Telaah Puisi

 

ANALISIS STRUKTUR LAHIR DAN STRUKTUR BATIN DALAM PUISI AKU

KARYA CHAIRIL ANWAR

 

ABDULLAH SYAROFI

121111132

 

 

SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2012

 

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirrahim.

Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan berkah dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Semoga sholawat serta salam semoga masih tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman gelap gulita menuju zaman yang penuh dengan maunah dan ketentraman yakni addinul islam.

Makalah ini dapat terselesaikan dengan bantuan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh Karena itu, penulis ingin mengucapkan rasa syukur terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung penyelesaian makalah ini.      

  1. Kedua orang tua saya di rumah yang selalu membimbing dan menasehati saya.
  2. Puji Karyanto, S.S, M.Hum dan Ida Nurul Chasanah, S.S, M.Hum selaku dosen yang tak henti-hentinya mengajarkan ilmunya kepada saya.

Makalah ini saya buat dengan tujuan agar bisa menambah wawasan atau ilmu bagi pembaca dan penulis, dan makalah ini saya buat sebagai syarat untuk memenuhi tugas akhir semester dua pada mata kuliah telaah puisi, semoga makalah yang saya buat ini bermanfaat bagi pembaca.

Sekian dari saya, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran sangat di harapkan guna penyempurnaan makalah selanjutnya. Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya dan semua pihak yang menggunakan.

Penulis

 

Pendahuluan

Puisi merupakan alat pengungkapan fikiran dan perasaan atau sebagai alat ekspresi diri (Taufik Ismail). Puisi termasuk salah satu bentuk karya sastra, sedangkan karya sastra merupakan bentuk komunikasi antara sastrawan dengan pembacanya. Secara tidak langsung apa yang ditulis sastrawan dalam karya sastranya adalah sesuatu yang ingin disampaikan  kepada pembaca, dalam penyampaian idenya tersebut sastrawan tidak bisa dipisahkan dari latar belakang dan lingkungannya. Banyak orang yang mengekspersikan dirinya melalui karya sastra. Jenis-jenis karya sastra banyak sekali diantaranya yaitu karya sastra yang berupa puisi. Puisi merupakan karya sastra berupa tulisan yang dibuat oleh seorang penyair melalui kata-kata yang indah dan kadang kala sangat puitis dalam mengungkapkannya.

           Waluyo (1987:25) mengatakan ada dua struktur yang membentuk puisi yaitu struktur batin puisi dan struktur fisik puisi. Di dalam kedua struktur tersebut  masih banyak lagi unsur-unsur yang membentuk. Struktur fisik puisi merupakan struktur yang terlihat dari puisi itu sendiri secara kasat mata. Struktur fisik puisi terbentuk dari diksi, pengimajian(citraan), bahasa kiasan, versifikasi dan tipografi. Sedangkan struktur batin adalah struktur yang berada dalam puisi tetapi secara tersirat (tidak bisa dilihat oleh kasat mata pembaca), struktur batin puisi terbentuk dari tema, nada, perasaan dan amanat.

    Berdasarkan struktur fisik dan strukur batin puisi di atas penulis akan menganalisis struktur-struktur tersebut dalam puisi AKU karya sastrawan yang terkenal pada era angkatan 45 yaitu Chairil Anwar, struktur fisik dan batin apa yang dituangkan pengarang dalam puisi ini. Dari inilah menulis menarik untuk menganalisis puisi ini.


 

Pembahasan

 

Aku

Karya : Chairil Anwar

 

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943


 

Analisi Struktur Fisik

            Struktur fisik puisi dalah bagian-bagian atau struktur yang terlihat dari puisi itu sendiri secara kasat mata, diantaranya yaitu :

Diksi

            Diksi yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam bahasa puisinya, karena puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami sembilan aspek penyimpangan, aspek-aspek tersebut yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik). Dari itulah dalam pemilihan kata sering kali penyair menggantikan kata yang dipergunakan berkali-kali yang dirasa belum tepat.

“kalau sampai waktuku”

Pemilihan kata pada kata “kalau sampai waktuku”  ini berarti penyair mengungkapkan bahwa kalau hari ajalnya tiba atau arti lainnya jikalau aku ini mati.

“Ku mau tak seorang ’kan merayu”

Dari bait ini penulis bisa menganalisis bahwa pemilihan kata si penyair sangat tepat, karena kata “Ku mau tak seorang ’kan merayu” Merupakan pengganti dari kata “ku tahu”. Penyair tahu bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa merayu.

 “tak perlu sedu sedan“

“Tidak juga kau”

Pada kata ini penyair mengartikan kata ini bahwa aku ini menganggap bahwa kesedihan itu tidak ada gunannya dan “Kau”  kekasihku, temanku dan lain sebagainya.

Kata Konkret

Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji, puisi “Aku” ini tidak menggunakan kata-kata yang terlalu sulit untuk dimaknai, bukan berarti dengan kata-kata tersebut lantas menurunkan kualitas dari puisi ini. Sesuai dengan judulnya, puisi tersebut menggambarkan tentang semangat dan tak mau mengalahnya seorang penyair. Sebagai gambaran saja seandainya puisi ini diberi judul dengan kata “Saya” betapa tidak enaknya pembaca dalam mengungkapkannya, dalam puisi ini bahasa keakuan ini sangat menonjol sekali, tetapi penulis tidak tahu bahwa keakuan siapakah yang dituangkan oleh pengarang.

Versifikasi

Versifikasi, yaitu berhubungan dengan rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B, (2) bentuk intern pola bunyi aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi (kata), dan (3) pengulangan kata/ungkapan (Waluyo, 187:92). Ritme merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritme sangat menonjol dalam pembacaan puisi. Ritme dalam puisi yang berjudul ‘Aku’ ini terdengar menguat karena ada pengulangan bunyi (Rima) pada huruf vokal ‘U’ dan ‘I’.

Pengulangan vocal “U”

‘Kalau sampai waktuku.’

‘Ku mau tak seorang-’kan merayu.

‘Tidak juga kau’.

Pengulangan vokal “I”:

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih perih

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Tipografi

Tipografi (Perwajahan puisi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. Tipografi atau disebut juga ukiran bentuk. Dalam Puisi didefinisikan atau diartikan sebagai tatanan larik, bait, kalimat, frase, kata dan bunyi untuk menghasilkan suatu bentuk fisik yang mampu mendukung isi, rasa dan suasana. Menurut analisis penulis dalam sajak ‘Aku’ karya Chairil Anwar ini tidak menggunakan tipografi karena dalam tipografi puisi ini tidak menentu ada yang menggunakan rata kiri ada yang menggunakan rata kanan, tetapi yang sudah tertera contoh puisi aku di atas menggunakan rata tengah, karena semua tulisannaya di tengahkan semua.

Imaji

            Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.

“Kalau sampai waktuku”

Pada kata kalau sampai waktuku ini penyair itu seakan-akan merasakan bahwa umur aku ini tidak akan panjang dan akan menghadap sang khalik.

“Biar peluru menembus kulitku”

Di dalam kata ini penyair merasakan bahwa peluru yang ditembakkan ke tubuhnya itu seakan-akan sudah tertancap.

Bahasa Figuratif

Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.

“Aku mau hidup seribu tahun lagi”

Pada kata ini jikalau pembaca membacanya seakan-akan memancarkan makna yang sangat mendalam tidak akan mungkin kalau umur Aku pada puisi ini bisa bertahun hidup sampai seribu tahun lagi, pada era sekarang ini umur seseorang paling maksimal yaitu 70an tahun, tetapi penyair mengungkapkan pada puisi ini, dia ingin hidup seribu tahun lagi sangat-sangat tidak mungkin dan sangat mustahil sekali jika Aku ini bisa bertahan hidup sampai seribu tahun lagi, jika si Aku ini hidup di zaman sekarang.

Analisis Struktur Batin

Makna;Tema

Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan. Di dalam puisi Aku ini bertemakan tentang perjuanagan seorang “Aku”  dan penulis akan menganalisis tiap bait pada puisi ini.


Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Dalam bait pertama si “Aku” membuang semua kekhawatirannya tentang suatu kematian. Dia tidak lagi perduli kepada siapa saja yang yang merayunya, tidak juga kekasinya, temannya maupun yang lainnya yang ada disekitar lingkungan si Aku.


Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Si “aku” berwasiat atau berpesan kepada orang-orang yang ada disekitarnya agar mereka melepasnya dan tak perlu bersedih, jika saatnya telah tiba menghadap sang khalik. Bahkan dia menyebut-nyebut dirinya sebagai binatang jalang, yang merupakan sebuah simbol kehinaan.

 


Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari Berlari
Hingga hilang pedih peri

Si “aku” menjelaskan tentang apa yang telah di deritanya, tapi dia tetap mencoba untuk menanggungnya sendiri dan tidak mau dibantu, karena jika saatnya tiba, semua perih akan hilang.


Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Si “aku” ingin hidup seribu tahun lagi, menurut analisis penulis dan menurut apa yang sudah didapatkan penulis ketika di jelaskan oleh dosen pengampuhnya, bahwa Chairi Anwar pengarang puisi aku di sini  telah menjelma si “aku”. Jadi walaupun raganya telah tiada, tetapi dia ingin karyanya tetap hidup selamanya dan masih terus di baca oleh generasi penerusnya termasuk kita semua yang berada pada jurusan bahasa.

Rasa/Perasaan

Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Feeling atau Rasa merupakan salah satu unsur isi yang dapat mengungkapkan sikap penyair pada pokok persoalan puisi. Pada puisi di atas merupakan eskpresi jiwa penyair yang menginginkan kebebasan dari semua ikatan. Di sana penyair tidak mau meniru atau menyatakan kenyataan alam, tetapi mengungkapkan sikap jiwanya yang ingin berkreasi. Sikap jiwa “jika sampai waktunya”, ia tidak mau terikat oleh siapa saja, apapun yang terjadi, ia ingin bebas sebebas-bebasnya sebagai “aku”. Bahkan jika ia terluka, akan di bawa lari sehingga perih lukanya itu hilang. Ia memandang bahwa dengan luka itu, ia akan lebih jalang, lebih dinamis, lebih vital, lebih bergairah hidup. Oleh sebab itu “Aku” ingin hidup seribu tahun lagi. Semuanya itulah eksprsesi jiwa seorang pengarang yaitu Chairil Anwar.

Tone/Nada

Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya, nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll. Di sisni ada sedikit perbedaan antara feeling dan tone itu kalau feeling menggambarkan sikap penyair kepada pokok persoalan puisinya, sedangkan tone atau nada merupakan unsur isi yang menggambarkan sikap penyair kepada pembacanya. Dalam Puisi ‘Aku’ terdapat kata ‘Tidak juga kau’, Kau yang dimaksud dalam kutipan diatas adalah pembaca atau penyimak dari puisi ini. Ini menunjukkan betapa tidak pedulinya Chairil dengan semua orang yang pernah mendengar atau pun membaca puisi tersebut, entah itu baik, atau pun buruk. Disamping Chairil ingin menunjukkan ketidakpeduliannya kepada pembaca, dalam puisi ini juga terdapat pesan lain dari Chairil, bahwa manusia itu itu adalah makhluk yang tak pernah lepas dari salah. Oleh karena itu, janganlah memandang seseorang dari baik-buruknya saja, karena kedua hal itu pasti akan ditemui dalam setiap manusia. Selain itu, Chairil juga ingin menyampaikan agar pembaca tidak perlu ragu dalam berkarya, berkaryalah dan biarkan orang lain menilainya, seperti apa pun bentuk penilaian itu kita terima dengan rasa percaya diri dan sebagai pertimbangan kebaikan dalam menciptakan karya selanjutnya.

Amanat

Amanat/tujuan/maksud (itention) yaitu tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi, tujuan tersebut bisa dicari  sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya. Amanat dalam Puisi ‘Aku’ karya Chairil Anwar yang dapat penulis simpulkan yaitu :

  • Manusia harus tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun   rintangan menghadang.
  • Manusia harus berani mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan kelebihannya saja.
  • Manusia harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikiran dan semangatnya itu dapat hidup selama-lamanya.

 

Penutup

Dari analisis struktur batin dan lahir pada puisi “Aku” karya Chairil Anwar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap penyair atau sastrawan dalam membuat suatu karya dapat menggunakan berbagai macam cara, salah satu caranya dengan mengekspresikan karyanya sebagai media penyaluran karyanya untuk dapat dinikmati oleh umum. Bahasa kiasan-kiasan yang dilontarkan oleh Chair Anwar dalam puisinya menunjukan bahwa di dalam dirinya mencoba memetaforakan akan bahasa yang digunakan yang bertujuan  untuk menggambarkan dari jiwa pengarang. Gambaran tersebut dapat bersifat mendarah daging, seperti sajak “aku”. Dengan kiasan-kiasan itu gambaran menjadi konkrit, berupa citra-citra yang dapat diindra, gambaran menjadi nyata, seolah dapat dilihat, dirasakan sakitnya. Di samping itu kiasa-kiasan tersebut menyebabkan kepadatan sajak. Untuk menyatakan semangat untuk merasakan hidup yang sebanyak-banyaknya digunakan kiasan “aku mau hidup seribu tahun lagi”. Jadi, di sini kelihatan gambaran bahwa si aku penuh totalitas mau mereguk hidup ini selama-lamanya. Jadi berdasarkan dasar konteks itu harus ditafsirkan bahwa Chairil Anwar dalam puisi “aku” dapat didefinisaikan sebagai bentuk pemetaforaan bahasa bahwa yang hidup seribu tahun adalah semangatnya bukan fisiknya, karena beliau ingin walaupun raganya sudah tiada tetapi beliau berkeinginan karya-karyanya masih berpengaruh selama-lamanya.


 

Daftar Pustaka

Tarigan, Henry G. 1967. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Anwar, Chairil. 1986. Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: Gramedia.

Susanto, Heri. 2010. Struktur Batin Dan Struktur Fisik Pada Puisi Cintaku Jauh Di Pulau Karya

 Chairil Anwar. Pekalongan

 

Tiastono, Agus. 2010. “Analisi Puisi Aku”, (Online),

(http://agustiastono.wordpress.com/2010/07/16/analisis-puisi-aku-chairil-anwar/)

 

Mitra Desain. 2011. “Pengertian Unsur struktur fisik dan batin puisi”, (Online)

(http://mitradesain.com/pengertian-puisi-unsur-unsur-puisi-struktur-fisik-puisi-struktur-batin-puisi/)

 

.  

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi