Teori Sastra

 

Analisis Teori Feminisme Pada Cerpen REQUIEM

karya Bramantio*

 

Pengantar

            Cerita pendek adalah salah satu karya sastra, cerita pendek termasuk bentuk yang paling sederhana dari fiction , tetapi berbeda dengan buku roman, cerita pendek kurang tepat untuk memecahkan suatu keadaan yang ruwet. Dalam kesingkatan dan kepadatannya itu, sebuah cerpen adalah lengkap, bulat, dan singkat. Semua bagian dari sebuah cerpen mesti terikat pada suatu kesatuan jiwa : pendek, padat dan lengkap. Tak ada bagian-bagian yang boleh dikatakan “lebih” dan bisa dibuang. (Rosidi, 1959 : IX).

            Cerita pendek menyajikan suatu keadaan tersendiri atau suatu kelompok  keadaan yang memberikan kesan yang tunggal pada jiwa pembaca, cerita pendek tidak boleh dipenuhi dengan hal-hal yang tidak perlu. (Notosusanto 1957 : 29). Bentuk cerita pendek adalah bentuk yang saling banyak digemari dalam dunia kesusastraan Indonesia sesudah perang dunia kedua. Bentuk ini tidak saja digemari oleh para pengarang yang dengan sependek itu bisa menulis dan mengutarakan kandungan pikiran yang duapuluh atau tigapuluh tahun sebelumnya barangkali mesti dilahirkan dalam sebuah roman, tetapi juga diskusi oleh para pembaca yang ingin menikmati hasil sastra dengan tidak usah mengorbankan terlalu banyak tempoh, dalam beberapa bagian saja dari satu jam, seorang bisa menikmati sebuah cerpen (Ajip Rosidi 1968 : 11).

            Cerita pendek harus mengandung interprestasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Di dalama cerpen REQUIEM karya Bramantio* ini cerpen menguak sebuah cerita tentang keperempuanan di era masa kini, yang notabane setara dengan laki-laki yang mana perempuan yang menuntut ingin disamakan haknya dengan laki-laki baik dalam hal yang baik maupun yang buruk.

Sinopsis Cerpen

Manusia-manusia akan mengenangnya sebagai kisah ibu yang membunuh anak-anaknya. Biarlah. Aku memang ibu. Tapi, aku tak membunuh anak-anakku. Aku membebaskan mereka dari samsara.”

REQUIEM adalah cerita pendek karya Bramantio* cerita pendek yang secara keseluruhan bercerita tentang perempuan. Cerpen ini menceritakan sosok keluarga yang sangat sederhana sekali hidup di petak rumah kecil yang berisikan dua kamar kecil, tiga orang anak dan sepasang suami istri yang sholeh dan sholehah, mereka menjalani hidup yang sangat istimewa yang sangat enak untuk di rasakannya, sedih senang mereka rasakannya, suatu ketika keluarga ini mengalami hirup pikuk yang tidak di sangka, seorang suami yang sudah tidak lagi sayang dengan istrinya. Istri yang tidak betah hidup dengan suaminya yang setiap harinya melakukan perbuatan yang tidak patut di contoh oleh anak-anaknya, yaitu, marah-marah terhadap istri, memperlakukan istri dengan seenaknya, dsb. Suatu malam sosok istri ini  memberontak pada kehidupan keluarganya, dia berontak karena suami yang sudah tidak sayang lagi terhadap dia dan anak-anaknya, dia berniat akan mengakhiri semua angota keluarganya baik itu anak maupun suaminya. Istri itu mengakhiri hidup suaminya dengan cara membangunkan anak-anaknya untuk keluar dari rumah dan pada akhirnya si istri mengambil jurigen yang berisikan minyak tanah yang sudah disiapkan dua hari yang lalu dan korek api dan di tuangkanlah minyak itu di sekeliling rumahnya dan jasad seorang suaminya dan dia nyalakan korek api itu ke aliran minyak tanah yang sudah dituangkan, lenyap sudahlah suami dan rumahnya yang luluh lantah di makan api yang membara.

Masih belum puas dengan perlakuannya, giliran berikutnya  yaitu anak-anaknya yang akan di akhiri hidupnya oleh sosok istri itu. Pada malam itu ketiga anaknya sudah di luar rumah sudah siap untuk di akhiri hidupnya, dengan niat yang sudah direncanakan, dengan perlakuan yang di luar normal. Sosok istri ini menggiring anaknya ke ujung tepi tebing “Mari, Nak. Berjalanlah dibelakangku. Ikuti aku. Pelan-pelan. Tak perlu terburu-buru. Malam masih panjang. Pagi belum menjelang. Bulan cerlang mengawang. Di sana, Nak. Di sana. Di ujung tepi tebing. Di dekat mega-mega. Kan kuberi kalian lapang. Kan kubuat kalian tenang. Kan kuajarkan kalian terbang.” Dengan digdaya dan merasa tidak dosanya seorang istri ini membuang ketiga anaknya ke lembah jurang tebing yang sangat menganga dan menjelaga. “Ah, betapa indah! Kalian bisa lakukan apapun yang ingin kalian lakukan. Kelak. Di sana. Sekarang, ke marikan tanganmu, Arifin. Jangan ragu. Kau selalu mempercayai ibu, bukan? Mari. Ya, begitu. Dan kulempar kau ke hitam yang menganga menjelaga. Kudengar kau berteriak ibu. Lalu senyap. Lalu lenyap. Kau juga, Ilham. Kau juga berteriak. Lebih panjang dan lebih lama daripada teriakan Arifin. Lalu juga senyap. Lalu juga lenyap. Terakir, kau Nur. Bidadari mungilku yang senantiasa cantik meskipun didera duka. Kulihat kau meneteskan air mata dan tersenyum. Aku mencintaimu, Nak. Tak ada teriakan yang mengudara dari mulutmu. Hanya sebentuk kata ibu yang terukir pilu di bibirmu. Senyap. Lenyap.

Analisis Feminisme

            Feminisme dimunculkan tidak bertujuan untuk mengungguli, mendominasi atau membalas dendam seorang perempuan terhadap laki-laki, tetapi feminisme muncul karena perempuan yang ingin menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan kaum laki-laki. Baik itu persamaan dalam hal bidang politik, ekonomi, sosial, atau kegiatan-kegiatan yang terorganisasi. Dalam analisis sinopssis cerpen di atas kita bisa tarik sebuah kesimpulan bahwa cerpen tersebut bisa di kaji melalui teori feminisme.

            Dalam analisis sinopsis cerpen di atas kita tahu bahwa yang di lakukan oleh sosok seorang istri itu tidak wajar di lakukan oleh seorang perempuan. Pada umumnya kita tahu bahwa yang melakukan itu semua biasanya pada sosok laki-laki (maskulin). Dari inilah sudah terlihat bahwa tidak hanya sosok laki-laki (maskulin) saja bisa melakukan itu semua, sosok wanitapun juga bisa melakukan itu semua. Dari itulah bahwa Feminisme dimunculkan tidak bertujuan untuk mengungguli, mendominasi atau membalas dendam seorang perempuan terhadap laki-laki, tetapi feminisme muncul karena perempuan yang ingin menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan kaum laki-laki. Baik itu persamaan dalam hal bidang politik, ekonomi, sosial, atau kegiatan-kegiatan yang terorganisasi. Dalam analisis sinopssis cerpen di atas kita bisa tarik sebuah kesimpulan bahwa cerpen tersebut bisa di kaji melalui teori feminisme.

* Dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

 

TEORI SASTRA II

Nama  : Abdullah Syarofi

NIM    : 121111132

Kelas   : C

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI DALAM MANTRA PENGOBATAN DUKUN DI KABUPATEN LAMONGAN

Dialektologi