Telaah Drama

 

ANALISIS PENOKOHAN (PERWATAKAN) TOKOH DALAM DRAMA SUMUR TANPA DASAR

KARYA ARIFIN CHAIRIN NOER


 

 

Oleh :

ABDULLAH SYAROFI

(121111132)

 

DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2011

 

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirrahim.

Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan berkah dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Semoga sholawat serta salam semoga masih tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman gelap gulita menuju zaman yang penuh dengan maunah dan ketentraman yakni addinul islam.

Makalah ini dapat terselesaikan dengan bantuan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh Karena itu, penulis ingin mengucapkan rasa syukur terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung penyelesaian makalah ini.      

  1. Kedua orang tua saya di rumah yang selalu membimbing dan menasehati saya.
  2. Puji Karyanto, S.S. M.Hum selaku dosen mata kuliah telaah drama yang tak henti-hentinya mengajarkan ilmunya kepada saya.

Makalah ini saya buat dengan tujuan agar bisa menambah wawasan atau ilmu bagi pembaca dan penulis, dan makalah ini saya buat sebagai syarat untuk memenuhi tugas akhir semester dua pada mata kuliah telaah drama, semoga makalah yang saya buat ini bermanfaat bagi pembaca.

Sekian dari saya, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran sangat di harapkan guna penyempurnaan makalah selanjutnya. Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya dan semua pihak yang menggunakan.

Penulis

Sinopsis

Drama ini bercerita tentang seorang Jumena Martawangsa, seorang yang sudah tua dan tinggal menunggu ajal datang dan menjemputnya. Secara garis besar, drama ini didominasi oleh Jumena dengan konflik batin yang dialaminya akibat rasa ketidakpercayaan terhadap istrinya dan orang-orang disekitarnya, kecuali tokoh perempuan tua yang telah lama mengasuhnya. Hal itu diperparah dengan kecemasan dia setelah meninggal nanti. Jumena sangat takut apabila hartanya yang selama ini dikumpulkan jatuh kepada istrinya yang tidak dipercaya dan jatuh kepada orang-orang jahat disekitarnya.

Pada awal cerita, Jumena dan Euis (istrinya) saling mengasihi. Perbedaan umur yang jauh antara Euis dan Jumena tidak membuat Euis untuk berhenti mencintai Jumena. Bahkan Euis sedang mengandung anak dari Jumena. Tapi hal itu berubah ketika Jumena mempunyai pikiran buruk terhadap istrinya yang selingkuh dengan Marjuki (adik angkat Jumena) di belakangnya. Hingga muncul suatu bayangan mengenai perselingkuhan itu secara terbuka di depannya. Bahkan Jumena sangat curiga dengan anak dalam kandungan Euis merupakan anak dari Marjuki. Hal itu ditambahi dengan datangnya Kamil (si sinting) yang mencoba menghasut Jumena agar percaya bahwa Euis dan Marjuki selingkuh di belakangnya. Selain hal itu terdapat suatu masalah yang bersifat duniawi, mengenai pekerja-pekerja pabriknya yang sedang mogok kerja. Pemogokan kerja itu akibat Jumena yang tidak mau menaikkan upah/gaji pembayaran pekerjanya itu. Jumena malah memberi pilihan gaji tetap atau gaji diturunkan. Bahkan para wakil pekerjanya mencoba berbicara langsung dengan Jumena, tetapi Jumena tidak menghiraukan mereka bahkan akan menurunkan gaji mereka. Dengan dalil para pekerjanya tidak mampu memanajemen gaji per bulan dengan bijak dan baik. Tidak sepertinya dulu yang hidup tanpa mengetahui orangtuanya, lalu hidup sendiri dan berhasil hingga sekarang kaya raya dan mempunyai pabrik.

Selain itu, dalam cerita ini Jumena sering didatangi oleh Sabaruddin (guru agama). Tokoh dalam drama ini yang berperan sebagai penasehat spiritual Jumena sebelum meninggal. Awalnya Jumena ingin membangun suatu masjid dan tempat pengasuhan anak terlantar di daerah tempat tinggalnya. Hal itu dibicarakan kepada Sabaruddin, agar Sabaruddin menyampaikan hal itu kepada ulama-ulama daerahnya. Namun setelah Sabaruddin menyampaikan hal itu kepada khalayak, tiba-tiba Jumena membatalkan niatnya dengan alasan sebelumnya dia berniat untuk itu karena ingin menyenangkan hatinya atau sebagai kepuasan hatinya. Sekarang hal itu tidak ada dalam pikirannya lagi, padahal Sabaruddin telah mempublikasikan niatan baik itu. Munculnya tokoh-tokoh khayalan juga ikut mempengaruhi alur drama ini berjalan. Seperti tiba-tiba hadirnya tokoh Markaba (tokoh jahat) dan Lodod (tokoh idiot). Kehadiran mereka dalam drama ini hanya muncul ketika Jumena sedang dalam pikiran kebimbangan antara hasutan dan kenyataan. Begitu juga dengan hadirnya tokoh Pemburu. Pemburu disini disimbolkan sebagai malaikat pencabut nyawa yang hadir bolak-balik untuk menanyakan kesiapan Jumena dalam menghadapi kematiannya.

