Sosiolinguistik

 

SOSIOLINGUISTIK

PERMASALAHAN SOSIOLINGUISTIK DALAM KOMUNIKASI MASYARAKAT

 


 

Disusun Oleh:


Abdullah Syarofi       121111132


 

DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2014

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa merupakan suatu alat komunikasi yang digunakan masyarakat untuk berinteraksi satu sama lain. Menurut Chaer (2004: 11) bahasa adalah sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. Sebuah bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama. Sebagai salah satu alat komunikasi, bahasa merupakan aspek penting yang harus diperhatikan dalam hidup bermasyarakat. Seperti yang kita ketahui bahwasannya bahasa ada beraneka ragam, dari hal tersebutlah tidak menutup kemungkinan bahwa bahasa yang berbeda-beda tersebut menimbulkan suatu permasalahan dalam berkomunikasi.

Sosiolinguistik merupakan suatu bidang ilmu lunguistik. Seperti yang kita ketahui sosio memiliki arti masyarakat dan linguistik adalah bahasa. Secara garis besar sosiolinguistik merupakan ragam bahasa yang digunakan dalam kehidupan masyarakat. Berbeda dengan kajian linguistik yang menelaah tentang bahasa, dalam kajian yang terdapat pada sosiolinguitik adalah menelaah penggunaan bahasa dalam ranah lingkungan masyarakat. Banyak permasalahan bahasa yang terjadi pada masyarakat dalam menggunakan bahasa, obyek yang paling kental terjadi yaitu pada bahasa daerah, karena bahasa pada setiap daerah di Indonesia beraneka ragam, selain bahasa daerah ada bahasa prokem, bahasa gaul, dan banyak bahasa yang digunakan masyarakat di Indonesia, selain bahasa utama mereka yaitu bahasa Indonesia.

Permasalahan bahasa yang terjadi pada masyarakat itulah yang menjadi pembahasan pada makalah ini. Permalasahan yang terjadi yang akan kami bahas diantaranya adalah interaksi sosial masyarakat multi bahasa, variasi bahasa yang terjadi pada masyarakat, pemertahanan bahasa, bilingualisme dan multilingualisme, pergeseran bahasa, bahasa dan kelompok sosial, dan bahasa prokem dan slang. Berkaitan dengan pembahasan yang terdapat dalam makalah ini adalah hasil simpulan dari kelompok sebelumnya yang membahas lebih detail dalam permasalahan bahasa dalam dunia sosiolinguistik. Permasalahan-permasalahan bahasa yang terjadi dikutip dari setiap makalah dari kelompok-kelompok sebelumnya.

 

 

1.2 Rumusan Masalah

Dari rumusan masalah di atas dapat dirumuskan sebagai berikut.

1.      Apa saja permasalahan sosiolinguistik yang terjadi pada komunikasi masyarakat?

2.      Apa pengaruh dari permasalahan komunikasi terhadap masyarakat?

 

1.3 Manfaat

1.      Untuk mengetahui apa saja permasalahan komunikasi pada masyarakat menurut bidang ilmu sosiolinguistik.

2.      Untuk mengetahui pengaruh permasalahan komunikasi pada masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Interaksi sosial dalam masyarakat multibahasa

Interaksi social dalam masyarakat multibahasa seperti di Indonesia merupakan masalah yang kompleks dalam hal pemilihan bahasa. Salah satu penyebabnya adalah adanya bahasa yang hidup berdampingan dengan bahasa lain dan digunakan sebagai alat untuk berinteraksi dengan masyarakatnya. Oleh karena itu, setiap warga masyarakat secara tidak langsung diharuskan memilih bahasa untuk digunakan berinteraksi dengan masyarakatnya.

Sehubungan dengan hal itu, Susiawati (1998:1) berpendapat bahwa pemilihan bahasa tidak dilakukan secara kebetulan, tetapi merupakan suatu strategi berbahasa yang memiliki keteraturan. Keteraturan itu lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor nonlinguistic seperti siapa yang berbicara, kepada siapa, topic apa yang dibicarakan, di mana pembicaraan itu berlangsung.

Pemilihan bahasa dalam interak sisosial seperti yang dibicarakan itu, terjadi pula pada masyarakat tutur di Kabupaten Pangkep. Masyarakatnya memiliki sekurang-kurangnya tiga bahasa yang digunakan dalam interaksi social yakni bahasa Bugis, bahasa Makassar, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sehingga menarik untuk dikaji. Pemilihan bahasa yang terjadi di Kabupaten Pangkep itu semakin menarik bila dikaitkan dengan status sosial, mitra tutur, peristiwa tutur, dan status perkawinan. Hal tersebut penting diperhatikan oleh penutur untuk memproses informasi kontekstual agar selanjutnya dapat memilih bahasa yang layak dalam suatu peritiwa tutur.

Berdasarkan hasil penelitian yang sementara berlangsung di Kabupaten Pangkep dengan judul "Pemilihan Bahasa pada Masyarakat Multibahasa di Kabupaten Pangkep: Studi Kasus Ranah Keluarga (2009) menunjukkan bahwa bahasa yang dominan digunakan pada ranah keluarga adalah bahasa Indonesia.

Pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji dari perspektif sosiolinguistik. Sekaitan dengan itu, Fasold (1984:180) mengemukakan bahwa sosiolinguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pilihan bahasa.

Lebih lanjut Rokhman (2005: 1) menambahkan bahwa dalam masyarakat Indonesia yang multibahasa merupakan masalah yang kompleks. Situasi kebahasaan seperti itu terdapat beberapa bahasa yang hidup berdampingan dan dipakai dalam interaksisosial. Oleh karena itu, setiap anggota masyarakat harus memilih bahasa atau ragam bahasa untuk dipakai dalam interaksi tertentu. Pemilihan bahasa atau ragam tersebut tidak bersifat acak, tetapi harus mempertimbangkan berbagai faktor, seperti siapa yang berbicara, kepada siapa, tentang topic apa, di mana pertistiwa tutur itu berlangsung.

Fasold (1984: 183) dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pemilihan. Pertama dengan memilihsatu variasi dari bahasa yang sama (intralingual variation). Kedua, dengan melakukan alih kode (code switching), artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan dan menggunakan bahasa lain pada keperluan lain dalam suatu peristiwa komunikasi. Ketiga, dengan melakukan campur kode(code mixing) artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan bercampur serpihan-serpihan dari bahasa lain.

Pemilihan bahasa dalam interaksi social masyarakat dwi bahasa/multi bahasa disebabkan oleh berbagai factor social dan budaya. Evin-Tripp (1972) mendefinisikan empat factor utama sebagai penanda pemilihan bahasa penutur dalam interaksisosial, yaitu (1) latar (waktudantempat) dan situasi, (2) partisipan dalam interaksi, (3) topic percakapan, dan (4) fungsiinteraksi.

Sejalan dengan hal tersebut, pertanyaan yang telah dikemukakan oleh Fishman (1969) di atas, sekaligus sebagai acuan dalam pemilihan bahasa. Dengan demikian, pola pemilihan bahasa yang dimaksud meliputi unsur-unsur (1) teman berbahasa, (2) bahasa yang digunakan, (3) ranah, (4) tempat, dan (5) topik.

Bertolak dari uraian tersebut, berikut ini dikemukakan pola pemilihan bahasa yang menjadi acuan untuk mengamati penggunaan bahasa masyarakat Pangkep. Pola ini direvisi dari model ranah dalam pemilihan bahasa yang dikemukakan oleh Fishman (1971: 250).

 

2.2 Variasi atau ragam bahasa yang terjadi dalam interaksi masyarakat

Variasi atau ragam bahasa dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa dan keragaman fungsi bahasa itu. Variasi atau ragam bahasa adalah berbagai macam jenis bahasa yang digunakan oleh kelompok atau individu tertentu, memiliki ciri, dan fungsi tertentu. Variasi bahasa digunakan oleh kelompok sosial tertentu meskipun terdapat variasi bahasa yang secara individu disebut dengan idiolek. Variasi bahasa sendiri adalah bentuk kebahasaan yang dihasilkan oleh manusia melalui berbagai interaksi sosial yang dilakukannya. Hal ini dikarenakan sifat dari bahasa yang tidak statis melainkan dinamis. Sehingga bahasa akan terus mengalami perkembangan dan dalam perkembangannya tidak akan lepas dari peranan masyarakat. Tentu saja variasi bahasa akan menjadi kajian penting bagi sosiolinguistik karena kemunculan bahasa yang berbeda dari waktu ke waktu banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sebagai kajian yang memadukan sosial dan bahasa, sosiolinguistik akan melihat sebuah fenomena kebahasaan pada wilayah dan masyarakat tertentu sehingga dapat diketahui bagaimana latar sosial bahkan budaya yang dianut.

Dari variasi atau ragam bahasa yang timbul ditengah masyarakat dapat dibagi menjadi empat segi kebutuhannya. Berikut adalah penjelasan singkat tentang keempat segi tersebut:

2.2.1 Variasi dari segi penutur

1.      Idiolek

Idiolek ini dapat dilihat dari segi “warna” suara, pilihan kata yang digunakan dalam berkomunikasi, gaya bahasa, serta susunan kalimat yang digunakan. Adanya idiolek ini membuat setiap orang dapat dikenali hanya dengan mendengarkan suara atau karakter penulisannya. Misalnya: hafal suara seseorang, dengan mendengar suara tersebut sudah dapat di kenali.

2.      Dialek

Dialek merupakan variasi bahasa dari sekelompok masyarakat yang berada atau tinggal pada wilayah tertentu. Misalnya: Ditinjau dari segi dialek berdasarkan wilayahnya, antara orang yang latar budayanya mataraman (Blitar) dengan arek (Surabaya) sangat berbeda.

3.      Kronolek

Kronolek merupakan ragam atau variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Misalnya: bahasa alay yang berkembang pesat untuk masa sekarang terutama pada kalangan remaja. Pada masa dulu mungkin juga berkembang bahasa alay, akan tetapi struktur kebahasaan dari bahasa yang disebut sebagai bahasa alay tersebut berbeda.

4.    Sosiolek

Sosiolek atau yang sering disebut sebagai dialek sosial merupakan variasi bahasa yang pembahasannya tidak lepas dari status, golongan, dan kelas sosial penuturnya (Chaer, 2010: 64). Sosiolek dibagi atas akrolek, basilek, vulgar, slank, kolokial, jargon, argot, dan ken.

a.       Akrolek

Akrolek merupakan variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi daripada variasi sosial lainnya (Chaer, 2010: 66). Contoh : bahasa keraton, dengan bahasa jawa masyarakat biasa.

b.      Basilek

Basilek merupakan variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi bahkan dipandang rendah (Chaer, 2010: 66). Salah satu contoh variasi bahasa ini adalah bahasa Jawa yang digunakan dalam percakapan di pasar.

c.       Vulgar

Vulgar adalah variasi sosial yang ciri-cirinya nampak pada pemakaian bahasa oleh seseorang yang kurang terpelajar atau dari kalangan yang tidak berpendidikan (Chaer, 2010: 66). Misalnya bahasa Melayu lebih rendah dari bahasa Jawa.

d.      Slang

Slang merupakan variasi sosial yang bersifat khusus atau rahasia. Artinya variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kelompok itu (Chaer, 2010: 67). Misalnya percakapan antar dua orang teman atau lebih dengan menggunakan bahasa yang hanya mereka saja yang mengerti.

 

e.       Kolokial

Kolokial merupakan variasi bahasa sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Jadi kolokial merupakan bahasa percakapan bukan bahasa tertulis (Chaer, 2010: 67). Misalnya kalimat tidak ada menjadi ndak ada .

f.        Jargon

Jargon merupakan variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok-kelompok sosial tertentu yang seringkali tidak dapat dipahami oleh masyarakat umum namun ungkapan tersebut tidak bersifat rahasia (Chaer, 2010: 68). Misalnya dalam komunitas panjat menggunakan jargon ale-ale yang digunakan untuk melihat seluruh bagian wall.

g.      Argot

Argot merupakan bagian dari variasi sosial bahasa yang digunakan secara terbatas pada profesi-profesi tertentu yang bersifat rahasia (Chaer, 2010: 68).

h.      Ken

Ken merupakan variasi sosial bahasa tertentu yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek dan penuh dengan kepura-puraan (Chaer, 2010: 68). Misalnya pada nada bahasa yang digunakan oleh pengemis.

2.2.2 Variasi dari segi pemakaian

Variasi bahasa berkenaan dengan penggunaannya, pemakaiannya, atau fungsinya disebut fungsiolek (Nababan dalam Chaer, 2010: 68). Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingkat keformalan, dan sarana penggunaan. Misalnya penggunaan bahasa dalam bidang sastra, jurnalistik, militer, perdagangan, pendidikan dan kegiatan ilmiah lainnya.

2.2.3 Variasi dari segi keformalan

Berdasarkan tingkat keformalannya, (Martin Joos dalam Chaer, 2010: 70) membagi variasi bahasa atas lima macam gaya, yaitu:

1.      Ragam baku

Ragam baku digunakan dalam situasi formal atau resmi. Contoh penggunaan ragam baku adalah UUD 1945.

2.      Ragam resmi atau formal

Ragam resmi atau formal merupakan ragam bahasa yang digunakan dalam forum-forum ilmiah, rapat, buku pelajaran dan surat dinas. Pada dasarnya ragam ini sama halnya dengan ragam baku.

3.      Ragam usaha

Ragam usaha atau ragam konsultatif adalah variasi bahasa yang lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, atau pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi (Chaer, 2010: 71).

4.      Ragam santai

Ragam santai adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dilakukan bersama keluarga atau teman karib (Chaer, 2010: 71).

5.      Ragam akrab

Ragam akrab yaitu variasi bahasa yang lazim digunakan oleh penutur yang hubungannya sudah akrab. Misalnya antar keluarga dan teman karib (Chaer, 2010: 71).

2.2.4 Variasi dari segi sarana

Variasi dari segi sarana ini dapat disebut dengan adanya ragam lisan dan ragam tulis (Chaer, 2010: 72). Kedua ragam ini memiliki struktur yang berbeda. Di dalam ragam tulis, bahasa yang dituliskan harus dengan jelas karena jika tidak akan menimbulkan ketidak mengertian atau ambiguitas, dapat juga pesan yang ingin disampaikan tidak sempat pada pembaca. Namun dalam ragam lisan, tidak harus menggunakan struktur yang lengkap seperti halnya pada ragam tulis karena ragam lisan melakukan komunikasi langsung dengan lawan tutur. Ragam lisan juga diiringi dengan suprasegmental dan gerak tubuh yang bertujuan untuk memperjelas maksud atau makna yang ingin disampaikan.

 

2.3 Pemertahanan bahasa

            Sebagai salah satu objek kajian sosiolinguistik, gejala pemertahanan bahasa sangat menarik untuk dikaji. Konsep pemertahanan bahasa lebih berkaitan dengan prestise suatu bahasa di mata masyarakat pendukungnya. Sebagaimana dicontohkan oleh Danie (dalam Chaer 1995:193) bahwa menurunnya pemakaian beberapa bahasa daerah di Minahasa Timur adalah karena pengaruh bahasa Melayu Manado yang mempunyai prestise lebih tinggi dan penggunaan bahasa Indonesia yang jangkauan pemakaiannya bersifat nasional. Namun ada kalanya bahasa pertama (B1) yang jumlah penuturnya tidak banyak dapat bertahan terhadap pengaruh penggunaan bahasa kedua (B2) yang lebih dominan. Konsep lain yang lebih jelas lagi dirumuskan oleh Fishman (dalam Sumarsono 1993: 1). Pemertahanan bahasa terkait dengan perubahan dan stabilitas penggunaan bahasa di satu pihak dengan proses psikologis, sosial, dan kultural di pihak lain dalam masyarakat multibahasa.

Salah satu isu yang cukup menarik dalam kajian pergeseran dan pemertahanan bahasa adalah ketidakberdayaan minoritas imigran mempertahankan bahasa asalnya dalam persaingan dengan bahasa mayoritas yang lebih dominan.Ketidakberdayaan sebuah bahasa minoritas untuk bertahan hidup itu mengikuti pola yang sama. Awalnya adalah kontak guyup minoritas dengan bahasa kedua (B2), sehingga mengenal dua bahasa dan menjadi dwibahasawan, kemudian terjadilah persaingan dalam penggunaannya dan akhirnya bahasa asli (B1) bergeser atau punah. Dalam pembahasan tentang pemertahanan bahasa kelomok yang membahas tentang hal tersebut, mengambil contoh pada bahasa Madura. Dimana bahasa Madura dipertahankan oleh masyarakatnya yang tinggal di daerah Semampir di kota Surabaya.

 

2.4 Bilingualisme dan Multilingualisme

            2.4.1 Bilingualisme

Istilah bilingualisme dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Secara harfiah dapat dipahami apa yang dimaksud dengan bilingualisme itu, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa. Secara umum bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam keseharian secara bergantian (Mackey dan Fishman dalam Chaer, 2010: 84). Kondisi masyarakat yang majemuk mengakibatkan setiap kelompok masyarakat berbicara dengan bahasa berbeda. Banyak negara di dunia ini mengenal lebih dari dua macam bahasa. Untuk dapat menggunakan dua bahasa tersebut seseorang harus mampu menguasai kedua bahasa tersebut. Pertama, seseorang harus mampu menguasai bahasa ibu sendiri. Kedua, seseorang harus mampu menguasai bahasa lain selain bahasa ibu.

Bilingualisme mempunyai dua tipe, yaitu bilingualisme sejajar dan majemuk. Seseorang yang mampu menggunakan dua bahasa secara penuh dan seimbang disebut bilingualisme sejajar. Sedangkan, seseorang yang sedang belajar Bahasa 2 setelah menguasai Bahasa 1 dengan baik, dan Bahasa 1 nya berpengaruh terhadap proses belajar Bahasa 2 maka hal ini disebut bilingualitas majemuk.

 

 

2.4.2 Multilingualisme

Multilingualisme dalam bahasa Indonesia disebut dengan keanekabahasaan yakni penggunaan lebih dari dari dua bahasa oleh seorang penutur dalam kesehariannya dengan orang lain secara bergantian. Multilingualisme ini selain mempunyai dampak positif yakni terciptanya negara yang memiliki aneka macam bahasa, juga mempunyai dampak negatif yakni keanekabahasaan itu berlawanan dengan nasionalisme.

Terjadinya bilingualisme dan multilingualisme dalam masyarakat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu (1) kondisi negara yang memiliki banyak ragam suku dan budaya bangsa sehingga menghasilkan bahasa yang beragam bentuknya dan (2) faktor sosial yang mengharuskan seseorang untuk menguasai dua bahasa.

 

2.5 Pergeseran Bahasa

Chaer dan Agustina (2004:142) mengemukakan bahwa pergeseran bahasa menyangkut  masalah penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau sekelompok penutur yang bisa terjadi sebagai akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur lain. Dengan kata lain, pergeseran bahasa akan terjadi kalau seorang atau sekelompok orang penutur pindah ke tempat lain yang menggunakan bahasa lain, dan bercampur dengan mereka. Pendatang atau kelompok pendatang ini mau tidak mau, harus menyesuaikan diri dengan “menanggalkan” bahasanya sendiri, lalu menggunakan bahasa penduduk setempat.

Bila satu kelompok baru datang ke tempat lain dan bercampur dengan kelompok setempat, maka akan terjadilah pergeseran bahasa. Kelompok pendatang ini akan melupakan sebagian bahasanya dan “terpaksa” memperoleh bahasa setempat. Alasannya karena kelompok pendatang ini mesti menyesuaikan diri dengan situasi baru tempat mereka berada. Akhirnya, kelompok pendatang ini akan mempergunakan dua bahasa, yaitu bahasa nasional dan bahasa daerah setempat. Jika berkumpul dengan kelompok asal, mereka dapat menggunakan bahasa pertama mereka tetapi untuk berkomunikasi dengan selain kelompoknya tentu mereka tidak dapat bertahan untuk tetap menggunakan bahasanya sendiri. Sedikit demi sedikit mereka harus belajar menggunakan bahasa penduduk setempat.

Dalam pembahasan pergeseran bahasa, kelompok sebelumnya memberikan contoh pergeseran bahasa yang terjadi pada seorang mahasiswi yang berasal dari Sunda dan berkuliah di Surabaya. Mahasiswi yang bernaman Agis ini mengalami pergeseran bahasa dari bahasa Sunda sebagai bahasa yang biasa digunakan sebelumnya, berubah menjadi bahasa Jawa.

 

2.6 Bahasa dan kelompok sosial

            Pada dasarnya bahasa tidak memiliki sifat statis tapi dinamis. Kedinamisan bahasa tersebut memiliki keterkaitan dengan kedinamisan masyarakat, antara keduanya saling berkaitan (Pateda, 1987:79). Kedinamisan masyarakat tersebut menjadikan bahasa memiliki tingkatan-tingkatan dalam penggunaannya di kelompok sosial masyarakat. Adanya tingkatan kelompok sosial dalam kelompok masyarakat tersebut dapat terbentuk berdasarkan keadaan ekonomi, politik, dan pekerjaan. Munculnya tingkatan kelompok  sosial ini memberikan dampak pada penggunaan bahasa pada masyarakat di kehidupan sehari-hari. Adanya tingkatan kelompok sosial pada kelompok masyarakat menimbulkan pula keragaman tingkatan pada bahasa. Misalnya, pada bahasa Jawa yang memiliki tingkatan bahasa ngoko, krama, dan krama inggil.

Tingkatan bahasa ini tercipta karena adanya tingkatan kelompok sosial pada masyarakatnya. Ketika orang dengan tingkatan sosial lebih rendah dan berbicara kepada orang dengan tingkatan sosial lebih tinggi harus menggunakan bahasa Jawa krama inggil sedangkan orang yang tingkat sosialnya lebih tinggi menggunakan tingkatan bahasa yang lebih rendah, yaitu ngoko. Hal ini selalu berlaku walaupun yang tingkatan sosialnya lebih tinggi berumur lebih muda dari yang tingkatan sosialnya lebih rendah. Bahasa merupakan suatu produk dari kelompok sosial masyarakat yang pada akhirnya akan terus mengalami perubahan dan perkembangan. Perubahan serta perkembangan bahasa juga akan kembali pada masyarakat sehingga menimbulkan sebuah perputaran yang tak akan pernah putus. Suatu siklus yang dibuat, dikembangkan, dan dirubah pula oleh masyarakat yang tidak akan putus atau berubah, sebab bahasa dan masyarakat merupakan suatu kesatuan.

 

2.7 Bahasa Prokem dan Slang

            2.7.1 Bahasa Prokem

Bahasa prokem merupakan sejenis ragam bahasa khas yang boleh disebut sebagai jenis bahasa rahasia yang hanya digunakan kelompok tertentu saja untuk berkomunikasi dengan warga masyarakat yang bukan anggota kelompok mereka. Bahasa prokem itu tumbuh dan berkembang sesuai dengan latar belakang sosial budaya pemakainya. Tumbuh kembang bahasa seperti itu selanjutnya disebut sebagai perilaku bahasa dan bersifat universal. Artinya bahasa-bahasa seperti itu akan ada pada kurun waktu tertentu (temporal) dan di dunia manapun sifatnya akan sama (universal). Contohnya seperti bahasa gaul yang terus berkembang di kalangan masyarakat khususnya kaum muda.

2.7.2 Bahasa Slang

Slang adalah ragam bahasa tidak resmi dan tidak baku yang sifatnya musiman dipakai oleh kelompok sosial tertentu untuk konsumsi intern, dengan maksud agar yang bukan anggota kelompok tidak mengerti. Slang digunakan sebagai bahasa pergaulan. Kosakata slang dapat berupa pemendekan kata, penggunaan kata alam diberi arti baru atau kosakata yang serba baru dan berubah-ubah. Disamping itu slang juga dapat berupa pembalikan tata bunyi, kosakata yang lazim diapakai di masyarakat menjadi aneh, lucu, bahkan ada yang berbeda makna sebenarnya. Slang di ciptakan oleh perubahan bentuk pesan linguistik tanpa mengubah isinya untuk maksud penyembunyian atau kejenakaan. Contoh bahasa slang banyak ditemukan di kepulauan Indonesia meskipun perkembangan sejarah slang ini boleh dikatakan tidak diketahui, yang jelas di Indonesia. Seperti bahasa kebalik di Malang.

 

 

 

 

 

 


 

BAB III

KESIMPULAN

Bahasa merupakan suatu alat komunikasi yang digunakan masyrakat untuk berinteraksi. Bahasa pada setiap daerah di Indonesia pun beraneka ragam, diantaranya ada bahasa daerah dan bahasa pemersatu yaitu bahasa Indonesia. Hal inilah yang tidak menutup kemungkinan terjadi masalah dalam setiap komunikasi masyarakat. Di dunia sosiolinguistik permasalahan yang terjadi dalam komunikasi masyarakat itu telah kami jabarkan pada bab pembahasan. Permasalahan yang terjadi diantaranya adalah interaksi sosial masyarakat multi bahasa, variasi bahasa yang terjadi pada masyarakat, pemertahanan bahasa, bilingualisme dan multilingualisme, pergeseran bahasa, bahasa dan kelompok sosial, dan bahasa prokem dan slang.

Sebagian besar permasalahan yang terjadi dikarenakan latar budaya, daerah, dan status sosial. Hal-hal tersebut memiliki pengaruh besar dikarenakan antar satu penutur dengan lawan tuturnya kemungkinan memiliki perbedaan dari segi budaya, daerah, dan status sosial sehingga menghasilkan permasalahan dalam berinteraksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Makalah-makalah tugas kelompok sosiolinguistik, kelompok 1 sampai kelompok 6.

Chaer, Abdul, Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta:

Rhineka Cipta.

Sumarsono. 2012. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pateda, Mansoer. 1987. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi