Teori Sastra
Postkolonialisme
dalam Cerpen Asmarandana Karya Enang Rokajat Asura : Sifat Jajahan, Menempatkan
satu pihak lebih tinggi dari pihak lain
Karya
dari seorang cerpenis muda bernama Enang Rokajat Asura yang berjudul
Asmarandana ini, memiliki perpaduan cerita yang sangat menarik untuk mengalami
kajian dalam salah satu teori sastra, yaitu
postkolonialisme. Dalam cerpen ini mungkin tidak terdapat unsur-unsur
penjajah yang anda kutip adalah Belanda, tapi menghubungkan dengan sifat
jajahan yang menempatkan pihak lebih tinggi dari pihak yang lain. Dapat
terlihat dari cerpen ini, memiliki kunci-kunci yang menguatkan teori
poskolonialisme, yaitu: adanya relasi kuasa, orientalisme, oksidentalisme ,
ambivalensi dan mimikri.
Karmina
merupakan tokoh pusat yang terdapat dalam cerita pendek ini. Karmina seorang anak SMP yang tinggal bersama
ibu, adik dan ayahnya. Tapi miris sekali perjalanan hidupnya, ayahnya dipasung
oleh ibunya di gudang tua dan ibunya hanya sibuk bergulat dalam dunia
perjudian. Bocah cantik ini memiliki kepintaran dan sangat dibanggakan oleh
teman-temannya, terutama Ajeng. Ibu Karmina adalah seorang manusia yang masa
mudanya mengalami kehidupan dunia yang sangat keras dan mengalami traumatik
dalam kehidupannya. Ibu Karmina dibesarkan oleh keluarga yang sangat keras dan
mengalami penyiksaan sampai akhirnya beliau dapat bebas lepas seperti burung,
tetapi ibu Karmina tidak hanya diam, dia memberikan Karmina sebuah pengalaman
yang tak sepantasnya dialami pada usianya. Karmina dijual oleh ibunya disebuah
rumah bordir dan berganti nama menjadi Novi. Tidak hanya itu ibu Karmina adalah
seorang manusia tamak harta dan menyiksa suaminya yaitu ayah Karmina dan
memasungnya dalam sebuah gudang pengab.
Dalam
cerpen karya Enang ini terdapat relasi
kuasa antara orangtua dan anak, dimana Karmina memiliki relasi kuasa dengan
ibunya dan ibunya sebagai penguasa dan mengalahkan kekuasaan ayahnya. Adanya orientalisme dan oksidentalisme pandangan ibu Karmina terhadap Karmina yang tidak
menganggap Karmina adalah anak yang pintar dan dapat menaikan derajat
keluarganya. Ibu Karmina hanya menganggap bahwa tubuh Karmina adalah sumber
keuanggannya. Sedangkan, Karmina menganggap ibunya adalah seorang ibu yang gila
judi dan gila harta dan dia berfikir ingin bebas dari kejinya perlakuan ibunya.
Dalam cerpen Asmarandana ini tokoh Karmina yang harus menjadi pelacur dan berganti nama menjadi Novi ini bukan kemauan Karmina
tapi paksaan ibunya yang telah mendapat siksaan kehidupan saat muda sebelum
menikah dengan ayah Karmina, terdapat ambivalensi
dalam cerpen ini. Karena ibu Karmina mengalami trauma terhadap keluarganya dan
ingin menyakiti. Ibu Karmina sendiri mengalami peniruan kelakuan yang
menyerupai orangtuanya dan di aplikasikan terhadap Karmina dan suaminya yang
disebut mimikri.
Dalam cerpen Asmarandana ini terdapat sosok
penjajah yaitu ibu Karmina yang pernah mengalami traumatik akibat penjajahan
yang dia alami dengan orangtuanya dan memberikan pengalaman keji tersebut
kepada anaknya Karmin, disini ibunya tidak melihat Karmina sebagai anak yang
cerdas tidak hanya Karmina suaminya sendiri ditempatkan pada sebuah gudang tua
dalam keadaan terpasung. Ironis sekali kehidupan Karmina yang masa mudanya
bekerja sebagai pelayan nikmat yang
melayani lelaki hidung belang. Dapat disimpulkan, teori postkolonialisme tidak
hanya bercerita tentang penjajahan Belanda tetapi adanya sifat jajahan yang
menempatkan derajat seseorang yang lebih tinggi dari pihak lain.
Komentar
Posting Komentar