Pada akhir cerita, sebelum meninggalnya Jumena. Muncul drama dalam suatu drama ini. Yaitu drama mengenai pikiran buruk Jumena yang menceritakan Euis sangat senang dengan meninggalnya Jumena. Hal itu terjadi karena Marjuki akan segera menikahi Euis sepeninggal Jumena. Ditambahkan dengan datangnya Markaba dan Lodod yang berkerja sama dengan Marjuki untuk mengambil hartanya. Tetapi Markaba dan Lodod meminta Euis juga hanya untuk semalam saja. Euis tidak mau dalam hal itu, bahkan dia menjadi sangat membenci Marjuki yang selama ini dicintainya. Hal itu berujung ketika Pemburu datang untuk mencoba menenangkan pikiran Jumena dan membawanya pulang untuk tidak kembali selama-lamanya.

 

 



 


Pendahuluan

Drama dapat ditafsirkan dalam berbagai pengertian. Dalam arti yang amat luas, drama mencakup setiap jenis pertununjukkan tiruan perbuatan, mulai dari produksi komedi, pantomim ataupun upacara keagamaan orang primitif. Dalam arti sempit mengarah pada suatu lakon yang ditulis agar dapat diinterpretasiakan oleh para actor, drama menunjuk pada lakon realis yang sama sekali tidak bermaksud sebagai keagungan yang tragis, tetapi tidak dapat dimasukkan kedalam komedi. Drama merupakan salah satu cabang seni sastra yang menggarap lakon yang dipentaskan di atas panggung, ditinjau dari segi etimologinya, drama mengutamakan perbuatan, gerak, yang merupakan ini hakekat setiap karangan yang bersifat drama, Moulton mengatakan bahwa drama adalah hidup yang ditampilkan dalam gerak (life presented in action).

Drama mempunyai unsur-unsur yang merupakan kerangka atau penyusun pada naskah drama itu, dari unsure-unsur itulah karya drama ini bisa dipentaskan, unsur-unsur drama terdiri dari gaya , tema, amanat, latar, alur, tokoh dan penokohan (perwatakan). Drama mempunyai dialog yang berperan untuk menjelaskan watak dan perasaan tokoh dalam drama tersebut. Dengan adanya dialog maka tergambar bagaimana watak, sikap serta perasaan tokoh. Seorang tokoh yang keras kepala terlihat dari bagaimana ia berbahasa dan bertutur dengan orang lain, begitu juga terlihat ketika ada tokoh melankolik dari caranya berbicara dengan orang lain. Seperti pada lakon drama yang saya analisis ini, analisis perwatakan tokohnya dari segi psikologis dan sosiologisnya terhadap lingkungan sekitarnya.

 Dari beberapa unsur di atas penulis menganalisis naskah drama yang berjudul Sumur Tanpa Dasar karya Arifin Chairin Noer ini dengan menggunakan satu titik tekan pada unsur tersebut yaitu unsur penokohan atau perwatakan tokoh pada naskah drama Sumur Tanpa Dasar ini, karena di dalam naskah drama ini peran serta penokohan atau perwatakan sangat menonjol dibandingkan dengan karya sastra khususnya drama, dari inilah penulis sangat tertarik untuk mengkaji lebih lanjut tentang perwatakan atau penokohan tokoh pada drama Sumur Tanpa Dasar.

Drama Sumur Tanpa Dasar ini merupakan hasil persenyawaan antara tradisi teater modern barat pasca realisme dengan teater tradisional kita. Dengan menggunakan peralatan simbolisme ini, Arifin C. Noer mengekspresikannya ke dalam lakonnya ini. Sehingga kita akan peroleh peristiwa yang bersuasana kontemplatif tentang konflik kejiwaaan tokoh utamanya, Jumena Martawangsa. Seorang yang terpenjara dalam konflik mengenai persoalan iman dan eksistensi diri. Eksistensi diri yang dimaksud itu adalah keberadaan tentang dirnya sendiri. Drama tersebut merupakan drama yang cukup menggugah emosional kita sebagai pembaca awam, namun dirasa ada suatu wacana yang harus dilakukan demi memperoleh kesan tematik. Pengkritikan terhadap drama di atas akan berguna buat para khalayak pembaca yang ingin menelaah drama tersebut, lebih-lebih karena aspek kejiwaan/psikologis benar-benar tertanam dalam teks. Bagaimanapun drama tesebut merupakan karya yang memerlukan penilaian halus atas apa yang ingin disampaikan. Drama Sumur Tanpa Dasar ini memperlihatkan upaya persenyawaan kreatif oleh Arifin C. Noer sebagai pengarang naskah ini sekaligus sebagai sutradara dalam pementesan drama ini. Upaya persenyawaan kreatif itu antara tradisi teater modern barat pasca realisme dengan teater tradisional kita. Lenong Betawi adalah contoh yang konkret dari upaya timbulnya persenyawaan ini. Maka dari itu, drama ini tampak lebih nyata dan kelihatan unsur modern yang disimbolkan dengan sering kali lolongan anjing timbul dalam drama ini seperti drama/cerita barat.

Berdasarkan masalah di atas penulis dapat merumuskan suatu masalah yaitu bagaimana gambaran umum dan gambaran khusus tentang penokohan / perwatakan tokoh pada drama Sumur Tanpa Dasar dan apa yang melatarbelakangi psikologi tokoh dalam lakon sumur tanpa dasar.


Pembahasan

Gambaran umum penokohan (perwatakan) tokoh dalam drama sumur tanpa dasar ini terdapat dalam dua belas tokoh, tiga orang sebagai tokoh utama dan sembilan orang sebagai tokoh pembantu diantaranya yaitu :

1.       Jumena Martawangsa yaitu seorang lelaki tua yang bersiap menghadapi kematiannya. Merupakan tokoh protagonis dalam cerita ini. Bersifat egois dan selalu berperangsaka buruk terhadap lingkungan sekitarnya, termasuk keluarganya.

2.      Euis yaitu istri dari Jumena Martawangsa yang sangat mencintai suaminya dan berusia jauh lebih muda dari Jumena. Tetapi dia selalu menjadi sasaran amarah dan keegoisan Jumena dalam berperangsaka buruk.

3.      Perempuan tua yang berperan sebagai pembantu rumah dan menjadi pengasuh Jumena sejak dulu. Berusia lebih tua sedikit dari Jumena. Seorang yang bijak dan tabah dalam menghadapi kehidupan.

4.      Marjuki Kartadilag yaitu adik angkat Jumena yang sangat menghormati kakak angkatnya dan berusia jauh lebih muda sedikit dari Jumena. Dia juga menjadi sasaran perangsaka buruk kakak angkatnya dengan tuduhan berselingkuh dengan Euis.

5.      Sabaruddin Nataprawira yaitu Guru agama yang tinggal di daerah tempat tinggal Jumena. Pada akhir cerita dia berperan sebagai guru spiritual Jumena dalam menghadapi kematiannya yang sudah dekat. Sabaruddin bersifat sabar dan rendah hati meskipun Jumena sering mencacinya.

6.      Warya dan Emot yaitu para wakil dari pekerja-pekerja pabrik milik Jumena. Keduanya bersifat sabar dan rendah hati serta menghormati Jumena sebagai pemilik pabrik.

7.      Kamil yaitu seorang yang dijuluki si sinting karena memang tak pernah berpikir waras. Anak dari pemilik rumah yang ditinggali Jumena sekarang. Selalu mencoba menghasut Jumena dengan pikiran tak warasnya.

8.      Lelaki pelukis sinting yaitu seorang yang mencintai Euis, tetapi Euis tidak mau karena telah mencintai Jumena. Sangat ambisius mendapatkan Euis.

9.      Markaba dan Lodod yaitu para penjahat yang selalu muncul dalam pikiran Jumena untuk mengambil hartanya. Keduanya bersifat licik dan ambisius terhadap harta Jumena. Terlebih Lodod yang idiot.

10.  Pemburu yaitu merupakan simbolik dari penjemput kematian Jumena. Bersifat penenang bagi Jumena dalam menhadapi krisis psikologisnya.

 

Dalam pembicaraan terdahulu telah penulis uraikan tentang gambaran umum penokohan (perwatakan) tokoh dalam  lakon sumur tanpa dasar, dari gambaran umum tersebut  penulis mencoba untuk merinci atau mendetailkan gambaran umum perwatakan tokoh dalam drama ini dengan menggunakan teks drama yang menggambarkan watak atau penokohan tokoh dalam drama tersebut.

Jumena Martawangsa

JUMENA (Kesal-sedih) : Kenapa kau rusak sendiri? Kenapa kau berubah? Lenyapkan itu (Begitu melihat Marjuki, perhatian Euis beralih dan langsung merangkulnya)

Bangsat. Kau rusak sendiri. Semuanya kau rusak sendiri (Dalam sunyi Jumena menimbang-nimbang sendiri apa yang baru diucapkannya)

Siapa bilang aneh? Semua ini mungkin saja terjadi. Tuhan, kenapa justru saya merasakan sesuatu semacam kenikmatan dengan segala pikiran-pikiran ini? Kau jebak saya, Tuhan. Kau jebak saya. Tega. Kau! (lalu mulai dengan pikirannya) saya kira mula-mula istri saya…. (Agak lama) Ya, mula-mula istri saya akan berlaku seperti bidadari (Euis menutup wajahnya seperti seorang gadis kecil)

Mungkin saja….

EUIS (Gemetar) : Tidak mungkin Juki

JUKI : Mungkin saja

EUIS (Gemetar):Tidak mungkin. Saya tidak bisa meninggalkan dia

JUKI : Segalanya mungkin. Tidak ada tidak mungkin

EUIS : Hati saya mulai bersuara lagi

JUKI : Kalau begitu kau sedang membunuh dirimu sendiri. Apa kamu merasa sedang dihukum? Apa ayahmu sedang melecutmu?

EUIS : Dada saya bergetar sangat kencangnya

JUMENA : Kalimat-kalimat ini berasal dari syahwat Lolong anjing di kejauhan

EUIS : Kau dengar anjing yang melolong itu?

JUKI : Bukankah suara itu suara kita sendiri? Anjing yang melolong dan menggonggong? Bulan yang kuning

JUMENA : ….suara-suara kesepian yang baka dan purba…

JUKI : Euis

EUIS (Sangat takut) : Juki, dia suami saya

JUKI : Dan saya?

EUIS (Bertubi-tubi menciumi Jumena) : Saya mencintai suami saya seperti saya mencintai ayah saya sendiri

JUMENA : Setiap kali dia berlebihan menciumi saya, terasa ciuman itu sebagai niat pembunuhan

JUKI (Melangkah akan pergi) : Baiklah!

JUMENA : Apa yang akan ia lakukan?

EUIS (Mengejar) : Marjuki!

JUMENA : Saya kira begitu

JUKI : Euis, musuh kita selama ini adalah perasaan. Kita harus memusnahkannya. Membunuhnya sama sekali. Kedua orang tua saya mati karena perasaan mereka sendiri. Mereka bangkrut karena mereka terlalu mencintai paman saya. Dan akhirnya mereka mati sebelum mati. karena saya tahu betul kejadian itu, tentu saja saya tidak mau bernasib sama seperti mereka. Saya harus menang terhadap  perasaan saya dank au pun harus menang terhadap perasaanmu

EUIS : Tapi bagaimana pun dia suami saya

JUKI : Dan saya?

Dari penggalan dialog di atas penulis bisa menggambarkan bahwa seorang lelaki tua yang mempunyai sifat egois dan selalu berperangsaka buruk terhadap lingkungan sekitarnya, termasuk keluarganya. Didalam naskah ini Jumena mempunyai perbuatan yang sangat buruk sekali, dia selalu berprasangka jelek kepada semua orang yang ada di sekitarnya, di naskah dijelaskan bahwa Jumena berperasangka jelek kepada Marjuki, dia beranggapan bahwa anak yang dikandung istrinya itu bukan keturunan dari dia, tetapi dia berprasangka baahwa anak yang di kandung dalam perut istrinya yaitu anak dari Marjuki. Pada intinya perasaan yang ada di pikiran si Jumena itu selalu yang buruk-buruk saja.

Euis

JUMENA (Manja-tua) : Umur Euis berapa?

EUIS : Dua enam

JUMENA : Itulah sebabnya!

EUIS : Percayalah akang. Euis akan tetap mencintai akang sekalipun umur akang delapan puluh tiga tahun

JUMENA : Betul?

EUIS : sumpah

JUMENA : Kalau delapan lima?

EUIS : Cinta

JUMENA : Seratus tahun?

EUIS : Euis akan tetap menciumi leher akang

Seorang istri yang sangat mencintai suaminya walaupun usia suaminya sudah termakan oleh waktu yang berusia jauh lebih muda dari Jumena. Betapa cintanya Euis terhadap Jumena baru seumur jagung dia mau dinikahi oleh leleki yang sudah berbau tanah anehnya si tua tersebut tidak menyayanginya dengan kasih dan sayang, tetapi dia selalu menjadi sasaran amarah dan keegoisan Jumena dalam berperangsangka buruk.

Perempuan tua

P. TUA : Lebih baik makan malam dulu, gan

JUMENA (Masih melayang pikirannya) : Saya kira….

P. TUA :Di sini atau di ruang makan, gan? Di sana banyak angin, lebih baik di sini saja

JUMENA : Saya kira….

P. TUA : Tadi pak Warya ke sini

JUMENA (Segera) : Ada apa?

P. TUA : Sengaja menengok gan

JUMENA : Sekarang di mana dia?

P. TUA : Sudah pulang satu jam yang lalu

JUMENA : Kenapa dia tidak di suruh masuk? Ikut mogok seperti yang lain?

P. TUA : Saya kira tidak begitu. Pak Warya hanya tidak mau mengganggu agan tidur. Nyai bilang sejak sore, agan tidur nyenyak setelah hampir tiga hari sukar tidur. Nyai juga bilang agan mulai lega napasnya. Setelah tidur banyak harus makan banyak, gan, biar lekas sembuh

Perempuan yang sangat tabah dan sabar sebagai pembantu rumah dan menjadi pengasuh Jumena sejak dulu. Berusia lebih tua sedikit dari Jumena. Seorang yang bijak dan tabah dalam menghadapi kehidupan.

Marjuki Kartadilaga

JUKI (makin rapat merangkul Euis) : Masih ingat pada Abu nawas?

Euis menggaguk kecil. Manja

JUKI : Di tepi sebuah parit, raja berjongkok akan melaksanakan hajat besarnya. Tapi baru saja berjongkok, baginda marah-marah dengan dahsyat, sebab baginda melihat seonggok najis kampul-kampul lewat di bawah anusnya

JUMENA : Apa dia juga berdongeng seperti saya?

JUKI : Maka tatkala dilaporkan bahwa najis yang terombang-ambing itu adalah najis Abunawas, dipanggilnya Abunawas, “Abunawas!”

JUMENA : “Hamba, Tuanku”

JUKI : “Bukankah kau bersalah?”

JUMENA : Bahkan sebaliknya tuanku”

JUKI : “Ha?” Mata raja melotot

JUMENA : “Bahkan sebaliknya tuanku”

JUKI : “Hamba ingin menang sebagai pemuja nomor wahid paduka” Kata Abu Nawas “Saksikanlah kini, tuanku raja, sekarang terbuktilah bahwa Abunawas si warga Baghdad yang paling takjim hormatnya. Tidak saja orangnya suka mengiring ke mana gbaginda pergi, bahkan najisnya pun mengiring najis rajanya”

(Jumena cemberut, sedangkan Euis terpingkal-pingkal)

Sekalian pengawalnya tersenyum seraya manggut-manggut “Abunawas, kaulah permadani terbaik di kota Baghdad”

(Euis Semakin Terpingkal-Pingkal Sambil Menahan Perutnya)

Lucu?

EUIS : Sangat amat lucu

JUKI : Tidakkah Abunawas seorang yang cerdik?

 

EUIS : Cerdik sekali. Raja kecerdikan

JUKI : Ya, dan kecerdikan bukan berasal dari perasaan, tetapi dihasilkan oleh kepala dan pikiran. Kau mengerti?

JUMENA : Kejadian seperti ini adalah mungkin dan tidak mungkin. Bagaimana saya harus menaruh kepercayaan kepada orang? Ah, lebih baik duduk-duduk di teras

EUIS : Saya mengerti

JUKI : Kau ahrus betul-betul berani. Berani seperti malam-malam itu

EUIS : Saya betul-betul berani sekarang. Saya kira Abunawas adalah guru kita

Adik angkat Jumena yang sangat menghormati kakak angkatnya dan berusia jauh lebih muda sedikit dari Jumena. Dia juga menjadi sasaran perangsaka buruk kakak angkatnya dengan tuduhan berselingkuh dengan Euis.

Sabaruddin Nataprawira

SABARUDDIN : Saya harap kedatangan saya tidak mengganggu.

JUMENA :Tidak. Saya agak sehat sekarang, setelah beberapa hari kemarin saya mulai pusing-pusing seperti bisaanya

SABARUDDIN : Boleh saya langsung ke persoalan?

JUMENA : Saya kira kalau kau sudah membaca surat saya tak perlu ada pembicaraan ini lagi

SABARUDDIN : Tapi ini bukan sekedar permasalah kau, Jum. Masalah hampir seluruh pemuka-pemuka kota ini. Saya telah menyusun panitia dan mendatangi beberapa orang penting seperti yang kita rencanakan. Sungguh tidak bijaksana kau batalkan begitu saja.

JUMENA : Saya bilang, sejak awal bahwa semua rencana itu saya kira mungkin akan menyenangkan saya, tapi kemudian setelah saya mengeluarkan uang untuk ini dan itu, saya tersadar dan segera saya pastikan bahwa semua itu tidak menyenangkan saya.

Saya lihat kau memang bahagia, tapi saya tidak dapat hidup bahagia bersama kau. Dengan demikian tentu saja tidak ada gunanya sedikit pun buat saya

SABARUDDIN : Lalu saya akan letakkan di mana muka saya?

JUMENA : Saya kira kau bisa minta tolong atau menghubungi orang-orang macam haji Bakri

SABARUDDIN : Hasilnya akan sama saja

JUMENA : Memang begitu saya kira, sebab mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, sehingga mereka tidak perlu hiburan lain. Saya tidak.

(Setelah diam) selain itu, ternyata di balik rencana-rencana itu ada pikiran-pikiran dasar yang keliru. Coba paparkan lagi rencana-rencana itu dan mari kita diskusikan

SABARUDDIN : Rencana-rencana itu mulia sekali, Jum. Kita akan membangung rumah penampungan social dan kita akan mengadakan pembaharuan mesjid. Maksud kita, kita akan memperluasnya, mencat pintu dan jendela-jendelanya, mengganti lantai semen dengan ubin-ubin dan juga kalau mungkin kita berhajat ingin memasang beberapa batang lampu neon di sana.

JUMENA : Dua buah rencana hebat luar bisaa. Ckk. Ck. Ck….. dari siapa rencana rumah penampungan itu mula-mula?

SABARUDDIN : Saya sendiri

JUMENA : Jelas, jelas suatu pikiran yang keliru. Sangat. Rumah penampungan? Indah sekali! Terbayang dalam kepala setiap orang yang mendengarnya sebagai suatu surga impian, dimana orang boleh makan-tidur Cuma-Cuma, dan kemudian orang percaya bahwa yang bernama manusia hanyalah mahluk yang terdiri dari mulut dan perut semata.

Pikiran keliru, sangat keliru. Saya tahu maksudmu baik tapi keliru, dan karena itu sangat berbahaya. Sabar, karena begitu besar cintamu pada sesame manusia barangkali, secara diam-diam dan mungkin tanpa kau sadari kau sedang merencanakan suatu tindakan yang akan mencelakakan manusia-manusia itu sendiri, terutama generasi yang akan datang.

Kau diam-diam akan mengajar mereka bermanja-manja dan malas! Tidak! Tidak! Kita harus mengajar mereka berdiri sendiri dengan kedua kaki mereka sendiri umtuk mengembangkan budi daya mereka sebagai mahluk termulia di bumi Tuhan ini. Juki, ada baiknya kau berdiskusi di sini.

Guru agama yang tinggal di daerah tempat tinggal Jumena. Pada akhir cerita dia berperan sebagai guru spiritual Jumena dalam menghadapi kematiannya yang sudah dekat. Sabaruddin bersifat sabar dan rendah hati meskipun Jumena sering mencacinya.

Warya dan Emot

JUMENA : Mustahil tak ada hubungannya dengan Juki

(Muncul Warya Diikuti Perempuan Tua)

Nyai tidak usah ke belakang. Duduk sja di pintu. Jaga!

SUNYI

WARYA : Bapak kelihatan tambah segar

JUMENA : Lumayan

WARYA : Syukurlah

JUMENA : Tumben anda kesini

WARYA : Maklum repot, Baru sekarang saya bisa ke sini. Tapi bapak memang kelihatan mulai bercahaya

JUMENA : Tidak lama lagi saya akan sembuh sama sekali

WARYA : InsyaAllah pak, kami semua mendoakan supaya bapak lekas sembuh

JUMENA : Tidak mendoakan supaya saya lekas mati? Kalau saya sudah sembuh, lalu kenapa?

WARYA : Kawan-kawan semua sudah sepakat akan mulai kerja lagi

JUMENA : Kapan?

WARYA : Terserah bapak tentunya

JUMENA : Kalau begitu saya timbang-timbang dulu. (Diam) Jadi kalian sudah memilih?

WARYA : Sudah, pak. kami memilih yang kedua

JUMENA : O, gaji yang diturunkan kemudian diperincikan dengan tambahan tunjangan social dan lain-lain?

WARYA : Sependengaraan saya begitu pak. Nanti Emod sendiri dan kawan-kawan lain akan langsung menyampaikan keputusan itu kepada bapak.

JUMENA : Kalian memang betul-betul kambing. di beri gaji cukup besar, kalian tidak mampu mengendalikan diri. Buta administrasi alias tolol! Tapi yang paling tragis, kalian tidak tahu lapar karena selalu lapar

WARYA : jadi bagaimana, pak?

JUMENA : apa yang bagaimana?

WARYA : Kapan kawan-kawan boleh mulai kerja lagi? Kapan pabrik akan buka?

JUMENA : Kau bilang nanti Emod dan kawan-kawan akan langsung ngomong sendiri dengan saya?

WARYA (Tersenyum) : Tapi saya kira boleh saja saya tahu sebelumnya

JUMENA : Terlambat

WARYA : Maksud juragan?

JUMENA : Kalau seminggu yang lalu kau kemari, dan menyampaikan keinginan kawan-kawanmu itu, barangkali saya akan senang sekali. sekarang rasanya tidak begitu. Sekarang saya berada dalam pikiran bahwa keputusan apapun sama dan sia-sia untuk saya.

WARYA (Tidak paham. Lalu setelah agak lama) : Lalu bagaimana, pak?

JUMENA : Saya sendiri belum tahu, nanti saya pikirkan. Akan saya timbang apakah ada gunanya saya membantu kalian. yang pasti untuk saya semuanya sama saja. tak ada gunanya. Tinggal satu soal: Saya berpihak pada kalian atau kepada diri sendiri?

WARYA (Ragu-ragu) : Saya juga belum, eh, maksud saya, apa, eh maksud saya, apa belum ada sesuatu. eh belum ada sesuatu yang bapak perlukan yang saya bisa kerjakan?

JUMENA : Belum, Cuma satu yang saya inginkan dan perlukan: beridam diri atau berbaring-baring setengah tidur. Tidur. tidur.

****

JUMENA : Mau diapakan lagi? Saya tidak akan merobah keputusan saya. Saya tidak mau. Saya tetap tidak akan memberikan biar segopeng pun. Berapa kali sudah saya bilang sejak kalian jadi pengawas kedua bahwa standar gaji yang ada sekarang cukup baik, adil untuk semua pihak. Prinsip saya cukup realistis karena berdasarkan kebutuhan riil tiap-tiap keluarga. Lagipula saya sudah menghitung dengan cermat berapa setiap keluarga menghabiskan biaya setiap bulan dan berapa sisa yang bisa ditabung

EMOD : Maaf gan, tapi saya kira kebisaaan orang lain. Juga sifat orang. Maksud saya mungkin saja gaji yang diterima seseorang cukup besar tapi bukan tidak mungkin ada saja orang yang menganggapnya masih kurang.

JUMENA : Itu karena umumnya semua orang boros. Saya yakin itu. Cobalah kamu Tanya istri saya berapa ongkos rumah ini. Barangkali kamu tidak percaya kalau saya bilang ongkos bulanan rumah ini kurang dari gaji yang kamu terima setiap bulan

EMOD : Tapi ini keadaan istimewa, gan. Maksud saya tidak setiap kali orang mengadakan pesta perkawinan

JUMENA : Dengarkan. Kalau orang mau hemat dan rajin menabung, niscaya tidak akan mengalami kekurangan biar segobang pun. Bisa kalian buktikan bahwa standard an peraturan-peraturan yang saya buat merugikan? Kamu lupa gaji rata-rata di sini setengah kali lebih besar disbanding tempat-tempat lain? Coba kalian mampir ke pabrik tenun Mustopa atau pabrik minyak kacang Haji Bakri dan Tanya berapa orang-orang di sana terima gaji? Sekali lagi War, Mod. Kalau orang mau hemat, insaAllah tidak akan menemui kesulitan  apa-apa. Dengan gaji yang mereka terima, mereka akan dapat membiayai ongkos pengobatan dan apa saja. Dan lagi, tidak masuk akal kalau saya pun harus menanggung biaya pemborosan kalian. Coba saja, kalian boros dan saya harus menanggung keborosan kalian, sinting namanya. Apalagi untuk pesta kawin, lebih sinting lagi.

 

Para wakil dari pekerja-pekerja pabrik milik Jumena. Keduanya bersifat sabar dan rendah hati serta menghormati Jumena sebagai pemilik pabrik. Meskipun bayaran dari pabrik belum bisa untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya, bahkan dia meminta kenaikan gaji untuk di buat nikah, tetapi Jumena masih tidak mau untuk menaikkannnya, mereka masih tetap sabar dan tabah dalam menghadapi watak juragannya.

Kamil

Seorang yang dijuluki si sinting karena memang tak pernah berpikir waras. Anak dari pemilik rumah yang ditinggali Jumena sekarang. Selalu mencoba menghasut Jumena dengan pikiran tak warasnya.

Lelaki pelukis sinting

Seorang yang mencintai Euis, tetapi Euis tidak mau karena telah mencintai Jumena. Sangat ambisius mendapatkan Euis.

Markaba dan Lodod

Para penjahat yang selalu muncul dalam pikiran Jumena untuk mengambil hartanya. Keduanya bersifat licik dan ambisius terhadap harta Jumena. Terlebih Lodod yang idiot.

Pemburu

Merupakan simbolik dari penjemput kematian Jumena. Bersifat penenang bagi Jumena dalam menhadapi krisis psikologisnya.

 

Ditinjau dari segi psikologis, drama ini sangat memperlihatkan segi psikologis perwatakan tokoh, tidak hanya yang berada dalam drama ini dan para tokohnya. Tetapi juga ditujukan pada para penonton, pembaca, dan pendengar. Terlihat dari judulnya juga yang merupakan simbol atau suatu judul yang menpunyai makna tersirat(yang tidak bisa di ungkapkan) dan berkaitan dengan segi psikologis. Sumur tanpa dasar, suatu judul yang bermakna tersirat untuk mencerminkan kehidupan Jumena sebagai tokoh utamanya. Seolah-olah Jumena berada dalam sumur yang tidak berdasar, sehingga jatuh dan tenggelam untuk selama-lamanya. Seperti halnya pikiran buruknya yang selalu menenggelamkan dirinya pada asumsi serta penilaian buruk terhadap semua orang di sekitarnya. Sehingga kemungkinan dia muncul di permukaan sumur itu bernilai nol persen. Dia tenggelam dalam pikiran buruknya sampai akhir hayatnya.

Prolog 1, 2, dan 3 pada bagian pertama merupakan suatu simbol yang bertujuan agar para pendengar dan penonton drama ini bertanya-tanya serta mengartikan secara eksplisit dan implisit makna simbol ini. Seperti kalimat-kalimat Jumena pada adegan 5 bagian 1. “Kalau saya bisa percaya, saya tenang. Kalau saya bisa tidak percaya, saya tenang. Kalau saya percaya dan bisa tidak percaya, saya tenang. Tapi saya tidak bisa percaya dan tidak bisa tidak percaya, jadi saya tidak tenang”. Hal itu berkaitan dengan segi psikologis para penonton untuk menentukan makna apa yang tersirat dalam drama ini. Hal itu terjadi juga ketika hadirnya sosok Jumena yang sama dan saling berhadapan dengan Jumena yang asli.(Irfan Junianto)

Awal pikiran buruk Jumena terjadi ketika Marjuki tiba-tiba muncul saat Jumena dan Euis sedang memadu kasih. Lalu Euis beralih langsung pada marjuki dan memeluknya. Padahal itu hanya pikiran khayalan yang tidak mendasar pada kebenaran. Sebelumnya, Jumena tidak terima dengan datangnya pikiran buruk semacam ini. Hal ini terlihat saat dia mencoba menghilangkan pikiran buruknya terhadap istrinya dengan mengeluh pada Tuhan karena hal ini bisa terjadi pada dirinya. Akibat dari pikiran ini, Jumena tidak mampu melawannya hingga akhirnya mencampuradukkan pikiran buruknya dengan kenyataan. Secara tidak langsung hal ini berakibat pada tidak bisanya dia istirahat tenang untuk menyembuhkan penyakitnya. Kemunculan pikiran buruk tidak hanya terjadi pada istri dan adik angkatnya yang berselingkuh, tetapi terjadi pada para pegawainya yang mencuri hartanya serta para penjahat seperti tokoh Markaba dan Lodod. Pikiran buruk itu berakibat terhadap kehidupan nyatanya. Jumena menolak rencana penaikan gaji para pekerja pabriknya ketika para wakil pekerjanya hadir untuk membicarakan masalah pemogokan kerja pekerjanya. Dia terlihat egois dalam bersikap terhadap permintaan pekerjanya, bahkan siap menurunkan gaji jika tidak mau menerima keputusan ini. Ketidak-wajaran Jumena bertambah ketika si Kamil yang telah lama tidak waras pikirannya menghasut dan membenarkan pikiran buruk Jumena mengenai perselingkuhan istrinya dan adik angkatnya. Padahal Jumena mengetahui bahwa si Kamil telah lama tidak waras, tetapi Jumena tetap terhasut oleh si Kamil. Hal ini ikut menambahkan pikiran buruk Jumena yang dijuluki sebagai orang yang tidak pernah merasa bahagia dan itu menujukan segi psikologis Jumena. Pikiran kematian Jumena datang terus-menerus yang disimbolkan dengan datangnya tokoh Pemburu. Tokoh Pemburu ini dimaksudkan yaitu malaikat pencabut nyawa yang sering datang pada pikiran Jumena untuk menenangkannya dari pikiran-pikiran buruknya. Tokoh Pemburu ini juga sering datang pada pikiran Jumena untuk menanyakan kesiapan menghadapi kematiannya. Hingga menjemput Jumena adalah peran dari tokoh Pemburu ini. Segi psikologis terlihat dalam hal ini yaitu datangnya kematian sudah diduga oleh Jumena, tetapi dia malah bersikap aneh yaitu melindungi semua harta yang ditakutkan hilang ketika sepeninggal dirinya nanti.

Hingga sampai pada akhirnya, ketika semua bayangan tokoh-tokoh di sekitar Jumena saling bertemu dan beradu pikiran dalam pikirannya. Jumena menangis karena tidak tahan terhadap serangan pikiran buruk ini yang seolah-olah merupakan suatu kenyataan. Sampai menyebut nama Tuhan dan berharap ini hanya pikiran semu yang tidak terjadi. Tetapi tidak mampu menyelesaikan permasalahan ini. 

 


Penutup

Sumur tanpa dasar yaitu suatu judul yang bermakna tersirat dalam mencerminkan kehidupan Jumena sebagai tokoh utamanya. Seolah-olah Jumena berada dalam sumur yang tidak berdasar, sehingga jatuh dan tenggelam untuk selama-lamanya. Seperti halnya pikiran buruknya yang selalu menenggelamkan dirinya pada asumsi serta penilaian buruk terhadap semua orang di sekitarnya. Kemunculan pikiran buruk tidak hanya terjadi pada istri dan adik angkatnya yang berselingkuh, tetapi terjadi pada para pegawainya yang mencuri hartanya serta para penjahat seperti tokoh Markaba dan Lodod. Pikiran buruk itu berakibat terhadap kehidupan nyatanya. Jumena menolak rencana penaikan gaji para pekerja pabriknya ketika para wakil pekerjanya hadir untuk membicarakan masalah pemogokan kerja pekerjanya.

Dari analisa dia atas dapat disimpulkan bahwa penokohan (perwatakan) tokoh dalam drama sumur tanpa dasar ini terdapat dalam dua belas tokoh, tiga orang sebagai tokoh utama dan sembilan orang sebagai tokoh pembantu diantaranya yaitu :

1.       Jumena Martawangsa yaitu seorang lelaki tua bersifat egois dan selalu berperangsaka buruk terhadap lingkungan sekitarnya, termasuk keluarganya.

2.      Euis yaitu istri yang menjadi sasaran amarah dan keegoisan Jumena dalam berperangsaka buruk.

3.      Perempuan tua yaitu seorang yang bijak dan tabah dalam menghadapi kehidupan.

4.      Marjuki Kartadilag yaitu seorang yang menjadi sasaran perangsaka buruk kakak angkatnya dengan tuduhan berselingkuh dengan Euis.

5.      Sabaruddin Nataprawira yaitu Guru agama yang bersifat sabar dan rendah hati meskipun Jumena sering mencacinya.

6.      Warya dan Emot yaitu para wakil dari pekerja-pekerja pabrik milik Jumena keduanya bersifat sabar dan rendah hati serta menghormati Jumena sebagai pemilik pabrik.

7.      Kamil yaitu seorang yang selalu mencoba menghasut Jumena dengan pikiran tak warasnya.

8.      Lelaki pelukis sinting yaitu seorang yang mencintai Euis, tetapi Euis tidak mau karena telah mencintai Jumena. Sangat ambisius mendapatkan Euis.

9.      Markaba dan Lodod yaitu keduanya bersifat licik dan ambisius terhadap harta Jumena. Terlebih Lodod yang idiot.

10.  Pemburu yaitu merupakan simbolik dari penjemput kematian Jumena. Bersifat penenang bagi Jumena dalam menhadapi krisis psikologisnya.

.


Daftar Pustaka

Noer, Arifin C. 1989. Sumur Tanpa Dasar. Jakarta: Grafiti Pers

Tarigan, Henry G. 1967. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Junianto, Irfan. 2011. “Hegemoni Psikologi Sastra”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi