjuk Umum

Pronomina penunjuk umum adalah ini, itu dan anu. Kata ini mengacu pada acuan yang dekat dengan pembicara/penulis, pada masa yang akan datang, atau pada informasi yang akan disampaikan. Untuk acuan pada yang agak jauh dari pembicara/penulis, pada masa lampau, atau pada informasi yang sudah disampaikan, digunakan kata itu.

Sebagai pronomina, ini dan itu ditempatkan sesudah nomina yang diwatasinya. Orang juga memakai kedua pronominal itu sesudah pronominal persona, tampaknya untuk memberikan lebih banyak penegasan. Misalnya:

 


jawaban ini

lamaran itu

masalah ini

rumusan ini


Kata anu dipakai bila seseorang tidak dapat mengingat benar kata apa yang harus dia pakai, padahal ujaran telah terlanjur dimulai. Untuk mengisi kekosongan dalam proses berpikir ini orang memakai pronomina anu, seperti pada kalimat berikut.

Tadi pagi saya membeli anu-itu yang dipakai untuk potong rambut-gunting.

Mereka mau anu-mau pinjam kredit di bank.

Kadang-kadang, anu juga dipakai bilasi pembicara tidak mau secara eksplisit mengatakan apa yang dia maksud.

Duduklah dengan baik supaya anumu tidak terlihat.

            b. Pronomina Penunjuk Tempat

Dalam bahasa Indonesia, pronomina penunjuk tempat ialah sini, situ atau sana. Titik pangkal perbedaan di antara ketiganya ada pada pembicara: dekat (sini), agak jauh (situ), dan jauh (sana). Karena menunjuk lokasi, pronomina ini sering digunakan dengan preposisi pengacu arah, di/ke/dari sehingga terdapat di/ke/dari sini, di/ke/dari situ, dan di/ke/dari sana.

Mereka berangkat dari sini.

Bukunya ada di situ.

Engkau mau pergi ke sana?

            c. Pronomina Penunjuk Ihwal

Dalam bahasa Indonesia, pronomina penunjuk ikhwal ialah begini dan begitu. Titik pangkal perbedaannya sama dengan penunjuk lokasi: dekat (begini), jauh (begitu). Dalam hal ini, jauh dekatnya bersifat psikologis.

Bapak mengatakan begini.

Jangan berbuat begitu lagi.

Di samping begini dan begitu, ada pula demikian yang artinya mencakup keduanya seperti pada contoh berikut.

Memang tadi siang dia mengatakan demikian.

 

3. Pronomina Penanya

Pronomina penanya adalah pronominal yang digunakan sebagai pemarkah pertanyaan. Dari segi maknanya, yang ditanyakan dapat mengenai orang, barang atau pilihan. Pronomina siapa dipakai jika yang ditanyakan adalah orang atau nama orang; apa bila barang dan mana bila suatu pilihan tentang orang atau barang.

Selain pronomina, numeralia juga termasuk ke dalam nomina. Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung orang, binatang, barang atau konsep. Frase seperti dua hari, setengah abad, orang kedua, dan beberapa masalah mengandung numeralia, yakni masing-masing dua, setengah, kedua, dan beberapa.

Pada dasarnya, dalam bahasa Indonesia ada dua macam numeralia. Pertama, numeralia pokok yang member jawaban atas pertanyaan ‘Berapa?’. Kedua, numeralia tingkat yang memberi jawaban atas pertanyaan ‘Yang keberapa?’. Numeralia pokok disebut numeralia cardinal, sedangkan numeralia tingkat disebut numeralia ordinal.

 

2. Kata Kerja (Verba)

            Kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan (Ramlan, 1991). Ciri-ciri kata kerja dapat diketahui dengan mengamati (1) perilaku semantis, (2) perilaku sintaksis, dan (3) bentuk morfologisnya (Alwi, et, al, 1998). Namun, secara umum verba dapat didefinisikan dan dibedakan berdasarkan kelas kata yang lain, terutama dari adjektiva karena ciri-ciri berikut.

a.       Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain. Misalnya:

(259) Pencuri itu lari.

(260) Mereka sedang berdiskusi di ruang depan.

Bagian yang dicetak miring pada kalimat-kalimat tersebut adalah predikat, yaitu bagian yang menjadi pengikat bagian lain dari kalimat itu. Pada sedang berdiskusi berfungsi sebagai inti predikat.

b.      Verba mengandung makna interen perbuatan (aksi), proses atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.

c.       Verba, khususnya bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti “paling”. Verba seperti mati atau suka tidak dapat menjadi termati dan tersuka.

d.      Pada umumnya verba, verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan kesangatan. Tidak ada bentuk, seperti agak belajar, sangat pergi dan bekerja sekali, meskipun ada bentuk sangat berbahaya, agak mengecewakan, dan mengharapkan sekali.

 

      Dari segi perilaku semantisnya, verba memiliki makna inheren yang terkandung di dalamnya. Verba berdiskusi pada contoh sebelumnya mengandung makna perbuatan. Verba itu biasanya dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan Apa yang dilakukan subjek?

      Ada pula verba proses, yaitu verba yang biasanya mampu menjawab pertanyaan Apa yang terjadi pada subjek?. Verba pross juga menyatakan adanya perubahann dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Membesar, misalnya menyatakan perubahan dari  suatu keadaan kecil ke keadaan tidak kecil lagi.

      Perbedaan makna inheren antara verba perbuatan dan verba proses itu perlu diperhatikan. Kita tidak dapat bertanya Apa yang terjadi pada pencuri itu? Dan mendapatkan jawaban Dia lari.

      Dari segi perilaku sintaksisnya verba merupakan unsur yang sangat penting dalam kalimat karena dalam kebanyakan hal, verba berpengaruh besar kepada unsur-unsur lain yang harus atau boleh ada dalam kalimat tesebut.

      Dari segi sintaksis ketransitifan verba ditentukan oleh dua faktor, yaitu (1) adanya nomina yang berdiri di belakang verba yang berfungsi sebagai objek dalam kalimat aktif dan (2) kemungkinan objek itu berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Dengan demikian, pada dasarnya verba terdiri atas verba transitif dan verba taktransitif (instransitif).

      Verba transitif adalah vrba yang membutuhkan nomi na sebagai objek dalam kalimat aktit, dan objek tersebut berfungsi sebagai subjek dalam kalimat positif.

Contoh:

·         Soraya sedang membersihkan kelas itu.

 

            Verba yang diletakkan dalam contoh adalah verba transitif. Masing-masing diikuti oleh nominal. Nomina atau frase nominal itu berfungsi sebagai objek yang dapat juga sebagai subjek dalam kalimat pasif seperti:

·         Kelas itu sedang dibersihkan oleh Soraya.

 

            Verba taktransitif (intransitif) adalah verba yang tidak memiliki nomina dibelakangnya yang dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Perhatikan contoh berikut!

Alwasilah sedang mandi. (1)

·         Petani di pegunungan bertanam jagung. (2)

            Verba mandi pada kalimat (1) di atas adalah verba intransitif karena tidak dapat diikuti oleh nomina. Verba bertanam pada kalimat (2) memang diikuti nomina jagung, tetapi nomina tersebut bukanlah objek dan karena tidak dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif. Karena itu bertanam disebut sebagai verba intransitif dan jagung adalah pelengkap.

            Pelengkap tidak harus berupa nomina. Dengan demikian verba intransitif dibagi atas dua macam, yaitu verba yang berpelengkap dan verba yang tidak berpelengkap. Perhatikan kalimat-kalimat berikut ini!

·         Mobil orang kaya itu berjumlah tiga puluh buah.

·         Ria sudah mulai bekerja.

·         Murid itu kedapatan merokok.

            Verba berjumlah, mulai, dan kedapatan adalah verba berpelengkap dan pelengkap verba itu ada dalam kalimat

            Pada dasarnya, bahasa Indonesia dua bentuk verba, yakni (1) verba asal adalah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis, dan (2) verba turunan adalah verba yang harus atau dapat memakai afiks bergantung pada tingkat keformalan bahasa/dan atau pada posisi sintaksisnya (Alwi, et, al, 1998). Selanjutnya verba turunan dibagi lagi menjadi tiga, yaitu (a) verba yang di dasarnya adalah dasar bebas (misalnya, darat), (b) verba yang dasarnya adalah bebas (misalnya, baca) yang dapat pula memiliki afiks (membaca), dan (c) verba yang dasarnya adalah dasar terikat (misalnya: temu) yang memerlukan afiks (bertemu).

 

3. Kata Sifat (Adjektiva)

            Kata sifat adalah kata yang memberi keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat (Alwi, et, al, 1998). Adjektiva adalah kategori yang ditandai oleh kemungkinan untuk (1) bergabung dengan partikel tidak, (2) mendampingi nomina, atau (3) didampingi partikel seperti lebih, sangat, agak, (4) mempunyai ciri-ciri morfologis seperti –er- (dalam, honorer), -if (dalam, sensitif), -i (dalam alami), atau (5) dibentuk menjadi nomina dengan konfiks ke-an (dalam keadilan, keyakinan) (Kridalaksana, 1994). Adjektiva yang memberikan keterangan terhadap nomina itu berfungsi atributif. Keterangan itu dapat mengungkapkan suatu kualitas atau keanggotaan dalam suatu golongan. Contoh kata pemeri kualitas atau keanggotaan dalam suatu golongan. Contoh kata pemeri kualitas atau keanggotaan dalam suatu golongan ialah kecil, berat, merah, bundar, gaib, dan ganda.

Anak kecil                                                       meja bundar

Beban berat                                                     alam gaib

Baju merah                                                     pemain ganda

            Selanjutnya adjektiva juga dapat berfungsi sebagai predikat dan adverbial kalimat. Fungsi predikat predikatif dan adverbial itu dapat mengacu pada suatu keadaan. Contoh kata pemeri keadaan ialah mabuk, sakit, basah, baik dan sadar.

(1)   Agaknya dia sudah mabuk.

(2)   Kakeknya sakit.

(3)   Pakaiannya basah kena hujan.

(4)   Adik berhasil dengan baik.

(5)   Masalah itu dikemukakan secara sadar.

            Adjektiva juga dicirikan oleh kemungkinannya menyatakan kualitas dana tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkannya. Perbedaan tingkat kualitas ditegaskan dengan pemakaian kata, seperti sangat dan agak di samping adjektiva. Contoh:

(1)   Orang itu sangat kuat.

(2)   Agak jauh juga pondoknya.

            Tingkat bandingan dinyatakan antara lain oleh pemakaian kata lebih dan paling di muka adjektiva. Contoh:

(1)   Saya lebih senang di desa daripada di kota.

(2)   Dia paling pintar di kelasnya.

            Dari segi perilaku sintaksis, adjektiva dapat berfungsi atributif, predikatif, dan adverbial. Adjektiva yang merupakan pewatas dalam frase nominal yang nominanya menjadi subjek, objek, atau pelengkap dipakai secara atributif. Tempatnya di sebelah kanan nomina. Contoh:

a.       Laut biru.

b.      Harga mahal.

            Jika pewatas nomina lebih dari satu, rangkaian pewatas lazimnya dihubungkan oleh kata yang. Contohnya:

a.       Celana biru yang panjang.

b.      Mobil tua yang murah.

            Adjektiva yang menjalankan fungsi predikat atau pelengkap dalam klausa dikatakan dipakai secara predikatif. Contoh:

a.       Gedung yang baru dibangun itu sangat merah.

b.      Setelah menerima rapor, mereke pun gembira.

            Jika subjek atau predikat kalimat berupa frase atau klausa yang panjang, demi kejelasan batas antara subjek dan predikat kadang-kadang disisipkan kata adalah (Alwi, et, al, 1998). Contoh:

a.       Yang disarankannya kepadamu itu (adalah) baik.

b.      yang setuju dengan ide itu (adalah) kurang waras.

            Adjektiva yang mewatasi verba yang menjadi predikat klausa dipakai secara adverbial atau sebagai keterangan. Hal itu juga terjadi jika frase adjektival menjadi keterangan seluruh kalimat. Pola struktur adverbial itu dua macam, yaitu (1).... (dengan) + (se) adjektiva + (nya)  yang dapat disertai reduplikasi dan (2) perulangan adjektiva (Alwi, et. El, 1998). Contoh:

(1)   Dia menjawab dengan sebenarnya.

(2)   Orang itu berjalan cepat-cepat.

            Dari segi bentuknya , adjektiva terdiri atas (a) adjektiva dasar yang selalu monomorfemis, meskipun ada yang berbentuk perulangan semu. Misalnya:

Lebar                                                   pura-pura

Kuning                                                sia-sia

Sehat                                                   hati-hati                      

Bulat                                                   tiba-tiba

            Adjektiva turunan polimorfemis dapat merupakan:

(1)   Hasil pengafiksan sebagaimana dapat dilihat pada adjektiva tingkat kuatif dengan prefiks se- dan tingkat superlatif dengan prefiks ter-.

(2)   Hasil pengafiksan dengan infiks atau sisipan –em- pada nomina adjektiva yang jumlahnya sangat terbatas. Contoh:

 

Adjektiva                               Nomina

gemetar                                   getar

gemuruh                                  guruh

kemilau                                   kilau

 

Adjektiva                               Adjektiva

gemerlap                                 gerlap

gemilang                                  gilang

temaram                                  taram

 

(3)   Hasil penyerapan adjektiva berafiks dari bahasa lain, seperti bahasa Arab, Belanda, dan Inggris. Misalnya: alamiah, duniawi, insaniah, manusiawi, alami dan ragawi.

 

4.    Kata Keterangan (Advebial)

     Kata keterangan (adverbial) adalah kategori yang dapat mendamping adjektifa, numerial atau proposisi dalam kontruksi sintaksis (Kridalaksana, 1994). Kata keterangan (adverbia) adalah kata yang menerangkan (1) kata kerja dalam segala fungsinya, (2) kata keadaan  dalam segala fungsinya, (3) kata keterangan, (4) kata bilangan (5) predikat kalimat, tidak peduli jenis kata apa predikat itu, dan (6) menegaskan subjek dan predikat kalimat (Ramlan, 1991). Kata keterangan dapat diketahui dari segi : (a) perilaku semantisnya (b) perilaku sintaksisnya, dan (c) bentuknya (Alwi, et. al, 1998).

     Berdasarkan perilaku semantisnya, adverbial dapat dibedakan atas delapan bagian, yaitu sebagai berikut.

1.      Adverbia kualitatif adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan tingkat, derajat, atau mutu, yang termasuk adverbial iniadalah kata-kata, seperti paling, sangat, lebih, dan kurang.

2.       Adverbia kuantitatif adalah adverbial yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan jumlah. Yang termasuk adverbial ini antara lain, kata banyak, sedikit, kira-kira, dan cukup.

3.    Adverbial limitatif  adverbial yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan pembatasan. Yang termasuk adverbial ini antara lain, kata-kata seperti hanya, saja, dan sekedar termasuk contoh adverbial ini.

4.    Adverbial frekuentatif adalah adverbial yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan tingkat kekeraban terjadinya sesuatu yang diterangkan adverbial itu. Yang termasuk adverbial ini antara lain, kata-kata yang tergolong dalam adverbial ini adalah selalu, sering, jarang, dan kadang-kadang.

5.      Adverbial kewaktuan adalah adverbial yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan saat terjadinya peristiwa yang diterangkan oleh adverbial itu. Yang termasuk adverbial ini antara lain, bentuk, seperti baru, dan segera.

6.       Adverbial kecaraan adalah adverbial yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan bagaimana peristiwa yang diterangkan oleh adverbial itu langsung atu yang terjadi. Yang termasuk adverbial ini antara lain, bentuk-bentuk, seperti diam-diam, secepatnya, dan pelan-pelan.

7.    Adverbial konstratif adalah adverbial yang menggambarkan pertentangna dengan makna kata atu hal yang dinyatakan sebelumnya. Yang termasuk adverbial ini antara lain, bahkan, malahan, dan justru.

8.    Adverbial keniscayaa adalah adverbial yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan saat terjadinya peristiwa yang dijelaskan adverbial itu. Yang termasuk adverrsangkutanbial ini antara lain, niscaya, pasti, dan tentu.

Berdasarkan perilaku sintaksisnya, adverbial dapat dilihat dari posisinya terhadap kata atau kalimat yang dijelaskan oleh adverbial yang  bersangkutan. Atas dasar itu, dapat dibedakan empat macam posisi adverbial, yaitu (a) yang mendahului kata yang diterangkan , (b) yang mengikuti kata yang diterangkan, (c) yang mendahului atau yang mengikuti kata yang diterangkan, serta (d) yang mendaului dan mengikuti kata yang diterangkan (Alwi, et.al, 1998). Beberapa contoh dari keempat macam adverbial berdasarkan perilaku sintaksisnya adalah sebagai berikut.

1.      Adverbial yang mendahului kata yang diterangkan

Adiknya lebih tinggi daripada si Rosa.

2.      Adverbial yang mengikuti kata yang diterangkan

Saya tenang-tenang saja menunggu panggilan.

3.      Adverbial yang mendahului atau mengikuti kata yang diterangkan

Ia segera pergi ke kantor.

4.      Adverbial yang mendahului dan mengikuti kata yang diterangkan

Saya yakin bukan dia saja yang pandai.

Dari segi bentuknya, adverbial dapat dibedakan atas adverbial tunggal dan adverbial gabungan (Alwi, et.al, 19988). Adverbial tunggal dapat dirinci menjadi adverbial yang berupa (a) kata dasar, seperti, baru, hanya, lebih, hamper, saja, sangat, segera, selalu, senantiasa; (b) kata berafiks, seperti sebaiknya, sebenarnya, sesungguhnya, agaknya, biasanya, rupanya,; dan (c) kata ulang, seperti, diam-diam, lekas-lekas, pelan-pelan, tinggi-tinggi.

Adverbial gabungan terdiri dari atas dua adverbial gabungan ada yang yang berdampingan da nada pula yang tidak berdampingan, seperti terlihat pada beberapa contoh berikut ini.

1.      Adverbial yang berdampingan

Lagi pula dia baru datang bulan depan.

2.      Adverbial yang tidak berdampingan

Kami hanya mendengarkan ceritanya saja.

5.      Kata Tugas

Dalam pembicaraan terdahulu, kita telah mengenal empat macam kelas kata dalam bahasa Indonesia. Keempat kelas kata tersebut adalah kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan. Disamping kata kelas tersebut, masih terdapat kelas kata lain yang memiliki ciri khusus, yakni kata tugas.  Kata tugas adalah segala macam kata yang tidak termasuk salah satu kelas kata yang sudah dibicarakan. Kata tugas hanya memiliki arti gramatikal dan tidak memiliki arti leksikal. Arti suatu kata tugas ditentukan bukan oleh kata itu secara lepas, melainkan oleh kaitanya dengan kata lain dalam frase atau kalimat. Jia pada nomina, seperti buku kita dapat memberikan arti berdasarkan kodrat kata itu sendiri- benda yang terdiri ata kumpulan kertas yang bertulisan-, untuk kata tugas kita tidak dapat berbuat sama. Kata tugas, sepert dan atau ke baru akan mempunyai  arti apabila dirangkai denan kata lain untuk menjadi ayah dan ibu dank e pasar.

Ciri kata tugas, bahwa hampir semuanya tidak dapat menjadi dasr untuk membentuk kata lain. Dengan kata lain, dari segi bentuk umumnya kata tugas sukar sekali mengalami perubahan bentuk. Kata-kata, seperti: dengan, telah, dan, tetapi tidak bias mengalami perubahan.

Ciri lain yang bias dipakai  sebagai pegangan untuk menentukan kata tugas adalah kata tugas tidak bisa membentuk suatu kalimat dengan sepatah kata, sepertikelas kata lainnya. Misalnya: telah!, dan!, supaya!, tetapi! Jika dari verba dating kita dapat menurunkan kata lain, seperti mendatangi, mendatangkan, dan kedatangan, tidak demikian halnya dengan kata tugas, seperti dan serta dari. Bentuk-bentuk, seperti menyebabkan  dan menyampaikan tidak diturunkan dari kata tugas sebab dan sampai, tetapi dari nomina sebab dan verba sampai yang bentuknya sama, tetapi kategorinya berbeda.

Berlain dengan kelas nomina, verba, adjektiva, dan adverbial yang merupakan kelas kata terbuka, kelas kata tugas merupakan kelas kata tertutup. Kelas kata terbuka adalah kelas kata yang dapat menerima unsur bahasa lain sebagai ata baru atau padaan kata yang telah ada. Misalnya, dengan masuknya benda yang dapat melakukan penhitungan dengan cepat dalam kehidupan kita, kita menerima pula kata kakulator. Kita juga menyerap kata klasifikasi sebagai padanan kata Indonesia pengelompokan. Contoh dalam kelas kata lain adalah verba mengedit, adjektiva moneter, dan adverbial rada (mahal). Hal seperti itu hampir tidak pernah terjadi pada kata tugas.

Berdasarkan peranannya dalam frase atau kalimat, kata tugas dibagi menjadi lima kelompok, yaitu (1) preposisi, (2) konjungtor, (3) interjeksi, (4) artiula, dan (5) partikel penegas (Alwi, et.al, 1998), hal-hal tersebut dapat diuraikan satu persatu berikut ini.

1.      Preposisi

Preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga terbentuk frase  eksosentris direktif (Kridalaksana, 1994). Jika ditinjau dari perilaku semantisnya, preposisi yang disebut kata depan, menandai berbagai kata hubungan makna anatara konstituen yang berda di depan preposisi tersebut dengan konstituen di belakangnya. Dalam frase pergi ke kantor, misalnya preposisi menyatakan hubungan makna arah antara  pergi dan kantor.

Jika ditinjau  dari perilaku sintaksisnya, preposisi berada di depan nomina, adjektiva, atau adverbial sehingga terbentuk frase yang dinamakan frase proposisional (Alwi, et.al, 1998; Ramlan, 1996). Dengan demikian, dapat terbentuk frase preposisional, seperti ke kantor, sampai penuh, dan segera.

Jika ditinjau dari segi bentuknya,  preposisi ada dua macam, yaitu (1) preposisi tunggal, seperti di, ke, dari, selama, mengenai, dan sepanjang; serta (2) preposisi majemuk, sepeti daripada, kepada, oleh karena, sampai ke, sampai dengan, selain dari, dan sebagainya (Alwi, et.al, 1998).

2.      Konjungtor

Konjungtor adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan lain dalam kontruksi hipotaktis, dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam konstruksi. Konjungtor menghubugkan bagian-bagian ujaran yang setataran ataupun yang tidak setataran (Kridalaksana, 1994). Konjungtor atau kata sambung adalah kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frase dengan frase, atau klausa dengan klausa (Alwi, et.al, 1998; Ramlan, 1991). Perhatikan contoh kalimat berikut!

·         Ramina dan Ria sedang berdiskusi

·         Rosmani sedang membaca dan adiknya sedang berdiskusi

3.      Interjeksi

Interjeksi adalah kategori yang bertugas mengungkapkan perasaan pembicara,  dan secara  sintaksis tidak berhubungan dengan kata-kata dalam ujaran (Kridalaksana, 1994). Interjeksi atau kata seru adalah kata tugas yang mengungkapkan rasa hati pembicara. Untuk memperkuat rasa hati pebicara. Untuk memperkuat rasa hati, seperti rasa kagum, sedih, heran, dan jijik, orang memakai kata tertentu di samping kalimat  yang mengandung makna pokok yang dimaksud.

Secara structural, interjeksi tidak bertalian dengan unsur kalimat yang lain. Menurut bentuknya, interjeksi ada yang berupa bentuk dasr da nada pula yang berupa bentuk turunan (Ramlan, 1991). Berbagai interjeksi dapat dikelompokkan menurut perasaan yang diungkapkannya sebagai berikut.

a.       Interjeksi kejijikan: bah, cih, cis, ih, idih

b.      Interjeksi kekesalan: brengsek, sialan, buset, kepuruk.

c.       Interjeksi kekaguman atau kepuasan: aduhai, amboy, asyik

d.      Interjeksi kesyukuran: syukur, Alhamdulillah

e.       Interjeksi harapan: insya Allah

f.        Interjeksi keheranan: aduh, aih, ai, lo, duilah, eh, oh,ah

g.      Interjeksi kekagetan: astaga, masyaallah

h.      Interjeksi ajakan: ayo, mari

i.        Interjeksi panggilan: hai, he, eh, halo

j.        Interjeksi simpulan: nah

4.      Artikula

Artikula adalah kategori yang mendampingi nomina dasar (misalnya: si kancil, sang dewa, para pelajar), nomina deverbal (misalnya: si terdakwa, si tertuduh), pronominal (misalnya: si dia, sang aku), dan verba pasif (misalnya: kaum tertindas) (Kridalaksana, 1994). Artikula adalah kata tugas yang membatasi makna nomina (Alwi, et.al, 1998). Dalam bahasa Indonesia, ada kelompok artikula (1) yang bersifat gelar, (2) yang mengacu ke makna kelompok, dan (3) yang menominalkan.

Pada umumnya, artikula yang bersifat gelar bertalian dengan orang atau hal yang dianggap bermartabat. Berikut ini contoh-contohnya.

  1. Sang juara, Mike Tyson, dapat merobohkan lawannya.
  2. Sang merah putih berkibar dengan jaya di seluruh tanah air.

Artikula yang  mengacu pada makna kelompok atau makna kolektif adalah para. Karena artikula itu mengisyaratkan ketaktunggalan, makna nomina yang diiringinya tidak dinyatakan dalam bentuk kata ulang. Jadi, untuk menyatakan kelompok guru sebagai kesatuan bentuk yang dipakai adalah para guru bukan para guru-guru.

Para dipakai untuk menegaskan makna kelompok bagi manusia ang meiliki kesamaan makna sifat tertentu, khususnya yang berkaitan dengan pekerjaan atau kedudukan. Dengan demikian, kita dapati bentuk, seperti para guru, para petani, dan para ilmuwan. Akan tetapi, bentuk seperti para ank, para orang, dan para manusia tidak kita temukan dalam bahasa kita. Ada pula kata lain, seperti kaum dan umat yang juga menyatakan makna kelompok, tetapi kedua kata itu termasuk nomina, bukan artikula.

Artikula yang menominalkan dapat dicontohkan dengan si. Artikul ini mengacu pada makna tunggal atau generic, bergantung pada konteks kalimatnya. Misalnya :

  1. Tak sampai hatiku melihat si miskin mengambil makanan dari tumpukan sampah itu.
  2. Dalam mas kritis ini si miskinlah yang selalu menderita.

Frase si miskin  pada kalimat di atas mengacu pada orang yang kebetulan miskin, sedangkan frasa si miskinlah mengacu pada pengertian generic, yakni kaum miskin di dunia ini.

Artikula si dipakai untuk mengiringi nama orang, membentuk nomina dari adjektiva atau verba, dan dalam bahasa yang tidak formal dipakai untuk mengiringi pronominal dia. Berikut ini beberapa contohnya.

1.      Si Amat akan meminang si Hamidah minggu depan

Artikel si dipakai pula untuk menunjukkan perasan negative pembicara mengenai orang yang dirujuknya. Apabila orang tidak suka pada orang lain, misalnya Budi, maka kalimat ini gara-gara si Budi dimaksudkan untuk menunjukkan rasa tidak suka pembicara terhadap Budi.

5.      Partikel Penegas

Kategori partikel penegas meliputi kata yang tidak tertakluk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur-unsur yang diiringinya. Partikel adalah semacam kata tugas yang memunyai bentuk yang khusus, yaitu sangat ringkas atau kecil dengan mempunyai fungsi-fungsi tertentu. Ada empat macam partikel penegas: -kah, -lah, -tah, dan pun. Tiga yang pertama berupa klitika, sedangkan yang keempat tidak.

Partikel –kah yang berbentuk klitika dan bersifat manasuka  dapat menegaskan kalimat interogatif. Mislnya:

-          Ibukah yang akan berangkat?

Partikel –lah juga berbentuk klitika, dipakai kalimat imperative atau kalimat deklaratif. Misalnya:

-          Berangkatlah sekarang sebelum hujan turun!

Partikel –tah yang juga berbentuk klitika, dipakai dalam kalimat interogatif, tetapi si penanya sebenarnya tidak memerlukan jawaban. Seolah-olah, ia hanya bertanya pada diri sendiri karena keheranan atau kesangsiannya. Partikel –tah banyak dipaki dalam sastra lam, tetapi tidak banyak dipakai lagi sekarang. Misalnya:

-          Apatah artinya hidup ini tanpa dirimu?

Partikel pun hanya dipakai dalam kalimat deklaratif dan dalm bentuk tulisan dipisahkan dari kata mukanya. Misalnya:

-          Akhirnya mereka pun setuju dangan usul kami

Berdasarkan uraian kategori kata tersebut, maka kita dapat menganalisis kalimat dari segi kategorinya. Artinya, kita dapat menentukan unsur-unsur kalimat ke dalam kelas kata tertentu. Apakah unsur kalimat tersebut terasuk kelas kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan, atau kata tugas. Berikut ini beberapa contoh analisis kalimat berdasarkan kategorinya.

-          Hari ini (N) meraka (N) bermain (V) bola (N) di lapangan (Prep.).

-          Ulangannya (N) jelek sekali (A).

-          Selasa depan (N) dia (N) menempuh (V) ujian (N) di kampus (Prep.).

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimppulan

Katagori sintaksis sering pula disebut katagori atau kelas kata. Oleh karena itu, analisis kalimat berdasarkan katagori merupakan penentuan kelas kata yang menjadi unsur-unsur kalimat tersebut. Analisis katagori bertujuan mengelompokkan unsur-unsur bahasa berdasarkan kesamaan struktur, kesamaan distribusi atau kesamaan rupa atau bentuk. Klasifikasi atau katagori satuan-satuan bahasa bertujuan menemukan perbedaan-perbedaan dan kesamaan-kesamaan dalam satu tataran. Kelas kata mencakup kata benda (nomina), kata kerja (verba), kata sifat (adjektiva), kata keterangan (adverbial), dan kata tugas.

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Alwi, H. Et.al. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Kridalaksa, H. 1994. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kridalaksa, H. 2002. Struktur, Katagori, dan Fungsi dalam Teori Sintaksis. Jakarta: Unika Atma Jaya.

Parera, J.D. 2009. Dasar-Dasar Analisis Sintaksis. Jakarta: Airlangga.

Putrayasa, Ida Bagus. 2010. Analisis Kalimat: Fungsi, Katagori dan Peran. Bandung: PT Refika Aditama.

Ramlan. M. 1982. Sintaksis. Jogjakarta: CV Karyono.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi